Beberapa hari setelah Mark meminta Jaemin untuk tetap tinggal dengannya, Mark mendapati dirinya kesulitan tidur pada malam hari. Pikirannya melanglang buana tentang bagaimana ke depannya nanti dia akan merasa sangat terbiasa dengan adanya Jaemin di sana –atau bahkan justru karena dia sudah sangat terbiasa, makanya dia memintanya untuk tetap tinggal.
Mark terduduk sambil bersandar pada pintu kamarnya. Jam menunjukkan pukul 4.40 pagi hari. Dia sudah tidur sekitar lima jam.
Dari sisi seberang ruangan, Mark masih bisa melihat Jaemin yang sedang menggunakan tempat tidurnya. Apa Mark perlu menjelaskan kenapa dia bisa terbangun secepat itu? Tentang bagaimana dia kesulitan tidur karena terlalu sadar ada Jaemin tidur di sebelahnya? Tentang bagaimana hembusan halus napas Jaemin adalah yang membangunkannya juga? Sepertinya tidak perlu.
Untuk beberapa hari terakhir, Mark memerhatikan pola tidur Jaemin. Dia merasa butuh menghitung lama tidur yang dibutuhkan Jaemin untuk mengisi ulang tenaganya, mengingat itulah cara 'makan' Jaemin.
Berdasarkan pengamatannya, Jaemin mulai mengantuk pada pukul 7 malam, dan akan terbangun pukul 6 keesokan harinya. Hampir dua belas jam, dan tidur siangnya belum masuk hitungan.
Mark juga akhirnya memikirkan tentang kelanjutan ceritanya. Dia baru menyadari kalau ada begitu banyak kejanggalan dalam ceritanya. Jaemin juga tahu itu, tapi dia bilang pada Mark kalau itu tidak masalah. Jaemin tidak mempermasalahkan itu sama sekali.
Iya, Mark tahu Jaemin pasti akan hanya berkata 'tidak apa-apa' sambil tersenyum. Mark tahu Jaemin itu baik dan maklum padanya. Tapi justru karena Mark tahu, dia jadi makin tidak ingin mengecewakannya.
Mark memutar otaknya, berusaha mencari apapun yang bisa membuat satu bagian dalam ceritanya bisa tersambung dengan padu tanpa meninggalkan detail. Tapi sayang sekali, Mark terus-terusan menemui jalan buntu. Dia terpikir untuk membicarakannya saja langsung dengan Jaemin, nanti, setelah Jaemin bangun. Kira-kira sejam lagi. Mark bisa menunggu sambil mengerjakan buku soal-soalnya.
…
…
Jam sudah menunjukkan pukul 6.30, tapi Jaemin belum juga bangun. Mark berkali-kali melihat jam untuk mengecek waktunya. Yah, memang dia masih kurang yakin dengan perhitungannya soal lama tidur Jaemin, jadi dia tidak memusingkan itu. Apalagi, kemarin Jaemin memang terlalu aktif, jadi sepertinya tidurnya akan jadi lebih lama.
Tok tok
Oh, ada yang mengetuk pintunya. Mark tidak begitu ingat kapan terakhir kali dia mendengar ketukan pada pintu kamarnya sejak dia bilang pada ibunya kalau dia sudah tidak perlu dibangunkan.
Mark tahu dia tidak perlu mempersilakan atau menjawab pada siapapun yang tadi mengetuk karena pasti orang itu akan segera masuk tanpa menunggu dijawab. Ibunya.
"Ibu? Ada apa?" tanya Mark ketika melihat ibunya seakan mencari-cari sesuatu di kamarnya dari ambang pintu. Mark tanpa sadar melirik ke tempat tidurnya yang sekarang masih menjadi tempat Jaemin berbaring.
Ibunya menangkap jelas arah mata Mark. Langkah kaki dibawanya mendekat ke tempat tidur. Napas Mark tertahan ketika ibunya berhenti tepat di sana.
Mark tidak bisa melakukan apa-apa di sana selain menunggu kira-kira apa yang akan dilakukan ibunya selanjutnya. Dia juga jadi tidak begitu yakin apa benar ibunya tidak bisa melihat Jaemin di sana atau tidak. Karena… ibunya jelas-jelas sedang melihat kepala Jaemin!
"Mark...," kata ibunya dengan suara pelan. Tubuhnya masih belum bergerak.
Mark merutuki dirinya sendiri; ibunya bisa melihat Jaemin! Oh, ini salahnya.
"Ibu, ibu. Aku bisa jelaskan…—" dia bangkit dari kursinya, mendekati ibunya. Dia masih berusaha untuk tidak bersuara keras, takut membangunkan Jaemin.
"Ibu… ibu tidak mengerti…," lirihnya seraya menangkupkan kedua tangannya menutupi wajah. Mark makin dibuat panik mendengarnya. Memang seharusnya dia bicarakan saja langsung pada ibunya soal Jaemin dari awal, terlepas dari bisa atau tidaknya ibunya melihat Jaemin –walau kemungkinan terbesarnya adalah ibunya tidak akan percaya.
Mark diam. Dia merasa tidak berhak untuk mengelak lagi. Apapun kata-kata tuduhan dari ibunya, Mark akan terima. Memang itu salahnya.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Mark?"
Kepala Mark terangkat.
"Kamu menyembunyikan sesuatu dari ibu, kan?"
Oh. Iya, iya. Mark menyembunyikan sesuatu, tapi dia kira apa yang dia sembunyikan sudah ketahuan tepat ketika ibunya masuk ke kamarnya.
"Ibu sering mendengarmu bicara sendiri di sini, seolah kamu sedang mengobrol dengan seseorang. Ibu kira kamu sedang kedatangan teman dan tidak bilang-bilang ibu," tutur ibunya, setelah membalikkan badan untuk menatap Mark langsung. "…tapi bahkan sampai malam pun ibu masih dengar! Pintu ibu kunci setelah kamu pulang dari bimbingan, tapi ibu tetap dengar kamu mengobrol malam-malam!"
Ah, benar juga. Kamarnya ini tidak kedap suara –apalagi dia sering mengeraskan suara ketika bicara dengan Jaemin. Tapi yang lebih penting, Mark sekarang percaya pada kata-kata Jaemin soal hanya dialah yang bisa melihat Jaemin –ibunya tadi hanya terbawa curiga. Curiga Mark menyembunyikan seseorang di kamarnya.
Tidak salah, memang.
"Dengan siapa kamu mengobrol? Darimana dan kapan dia masuk ke sini?" ibunya mengucapkan kata 'dia' tanpa tahu kata itu tepatnya merujuk pada siapa. Tentu beliau belum tahu, karena anaknya memang tidak pernah cerita, dan sekarang dia berusaha untuk membuatnya cerita bagaimanapun juga.
Mark berusaha memikirkan jawaban yang kira-kira akan memuaskan ibunya tanpa harus menjelaskan soal Jaemin. Dia pikir lagi, ibunya tidak perlu tahu. Ya, Mark putuskan ibunya tidak perlu tahu soal orang yang sekarang masih tidur di tempat tidurnya…—tidak, dia sudah bangun!
Bisa Mark lihat mata Jaemin sudah terbuka dan melihat ibu Mark yang mulai memegangi pundak Mark –mendorong Mark untuk menjelaskan. Tersirat rasa cemas dari pandangan mata Jaemin. Dia merasa bersalah –kelihatannya dia cukup mengerti dari mendengarkan pembicaraan mereka walau hanya sebagian.
"Ada apa sebenarnya? Kamu mengurung diri di kamar terus, Mark." Ibunya menyeka kening Mark, seakan mengecek suhu tubuh –yang tentu saja tidak hangat. "Ibu… ibu khawatir. Bukankah ibu selalu bilang padamu untuk selalu cerita kalau ada apa-apa?"
Mark hanya bisa mengangguk lemah. Dia juga ingin cerita, dulu, ketika dia kira Jaemin bisa dilihat siapapun. Tapi sekarang beda.
"Kalau begitu ceritakanlah."
Genggaman sang ibu pada pundak anaknya terasa semakin kencang. Mark hampir mengaduh tapi dia lagi-lagi melirik Jaemin yang sekarang sudah terduduk di tempat tidur, tidak tahu harus apa selain melihat Mark sambil berdoa semua akan baik-baik saja. Ah, Mark tidak suka tatapan itu.
Mark membalas tatapan ibunya. "Ibu, maaf. Tapi… kurasa aku stress. Aku takut aku tidak lolos tes pertukaran pelajar."
Perlahan, cengkeraman pada pundak Mark terlepas. Ibunya mulai menatap Mark dengan tatapan yang lebih lembut. Beliau tetap terlihat cemas, tapi berbeda dengan yang tadi. "Kamu… kamu stress?" Mark mengangguk. "Sebenarnya menurut ibu, dengan nilaimu sekarang pasti kamu akan lolos… tapi memang normal kalau bahkan kamu juga takut…."
Selagi ibunya terlihat sedang memikirkan berbagai hal, Mark memakai kesempatan itu untuk melihat ke tempat Jaemin sambil memberi isyarat kalau semuanya baik-baik saja. Entah kenapa, Mark merasa harus melakukan itu. Dia yakin Jaemin pasti sedang memikirkan banyak hal juga, sambil menyalahkan dirinya sendiri.
"Ya sudah," kata ibunya tiba-tiba, setelah dirasanya cukup dengan segala pemikirannya. Mark langsung bersikap seolah tidak melakukan apa-apa. "Ibu rasa, kamu sudah cukup belajar. Libur bimbingan 3 hari cukup untuk istirahat kan?"
"Eh?" Libur? Dia jadi tidak belajar untuk tes?
"Mainlah di luar. Ajak temanmu yang anak ekskul musik itu –siapa namanya? Donghyuck, ya? Main saja dengannya. Ibu tidak mau kamu stress lebih dari ini…."
Mark diam saja ketika ibunya mengusap pelan kepalanya. Iya, ibunya memang selalu begitu. Cepat sekali berubah mood-nya. Beliau juga selalu akan berubah sikap kalau dirasanya ada sesuatu yang aneh pada Mark. Biasanya, ibunya akan selalu mendorongnya untuk pergi bimbingan atau menemui guru pembimbing waktu sedang ditugaskan karya tulis ilmiah, tapi lihat sekarang. Hanya karena Mark bilang kalau dia merasa sudah stress dengan aktivitasnya, ibunya langsung memberi libur begitu saja. Yah, walaupun ibunya langsung percaya dan paranoid seperti itu karena memang beliau sudah mengira yang aneh-aneh dari beberapa waktu terakhir, setelah mendapati anaknya bicara sendiri di kamar.
…
…
Mark memang sedikit merasa senang akhirnya dapat libur dalam artian sebenarnya untuk 3 hari ke depan, tapi jujur saja dia juga tidak merasa tenang karena dia tahu, dia ketinggalan pelajaran di tempat bimbingannya. Dia berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan berpikir Renjun pasti mau meminjamkan catatan dan juga menjelaskan padanya kalau ada yang tidak dia mengerti.
Lalu? Apa yang sedang Mark lakukan sekarang? Bersiap-siap ke luar.
Ibunya memberi libur dengan membuat Mark berjanji hari ini, dia akan menghabiskan waktu di luar, ganti suasana. Beliau percaya itu adalah cara terbaik untuk menyegarkan pikiran, dibandingkan dengan mengurung diri di kamar.
"Hati-hati ya, hyung."
Mark menoleh ke asal suara. Jaemin, yang duduk di sudut ruangan. Kakinya ditekuk lalu dipeluk. Dia tersenyum, tapi Mark bisa tahu kalau itu senyuman yang dibuat-buat.
"Ikutlah, Jaem," kata Mark. Tangannya terlipat di depan dada. "Bosan kan, terus-terusan di sini? Hm?"
Jaemin sedikit terhenyak mendengar ajakan Mark, tapi dia segera menggelengkan kepala tanpa berkata apa-apa. Dia masih teringat pada waktu itu Mark bilang ingin mengajaknya ke luar, tapi langsung terlihat ragu ketika dia tahu orang lain tidak bisa melihat Jaemin –takut dilihat sebagai orang aneh.
Mark tersenyum melihat Jaemin yang menundukkan kepala. Dia tahu persis apa yang sedang dipikirkan Jaemin. "Tenang, aku pakai hands-free. Orang-orang akan mengira aku sedang menelepon."
Entah sebenarnya Mark benar-benar mengira Jaemin tahu apa itu hands-free atau tidak, tapi dia sekarang sudah menarik tangan Jaemin untuk membuatnya berdiri. "Ayo, kita ke luar."
Mark menuruni tangga dengan tangan Jaemin berada dalam genggamannya. Dia sempat bertemu dengan ibunya di ruang TV. Memang Mark sudah menggunakan hands-free-nya, tapi dia tidak ingin mengambil risiko dengan mencoba bicara pada Jaemin ketika ada ibunya di sekitar. Mark hanya berpamitan sekadarnya, sambil bilang dia akan jalan sendirian di sekitar taman dekat sekolahnya.
"Biasanya ada Jeno di sana jam segini." Mark berkata begitu sebagai dalih untuk tidak menjawab dengan pasti apakah dia sudah mengajak teman atau belum –bisa ditebak, ibunya tidak ingin Mark berada seorang diri untuk beberapa saat.
Ketika Mark dan Jaemin sudah keluar pagar dan melewati beberapa gang, itulah saat-saat Mark merasa begitu lega. Napasnya yang daritadi tertahan akhirnya bisa dilepaskan sebebas-bebasnya dengan tanpa beban.
"Jaemin." Mark memanggil Jaemin yang sekarang sudah menolehkan kepala. "Mungkin ini aneh, tapi kamu pernah ke luar sebelumnya? Ketika aku masih di sekolah, apa kamu pernah keluar dari kamar?"
Jaemin menggelengkan kepalanya. Dia sudah bilang kan kalau dia suka sekali suasana kamar Mark? Dia benar-benar betah di sana.
"Kalau begitu, sekarang mau ke mana?" Mark bertanya lagi, tapi dia sepertinya sudah bisa menebak apa yang akan dijawab Jaemin –itu kalau dia menjawab.
Jaemin terlihat sangat senang seraya berkata 'kafe dekat sekolah!'. Dia akhirnya menagih janji Mark untuk membawanya melihat-lihat toko-toko yang kata Mark sangat bagus interiornya dan segala macamnya, yang ada di sepanjang jalan menuju sekolahnya.
Mark tersenyum puas sambil kembali menggandeng tangan Jaemin. Dia sekarang jadi tidak terlalu peduli kalau misalnya ada orang yang menyadari posisi tangannya sebenarnya terlihat sedikit aneh; pokoknya, dia senang akhirnya bisa membawa Jaemin ke luar!
…
…
"Oh, iya hyung."
"Hm?"
"Kenapa tadi tidak bilang saja pada ibumu kalau kamu sedang menelepon malam-malam? Makanya terdengar suaramu yang lagi mengobrol padahal tidak ada orang lain yang masuk ke rumah."
"…iya juga."
.
.
.
TBC
a/n. GAK YAKIN HAHA. Kok ada curhat-curhatannya saya ya di atas wkwk dan haloo pembaca baru~~~ kok bisa nangis sih wkwk kubocorin aja deh endingnya. Endingnya… happy kok. Wkwk. Tapi gatau deh wkwk
