Naruto by Masashi Kishimoto
Pair
NaruIno
WARN: NO PLAGIAT PLEASE, TYPO
Semua yang terjadi disini adalah fiktif belaka, bila ada suatu kejadian yang sama itu hanyalah semata-mata kebetulan. Dan apabila ada penggunaan suatu merk atau barang tertentu. Hanyalah semata-mata untuk kepentingan isi cerita saja.
In the summer
As the lilacs bloom
My blood flows deeper than a river
Every moments that I spend with you
Naruto baru saja akan membuka kancing celana jinsnya saat telinganya mendengar suara ranting terinjak dibelakangnya.
"Siapa disana?" Suara Naruto memecah hening malam, saat membalikkan badannya Naruto tidak mempercayai apa yang di lihat oleh matanya ini. Ino berdiri di sana dengan senyum yang malu-malu. Arrgh! Apakah gairahnya sudah sangat besar bahkan kini baying siluet Ino begitu jelas terpampang di hadapannya, ia benar-benar butuh berendam di air dingin.
Lain di Naruto, lain pula di Ino. Toh Ino sudah tertangkap basah mengikuti Naruto, apa yang bisa ia lakukan sekarang selain tersenyum canggung mendapati Naruto memergokinya menguntit. Namun apa yang Naruto lakukan sungguh membuat Ino tidak percaya. Naruto mengacuhkannya, dan memilih meninggalkan Ino dan berjalan menuju kepingan papan yang menjorok ke danau.
Dengan kesal Ino berjalan menghentakkan kakinya menyusul Naruto.
"Kau! Apakah kau mengacuhkanku sekarang?"
Naruto tersentak mendengar suara Ino, dan membalikkan. Di hadapannya berdiri Ino dengan nafas terengah dan wajah yang memerah. Dengan terkejut Naruto bertanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Ino mendengus, reaksi yang Naruto tunjukkan sungguh sangat telat.
"Aku mengikutimu," jawab Ino acuh.
Naruto mencengkram bahu gadis didepannya, meyakinkan dirinya jika Ino benar-benar nyata bukan bayangannya. Gadis di depannya memang nyata, rahang Naruto mengeras bagaimana bisa ia kecolongan, tidak menyadari dirinya di ikuti. Bagaimana jika tadi Ino hilang di hutan atau bagaimana jika Ino di culik beruang.
"Kau mengikuti?!"
Ino terkejut mendengar nada marah Naruto, apakah Naruto marah Ino mengganggu jam malam Naruto? Pikirnya.
"Maaf, aku tadi melihatmu keluar dan tidak sengaja mengikutimu." Ino menunduk tidak berani menatap mata tajam Naruto.
"Ayo kita pulang!" Dengan marah Naruto menarik tangan Ino kasar. Dan tidak memperdulikan Ino yang meronta di belakangnya.
"Tunggu, aku masih mau di sini-"
"Apa katamu? Masih mau di sini? Bagaimana bisa kau keluar disaat hampir tengah malam begini? Bagaimana jika tadi ada ular yang mengigitmu, bagaimana jika tadi kau tersesat di hutan? Atau kau bertemu dengan bajingan dan di perkosa, apa kau masih mau disini HAH? Jawab brengsek!"
Mata Ino terasa panas, ia tidak mengerti mengapa Naruto semarah ini saat ia mengikutinya. Matanya berkaca-kaca, ino mendongakkan kepalanya berharap air matanya tidak jatuh. Namun air mata sialannya ini malah terus saja jatuh seakan mengejek Ino.
"Sial jangan menangis, aku hanya khawatir saja padamu bodoh!" Ino terkejut ketika Naruto kembali membentaknya dan Ino kembali di buat terkejut saat Naruto mendekapnya.
Naruto membiarkan Ino menangis, semua ini salahnya Naruto akui. Ia hanya khawatir dan marah, marah karena tidak menyadari Ino mengikutinya. Dan khawatir bagaimana jika Ino kenapa-napa.
"Maaf hiks, aku tidak bermaksud mengganggumu. A-aku akan kembali jika keberadaanku membuatmu terganggu hiks." Ino melepas pelukannya pada Naruto.
"Syuuuut, bukan begitu maksudku," Naruto menahan Ino, dan merapihkan rambutnya.
"Aku hanya khawatir, bagaimana jika terjadi apa-apa denganmu sedangkan aku tidak tahu?" Naruto menghapus butiran lelehan air mata Ino, membuang nafasnya kasar kenapa Ino malah menangis? Naruto sangat tidak mengerti wanita.
Naruto memungut bajunya yang berserakan, dan menjulurkan tangannya pada Ino.
"Ayo ikut aku," Ino sendiri menerima uluran tangan Naruto, sudah kepalang basah kenapa tidak mencebur sekalian.
"Kita akan kemana?" Ino bertanya pelan.
Ino merutuk sendiri, kenapa dirinya harus menangis? Namun melihat Naruto marah adalah hal terakhir yang ia ingin lihat sekarang.
Tanpa berkata apa-apa Naruto membawa Ino menuju dermaga kecil tidak jauh dari tempat mereka. Tempat ini benar-benar indah, cahaya bulan purnama yang memantul di atas danau, juga kunang-kunang yang seperti lampu-lampu kecil bergerombol menerangi pinggiran danau. Membuat suasana mala mini terlihat romatis, Ino tersipu sendiri memikirkannya.
"Kita akan kemana?" Ino melihat Naruto menaiki perahu kecil ah bukan menaiki sampan sepertinya.
"Aku ingin berenang, kau akan ikut atau menunggu disini?"
Ino menelan ludah, ajakan Naruto terdengar intim.
"Aku ikut, bukankah kau bilang aku tidak boleh pulang tanpamu." Ino berkata judes.
Naruto terkekeh, Inonya sudah kembali.
"Ayo, kesini." Ino dengan pelan menaiki sampan kecil itu. Dalam diam Naruto mendayung sampan mereka pelan, suara jangkrik dan burung hantu entah mengapa bisa menjadi melodi yang indah jika bersama Ino.
Ino memperhatikan Naruto yang sedang mendayung, otot-otot bisep tangan Naruto terlihat sangat seksi, apalagi dengan Naruto yang bertelanjang dada. Membuat Ino menelan ludah, memikirkan hal-hal nakal. Ino menggelengkan kepalanya, dinginnya malam tidak mampu menurunkan panas yang menjalari tubuhnya.
Byuur.
"Kyaaaaaa." Ino menjerit kaget karena basah oleh cipratan air, mendelikkan matanya melihat Naruto yang tertawa puas di permukaan danau.
"Kau aku akan membalasmu," dengan kesal Ino membuka mantel tidurnya lalu menyusul Naruto.
"Oii oiii tunggu airnya sangat di-" terlambat sudah Ino sudah berada didepan Naruto sekarang.
Gigi Ino bergemeletuk menahan dingin yang menembus hingga ke sumsum tulangnya.
"Ini sangat dingin dan kau menyebalkan, aku ingin pulang sekarang!"
"Hey kenapa kau menyalahkanku? Aku sudah melarangmu tapi kau sendiri yang nekat." Naruto membela dirinya, ia benar-benar tidak mengerti kenapa jadi salahnya?
"Aku tidak mau tau pokoknya semua salahmu." Ino mendengus dan berusaha meraih pinggiran sampan.
"Baiklah aku akan membuatmu panas." Dengan sekali hentak Naruto meraih tangan Ino membawanya ke dalam pelukannya. Biru langit bertemu biru laut, keduanya saling menyelami.
For the first time I saw you
You make me feel like
Damn
Naruto memperhatikan bibir Ino yang merah menggoda, rasa manis ciuman tadi siang masih sangat melekat di ingatannya. Kejantanannya bahkan sudah menegang dengan hanya berdekatan segini saja. Bagaimana rasanya jika bibir seksi ini mendesahkan namanya?
Nafas Ino memburu berada dibawah tatapan Naruto membuatnya berdebar, rasa dingin air danau perlahan lahan menghilang digantikan dengan panas gairah yang menjalari tubuhnya. Dan entah siapa yang memulai kini bibir Ino dan Naruto saling mencecap tangan Naruto yang semula mencengkram pinggul Ino kini mulai bergerilya.
Ino mendesah keras, semuanya terasa tepat dan menjanjikan. Ino merasa dirinya binal karena lumatan dan sentuhan Naruto membuatnya terangsang. Desahan Ino terdengar semakin keras saat Naruto menurunkan bibirnya menyecap kenikmatan leher putih Ino. Tangan kekar Naruto mulai meraba dan mengelus kaki jenjangnya, tangan Ino pun tak tinggal diam. Ikut meremas rambut pirang didepannya menyalurkan bahwa apa yang di lakukan pria di depannya sangat terasa nikmat.
Jemari Naruto naik pada dada Ino yang menyembul dibalik gaun tidurnya, OH SHIT. Ino tidak memakai bra, membuat putting payudaranya yang menegang tercetak jelas. Tangan kiri Naruto meremas gundukan kenyal dadanya sedangkan tangan kanannya mencengkram bokong sintal Ino dengan kuat.
Ino tersentak saat Naruto membalikkan tubuhnya kini punggung Ino bersentuhan dengan dada liat Naruto. Ino lemas mungkin saja jika kaki Naruto tidak membelit kaki jenjangnya ia kini sudah tenggelam kedasar danau. Naruto memeluk pinggang Ino dan memberikan jilatan pada tengkuk Ino. Tangannya mulai naik meremas kedua payudara Ino yang terasa sangat penuh di genggaman tangannya. Kelembutan tubuh Ino sangat kontras dengan tangannya yang terasa kasar. Batang kejantanan Naruto semakin mengeras saat berada di antara bongkahan pantat Ino.
Ino tersentak belum reda rangsangan di dadanya kini jemari Naruto menelusup kedalam celana dalamnya.
"You already wet for me babe," bisik Naruto dengan suara serak ditelinganya.
"Aaahhhh Narutohhh emmph," Ino kembali mendesah saat jemari Naruto dengan pelan menyentuh klistorisnya, menekannya dan meremasnya pelan membuat Ino melengkungkan punggungnya.
"AHHH please ohhhhh emmmph NARUTO …" Ino meneriakkan desahannya Naruto merasakan tangannya basah oleh cairan Ino.
"Yeah scream my name," Naruto semakin mempercepat kocokan tangannya.
"Aaahhh shhhhh emmph Nar- Narutooh, what you did to me?" Ino bertanya terengah, setelah orgasmenya mereda.
"It feel's good babe? Heum answer me?" tanya Naruto dengan nafas memburu.
Ino mengangguk dengan muka yang memerah, ia sangat malu dirinya terlihat seperti pelacur yang sangat horny.
"Ayo kita harus mencari tempat yang nyampan," tanpa menunggu jawaban Ino Naruto menaikkan tubuh sintal Ino ke atas sampan.
Ino merasakan tubuhnya sangat lemas, jadi ini yang namanya orgasme yang selalu teman-temannya ceritakan saat dirinya kuliah di Paris. Ino tidak menyangka rasanya sangat nikmat dan menyenangkan.
I wanna take you to my castle
Or maybe we can chill
Or maybe we could make love right now
"Kita akan kemana?" Ino bertanya pada Naruto di sela-sela mengigilnya mantel dan jaket Naruto yang berada ditubuhnya tidak membantunya, setelah Naruto melepas cumbuannya tadi kini Ino merasakan kedinginan apalagi dengan sekujur tubuhnya yang basah dan hawa dingin udara malam. Ino sendiri heran kenapa Naruto yang bertelanjang dada tidak merasakan kedinginan seperti dirinya?
"Mencari tempat yang nyaman, sayang." Balas Naruto seraya tersenyum miring, oh tuhan sudahkan Ino bilang jika Naruto sangat menawan saat ini. Rambut pirangnya yang basah, bulir-bulir air yang turun dari dadanya melewati perut sixpacknya dan hilang diantara celah celana jinsnya membuat Naruto terlihat sangat manly.
Duk.
Naruto menambatkan sampannya ditepian danau, Ino memperhatikan sekelilingnya, ini bukanlah jalan pulang menuju mansion.
"Naruto kau akan memperkosaku disini?" Ino bertanya takut, apakah Naruto akan memperkosanya disini lalu membunuhnya seperti di film-film horror yang ia tonton?
Naruto terkekeh geli mendengar pertanyaan Ino, lalu dengan sekali hentak meraih tubuh Ino dalam gendongannya.
"Kyaaa apa yang kau lakukan mesum! Aku masih bisa berjalan." Ino berteriak kaget dalam gendongan Naruto.
"Benarkah? Bukankah kakimu masih lemas selepas orgasme tadi sayang?" lagi-lagi Naruto menggodanya, dan sialnya ucapan Naruto sangat benar, kaki Ino memang terasa lemas.
Ino menyurukkan wajahnya pada dada telanjang Naruto mukanya memerah sangat malu jika mengingat apa yang terjadi tadi.
Naruto mengernyitkan keningnya saat melihat lampu rumah kayu sederhananya terang menyala.
"Kau pemilik rumah itu?" pertanyaan Ino membuyarkan lamunannya.
"Ya, kita akan bercinta disana." Naruto menatap Ino lekat. Nafas Naruto semakin memburu saat melihat wajah merah dan tatapan Ino yang sayu.
Mempercepat langkahnya Naruto berjalan tergesa, "Apakah kau bisa berdiri? Aku ingin membuka pintu sebentar?" Naruto bertanya pada Ino seraya menurunkannya pelan.
"Ya aku bis- aaaah," Ino hampir jatuh jika saja tangan Naruto tidak memeluk pinggangnya.
"Apakah kau benar-benar lemas?" Naruto terkekeh geli.
Cklek.
Naruto menelan ludahnya, saat matanya bersitatap dengan mata tajam Mom dan Dadnya.
Tunggu-
Apa?
Mom dan Dadnya?
Oh sial!
"NARUTO APA YANG KAU LAKUKAN PADA ANAK GADIS ORANG?" jeritan Kushina membahana.
Sial kejantanannya lemas seketika.
TBC
V
