Hujan. Satu hal yang bisa membawaku ke segala memori. Semua memori yang aku masih ingat betul bagaimana terjadinya. Semua memori yang aku masih ingat betul bagaimana dampaknya. Semua memori yang akan membawaku ke segala bentuk emosi. Senang, bahagia, kesal, muak sampai bahkan ke satu titik tanpa rasa. Hujan punya dampak sebesar itu kepada ku. Hujan selalu menjadi cerita terpenting disebagian besar hidupku.

Orang tua serta adikku meninggal saat hujan.

Kecelakaan besar terjadi karena jalanan terlalu licin dan pengemudi truk lupa mengganti ban nya sehingga oleng dan menabrak mobil ayahku. Hantaman keras langsung mengambil nyawa mereka. Tanpa ba bi bu . Tanpa ada teriakan minta tolong. Tanpa ada suara jeritan. Saat itu hanya suara hujan yang menemani kepergian mereka. Dan jauh dari situ ada anak laki laki umur 7 tahun masih sabar menunggu tepat di depan sekolah nya. Sambil bersenandung senang memegang payung bergambar Pororo. Tidak sabar akan dijemput orang tua nya. Menolak ajakan teman baiknya untuk pulang bersama. 'Aku akan makan steak Jihoon-ah. Appa omma dan Bohyuk akan ke sini sebentar lagi menjemputku' katanya dengan nada riang tanpa tahu bahwa penantiannya itu sia sia. Aku masih ingat betul bagaimana anak laki laki itu tetap menunggu walau Jiyeon Noona telah menjemputnya sambil menangis. Hujan masih turun saat itu.

Aku mengakui jati diriku pada sahabatku saat hujan.

Jihoon adalah satu satu nya teman baikku dari kecil hingga sekarang. Kami sama sama aneh, bermuka datar, dan terkesan galak. Walaupun tontonan kesukaan kami sepanjang masa adalah Pororo.

Dibilang duo emo.

Dibilang duo datar.

Intinya kesan yang kami tampilkan itu ga ada cerianya sama sekali. Kepergian orang tuaku bisa jadi salah satu alasan kenapa aku bisa begini. Namun Jihoon memang sudah dari sana nya begitu. Padahal wajah nya imut seperti mochi. Dia tidak pernah berkomentar aneh tentang hobi ku yang suka berbicara sendiri dengan kucing jalanan.

Dia tidak menjauhiku saat melihat boneka vodoo ku di kamar.

Dia teman tanpa alasan.

Tidak perlu memanggil tiba tiba dia sudah ada di depan kamarku begitupun sebaliknya.

Sama seperti hari itu.

Hari dimana aku akhirnya mengatakan hal yang orang lain tidak pernah tau. Namun Jihoon bisa merasakan ada yang tidak beres dan aku menyembunyikan nya.

Hari itu hujan deras. Dengan bermodal payung pororo punyaku yang dia lupa kembalikan, Jihoon datang ke rumahku. Mengetuk pintu kamarku. Aku membuka pintu kamar.

Jika kau tidak mau bicara, biarkan boneka vodoo itu yang membuatmu. Aku sudah belajar ilmu santet dari buku ini. Katanya sambil menunjukkan buku "1001 Ilmu Hitam Ampuh".

Jiyeon noona sempat hampir pingsan namun aku segera menjelaskan bahwa Jihoon hanya bercanda. Aku menarik tangan nya menyuruhnya masuk ke kamar. Mendudukkan nya di atas karpetku. Aku mengambil napas dalam dalam.

Aku Gay.

Akhirnya aku bisa mengaku walaupun agak sedikit horor karena tiba tiba petir menyambar. Jihoon tidak terlalu kaget. Dia malah tersenyum. Kemudian memeluk ku sembari berkata

Aku juga.

Aku bertemu cinta pertamaku saat hujan.

Jujur awalnya aku tidak tahu aku itu Gay atau apa. Aku tidak terlalu tertarik dengan hubungan pacaran atau mendekati teman wanita. Melihat teman sekelasku, Jun, menggoda dan gonta ganti pacar saja aku tidak iri. Aku tidak terlalu perduli dengan hal omong kosong itu.

Tadinya.

Sampai pada saat dimana aku menemukan sosok itu.

Katakan aku berlebihan. Katakan aku terlalu banyak menemani Jiyeon noona menonton drama. Katakan aku terlalu menye menye. Tapi memang itu yang terjadi.

Tiba tiba dadaku terasa sesak. Hatiku berdebar debar. Muka ku merah padam. Semua itu terjadi ketika sesosok pria yang tiba tiba masuk ke dalam payung pororoku dan tersenyum manis menampilkan gigi taring nya sambil terengah engah. Rambut dan seragam nya agak basah karena sebelumnya dia menerjang hujan. Dia masih mengatur napas sambil berkata

Tak apa kan kalo aku menumpang sebentar...Sunbae manis diselesaikan dengan kedipan sebelah mata nya.

Aku Cuma bisa mengangguk pelan dan menunduk. Jeon Wonwoo berubah jadi kepiting rebus. Ini memalukan.

Jadi apa yang membuat mu jadi Gay? tanya Jihoon setelah aku mengakui jati diriku. Bagiku pertanyaan ini kurang tepat. Bukan apa, tapi siapa. Aku agak sedikit ragu jika aku gay atau bukan. Aku termasuk orang yang ingin tahu. Jadi saat aku merasakan debaran dasyat ketika laki laki itu tersenyum aku langsung mencari tahu makna nya. Kenapa bisa begitu. Apakah ini berlaku juga untuk laki laki lainnya. Aku sampai memberanikan diri menonton video porno Gay untuk mengetes apakah ini berefek juga padaku.

Namun nihil. Aku tidak seberdebar itu. Hanya orang itu yang bisa melakukan nya.

Wonwoo, kau belum menjawab pertanyaan ku. Jadi apa yang membuat mu membelok ke jalur homoseksual ini?

Aku bukan homoseksual Jihoon-aa...

Aku Mingyuseksual...Orang itu yang membuatku begini

Ciuman dan cinta pertama ku terbalas saat hujan

Pengakuan ku pada Jihoon tidak terlalu merubah keadaan ku. Aku tetap namja emo yang sering duduk dipojokan saat makan siang sambil memakan bekal buatan Noona. Sesekali Jihoon juga menemaniku jika ia tidak sibuk dengan kegiatan klub nya.

Jika kau tanya aku ikut klub atau tidak. Sudah pasti jawabanya tidak. Iya. Aku se ansos itu karena terlalu malas berinteraksi dengan orang.

Aku tipikal orang yang tidak mau basa basi di depan orang lain yang tidak terlalu aku kenal. bahkan dengan Jihoon saja aku tidak terlalu banyak mengobrol.

Selain itu aku tidak memiliki hobi yang menarik. Hobiku hanya baca buku dan menonton drama (ini semua karena Jiyeon noona).

Hidupku itu monoton. Tidak menarik.

Namun itu tidak bertahan lama sampai pada Jihoon yang mengenalkan sesosok laki laki.

Dia Choi Seungcheol.

Pacar Jihoon.

Wonwoo, dia temannya Mingyu juga.

Kata kata Jihoon agak sulit aku cerna karena aku tidak mengerti relasi dari Pacarnya yang kenal Mingyu denganku itu apa. Sampai pada Jihoon yang tiba tiba memukul jidatku pelan namun sakit dan berkata Dia bisa membantu mu untuk dekat dengannya bodoh!

Oh..

Tapi...

Apa itu perlu?

Karena aku tidak tahu apakah perasaanku itu butuh terbalas atau tidak. Jujur saja aku tidak yakin bisa bahagia atau tidak dengan perasaan ini.

Kau terlalu banyak berpikir

Aku tidak

Iya Wonwoo.

Jihoon ku yang imut. Kau melupakan sesuatu hal yang penting.

Sekali lagi kau bilang aku imut aku tidak segan mencolok garpu ini ke matamu Jeon. Lagi pula hal penting apa?

Mingyu tidak Gay...

Kata siapa? tiba tiba Seungcheol, yang ku kira hampir mati karena mendengar ancaman sadis Jihoon padaku, bersuara.

Maksud mu?

Iyah. Kata siapa dia tidak gay?

Kenyataan Mingyu itu tidak lurus agak sedikit membuatku terkejut. Aku tidak terlalu yakin dengan perkataan Seungcheol, pacar Jihoon yang doyan meluk meluk manja Jihoon di depanku, bahwa Mingyu 100 persen belok. Bagaimana bisa?

Mingyu itu manly nya keterlaluan. Dia anggota team basket yang setiap latihan selalu di elu elu kan wanita wanita bersuara agak cempreng di sekolah. Dari yang paling cantik sampai yang emm maaf emm baiklah aku ganti dari yang sangat populer sampai yang tidak populer. Motor nya motor laki laki sekali. Parfum nya juga begitu. Bukan sepertiku yang hanya bermodalkan pewangi baju. Banyak yang bilang dia sudah gonta ganti pacar berkali kali. Yah... 11 12 sama si Jun lah. Intinya dia itu harusnya lurus se lurus lurus nya. Eh? Iya kan? Apa bukan?

Perkataan Seungcheol dan pertanyaan pertanyaan tadi jadi membuat diriku dalam mode stalker lagi.

Iya.

Kenapa emangnya kalo Jeon Wonwoo jadi stalker nya Mingyu?

Tidak salah bukan?

Aneh iya sih. Tapi daripada aku mati karena rasa penasaran kan?

Intinya sekarang aku sedang berada di taman yang sepertinya tidak jauh dari rumah Mingyu. Entah kenapa sebelum Mingyu masuk rumah dia selalu ke sini dulu. Hanya duduk di ayunan sambil memainkan Iphone nya.

Aku berdiri tidak jauh dari situ. Berlindung pada tiang listrik sambil sesekali mengintip dan mengucapkan kalimat mantra Semoga Jihoon tidak membunuhku

Iya. Harusnya Jeon Wonwoo sedang ada di perpustakaan mengerjakan tugas Biologi bersama sahabat tersayang nya, Lee Jihoon.

Tapi masa bodo. Kan gara gara dia juga aku jadi penasaran begini.

Aku masih mengamati Mingyu siapa tau dia melakukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk apa sesungguhnya orientasi seksual nya. Tapi sedari tadi Mingyu hanya tersenyum dan mengamati Iphone nya saja. Apakah itu pesan dari pacarnya? Pacarnya laki laki apa perempuan? Tapi kata Seungcheol dia tidak memiliki pacar. Aish andai saja aku bisa mengamati lebih dekat.

Suasana begitu hening sampai ketika kenyataan bahwa mantra ku tidak berguna.

Tidak. Jihoon tidak berdiri di belakang ku sambil membawa golok. Tidak, dia tidak juga membawa anjing berkepala tiga. Dia tidak perlu ada di situ untuk membunuhku. Cukup menelpon ku saja.

Iya, menelpon HP ku yang tidak aku silent.

Seketika aku panik saat HP ku berbunyi. Aku cepat cepat mencari HP ku di dalam tas yang sedihnya lagi sulit aku jangkau. Aku kembali melihat ke arah Mingyu dan bagus nya dia sedang melihat ke arahku.

Mata kami saling bertemu.

Aku terdiam sejenak. Bagus. Bukan nya langsung lari aish...

Saat tersadar Mingyu sudah berdiri dan hampir melangkahkan kakinya ke arahku.

Aku panik dan langsung berlari dengan keadaan tas terbuka.

Berlari sekencang mungkin sambil melihat ke belakang. Nampaknya Mingyu tidak mengejarku jadi kuputuskan untuk berhenti sambil mengatur napas. Namun memang nampaknya Jihoon masih belum puas menghukumku. Karena aku mulai merasakan titik titik air hujan membasahi wajahku. Aish kenapa mesti hujan.

Aku kembali mengenyampingkan tasku. HP ku tidak berbunyi lagi namun payungku tidak bisa ditemukan. Argh Jihoon! Kau mengutuk ku segimana sih sampai harus se sial ini. Aku harus mencari nya. Payung Pororo ku tidak boleh hilang. Ke mana pula itu payung yah? Terjatuh di mana? Jangan jangan di taman ? Gawat. Haruskah aku ke taman lagi? Bagaimana jika Mingyu masih ada di sana? Ah masa bodo. Payung pororo ku lebih penting.

Aku mulai menyusuri jalanku sampai taman tadi. namun payung ku belum juga bisa aku temukan. Sampai aku sudah berada di taman pun payung itu juga tak ada. Mingyu sudah tidak ada omong omong. Aku mencari di sekitar tiang listrik tadi. Sampai ke dalam taman. Payung itu tidak ada. Kepala dan badank sudah mulai basah karena hujan. Walaupun masih gerimis kecil namun sudah cukup membuatku kebasahan. Namun yah nampaknya Jihoon memang sangat marah padaku. Tanpa ba bi bu hujan tiba tiba deras. Ha ha ha. Iyah Jihoon aku minta maaf. Dia menyogok apa sih sampai dewa langit mau bersekongkol sama dia?

Di tengah hujan deras dan kebingunganku mencari payung pororo ku tiba tiba suara langkah kaki terdengar mendekat. Dan seketika air di atas kepala ku berhenti terjatuh atau lebih tepatnya ada yang menghalanginya. Tapi yang membuatku kaget adalah kenyataan bahwa yang menghalangi hujan adalah payung pororoku dan orang yang memegangnya.

Mencari ini Sunbae manis

Itu Mingyu. Dan makhluk di depan nya yang membeku seketika itu aku. Jeon Wonwoo yang lagi kena kutukan sahabat imut nya sore itu.

Apa ini payungmu Sunbae manis? Ah maaf Wonwoo sunbae maksudku.

Dia tau namaku. Tuhan. Dewa. Apapun. Tolong. Dia tau namaku.

Hei.. apa kau sakit Wonwoo sunbae. Kenapa kau bengong?

Aku menelan ludahku dan mengambil napas dalam dalam dan mengangguk.

Iyah itu punyaku kataku pelan. Mingyu hanya tersenyum. Menampakkan gigi taring nya yang aku yakini adalah senjata andalan nya dalam memikat hati wanita.

Sekali lagi aku mengambil napas dalam dalam. Mencoba mengambil payung pororo ku. Namun Mingyu malah menepis tanganku sambil tertawa kecil.

Kata siapa boleh ambil ini begitu saja?

Hah?

Ada syarat nya.

Hah?

Iyah. Dua syarat.

Kenapa sih? Kenapa? Aku langsung berjanji pada diriku sendiri agar tidak pernah melanggar janji ku dengan Jihoon jika kutukan nya sampai se sulit ini. Walaupun aku jadi bisa berbicara dengan Mingyu sih.

Maksudnya? Dua syarat apa?

Aku akan memberikan ini jika Wonwoo sunbae mau menjalani dua syarat ini. Syarat pertama adalah... Berhenti menjadi stalker ku. Ku mohon aku tidak bisa menahan tawaku lagi Jeon Wonwoo.

Mataku membulat. Jantungku berdegup kencang. Akan lebih dramatis jika petir juga ikut menyambar karena saking kaget nya diriku. Mingyu tau aku ikuti. Ya tuhan.

Mingyu tersenyum lagi dan tertawa kecil.

Dan syarat kedua...Jadilah ... JEDAAAAR

Kenapa malah pada saat ini petir menyambar. Tadi Mingyu bilang apa...

Apa? Maaf aku tidak mendengar.. Tiba tiba Mingyu melepas payung pororoku dan salah satu tangan nya menarik pinggangku. Satu tangannya lagi menarik tengkuk ku. Wajahnya ia dekatkan ke telinga ku. Deru napas nya bisa ku rasakan. Jangan tanyakan jantungku seperti apa. Aku harus ke rumah sakit minta di rontgen apa tulang rusuk ku retak karena jantung ini berdegup terlalu kencang hampir mau copot. Tapi tenang tak lama jantung ku berhenti berdetak kok.

Iyah. Aku hampir mati. Iyah. Hampir mati saat Mingyu berkata pelan di telinga ku.

Aku harap petir tidak lagi membuat mu tuli sesaat. Jeon Wonwoo. Jadilah kekasihku.

Mataku membulat. Jantungku berhenti. Napasku sesak. Ini drama apa sih?

Tapi sebelum aku bisa mengembalikan kesadaranku lagi, Mingyu sudah membawa nya pergi. Ketika bibir dingin nya menyentuh bibir pucat ku.

Iya. Ini bukan drama India, bukan. Tapi Mingyu memang menciumku di bawah hujan.

Halo saya pembuat ff meanie baru nih. Iyah. Ini ff meanie pertama saya. Biasanya saya cuman jadi reader yang habis baca langsung sesenggukan karena author ff meanie itu luat biasa berbakat nya. Berbakat bikin baper. Hiks. Cerita ini sebenarnya cuman jadi pelampiasan saya aja yang udah mulai galau dipojokkan menunggu meanie moment yang jarangnya udah kayak angkot gratis di kampus saya kalo sore. Sampai saya pernah berpikir apakah ini mitos? Tapi tidak kan? Iyah. Tidak. Kumohon tidak. Meanie itu real bukan? Udah mulai halu nih saya. Tapi saya harap real. Ha ha ha

Iyah. Saya sesampah itu nge ship mereka.

Btw adakah yang bisa merekomendasikan ff meanie ber chapter yang akhirnya bahagia ? Saya kekurangan asupan ff fluffy nih. Dari kemarin saya cuman baca yang bisa bikin saya galau.

Saya jujur ga maksa buat review. Saya cuman butuh teman. Iyah kalo soal meanie saya merasa sendiri. Anyone? (se menyedihkan itu saya memang)

Btw cerita ini belum selesai.