Kenyataan bahwa sesosok Kim Mingyu memintaku jadi kekasihnya itu sungguh sulit dipercaya. Aku sampai mencubit keras keras pipiku agar bisa yakin kalau saat itu aku sedang tidak bermimpi. Aku bahkan memberanikan diri pergi ke rumah Jihoon agar dia bisa memukul pantatku dengan gitarnya agar dia bisa ikut meyakinkan diriku bahwa Mingyu benar benar memintaku untuk jadi kekasihnya bahkan dia menciumku. Iyah. Menciumku. Mencium bibirku. Ciuman pertamaku. Argh. Bagaimana bisa saat itu aku mempercayai semuanya.
Tapi.
Kemunculan Mingyu di depan rumahku ke esok harinya membuatku agak yakin bahwa kejadian sehari sebelum memang terjadi.
Jiwa mu masih di alam mimpi yah? Sampai mematung begitu.
Bukan mematung Mingyu.
Aku ini hampir mau mati. Ga.
Tapi memang benar jika jantungku berhenti berdetak sejenak.
Aku masih tidak mengerti. Bagaimana bisa? tanyaku setelah mati matian mengumpulkan nyawa. Namun memang mungkin pada dasarnya Mingyu itu berteman dekat dengan malaikat pencabut nyawa jadi nyawaku hampir hilang lagi ketika dia malah mendekat dan menarik pinggangku sambil berbisik, Kenapa tidak bisa?
Dia melepaskan tangannya dari pinggangku dan menggenggam tanganku. Aku hanya bisa diam sambil melihat tangan ku. Tangan kami. Tangan nya yang menggenggam erat tanganku seakan takut aku akan lepas dan pergi. Padahal harusnya dia tahu.
Bagaimana bisa aku pergi.
.
.
.
.
.
Setelah itu hidupku seperti musim panas. Tak ada hujan. Sangat terik dan silau karena dia. Kim Mingyu.
Dulu kubilang hidupku monoton kan? Sekarang tidak.
Mingyu seperti pensil warna yang mewarnai satu satu sudut di hidupku.
Aku hampir tidak ingin percaya. Bagaimana bisa? Iya kan. Bagaimana bisa Sosok matahari ini mencintai dunia kegelapan seperti aku?
Percaya padaku jika aku selalu menanyakan ini. Bukan hanya pada Mingyu, Jihoon, ataupun Seungcheol tapi pada diriku sendiri aku pun selalu bertanya. Namun Jihoon selalu bilang, Kau itu hanya terlalu banyak berpikir Won. Mingyu itu menyukaimu sejak lama. Kan dia dan Seungcheol juga sudah menjelaskan bukan?
Aku tau.
Sangat tau.
Bahkan hapal benar semua cerita Mingyu yang menyukaiku saat pertama kali melihatku di perpustakaan. Bagaimana Mingyu menganggapku laki laki paling manis saat aku berbicara pada kucing. Bagaimana dia sangat gemas saat aku memegang payung pororo ku saat hujan. Aku tau. Aku hapal.
Tapi.
Aku mengerti benar ketakutan mu Won. Aku paham. Namun perasaan bahagia ini kenapa kau tidak coba dulu? Aku yakin jika Mingyu bisa membuat sedikit gejolak di kehidupan super datarmu itu. Aku yakin. Tenang saja Won. Aku belajar ilmu hitam itu ga main main. Jadi jika dia berani macam macam aku tinggal santet.
Aku tersenyum.
Dan heran.
Kok Seungcheol mau punya pacar semengerikan ini.
.
.
.
.
Musim panas masih berlanjut sampai 6 bulan. Mingyu masih jadi sumber kehangatan ku. Dia sangat baik. Super baik. Dia romantis. Super romantis.
Aku mulai belajar menerima (yang katanya) kebahagiaan ini pelan pelan. Aku mulai lebih banyak tersenyum. Aku mulai lebih banyak tertawa. Walaupun Mingyu melarangku untuk menunjukkan nya di luar.
Aku pacarmu dan aku berhak untuk serakah. Senyum dan tawa mu ini cuman punyaku. Katanya yang diikuti suara ejekan Jihoon dan Seungcheol.
Semua jadi berbeda. Mingyu membuat semua berubah.
Apa yang biasa aku tak aku lakukan jadi sesuatu kebiasaan. Apa yang aku tak sukai jadi sesuatu kegemaran.
Biasanya aku bisa menebak akan jadi apa hari esok karena memang hari ini tidak akan jauh berbeda dengan hari esok. Tapi tidak begitu jika bersama Mingyu.
Dia membuatnya seolah olah akan ada kejutan disetiap harinya.
Aku menyukainya.
Aku menyukai semua nya.
Aku menyukai Mingyu. Kim Mingyu. Dan semua yang ia lakukan.
Senyumnya.
Tawanya.
Sentuhannya.
Semuanya aku suka. Mingyu dan segala apa yang aku lakukan bersamanya menjadi kegemaranku. Sesuatu hal yang selalu aku tunggu tunggu. Sesuatu hal yang aku tidak sabar menantinya. Semuanya begitu berwarna. Cerah. Terik. Sampai kepanasan karena aku begitu excited.
Tapi.
Aku lupa.
Aku tersadar.
Makan steak bersama ayah, ibu, dan bohyuk juga pernah menjadi kegemaranku.
Dan di dunia ini Musim Panas itu bukan satu satunya musim bukan?
.
.
.
.
.
.
Alasan apa lagi yang dia bilang?
Dia ada rapat anak acara.
Dan kau percaya?
Aku mesti gimana Jihoon.
Persetan dengan semuanya.
Lee Jihoon.
Kenapa memangnya Choi Seungcheol? Mau membela temanmu?
Aku hanya bisa menghela napas saat itu. Lagi pula memang benar kan. Aku bisa apa.
Mingyu memang masih manis. Tapi rasa pahit juga mulai terasa.
Mingyu memang masih hangat. Tapi angin dingin mulai berhembus.
Kenyataan bahwa dia selalu menolak ajakan mu karena rapat acara itu sungguh membuatku muak. Bahkan dia lebih memilih mengantar si wanita sok suci itu ke rumah ketimbang menjemput mu di tempat les.
Tempat les ku jauh.
Jangan berusaha selalu berpikir positif Jeon Wonwoo.
Aku tidak.
Aku memang tidak. Aku hanya tidak ingin menerima kenyataan soal itu.
Mungkin dia sedang bosan. Seungcheol mengambil napasku seketika. Bosan?
Jangan memandang sinis kepadaku Jihoon sayang. Begini won. Aku tidak menyalahkan mu. Cuman rasa bosan itu pasti ada. Tidak selamanya kan kau akan menikmati es krim kesukaan mu sampai mati. Akan ada masa dimana kau mulai terlalu terbiasa jadi kau butuh sesuatu agar bisa se excited saat pertama mencobanya. Mungkin Mingyu butuh itu.
Aku tidak mengerti.
Bagaimana jika merencanakan kejutan? Mingyu mau ulang tahun kan?
Kenapa jadi Wonwoo yang harus berusaha Cheol? Yang brengsek itu MINGYU.
Jika Mingyu masih sulit untuk menghilangkan kebrengsekannya kenapa Wonwoo tidak ikut membantu? Hubungan ini dilakukan oleh kalian berdua. Mingyu brengsek lalu Wonwoo diam saja? Tidak bukan. Nah Won. Berikan dia sesuatu yang spesial dan bicarakan ini dengan baik. Kalian saling menyayangi kan? Hal ini sangat wajar. Pasti bisa terlewati.
Bisakah?
.
.
.
.
.
Aku memandang kue ulang tahun rasa cokelat di depanku. Aku mati matian belajar membuat kue selama kuarang lebih dua minggu dengan Jihoon sampai paling tidak layak untuk dimakan. Baru pertama kali aku seperti ini. Jiyeon noona ulang tahun saja aku hanya memberikan nya Choco Pie.
Aku memandang bayanganku dicermin. Sweater berwarna kuning, tanpa kacamata, dan rambut yang tertata rapi. Baru pertama kali aku seperti ini. Biasanya bajuku selalu berwarna hitam. Aku tidak pernah melepas kacamataku selain saat tidur.
Semuanya baru. Hanya dengan Mingyu aku merasakan hal hal baru.
Sampai rasa sesak yang belakangan ini selalu aku rasakan.
Itu baru.
Rasa sesak ketika dia tidak mau kuajak pulang. Rasa sesak ketika dia lebih memilih belajar di rumah ketimbang pergi ke perpustakaan kota bersamaku. Rasa sesak ketika...ya kalian bisa tau. Kenyataan Mingyu lebih memilih untuk mengantar pulang Sohye itu membuatku sesak.
Semua rasa sesak yang baru ini membuat pertanyaan yang dulu ada mulai muncul lagi.
Pertanyaan pertanyaan yang sejujurnya masih belum aku jawab. Dan belum ada yang bisa menjawab.
Aku sedikit mengenyampingkan semua itu dan menarik napas dalam dalam. Benar kata Seungcheol. Aku tidak hanya bisa diam bukan. Aku menyayanginya. Kami saling menyayangi. Ini semua akan terlewati.
Iya kan?
Aku akan ke rumah Mingyu. Memberikan kue ini. Dan kami akan bicara. Kami harus bicara.
Tapi semakin aku melangkahkan kaki ku aku semakin tidak yakin.
Suara suara itu muncul lagi.
Bagaimana jika
Mungkin saja
Apa benar
Sampai kapan.
Iyah.
Sampai kapan. Pertanyaan terbesar yang selalu aku tanyakan jika ada sesuatu hal yang membuatku tersenyum.
Ketika orang tua dan adikku meninggal aku sempat yakin.
Yakin sekali.
Bahwa suatu kebahagiaan memiliki limit. Memiliki tanggal kadaluarsa.
Maka ketika Mingyu membuatku bahagia. Seketika aku bertanya.
Sampai kapan Mingyu akan bisa membuatku bahagia?
Dari dulu sampai sekarang belum terjawab.
Namun hari itu. Tanggal 6 April. Setelah 9 bulan pertanyaan itu tergantung akhirnya bisa terjawab.
Dan Mingyu yang menjawab nya.
Semua itu terjawab saat Mingyu mencium Sohye tepat di taman di mana dia menciumku pertama kali.
.
.
.
.
.
.
Apa bisa seseorang yang tadinya bermata normal tiba tiba jadi buta warna?
Kata buku tidak.
Kata Google tidak.
Tapi kenapa ini terjadi padaku?
Semuanya berubah jadi hitam dan putih.
Antara mataku yang rusak atau memang warna itu luntur karena air hujan.
Iyah. Hujan.
Dia kembali.
Tapi anehnya suara bising derasnya hujan ini sangat aku sukai. Aku jadi tidak terlalu mendengar apa yang dia katakan di halte bus saat itu.
Dia menggenggam tanganku masih sama eratnya. Namun tidak ada kehangatan sama sekali.
Dinginnya hujan mungkin bisa jadi salah satu faktor. Tapi kenyataan bahwa apa yang dia katakan saat itu adalah hal utama yang membuat semua ini jadi begitu dingin.
Ayo kita putus.
Samar samar tapi masih jelas.
Benar bukan?
Bahagia itu ada limitasinya.
.
.
.
.
.
Sudah aku bilang Lee Jihoon. Jika meminjam payung pororoku selalu saja kau lupa mengembalikan.
Kumohon Wonwoo ayo masuk dulu. Kau sudah basah kuyup begini.
Kau tau payung pororo itu sangat berharga bagiku Jihoon-aa. Ayahku membeli nya untuk kado ulang tahunku. Dia memberikan ku lalu berjanji akan menraktir ku steak setelah aku pulang sekolah. Kau tau?
Iya aku tau. Ayo makanya masuk dulu yah kumohon.
Kau tidak tau! Aku sangat membutuhkan payung itu. Kau tidak mengerti. Cuman itu yang aku punya.
Wonwoo..
Bagaimana bisa kau lupa mengembalikan saat aku benar benar butuh payung itu Jihoon-aa.
Maafkan aku Wonwoo.
Aku butuh payung pororoku. Aku kehujanan...
.
.
.
.
.
Bagiku. Kebahagiaan itu pasti ada limitnya.
Ada batasnya.
Ada jangka waktunya.
Matahari tidak akan selalu bersinar bukan?
Hujan pasti akan datang.
Entah bersama kenangan indah. Entah bersama kenangan pahit.
Setidaknya payung pororoku bisa menemaniku menikmati ini semua.
Aku bisa mengahajar dia kapan saja Won.
Tidak perlu.
Aku bisa menyantetnya. Seungcheol bisa membantuku. Dia hafal beberapa mantra.
Di sini aku yang memang salah Jihoon.
Lihat bukan kah mereka sangat serasi?
Kataku. Sambil membentuk suatu figura dengan jariku. Membuatkuseperti melihat potret seseorang dengan tawanya yang pernah jadi tawaku juga.
END
Saya ga pernah suka FF yang membuat Wonwoo saya tersiksa. Ha ha ha tapi saya malahan bikin ff begini.
giyu05 : Ini sudah dilanjut dan sudah end. Kecewa ga? Ha ha ha
OmmaBee : Jadi terharu ada yang bilang ini keren. Hiks. Terimakasih huhu. Betul deh aku baru. Berpengalaman baper sama ff sih iya aku mah. Oke nanti aku akan mampir. Semangat buat ff mu juga.
Mocca2294 : Terimakasih he he he
Guest : Dia emang tsundere lahir batin. Tapi dia rapuh di dalam hiks. Why? Ayo aminin bareng bareng aja yah huhuhu
.k28 : Jleb emang namun kenyataan. Saya bisa teriak teriak sendiri padahal tangan mereka cuman bersentuhan ga ada lima detik. Terimakasih juga sudah menyukai cerita saya.
Nikeisha Farras : Terimaksih he he he . Ini gatau bakal bisa bikin sequel nya. Rencanya maunya iya. Doakan saja bisa melanjutkan he he he
Park RinHyun-Uchiha : Selain bisa bikin meleleh dia juga bisa bikin menangis. Jangan lupa. Kardus tetaplah kardus. Naon.
Rizki920 : Doakan saya dan meanie supaya saya bisa konsisten menulis ide yang ada di otak saya dan supaya meanie selalu bersama yah.
junghyunie : walaupun masih buanyak yang lebih keren cuman makasi yah. Saya terharu lagi jadinya hiks. Ini udah dilanjut. Kecewa ga? He he he
ddazed : hampir semua meanie shipper yang saya tau merasakan ini semua. Ha ha ha ayo berdoa bersama. Ga. Jihoon ga nyantet. Dia lebih milih nyipatin lagu hehehe maaf garing.
Btw terimakasih banyak yang sudah membaca mereview bahkan mem-favoritkan ff pelampiasan ini.
Semoga saya bisa membuat sequelnya atau ff lain yang berakhir bahagia.
Sampai bertemu di ff selanjutnya..
