FUCK! Untuk apa orang tuanya ada disini? Dan sejak kapan mereka tahu tempat persembunyian Naruto? Naruto mengelus telinganya, jeweran ibunya masih teramat sangat terasa sakit.

"Ternyata kau merawat pondok ini dengan baik ya Nak?"

Naruto mendengus, ia tahu jika Daddynya alias Minato hanya berbasa-basi saja.

"Untuk apa kalian ke tempatku?" Naruto menekan setiap kata yang ia ucap dari bibirnya, orang tuanya selalu saja begini. Mengganggu kesenangan anak mereka.

"Hey sebelum tempat ini milikmu, terlebih dahulu menjadi milikku. Lagipula tidak ada salahnya Daddy ke sini untuk bernostalgia bersama Mommymu." Minato menyeringai puas melihat wajah kesal Naruto. Bolehkah ia berbangga hati? Karena biasanya Kushina dan Karin yang selalu berhasil membuat Naruto kehabisan kata-kata.

Sementara itu …

Ino diam tak berkutik, saat Kushina menggiringnya menuju kamar yang hanya ada satu-satunya didalam pondok.

Ia sangat terkejut saat melihat Kushina dan Minato, bohong jika ia bilang tidak tahu mereka. Kushina selain menjadi pelanggan butiknya ia juga adalah sahabat orang tuanya begitupun dengan Minato. Meskipun hanya sebatas tahu bukan mengenal dalam artian dekat.

"Aku sudah menghangatkan air, mandilah terlebih dahulu. Apakah Naruto berlaku kasar padamu? Setidaknya kalian harus mencari tempat tertutup untuk melakukannya, aku harap kalian segera meresmikan hubungan kalian." Ino ternganga, mencoba mencerna semua perkataan Kushina.

"Dan satu lagi, tenang saja aku bukanlah Ibu mertua jahat seperti yang ada di dorama-dorama hihii." Kushina malah terkikik melihat Ino yang terkejut.

"Tunggu sepertinya anda salah pah-"

"Oh ya satu lagi panggil aku Mommy." Kushina memotong ucapan Ini.

"A-apa?" Ino tergagap.

"Panggil aku Mommy sayang," Kushina memerintah dengan nada lembut.

"Mom-mommy?" Ino membeo.

"Ahhh menantu pintar," Kushina memekik senang dan memeluk Ino sekilas.

"Mandilah kau bisa masuk angin, aku akan memberi pelajaran pada anak bodoh itu." Kushina mencium pipi ino singkat dan berjalan keluar kamar meninggalkan Ino yang linglung dengan semua yang terjadi.

Naruto memandang malas tatapan garang Mommynya. Dan memandang sebal Daddynya yang selalu saja berpihak pada Mommy.

"Mommy tidak mau tahu, kenalkan Ino secara resmi besok saat makan malam." Tegas Kushina.


"Ya Mom aku sedang berusaha agar ia mau," Ucap Naruto cepat dan segera menutup pintu.

"Haiiisssh anakmu itu ya sama menyebalkannya denganmu." Kushina menggerutu di samping Minato.

"Dia sudah besar, percaya saja padanya. Ayo masuk kita harus menuntaskan kegiatan kita tadi." Ucap Minato seraya membukakan pintu mobil. Sedangkan Kushina dengan muka memerah memukul pelan lengan suaminya.


Naruto mendengus merasakan badannya yang gatal, ia butuh mandi agar segar. Membuka pintu kamar dan berjalan menuju bath roomnya. Hanya ada satu bathroom di pondok mungilnya ini, yaitu didalam kamar utama dan satu-satunya. Pondok ini adalah hasil desain ayah dan oji-saannya. Untuk apa lagi jika bukan untuk menjauh dari keramaian dan bermesraan dengan istrinya. Dan kini Naruto mewarisi pondok tersebut.

Naruto menahan napasnya ketika membuka pintu, di sana di bawah guyuran shower Ino berdiri. Tubuhnya yang sintal seperti gitar spanyol basah menggoda. Kejantanannya kembali bangun dengan tiba-tiba. Berjalan tergesa dan tanpa suara Naruto terlebih dahulu memastikan pintu dan jendela pondok terkunci rapat. Belajar dari pengalaman ia tidak ingin kegiatannya dengan Ino ada yang menganggu..

Kembali menghampiri Ino yang tengah menikmati tetesan hangat pada tubuhnya, melihat itu membuat Naruto hampir lepas kendali.

Naruto by Masashi Kishimoto

Pair

NaruIno

WARN: NO PLAGIAT PLEASE, TYPO

Semua yang terjadi disini adalah fiktif belaka, bila ada suatu kejadian yang sama itu hanyalah semata-mata kebetulan. Dan apabila ada penggunaan suatu merk atau barang tertentu. Hanyalah semata-mata untuk kepentingan isi cerita saja.

Baby, cant you see?
I'm calling
A guy like you should wear a warning
It's dangerous
I'm falling

Ino memejamkan matanya, tetesan air shower memijat tubuhnya yang pegal. Ino memikirkan apa yang harus ia jelaskan pada Mommynya Naruto. Sekarang Ino tau, dari siapa Naruto mewarisi sifat keras kepala dan spontanitasnya.

Naruto.

Pemuda yang baru ia kenal kemarin. Ino tidak habis pikir, bagaimana bisa ia yang superior bisa menjadi seperti ini. Seperti jalang yang menikmati semua sentuhan Naruto, yang Ino tidak bisa pungkiri sangat memabukkan.

Shit!

Memikirkan Naruto saja sudah membuat pusat dirinya basah, Ino ingin menangis rasanya.

"Memikirkanku babe?"

Deg.

Ino menelan ludah, merasakan hembusan nafas Naruto di telinganya. Napas Ino terengah, bahkan hanya mendengar suara serak Naruto membuat putingnya mengeras. Ino menumpukkan kedua tangannya di tembok keramik depan dirinya. Semakin bergetar saat punggungnya merasakan dada liat Naruto menempel erat.

Ino menggigit bibirnya, saat kedua tangan Naruto meremas pinggulnya. Dan melingkarkannya diperut Ino, tangan yang bisa memberi Ino kenikmatan surgawi.

"Kau bisa merasakanku yang keras karenamu." Suara serak Naruto kembali menggema. Mereka berdua basah. Dan sial, Ino tidak bisa pura-pura tidak menyadari sesuatu yang keras berada tepat diantara bongkahan pantat Ino.

Membalik tubuh Ino, Naruto menatap bola mata biru didepannya. Naruto menggertakkan gerahamnya, Ino sangat menggairahkan. Bibir seksinya yang terbuka dan terengah, juga mata sayunya yang seakan berkata 'Fuck me right now'.

Tangan Naruto terulur mematikan shower.

Kabut uap hangat memenuhi penglihatan mereka berdua, juga kabut gairah yang mengaburkan pandangan mata. Ino memejamkan matanya saat merasakan lil dick Naruto menggesek pusat Ino yang sudah mengeluarkan cairan.

"Naruto …" Bibir Ino bergetar menyebut namanya. Naruto semakin merapatkan tubuhnya pada Ino, kedua tangannya mencengkram bokong Ino dengan gemas.

Dada keras Naruto semakin menekan payudara kenyal Ino.

"Ahhh-" Naruto memandang Ino bergairah, Ino terlihat begitu seksi dan bergairah. Tubuh dan rambut Ino yang mengkilat basah, dan putting Ino yang menegang menggesek dadanya.

Naruto tidak bisa menahannya lagi.

Fuck!

Dengan keras bibir Naruto melumat bibir Ino keras menggigitnya gemas. Dinding keramik bathroomnya memantulkan bunyi kecipak mulutnya dan desahan tertahan Ino.

Kepala Ino pening akan gairah yang meminta di salurkan, peduli setan! Jika ia terlihat murahan atau fakta bahwa lelaki yang mencumbunya baru ia kenal kemarin. Jemari Ino menyusuri rambut basah Naruto yang semakin kusut, membalas lumatan Naruto dengan membabi buta.

Lidah Naruto menelusup ke dalam mulut Ino, mengabsen setiap gigi dan mencecap rasa dari mulut yang selalu membuatnya kehilangan kontrol. Naruto mengerang, rasanya sangat memabukkan, sudahkah ia mengatakannya? Naruto tidak bisa menahan untuk tidak menggesekkan kejantanannya pada pussy Ino yang semakin basah kuyup. Tangan kirinya meremas pantat Ino keras, mungkin meninggalkan bekas kemerahan nantinya. Sebelahnya lagi merangkak ke atas memilin putting payudara Ino yang semakin menegang.

"Aaahhh oohhhnnnn-" Ino mendesah, saat Naruto menurunkan ciuman pada bahu putihnya dan turun di payudaranya. Ino semakin menghentakkan tubuhnya ke depan, melengkungkan punggungnya saat Naruto mengulum payudaranya. Ia hampir keluar hanya gara-gara rangsangan seperti ini.

Cukup.

"We move Honey," dan bagai terkena mantra Ino mengangguk. Ino mengalungkan kakinya pada Naruto dan pasrah saat Naruto membawanya keluar bathroom.


Karin membuka pelan pintu kamar Ino, tersenyum senang saat membayangkan ia akan menemukan Ino dan Naruto di ranjang berdua. Namun yang Karin temui adalah ranjang besar yang rapih juga sepi. Dengan panik Karin berlari ke balkon namun nihil tidak ada begitu juga di kamar mandi.

Berjalan dengan cepat hampir berlari, Karin menuju kamar Gaara.

Cklek.

Karin semakin panik, yang ia temui hanya Gaara yang tertidur dengan iler.

Ieyuuh. Jika fans Gaara tahu Gaara tidur dengan iler dan mulut terbuka. Mungkin akan melarikan diri dan ilfeel. Harusnya Ino memfoto Gaara dulu, namun karena panik mungkin memfoto Gaara bisa ia tunda ketika sudah menemukan Ino atau Naruto.

Jam hampir menunjukkan pukul tengah malam, saat Karin mendudukkan dirinya di dapur. Karin membuka mantel yang melapisi gaun tidurnya, peluh membasahi pelipis dan lehernya. Menenggak habis air di depannya, Karin tersentak baru ingat.

Istal kuda.

Mungkin saja mereka di sana, walaupun akal sehatnya membantah dengan kuat. Bagaimana mungkin mereka bercinta dengan kuda. Toh ia akan memastikannya.

Karin mendesah kecewa, karena lagi-lagi ia tidak menemukan Naruto dan Ino.

"Bodoh, untuk apa aku mencari mereka." Karin menoyor kepalanya pelan.

Oh, okay.

Ia hanya butuh foto intim Naruto dan Ino untuk dikirimkan ke Mommynya. Well karena Mommynya menjanjikan ia akan diijinkan berlibur ke manapun yang Karin inginkan selama satu bulan dan tanpa bodyguard. Tentunya tawaran yang menggiurkan mengingat kemana saja ia pergi pasti Daddynya tau.

'Wherever you go and grow, you always be my little girl darl'

Itu yang selalu Daddynya katakana jika ia memintanya untuk berhenti mengetahui semua kegiatan Karin bahkan hingga ke percintaannya. Maka tanpa berpikir dua kali Karin menerima tawaran menggiurkan dan Mommynya.

Baiklah hanya satu tempat yang Karin harus benar-benar pastikan. Tanpa memperdulikan malam yang larut, Karin melangkahkan kainya ke jalan setapak menuju hutan. Udara dingin menyapu bahu tenjangnya, oh sial Karin meninggalkan mantelnya di dapur.

Karin mengurungkan langkahnya untuk kembali ke mansion mengambil mantel. Membuang waktu saja. Tanpa memperdulikan dinginnya malam Karin kembali berjalan.

Karin menjerit kaget saat tangannya di tarik keras. Mata Karin membulat melihat sosok di depannya.

"Sa- Sasuke."


The taste of your lips
I'm on a ride
Youre toxic I'm slippin' under
With a taste of a poison paradise
I'm addicted to you

Naruto tidak peduli lagi apakah kasurnya akan basah oleh mereka berdua. Gairahnya sudah berkumpul di kejantanannya dan meminta di lepaskan.

Ino tidak melawan saat Naruto merengkuhnya, membawanya ke kamar. Ino memperhatikan Naruto yang menyentuhnya dengan hati-hati, Ino melambung, Naruto memperlakukan Ino lembut seperti Kristal yang akan pecah kapan saja.

Muka Ino memerah ini pertama kalinya ia melihat Naruto telanjang, lupakan saat di bathroom gairah membuatnya tidak bisa berpikir jernih sehingga ia tidak bisa mengeksplor matanya menyusuri pemandangan tubuh telanjang Naruto.

Namun akal sehat kembali mengambil alih pikirannya, Ino mendorong tubuh Naruto pelan.

"Naruto bagaimana orang tu-"

"Jangan pikirkan mereka," Naruto memotong ucapan Ino dengan cepat, dan mengecup bibirnya.

Ino terdiam.

"Kita baru kenal kem-" Naruto membungkam bibir Ino, melumatnya gemas.

"Nar- Narutoohhh," Ino masih berusaha berbicara diantara desahannya.

"Sayang, jangan memikirkan apapun. Cukup nikmati okay?" suara serak Naruto memohon. Ino mengangguk.

Nafsu kembali membelenggu akal sehatnya.

Naruto mendekap Ino dengan sensual, bibirnya menjelajahi setiap jengkal kulit Ino mengenali dan menandai. Ino tidak dapat menahan desahan nikmat dari apa yang Naruto perbuat pada tubuhnya.

Bibir Naruto mengulum puting payudara Ino yang tegak menantang. Tangan satunya meremas sebelah payudaranya seakan ingin memberikan kenikmatan yang seimbang pada ke dua payudara Ino.

Tangan Ino menekan waja Naruto di dadanya , perbuatan Naruto berdampak pada cairan kewanitaan di antara ke dua pahanya yang semakin mengalir deras.

"Aaahhhhhhh eghhhh, NARUTO-"

Ino menjerit saat tiba-tiba ia merasakan klistoris dikulum, kepala Naruto di tekan oleh Ino semakin dalam. Seolah-seolah semua kenikmata bergelung mengumpul jadi satu menunggu meledak. Ino tidak dapat menahannya lagi.

"Naruu aa- Ahhhh aaaku tidak dapat menahannya lagi, ohhhh AHHH-"

"Yaa sayang cum for me," tangan Naruto menggantikan bibirnya memainkan klistoris Ino.

Tangan Naruto terasa basah, dengan cepat lidahnya menyapu pussy Ino. Mencecap dan merasakan cairan kenikmatan Ino.

"Taste of yours like sugar, I want it everyday." Suara Naruto terdengar seksi.

Ino lemas, malam ini ia sudah orgasme dua kali.

"Ini baru pembuka, hidangan utama mu sudah siap."

Naruto menggesekkan kejantanannya, Ino yang pasca orgasme lemas kembali melenguh nikmat. Naruto merasakan sebuah penghalang dalam perjalanannya menuju lubang kenikmatan Ino. Shit! Ino seorang perawan.

"Kecewa mendapatiku masih perawan heh?" Ino tidak dapat menahan kata-kata sarkasnya, saat melihat tatapan Naruto yang meragu.

"Tidak, aku merasa sangat senang menjadi yang pertama untukmu," dan terakhir sambung Naruto dalam hati.

"Perawan atau bukan aku tidak akan mengehentikan kegiatan kita sugar," Naruto berbisik sekdutif.

"-ini mungkin terasa sakit, percayalah hanya sebentar." Naruto mengelus puncak kepala Ino dan mengecupnya. Hati Ino bergetar, Ino merasa-

Dicintai?

Rasa perih di kewanitaannya membuyarkan pikiran Ino. Rasanya seperti di robek menjadi dua. Dengan sigap Naruto membungkam bibir Ino melumatnya, jemarinya memainkan puting payudara Ino memberikan kenikmatan untuk mengalihkan rasa sakit.

"May I?" Naruto bertanya saat Ino mulai tenang. Dengan malu-malu Ino mengangguk.

Ino mendesah saat ritme pelan Naruto menjadi cepat, hampir seperti racauan.

"Ahhh ohhhhh Naruuuh di bawah sanaaahhh sangat penuhhhh akhhhhhh-" Ino meracau jemarinya mencengkram helaian pirang Naruto.

"Sugaar, you're so tight, wet, ohhhh SHIT! FUCK!" Naruto hilang kendali, kedua tangannya meremas bongkahan payudara Ino yang memantul-mantul akibat sodokannya. Milik Ino sangat sempit begitu menjepit kejantanannya. Tangannya berpindah mencengkram pantat semok Ino, memperdalam tusukan kejantanannya.

Ini sangat nikmat, lebih nikmat saat Naruto menggunakan lidah dan jemarinya. Ino menjerit histeris, sesuatu dalam dirinya kembali ingin meledak.

"Baby wait, with me ohhhh Fuck." Naruto semakin mempercepat sodokannya. Suara erangan dan desahan mereka bersahutan diiringi bunyi kecipak basah dari tumbukan kedua paha mereka.

Naruto mendekap Ino dengan kuat, tidak ia rasakan perih punggugnya akibat kuku tajam cengkraman kuat Ino.

"FUCK ME HARD- Ahhhhhhhh."

"SHIT."

Mereka berdua melolong menjerit nikmat. Ino masih mengatur nafasnya, sensasi saat Naruto menyemprotkan sperma di dalamnya terasa sangat nikmat. Jadi ini kenikmatan bercinta yang selalu teman-temannya ceritakan.

Naruto menatap Ino lembut. He's the first! Ia sangat-sangat senang saat mengetahui jika ia yang pertama berada di dalam Ino.

"Apakah masih sakit?" Suara serak Naruto mengalun. Ino bergidig, apalagi mengingat desahan Naruto yang teramat sangat seksi.

"Tidak terlalu," Ino mencicit.

"Another round, darl?"

TBC

Gila tangan gue gemeter ngetiknya. Selamat membaca terimakasih untuk yang udah nunggu nunggu cerita ini :'))

Oh yaa aku mau nanya niih, aku ada novel terjemahan rame banget. Kira-kira boleh gak ya menurut kalian aku remake dengan pair NaruIno?