Jantung Naruto berdebar, bagaimana tidak ia dengan seorang gadis cantik dan molek berada satu ruangan dan garis bawahi, ruangan kamar tidur. Berbagai pikiran fantasi menyambangi otak mesumnya. Dan lagi kenapa otak gadis itu sangat bebal, kenapa gadis itu tidak minta maaf setelah ia tahu jika ia salah? Pertama, menganggap Naruto seorang pelayannya, lalu merendahkannya, menghinanya, bahkan tidak mengenalinya sebagai tuan rumah.
Menggertakkan giginya Naruto melangkah menuju walk in closet miliknya yang terletak disamping kamar mandi. Naruto melihat isi lemarinya, tidak berubah penuh dengan baju santai (kecuali pakaian formal, Karin bahkan repot-repot mengantarnya kemari.
"Naruto-san anda harus mendengar dulu penjelasan say- "
Tangan Naruto yang hampir menurunkan boxernya terhenti, gadis ini!
"Kau ini senang sekali ya melihatku setengah telanjang ini, jangan melihatku seperti itu. Tatapanmu seperti ingin memperkosaku saja."
Naruto berharap ucapannya ini bisa membuat Ino menyingkir dari hadapannya sekarang, oke jujur sebenarnya Naruto sangat malu mendapati ia tertangkap dalam keadaan yang hanya mengenakan boxer. Untung saja boxer yang ia pakai tidak bermotif, bagaimana jika ia saat ini sedang memakai boxer kodok kesayangannya? Ia akan malu sampai mati.
Naruto menggelengkan kepalanya saat ia lihat Ino yang meinggalkannya dengan terburu-buru, diam-diam ia merasa puas melihat wajah Ino yang memerah. Sangat menggemaskan, apalagi bibir merahnya yang ternganga. Mengundang untuk dicicipi. Bergegas Naruto segera mengganti boxernya dengan celana katun berwarna khaki. Lalu keluar menghampiri Ino yang terduduk dipinggir ranjang dengan wajah frustasinya. Untuk kali ini perbuatan jahil Karin benar-benar keterlaluan.
"Aku pikir, kau benar-benar dijebak oleh adikku itu. Hahaa itu semua terlihat jelas dari ekspresi kagetmu tadi," Naruto mencoba membuka percakapan. Saat ini urusannya dengan Ino harus selesai.
"Dan ucapan Anda sangat-sangat tidak sopan Naruto-san." Naruto mengangkat alisnya mendengar ucapan ketus dari gadis didepannya. Mendudukkan bokongnya disamping Ino Naruto berdehem.
"Ucapan ku yang mana ya? Dan lagi jangan berbicara formal padaku."
"Kau sialan, jangan pura-pura lupa brengsek."
Naruto tertawa, gadis didepannya benar-benar menarik.
"Woaaah, aku memintamu menghilangkan keformalan antara kita bukan berarti kau bebas memakiku Nona. Dan lagi aku heran kenapa kau percaya pada Karin." Naruto menatap gadis didepannya
"Tentu saja tidak bisakah kau lihat adikmu terdengar sangat meyakinkan, dan semua bukan salahku sepenuhnya." Naruto akui, Ino memang cantik bahkan dalam keadaan apapun. Saat marah, malu bahkan marah seperti ini, pipinya yang memerah dan mata besarnya yang melotot terlihat seperti Barbie yang merajuk.
"Percaya jika aku pelayan?" Naruto menaikkan sebelah alisnya menatap wajah Ino yang memerah malu.
"Bukan salahku juga jika aku percaya, melihatmu yang berpakaian seperti gembel pinggir jalan. Orang-orang akan melihatmu sebagai pelayan yang bertugas membersihkan istal kuda." Ino berucap santai. Naruto meatap jenaka pada gadis disebelahnya. Mendorong tubuh Ino pelan diranjang dan memenjarakannya dengan kedua tangannya.
"Hahahaa kau gadis yang menarik, kenapa aku baru bertemu denganmu sekarang?" Naruto menatap penuh arti pada Ino, sedangkan Ino hanya mengernyit bingung.
Dan sejak kapan Ino memasrahkan dirinya terbaring dibawah tubuh Naruto, KAMI-SAMA COBAAN APALAGI INI? Teriak Ino dalam hati.
Naruto by Masashi Kishimoto
Pair
NaruIno
WARN: NO PLAGIAT PLEASE, TYPO
Semua yang terjadi disini adalah fiktif belaka, bila ada suatu kejadian yang sama itu hanyalah semata-mata kebetulan. Dan apabila ada penggunaan suatu merk atau barang tertentu. Hanyalah semata-mata untuk kepentingan isi cerita saja.
RADAR
Bagian 6
Sakura menatap pintu kamar Naruto lama, ia harus meminta penjelasan. Memang secara teknis ia bukan lagi tunangan dari Naruto, namun melihat Naruto dengan seorang gadis yang dari sejak awal Sakura benci, membangkitkan jiwa kompetisinya. Naruto lebih baik dengannya, karena ia yakin Yamanaka Ino sama dengan gadis-gadis matre yang mengincar kekayaan keluarga Namikaze.
Tok tok tok.
"Naruto-kun."
Sakura membuka pintu kamar Naruto, toh dulu ia sudah terbiasa keluar masuk kamar mantan tunangannya.
Sakura melotot tidak percaya, melihat Naruto yang bertelanjang dada sedang menindih Ino yang pakaiannya terlihat acak-acakan.
"Apa yang kau lakukan jalang!" Ucap Sakura emosi.
Naruto menggertakkan giginya, Sakura selalu semena-mena. Sejak dulu bahkan, ia selalu memasuki kamar Naruto seenaknya. Mungkin dulu ia masih bisa menerimanya, namun sekarang tentu saja jawabannya tidak. Apalagi jika Sakura dating di saat seperti ini, kesempatan Naruto untuk menggoda Ino hilang sudah jika melihat wajah marah Ino sekarang.
Apakah Ino harus bersyukur atau mengumpat sekarang, ia bersyukur kepada siapapun itu yang yang menyelamatkannya dari situasi akwardnya dengan Naruto dan mengumpat, kenapa harus si gadis pink pemarah yang menjadi siapapun itu yang yang menyelamatkannya dari situasi akwardnya dengan Naruto.
"Bisakah kau keluar? Ini sudah jam tidur. Jika kau ada keperluan denganku besok saja dibicarakannya."
Naruto berdiri, mengisyaratkan agar Sakura segera enyah dari kamarnya.
Sakura menatap Naruto tidak percaya, apakah baru saja Naruto mengusirnya? Bahkan setelah pertunangannya dengan Naruto putus, Naruto tidak akan terang-terangan berkata kasar seperti ini. Ini semua pasti karena jalang itu, mata Sakura menatap Ino yang sedang tersenyum penuh kemenangan.
Tanpa berkata-kata Sakura keluar dari kamar Naruto dan membanting pintu, baik kita lihat saja Sakura pastikan Naruto akan jatuh kembali ke pelukannya.
Naruto sangat menyukai ekspresi kaget Sakura, dan ia juga sebenarnya kaget. Naruto bisa berbicara sedingin itu. Entah kenapa ia merasa hatinya seperti kecewa ketika Naruto kini bahkan tidak menatapnya. Oh tidak, untuk apa ia kecewa harusnya ia bersyukur sib aka itu tidaj jadi melakukan tindakan tidak senonoh kepadanya.
Naruto berjalan menuju walk in closet dan memakai kaosnya. Lalu kembali menghampiri Ino yang terduduk di ranjang. Sebuah ide terlintas dibenaknya, dengan begini ia bisa membuat Sakura menjauh dari dirinya dan dirinya bisa terus berdekatan dengan Ino, dan jika beruntung ia bisa tidur dengan Ino. Batinnya mesum, menyelam sambil minum air kan namanya?
"Aku ingin membuat kesepakatan yang menguntungkan denganmu Nona."
Ino menatap Naruto bingung.
"Apa maksudmu?"
"Besok ada pacuan kuda, bagaimana jika kita kita bertaruh?" – "Jika aku kalah, kamar ini bisa menjadi milikmu selama seminggu, aku akan memperlakukanmu layaknya tamu kehormatan dan aku tidak akan menganggumu lagi."
Kini Ino menatap Naruto penuh minat, ia seharusnya ingat jika kini ia berada dikamar milik Naruto yang sialnya memiliki view pemandangan yang sangat indah.
"Dan jika kau menang?" Ino bertanya pelan, sebelum ia menyetujuinya ia harus tau apa konsekuensinya jika keberuntungan tidak berpihak padanya.
"Jadilah kekasihku."
"Apa kau bilang? Kau pikir aku murahan hah?" Ino meraung marah tidak terima hell baru saja kenal sudah ngajak tidur-ups- maksudnya sudah memintanya menjadi kekasih, dasar keong racun.
"Oii oii, ucapanku belum selesai sayang, jadilah kekasihku selama seminggu ini. Bantu aku membuat Sakura menjauh."
Ino terdiam, permintaan Naruto ternyata tidak terlalu sulit. Tapi tetap saja beresiko jika harus melibatkan Sakura didalamnya.
"Bagaimana?" Naruto menatap wajah Ino yang bingung, kenapa setiap ekspresi gadis itu selalu seperti ekspresi minta cium ya? Sial.
"Waktumu tidak banyak nona." Naruto menambahkan.
"Apakah jika aku menyetujuinya kau akan keluar dari kamar ini?" Ino sudah tidak bisa berpikir jernih, karena kini kepalanya mulai berat dan ngantuk. Wajar saja hari ini menjadi hari sial dan melelahkan bagi Ino.
"Ya, aku akan keluar dari kamar ku sendiri." naruto menekan ucapannya pada kamarku sendiri, bahkan ia tidak mempercayai apa yang keluar dari mulutnya.
"Baiklah aku terima tantanganmu, ingat jika kau kalah tepati janjimu. Sekarang, hush sana keluar aku ingin istirahat."
Ino mendorong Nruto keluar kamar, tanpa sempat membiarkan Naruto berbicara Ino menutup pintu dan menguncinya. Kami-sama apa yang baru saja ia lakukan? Kenapa pikirannya dangkal sekali menyetujui taruhan dengan Naruto? Tapi mengingat Naruto berkata 'aku tidak akan menganggumu lagi' membuat Ino kesal sendiri. Tunggu, kenapa ia harus kesal? Ino menggelengkan kepalanya, mungkin ini karena ia sedang sangat mengantuk. Ino menutupi tubuhnya dengan selimut, biarlah malam ia jorok tidak mengganti bajunya dengan baju tidur. Karena yang Ino butuhkan saat ini adalah tidur.
Naruto membuka pintu kamar Gaara ia sudah menetapkan jika kini kamar Gaara akan menjadi basecampnya, kecuali nanti jika ia memenangi taruhannya. Naruto melongokkan kepalanya ke kiri dan kanan bahkan hingga ke kamar mandi. Kemana Gaara? Tumben jam 10 malam ia masih keluyuran Naruto memilih berbaring dikasur masa bodoh dengan Gaara yang entah di mana, entah kenapa ia senekat tadi. Meminta Ino membantunya untuk menjauhi Sakura? Bahkan tanpa bantuan Ino pun ia pasti bisa membuat Sakura menjauh darinya, tapi ternayat otak dan yang keluar dari mulutnya tidak singkron. Menarik selimut Naruto berdoa semoga esok adalah hari keberuntungannya.
Gaara menuangkan air dingin di gelasnya, sebenarnya ia sedikit bosan mendengar Karin bercerita. Tapi jika itu membuat Karin senang, maka Gaara pun dengan senang hati akan melakukannya. Karin adalah adik kesayangan bagi Gaara, ia bahkan pernah berpikir dulu saat masih remaja ia jatuh cinta pada Karin yang masih kecil. Namun seiring berjalannya waktu Gaara menyadari jika perasaannya pada Karin hanya perasaan seorang kakak pada adiknya.
Mengingat kejadian tadi Gaara mendengus, kenapa Sasuke begitu membenci Karin? Seingatnya bahkan dulu Sasuke sama protektifnya kepada Karin, seingat Gaara perubahan Sasuke saat Karin memasuki dunia SMA. Namun ia juga masih tidak mengerti kenapa Karin masih mengejar-ngejar Sasuke yang sudah berbuat jahat pada Karin. Gaara menajamkan telinganya, ketika mendengar suara kaki yang pelan di belakangnya.
Tenten melangkah pelan meraba-raba dinding mencari saklar lampu dapur. Akhirnya Tenten menyerah, ia sudah keburu haus toh ia juga walau gelap masih bisa melihat. Baru saja Tenten ingin mengambil gelas seseorang mencekal tangannya, Tenten ingin menjerit namun kalah cepat dengan tangan yang membekapnya. Apakah ia akan di culik? Kemana kemampuan bela dirinya kenapa jadi hilang seperti ini?
"Aku akan melepaskan tanganku, asal kau berjanji untuk tidak berteriak."
Tenten bergidik mendengar suara berat ditelinganya, dengan ragu Tenten mengangguk.
"Aaaaahhhhh- emmmp."
"Janjimu benar-benar tidak bisa di pegang."
Dengan kesal Gaara membalik gadis didepannya, yang mengendap-endap seperti pencuri. Gaara terpana melihat gadis bermata hazel didepannya, rambut brunette yang tergerai membingkai wajahnya.
Selalu saja begini, jika Tenten menggerai rambutnya pasti saja ada yang terdiam seperti ini. Apakah ia terlalu aneh jika menggerai rambutnya? Dengan kesal Tenten menyentak tangan pria yang tidak ia kenal dan meningglakna dapur menuju kamarnya, bahkan rasa hausnya hilang tergantikan rasa kesal.
Gaara masih terpesona ditempatnya, menatap gadis yang ia lupa menanyakan siapa namanya hingga hilang dibalik tembok. Shit, Gaara tersadar ia seperti bukan dirinya terpana seperti orang bodoh.
Naruto tertawa mendengar cerita Gaara, tidak menyangka akan ada saatnya seorang gadis yang mengacuhkan Gaara. Siapa yang tidak penasaran akan seseorang yang membuat Sabaku no Gaara bangun di pagi hari dengan wajah yang tertekuk.
"Terus saja kau tertawa, aku menyesal menceritakannya padamu. Kau tidak berkaca dengan dirimu, kau sendiri bahkan hingga harus membuat taruhan dengan Yamanaka itu. Beralibi membuat Sakura menjauh, bukankah tanpanya juga kau bisa membuat Sakura menjauh darimu?"
Ucapan Gaara membuat Naruto berhenti tertawa seketika. Memandang Gaara cemberut.
"Kau selalu bisa menghancurkan mood orang lain Gaara." Naruto mendengus memandang Gaara sebal. Sedangkan Gaara memutar bola matanya.
"Cepatlah sarapan sudah akan di mulai." Gaara berjalan mendahului naruto keluar kamar.
Untuk kali ini Ino dan Karin berada tepat waktu di meja makan, sebenarnya Ino masih kesal dengan Karin yang ternyata menyembunyikan kenyataan jika Naruto kakaknya yang menyebabkan Ino terjebak taruhan konyol ini. Juga Ino masih penasaran dengan Karin dan apa yang terjadi antara Hinata-Sasuke-Karin juga tambahan Sakura sebagai kacung Hinata oh itu terlalu kasar maksudnya Sakura yang terlihat sebagai teman dekat Hinata.
"Kau kenapa?" Karin bertanya kepada Ino yang sedari tadi diam.
"Aku dengar semalam aku mendengar kakakku berbuat ulah padamu?" Karin menambahkan.
"Tentu saja kakakmu selalu berbuat ulah padaku sejak kemarin, dan Namikaze Karin jangan lupakan bahwa semua ini berawal darimu." Ino menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Karin sendiri bergidig mendengar ucapan Ino, ternyata Ino sama menyeramkannya dengan Mommynya jika marah. Karin berdehem.
"Aku akan menceritakannya dengan lengkap jika kau mau mengijinkan aku tidur denganmu. Bagaimana?" Karin memberikan puppy eyesnya.
Ino memutar mata bosan, tidak adik atau kakak senang sekali menebar pesona.
"Terserah kau saja." Ino mendengus melihat Karin yang kegirangan disampingnya dan mulai menyantap sarapannya.
Sembari mengunyah Ino mengedarkan pandangannya, kemana sibaka itu? Tunggu apakah ia baru saja bertanya dimana Naruto? Muka Ino memerah, untuk apa ia mencari si Naruto yang menyebalkan. Harusnya ia bersyukur jika Naruto tidak ada untuk sekarang bahkan untuk selamanya jika bisa. Moodnya sangat bagus hari ini tidak ada Naruto juga tidak ada Sakura yang mencari masalah dengannya.
"Menikamati sarapanmu sayang?" Ino menarik napas menenangkan amarahnya, mood yang bagus hancur seketika. Baru saja ia memikirkan si baka itu sudah ada di sampingnya saja.
"Bisakah kau menyingkir dariku? Jangan menghancurkan moodku sialan." Ino mendesis pada Naruto disampingnya.
Interaksi mereka berdua tidak luput dari Karin tentu saja Karin duduk disamping Ino. Dengan mata berbinar Karin sengaja mengeraskan suaranya.
"Aku tidak menyangka Nii-san dengan Ino-chan sudah akrab seperti ini."
Ino menatap Karin mengisyaratkan tutup-mulutmu namun sudah terlambat saat matanya menangkap tatapan tajam Sakura juga Hinata yang menatap sendu padanya.
"Apakah kau Yamanaka-san yang diceritakan Naruto itu?" Gaara yang seolah mengerti situasi mencoba mencairkannya.
"Perkenalkan aku Sabaku no Gaara sepupu dari Naruto dan Karin." Gaara mengulurkan tangannya pada Ino.
Ino memandang Gaara curiga, ia harus mencurigai orang yang mempunyai hubungan darah dengan Naruto. Takut-takut sama gilanya dengan Naruto dan Karin.
"Yamana Ino, senang berkenalan denganmu." Ucap Ino akhirnya seraya menjabat tangan Gaara.
"Jangan lama-lama menggenggam tangan gadisku," Naruto menyentak tangan Gaara dan Ino yang bersalaman.
"Cemburuan sekali kau," ucap Gaara dan Karin serentak, Ino sendiri memerah mendengar ucapan ngawur Naruto.
"Mana Tenten lama sekali dia." Karin melihat jamnya.
"Siapa itu?" Ino bertanya
"Temanku juga ia bilang ia ingin bergabung dengan kita kemarin."
Tidak lama seorang gadis yang dicepol dating terengah.
"Karin maafkan aku terlambat, semalam aku tidur larut."
"Oh iya apakah kau Yamanaka Ino? Perkenalkan aku Yamasaki Tenten, yoroshiku." Tenten memperkenalkan diri. Tenten sendiri penasaran dengan Yamanaka Ino yang di ceritakan Karin mampu membuat Namikaze Naruto kalang kabut.
Baru saja Ino membuka mulut terpotong dengan Gaara yang kaget,
"KAU!"
TBC
