Eh?
"A-apa maksudmu?" Jean Jacques mendekat dengan khawatir pada pasien yang kepalanya dibebat perban menyisakan sejumput rambut pirang, kedua mata, mulut dan hidungnya.
"Aku..tidak melihat kalian."
"Tolong, katakan apa yang kau lihat," pinta Phichit Jacques yang beberapa saat lalu baru selesai mengganti perban di tubuh pasiennya, si pirang.
"Cuma hitam."
"Siapa namamu?"
"Nama?" si pirang kembali bertanya, "Apa itu?"
Otabek Altin memasang poker face terbaiknya.
-o-
nothing in a mounth
Aria Nica & Eroi Nica
Suit 1 – siapa namaku?
-o-
Suatu ketika pada masa uang mulai berdedar, ada sebuah pulau besar bernama Pulau-Benua. Di sana terdapat tiga pemerintahan besar. Ketiga pemerintahan tersebut dibangun oleh tiga bersaudara yang pertama kali memijakkan kaki di Pulau-Benua tersebut.
Pertama, Kerajaan Batu di Utara pulau. Kerajaan monarki ini berada di atas bukit berbatu yang agak tinggi. Keadaan alamnya berupa bukit dan gunung batu vulkanik, serta jurang-jurang besar yang dialiri sungai belerang. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja.
Kedua, Kesultanan Kertas yang membentang dari Timur hingga Tanjung Barat. Kesultanan teokrasi ini berada di hutan, dengan lembah dan padang stepa luas, serta sungai-sungai besar beraliran tenang. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang sultan.
Ketiga dan yang terakhir, Kekaisaran Gunting yang membentang sepanjang pantai Selatan hingga perbatasan Gunting-Kertas yang sangat panas. Kekaisaran otoriter ini berada di perbukitan rendah berjulang gua-gua besar pemukiman, serta sungai-sungai irigasi yang mengalir sepanjang tahun. Kekaisaran ini dipimpin oleh seorang kaisar.
Di pertengahan masa uang, pada era kepemimpinan generasi ketigabelas Pulau-Benua telah berkembang menjadi sebuah Pulau yang modern. Teknologi kemiliteran, kesehatan, pengajaran dan ketenagakerjaan berkembang pesat dan menjadi primadona . Untuk menunjang semua itu, dibangunlah akademi-akademi di beberapa kota besar.
Namun begitu, masih terdapat desa-desa terpencil yang hanya mendapat tiga sampai sepuluh orang relawan dari Pemerintahan setiap beberapa tahun sekali.
Pernah suatu ketika, di kaki gunung di Kesultanan Kertas seorang Pengantar Pesan menghilang tanpa jejak, kedua pengawalnya tewas berdarah-darah dan hanyut di sungai. Kakak dari sang Pengantar Pesan merupakan Perdana Menteri dari Kerajaan Batu. Pengantar Pesan tersebut merupakan seorang wanita buta yang bernama Yuri.
-o-
Ada beberapa hal yang ia ketahui setelah tiga hari (menurut apa kata tabib bernama Phichit itu) dia sadar:
Satu, dia tidak bisa melihat
Dua, dia tidak mengingat siapa dia atau berada di dunia seperti apa ia
Tiga, dia katanya ditemukan dengan luka berat di sebelah Utara desa (dia juga tidak tahu-menahu tentang ini)
Empat, orang bernama Otabek Altin (yang bahkan tidak ia tahu bagaimana mukanya) bertanggung jawab atas dirinya
Lima, dia berada di sebuah desa terpencil di sebuah lembah di Utara Kesultanan Kertas (lagi-lagi dia bertanya pada Jean yang menjelaskan kenapa nama pemerintahannya aneh)
Enam, pokoknya selain hal-hal yang dia ketahui dari ketiga orang yang pernah disebutnya di atas dia tidak tahu apapun. Titik.
"Ja, hari ini aku akan memeriksamu lagi," suara Phichit terdengar bersama sesuatu (yang pernah Phichit jelaskan sebagai benda bernama 'pintu') yang dibuka dengan susah payah.
"Phichit, menurutmu kapan aku bisa sehat lagi dan bisa pergi dari sini?"
"Kenapa kau bertanya tentang itu?" Phichit menyeret sesuatu (sepertinya itu benda bertajuk 'kursi' yang pernah dibicarakan Phichit) mendekat, kemudian mendudukinya.
"A-ku takut merepotkan semua orang di sini. Dan juga aku merasa agak…apa bahasanya?"
"Um..bosan? Mungkin?" Phichit menyentuh pergelangan tangan kanannya yang terbalut perban sampai ujung jari.
"Mungkin? Phichit, menurutmu apa ada seseorang di sana yang sedang..apa bahasanya? Khawatir? Padaku?"
"Tentu saja ada! Kau kan orang penting.."
Apa maksudnya?
"Ah, bukan apa-apa. Ne, apa yang kau rasakan?"
"Aku..bingung?"
Aku..tidak tahu.
Apapun.
-o-
"Apa?!"
Seorang lelaki menggebrak meja di depannya dengan keras.
"Pengantar pesan kepercayaan Kerajaan Batu menghilang. Kedua pengawalnya ditemukan mengambang di sungai sebagai mayat berdarah," jelas seorang lelaki berapakian rapih a la perwira tinggi militer bernama Seunggil pada lelaki di balik meja.
"Kok bisa?!" lelaki di balik meja—mari kita dia panggil Yuri—menuntut penjelasan.
"Sampai sekarang kami masih melacak jejaknya. Sekian."
Yuri menatap ragu lelaki di depannya. Benar-benar berita buruk. Rasanya teh di mejanya tidak seenak itu lagi. Apa lagi berita ini menyangkut keadaan pengantar pesan sekaligus adik perempuan dari Perdana Menteri Kerajaan Batu, Yuri Nikiforov. Bisa-bisa hubungan dua pemerintahan runtuh seketika karena ini.
"Perintahkan anak buahmu untuk mencari pengantar pesan sampai ke desa-desa terpencil. Mungkin Yurio selamat sampai di sana. Jangan lupa beritahukan berita ini pada Sultan," Putus Yuri sambil kembali menyatukan punggungnya dengan punggung kursi.
"Sesuai perintah Perdana Menteri,"
Perwira tinggi militer itu mengundurkan diri dari ruangan si Perdana Menteri.
Yuri Katsuki, Perdana Menteri Kesultanan Kertas saat ini, memijat pelipisnya pelan. Apakah hari ini ada yang lebih parah dari kabar buruk ini?
"Perdana Menteri Katsuki, kita mendapat surat terbang dari Perdana Menteri Victor."
Habis sudah keberuntungannya.
-o-
"Aku bukannya mengelak. Kau tahu maksudku. Aku hanya agak khawatir. Kau tahu kan?" Otabek memposisikan dirinya pada bangku kayu di suatu tempat di dekat Pusat Kesehatan yang merawat si pirang.
"Tentu saja. Aku tahu. Dengan kombinasi antara gegar otak, hilang ingatan dan sekelumit masalah lain, mungkin bukan hal yang baik untuk pasien ini. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Dan lagi, pasien kita ini tampaknya adalah orang penting dalam pemerintahan. Pakaian dinas itu seharusnya menunjukkan siapa dan dari mana dia." Jean menyandarkan punggungnya pada dinding di belakangnya.
"Oh iya. Aku lupa. Mungkin gegar otak itu dapat menurunkan sejumlah fungsi otaknya." Phichit menghampiri dua pria tinggi itu sambil membawa buku catatan semasa akademi kesehatannya. "Dia bisa saja mengalami penyakit yang lebih parah dari ini."
"Maksudnya?"
"Aku mengambil kesimpulan bahwa pasien kita yang ini mengalami kebutaan bawaan lahir. Intelegensinya lumayan, bahkan meski hilang ingatan dia masih menguasai kosa kata dengan baik dan mudah memahami kosa kata baru." Phichit menjelaskan dari awal.
"Jadi?"
"Hashah. Jangan dipotong dulu. Kau tahu kan seberapa dalam luka di kepalanya. Bocornya darah sebanyak itu juga menguras sepersekian persen kemungkinan hidupnya. Aku menemukan pecahan sesuatu—sepertinya bekas senjata yang digunakan untuk melukainnya—di sekitar luka bocor di kepala, bahkan masuk ke tengkoraknya."
"Terus apa masalahnya. Kata-katamu berbelit-belit, Phichit," Jean menghela nafas panjang; dia tidak mengerti, sumpah.
"Pasien kita ini bisa saja mengalami kerusakan jaringan otak. Berimbas pada penurunan daya lindung, dan kemungkinan kecil akan memperburuk penyakit berbahaya bernama..apa? Tumor? Entah. Catatanku kurang jelas, dan kau tahu sendiri aku punya Short Term Memory." Kata Minako sih benar tumor namanya. "Yang jelas setelah diperiksa ia mengalami peningkatan jumlah sel abnormal dalam otak,"
.
.
"A. Haha. Masa. KAMU GAK BOHONG KAN?!" Jean agak kaget sejujurnya. Tapi adik angkatnya, relawan sejak lulus Akademi Kesehatan 3 tahun lalu yang sekarang menjabat sebagai tabib itu sama sekali tidak sedang bercanda. Bahkan Otabek membulatkan kedua matanya dalam hening.
"Jean, jujur saja ya. Aku ingiiiin sekali berjarap Phichit berbohong kali ini. Sayangnya, sih, dia sedang tidak berbohong," Minako datang dengan secangkir teh dan biscuit susu, mengalihkan pandangannya pada Otabek di bangku panjang yang didudukinya sendiri.
"Menurutku, anak itu salah satu bagian dari pemerintahan yang sedang menjalankan misi—atau apa aku tidak tahu—ke suatu tempat yang mengharuskannya lewat dekat desa ini. Anak itu seharusnya datang dengan kuda. Entah bagaimana ceritanya, di dihajar sampai sekarat kemudian kutemukan," Otabek bergumam kecil yang didengar Phichit dan Jean.
"Pemerintahan ya? Kita bahkan tidak mendapatkan tanda pengenalnya di pakaian berdarah-darah anak itu." Minako menutup matanya khidmat. Angin berhembus menyibak surai coklatnya perlahan.
"Tanda pengenalnya sudah diambil. Orang yang menghajarnya berusaha tidak meninggalkan jejak."
"Ngomong-omong soal pemerintahan, kata Crish, temanku di desa sebelah, ada beberapa perwira militer yang datang ke desa dan mengumumkan pencarian seorang pengantar pesan dari Kerajaan Batu yang bernama Yuri Nikiforov baru-baru ini." Jean angkat bicara. Berita ini baru ia dapatkan dari Crish kemarin.
"Terus, apa pengantar pesan itu sudah ditemukan? Seperti apa rupanya?" Phichit yang tiba-tiba penasaran meluncurkan pertanyaan spontan.
"Pengantar pesan itu belum ditemukan. Rupanya..hm..aku tidak tahu. Crish bilang dia tidak terlalu memperhatikan saat perwira menjelaskan. Jadi, begitulah. Dia lupa." Jean menyelesaikan laporan beritanya pada seorang Tabib, Perawat dan Psikolog di depannya.
"Oh iya, Phichit, kau sudah menanyakan nama pada anak itu sekali lagi kan?" Otabek kembali ke permasalahan.
"Dia bilang dia akan memikirkannya dulu. Katanya di mimpi sebelumnya ada orang yang memanggil sebuah nama dan dia menengok—atau apa aku tidak mengerti maksudnya; tapi dia lupa apa namanya," Phichit menjelaskan.
"Ada seseorang?"
-o-
tbc?
-o-
a/n: terima kasih telah berkenan untuk membaca benda aneh ini, bahkan ada yang memfavoritkan, mengikuti dan mengomentarinya. kami sangat senang menyadari benda gaje ini dinotis para pembaca sekalian. dan juga, sori ini benda update-nya lambreta. lama banget. T.T
salam,
jumat 28 april 2017
