(lupa format saya pokoknya ini chapter 4 lmao)

Sebenarnya Mark tidak menyangka kalau kegiatan menulisnya ternyata benar-benar bisa mengalihkan semua fokusnya itu sampai-sampai dia melupakan suatu hal yang penting. Sangat penting, baginya.

Bruk.

Mark menjatuhkan setumpuk buku soal di meja. Jaemin meneguk ludah melihat seberapa tebal tumpukan itu.

"Aku mau belajar. Ujian pertukaran pelajarnya tinggal sebulan lagi," kata Mark dengan alis mengerut. "Jadi aku tidak akan kembali menulis sampai paling tidak kuselesaikan satu buku."

Sampai titik yang terakhir pun Mark tahu kalau pelajarannya lebih penting dari apapun saat ini, mengingat statusnya sebagai pelajar. Dia merasa sudah sangat membuang waktu dengan berulang kali kehilangan fokus ketika jam pelajaran atau belajar mandiri. Dia tahu dia akan sulit belajar jika Jaemin terus memintanya untuk melanjutkan menulis. Tidak, dia tidak menyalahkan Jaemin.

Jaemin tidak terlalu menjawab, apalagi setelah Mark langsung duduk di mejanya dan segera menggarap soal. Dia terlihat begitu menghayati pekerjaannya sampai-sampai Jaemin pun dapat melihat aura-aura jangan-ganggu-jangan-sentuh darinya.

"Ngg... aku coba memikirkan adegan apa yang bisa dimasukkan ke dalam cerita lagi ah..." Jaemin memutar badan, berbalik ke tempat tidur Mark yang sedang tidak ditempati. Tidak ada balasan dari Mark. Sedikitnya, Jaemin berharap dirinya agar dibalas walaupun hanya gumaman tak jelas.

Awalnya Jaemin hanya ingin duduk di tepi tempat tidur, tapi lalu dia lanjutkan merebahkan diri di sana, mumpung yang punya sedang lebih pilih duduk di kursi. "Hmm... mending apa ya?" Dia memejamkan mata.

Jaemin mengingat-ingat adegan apa saja yang sudah ditulis Mark.

Kemarin, Mark sudah melanjutkan menulis kira-kira sebanyak tiga halaman. Bagian yang baru saja ditulis adalah... bagian Jaemin dan Mark yang memberitahu satu sama lain keinginan apa yang menempati posisi terakhir di dalam daftar, yaitu 15. Keinginan ke-15 Jaemin adalah mempunyai teman minimal lima, sedangkan Mark adalah mengikuti kejuaraan bela diri beberapa bulan setelahnya.

Soal bagaimana mereka mengurutkan keinginan, itu didasarkan pada jangka waktu. Jangka panjang dan pendek. Yang ada di urutan ke-15 adalah jangka pendek, sedangkan yang panjang adalah yang pertama, dan isinya... rahasia. Iya, seharusnya itu dirahasiakan sampai keinginan yang ada di bawahnya sudah terwujud. Tapi Jaemin di cerita malah mencuri baca ketika Mark masih menulis.

Jaemin sendiri sebenarnya tidak terlalu tahu apa ada alasan khusus di balik Mark yang membuatnya mempunyai keinginan seperti itu atau tidak. Kesannya dia kesulitan mencari teman. Tapi tidak apa lah. Jaemin memang ingin teman yang banyak kalau memungkinkan.

'Kenapa Mark ingin ikut kejuaraan bela diri ya? Memangnya dia tahu bela diri apa?' pikir Jaemin. Dia merasa kalau ingin mengajukan usulan, dia harus tahu apa yang menjadi dasar dari bagian-bagian cerita. Salah satunya adalah detil-detil kasat mata yang menjadikan karakter-karakter mereka memang berperan sebagai individu dalam cerita.

Jaemin melirik Mark yang masih berkutat dengan soal-soal pelajaran. Bibirnya sedikit terbuka dan mulai bersiul-siul mencoba menarik perhatian si yang lebih tua.

Mark sempat balas melirik, tapi tidak lebih. Lirikan yang kelewat biasa. Hanya seperti... 'kenapa dia tiba-tiba bersiul?'.

Jaemin tidak terlalu berharap banyak kalau Mark akan mengomentarinya sesuatu yang panjang-panjang. Tapi tidak apa-apa. Jaemin memang sedang ingin bersiul, mencari inspirasi untuk ceritanya.

Setelah beberapa lama bersiul, Jaemin tiba-tiba teringat dengan film-film yang mereka lihat kemarin-kemarin. Dia kembali terpikir untuk meniru bagian-bagian bagusnya.

Awalnya begitu, tapi kemudian alisnya mengerut, dilanjutkan dengan gelengan kepala. Jaemin kemudian diam lagi sebentar, lalu lagi-lagi bergeleng sambil bergumam-gumam. Diam lagi, lalu merengut sambil akhirnya duduk bersila dengan tangan yang dilipat di depan dada.

Mark mau tak mau jadi memperhatikan. "Kamu kenapa sih?" Akhirnya dia menaruh atensi pada sosok yang sekarang memeluk bantal sambil merengut.

Sosok itu melirik malas. "Aku tidak tahu kalau membuat cerita itu sesulit ini."

"Cerita?"

Jaemin mengangguk. "Aku sedang memikirkan kira-kira apa lagi yang bisa ditulis di buku, tapi aku tidak kepikiran apa-apa."

Mark tertawa pelan mendengarnya. Dia akhirnya dimengerti juga oleh Jaemin kalau dia juga merasakan hal yang sama dari ketika Jaemin datang. Ada sedikit kepuasan dalam tawanya. "Aku kira kamu akan asal mengambil plot film yang kita lihat kemarin-kemarin."

"Iya~" Jaemin merebahkan tubuh lagi. "Aku sudah coba tapi jadinya aku malah kepikiran adegan romantis."

Mata Mark membulat. Romantis? "Rasanya film yang kita lihat kemarin itu lebih ke action dan science fiction..."

Jaemin awalnya tidak mengerti tapi lalu dia ingat kalau dia memang tidak menonton film roman dengan Mark. "Hehe. Aku menonton film yang belum kita lihat di laptop hyung waktu hyung sekolah." Jaemin memamerkan senyum sambil mengaku kalau dia telah melihat-lihat laptop Mark tanpa izin.

Mark tidak terlalu mempermasalahkan itu sih. Dia paling hanya bingung bagaimana caranya Jaemin tahu cara menggunakan laptop, tapi dia tidak terlalu memusingkan itu juga akhirnya. "Lalu? Memangnya ada film roman ya? Aku asal download waktu itu."

Jaemin mengangguk. "Ada yang latar waktunya sepertinya jadul sekali. Perempuannya mengenakan gaun dan laki-lakinya berpakaian luar biasa rapi. Ya... tapi kaku sekali sih."

Mark tidak pernah menyangka kalau dia bisa dengan tidak sengaja men-download film berlatar era Victoria begitu Jaemin menjelaskan bagaimana romansanya adalah tentang pasangan bangsawan dan pembantu. Dia sudah yakin kalau plot film itu jelas-jelas tidak akan bisa dipakai, tapi karena Jaemin masih menjelaskan dengan begitu semangat, Mark tentu saja mendengarkan. Sepertinya Jaemin benar-benar menikmati film itu.

"...maid-nya pergi tanpa bilang apa-apa pada si bangsawan. Maid itu tahu sekali kalau hubungannya tidak akan diterima siapapun. Bangsawan itu terus mencarinya, dan hyung tahu?" Jaemin memberi jeda. "Mereka akhirnya bertemu lagi di pesta pernikahan si bangsawan, dengan maid-nya datang sebagai orang yang menemani ibu si bangsawan yang hidup terpisah di kota pinggiran. Aku sempat menangis, hyung."

"Hmm... lalu jadinya bagaimana?" Mark menumpukan kepalanya pada satu tangannya. Dia masih memperhatikan Jaemin yang masih terbawa asik ceritanya. Jujur saja, dia tidak terlalu mengerti cerita Jaemin, tapi sosok Jaemin yang sangat antusias bercerita itu sukses membuat Mark jadi memperhatikan.

"Jadinya... si bangsawan membatalkan pernikahannya karena dia memang tidak pernah berhenti mencintai maid itu. Pernikahannya dari awal memang karena desakan orang tuanya saja. Itu bagus sekali, hyung!" Jaemin meringis gemas membayangkan film itu lagi. "Tapi tidak mungkin pakai plot seperti itu kan? Aku tahu kok."

Mark tersenyum miris tapi juga lega karena dia tidak harus memberitahunya secara blak-blakan kalau plot yang dia suka itu tidak bisa digunakan. Jaemin sudah paham sendiri. "Tapi yang mirip-mirip mungkin bisa, Jaem." Mark sepertinya sudah memberi izin untuk Jaemin memberikan usulan adegan romansa.

Jaemin terlihat berpikir. Ada tidak ya sesuatu dari film itu yang bisa ditiru? "Aku tidak yakin... tapi aku suka bagian ketika bangsawan itu mengadiahi si maid saputangan renda," katanya sambil menautkan jari. Mark sudah merasa ragu lagi adegan seperti itu bisa dimasukkan atau tidak. Saputangan renda? Sudah bukan zamannya lagi. "Tidak bisa ya?" Jaemin sepertinya bisa membaca ekspresi Mark. Mark jadi merasa tidak enak.

"Tidak harus saputangan renda kok! Aku juga tidak terlalu suka renda-renda." Jaemin menggerak-gerakkan tangannya tidak nyaman. "Ini deh! Si maid itu pakai kacamata yang ukurannya tidak pas. Bangsawannya lalu langsung mengajaknya ke toko kacamata, tapi maid bilang kacamata itu barang mahal jadi dia tidak bisa menerimanya. Tapi karena bangsawan memaksa ingin memberinya sesuatu yang tidak harus berupa kacamata, si maid lalu bilang kalau dia ingin saputangan renda, dan jadilah bangsawan membelikan saputangan renda."

Mark mangut-mangut. "Ooh. Jadi aslinya seperti itu ya? Aslinya bangsawan ingin membelikan maid itu kacamata yang pas? Tapi maidnya tidak mau?"

"Iya, tapi bangsawan bersikeras ingin memberinya sesuatu."

"Itu bisa dipakai kok, asal saputangannya diganti yang lain. Makanan mungkin?"

Senyum sumringah sudah terpampang jelas di wajah Jaemin karena akhirnya ada bagian film yang disukainya yang dijadikan adegan dalam ceritanya. Tapi senyum itu lalu memudar ketika teringat sesuatu. "Hyung... aku lupa."

"Lupa apa?" Tanya Mark setelah kembali berusaha fokus pada buku soal latihannya.

"Aku kan tidak pakai kacamata..."

Mark mengernyitkan alis. Iya, Jaemin tidak pakai kacamata. Lantas kenapa? "Kamu kan yang bakal menawarkan membelikan barang? Kenapa kamu jadi harus pakai kacamata juga?"

"Lho? Terus siapa yang pakai kacamatanya? Mark?"

"Hah?" Mark tidak mengerti maksud Jaemin. "Ini mau jadi cerita romansa kan? Yang pakai kacamatanya ya... tokoh perempuan yang lain lagi lah."

Mark merasa ada sesuatu yang aneh ketika melihat Jaemin terlihat seperti berpikir ulang. Ada secercah dugaan dalam pikiran Mark, tapi dia juga ragu untuk menanyakannya karena menurutnya hal itu tidak mungkin. "...jangan bilang kamu membayangkan adegan itu denganku?"

Jaemin tersenyum canggung.

"...ya ampun." Mark mengusap mukanya dengan telapak tangannya yang lebar. "Aku berani sumpah daritadi kukira yang kamu maksud itu agar menambahkan tokoh baru lagi biar jadi pasanganmu!"

"T-Tapi hyung bukannya tidak mau menambah tokoh baru lagi?" Jaemin lupa kalau Mark bahkan sudah menjanjikan 5 orang untuk jadi temannya di dalam cerita. Jelas-jelas Mark sudah membuang kemalasannya merancang tokoh jauh-jauh.

"Tapi ya masa kita jadi pacaran juga nantinya?!"

"Memangnya kenapa??" Jaemin membela diri. "Kita kemarin lihat ada film yang awalnya hanya berteman tapi di bagian akhir mereka menikah!"

Iya, Mark ingat film itu. Dia ingat di bagian akhir film ada tulisan 'cinta bermula dari pertemanan'. Tapi... tapi...! Ahh! Mark mengusak keras rambutnya sendiri.

Jaemin merasa sedikit sedih melihat Mark seperti itu. Sepertinya Mark tidak suka dipasangkan dengannya. "Ya sudah. Aku tidak memaksa kok," katanya sambil rebahan dan memunggungi Mark. "Oh, iya. Tidak perlu ada adegan romansa kok. Jadi tidak usah membuat tokoh perempuan baru lagi ya."

Tangan Mark masih terangkat dan memegangi rambutnya. Dia dapat mendengar jelas ada nada kecewa dari kata-kata Jaemin. Mark melipat tangannya di meja dan menguburkan wajahnya di sana.

Mark merasa ada sesuatu yang aneh dalam perutnya. Seperti ada yang beterbangan di sana ketika dia membayangkan saja kalau dia harus menulis cerita cinta-cintaan tentang dirinya dan orang yang sekarang sedang merajuk sambil memeluk bantal di tempat tidurnya itu. Dia tidak tahu kalau membayangkan mereka saling tersenyum geli melihat wajah masing-masing itu ternyata bisa semudah itu. Lebih mudah dari ketimbang memikirkan mereka hanya sebatas saling mendukung. Mark merasa dibohongi soal menulis genre pertemanan itu mudah untuk pemula. Karena nyatanya dia juga sudah kepikiran menulis cerita di mana Mark dan Jaemin berdekat-dekatan. Saling tersenyum simpul melihat wajah masing-masing. Melontarkan beberapa ucapan manis yang menggelikan didengar tapi membuat senang.

Kalau boleh jujur, Mark tidak merasa itu hal buruk. Dia tidak benci itu.

TBC

A/n. GW SELESAI USBN. Sejarah gila banget sumpah. Biologi berasa jago banget tapi terus tadi guru gw bilang gini pas ngasih soal latihan buat UN "nih kerjain. Jangan keenakan ya. Soal Usbn kemaren itu emang kegampangan". Dan emang kalo dibandingin sama itu soal latihan dari guru... beda jauh;;; btw gw kesel lah ya sama yang pake bocoran haha:)) 3 tahun mereka di Sma ngapain aja ujung-ujungnya liat bocoran

Saltysalty