Sret.
"Akhirnya nama ini kucoret juga,"
Erza menghembuskan napas panjang. Ia mengingat-ingat kejadian tadi di sekolah, dimana Natsu mencium Lucy dengan tiba-tiba. Lirikan tertuju pada tanaman yang seharusnya mempresentasikan seorang Natsu.
"Aku rasa, aku harus menggantinya dengan tanaman baru. Atau mungkin, apa aku terlalu fokus dengan tanaman lainnya sehingga lupa membagi energi dengan tanaman yang ini?"
Menutup mata, berbaring. Hari ini benar-benar melelahkan, untung besok libur. Seketika, Erza membuka matanya dengan paksa. "BESOK! Besok kan Jellal mengajak pergi ke taman bermain! Kenapa tiba-tiba sekali sih!?" Erza bisa merasakan telinganya yang kian memanas.
Jellal yang ganteng, yang punya banyak fans, entah setiap hari ada aja kelakuan fans itu, mengerubungi seperti lalat, paparazzi, memberikan barang-barang atau surat tidak berguna…
Erza sedikit cemburu dan memikirkan beberapa kemungkinan jika jadi pacar Jellal. Ia bersumpah akan membantai setiap fans yang mengerubungi Jellal. Ah, tapi, mikir apa sih? "Mana mungkin kan, Jellal nembak orang sepertiku."
Erza beranjak menuju lemari pakaian dan mulai melihat-lihat. Besok pakai baju ini atau itu, ya?
.
Tepat jam sepuluh pagi, Erza berdiri di tempat janjian. Namun, belum ada tanda-tanda kehadiran Jellal. Sekitar lima menit kemudian, Jellal datang, melambaikan tangan. Ia tampak ngos-ngosan dan sedikit berkeringat.
"Kau lari?"
Jellal menatap Erza dengan terpukau.
"Jellal?" Erza bertanya lagi, mengangkat alis dengan bingung.
"Ah maaf, aku terpesona oleh kecantikanmu. Maaf aku juga telat, aku sulit tidur memikirkan akan bermain denganmu hari ini."
Sontak, wajah Erza memerah bukan main. "Makasih. Kau tidak minum dulu?" Jellal mengangguk, lalu mereka pun mengurus tiket masuk dan membeli minuman. "Hmm Jellal, kenapa tiba-tiba mengajakku ke taman bermain?"
Kali ini, Jellal tampak sedikit tersipu. "Tidak, aku hanya, ingin menghabiskan waktu denganmu. Dan juga, sekalian refreshing karena tugas yang numpuk sudah lumayan terselesaikan. Maksudku, minggu ini tidak terlalu banyak tugas kan?"
Erza mengangguk-angguk tanda mengerti. Mereka pun mulai bermain dan menaiki wahana-wahana yang ada.
Setelah beberapa saat bersenang-senang…
"Erza, ayo naik yang itu!" Jellal menunjuk rollercoaster yang terlihat begitu mengerikan.
Erza tertawa. "Tadi kita sudah naik itu, Jellal. Ayo istirahat dan makan dulu. Taman bermain ini kan kecil, tidak terlalu ramai juga."
Jellal tersenyum, senang karena sepertinya Erza juga menikmatinya. "Baiklah, ayo makan dulu."
"Habis makan, ke rumah hantu, ya? Sepertinya dari tadi kau sangat menghindari rumah hantu."
Gulp. SepertinyaJellal ketahuan. "Ah, apa, kata siapa? Ahahaha, baiklah, setelah makan, ya. Awas kalau kabur." Hampir saja… Pikir Jellal. Sebenarnya, ia membayangkan rumah hantu itu saja sudah keringat dingin plus merinding. Tapi, cowok gak boleh kalah dengan cewek.
Sambil makan, Erza menatap Jellal.
Benar.
Dia ganteng.
Baik dan ramah.
Dia pasti makhluk favorit Tuhan. Hampir tidak ada kekurangan, rasanya. Dia tipe-tipe yang kalau punya kekurangan pun akan terlihat seperti pelengkap kesempurnaan. Tidak aneh kalau banyak yang… nge-fans.
Oh iya! Fans!
"Jellal, bagaimana jika fans-mu melihat kita berdua di taman bermain?"
Jellal terdiam. "Aku tidak berpikir sampai ke sana, ku harap sih salah satu dari mereka tidak ada yang ke sini. Karena satu saja, bisa langsung tersebar ke banyak orang."
Entah kenapa perbincangan ini membuat Erza terkekeh. "Apa kau senang punya banyak fans?" tanya Erza lagi, lalu lanjut memakan mie yang ia beli tadi.
"Jujur, agak merepotkan. Tapi, ambil sisi positifnya saja. Mereka sering menyemangatiku." Jellal tersenyum.
Mereka pun diam agak lama, cukup lama hingga makanan mereka habis dan minuman mereka hampir habis juga, hingga akhirnya Erza memutuskan untuk mengangkat topik lagi. Untuk bertanya, menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia tanyakan. Yang sedari tadi, hanya dipendam.
"Jellal."
Erza angkat bicara.
"Ya Erza Scarlet, kenapa?"
"Kenapa mengajakku ke sini? Berdua saja? Kenapa tidak refreshing dengan temanmu atau salah satu fans-mu? Kenapa ak—"
"Sssst." Jellal menempelkan jari telunjuknya pada bibir Erza. Erza, tentu saja Erza terdiam. "Nanti juga kau tahu." Erza hanya memandang wajah bertanya-tanya. Apa maksudnya? apa teman-temannya nanti menyusul? Tapi, ini sudah nyaris jam tiga. "Sudah habis kan makanannya? Ayo ke—"
Jellal sedikit terbelalak.
"Kenapa?"
"Tidak- tidak apa-apa, ayo ke rumah hantu."
Erza terkekeh. "Oh ya, maaf Jellal, tapi aku sudah bertekad untuk pulang jam lima."
Jellal mengangguk, mengerti. "Iya, tenang saja, aku juga tidak bisa berlama-lama dan mana mungkin seorang Erza tidak ku jaga baik-baik? Aku tidak akan membuatmu pulang malam-malam hingga keluargamu khawatir." Jellal menggandeng tangan Erza. "Tidak apa-apa kan?"
Erza hanya menunduk dan menurut. Mereka pun menuju rumah hantu bersama.
Di dalam rumah hantu, Jellal sok-sok melindungi Erza, padahal Erza sama sekali tidak takut. Sudah beberapa pemandangan dilewati, mulai dari tengkorak, mumi, hantu seperti anak kecil, manekin, dan sebagainya. Sedikit lagi, pintu menuju jalan keluar akan tercapai!
"Hihihi…"
Seketika, wanita berambut panjang muncul di depan Jellal. Jellal segera mengeratkan pegangan tangannya. "A-A-Aku TIDAK TaKUt!" Jellal menutup mata, menarik Erza dan lari.
Erza diam-diam menikmati pemandangan Jellal yang tengah ketakutan dan lari terbirit-birit.
Akhirnya, mereka keluar juga.
Erza tidak bisa menyembunyikan tawanya. "Hahahahahha, kau lucu sekali Jellal," Namun Erza kagum pada Jellal yang sama sekali tak melepaskan tangan Erza. Ia tetap bersikukuh hingga akhir. "Ayo sekarang kita bersantai saja di bianglala, setelah itu pulang."
Jellal merasa malu dan hanya mengiyakan saran Erza.
Mereka pun memasuki salah satu tempat di bianglala. Bianglala akan berhenti pada dua kali putaran. Selama putaran pertama, Jellal dan Erza, keduanya hanya membisu.
Tidak lama kemudian…
"Aku belum jawab pertanyaanmu."
Erza yang tengah asyik melihat pemandangan, langsung berbalik melihat Jellal.
"Erza. Aku…"
Entah mengapa, jantung Erza berdegup kencang. Ia merasa sangat gugup. Erza diam, menunggu Jellal melanjutkan. Jellal yang sejak tadi menunduk pun mengangkat kepalanya dan menatap mata Erza.
"Aku suka padamu, mau kan jadi pacarku? Aku suka padamu sudah lama, sudah sejak pertama kali melihatmu, kau ketua OSIS, membuatku semakin kagum juga. Aku tidak sekadar suka padamu karena kau cantik seperti kebanyakan pria yang sering membicarakan fisikmu."
Erza tidak tahu kalau akan begini jadinya. Erza belum memberikan jawaban, ia hanya memalingkan muka.
"Tidak perlu jawab sekarang." Jellal sedikit merasa tidak enak.
.
Satu daun kering jatuh.
Iya, saya tahu. Terakhir kali, ini dilanjutkan pada tahun 2014. Sekarang baru dilanjutkan lagi, dan sekarang, sekarang tahun 2017!
Saya benar-benar minta maaf karena baru update sekarang.
Jujur, saya terkejut karena ada saja yang masih membaca fanfic ini. Padahal, saya tidak berniat melanjutkan, lho. Dan saya sadar, kalau saya benar-benar telat.
Mungkin saja para pembaca bahkan sudah tidak menyentuh lagi. Tidak apa-apa, setidaknya fanfic yang masih menjadi tanggung jawab saya ini, bisa saya lanjutkan.
