Saat dirasa gadis didepannya kehabisan nafas, Naruto melepaskan cumbuannya dengan hanya jarak yang sangat dekat Naruto kembali dibuat terpesona dengan kecantikan paras didepannya. Namun egonya kembali bangkit saat mengingat ucapan angkuh sang Nona barbie.

Tangannya terangkat menghapus saliva yang mengalir pada ujung bibir merah Ino. Menundukkan kepalanya pada telinga Ino dan berbisik pelan.

"Kau baru saja bercumbu dengan pelayan nona." Naruto tersenyum miring. Dan menyeringai puas saat mendapati reaksi terkejut pada paras ayu didepannya.

Naruto by Masashi Kishimoto

Pair

NaruIno

WARN: NO PLAGIAT PLEASE, TYPO

Semua yang terjadi disini adalah fiktif belaka, bila ada suatu kejadian yang sama itu hanyalah semata-mata kebetulan. Dan apabila ada penggunaan suatu merk atau barang tertentu. Hanyalah semata-mata untuk kepentingan isi cerita saja.

RADAR

Bagian 5

Naruto terduduk di istal sembari mengelur pipinya yang mmerah, tanda lima jari dari gadis yang baru ia cium barusan. Dan tadi apa pula? Ia tersenyum-senyum sendiri seperti anak baru gede, sial! Namun amarahnya kembali naik ke ubun-ubun, mengingat bagaimana gadis pirang tadi mengatai dirinya pelayan.

Bagaimana mungkin ada seorang gadis dengan angkuh bahkan menitahnya, dasar tidak sopan. Juga ia harus memberi pelajaran pada Karin, nona muda itu harus tau batasan jika ia mengajak temannya ke pesta yang Naruto selenggarakan.

Naruto mengambil kaos hitamnya yang tergantung, melangkahkan kakinya memasuki mansion, pertama-tama ia harus memberi Karin pelajaran. Karena bagaimana pun sumber kesalah pahaman ini berakar dari Karin.


Naruto mengernyit melihat Karin bolak-balik gelisah di depan kamarnya, kenapa anak itu? Bukankah biasanya ia selalu masuk seenaknya?

"Apa yang kau lakukan?" Naruto melihat Karin terlonjak kaget.

"Apa yang Nii-san lakukan disini? Ayo ikut aku."

Karin bertanya kaget seraya kepalanya menoleh ke kanan kiri takut seseorang mendengar percakapan mereka. Dengan sigap tangan Karin menarik tangan Naruto dan membawanya menuju kamar Karin yang berada di lorong sebelahnya.

Naruto duduk diatas ranjang Karin yang bermotif bunga mawar, kamar Karin membuatnya ingin muntah. So girly and feminism. Membuatnya matanya sakit dengan segala pernak pernik gradasi merah.

"Bisa kau jelaskan Namikaze Karin, siapa gadis yang tidak sopan itu? Kau boleh membawa teman mu tapi setidaknya ia harus tau tuan rumah, agar tidak terjadi kesalah pahaman seperti tadi." Naruto menegur Karin yang berdiri gelisah didepannya.

"Kami baru kenal, ia tamu Obaa-san."

"APA?" Naruto menggelengkan kepalanya bagaimana mungkin Obaa-sannya mengundang tamu tanpa sepengetahuannya? Karena nama gadis itu tidak tercantum pada daftar tamu.

"Siapa namanya?"

"I-Ino Yamanaka."

Nama itu terdengar familiar sekarang.

"Siapa dia?"

"Dia adalah pemilik butik langgan Mom dan Obaa-san." Kata Karin seraya duduk disamping Naruto, kakinya pegal berdiri dari tadi.

"Jangan lupa juga jika kau pernah bilang pada Mom bahwa Ino-chan adalah penjelmaan sempurna dari barbie, dan Nii sendiri mendeklarasikan rela jika harus menjadi Ken untuk Ino."

"Oh sial jangan bilang."

"Dan tentu saja Mom akan bercerita pada Obaa-san." Karin menambahkan.

Naruto memijat keningnya yang terasa pusing kini ia tau siapa Yamanaka Ino itu, pemilik boutique langganan keluarganya. Langganan akhir-akhir ini maksudnya. Dan Naruto selalu menjadi korban untuk dijadikan supir oleh Mommy dan Obaa-sannya. Juga untuk menyogok Karin agar bisa membantu dirinya.

Naruto selalu melihat gadis itu di boutiquenya, dan ia sendiri tidak memungkiri jika gadis itu mirip Barbie. Rambut pirang, bola mata biru, dan tubuh yang berlekuk juga bibir yang manis. Naruto menoyor kepalanya sendiri sial ia jadi ingat adegan panas mereka di istal.

"Dan mengapa kau tidak menjelaskan padanya bahwa aku ini seorang tuan muda yang tampan dan mapan." Naruto memandang tajam Karin. Harga diri Naruto tersakiti mengingat dirinya adalah CEO dari perusahaan keluarganya di bilang pelayan, cih. Poor Naruto.

Karin bergidik jijik lalu membuat pose seolah-olah ia akan muntah. Matanya melihat Naruto dari atas hinggan kebawah. Penampilan Naruto sangat-sangat dekil wajar saja Ino mengatainya pelayan. Menarik tangan Naruto membawanya pada kaca besar di lemari kamarnya.

"Lihat penampilanmu memang seperti pelayan Nii-san, kau sangat dekil dan bau."

Naruto menjewer kuping adiknya.

"Apa kau bilang? Sudah bosan belanja ya?"

"A-ampun Nii-chaaaaan sakiiit."

Naruto melepaskan jewerannya, dan mengusap telingan Karin.

"Kau sangat nakal." Karin mencembik mendengarnya.

"Aku akan bilang pada Daddy jika kau kasar padaku." Karin menatap Naruto sebal.

"Dasar pengadu, sudahlah aku akan bersiap-siap makan malam sebentar lagi. Dan kau juga Karin bersiap-siaplah." Naruto memutar knop pintu. Namun dengan sigap Karin menahan tangan Naruto.

"Tunggu, bajumu sudah ada disini."

"Apa maksudmu?"

Karin menggaruk kepalanya gugup.

Karin menatap Naruto dengan puppy eyesnya. Dan Naruto mempunyai firasat tidak enak, karena biasanya Karin menggunakan jurus ini untuk meminta uang jajan dan diantar belanja.

"Untuk sementara kau tidur disini ya?"

"Kau ingin aku tidur denganmu? Bukankah biasanya kau juga tidur denganku tapi dikamarku Karin?"

FYI sebut ia brother complex bahkan jika Karin memintanya tidur bersama ia takkan menolak, karena Karin adalah adik manis yang ia sayangi. Semua tentang Karin ia tahu, ia tidak ingin membuat Karin sedih untuk yang kedua kalinya. Naruto, kau tidak tahu saja jika temanmu si pantat ayam selalu menyakiti adikmu.

"Aku sudah besar dan tidak ingin tidur dengan lelaki tua tidak laku sepertimu." Muka Karin memerah kenapa kakaknya ini suka sekali mengungkit-ungkit aib masa lalu.

"Kamar itu ditempati Ino-chan sekarang."

"Siapa yang mengijinkannya?"

"A-aku hehee." Karin memaksakan tawanya, kakaknya ini memang jarang marah namun sekalinya marah ia sangat menakutkan sama seperti Daddy.

"O-oke aku minta maaf, ini semua memang salahku karena aku dengan seenaknya memberikan kamarmu pada Ino-chan. Karena ia ingin kamar yang dilantai dua, menghadap matahari terbit dan balkonnya mengadap langsung kepemandangan alam. Dan coba tebak, bukankah kamarmu sangat cocok dengan keinginannya?"

Karin mengedip-ngedipkan matanya, berharap Naruto tidak mendobrak kamar yang Ino tempati dan mengusir Ino.

Naruto menarik napas, hari ini ternyata Kami-sama sedang menguji kesabarannya dengan memberikan kejadian-kejadian yang memicu amarahnya.

"Karin, kita memang harus menghormati tamu undangan tapi bukan begini juga. Bagaimana jika tamu lain melihatnya? Akan menimbulkan kesalah pahaman, kau tau itu? Dan gossip akan menyebar dengan cepat."

"Ma-maafkan aku." Karin menatap Naruto dengan mata yang berkaca-kaca, jika sudah begini Naruto tidak tega memarahi Karin.

"Baiklah kali ini kau ku maafkan, mana koperku? Aku akan menumpang dikamar Gaara." Ucap Naruto seraya mengelus kepala Karin.


Gaara menatap heran Naruto yang berdiri didepan kamarnya dengan koper di tangan, baru saja ia akan menyambangi kamar Naruto ternyata yang empunya ada didepan pintu kamar Gaara.

"Apa yang kau lakukan? Aku baru saja ingin kemarmu menyampaikan laporanku." Gaara kembali masuk ke kamarnya, naruto pun mengikuti Gaara menutup pintu dan menaruh kopernya disamping sofa.

"Karin membuat ulah." Satu kalimat itu membuat Gaara paham dan memaklumi wajah kusut Naruto.

"Itu kan memang hobi Karin hahaa." Gaara tertawa mengingat Karin yang memang seperti kloningan Tsunade neneknya, banyak akal dan licik.

"Dan aku seperti biasa tidak berdaya." Naruto menghela napas frustasi. Gaara terlihat tidak menarik mendengarnya.

"Jadi apa yag kali ini ia lakukan? Ulahnya membuatmu terlihat frustasi." Gaara bertanya bosan.

Gaara tertawa terbahak mendengar cerita Naruto bahkan sampai mengeluarkan air mata. Naruto hanya memandang Gaara dengan aura dinginnya, ia sanksi mungkin para wanita yang mengejar-ngejar Gaara akan ilfeel seketika jika melihat lelaki yang terkenal dingin dan minim ekspresi seperti Gaara tertawa seperti kesetanan.

"Tertawa saja sampai puas, dan aku akan tertawa jika melihatmu mati dalam keadaan tertawa." Naruto berkata dengan dingin.

"Jahat sekali kau ini, oh ya dan jangan bilang padaku jika gadis itu berambut pirang dan bermata biru." Gaara mengelus dagunya.

"Dari mana kau tahu?" Naruto memandang Gaara bertanya.

"Seperti biasa adikmu berulah pada Hinata tadi di kereta, dan Sasuke seperti biasa." Gaara memberi tahu Naruto dengan hati-hati.

"Teme, apa yang di lakukan si teme itu pada Karin?" Gaara menimbang apa ia akan memberitahu Naruto? Karena setiap kejadian seperti ini akan di akhiri dengan adu kekuatan oleh Naruto dan Sasuke.

"Karena Karin adalah adik sepupu manisku aku akan memberitahumu, jika Sasuke telah menyiram Karin dengan jus jeruk tadi dikereta."

"Dan kau hanya diam saja?" Naruto menatap Gaara tajam. Namun tatapan tajam Naruto kebal terhadap Gaara, karena Gaara mempunyai tatapan yang lebih tajam dari pada Naruto haha #ditabokGaara.

"Baru saja aku akan menonjok bajingan itu, sudah ada seseorang yang menyelamatkan Karin."

"Siapa?" tanya Naruto penasaran.

"Gadis berambut pirang yang tadi aku sebutkan. Andai aku merekamnya, wow sangat elegan cara gadis itu menyiram Sasuke dengan kopinya hahaa." Gaara tertawa mengingat kejadian tadi di kereta bukan hanya dirinya yang terkejut bahkan tamu-tamu lain pun ikut terkejut melihatnya.

"Dan kau harus melihat wajah konyol Sasuke saat basah oleh air kopi itu, akhirnya ada wanita yang kebal terhadap pesonanya. Gadis itu sangat pintar membalas kelakuan minus Sasuke." Gaara kembali melanjutkan ceritanya dengan menggebu.

Naruto tertawa ternyata gadis itu benar-benar menarik.

"Sial sekali mengahadapi kenyataan jika bajingan yang menyakiti adikku adalah sahabat baikku."

Naruto berkata serius setelah menyelesaikan tawanya, tawa Gaara pun berhenti seketika.

"Bukankah itu salahmu yang membatasi pergaulannya? Hingga ia menyukai orang yang salah, bahkan ketika ia menyukai orang lain kau pun tidak merestuinya. Namun tidak bisa aku pungkiri ucapanmu benar, bagaimanapun Sasuke tetap sahabat kita." Gaara menepuk-nepuk punggung Naruto.


Beruntung Kiba sangat ahli dalam guyonan jadi bisa mencairkan suasana dingin di meja makan, tidak terbayang jika bukan karena suasana yang perlahan mencair ini Naruto sudah pasti menghantamkan tinjunya –seperti biasa- pada Sasuke.

"Dobe, aku minta maaf."

Ucapan Sasuke seakan menjadi bom, Kiba yang sedang melontarkan candaan pada Shikamaru pun tersedak, keempat pasang mata itu memandang Sasuke tidak percaya. Suasana menjadi hening. Pantat ayam itu menarik pelatuk di saat yang tidak tepat.

"Karena saat ini kita sedang makan malam, aku maafkan." Jawaban dari Naruto membuat mereka lebih terkejut, biasanya Naruto akan langsung menonjok Sasuke dimanapun mereka berada bahkan di depan klien sekalipun.

Kiba menatap sekitarnya berharap mendapatkan topik yang menarik untuk menghilangkan kecanggungan mereka saat ini. Mulut Kiba terbuka lebar, apakah ia sudah mati karena kaget mendengar 'perbincangan Naruto dan Sasuke' karena kini ia melihat malaikat turun dari tangga.

"Shika apakah aku sudah mati?"

"Karena aku melihat malaikat datang menghampiriku."

Shikamaru memandang Kiba dengan malas, ucapan Kiba terlalu hiperbolis. Meskipun membenarkan kiba karena ucapan Sasuke bisa membuat mereka mati jantungan. Shikamaru mengikuti arah pandang Kiba, oh sial! Shikamaru mengedipkan matanya apakah ia juga sudah mati karena ikut melihat malaikat yang Kiba katakan?

Naruto dan Sasuke mengernyit melihat Kiba, Shikamaru, Gaara bahkan Neji kompak menatap pada arah yang sama. Naruto menahan napas melihat Ino yang terlihat manis sedang berbisik pada Karin. Sial apakah gadis itu sedang memamerkan bahu dan leher telanjangnya untuk menarik perhatian? Usahanya sukses besar karena ia memang benar-benar menarik perhatian mereka- ralat bahkan tamu undangan yang lain pun ikut terpesona.

Naruto melotot melihat Sakura menumpahkan gelasnya pada Karin, kenapa nona Haruno itu suka sekali mencari masalah dengan Karin? Naruto memaki dalam hati.

Gaara menyentuh pundak Naruto ketika melihat Naruto bangkit.

"Sudah aku saja yang mengurusnya, kau tuan rumah. Tidak sopan meninggalkan acaramu sendiri."

"Gaara, terimakasih banyak."

"Kau lupa Karin juga adikku." Gaara tersenyum miring dan tatapannya bertemu dengan mata kelam Sasuke.

"Aku pergi dulu." Ucap Gaara menghampiri Karin.

Naruto memperhatikan Ino yang sepertinya tidak rela ditinggal Karin lalu melangkah menuju meja kosong yang ada beberapa langkan disampingnya. Membuang napas Naruto kembali memotong steaknya.

"Kau tau, Sakura kenapa jadi berisik seperti ini?" Kiba mengucapkan pendapat yang ada dikelapanya. Yang lain pun tampak setuju dengan pendapat Kiba. Naruto sendiri hanya acuh mendengarnya meneguk kasa air putih didepannya. Karena telinganya sendiri pun mendengar ocehan Sakura.

"Wow gadis itu sangat berani untuk menghentikan ocehan Sakura, daebak." Kiba berseru dengan kata favorit yang ia ingat dari drama korea yang selalu ia tonton. Dengan bergegas Naruto dari kursinya tidak peduli tatapan heran yang dilayangkan teman-temannya.

Menyeringai Naruto menghampiri dua gadis itu. Dengan sigap menahan tangan Sakura yang hampir melukai pipi lembut gadis barbienya. Tunggu apa ia baru saja bilang 'gadis barbienya'? Tersenyum puas melihat ekspresi kaget pada Ino, tentu saja gadis mana yang tidak kaget ketika melihat pelayan bertransformasi menjadi seorang CEO?

"Lepas Naruto-kun, kau tidak lihat apa yang ia perbuat pada tunanganmu ini?"

Naruto menghempaskan tangan Sakura, berani-beraninya Sakura masih mengaku sebagai tunangannya.

"Aku tidak menyangka Haruno-san, seleramu adalah seorang pelayan." Naruto mendengus kenapa gadis pirang bebal itu masih menganggapnya pelayan?

"Sakura dengar aku bukan lagi tunanganmu, dan kau Yamanaka-san ikut denganku!" Naruto berkata dingin, ia harus berterimakasih pada Ino yang telah membalas perbuatan Sakura. Namun sebelum itu ia harus menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu.

Naruto membalikkan badannya saat melihat Ino hanya berdiri kaku di belakangnya. Dengan langkah lebar Naruto membopong Ino dibahunya.

"Kyaaa apa yang lakukan bajingan mesum!" Naruto menulikan telinganya dari teriakan Ino.

"Kau dalam masalah manis." Ucap Naruto seraya meremas bokong Ino pelan. Sialan bokong gadis ini sangat kenyal. Menggelengkan kepalanya Naruto mengusir sederet pemikiran mesum dikepalanya.

TBC

Selamat Pagi!

Halooo aku update akhirnya, maafkan daku yang kelamaan tidak membuka ffn. Terimakasih bagi yang sudah membaca dan meriview cerita ini. Semoga updatetan Radar bisa membuat pagi kalian yang membacanya berwarna hahaa.

Selamat beraktivitas!