[Lanjutkan Ceritanya]
Chapter 2
.
.
Mata Mark berlarian tidak jelas. Perhatiannya terus menerus tertuju pada buku yang sekarang mendiami tas sekolahnya.
Dia mengingat-ingat kejadian semalam di rumahnya perihal buku itu.
"Waaa... film ini bagus. Tiru yang ini saja," kata Jaemin dengan mata berbinar dan wajah tanpa dosa. Padahal dia baru saja mendukung kegiatan yang menyalahi hak cipta. "Tapi yang sebelumnya juga bagus. Hmm... yang mana ya? Mark, menurutmu mending yang mana?"
Yang ditanya sedang sibuk merapikan laptop ke dalam softcase. "...yang mana sajalah yang gampang ditulis."
Jaemin mangut-mangut. Kalau dipikir lagi, dia juga tidak begitu suka yang jalan ceritanya rumit. "Ya sudah. Ayo mulai menulis!"
"Hah? Sekarang?" Mark menolehkan kepala dengan tatapan tidak percaya pada sumber suara yang sedari tadi memenuhi ruangan. "Sudah larut. Aku besok sekolah." Benar. Besok adalah hari selasa. Masih awal dari sebuah pekan –walaupun semua urusan sekolahnya sudah tuntas, dan datang ke sekolah bisa dibilang hanyalah sebuah bentuk formalitas.
"Oh, iya ya. Ya sudah, besok."
Mark sebenarnya tidak menyangka Jaemin akan langsung mengiyakan. Dia sudah percaya kalau Jaemin adalah tipe yang akan cepat rewel dan akan langsung ngambek kalau kemauannya tidak dituruti. Di sela-sela kegiatannya yang sedang menyiapkan buku untuk sekolah esok harinya, Mark menyempatkan melirik Jaemin yang sekarang duduk dengan menekuk kedua kakinya di lantai. Dan... ah, sudah dia duga. Jaemin cemberut. Tidak habis pikir dia, kenapa orang di depannya ini benar-benar mudah dibaca.
Mark berjalan ke dekatnya sambil menghela napas. Dia tepuk kepala Jaemin dengan buku tulis yang tipis. "Besok, aku tulis di sekolah. Jadi tidak perlu menunggu aku pulang. Alur ceritanya langsung masuk ke dalam pikiranmu kan?"
Mata Jaemin berbinar lagi. Dia kemudian menghamburkan peluk pada Mark, tapi karena posisinya yang duduk dan Mark berdiri, jadilah bagian tubuh Mark yang bisa dipeluk adalah kaki kirinya. Mark hampir kehilangan keseimbangan. "Hei!" Teguran Mark malah membuat Jaemin makin senang. Lihat, dia malah tertawa.
Mark bersyukur dia tidak benar-benar menuruti maunya Jaemin untuk mulai menulis malam kemarin, karena ternyata ujung-ujungnya pun dia masih merasa kurang tidur. Ibunya sampai harus naik ke kamarnya karena sampai pukul 6 pun Mark belum turun untuk sarapan. Ibunya sih tidak marah, tapi beliau terbingung-bingung kenapa anaknya hari ini terlihat seperti tidak tidur semalaman.
"Karya tulismu belum selesai ya?" tanya ibunya dengan nada khawatir. Ibunya tahu kalau kelas Mark sedang diberi tugas menulis karya tulis ilmiah sebagai syarat kelulusan, walaupun Mark masih kelas 11.
"Sudah, kemarin. Masih capek saja." Kemudian sang ibu langsung membawakan beberapa macam suplemen. Tentu beliau takut anak semata wayangnya sakit.
Berkali-kali Mark menguap di kelas. Sudah dia tidur lebih larut dari biasanya, dan sekarang harus ditambah dengan pelajaran bahasa yang membosankan. Dia sudah tidak bisa memerhatikan gurunya sekarang. Dia juga tidak tahu harus mencatat apa karena tulisan gurunya di papan tulis juga tidak terbaca. Dia tahu, dia harus melakukan sesuatu agar tidak jatuh tertidur.
Buku aneh itu menjadi opsi pertama untuk dijadikan pengalih konsentrasinya. Mark diam-diam membuka tasnya dan mengambil buku tersebut. Dia malas jika harus ditanyai kenapa membawa buku catatan yang tebalnya sudah seperti novel. Salah-salah, dia malah bisa dikira menulis diary di sekolah.
Pena sudah siap digunakannya untuk menorehkan tinta di kertas. Dia sudah siap melanjutkan paragraf perkenalan tokoh yang menurutnya sangat tidak berbobot itu. Tapi sampai beberapa saat pun penanya juga masih tidak bergerak.
'...ini genre bukunya apa ya...?', batin Mark sambil mengusap tengkuknya. Dia lupa. Dia tidak kepikiran untuk menanyakan hal penting itu pada si tokoh utama.
Jam pelajaran itu berakhir dengan Mark tidak jadi menambahkan apa-apa di buku itu. Dalam hati, Mark yakin dia bakal kena damprat begitu sampai rumah.
"Mark! Kamu kan kemarin janjinya mau menulis di sekolah!" tuh, kan. Baru membuka pintu kamarnya saja dia langsung diperdengarkan suara tagihan janji.
"Iya, iya. Aku tadi sudah mau menulis, tapi terus aku bingung..." Jaemin lalu bertanya apa yang dibingungkannya. "Genre bukunya apa sih?"
Jaemin mengerjapkan mata. "Genre? Itu kan kamu yang tentukan! Kamu penulisnya!" Dia gemas rasanya mengetahui ternyata hal sepele seperti itu yang dipusingkan Mark, walaupun bagi Mark, itu bukan hal sepele.
"Benar-benar bebas sebebas-bebasnya? Jadi aku tidak harus menyesuaikan dengan penulis sebelumnya?" tanyanya, entah si penulis sebelumnya ini keberadaannya ada atau tidak.
Jaemin diam sebentar sebelum menggeleng. "Tidak usah. Aku yakin paragraf yang ada cuma sebagai pengenalan tokoh utama saja. Belum ada genre atau segala macamnya."
Mark duduk di kasurnya setelah melepas jas seragamnya. Ada sesuatu yang sekarang dipikirkannya lagi. "Tapi aku jadi makin bingung juga sih. Genrenya mending apa ya?"
Jaemin yang duduk di lantai terlihat berpikir juga, sambil menerawang langit-langit ruangan. "Kamu kan baru kali ini menulis. Yang mudah saja," usulnya. "Pertemanan? Haha."
Jujur saja, Jaemin merasa idenya sangat bagus. Untuk para penulis baru, genre ringan seperti pertemanan adalah opsi terbaik untuk digarap. Makanya dia bingung ketika didapatinya ekspresi tidak senang dari Mark.
"...kalau pertemanan, berarti aku harus bikin tokoh lain buat jadi temanmu dong."
Mark mengaduh ketika dirasakannya kakinya dicubit Jaemin.
"Di mana-mana tuh memang cerita pasti ada lebih dari satu tokoh!" sembur Jaemin, sudah berhenti mencubiti Mark. "Jangan bilang kamu rencananya ngebuat aku sendirian?"
Mark tidak menjawab. Matanya hanya menghindar dari tatapan Jaemin yang dirasakannya tajam menusuk. "Oh my god," umpatnya. "Yang benar saja! Tidak mau, tidak mau! Aku mau teman! Beri aku teman!" Kakinya dihentak-hentakkan di udara, membuat Mark yang melihat jadi merasa jengah. Dia kemudian mulai meributkan soal dia bahkan tidak keberatan jika harus dijadikan kembar dengan seseorang dengan nama Jimin. Yang pasti, dia tidak ingin sendirian dari halaman pertama sampai terakhir.
"Ahh! Iya, iya! Pertemanan! Genrenya pertemanan! Jadi jangan teriak!" Tangannya dijadikan sumpal telinga. Mark melakukan itu bukan karena keberisikan, tapi dia takut ibunya mendengar dan jadilah dia ketahuan membiarkan orang lain menetap di kamarnya tanpa sepengetahuan sang ibu.
"Benarkah? Ahh! Akhirnya!" Jaemin sudah kegirangan lagi mendengar Mark mau menurutinya. Dia loncat-loncat di tempat sambil mengelu-elukan nama Mark.
"Tapi jangan harap aku bisa mulai menulis cepat kalau begitu. Aku harus memikirkan tokohnya dulu."
Loncatan Jaemin berhenti. "Gampang, gampang!" Dia mengibaskan tangannya, menyepelekan. "Tinggal bikin saja berdasarkan kamu sendiri."
Hah? Mark tidak langsung mengerti apa yang dikatakan Jaemin. "Maksudmu, tokohnya berdasarkan aku?" Dia menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Memang boleh?"
"Memang kenapa tidak boleh?" Jaemin berbalik tanya. "Santai saja! Oke, jadi... deskripsinya mata bulat, bibir tipis, rambut pirang...," tuturnya, sambil memperhatikan paras Mark dari ujung kaki sampai ujung kepala. "...dan kamu cukup tinggi. Bagus, bagus."
Eh. Mark merasa tubuhnya kaku ketika ciri-cirinya dijabarkan Jaemin.
"Kulit putih, badan tegap, lengan yang kokoh..."
"H-Hentikan! Aku yang akan menulis deskripsinya sendiri!" Mark membekap mulut Jaemin yang masih terus merocos. Dia malu sepertinya.
Dia segera beranjak dari tempat tidurnya lalu duduk di meja belajarnya setelah mengambil sebuah buku catatan, yang sepertinya akan dijadikan draft-nya.
Jaemin tertawa geli melihat tingkah Mark. "Malu nih?" katanya sambil menelusupkan kepalanya di ceruk leher Mark, mencoba mengintip apa yang ditulis Mark. Alisnya berkerut ketika dia bisa sekilas membaca beberapa kata. "Apaan nih?Mark is absolutely fully capable? ...Ih, norak! Hapus!"
"Eh, jangan dihapus!" Teriaknya ketika Jaemin sudah meraih penghapus dari dalam tempat pensilnya.
Entah pada akhirnya deskripsi untuk si tokoh teman jadinya bagaimana, tapi yang pasti cerita pertemanan si manis Na Jaemin dan si serba bisa Mark Lee resmi dimulai.
.
.TBCa/n.review kalian... daebak hahaha. nih ceritanya dilanjutin uwu
dan setelah ini saya mau hiatus dulu huhu ujianujianujian tapi mungkin abis chapter 3 kali ya hmm
saya... masih mau minta doa biar saya dapet Snmptn nih uwua
saya mau update markmin sama noren sekaligus (sama satu pair hyungline yang itu tuhh yang salah satunya baru ulang tahun~) kalo dapet snmptn-nya~ kalo gak dapet? ...sampai jumpa di bulan juni yha.
Pengen bales review tapi saya takut malah spoiler :'(
Thx! ludfidongsun, delayciouslaymontea, BlueBerry Jung, XiSenna, BellBaek, vanderwood, Cho Minseo, fangirlalala, keeeei, lydiasimatupang2301, aiyoemi10, Park RinHyun-Uchiha, leejegun!
Aku disayang sama pacarnya jaehyun tau :3333 /apa
