Entah angin apa yang menyebabkan Chanyeol menyempatkan diri untuk pulang kerumah. Sehun sangat mengerti, jika sepupunya itu tidak akan betah jika harus tinggal dibawah ketatnya peraturan orangtuanya. Dan sangat aneh saat pulang dari kuliah, Sehun melihat Chanyeol sore-sore sudah bermain basket sendirian di halaman belakang.

"Oi, Hun!" teriak Chanyeol sambil memberi isyarat kepadanya untuk mendekat.

"Kau pulang?"

"Yep. Aku sedang libur, suntuk sekali di apartemen sendirian. Aku rindu padamu."

Chanyeol sudah dirawat oleh kedua orangtua Sehun sejak dia masih berada di sekolah dasar. Kedua orangtuanya berada di New York mengurus perusahaan keluarga. Sedangkan Chanyeol, meskipun memiliki koneksi kuat dari ayahnya tetap bersikeras memulai kariernya dari nol sebagai koki sebuah hotel bintang lima di Seoul sejak dua tahun lalu.

"Menjijikan sekali, Park."

Sehun agak geli juga mendengar Chanyeol berbicara seperti itu, karena meskipun mereka dekat, hubungan persaudaraan mereka tidak se romantic itu.

"Kau tidak asik sekali sih, seperti biasanya. Pekerjaanku akhir-akhir ini menemui banyak kendala. Dapur sering kacau karena konflik antar koki baru dan koki lama. Menjahilimu setiap pulang kerja akan sedikit menghiburku."

Sehun mencibir karena jawaban Chanyeol, tapi ada untungnya juga jika sepupunya di rumah, dia tidak akan kebosanan lagi.

"Oh iya, eomma bercerita kepadaku kalau dia sangat mendukung hubunganmu dengan Kai. Kalian berpacaran kembali?"

Chanyeol adalah satu-satunya keluarga tempat untuk Sehun berbagi cerita. Tentu dia tau hubungannya dengan Kai.

"Tidak seperti itu, hyung. Hanya akal-akalan Kai saja menghindari perjodohan yang diatur oleh orangtuanya dengan seorang gadis. Karena dia gay kan. Lalu entah apa yang dia pikirkan dia malah mengatakan kepada ayahnya bahwa dia masih berpacaran denganku. Dan kebetulan eomma dan ayah Kai adalah rekan bisnis, ya begitulah."

"Jadi kalian hanya berpura-pura?"

"Benar."

"Tapi masih pakai hati?"

"Hyung!"

Chanyeol tergelak melihat wajah kusut Sehun.

Dulu, setelah Kai memutuskan Sehun secara sepihak, adik sepupunya itu tiba-tiba saja datang ke apartemennya dan memintanya untuk diantar jalan-jalan kemana saja. Chanyeol tahu ada yang tidak beres dengan Sehun, dan saat diklarifikasi ternyata putus cinta. Sebenarnya kasihan juga, tapi Chanyeol tidak ingin ikut campur.

"Mungkin ini adalah kesempatan kedua yang diberikan oleh Tuhan untuk kalian berdua supaya kembali disatukan" ujar Chanyeol mulai bijak.

"Tapi aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama."

"Tidak ada salahnya dicoba, toh kau masih memiliki perasaan kepada Kai. Berani taruhan, tidak sedikitpun rasa untuk Kai berkurang dari hatimu."

Sehun melirik Chanyeol yang kini duduk diatas halaman berumput itu sambil menghela nafas bosan.

"Dia sudah membuangku. Memutuskanku sama saja dengan menyuruhku pergi. Lalu sekarang dia datang meminta bantuan kepadaku? Mengancamku akan melaporkan kepada eomma tentang aku yang mabuk-mabukkan waktu itu lalu aku harus menerimanya dengan sepenuh hatiku?"

Chanyeol harus ekstra sabar jika berbicara dengan bocah besar satu ini karena emosinya sungguh labil. Kasar sedikit saja akan menimbulkan perang dingin yang dilancarkan oleh Sehun sendiri.

"Dia memutuskanmu pasti ada alasannya, Hun. Pernah menanyakannya kepada Kai?"

Hanya gelengan yang Sehun berikan sebagai jawaban. Saat Kai mengatakan putus, Sehun hanya tersenyum sinis lalu pergi begitu saja dari hadapan Kai. Tidak pernah menghubunginya apalagi bertegur sapa. Sehun teramat sangat sakit hati.

"Dengar, Hun. Selalu ada kesempatan kedua bagi orang yang sebenarnya masih saling menyayangi namun tidak mau menyadari. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin, jangan mengalah dengan egomu."

Chanyeol berkata seperti demikian bukan ingin menjerumuskan Sehun, meskipun tidak tahu apa alasan Kai memutuskan adik sepupunya tapi dia yakin, Kai adalah pria yang baik dan dia memang paham seperti apa mantan kekasih Sehun itu.

"Semalam Kai menginap disini lagi atas permintaan eomma. Dia mengatakan setelah lulus kami akan menikah, dalam hatiku ada sedikit rasa senang, aku mengakui aku masih mencintainya. Tapi setelah tadi pagi aku memikirkan kembali bagaimana jika dia meninggalkanku lagi, hyung."

"Aku tidak pandai memberi saran dalam hal cinta, tapi jika kau memang masih mencintainya perjuangkan dia. Pertahankan dia untuk selalu berada disampingmu. Dia memang lelaki, tapi kau juga lelaki. Berjuanglah layaknya pria sejati."

Setelah berkata seperti itu Chanyeol masuk kedalam rumah membiarkan Sehun kembali memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Kai secara matang.

.

.

.

Hari ini Sehun libur, niatnya ingin bermalas-malasan saja dikamar diusik oleh eommanya yang mengatakan bahwa Nyonya Kim memintanya untuk menemani Kai membeli beberapa sayuran dan bahan makanan lainnya, karena malam ini beliau akan mengadakan perjamuan makan malam sederhana yang dihadiri oleh rekan bisnisnya sekaligus calon besan, yaitu keluarga Sehun.

"Ini tidak masuk akal, eomma. Kita yang diundang, tapi kenapa aku juga yang berbelanja. Kita adalah tamu."

"Hunhun kenapa terlihat tidak senang begitu sih. Harusnya senang kan calon mertua membutuhkan bantuanmu."

Jantung Sehun berdesir pelan karena mendengar eommanya menyebut ibu Kai sebagai calon mertua. Tapi dia segera menepis perasaan hangat itu menjalari hatinya.

"Eomma, tapi Kai bisa belanja sendiri. Dia bukan anak kecil. Lagipula mereka pasti punya maid. Untuk apa maid mereka jika tidak diberdayakan"

Sehun sedikit menyesal karena kalimatnya barusan membuat eommanya terlihat sedih sekarang.

"Sebenarnya Hunhun sayang tidak sih sama Kai?"

Lidah Sehun mendadak kelu untuk menjawab pertanyaan eommanya. Tentu saja dia masih menyayangi Kai, tapi untuk menjawabnya Sehun merasa tidak sanggup.

"Baiklah-baiklah, aku akan menemani Kai. Eomma senang?"

Ibu Sehun tersenyum manis mendengar jawaban putera semata wayangnya. Setelah memastikan Sehun benar-benar beranjak dari kasur menuju kamar mandi, wanita cantik paruh baya itu keluar dari kamar anaknya.

Sehun menuruni tangga dengan ogah-ogahan setelah menyelesaikan ritual mandinya yang sebenarnya terbiasa cepat namun kini sengaja berlama-lama. Alasannya, karena dia malas bertemu dengan Kai. Otaknya yang malas, hatinya siapa yang tahu kalau sedang bergemuruh menyenangkan.

Merutuk dalam hati kenapa Kai sudah ada di ruang tamu bersama Chanyeol saat ini. Dia pikir mereka akan bertemu langsung di supermarket, ternyata Kai menjemputnya.

"Sehun-ah, cepat turun kekasihmu sudah menanti!"

Sehun mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak memukul kepala sepupunya dengan sepatu keds yang dia kenakan. Bagaimanapun juga dia masih membutuhkan Chanyeol untuk kelangsungan hidupnya.

"Sudah siap, Sehunna?" tanya Kai (sok) manis, dan hanya dibalas dengusan oleh Sehun. Kai sih hanya terkekeh saja melihat ekspresi jengah Sehun.

"Hati-hati kalian berdua, hitung-hitung latihan berbelanja saat sudah berumah tangga kelak."

Setelah berkata seperti itu Chanyeol langsung berlari menjauh dari Sehun karena melihat sang Tuan Muda mulai melepas sepatu sebelah kanannya yang dia yakini akan segera mendarat diatas kepalanya jika tidak segera pergi dari situ.

Dengan langkah malas, Sehun mengikuti Kai berjalan menuju mobil milik sang mantan kekasih yang terparkir rapi di depan rumahnya. Dia mengeluarkan headset yang sudah dia siapkan, karena dia benar-benar ingin menghindari percakapan dengan Kai. Sedangkan Kai sendiri terlihat tidak begitu peduli.

Jalanan tidak begitu padat, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di supermarket yang menjadi tujuan mereka. Kai menyerahkan sebuah note yang bertuliskan apa saja yang harus mereka beli. Inisiatif, Sehun mengambil troli yang diletakkan tak jauh dari pintu masuk.

Kai tidak pernah meragukan kemampuan Sehun dalam memilah bahan makanan apalagi sayuran seperti ini, meskipun Sehun adalah seorang lelaki tapi dia begitu teliti entah siapa yang mengajarinya. Melihatnya bergumam sendiri didepan sayura-sayuran membuatnya tanpa sadar menyunggingkan sebuah senyuman. Mantan kekasihnya itu akan selalu terlihat manis dimatanya.

Ternyata banyak sekali sayuran yang dipesan eommanya membuat Kai mengernyit tidak suka. Satu persatu tangannya mengambil sayuran yang sudah dipilih oleh Sehun dan mengembalikannya ke tempatnya tadi.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sehun sinis.

"Sayuran ini tidak akan termakan jika memasaknya terlalu banyak. Sayang jika harus dibuang."

"Tapi eommamu yang memesan semua ini Kai." Sehun kembali mengambil beberapa sayuran yang tadi sempat Kai kembalikan.

"Tapi aku tidak menyukainya, Hun. Tentu kau sudah mengetahuinya kan?"

"Aku tidak mau tahu, ini perintah eommamu."

Sehun tetap mengambil sayur-sayur itu dan segera mendorong trolinya dengan cepat meninggalkan Kai yang masih saja bersungut-sungut dibelakangnya.

"Kenapa menurut sekali dengan eommaku sih."

Yang ditanya sama sekali tidak menjawab, enggan menanggapi gerutuan orang yang ada disampingnya itu Sehun lebih memilih menuju tempat daging dan berharap pekerjaan ini segara selesai.

"Ah aku tahu, kau menuruti perintah eommaku supaya eomma menyukaimu dan semakin merestui kita, ya?"

Sehun menghentikan langkahnya dan menatap tajam kearah Kai.

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu benar apa maksudku, Oh Sehun." jawab Kai sambil memasang wajah sok manis yang dibuat-buat.

"Jangan sembarangan bicara, aku tidak mengharapkan apapun dengan apa yang telah kulakukan hari ini."

"Tidak perlu mengelak begitu."

"Bisa kau tutup mulut lebarmu itu?"

Kai tertawa kecil melihat Sehun menahan emosi seperti ini. Dia selalu membenarkan kalimat Chanyeol yang dulu sempat mengatakan jika Sehun akan sangat lucu jika sedang menahan amarahnya saat digoda.

"Bagaimana jika mulutmu saja yang membantuku menutup mulut lebarku ini?"

Wajah sepenuhnya memerah bahkan sampai ke telinga. Rayuan Kai saat ini benar-benar tidak akan menyehatkan jantungnya. Tangannya bergetar dan bibirnya mengatup rapat tidak dapat membalas ucapan Kai saking gugupnya.

Menghindar untuk berdebat, karena Sehun yakin suaranya akan terdengar seperti tikus terjepit pintu di situasi seperti ini, Sehun melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Kai tertawa tanpa suara sambil memegangi bibirnya melihat bagaimana Sehun berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Sampailah di tempat daging, Sehun memeriksa lagi notenya dan sebelum dia sempat mengeluarkan suara, Kai sudah menyela.

"Biarkan aku yang memesan dagingnya, Hun."

Kai memang menyukai daging, terutama daging ayam. Lelaki itu bisa menghabiskan sepiring penuh potongan ayam goreng seorang diri. Tapi melihat begitu banyaknya daging ayam yang Kai minta bahkan melebihi pesanan yang tertera di note, membuat Sehun protes.

"Kai ini kebanyakan. Kita tidak membutuhkan sebanyak ini." Ujar Sehun yang sudah dapat mengatur suaranya normal kembali.

"Aku yang akan menghabiskannya, kau pun paham bagaimana aku kan?"

Sehun membuang muka saat Kai berkata demikian sambil menarik-narik alisnya bermasud menggoda. Menyerah saja jika harus berdebat, dia tidak mau terkena rayuannya lagi.

Selesai dengan daging, Kai meminta Sehun untuk membawa trolinya ke rak makanan. Kai mengambil lumayan banyak makanan ringan. Bahkan dia meletakkan setidaknya tiga bungkus makanan yang sejenis.

"Apalagi ini, Kai? Kau bermaksud menguras habis uang eommamu sendiri? Baik sekali."

Kai mendengar cibiran Sehun hanya terkekeh pelan.

"Percaya padaku. Honeybutter Chips ini tidak akan cukup untukmu jika hanya satu bungkus."

Sehun melihat kembali makanan apa saja yang diletakkan oleh Kai. Hampir semua adalah makanan manis kesukaan Sehun.

"Terserah kau sajalah."

Sehun tetaplah Sehun. Dalam hatinya dia merasa terharu karena Kai masih saja mengingat makanan favoritenya. Tapi dia juga tidak ingin memperlihatkan kalau dia sedang senang. Kai memandang Sehun dengan senyum maklum melihat respon Sehun yang masih saja jutek kepadanya.

Sementara Kai membayar barang belanjaan mereka di kasir, Sehun lebih memilih untuk menunggu ditempat duduk tak jauh dari situ. Memandang Kai dari jarak jauh begini membuatnya betah, tidak merasa bosan sama sekali. Kai masih tampan seperti biasanya, masih memiliki senyuman yang mampu membuat hati Sehun meleleh.

Sehun tidak mengerti apa yang membuat Kai memutuskannya. Dia tidak ingin menanyakannya karena takut merasa sakit hati lebih dari ini. Maka dari itu, dia lebih memilih memiliki dendam kepada Kai, supaya dia tidak lagi luluh kepada mantan kekasihnya itu.

Namun kalimat Chanyeol kemarin sempat membuatnya berpikir juga, tidak ada salahnya mencoba untuk berbaikan, bukan. Tapi yang membuat Sehun ragu, dia tidak yakin Kai juga akan menyerahkan hatinya kembali kepada Sehun seperti yang akan dia lakukan.

"Kapan aku bisa melupakanmu kalau begini caranya." Menghela napas pelan, Sehun mengusap wajahnya lelah.

"Kalau begitu jangan."

Sehun terkejut melihat Kai yang ternyata sudah berdiri di depannya sambil mendorong troli belanjaan mereka yang sekarang sudah terbungkus rapi dengan beberapa paperbag besar.

"Sejak kapan kau disitu?" tanya Sehun sambil menatap horror kearah Kai.

"Baru saja."

Jantung Sehun berdetak sangat cepat, Kai mendengar kalimatnya tadi. Dan sekarang melihat lelaki itu duduk disampangmya sambil memberikan senyuman tampan, membuat Sehun tidak bisa berkutik.

"Kau tidak bisa move-on dariku ya, mengaku saja."

Kai terlihat senang sekali melihat pipi Sehun kini sedikit demi sedikit berubah menjadi sewarna apel merah.

"Tertawa saja jika kau ingin tertawa, memang begitu kenyataannya."

Sehun menjawab begitu sambil berjalan meninggalkan Kai. Tidak ada lagi yang ingin dia sangkal. Namun dia juga tidak mau terlihat tersipu didepan mantan kekasihnya saat ini, Sehun malu.

"Kalau memang begitu adanya, berarti kau tidak keberatan jika suatu hari kita harus benar-benar menikah, kan?" ujar Kai sambil mengikuti langkah Sehun dari belakang.

Sehun sudah memiliki jawabannya untuk diberikan kepada Kai, namun ucapannya dia simpan kembali karena saat dia membalikan badannya untuk menghadap kearah Kai, datangalah seorang gadis cantik meneriakan nama Kai dan memelukanya erat sekali dihadapan Sehun.

"Kai, aku merindukanmu. Kau pergi begitu saja tanpa kabar. kemana saja kau selama ini, huh?"

Sehun menyesali pemikirannya untuk menerima Kai kembali. Karena belum ada seperempat jam dia mengambil keputusan, kini untuk kedua kalinya Kai mengahancurkan kembali hatinya yang sudah pernah retak karena ulah orang yang masih sangat dia cintai.

.

.

.

Note:

How? Aneh gak sih. Tiba-tiba bingung mau buat moment Kaihun seperti apa jika situasinya meraka adalah sepasang mantan kekasih. Isinya canggung-canggung dulu solanya, aku pun juga canggung nulisnya. .

Moment Kaihun kurang tidak? Aku menambahkan oknum asli_peceye karena aku suka bromance Chanhun. wkkwkwk .

Terimakasih untuk readers yang sudah menyempatkan review, follow dan fav. Kalian baik sekali aku terharu :") (maklum author abal-abal).

Tunggu chapter berikutnya ya, aku akan menulis serajin mungkin, mumpung libur hehehe.

See ya, XOXO.