[ini chapter 6! Format bodo amat!]
.
.
Mau tahu tidak? Jaemin, sedari bangun, terus cekikikan tanpa henti di pojokan kamar.
"Ada apa sih, Jaem?" tanya Mark lagi –iya, lagi. Dia sudah bertanya pada Jaemin entah untuk yang keberapa hari itu. Dan yah, Jaemin sudah menjawabnya, tapi… ya ampun, Jaemin belum juga berhenti tertawa!
Tanpa menghentikan tawanya, Jaemin berusaha menjawab. "Itu lho, hyung! Renjun! Renjun manis sekali!"
Oh, ternyata masih soal tokoh tambahan yang dimasukkan secara dadakan itu.
Memang, Mark baru saja menambahkan adegan lagi di mana Renjun dan Jaemin bicara berdua ketika dirinya dan Jeno sedang pergi entah ke mana. Mark tahu jelas bagaimana teman sekelasnya itu sangat menggilai Moomin, jadi dia juga terpikir untuk membiarkan Jaemin tahu soal kegilaannya.
Mark menulisnya tadi, sebelum Jaemin bangun. Jadilah Jaemin lagi-lagi bangun dengan bayangan-bayangan baru. Jaemin senang sekali soal itu.
"Tapi hyung, Renjun ini pacarnya Jeno, kan?" tanya Jaemin setelah tawanya berhasil mereda. "Mereka teman sekolah hyung? Mereka benar-benar pacaran atau tidak?"
Duh, Mark mulai panas lagi. "Iya, mereka teman sekolahku. Kenapa?" jawabnya dengan sedikit memutar mata. "Dan… tidak. Mereka tidak pacaran."
Mark memperhatikan perubahan raut wajah Jaemin. Tidak ada. Tidak ada yang berubah. Mark jadi sulit mengartikan. "Hmm… aku sebenarnya pengen tanya saja sih kalau misalnya mereka benar pacaran –mau tanya yang nembak siapa."
"Hah? Buat apa?"
Jaemin kemudian cerita kalau sebenarnya dia merasa Jeno bukan tipe orang yang akan mengejar orang yang dia suka. Apa ya? Lebih tepatnya, tidak berani untuk mengejar. Tipe-tipe yang akan menciut duluan kalau ada apa-apa. "Tapi aku juga tidak merasa Renjun yang suka sama Jeno duluan, jadi aku bingung juga."
Mark berusaha keras untuk menahan tawanya. Jaemin baru saja berkenalan dengan Jeno di dalam cerita, tapi dia sudah benar-benar menebak bagaimana payahnya Jeno dalam urusan begituan. Dia bahkan bisa benar-benar menuturkan situasi yang sedang dialami Jeno di dunia nyata dengan tepat! Tepuk tangan!
"Begitu ya? Sayang sekali, tapi mereka tidak pacaran. Yah… doakan saja mereka cepat jadian. Orangnya juga bakal senang sih, menurutku."
Jaemin tidak mengerti maksudnya, tapi akhirnya menurut juga untuk mendoakan. Toh, keduanya baik padanya dalam ceritanya. Dia kemudian kembali bersandar pada tembok, memutar ulang bagiannya mengobrol dengan Renjun. Tapi ada yang membuatnya tidak nyaman….
"Ada apa hyung?" tanya Jaemin ketika menyadari Mark sedari tadi memperhatikannya. Mark menggeleng, dan itu membuat Jaemin memiringkan kepalanya. "Kenapa melihatku seperti itu?"
"Tidak apa-apa."
Mark mengalihkan pandangan. Dia bingung. Kenapa kemarin –juga barusan– dia merasa sangat panas hati mendengar Jaemin menyebutkan nama Jeno, padahal Jaemin juga sebelumnya bilang dia merasa Renjun manis –dan Mark tidak merasa terganggu dengan itu sama sekali. Apa karena Mark tahu, kalau yang Jaemin rasa buat Renjun itu sesuatu sebatas perasaan yang muncul kalau melihat hal-hal yang menggemaskan? Hamster, misalnya?
"Hayo, lihat apa?" Jaemin tertawa. Oh, lagi-lagi tanpa sadar Mark kembali melihat Jaemin –dan lagi-lagi juga Mark mengelak. "Ada apa sih?"
"Tidak…. –Sebegitu sukanya kamu sama Renjun? Aku tahu, kamu pasti tadi sedang 'membaca ulang' bagian kamu dan Renjun, kan?" Mark mulai tahu kalau Jaemin terlihat sedang menyamankan diri sambil memejamkan mata, berarti dia sedang membaca ulang.
Oh, lihat senyum Jaemin setelah menghabiskan beberapa saat untuk mengerti apa yang dimaksud Mark dengan 'membaca ulang'. "Iya! Eh, tapi bukan hanya Renjun. Aku juga suka Donghyuck dan Jeno!" dia kemudian menjelaskan betapa senangnya dia punya teman seperti mereka. Dia senang punya teman bicara seperti Renjun, teman berkelahi seperti Donghyuck, lalu teman yang perhatian seperti Jeno. Dia juga bilang, soal dia merasa sangat senang dan bersyukur mengetahui Mark dikelilingi teman sebaik mereka di dalam lingkaran pergaulannya. "Teman-temanmu benar-benar adalah yang terbaik, hyung!"
Mark tidak bisa menahan senyumnya. Oh, ayolah. Dia senang sekali ketika mendengar teman-temannya dipuji –apalagi ketika tahu Jaemin merasa senang untuknya. "Mereka sekarang temanmu juga. Jangan lupa."
Pipi Jaemin memerah mendengarnya saking senangnya. Teman –teman, katanya! Jaemin punya teman!
Senyum Mark makin mengembang ketika sesuatu muncul dalam pikirannya.
"Bagaimana kalau kamu temui langsung saja mereka kalau kamu sesuka itu? Aku bisa mengurusnya agar kalian bertemu," kata Mark. "…dan tentu saja kita tidak harus cerita soal dunia asalmu."
Jujur, Mark merasa dia telah mengusulkan sesuatu yang benar-benar brilian. Dia juga merasa Jaemin bukan tipe orang yang akan berpikir dua kali untuk menimbang-nimbang baik-buruk sesuatu, jadi dia sudah menduga Jaemin akan melompat kegirangan.
Tapi justru yang didapatinya benar-benar kebalikannya. Senyum Jaemin memudar.
"…tidak usah, hyung." Jaemin memaksakan senyum.
"Kenapa?" Mark tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, tapi Jaemin tidak langsung menjawab. Dia hanya menggambar lingkaran di lantai dengan jarinya. "Mereka baik kok. Aku jamin, mereka jauh lebih baik daripada mereka yang di dalam cerita!"
Tidak ada jawaban.
"….—kalau pun misalnya kita cerita soal dunia asalmu, mereka juga bahkan tidak akan mengusikmu!"
"Tentu saja. Mereka bahkan tidak akan bisa melihatku."
"Hah?" Mark tidak mengerti maksud Jaemin. Darimananya yang tidak bisa dilihat dari Jaemin, yang jelas-jelas baginya, Jaemin tidak tembus pandang?
"Hanya hyung yang bisa melihatku. Mereka juga tidak akan bisa mendengarku walaupun aku memanggil-manggil mereka," katanya dengan lirih. Dia juga sedih. Dari suaranya yang terdengar aneh, bisa ditebak bagaimana perasaan Jaemin sekarang. "…sia-sia kan? Jadi lebih baik tidak usah saja."
Hanya Mark yang bisa melihat Jaemin?
Anehkah jika Mark merasa apa yang Jaemin katakan itu benar-benar sulit dipercaya? Mark tahu jelas Jaemin adalah suatu keberadaan yang seharusnya tidak ada. Dia tahu itu, tapi… bagaimana ya? Mark bisa melihat wajahnya. Mark bisa menyentuh rambutnya. Mark bisa mendengar napasnya. Baginya, Jaemin adalah sesuatu yang nyata.
Tapi kemudian Mark teringat lagi soal kenapa Jaemin masih bisa berada di kamarnya –tanpa ketahuan ibunya. Sekarang memang sedang libur sekolah, jadi Mark bisa menahan agar ibunya tidak pernah masuk ke kamarnya. Tapi Jaemin sudah tinggal di kamar itu bahkan dari sebelum sekolahnya libur. Dia sendirian di kamar Mark. Bagaimana caranya dia bisa tidak ketahuan oleh ibu Mark sementara sang ibu membersihkan kamar anaknya tiap hari?
Mark juga mulai kepikiran beberapa hal lain lagi yang menyangkut keanehan Jaemin.
"Maaf… aku baru ingat, tapi… aku selama ini tidak pernah menyisihkan makan malamku untukmu, kan?" tanya Mark, memastikan. "…kamu perlu –bisa makan atau tidak?"
Iya, Mark tidak ingat dia pernah kesusahan menyelundupkan makanan untuk Jaemin. Bukan hanya makanan. Minum! Air! Air itu krusial sekali, kan? Manusia tidak bisa hidup tanpa air!
Tapi apakah Jaemin sama dengan Mark yang butuh air untuk hidup?
"Aku bisa makan, bisa minum. Tapi tidak butuh," jawabnya sambil menggelengkan kepala. "Sebagai gantinya, tidurku jadi lebih lama."
Mark melempar pandangannya ke asal tempat. Satu lagi pertanyaan Mark berhasil dijawab. Jaemin memang banyak tidur, dan ternyata ada alasan juga di balik itu.
Dia kemudian menelaah sosok Jaemin yang sekarang duduk di depannya. Dia jadi teringat dengan kalimat pembuka ceritanya.
'Namanya Na Jaemin. Senyumnya manis dan perilakunya baik'.
Senyumnya manis. Mark berkali-kali terpikir kata-kata itu setiap kali melihat Jaemin tersenyum. Dia kadang juga tidak percaya bisa-bisanya ada orang dengan senyuman yang benar-benar menular seperti senyuman miliknya.
Mark menelan ludah ketika pikirannya mulai berkata kalau memang sosok manis di depannya ini hanyalah khayalan siapapun yang menulis cerita itu pertama kali –dan Mark yang sekarang melanjutkan menulis ceritanya ini juga jadi bisa melihatnya.
Na Jaemin tidak pernah ada di dunia ini.
Bahu Mark melemas. Ada beberapa hal yang disayangkannya dengan mengetahui beberapa hal tentang Jaemin yang selama ini hanya jadi pertanyaan yang tidak pernah dia suarakan.
"Aku baru saja ingin mengajakmu pergi."
Jaemin mengangkat pandangannya. "Pergi? Ke mana?"
Mark menghela napas. "Entahlah. Ke manapun boleh. Aku hanya ingin mengajakmu jalan-jalan."
Dia kemudian bicara soal bagaimana di sepanjang jalan menuju sekolahnya, ada begitu banyak toko manisan yang didesain dengan sangat indah dan sangat menarik perhatian. Dia bilang, walaupun setiap hari dia melewatinya, belum pernah sekalipun Mark mampir ke salah satunya. Dia belum pernah merasa tertarik untuk ke sana –dia baru merasa ingin datang karena terbayang mungkin saja Jaemin akan menyukainya.
Jaemin lalu terlihat asik menebak-nebak sebagus apa toko-toko yang dimaksud Mark itu. Menurut Jaemin, kamar Mark ini benar-benar bagus dengan nuansa monokrom dengan sedikit kesan vintage yang membuatnya nyaman berada di sana, jadi dia penasaran kira-kira sebagus apa toko yang mendapat pengakuan Mark yang memiliki kamar sebagus itu. "Kayaknya asik, hyung! Tuliskan dalam bukumu dong!"
Tidak ada balasan dari Mark. Dia menghindari tatapan Jaemin, tapi Jaemin sayangnya tidak menyadari itu.
Bukan. Bukan begitu.
Mark mengusak rambutnya sendiri, frustrasi. "…aku ingin mengajakmu, Jaem –aku ingin benar-benar membawamu ke luar. Bukan cuma karangan kata."
Jaemin kemudian perlahan juga merasakan senyumnya menghilang lagi. Padahal tadi dia sudah kembali senang ketika katanya Mark ingin membawanya jalan-jalan.
Kenapa? Kenapa Jaemin tidak memaksa Mark tetap membawanya? Toh, Jaemin bisa makan walaupun tidak butuh.
Karena Jaemin mengerti apa yang memberatkan Mark. Hanya Mark yang bisa melihat Jaemin. Jaemin tahu pasti bagaimana jadinya kalau Mark benar-benar membawa dirinya keluar. Mark bisa dianggap orang aneh karena bicara sendiri di tempat yang penuh orang. Memesan dua porsi makanan tapi satu porsi yang lain diletakkan di kursi seberang, seakan-akan dia sedang makan berdua –padahal orang-orang tidak bisa melihat ada yang menempati kursi di depannya. Bagi mereka, Mark datang sendirian, makan sendirian, dan bicara sendirian.
Jaemin kecewa, tapi dia juga tahu kalau orang di depannya ini, yang selama berminggu-minggu terakhir sudah direpotkannya juga tidak kalah kecewa. Untuk itu, Jaemin hanya bisa minta maaf dengan suara pelan.
.
.
TBC
a/n. Emang ternyata lebih enak nulisnya di laptop yak! Dari chapter 1 sampe chapter 5 nulisnya di hape, dan entah kenapa aku ngerasa ada yang beda aja gitu dari cara narasi lah, penulisan lah. Gak tau deng ya.
