Hari yang panas. Dengan debat panas.
Semua bermula dari kunjungan rutin seorang Otabek Altin ke ruang rawatnya. Jangan lupa dengan omongan pedas yang menjadi sebab dia tak berkutik lagi.
"Kau tidak bisa melihat, kau bahkan tidak bisa mengingat masa lalumu, lantas bagaimana kau akan pulang?!"
Begitulah,
-o-
nothing in a mounth
Aria Nica & Jie-Fe
Suit 2 - kebohongan perdana
-o-
"Aku tidak bisa melihat, aku bahkan tidak bisa mengingat masa laluku, karena itu, bisakah kau mengantarkan aku kembali ke rumah?"
Otabek membantu. Orang ini..benar-benar aneh. Dia memang belajar dan memahami sesuatu dengan cepat, tapi pada dasarnya dia tetap orang yang amnesia karena gegar otak. Maklumi saja, pikirnya.
Lalu kenapa pikiran orang ini (yang bahkan belum diputuskan nama panggilannya ) sudah sampai sejauh itu.
'Kembali ke rumah' katanya? Sehat saja belum, sudah mau pergi.
"Kau masih berstatus sebagai tamu kami sampai seseorang akan membawamu pergi." Otabek berusaha tenang dalam suaranya.
"Jadi, sudah memutuskan siapa namamu?" Phichit memotong pembicaraan mereka.
Si pirang hanya menatap kosong, sebelum bergumam pelan,
"Namae..Yura. Namae Yura."
Tenggorokan Otabek tercekat, dia merasa tidak asing dengan nama itu.
-o-
"Merasa lebih baik?"
Suara JJ (yang tumben menjenguk) menyapa pendengarannya. Dia sudah tujuh hari berada di sini dan mulai terbiasa dengan hiruk pikuk damainya ruangan ini serta pengunjung yang terkadang datang.
Ada Phichit Jacques adik angkat JJ yang seorang tabib, ada JJ yang terkadang datang dengan lelucon dan pembahasan tidak lucunya, ada Otabek Altin yang datang bersama Phichit sebagai seorang Psikolog (Yura yakin itu nama pekerjaan, tapi ia tidak tahu pekerjaan apa persisnya), ada juga Minako yang bersamanya sebagai perawat.
"Tentu saja. Tanpa benar berlebihan di kepala. Pastinya aku merasa lebih baik."
JJ tertawa renyah.
"Ne, Yura. Masih ingat siapa dirimu?"
"Ore? Aku tidak tahu. Yang kuingat cuma seseorang memberikan padaku sesuatu dan aku menghilangkannya." Yura menatap kosong ke depan.
"Sesuatu apa?" tanyanya lagi.
"Mana aku tahu? Aku tidak melihatnya."
JJ terdengar menggumamkan persetujuan singkat sebelum mereka berpisah ketika jam terdengar mengumandangkan suara empat kali.
"Aku berkunjung esok," begitu katanya.
-o-
Otabek termenung di meja makan keluarganya. Semua acuh hanya menyantap hidangan di meja pendek besar dengan cepat—berniat segera kabur dari kesunyian mencekam yang berpusat pada seorang laki-laki awal limapuluh-an yang terlihat tenang dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat bahkan dari caranya makan.
Laki-laki itu. Pembunuh kehangatan yang seharusnya bersarang dalam keluarga besarnya. Kepala keluarga itu sendiri. Ayah dari Otabek Altin, Yazid Altin.
Lelaki bersurai hitam itu memandangi nasi di piring berisi nasi dan lauk sehat yang dibuat bungsu perempuan keluarganya dengan tampang tak berselera sama sekali. Otabek benci keluarganya. Otabek benci ayahnya.
Pada akhirnya Otabek hanya menyuapkan nasi ke mulutnya sekali, sebelum memposisikan sendoknya di sebelah piring.
"Saya selesai," katanya sambil berdiri perlahan lalu berjalan dengan lutut agak ditekuk ke pintu keluar.
"Beka, ayah ingin bicara denganmu setelah makan malam. Datang ke ruang kerja setengah jam lagi," pesan Yazid. Otabek bergumam pelan ia bersedia.
.
.
"Phichit melaporkan padaku sebagai tabib pada atasnya, kau bertanggungjawab atas seorang perempuan buta yang kautemukan di Utara desa?"
Ayahnya adalah seorang Kepala Adat. Cepat atau lambat Yazid akan mengetahuinya. Otabek tak perlu melakukan hal-hal yang tidak diperlukan hanya untuk memberitahukan pasal pasiennya pada Yazid.
"Ya." jawabannya singkat.
"Sejak kapan anak culun sepertimu mengetahui apa itu tanggung jawab?" tanyanya sengak.
Sejak kau menganiaya ibuku.
"Saya tidak tahu pasti,"
Yazid mengernyitkan kening.
-o-
Kunjungan pagi ini diwarnai dengan kerusuhan dari sepasang adik-kakak yang berdebat soal berita Pengantar Pesan yang hilang, si Yuri Nikiforov. Ruang kerja si tabib yang warna-warni cat beralih menjadi arena debat keramat.
Jean bilang bahwa Yura mereka, si pasien pirang itu mirip dengan deskripsi Christopher Giacometti—teman Jean dari desa sebelah—tentang Yuri Nikiforov. Berupa rambut pirang, mata agak biru, tinggi sekian kaki dan lagi masalah kebutaannya dan gender wanita. Jean bersikeras ingin melaporkannya ke Kepala Adat Desa, Yazid Altin, ayah Otabek.
"Tapi Yura belum sembuh. Dia tidak ingat siapa dia dan kenapa dia ada di sini. Kau tega menyerahkannya pada Pemerintah? Salah-salah malah Yura yang kena imbasnya. Kau tahu, Kak? Aku kasihan padanya,"
"Phichit, aku tidak mau anak itu menerima perawatan setengah-setengah dari kita. Biarpun ini adalah pusat pelayanan kesehatan desa, tapi di kota fasilitas yang disediakan lebih lengkap. Yura bisa mendapatkan perawatan medis yang tentunya lebih baik. Bukan cuma pelayanan dari tabib yang setengah ingatannya hilang, psikolog yang punya masalah dengan rumah, pengajar yang sakit-sakitan dan perawat yang boros makanan. Aku masih waras untuk menyarankan agar Yura dibawa ke Kota."
Jean tidak tersinggung dikatakan 'sakit-sakitan'. Itulah kenyataannya.
"Dan juga, dengarkan aku. Yuri Nikiforov. Nikiforov. Dia seorang bangsawan. Bisa saja kakaknya itu Perdana Menteri Kerajaan Batu. Aku masih waras untuk tidak terlalu lama menahannya di sini,"
(Jean merasa ironis di sini)
Phichit masih bersikeras.
"Faktanya Kesultanan mengadakan pencarian besar-besaran terhadap Yuri Nikiforov. Biar cuma pengantar pesan, seperti Yuri sosok yang lumayan berpengaruh besar pada Pemerintahan."
Phichit mengepalkan tangannya di atas meja. Jean di seberang meja menatapnya enggan. Masih ada keraguan. Argumen Jean sebagian besar memang terasa jleb di kokoro Phichit. Dan sebagian kata-kata Jean memang benar.
Mungkin saja karena Yura adalah adik dari Perdana Menteri Victor Nikiforov, Kesultanan sampai rela mengadakan pencarian besar-besaran. Karena jika ditinjau dari aspek kerjasama, Kerajaan kemungkinan besar akan memicu terjadinya perang dengan Kesultanan.
Posisi pemerintahan mereka sedang sulit. Bisa dibilang ini keadaan genting. Jika mereka bersikeras tetap merawat Yura di sini, mereka dalam masalah besar.
Yura merupakan target besar. Target vital. Tapi ini terlalu mendadak. Jean sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi Phichit?
Risih ditatap Jean, Phichit memilih untuk memincingkan mata pada Otabek yang duduk manis di sofa panjang sudut ruangan.
"Kenapa, Otabek?" tanyanya.
"Aku cuma mau protes, Jean, kau menyebutku 'psikolog yang punya masalah dengan rumah'. Itu sakit, tahu,"
Phichit Jacques menatap nanar Jean Jacques yang tiba-tiba serasa kena serangan jantung.
-o-
"Beka—"
"Apa?"
Tangan kanannya yang baru memegang gagang pintu berhenti. Matanya mengintip dari sudut.
"Apa kau tahu ada apa sebenarnya denganku?" Yura menatapnya datar. "Segalanya sangat aneh. Aku—maksudku kepalaku sakit sekali. Ini aneh. Ada apa denganku?"
Seketika itu juga Otabek merasa menjadi sosok pemeran antagonis yang berusaha munafik di depan protagonis utama.
"Kau tidak kenapa-kenapa kok," Otabek berbohong dengan suara tegas.
"Ah, begitu?"
Yura, tetaplah jadi protagonis dalam ceritamu sendiri.
-o-
tbc?
-o-
a/n: tumben cepat rampung ini chapter. sebuah penebusan karena chapter yang akan datang bakalan lamaaaa pake banget. lambreta lah pokoknya. sumimasen karena bakal lama /dogeza.
salam,
senin, 1 mei 2017
Preview:
"Otabek! Apa maksudnya ini?!"
.
"Ini bukan mauku. Ayahku sendiri yang menutupi faktanya."
.
"Mau berbohong apa lagi? Mau beralasan apa lagi? Yura akan pergi!"
.
"Perdana Menteri, apa perintah Anda?"
.
"Aku tidak tahu."
.
"Yuri, please. Tolong dia,"
.
.
mind to review?
