Tidak lama seorang gadis yang dicepol datang terengah.
"Karin maafkan aku terlambat, semalam aku tidur larut."
"Oh iya apakah kau Yamanaka Ino? Perkenalkan aku Yamasaki Tenten, yoroshiku." Tenten memperkenalkan diri. Tenten sendiri penasaran dengan Yamanaka Ino yang di ceritakan Karin mampu membuat Namikaze Naruto kalang kabut.
Baru saja Ino membuka mulut terpotong dengan Gaara yang kaget,
"KAU!"
Naruto by Masashi Kishimoto
Pair
NaruIno
WARN: NO PLAGIAT PLEASE, TYPO
Semua yang terjadi disini adalah fiktif belaka, bila ada suatu kejadian yang sama itu hanyalah semata-mata kebetulan. Dan apabila ada penggunaan suatu merk atau barang tertentu. Hanyalah semata-mata untuk kepentingan isi cerita saja.
RADAR
Bagian 7
Tenten mengernyit bingung melihat pemuda berambut merah itu berdiri dan pergi. Tanpa ambil pusing ia duduk di kursi kosong di depannya mengambil sarapan di meja.
"Kenapa dia?" Karin bertanya pada Naruto yang hanya mengangkat bahunya.
Naruto mengunyah makanantanpa melepaskan matanya dari Ino, Ino terlihat cantik pagi ini ralat, ia memang selalu terlihat cantik. Dengan dress berwarna peach lengan panjang dan rambut yang digerai. Bibir Ino terlihat manis ketika tertawa lepas bersama Karin dan Tenten. Kapan Ino akan tertawa karenanya ya? Apapun itu pokoknya ia harus menang hari ini.
Ino berusaha fokus pada Tenten yang sedang membicarakan persiapan Paris Fashion Weeknya beberapa bulan lagi. Tak ia sangka ternyata Tenten adalah asisten dari Valentino Clemente Ludovico Gravani, seorang pemilik rumah mode kenamaan dan salah satu dosen yang Ino ingan di kampusnya dulu, Internatinal Academy Fashion. Menelan makanannya dengan susah mengabaikan tatapan Naruto padanya. Lagian untuk apa Ino mempedulikan Naruto dan merasa salah tingkah seperti ini. Tunggu, salah tingkah? Diihhh Ino bergidig memikirkan jika Narutolah penyebabnya salah tingkah seperti ini.
"Kau benar-benar hebat bisa menjadi asisten pak Tua itu, dan aku tak menyangka jika kita dulu pernah satu perguruan tinggi."
"Ah tidak, aku juga bisa seperti ini karena keberuntungan dan juga doa ibuku hehe." Tenten menimpali.
"Oh ya Karin kau sendiri bagaimana? Masih di perusahaan Daddy mu atau?" Kini semua tatapan mata tertuju pada Karin.
"Iya di perusahaan Daddy menjadi pekerjaan utamaku, tapi aku sudah menerima order kecil-kecilan yang di berikan beberapa klien sebagai sampingan." Karin menjawabnya acuh.
Ino mengernyit karena ia sama sekali tidak tau tentang Karin yang baru di sadarinya sekarang. Seakan mengerti kebingungan Ino, Tenten mencoba menjelaskan.
"Dulu aku dan Karin satu SMA, dan ketika kuliah kita berpisah. Setauku Karin tidak mau menerima jurusan yang dipilihkan paman Minato untuknya yaitu di bisnis menejemen. Kau pasti tau Karin adalah orang yang keras kepala –Ino menganggu menyetujui- walaupun kau baru kenal sebentar dengannya, karena itu ia melarikan diri dan masuk ke Yale University memilih sesuai keinginannya yaitu desain interior."
"Aku tidak keras kepala." Karin menegerucutkan bibirnya.
"Aku sudah selesai." Naruto menarik kursinya dan berdiri. Mendekatkan kepalanya dan mengecup pipi Ino.
"Tunggu kemenanganku sayang," bisiknya.
Muka Ino memerah, malu dan kesal atas perlakuan Naruto yang seenaknya juga tambahan selalu membuat dirinya berdebar.
"Apakah Ino-chan sedang menjalin hubungan dengan Naruto-san?" Tenten menatap Ino tidak percaya.
"Tentu saja tidak, tanyakan pada Karin yang membuatku seperti ini." Ino berkata dengan kesal.
"Ino-chan kau harus lihat mereka yang cemburu pada mu," Karin mengedikkan dagunya. Ino menolehkan kepalanya dan dihadiahi oleh pelotoan Sakura. Dengan cepat mengganti raut kesalnya dengan seringai meremehkan. Puas sekali rasanya bisa membuat Haruno Sakura itu kesal.
"Naruto-kun," Naruto sedang mengelus Knight, kuda pejantan hebatnya ketika sebuah suara lembut memanggilnya.
"Hinata ada apa?" Naruto mengernyit ketika Hinata datang padanya. Tidak biasanya putri Hyuuga itu berani mendekatinya tanpa Sakura.
"A-apa hubungan mu de-dengan Yamanaka-san," Hinata bertanya gugup seraya memilin ujung dress yang ia pakai.
"Aku sedang mencoba menjalin hubungan serius dengannya, dan juga ini urusanku. Apa kau keberatan?"
Hinata tersentak mendengar ucapan dingin Naruto, apakah bagi dirinya benar-benar sudah tidak ada kesempatan? Tanpa mengucapkan apa-apa Hinata berlari meninggalkan Naruto.
Ini yang Naruto benci dari Hinata, selalu lari tanpa menyelesaikan pembicaraan. Hinata adalah gadis yang mudah di cintai oleh siapa saja dengan kepribadiannya yang baik, manis juga paras yang menawan dan sudah menjadi rahasia umum jika Uchiha Sasuke terpikat pada Hinata, namun entah Hinata yang tidak peka atau terlalu bodoh dan tidak menyadarinya. Justru bagi Naruto sikap Hinata membuatnya muak, sikapnya terlalu pemalu, berlebihan sih tapi Naruto tidak menyukai tipe tipe seperti itu. Walaupun awalnya ia juga sempat menyukai Hinata dan sekarang menyesalinya.
Hari menjelang siang kini para peserta pacuan kuda sedang bersiap-siap di arena. Ino baru tau ternyata pacuan kuda ini termasuk di dalam list undangan, seperti pada jaman western saja diadakan pacuan kuda. Ino, Karin dan Tenten duduk di bawah tenda pinggir lapangan. Sial, panas sekali disini dalam artian panas akibat matahari. Ino melihat Tenten dan Karin mengipasi diri mereka bahkan hampir semua wanita yang hadir memegang kipas wajar saja hari sangat panas walau masih jam 10 pagi. Ino membuka pony tail rambutnya, rambut yang jatuh di punggungnya membuatnya tambah panas lalu menggelungnya menyisakan beberapa helai membingkai wajahnya. Nah sudah mendingan, batinnya.
Di sebrang sana, Naruto berkali-kali memaksa ralat merengek meminta Sasuke untuk ikut turun bertanding. Di luar masalah antara Sasuke dan Karin tetap saja Sasuke adalah sahabat baik Naruto.
"Diamlah Dobe, aku sedang tidak mood." Sasuke berkata malas.
"Oh ayolah pertandingan ini tidak seru jika tanpa dirimu," Naruto melancarkan puppy eyesnya yang malah terlihat jijik dimata Sasuke.
"Naruto, sudah kubilang kau tidak bisa memaksa Sasuke, ia blablabla … "
Ucapan Kiba tidak Naruto dengar, matanya kini tertuju pada Ino yang sedang sibuk dengan kipasnya. Sialan ia ingin sekali menjadi keringat yang menempel di leher putih Ino. Naruto menelan ludahnya ketika Ino menggerai rambutnya, lalu menggelungnya, memperjelas leher jenjangnya. Ingin sekali Naruto menghirup leher itu, belum apa-apa selangkangan Naruto sudah tegang. Shit!
"Oi oi Naruto kau dengar aku tidak?"
Sasuke menoleh malas mendengar ocehan Kiba, lalu menatap Naruto dan mengikuti arah pandang Naruto. Sasuke sadar Naruto benar-benar terjerat pesona Yamanaka itu, di samping Ino ada Karin gadis itu. Gadis yang telah membuatnya badmood seharian ini.
Sasuke baru saja kembali berkuda, selagi ia berada di pedesaan seperti ini tentu saja ia haru menikmati pemandangan dan udara hendak keluar dari istal setelah menyimpan kudanya namun diurungkan ketika mendengar suara Karin. Dengan hati-hati ia mengintip, Toneri? Sedang apa Toneri berduaan dengan Karin? Hatinya kenapa terasa panas?
"Aku senang mendengarnya, sudah seharusnya kau move on melupakan masa lalu dan melanjutkan hidupmu. Suigetsu tidak akan senang melihatmu selalu bersedih karenanya."
Sasuke melihat Karin mengangguk, tentu saja Karin harus melupakan bajingan itu. Bajingan itu memang pantas mati.
"Dan kuharap kau mempunyai pengganti yang lebih baik dari Suigetsu, kau tau Uchiha itu tidak mencintaimu berhentilah Karin sebelum kau semakin terluka."
Tangan Sasuke mengepal, apa maksud keparat itu, menuruh Karin berhenti mencintainya huh. Dan jawaban Karin membuat dada Sasuke sesak.
"A-aku tidak mencintai Sasuke-nii, hanya kagum saja." Karin menggigit bibirnya.
"Baguslah aku tidak ingin melihatmu sedih karenanya, kau tau aku masih menunggumu membuka hati untukku." Toneri mencium kening Karin.
Sialan apa maksud Karin, tidak mencintainya huh? Omong kosong, harusnya Sasuke merasa senang mendengarnya namun kenapa ia merasa amarah memenuhi rongga dadanya ketika mendengar Karin tidak mencintainya. Sasuke menjadi bingung bukankah ia mencintai Hinata, tapi melihat Karin diperlakukan manis oleh pria lain membuatnya cemburu. Tunggu bukan cemburu maksudnya kesal. Terserahmu saja Sasuke-kun.
Ino menahan napasnya, melihat Naruto yang menunggangi kuda dengan gagahnya. Benar-benar pemandangan yang sayang untuk dilewatkan. Pertandingan memasuki putaran terakhir bisa Ino lihat Naruto dan Gaara yang saling melecut kudanya. Ino meremas tangannya yang dingin perbandingan kemenangan dan kekalahan Naruto 50:50 Ino berharap Naruto kalah, Kami-sama kali ini kabulkanlah permohonanannya. Ino menutup mata dan berdoa dengan gelisah.
Ino membuka mata ketika mendengar gemuruh sorak sorai yang riuh, ia melihat Gaara tersenyum. Apakah Gaara yang menang? Hatinya sedikit kecewa, namun buayr sudah lamunannya akibat Karin.
"Naruto-nii memang hebat ia MENANG." Telinga Ino berdenging apakah tadi ia berhalusinasi melihat Gaara tersenyum ia menoleh Gaara memang sedang tersenyum dan di sebelahnya Naruto tersenyum lebih lebar dari Gaara.
Naruto mengelap keringat di pelipisnya menyesal ia telah meremehkan Gaara, sedikit kesalahan bisa dipastikan ia akan dipencudangi Gaara. Naruto mencari Ino, dan tersenyum gadis itu pasti gelisah. Mengambil mic dari pembawa acara Naruto naik keatas podium.
"Kemenangan ini saya persembahkan untuk gadis yang telah mencuri hati saya." Satu kalimat yang Naruto ucapkan di hadiahi tepuk tangan dan cuitan yang heboh.
Sakura merasakan jantungnya berdebar begitupun dengan Hinata, but poor you girls apa yang Naruto maksud bukan untuk kalian.
Naruto melangkah mendekati Ino, Ino terlihat cantik dengan dress kuning cerah, bisa Naruto lihat dibawah matahari dressnya membayangi kulit telanjang Ino.
"Aku minta hadiahku." Naruto berkata lantang.
Belum sempat Ino mengeluarkan kata-kata, Naruto sudah membawa Ino kepelukannya dan mencumbunya. Ino gelagapan antara membalas atau menolaknya, namun ternyata gairah telah mengambil akal sehatnya. Ino membalas pagutan Naruto, lidah yang saling membelit dan membelai menambah panas di siang yang terik. Naruto semakin merengkuh tubuh langsing Ino, merasakan kelembutan tubuh Ino. Kelembutan tubuh Ino terasa lengkap di tubuh kerasnya ini.
Ino mengerang ketika Naruto mengulum bibirnya lalu di tambah elusan di pinggangnya yang merangsang Ino. Naruto melepas cumbuannya ketika merasa Ino telah sesak napas. Ino menyembunyikan wajahnya pada dada Naruto merasa malu yang amat luar biasa. Tentu saja mereka berdua melupakan fakta jika mereka bercumbu di depan banyak orang. Naruto merasa di atas angin mengingat tadi Ino membalas cumbuannya bolehkah kali ini ia berharap?
Ino menutup wajahnya ia masih terbayang kejadian tadi siang, Ino tadi tanpa berkata apa-apa langsung meninggalkan Naruto memasuki mansion dan mengurung dirinya di kamar. Karin dan Tenten telah membujuknya untuk turun makan siang namun Ino keras kepala ia memilih makan sendiri dikamar. Begitupun ketika makan malam tiba, Ino masih malu ia lebih baik kembali makan di kamar.
Ino memutuskan turun kebawah untuk mengisi air digelasnya yang habis, mengambil mantel untuk melapisi gaun tidur tipisnya Ino turun kebawah. Namun niatnya hilang seketika melihat siluit menyelinap keluar dari pintu dapur, Naruto? Untuk apa Naruto keluar malam-malam?
Naruto menahan senyumnya melihat Ino dengan muka memerah meninggalkannya. Gadisnya pasti sedang menahan malu yang besar.
"Pantas kau tadi mati-matian, ternyata hadiahmu sangat menggiurkan." Celetuk Gaara.
Naruto tidak ambil pusing ia akan berbicara dengan Ino saat makan malam. Mengganti taruhannya menjadi sebuah ajakan menjalin hubungan. Naruto telah sadar kini ia telah tertarik pada Yamanaka Ino. Saat makan siang ia tidak melihat Ino, ia pikir Ino dating terlambat namun ucapan Karin menjawabnya.
"Kau bodoh atau idiot? Tentu saja Ino memilih makan di kamar, ia terlalu malu mengingat kau berbuat mesum padanya." Naruto tertawa keras.
Pun saat makan malam Ino kembali tidak turun, bergegas setelah selesai Naruto mendatangi kamarnya, kamarnya yang sedang Ino pakai. Tangan Naruto terhenti di udara. Psstt mukanya memerah, bukan Ino saja yang merasakan malu Naruto juga sama malunya. Malu tidak dapat menahan gairahnya pada Ino bagaimana ini? Ino pasti berpikiran jika dirinya adalah lelaki mesum, padahal pikiran Ino seratus persen benar.
Naruto memilih menenangkan pikirannya di perpustkaan lantai atas, menuangkan vodka meneguknya dalam satu kali tegukkan. Rasa panas vodka tidak mampu menghilangkan gairah panas dalam dirinya, Naruto membutuhkan lebih dari sekedar air dingin, mengambil jaket kulitnya Naruto bergegas pergi.
Dengan hati-hati Ino mengikuti langkah Naruto tanpa menimbulkan suara, bodoh sekali dirinya untuk apa mengikuti Naruto lebih baik ia bergelung di ranjangnya bahkan betisnya yang telanjang kini sudah kedinginan. 15 menit sudah berlalu, jika tidak salah Ino menebaknya. Naruto belum menghentikan langkahnya memasuki hutan untung saja purnama menyinari sepanjang jalan.
Ino bersembunyi dibalik pohon saat Naruto menoleh kebelakang, saat sudah aman Ino kembali mengikuti Naruto. Ino menutup mulutnya Naruto berhenti disebuah danau yang indah dengan purnama yang menggantung dilangit, dan Naruto yang membuang jaket dan kaosnya menambah indah pemandangan. Ino terpesona saat melihat tubuh liat Naruto yang bercahaya tertimpa purnama seperti dewa-dewa Yunani. Ino tidak memperhatikan langkahnya, membuat kakinya menginjak ranting menimbulkan kegaduhan.
"Siapa di sana?"
TBC
Halooooo akhirnya aku update wkwk, aku bakal nyelesain ini cerita kok tenang aja walau agak lama update, maafkan ya :( aku ga bisa janji buat cepat update. FYI aja aku lagi mempersiapkan diri untuk sbmptn hiks aku tuh lulusan tahun kemarin yang gagal di sbmptn ama um doakan ya semoga sbmptn aku taun ini di lancarin Amiin. Jadi untuk update rada lama sebab aku bagi waktu buat belajar ama kerja. Aku mau survei juga rata-rata umur readers yang baca cerita aku berapa ya? Sebab aku bakal nyisipin adegan dewasa di chap depan hahaa, Itu juga kalau aku senggang ya. Semoga kalian ga bosan ama cerita ini. Maafin ya kalau ada typo-typonya.
