[ini chapter berapa sih? 7 ya?]
'Maaf…'
Itu kata Jaemin ketika Mark terlihat tidak ingin bicara dengannya lagi hari itu.
Mark merasa bersalah membuat Jaemin jadi harus minta maaf padanya untuk sesuatu yang bukan salahnya. Lagipula, kalau dia pikir lagi, tentang Mark tidak bisa membawa Jaemin melihat-lihat dunia luar juga bukan masalah serius. Itu memang keinginan Mark, tapi Mark sendiri yang merasa dirinya diberatkan. Jadi harusnya Mark yang minta maaf kan? Karena tidak cukup berani untuk dicap sebagai orang aneh demi Jaemin.
Demi Jaemin?
Mark mengerjapkan mata berkali-kali ketika baru tersadar dari lamunannya. Dia merasa aneh dengan kata-kata 'demi Jaemin'. Kenapa dia harus berkorban sampai sebegitunya demi Jaemin, orang yang untuk berminggu-minggu menumpang tinggal di kamarnya?
Mark mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir semua pikiran yang dari tadi sukses membuatnya tidak memperhatikan pelajaran.
Pelajaran? Bukannya sekolahnya sedang libur? Memang. Ini adalah program khusus bagi yang mendaftar untuk pertukaran pelajar; bimbingan.
"Kamu ngapain?" oh, ada yang menepuk pundak Mark. Renjun rupanya. Dia juga mendaftar karena terpengaruh Mark.
"Tidak. Tadi aku melamun."
"Melamun? Kamu akhir-akhir ini selalu begitu."
Mark hanya tertawa pelan. Dia tidak begitu yakin apa yang dimaksud Renjun dengan 'selalu begitu' tapi dia juga tidak terlalu ingin bertanya. Mungkin memang dia akhir-akhir ini sering melamunkan beberapa hal.
Merasa kali ini dia harus benar-benar memerhatikan penjelasan guru, Mark mulai meluruskan pandangan. Tapi dari ekor matanya, Mark bisa melihat kalau Renjun sedang menulis di buku catatan milik Mark.
"Hei, jangan coret-coret bukuku –…."
[Kamu pernah dengar nama Na Jaemin?]
Dia tidak salah lihat? Ada tulisan seperti itu pada pojokan buku tulisnya. Mark yakin itu bukan tulisannya, tapi… tidak. Tidak mungkin Renjun yang menulis. Dia seharusnya tidak pernah mendengar nama Na Jaemin.
Tapi memang Renjun-lah yang menulis. Mark melihat Renjun yang sekarang sedang menanti jawaban dari Mark.
Untuk saat ini, Mark tidak punya pilihan lain selain menggelengkan kepala.
Renjun kemudian terlihat berpikir sebentar sebelum menulis lagi, yang kini lebih panjang. Hampir seperti cerita. Mungkin akan lebih nyaman bagi mereka jika membicarakannya langsung, tapi sepertinya Renjun ingin cepat-cepat cerita dan merasa tidak bisa menunggu sampai kelasnya selesai. Jadilah dia menulis agar dikira sedang mencatat pelajaran.
.
.
Mark pulang sambil membawa dua cup milk tea dari salah satu toko dekat tempat bimbingannya. Dia merasa tidak berhak mendapatkan permintaan maaf dari Jaemin, jadi dia ingin menjadikan oleh-olehnya ini sebagai ungkapan maaf.
"INI APA, HYUNG?!"
Mark sontak menyumpal telinganya mendengar pekikan Jaemin yang baru saja menyeruput minumannya. "Itu… bubble milk tea. Salt cheese… atau apalah itu." Dia tidak begitu ingat namanya. Dia cuma ingat soal ada kata-kata garam… dan keju –meninggalkan kesan tersendiri. "Enak tidak?" Dia sebenarnya tidak yakin minuman dengan garam dan keju di dalamnya akan terasa enak, tapi segerombolan cewek SMP yang mengantre di depannya banyak yang memesan itu, jadi dia juga ikut pesan.
Jaemin mengangguk dengan cepat. "INI BENAR-BENAR ENAK!" katanya sambil terus minum lewat sedotan. Dia tidak menyangka akan mendapatkan minuman seenak itu sebagai minumnya yang pertama.
Mark tersenyum tipis melihat Jaemin yang masih asik dengan minuman yang dia belikan. Dia sebenarnya ingin segera meraih buku soal-soalnya karena guru bimbingannya memberi PR, tapi… kalau teringat dengan kelas bimbingan, dia juga jadi teringat dengan kata-kata Renjun –atau lebih tepatnya, tulisan Renjun di buku catatannya.
Dia tidak terlalu ingin menginterupsi acara minum Jaemin, tapi dia juga tidak bisa menahan rasa-rasa ingin-segera-cerita-nya.
"Jaemin," panggil Mark, meminta atensinya sebentar. Keduanya duduk di lantai. "…tadi, Renjun sempat cerita padaku."
"Cerita? Soal apa?"
"Dia bilang… katanya, dua malam terakhir ini, dia mimpi kalau dia punya teman bernama Na Jaemin…."
Renjun ternyata menuliskan soal dia merasa telah berbicara panjang lebar soal Moomin pada orang yang sebelumnya dia tidak pernah lihat dalam mimpinya. Renjun yakin dia benar-benar belum pernah melihatnya, karena senyuman orang itu seolah dapat bicara dan meminta Renjun untuk tidak pernah lupa –Renjun yakin tidak akan pernah lupa pada senyuman semanis itu jika memang pernah bertemu walaupun sebentar.
[Kalau kamu bingung kenapa aku bicara padamu soal ini, itu karena aku melihatmu ada di sana juga]
Mark tidak menceritakan soal kalimat Renjun yang itu, karena dia merasa tidak perlu. Dia juga sempat ingin bertanya soal apakah dia melihat ada Jeno di sana atau tidak, tapi Mark merasa sudah mendapat jawabannya ketika Jeno yang mengikuti kelas bimbingan di ruangan yang sama tapi duduknya di barisan paling depan itu tidak sengaja bertemu mata dengan Mark dan Renjun –lalu Jeno dan Renjun langsung mengalihkan pandangan, seolah menghindari kontak mata. Mark sih bisa melihat Jeno… he looked somewhat amused, jadi sepertinya Jeno senang karena dapat mimpi di mana dia pacaran dengan Renjun. Tapi bagaimana dengan Renjun? Apa dia senang? Entahlah.
Mark berdeham.
"…jadi, yang ingin aku tanyakan adalah apa tokoh-tokoh yang terlibat di dalam ceritamu ini jadi tahu juga isi ceritanya?" tanya Mark dengan sedikit perasaan waswas karena kalau iya, Mark harus lebih hati-hati dalam memilih orang untuk dijadikan tokoh. Bahkan, dia sekarang sedang sedikit menyesali keputusannya memasukkan Donghyuck ke dalam ceritanya –entah apa yang akan dikatakannya nanti ketika bertemu. Untung anak itu tidak mendaftar di tempat bimbingan yang sama karena terlalu jauh dari rumahnya.
Jaemin masih sibuk dengan minumannya, tapi dia juga terlihat memikirkan pertanyaan Mark. "Entahlah, hyung. Aku tidak tahu." Jaemin menggelengkan kepalanya. "Hyung sendiri bagaimana? Hyung kan juga orang dari dunia sini tapi juga jadi salah satu tokoh di ceritaku. Hyung tidak mimpi bertemu denganku atau semacamnya seperti dalam cerita?"
Mark mengerutkan kening. Dia tipe orang yang tidak dapat mimpi ketika tidur, jadi dia tidak merasa begitu bisa menjadikan dirinya sendiri sebagai tolok ukur. Dia tidak bisa memberikan balasan yang berarti buat Jaemin.
Mereka saling mendiamkan beberapa saat, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mark memperhatikan Jaemin lagi, yang sedang menerawang ke luar dari balik jendela. Tangannya masih setia memegang cup milk tea-nya.
Di saat seperti inilah Mark merasa Jaemin yang berisik adalah yang terbaik. Dia ingin Jaemin lagi-lagi terpental ke sana ke mari hanya karena hal kecil, bukan dengan berdiam-diaman seperti yang dilakukannya sekarang –membuat Mark jadi menebak-nebak isi kepalanya.
Lalu tiba-tiba Jaemin tersenyum. Mark segera melongokkan kepala ke luar jendela, mencari apa yang membuat Jaemin tersenyum. Kucing? Burung? Awan? Atau apa?
"Aku senang mereka tahu soal aku." Jaemin berbisik, entah pada siapa. "Aku tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa dapat ceritaku juga, tapi… aku senang, hyung. Aku senang…—hyung mengerti maksudku?"
Rasanya ada yang menahan Mark agar tidak bisa menggerakkan tubuhnya, baik untuk memperbaiki tempat duduk maupun untuk menjawab pertanyaan Jaemin. Ada yang memberatkannya secara fisik.
Jaemin tidak mendapat jawaban apa-apa dari Mark, tapi dia juga tidak begitu bisa mengira jawaban seperti apa yang Mark punya untuk pertanyaannya yang tidak terlalu berarah itu. Dia kembali menyesap minumannya. Manis. Ada rasa rindu ketika manis itu menyebar dalam mulutnya.
"…aku senang hyung adalah orang yang membuka bukuku." Dia membenahi rambutnya yang tertiup angin. Oh, Mark belum menutup jendelanya setelah melihat-lihat luar tadi.
Bisa saja Mark segera menutup jendelanya supaya angin dingin tidak memasuki kamarnya, tapi dia sedang sibuk menalari perkataan Jaemin. "…kenapa?"
Apa semuanya butuh alasan? Iya, bagi Mark. Dia butuh penjelasan dari kata-kata Jaemin yang bilang kalau dia senang dengan Mark menjadi orang yang membuka bukunya.
"Karena hyung memberiku banyak pengalaman menyenangkan."
Ah, begitu. Mark jadi tidak terlalu bisa mengartikannya jadi apa-apa. Maksudnya, itu bukan sesuatu yang eksklusif yang hanya bisa dilakukan Mark. Siapapun yang membuka buku itu pasti juga bisa menuliskan kejadian yang sama menyenangkannya, atau malah lebih menyenangkan dari itu.
"…kamu pasti akan mengatakan hal yang sama pada siapapun yang membuka buku itu pertama kali –dan orang itu tidak harus aku."
Terdengar sedikit meminta simpati, tapi Mark tahu kalau dia harus lebih jujur tentang perasaannya sendiri. Entah kenapa, dia merasa akan sangat menyesal jika dia tidak mengatakan yang sejujurnya.
Jaemin sempat terdiam sebentar –mencoba menangkap maksud dari kata-kata Mark, lalu dia menyunggingkan senyum geli. "Iya, mungkin saja," katanya. Mark tersenyum kecut. "tapi karena yang pada akhirnya benar-benar membukanya dan yang melanjutkan menulis adalah hyung yang sekarang ada di depanku, jadi aku harus mengatakannya pada siapa lagi? …–Terima kasih sudah menjadi penulis ceritaku."
Jaemin mengatakannya sambil memejamkan mata; dia sedang membaca ulang. Mark ingin bertanya dia sedang membaca ulang bagian yang mana –bagiannya mengobrol dengan Renjun kah? Berdebat dengan Donghyuck kah? Bicara dengan Jeno kah? Atau mungkin sedang tertawa dengan Mark? Yang mana? Mark benar-benar ingin bertanya, tapi melihat mata Jaemin terpejam seperti itu, Mark jadi merasakan sesuatu menggelitik hatinya sampai-sampai dia juga tidak tahu yang mana dulu yang harus dia permasalahkan. Sesuatu dalam dirinya yakin, kalau sepasang mata itu tiba-tiba terbuka detik ini juga, dia pasti akan menjatuhkan semuanya yang ia genggam erat. Perasaannya. Akal sehatnya.
Mulut Jaemin terlihat seakan ingin mengatakan sesuatu –dan itu sempat membuat Mark menegakkan posisi duduknya. Sebuah alunan tawa pelan keluar dari bibirnya. "Hyung, jangan marah ya?"
"Marah? Kenapa?" seharusnya Mark yang bilang begitu, karena siapa tahu Jaemin tidak suka jika dirinya yang sedang menutup mata seperti itu diperhatikan.
"Aku kemarin-kemarin begitu memburu-buruimu untuk cepat menyelesaikan ceritanya, kan? Tapi…." Jaemin perlahan membuka mata. Dia lihat di depannya ada Mark yang terlihat menunggu apa kelanjutan dari kalimatnya. "…aku jadi tidak ingin ceritanya cepat selesai. Aku senang berada di sini. Dengan hyung seperti ini."
Tangannya diulurkan untuk meraih tangan Mark yang diam. Jaemin memainkan jari-jari Mark satu persatu. Ketika tangannya tiba-tiba merasakan tangan Mark membalas menggenggam erat, Jaemin mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Mark yang melihatnya dengan tatapan ragu.
"Kalau begitu, tetaplah di sini," kata Mark, pelan. "Aku tidak keberatan kalau kamu terus tinggal di sini. Di kamarku."
Ragu. Mark merasa ragu hanya untuk berkata demikian. Bisa saja dia salah bicara. Tapi keraguannya serasa hanyut ketika Jaemin memberinya senyuman lebar seakan berterimakasih, lagi.
.
.
TBC
a/n. . udah banyak yang aku ganti dari draft awal huhu jadi ngalor ngidul.
Aku bolak-balik ganti mutusin sebenernya Jaemin itu makhluk apa!1 aku jadi nggak bisa jawab juga huhu ending dan segala macemnya jadi beda sama rencana awal aku bener-bener bingung sekarang
Pokoknya sekarang saya lagi berusaha biar nutupin plothole yang ada!
Tapi.. ini masih ada yang baca kan ya wkwk
