[Lanjutkan Ceritanya]

Chapter 3

"Hah? Kau panggil aku apa tadi?" Mark tidak begitu yakin dia mendengar apa yang dikatakan laki-laki manis yang sedang duduk di sebelahnya itu dengan benar.

"Hyung." Dia mengulang. "Aku tadi memanggilmu hyung."

"Kenapa memanggilku begitu?" alisnya berkerut. Padahal biasanya Jaemin memanggilnya langsung dengan namanya.

Tangan Jaemin terangkat, lalu menunjuk sebuah buku berwarna hitam yang ada di rak. Seingat Mark, itu adalah buku tahunan SMP. "Aku tadi lihat-lihat buku itu. Ternyata kamu lebih tua setahun dariku."

Mark yang tadi sedang membenarkan headset-nya yang kusut akhirnya menghentikan kegiatannya sebentar untuk melihat Jaemin dengan tatapan bingung. "Kamu punya tanggal lahir?" Dibalas anggukan oleh Jaemin. "Wow. Keren juga. Jadi kamu kelahiran 2000 atau apa?"

"Iya, 2000. Ada kok di halaman pertama buku. Biodataku."

Biodata? Mark dengan sigap meraih buku aneh yang dimaksud Jaemin. Buku itu ada di atas meja. Dia membalik-balikkan halamannya sampai ke halaman paling pertama. "Aku tidak menyadarinya." Mark bergumam pelan ketika didapatinya memang ada biodata Jaemin di sana.

Tangan Jaemin menunjuk ke salah satu bagian dari biodatanya. "Lihat. Tanggal lahirku 13 Agustus 2000," katanya dengan nada ceria. Dia tatap Mark dengan mata yang tersenyum. "Hyung juga Agustus, kan? Sama denganku~" Jaemin menyandarkan kepalanya di bahu Mark sambil terus terkikik.

Mark tidak mengerti apa yang membuatnya sesenang itu hanya gara-gara bulan lahir yang sama. Baginya, tidak ada sesuatu yang khusus dari itu. Kalau tanggal lahirnya persis sama, mungkin Mark akan lebih sedikit tergugah.

Tapi daripada itu, Mark lebih dibuat bingung kenapa Jaemin bisa dengan santainya main sandar-sandaran di bahunya. Apalagi ketika dia merasa tidak begitu tahu harus apa ketika tercium bau manis dari rambutnya.

"Tapi cuma beda setahun kok. Panggil Mark saja juga tidak apa-apa."

Kepala Jaemin terangkat pelan-pelan. Dirinya terlihat sedang mempertimbangkan sesuatu. "Hmm... tapi sebenarnya aku juga biar sekalian membedakan panggilan untukmu dan Mark dalam cerita." Jarinya ditempelkan pada bibir. "Di cerita, aku memanggilmu Mark. Aku takut nanti malah tertukar-tukar."

Mark mangut-mangut mengerti. Dia memang sudah mulai menulis ceritanya yang bergenre pertemanan itu. Kalau dia harus menjelaskan, ceritanya secara garis besar adalah tentang bagaimana Jaemin dan Mark saling kerjasama menuntaskan daftar keinginan yang mereka buat semasa SMA. Tidak tahu film apa yang akhirnya mereka jadikan sebagai acuan, tapi yang ingin ditekankan di sini adalah dalam cerita, Jaemin memanggil Mark dengan... Mark. Tanpa embel-embel.

"Err. Jadi kamu serius mau memanggilku hyung?" Mark menggaruk pipinya dengan telunjuk, entah apa yang memberatkan hatinya untuk dipanggil demikian.

Jaemin menatapnya memelas. "Tidak boleh?"

"Bukan tidak boleh..." Mark mengerang. "Aku merasa aneh saja."

"Atau... aku tetap memanggilmu Mark, tapi aku memanggil Mark dalam cerita dengan sebutan hyung. Bagaimana?"

"Tapi aku membuat kita setingkat. Harusnya kita seumuran."

"Begitu? Benar-benar tidak bisa lebih muda atau lebih tua walaupun berada di tingkat yang sama?" Jaemin sekarang menumpukan kedua telapak tangannya pada sebelah bahu Mark. Sepertinya bahu Mark sudah menjadi tempat favorit Jaemin bersandar.

"...bisa sih," jawabnya dengan tampang berat hati. "Tapi biasanya itu gara-gara yang lebih tua gagal dalam ujian masuk universitas tahun sebelumnya, sedangkan aku tidak mau dibuat gagal ujian masuk."

Jaemin mencebikkan bibirnya sambil memukul pelan lengan Mark. "Banyak maunya, ih." Sedikit ada rasa tidak rela dikata begitu oleh Jaemin yang sedari beberapa hari lalu terus menerus menyuruhnya menambahkan banyak detil-detil kasat mata dalam cerita. "Pokoknya aku bakal panggil kamu hyung. Sahut ya kalau kupanggil begitu."

Sebuah anggukan pasrah dari Mark diterima Jaemin sebagai jawaban. Dia tidak begitu yakin bagaimana reaksi Jaemin jika tahu ada program akselerasi yang bisa memungkinkan mereka berbeda tahun lahir walaupun berada di tingkat yang sama. Tapi ya sudahlah, Jaemin akan memanggilnya hyung mulai sekarang. Mark tahu kalau tidak ada pilihan lain selain membiasakan diri. Fokus Mark kemudian tertuju pada buku magis yang sudah membuat beberapa hari terakhir itu terasa begitu berat tapi lebih menyenangkan buat Mark. Dia usap sampul buku itu perlahan.

Ada rasa menyesal dalam dirinya yang tidak suka membaca buku selain buku pelajaran. Dia jadi sangat lemah dalam hal imajinasi dan juga membuat narasi yang padu. Batinnya meringis ketika membaca ulang tulisannya. Aneh dan tidak jelas apa yang sedang ingin diungkapkannya.

Mark yakin kalau tulisannya benar-benar amburadul, karena itu dia bingung ketika Jaemin tidak pernah mengomentarinya.

"Hm? Apa?" Jaemin dapat merasakan kalau sedang diperhatikan. Dia mengangkat kepalanya lagi untuk balas menatap.

"Kamu bisa baca kan ya?"

Jaemin langsung mencubit Mark ketika mendengar pertanyaannya. "Tadi baru aku bilang kalau aku baca-baca buku tahunanmu! Sekarang kamu malah tanya aku bisa baca atau tidak..."

Mark memegangi pipinya yang tidak sakit walau habis dicubiti. Yah, Jaemin memang tidak ada niatan menyakiti Mark kok. "Aku lupa. ...tapi maksudku, bukan baca yang seperti itu. Hmm... baca yang... tulisan-tulisan panjang? Novel mungkin?"

Pertanyaan Mark itu sebenarnya sangat aneh. Dia bertanya begitu pada Jaemin yang adalah sebuah entitas yang sebenarnya tidak pernah ada di dunia. Kenapa dia malah bertanya sesuatu seperti 'apa kamu mengerti nilai estetika di dunia yang tidak pernah kamu tahu sebelumnya?'. Tapi Jaemin memang kelihatannya tahu banyak hal walaupun baru sebentar dia dihidupkan di dunia nyata.

"Tentu saja bisa. Aku kan harus mengerti isi bukunya," jawabnya cepat. Dia mengambil buku itu dari Mark dan membalik-balik halamannya. "Tapi sih, kan hanya bayangannya saja yang muncul dalam pikiranku. Aku tidak benar-benar membaca tulisannya –iya, ya. Tulisanmu sebenarnya seperti apa ya?"

Jaemin mulai membacanya. Mark menelan ludah ketika dilihatnya Jaemin benar-benar menelaah tulisannya. Hatinya sudah siap kalau-kalau Jaemin akan mencubitnya lagi gara-gara ada isi yang tidak berkenan.

"Tidak buruk kok," kata Jaemin sambil menutup bukunya. "Untuk hyung yang baru pertama kali menulis fiksi, aku merasa ini sudah lebih dari cukup."

"Benarkah?"

Jaemin mengangguk. "Aku suka bagian yang ini." Telunjuknya menunjuk ke satu bagian.

[Mark dengan sangat yakin menuliskan beberapa hal yang dia ingin lakukan pada secarik kertas. Jaemin mencuri baca. "Melihat komet Halley?" Dijawab dengan anggukan. "Kenapa?"

"...itu janjiku pada ibuku."]

Mark merasa malu ternyata bagian yang itulah yang dimaksud Jaemin. Sontak dia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

"Janji untuk melihat komet Halley? Bisa juga ya terpikir begitu. Apa dari film-film yang kita lihat kemarin-kemarin ada yang seperti itu?" dia tidak ingat kalau dari film yang mereka tonton ada yang membahas tentang benda langit atau semacamnya.

"Ngg... tidak. Aku tidak meniru film apapun untuk yang itu." Mark memalingkan muka, tidak kuat melihat wajah Jaemin yang siap menginterogasinya. Jaemin bertanya apa maksudnya. "Tidak. Bukan apa-apa."

Wah, mulai nih, Mark main rahasia-rahasiaan. Tapi Jaemin sedang tidak ada niat untuk memaksa Mark cerita.

Toh, dia punya hal lain yang ingin dia bicarakan.

"Hyung, tulis tentang kita lagi merayakan ulang tahun bareng dong!" Jaemin menggaet tangan Mark dengan semangat. "Nanti kita saling kasih kado. Kadonya... aku mau sepatu roda! Hyung mau apa?"

"Ulang tahun? Di dalam ceritanya masih bulan april..."

"Percepat saja jadi Agustus!"

Jaemin menatap Mark dengan mata berbinar-binar. Dia memelas.

Mark melihatnya jengah. Jaemin tidak perlu merasakan rumitnya merangkai kata untuk menyusun kalimat dan paragraf yang runtut, jadi dia yakin Jaemin merasa apa yang dimintanya itu adalah hal mudah. Tapi yang baru saja Mark tulis adalah bagian di mana mereka berdua baru saja selesai menuliskan daftar keinginan. Masa tiba-tiba langsung jadi pesta ulang tahun?

"Ayolaaah~ kan lucu kalau kita makan-makan sambil kasih kado." Jaemin kemudian mulai menuturkan dengan rinci bagaimana adegan itu akan terlihat dalam bayangannya. Seperti... Mark yang mengatakan pada Jaemin, 'ulang tahunmu masih dua minggu lagi, tapi aku sudah terlanjur beli hadiah' lalu langsung memberikannya pada Jaemin.

"Tapi bakal jadi aneh, Jaemin... tidak nyambung dengan bagian sebelumnya..." Mark jadi ragu apa benar Jaemin bisa menilai tentang bagus tidaknya tulisan. Tapi –ah, sial. Mark tidak pernah menyangka kalau hanya dengan memajukan bibir seperti itu ada efek yang sangat memaksanya untuk menurut. Maunya Mark sih, minta tolong sama orang lewat depan rumah biar mereka yang minta pada Jaemin untuk berhenti menatapnya dengan wajah luar biasa memelas itu.

Rajukan Jaemin baru bisa dihentikan setelah Mark menandatangani surat perjanjian kalau dia pasti akan menulis adegan Mark memberikan kado sepatu roda, sepatu running, dan hoverboard pada Jaemin ketika setting waktunya sudah Agustus. Dari mana Jaemin tahu sesuatu seperti surat perjanjian? Adalah pertanyaan yang mulai bersarang dalam pikirannya.

Dan sepertinya Mark harus lebih menjelaskan dalam bukunya, kalau Mark dalam cerita adalah anak orang kaya yang bisa menghujani temannya barang-barang mahal untuk hadiah ulang tahun.

.

.

TBC

a/n. cape saya belajar /banyak gaya.

Btw saya siap jadi fansite NCT Indonesia nih yha kalo bb sebelah ada yang namanya bambam, nanti ensiti ada yang namanya bambang. Bacanya bembeng.

Aduh kebanyakan aqua.

Review ya biar saya mau lanjut wk. boong boong. Saya pasti lanjutin tapi kalo yang minta lanjut dikit ya yaudah nanti saya PM-in aja lanjutannya yha.