Kai pulang dengan wajah ditekuk, terlihat sekali dia sedang kesal, barang belanjaan yang dia bawa ditaruh di atas meja dapur begitu saja. Hal itu tidak luput dari perhatian wanita cantik berbalut dress hijau muda, yaitu ibu Kai.

"Ada apa? Mana Sehun?" tanyanya dengan nada lembut.

"Pulang."

"Kalian bertengkar?"

Kai menggeleng pelan. Dia mengambil tempat duduk di dekat meja dimana dia meletakkan belanjaannya tadi.

"Dia marah. Melihatku dipeluk oleh Jennie saat kami selesai berbelanja tadi."

Ibu Kai tentu tidak asing dengan nama seorang gadis yang dulu menjadi tetangga mereka saat tinggal di Jepang. Gadis itu memang sejak kecil menyukai Kai, ibu Kai sangat paham. Tapi Kai tidak dilahirkan sebagai anak lelaki yang tertarik dengan perempuan, jadi wajar jika putera semata wayangnya ini sering mengabaikan gadis cantik itu. Kembalinya keluarga Kim ke Seoul tiga tahun disambut gembira puterany karena merasa terbebas dari Jennie.

"Dia disini?"

"Iya, katanya ingin menemui pacarnya yang mengambil study di SNU." Jelas Kai dengan ekspresi malas.

"Dia memiliki pacar? Tapi dia memelukmu di tempat umum?" ibu Kai tidak habis pikir, Jennie dari dulu tidak pernah berubah, sering bertingkah agresif kepada siapa saja.

"Jennie memang begitu kan eomma. Hanya saja timmingnya sangat tidak tepat. Memelukku di depan Sehun, akhirnya dia pulang deh."

Ibu Kai tersenyum maklum sambil mengelus pucuk kepala Kai pelan.

"Sehun hanya lelah karena kau ajak berbelanja tadi, jadi mudah sekali emosi. Kau jelaskan sampai dia mengerti saat bertemu dengannya nanti. Eomma akan mengusahakan supaya Sehun mau dibujuk untuk tetap datang kesini."

Kai menatap ibunya senang, benar-benar wanita yang melahirkannya ini superhero baginya. Selalu bisa diandalkan.

"Terimakasih eomma."

.

.

.

Sehun merebahkan tubuhnya dikasur empuknya. Hatinya panas melihat pemandangan di supermarket tadi. Bisa-bisanya Kai diam saja saat dipeluk oleh gadis entah siapa itu, bahkan tidak mengejarnya.

"Dasar Kim bodoh!" teriaknya kencang sambil memukul guling disampingnya. Saat ini rumahnya sedang sepi, kedua orangtuanya jarang sekali dirumah disiang hari. Chanyeol pasti juga sedang bekerja. Hanya ada seorang maid dan tukang kebun yang jarang sekali ikut campur urusan majikannya.

Sehun merasa dipermainkan. Boleh saja jika meminta tolong padanya untuk mengelabuhi keluarganya yang akan menjodohkannya kepada gadis lain. Tapi dia kan tau kalau Sehun masih mencintainya. Seharusnya dia peka sedikit, pikir Sehun berang.

"Jangan-jangan, dia gadis yang akan dijodohkan dengan Kai?"

Segala pemikiran aneh masuk ke kepala Sehun. Ada rasa khawatir menyelinap ke hatinya. Gadis itu cantik, manis, lucu. Orangtua Kai pantas saja menyukainya. Tapi bukankah dirinya dan Kai sudah direstui?

"Tapi ini Seoul dan mereka pebisnis. Bisa saja mereka menggunakan trik untuk menghasut orangtua Kai supaya melanjutkan perjodohan itu. Dan aku... akan ditinggalkan oleh Kai lagi."

Sehun mengacak-acak rambunya frustasi. Dia tidak ingin kehilangan Kai untuk kedua kalinya, tapi dia belum bisa mempertahankan lelaki itu. Dia tidak tau bagaimana caranya, karena gengsi menguasai dirinya.

"Terserah, aku tidak peduli padamu!"

Bantal tempatnya meletakkan kepalanya tadi dia lemparkan ke arah almari dengan kencanng menimbulkan bunyi gedebug yang berasal dari benda itu yang terjatuh.

Sehun mengubah posisinya tengkurap dan menyembunyikan wajahnya. Dia lelah berpikir dan memutuskan untuk tidur siang saja tanpa ingin memusingkan urusannya dengan Kai.

.

.

.

Sehun terbangun karena sayup-sayup mendengar suara ibunya.

"Hunhun, bangunlah. Hari sudah sore, sebentar lagi kita harus segera ke rumah Kai tanpa terlambat."

Melirik sekilas hanya untuk memastikan suara itu adalah suara ibunya, Sehun kembali memejamkan matanya berusaha untuk tidur lagi. Persetan dengan makan malam, pikirnya kurang ajar.

"Jika kau tidak mau bangun, eomma akan membakar semua koleksi topi Izro milikmu."

Ternyata ancaman main-main itu berpengaruh untuk Sehun. Dengan sigap dia bangkit dari kasurnya dan membuka almarinya. Mengambil semua topi kesukaannya bermaksud untuk menyelamatkan mereka dari kekejaman sang ibu.

"Eomma tidak memiliki hak untuk menyentuh koleksi-koleksiku. Aku membelinya dengan uangku sendiri."

Ibunya berjalan mendekat keara Sehun lalu menarik pelan pipi putihnya.

"Makanya, dengarkan kata-kata eomma. Segeralah mandi dan berpakaian rapi perlu formal.:

Sehun memutar bola matanya malas. Jika dia diperbolehkan dia akan memakai pakaian Chanyeol yang jarang sekali dicuci.

"Aku malas eomma. Kai menyebalkan hari ini. Eomma tau, dia membiarkan dirinya dipeluk seorang gadis didepan mataku. Dan sama sekali tidak mengejarku eomma" rengek Sehun manja. Ibunya hanya menggelengkan kepalanya pelan, kadang gemas sendiri pada puteranya ini, usia sudah bukan remaja belasan tahun tapi masih suka merengek.

"Bagaimana mungkin Kai mengejarmu sedangkan dia membawa belanjaan yang cukup banyak, pastinya. Sedangkan kau pulang hanya membawa badan."

"Itu karena dia menyebalkan eomma, makanya aku tidak mau membantunya membawa barang belanjaannya itu."

"Sehun sayang, kau juga lelaki kenapa ingin sekali dikejar, sih. Seharusnya kau tunggu Kai selesai berurusan dengan gadis itu, lalu minta penjelasaanya. Jangan hanya main tinggal dan membuat kesimpulan sendiri."

Sehun sudah akan membantah jika saja ibunya tidak menghentikannya dan memerintah dengan nada tegas supaya dia lekas mandi.

"Jika dalam waktu lima belas menit kau tidak turun juga, lihat apa yang akan terjadi dengan semua benda-benda kesayanganmu."

Sehun mendengus keras saat ibunya menutup pintu kamarnya yang tidak bisa dibilang pelan itu. dengan langkah malas dia mengambil handuknya dan memasuki kamar mandi dengan perasaan terpaksa.

.

.

.

Sehun membuang muka saat melihat Kai membukakan pintu untuknya dan kedua orangtuanya. Sebenarnya dia ingin lama-lama memandang Kai, karena jujur saja, lelaki itu tampak tampan malam ini dengan kemeja abu-abu yang dimasukkan ke dalam celana jeans hitamnya. Rambutnya disisir rapi tapi dibiarkan menutupi keningnya. Ah andaikan mereka belum putus ya.

Kai menuntun mereka memasuki ruang keluarga dan mempersilakan mereka duduk. Ayah Kai baru saja turun dari tangga menyambut mereka dengan ramah.

"Senang sekali berjumpa dengan kalian dalam suasana santai seperti ini." Ujarnya sambil menjabat tangan anggota keluarga Oh satu persatu setelah membungkuk satu sama lain.

Sehun belum pernah bertemu dengan ayah Kai, karena Kai tidak pernah mengajaknya kemari.

"Aku pernah melihat foto Sehun sebelumnya, dari ponsel Kai. Tapi tidak menyangka jika Sehun setampan ini." Ucap ayah Kai.

Sebagai pihak yang dipuji Sehun hanya tersenyum malu.

"Dia tampan karena aku adalah ayahnya." Ujar ayah Sehun dengan nada bercanda.

Dilihat dari cara mereka berbincang-bincang menggunakan bahasa informal, Sehun menyimpulkan kedua orangtuanya dengan Kai memang sudah sangat dekat. Artinya mereka merestui hubungannya dengan Kai hampir seratus persen kan? Hal itu membuat hatinya sedikit lega.

"Bagaiaman jika perbincangan seru ini kita lanjutkan sambil makan malam?" itu ibu Kai yang baru saja muncul dari arah dapur sepertinya.

Sehun melihat hidangan yang disediakan dengan tatapan lapar. Jujur saja dia belum makan sedari tadi. Dan yeah, dia bersyukur Kai melebihkan jumlah daging yang mereka beli tadi siang.

Suasana malam ini begitu hangat. Para orangtua membicarakan bisnis mereka dengan santai, Kai pun juga terlihat antusias mendengarkan, sesekali dia akan memberi tanggapan. Terlihat sekali jika lelaki itu juga tertarik dengan dunia yang digeluti oleh orangtuanya dan orangtua Sehun. Sedangkan Sehun, dia tidak peduli. Perutnya lebih penting. Bahkan dia sudah menghabiskan beberap potong ayam goreng.

"Sehun serius sekali ya makannya. Lahap pula, eommoni jadi senang, jadi tidak ada makanan yang sisa." ujar Ibu Kai yang menyadari hanya Sehun yang tidak ikut mengobrol sedari tadi.

Sehun tersenyum canggung mendengar ucapan ibu Kai. Dalam hati dia merutuk kenapa dia rakus sekali.

"Padahal tadi siang dia yang protes kepadaku karena aku sengaja memesan daging ayam lebih banyak." Sindir Kai mulai menggoda Sehun lagi.

Sehun hanya menatap sinis kearah Kai tanpa mengeluarkan suara. Padahal dalam hati dia ingin melemparinya dengan tulang-tulang ayam ini ke kepalanya itu.

"Hunhun jangan menatap Kai seperti itu, tidak sopan." Ini ibu Sehun sendiri yang menegurnya, yang membuat Sehun tidak berani berkutik dan memilih melanjutkan makannya dengan sabar.

Kedua wanita yang ada diruangan ini sebetulnya tahu kan, masalah Sehun yang marah tadi siang. Tapi mereka tidak ingin mengangkat topic ini, biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalah mereka.

"Jadi, Sehun dan Kai sudah siap kan jika langsung menikah setelah lulus?"

Sehun tersedak nasinya saat mendengar ayah Kai tiba-tiba membahas soal pernikahan. Kai sendiri terlihat terkejut, pasalnya hubungan mereka jauh dari kata mulai membaik.

"Pelan-pelan, Hun. Ini minum dulu." Ucap ibu Sehun sambil menyodorkan segelas air putih.

"Appa, kelulusan kami masih satu semester lagi. Jangan dibahas sekarang." Protes Kai yang sadar situasi mulai canggung.

"Tapi satu semester tidaklah lama, anakku." Jawab ayah Kai.

"Biarkan mereka konsentrasi pada tugas akhirnya dulu, baru pikirkan soal pernikahan mereka. Sehun tidak akan kemana-mana." Ujar ayah Sehun menengahi.

Ayah Kai mengangguk-anggukan kepalanya mengalah. Ada benarnya juga, saat ini Sehun dan Kai masih dipusingkan dengan perkuliahan mereka, pasti akan sangat terganggu jika membahas hal seserius ini sekarang.

Maka dari itu, mereka lebih memilih kembali membicarakan hal-hal ringan dan membiarkan Sehun dan Kai saling mendiamkan karena pembahasan soal pernikahan tentu menganggu mereka saat ini.

.

.

.

Udara malam ini tidak terlalu dingin, Sehun memilih duduk menyendiri di taman samping rumah Kai dibandingkan ikut mengobrol diruang keluarga. Setelah kejadian di ruang makan tadi, Sehun sangat menghindari berlama-lama dengan Kai dalam satu ruangan. Tapi sepertinya Kai tidak membiarkannya duduk sendirian di taman itu, kini lelaki tampan yang masih sangat dicintai oleh Sehun ikut mendudukan dirinya disampingnya kini.

"Ini makanan ringanmu." Ujar Kai menyodorkan semangkuk penuh chips kesukaan Sehun. sepertinya tiga bungkus chips tadi dijadikan satu oleh Kai.

"Tidak, aku sudah kenyang ayam." Jawab Sehun datar. Sehun tentu gengsi untuk menerima makanan itu, padahal perutnya masih sangat muat untuk menampungnya seorang diri.

"Benarkah?" tanya Kai dengan nada main-main.

"Ya."

"Baiklah kalau begitu. Aku akan memakannya dengan temanku yang tadi siang memelukku. Dia juga menyukai honey butter chips, dan kebetulan dia tinggal tak jauh dari sini." Kata Kai sambil bangkit dan membawa mangkuk itu menjauh dari Sehun.

Sehun mulai kesal dengan tingkah Kai. Dia merasa Kai sama sekali tidak peka, padahal dia sudah semarah itu tadi siang. Lalu apa sekarang? Sehun mendengus kasar. Tapi dia tidak ingin melakukan apapun, dia tidak ingin mengejar atau menghentikan Kai. Persetan memperjuangkan lelaki itu, jika dia saja tidak ingin diperjuangkan.

Kai sendiri tengah menahan tawanya dengan susah payah. Tidak tega melihat Sehun makin kesal, dia kembali lagi duduk disamping Sehun. Memakan satu persatu chips yang memiliki rasa manis gurih itu sambil pura-pura tidak tahu bahwa saat ini lelaki disampingnya itu melirik kearah mangkuk yang sedang dia pegang.

Gemas karena Sehun tetap mempertahankan gengsinya, Kai menyumpal mulut Sehun dengan paksa.

"Aku tidak akan sanggup menghabiskannya sendirian, jadi kau harus membantuku.'

"Hentikan!"

"Aku tahu kau menyukainya, Hun. Aku tahu."

"Tapi bibirku sakit bodoh."

Sehun menelan chips itu dan mengunyahnya dengan kesal.

"Bibirku dengan sukarela akan mengobatinya."

Sebuah pukulan keras dilayangkan oleh Sehun tepat di kepala Kai bagian belakang.

"Sadis sekali sih, Hun."

"Kau pantas mendapatkannya. Dan aku memang ingin melakukannya sejak lama."

Kai masih meringis sambil memegangi kepalanya. Tapi senyumnya mengembang saat tangan Sehun mulai mengambil beberapa chips lalu dimasukkan ke mulutnya sendiri. Dia sangat yakin, Sehun tidak pernah bisa tahan dengan makanan ringan satu ini.

"Gadis tadi adalah Jennie, tetanggaku yang tinggal di daerah sini juga." Ujar Kai membuka suara.

"Lalu apa urusannya denganku?" jawaban ketus Sehun membuat Kai sedikit sewot juga.

"Hanya tidak ingin membuat seseorang salah paham dan menangis dikamarnya sampai air matanya kering."

Sehun menatap tajam Kai berharap dengan tatapannya saja dapat menguliti badan Kai.

"Aku tidak seperti itu."

Kai tertawa garing karena Sehun sulit sekali diajak berbicara kali ini, maka dari itu dia inisatif membahas hal yang wajar-wajar saja. Tapi sepertinya sama saja.

"Ngomong-ngomong bagaimana tugas akhirmu?"

"Sebentar lagi selesai."

"Berarti siap menikah denganku?"

Kunyahan Sehun berhenti. Dia menatap Kai yang kini juga membalas tatapannya.

"Kau serius soal itu?" tanyanya sambil mengambil chips lagi.

"Kau pikir aku hanya membual?"

"Lalu sampai kapan kita akan mempertahankan pernikahan itu hingga akhirnya bercerai?" Sehun sengaja bertanya seperti itu hanya ingin memastikan saja, kalau ternyata pernikahan ini memang permainan Kai belaka.

"Untuk apa bercerai?"

Sehun tak sengaja menggigit bibir bawahnya sendiri mendengar jawaban Kai menimbulkan rintihan pelan.

"Ada apa, Hun?"

"Tidak apa-apa, bibir bawahku tak sengaja tergigit olehku."

Cepat-cepat Kai meraih bibir bawah Sehun dan memeriksanya, sedikit berdarah disana. Tidak parah, tapi jika dibiarkan bisa jadi sariawan. Jemarinya menekan-nekan bibir Sehun lalu mengelusnya perlahan berharap rasa sakitnya berkurang. Sehun sendiri kini panas dingin melihat sikap Kai yang perhatian kepadanya. Jarak sedekat ini membuatnya jantungnya kembali berdetak kencang seperti ingin keluar dari tempatnya.

"Sudahlah tidak apa-apa, nanti juga sembuh." Ujar Sehun sambil melepaskan diri dari Kai guna menutupi segala kegugupannya.

"Bibir yang sudah tergigit rawan tergigit lagi ditempat yang sama. Nanti bisa sariawan." Kata Kai

"Tidak masalah."

Sehun meraih mangkuk berisi chips lagi namun tangan Kai menepisnya.

"Bibirmu akan tergigit lagi, Hun."

"Tapi darah dibibirku semakin terasa, dan amis. Aku sangat berterimakasih jika kau tidak keberatan mengambilkanku air untuk berkumur."

"Aku akan mengambilkannya untukmu, tapi sebelum itu izinkan aku membantumu membersihkan darahnya."

Belum sempat Sehun membalas ucapan Kai, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir lelaki yang kini sedang melumati bibir bawahnya. Lidah Kai menari-nari dibagian lukanya entah bagaimana caranya dia bahkan tak sanggup membayangkannya.

Tangan Sehun meremas kemeja Kai saat lelaki itu semakin merapatkan tubuh mereka. Lututnya mendadak lemas, seolah-olah berubah menjadi lunak seperti jelly. Sehun semakin kehilangan napasnya seiring dengan intensitas Kai yang semakin dalam menciumnya, bahkan kini lelaki itu mulai melumat bibir atasnya dan menyesapnya pelan.

Ciuman selembut marshmallow itu begitu memabukkan untuk Sehun, dia selalu tak bisa berkutik jika Kai mulai bersikap lembut seperti ini. Memejamkan matanya, Sehun mulai membalas ciuman Kai. Menumpahkan segala kerinduannya selama ini yang sudah tak dapat ia bending lagi. Dia berharap dengan ini Kai mengerti, bahwa dia masih sangat mencintainya.

Kai lah yang pertama melepas ciuman itu, dipandangi wajah Sehun dengan intens. Mantan kekasihnya ini tetaplah menjadi orang nomor satu dihatinya. Yang selali bisa memenangkan hatinya saat pertama mereka berjumpa. Tangannya kembali menyentuh bibir Sehun dan menariknya sedikit untuk memeriksanya.

"Darahnya sudah bersih, tunggu disini. Aku akan mengambilkan air minum untukmu."

Setalah berkata seperti itu Kai bangkit dari duduknya dan masuk kedalam rumah membawa kembali semangkuk chips itu karena tidak ingin Sehun memakannya lagi.

Sehun memegang kedua pipinya yang terasa panas.

"Oh ya Tuhan, yang tadi itu apa?"

Dia memegangi dadannya yang bergemuruh. Kecepatan detak jantungnya meningkat. Rasanya sangat menyenangkan dan melegakan. Kedua pipinya terangkat membentuk sebuah senyuman manis sekali.

Kai kembali dengan membawa segelas air putih dingin yang diberi irisan buah lemon..

"Minumlah, dia akan mencegah timbulnya sariawan di bibirmu. Tapi begitu sampai rumah kau harus mengobatinya."

Sehun mengangguk sambil perlahan meminumnya pelan-pelan. Rasa asam akibat lemon itu membuat lukanya kembali terasa perih. Dia mengernyit pelan, dan Kai menyadarinya.

"Masih perih?"

Sehun menganggukkan kepalanya sambil menghabiskan air putih itu, menyisakan lemonnya saja.

"Tidak apa-apa, berhentilah aku ini bukan anak kecil yang akan mempeributkan bibir yang tergigit olehku sendiri." Jawabnya masih ketus, membuat Kai menggelengkan kepalanya pelan.

"Jadi jika aku yang tak sengaja mengigitnya kau akan meminta pertanggungjawaban dariku? Wah aku sih senang-senang saja mengobati lukamu seperti tadi."

Telinga Kai ditarik kencang dan dipelintir oleh Sehun menimbulkan teriakan heboh keluar dari bibir Kai.

"Akh! Sakit! Hentikan Hun! Hentikan, hey! Iya iya aku minta maaf! Ya!

Kai bernapas lega saat Sehun melepaskan telinganya yang kini sudah berwarna merah.

"Inikah balasanmu kepadaku?" tanya Kai bersungut-sungut sambil memegangi telinganya yang masih terasa panas.

"Maka dari itu berhentilah berbicara hal yang tidak berguna."

"Tapi kau suka kan?"

"Ingin kuapakan kau?"

Sehun kembali mengangkat tangganya untuk menarik telinga Kai namun kalah cepat, kini justru tangannya digenggam oleh Kai.

"Aku ingin dicium saja seperti tadi." Jawabnya sambil tersenyum sok manis dan memonyongkan bibirnya.

"Nih cium saja pantan gelas ini!"

Sehun menabrakkan bagian bawah gelas yang ia bawa ke bibir Kai. Setelah itu dia melepaskan tangannya dari genggamana Kai dan berjalan ke dalam rumah dengan cepat. Menghindari godaan dari mantan kekasihnya itu.

Kai terkekeh melihat Sehun yang terlihat kesal lalu memegangi bibirnya sendiri.

"Bibirmu masih terasa manis sampai saat ini."

Dia menyamankan duduknya sambil menatap kearah langit. Langit sangat cerah mala mini. Ribuan bintang telah menjadi saksi kegiatannya dengan Sehun tadi.

"Andaikan saat itu aku lebih bersabar menghadapimu, aku tak perlu berbohong seperti ini. Dan kita tetap akur seperti biasanya."

.

.

.

Note:

Yeaaayyyy fast udate lagiiii!

Agak kaku sama adegan ciumannya Kai. Aku tidak pandai membuat yang seperti itu. Semoga readers tetap menyukainya yaaa~

Wkwkwk review kalian yang marah-marah sama Kai sungguh lucu. T_T jangan salahkan dia teruuuuus XD

Terimakasih lagi untuk readers yang sudah meluangkan waktunya untuk Fav, Follow, dan Review ceritaku ini. Bolehkah aku berharap siders mulai berkurag?

Sampai jumpa lagi ya, XOXO.