[chapter 5 pokoknya]

Kabar gembira! Mark sudah menyelesaikan buku soal latihannya kemarin! Benar-benar murid teladan yang terus menyabet peringkat tiga besar paralel.

Sesuai janjinya, Mark sekarang sedang melanjutkan tulisannya. Memang ada berbagai kendala dalam penulisan, tapi tingkat konsentrasinya yang tinggi bisa memilah mana yang seharusnya dia urusi dan mana yang tidak.

[Jam sudah menunjukkan pukul 12. Tidak heran kalau Jaemin merasa lapar. Kakinya yang jauh lebih jujur itu langsung melangkah untuk menyeberang ke restoran fast food langganannya, tapi...]

"...'tapi Mark tiba-tiba datang memeluknya dari belakang'. Hyung! Tulis! Tulis begitu!"

Sreeet.

Pensil yang dipegang Mark tersenggol dan langsung meninggalkan garis panjang yang tidak diinginkan di sana, saking kagetnya dengan Jaemin yang tiba-tiba saja menyelipkan kepalanya di pundaknya sambil berbicara. Kapan Jaemin bangun ya? Rasanya tadi masih tidur pulas.

Mark mengerang sambil meraih penghapusnya untuk menghapus coretan tadi.

"Hyung. Tulislah." Jaemin mengerucutkan bibirnya, memelas.

Mark menghela napas. Rasanya tubuhnya sudah kebal pada jurus memelasnya itu. "Kamu serius ingin mengganti genre di tengah cerita?"

"Tidak kok. Bikin saja ini tetap genre pertemanan," jawabnya dengan santai dan mulai menyamankan diri lagi di kursi sebelah Mark. "Tapi aku tetap merasa dua tokoh utama bisa saling jatuh cinta."

Mark menelan ludah. Kenapa Jaemin bisa dengan mudahnya menuturkan hal macam itu? Dan lagi, kenapa Jaemin begitu bersikeras ingin tokoh Jaemin dan Mark menjalin hubungan?

"Kamu suka aku atau bagaimana sih?" akhirnya Mark bertanya tapi juga tidak tahu apa yang diharapkannya sebagai jawaban. Dia hanya ingin tahu.

Tapi alih-alih menjawab, Jaemin malah hanya menatapnya bingung. "Kok tanyanya begitu?"

Sumpah, Mark tidak mengerti apa yang ada dalam kepala imajiner Jaemin. Mana yang aneh dari pertanyaannya? Jaemin meminta untuk dibuatkan cerita romansa, tapi dia tidak mau kalau pasangannya bukan Mark. Anehkah jika dia jadi berpikir demikian?

"Hyung~" Jaemin memanggil lagi, pelan. Mark tidak menyahutinya. "Hyung serius tidak mau menulisnya?" tangannya menarik-narik lengan baju Mark. "Biarkan Mark peluk Jaemin..."

Mark memutar mata, bosan. "Aku sudah punya yang lebih bagus dari itu, Jaem."

"Hm?" Jaemin menelengkan kepalanya mendengar itu. Mark tidak membalasnya apa-apa. Dia langsung kembali serius menulis. Menulis yang barangkali adalah bagian yang katanya lebih bagus dari Mark tiba-tiba memeluknya di tengah jalan raya.

Jaemin merasa Mark akan jadi lebih terganggu lagi kalau dia mengusiknya lebih dari ini, jadilah dia beranjak dari kursinya dan duduk di lantai. Punggungnya disandarkan pada tembok, dan kakinya dia peluk. Dia hanya melihat punggung Mark dari belakang.

Di tengah asiknya menikmati keheningan, dari dalam kepalanya muncul sebuah bayangan dirinya yang berada di tengah jalan, berusaha menyeberang. Tapi kemudian dia berhenti ketika ada yang memanggil namanya. Dirinya berbalik dan melihat ada Mark yang berlari kecil ke arahnya. Mereka berbicara sebentar, sebelum akhirnya Mark menggandeng tangan Jaemin dan mulai menuntunnya menyeberang.

Jaemin tidak tahu apa Mark menuliskan sesuatu di bukunya tentang bagaimana jantung Jaemin berdegup lebih cepat ketika tangannya digenggam Mark tiba-tiba, tapi itulah yang dirasakannya sekarang! Detak jantungnya bisa terdengar samar-samar.

"...hyung..." Jaemin memanggil dengan suara pelan. Dia merasa suaranya terasa lebih susah dikeluarkan sekarang. "...hyung?" Jaemin memanggilnya lagi ketika Mark tidak merespon padanya.

Jaemin tersentak ketika Mark tiba-tiba memutar kursinya dengan entah kenapa dihentakkan. "Kenapa?" Nadanya meninggi, seperti berusaha menyembunyikan rasa malunya. Wajahnya merah.

"...tidak." Jaemin terperangah melihat wajahnya yang memerah. Karena apa? Dijawab begitu, Mark kembali memutar kursinya dan kembali menulis.

Jaemin memperhatikan bayangan-bayangan cerita yang masuk ke dalam kepalanya lagi, di tempatnya sekarang terduduk. Bayangannya berdua dengan Mark. Dengan Mark yang sedari tadi memperlakukannya dengan sangat lembut.

Beginikah pertemanan seharusnya terjalin? Jika iya, Jaemin benar-benar suka apa itu yang namanya pertemanan.

Terlalu terbuai dalam ayunan ceritanya, Jaemin perlahan memejamkan mata dan akhirnya kembali terlelap.

Dengkuran halus dari Jaemin cukup untuk membuat seorang lagi yang berada di ruangan itu akhirnya menghela napas, sebelum beranjak untuk membaringkan Jaemin di tempat tidurnya yang sedang tidak digunakan.

Tapi kalau mau jujur, kalaupun dirinya sedang menggunakannya, pada akhirnya dia tetap akan mengutamakan Jaemin bisa tidur dengan nyaman.

Ketika bangun, Jaemin mendapati bayangan-bayangan baru memenuhi kepalanya. Dia masih bersama Mark dalam bayangannya, tapi sekarang ada orang lain lagi di sana. Jaemin tidak tahu siapa.

Jaemin menolehkan kepalanya lemas, melihat Mark yang masih duduk di meja belajarnya, tapi tidak sedang melanjutkan menulis. Dia sedang mengerjakan buku soal yang baru.

"Hyung," panggilnya entah untuk yang keberapa. "Kamu memberiku teman?"

Mark memutar kursinya untuk menjawab Jaemin. "Iya. Mereka temanku di sekolah." Dia mengulas senyum simpul. "Bagaimana menurutmu? Mereka baik kan?"

Jaemin tersenyum. Dia bangun dan membenarkan duduknya. Disingkapnya selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. "Iya, mereka baik."

Mark, sambil masih mengerjakan soal-soal, mulai menceritakan tentang dua orang temannya di sekolah, yang sekarang juga adalah teman Jaemin dalam cerita. Donghyuck dan Jeno.

"Donghyuck ikut ekskul musik ringan. Dia bagian vokal. Dia memang suka menyanyi." Mark menjelaskan. "Tapi entahlah. Suaranya seperti yang belum puber... tapi itu ciri khasnya."

Jaemin memangku dagunya dengan lutut. Kakinya masih terlipat. "Hmm... dia bicaranya nyablak ya? Dia dari awal bertemu denganku sudah langsung mengajakku cekcok."

Pensil Mark berhenti karena Mark sempat tertawa. "Iya, dia bicaranya begitu. Tapi soal kalian suka cekcok... entah kenapa interaksi yang bisa aku bayangkan di antara kalian adalah yang sejenis itu."

Jaemin mangut-mangut. Dia sebenarnya lumayan menikmati adegan cekcok itu karena baru itu saja adegan yang memperlihatkan sisi dirinya yang bisa berdebat. Dia kemudian meminta Mark melanjutkan.

"...Jeno itu anggota ekskul KIR. Dia suka sekali eksperimen. Menurutnya, eksperimen itu menyenangkan," katanya. "Kalau aku, aku juga lumayan suka sih. Tapi aku tidak suka bagian membuat laporannya."

Jeno ya? Di dalam cerita, Jeno itu yang berkali-kali melerai debatnya dengan Donghyuck kalau Mark tidak ada. Dia tidak terlihat begitu memihak. Dia membela yang menurutnya benar, tergantung masalahnya.

"Hmm... Jeno kayaknya baik sekali ya," kata Jaemin, terkekeh. "Aku suka."

Jaemin tidak terlalu berpikir dua kali soal kata-katanya itu. Dia hanya merasa senang karena ada orang baik seperti Jeno yang menjadi temannya, walaupun hanya dalam cerita. Apalagi, dia juga senang kalau memikirkan Mark punya teman sebaik itu di dalam lingkaran pergaulannya. Dia senang untuk Mark.

Lho?

Kenapa Mark memutar kursinya?

Dia melihat ke arah Jaemin dengan tampang yang sulit diartikan.

"Kenapa...?" mau tak mau Jaemin bertanya. Apa dia mengatakan sesuatu yang sangat bersalah?

Tangan Mark terlihat tidak tenang sebelum kembali memutar kursinya, menghadap mejanya lagi. "Tidak apa-apa."

Hah? Apa sih? Ada apa sebenarnya? Jaemin tidak mengerti!

"Hyung? Kenapa sih?" Jaemin pelan-pelan bangkit dari tempat tidurnya. Dia berjalan ke belakang kursi Mark. "Hyung? Aku salah?"

"Tidak, Jaem. Aku tadi salah dengar."

"Salah dengar? Salah dengar apa?"

"...lupa."

Jaemin merengut. Kok jadi mengesalkan begini. "Terserah ah." Dia berbalik lagi ke tempat tidur. Dia tiduran merapat pada dinding, supaya masih ada ruang cukup untuk Mark kalau dia mau tidur juga. "Pokoknya, aku minta maaf."

Jaemin tidur lagi. Kenapa dia bisa tidur sebanyak itu ya dalam sehari? Tidak tahu juga. Mark sempat menolehkan kepala untuk melihat Jaemin yang sekarang memunggunginya, lagi.

Kenapa rasanya jadi serba salah? Jaemin tidak melakukan apa-apa yang didasarkan niat buruk. Mark tahu itu, tapi sekarang, ada sebuah desakan dalam hatinya untuk menambahkan satu tokoh baru lagi, demi kenyamanannya sendiri.

Mark teringat waktu itu Jeno pernah terlihat linglung sehari penuh, tapi kembali seperti semula keesokan harinya. Mark dan Donghyuck penasaran, dan akhirnya mereka menyambung-nyambungkan kejadian-kejadian akhir-akhir itu dengan kelinglungan Jeno. Kesimpulan yang mereka capai adalah bahwa linglungnya Jeno itu ada sangkut pautnya dengan rumor yang sedang beredar kalau ada cowok dari kelas sebelah yang memacari teman mereka yang lain lagi, Renjun. Jeno kembali semangat lagi ketika semuanya sudah tahu kalau hubungan Renjun dan anak kelas sebelah itu adalah sepupu. Mereka baru-baru itu terlihat dekat karena ada urusan keluarga yang mengharuskan mereka jadi sering saling mencari, bahkan ketika di sekolah.

Mark langsung berpikir cepat. Dia menutup buku latihan soalnya dan beralih meraih buku ceritanya. Dia mulai menulis beberapa paragraf.

["Sini, aku yang kenalkan." Jeno menengahi. "Renjun, ini Na Jaemin. Dia teman satu kepengurusan."

Jaemin melemparkan senyum bersahabat pada orang di depannya, yang tentu saja dibalas juga dengan senyuman yang tidak kalah ramah. Jeno lalu melanjutkan. "Lalu Jaemin, ini Renjun, pacarku."]

Pensil diletakkannya, tanda dia sudah selesai menulis.

Mark menutup buku ceritanya dengan perasaan penuh kemenangan. Dapat dirasakannya rasa-rasa ingin meminta traktir Jeno karena sudah membuatnya senang walaupun hanya dalam tulisan. Lagipula, siapa suruh dia pakai acara rahasia-rahasiaan kalau sebenarnya suka pada temannya yang dari China itu? Mark dan Donghyuck kan jadi sempat kerepotan menganalisis sendiri kenapa Jeno jadi awut-awutan!

TBC

A/n. hai ada yang baca chapter 5 tidak yah. soalnya saya mau pamer lagi baca chapter 6. yha. dan aduh ada noren nyempil-nyempil.

Bellbaekkk w juga udah ngerjain soal dari guru tapi lagi apes kali ya gak ada yang keluar samsek. Gak juga sih. Kayaknya ada yang keluar tapi haha sayanya gak inget hw. Pokoknya buat soal esai saya malah ngarang bebas yawla. Bikin sejarah sendiri.