Title : Who Knows?

Author : veectjae

Cast :

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun,

Kim Junsu, Choi Seunghyun, dll (find it your self :p)

Genre : Romance, Drama, Friendship, School life

Pair : YJ

Length : Chaptered

WARNING: B x B. DI CHAPTER INI ADA BAGIAN YANG NYREMPET (?) NC. YANG TIDAK SUKA SILAHKAN KLIK BACK. DON'T LIKE DON'T READ

Preview last chapter

Hari ini adalah pertandingan final basket antara Toho High School dan Dongbang High School. Setelah melewati pertandingan yang sengit, akhirnya Toho High School dapat memenangkan pertandingan basket antar SMA yang paling bergengsi se-Seoul. Untuk merayakan kemenangan Toho, mereka mengadakan after party di Purple Line Bar. Jaejoong yang malam itu ingin tampil special di hadapan Yunho tidak hanya berhasil memukaunya, namun juga teman-temannya.

Mereka menghabiskan malam dengan obrolan-obrolan ringan yang membuat Jaejoong berbunga-bunga. Namun, kegiatan mereka terpotong karen Yunho dipanggil oleh rekan seteamnya. Untuk mengusir kebosanan, Jaejoong mencari Changmin untuk menemaninya. Tapi ia tidak bisa menemukan dan menghubungi Changmin. Tanpa sadar ia menabrak sebuah meja yang ada di depannya. Untungnya ada seseorang yang menolongnya.

Chapter 17

"Gwaenchana, Agassi?"

Mata doe Jaejoong mengerjap pelan, memperhatikan orang yang menolongnya kali ini.

Matanya tajam, namun menatap Jaejoong dengan penuh kekhawatiran. Tubuhnya kekar, bahkan dari luar saja Jaejoong bisa memastikan tubuh laki-laki ini jauh lebih kekar dari Yunho. Baru kali ini ia melihat laki-laki yang ketampanannya ia anggap setara dengan appanya, Yunho, dan Siwon. Yah, Changmin juga, walaupun jika melihat sifatnya, ketampanannya akan berkurang.

"Ah, ne gwenchana. Gamsahamnida sudah membantuku. Tapi, mianhaeyo, saya seorang namja" jawab Jaejoong, ketika ia sudah dapat berdiri dengan benar. Laki-laki itu tampak terkejut.

"Jinjja? Wow. Aku mengiramu seorang yeoja, karena kau begitu cantik. Mianhae" katanya.

"Ne, tidak masalah. Sekali lagi, terimakasih karena sudah membantuku" ucap Jaejoong, sambil tersenyum tulus. Laki-laki itu tampak terkagum dengan senyum manis Jaejoong.

"Ok Taecyeon, pemilik bar ini" Laki-laki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum menawan, mengajak Jaejoong berkenalan.

"Kim Jaejoong imnida" balas Jaejoong, menyambut uluran tangan Taecyeon sambil sedikit membungkuk.

"Kau datang ke sini sendiri?" Tanya Taecyeon sambil bersandar di meja bar di belakangnya.

"Ah, tidak. Aku datang ke sini bersama…. Temanku" Jaejoong sedikit ragu menjawabnya. Apakah Yunho itu kekasihnya? Hingga sekarang, Yunho tak meresmikan hubungan mereka. Dan itu membuat Jaejoong sedikit uring-uringan dan ragu-ragu atas perasaan Yunho. Lagipula, dia datang ke sini bersama Changmin, walaupun untuk menemui Yunho. Tidak salah bukan, kalau ia berkata ia datang bersama temannya?

"Kau murid Toho High School?" dahi Taecyeon menyerengit, mengingat lantai ini dipesan khusus untuk merayakan kemenangan Toho High School.

"Ne, Taecyeon-ssi" Taecyeon mengangguk-angguk, walaupun masih sedikit tidak percaya. Ia memanggil salah satu bartender yang berada di dekatnya, lalu memesan minuman.

"Whoa. Kukira kau sudah setidaknya kuliah" Taecyeon memberikan sebuah gelas berisikan minuman pada Jaejoong. Jaejoong tertawa kecil sembari menerima gelas tersebut.

"Cheers?" Jaejoong tersenyum, lalu mengangkat gelasnya.

"Cheers" mereka berdua tersenyum, lalu meminumnya. Tak butuh waktu lama untuk mendekatkan mereka berdua. Bahkan, Jaejoong sudah melupakan ke khawatirannya atas Changmin.

Taecyeon adalah seorang mahasiswa bisnis di tahun ketiga. Ia membuka bar ini hanya sekedar untuk bersenang-senang dan menghabiskan waktunya. Ia juga seorang pribadi yang hangat dan memiliki banyak bahan obrolan. Taecyeon memiliki pikiran yang terbuka, dan kritis.

Jaejoong merasa sangat cocok dengan Taecyeon. Ia dapat mendiskusikan berbagai hal dengan Taecyeon, bahkan topik-topik berat yang biasanya tak terlalu diminati oleh pemuda seumuran mereka. Tak banyak orang yang dapat menyambung saat berdiskusi masalah seperti ini dengannya. Bahkan Yunho terkadang kesusahan untuk mengimbanginya. Maka dari itu, ia sangat senang bertemu dengan Taecyeon.

.

.

.

Sementara itu, di rooftop Purple Line Bar, Changmin menatap datar seorang laki-laki manis yang mengenakan pakaian pelayan. Ia terlihat gelisah, terlihat dari gesture tubuhnya yang tak bisa diam, sambil memainkan ujung bajunya.

"Apa yang kau inginkan, Jung Changmin? Setelah menarikku seenaknya, kau hanya diam dan memandangiku seperti ini? Aku harus kembali bekerja!" katanya, sambil berusaha tenang. Changmin tetap diam, semakin intens melihat laki-laki itu. Tatapannya tak dapat diartikan. Senang? Lega? Kecewa? Rindu? Entahlah, tak ada yang bisa mengartikannya.

"Ck, aku tidak bisa menghabiskan waktuku yang berharga seperti ini" ujar laki-laki itu, sambil berbalik, hendak kembali bekerja. Belum sampai satu langkah, Changmin dengan sigap menarik tangan yang seputih susu itu.

"Aku takkan membiarkan kau pergi lagi, Kyu" kata Changmin datar namun tegas. Kyuhyun menghempaskan tangannya, lalu membalikkan badannya, dengan mata yang sudah mulai memerah.

"Maumu apa, huh?!" Tanya Kyuhyun sedikit kesal.

"Kamu" jawab Changmin singkat, namun sanggup membuat Kyuhyun membeku di tempatnya. Mereka berdua terdiam sejenak.

"Aku menginginkanmu, Cho Kyuhyun. Aku merindukanmu, sangat. Dan aku takkan melepaskanmu kali ini. Tak akan pernah" ucap Changmin final.

"A-aku…." Kyuhyun terbata saat menjawabnya.

"Apa? Kau ingin mengatakan, kau masih tidak bisa melupakannya, huh? Tidak untuk kali ini! Aku tidak peduli apa jawabanmu. Ini tahun keenamku menunggumu, Kyu. Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku, dan menjadi milikku. Akan kupastikan itu" ucap Changmin sedikit meninggikan intonasinya, sembari menarik Kyuhyun agar lebih mendekat dengannya.

"A-aku tidak bisa, Min… A-aku terlalu mencintainya, aku tak mampu melupakannya begitu saja.." ucap Kyuhyun sambil menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang dapat lolos sewaktu-waktu.

"Kau bukannya tidak bisa, Kyu. Kau tidak pernah mencobanya, aku tahu itu" ujar Changmin melembut.

"Bukankah kau juga sama, Min? Kau juga tidak mencoba untuk melupakanku, kan? Balas Kyuhyun. Changmin menarik wajah Kyuhyun agar mendekat padanya.

"Kau salah, Kyu. Kau salah. Aku mencobanya setiap saat, bahkan hingga saat ini. Sudah banyak yang berusaha membuka hatiku, berusaha untuk menggantikan posisimu di hatiku. Aku pun berusaha membukakan hati untuk mereka. Namun tak ada yang berhasil, Kyu. Dan aku menemukanmu hari ini, aku ingin kembali berusaha untuk mendapatkan hatimu. Kamu masih menguasai hatiku seutuhnya.

Perasaanku tidak pernah berubah sejak 6 tahun lalu, saat aku melihatmu di pohon di halaman panti asuhan. Apa kau mengingatnya? Kau sedang memperhatikan Sungmin Hyung, kan? Aku tahu, Kyu. Dan aku mengalami love at first sight. Aku jatuh cinta dengan mata hazelmu yang berbinar saat melihat Sungmin Hyung. Sejak saat itu aku bertekad untuk membuat mata itu berbinar hanya untukku." Changmin mengelus lembut pipi Kyuhyun yang sudah dibasahi oleh air mata.

"A-aku… tak bisa.. A-aku, aku mencintainya, Min. Sangat… Mengapa ia tak pernah melihatku? Mengapa ia memilih Saeun Nuna, bukan aku? Aku bisa membahagiakannya" Kyuhyun tak kuat menahan tangisannya. Changmin segera menariknya ke dalam pelukannya, mengelus rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan itu. Rasanya sama seperti dulu. Nyaman dan aman. Itu yang Kyuhyun rasakan. Ia juga masih dapat mendengar jantung Changmin yang berdetak kencang. Benar kata Changmin, sama seperti 6 tahun lalu.

Changmin berusaha menenangkan Kyuhyun, walau tak dapat dipungkiri, hatinya sakit melihat sosok yang dicintainya mencintai orang lain, dan menangisi orang itu. Seseorang yang menjadi cinta pertama Kyuhyun, sekaligus seseorang yang menyakiti Kyuhyun untuk pertama kalinya.

"Mengapa tidak kau yang berusaha memalingkan pandanganmu dari orang itu? Dia sudah menikah dengan Saeun Nuna, dan dia sudah bahagia, Kyu. Cinta itu tak harus selalu memiliki. Alihkan pandanganmu, dan kau akan menemukan seseorang yang mencintaimu setulus hati." bisik Changmin yang membuat Kyuhyun semakin terisak.

Ketika ia rasa Kyuhyun sudah tenang, ia melonggarkan sedikit pelukannya dan mengangkat wajah Kyuhyun agar dapat menatapnya.

"Sudah cukup kau menyakiti dirimu sendiri, Kyu. Raih kebahagiaanmu itu. Dan aku akan membantumu meraihnya. Kita cari kebahagiaan itu bersama. Would you?" lidah Kyuhyun kelu saat ingin menjawanya. Changmin tersenyum miris.

"Arra, aku tahu kau tak akan menjawabnya sekarang. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku tak peduli dengan jawabanmu. Aku akan terus berusaha untuk merebut hatimu dari Sungmin Hyung. Aku percaya, akan ada waktunya kau akan menjadi milikku" kata Changmin lembut, lalu mengecup kening Kyuhyun dengan penuh cinta dan kembali memeluknya.

"Aku mencintaimu, Kyu. Dulu, sekarang, dan selamanya"

.

.

.

Yunho bingung mencari Jaejoong. Jaejoong sudah tidak ada di tempatnya. Ia tidak bisa menghubungi Jaejoong karena ponselnya mati. Ia berjalan mengitari seluruh bar, hingga akhirnya ia menemukan Jaejoong di pojok, sedang duduk bersama seorang laki-laki di bar.

Tunggu, ia bersama laki-laki? Mungkin itu Changmin, batin Yunho. Laki-laki itu terlihat meraih tangan Jaejoong dan menggenggamnya. Ia mengecup punggung tangan Jaejoong. Herannya, Jaejoong tertawa lepas melihat kelakuan laki-laki itu. Hati Yunho mendidih melihatnya. Ia tak suka seseorang mengganggu apa yang sudah miliknya. Dan Jaejoong itu miliknya, tidak ada yang boleh menyentuh Jaejoong.

Dengan segera Yunho melangkahkan kakinya menuju mereka berdua. Tangannya mengepal ketika melihat laki-laki itu mengacak pelan rambut Jaejoong. Ia dapat memastikan bukan Changmin yang sedang bersama Jaejoong. Tak sabar, Yunho segera menghampiri laki-laki itu dan memukulnya keras.

"Taecyeon hyung!" pekik Jaejoong. Mereka langsung menjadi pusat perhatian bar itu.

"Huh? Hyung?" sinis Yunho.

"Yak, apa yang kau lakukan?" Jaejoong menatapnya nyalang.

"Siapa dia?" Tanya Yunho dingin.

"Penting untukmu? Setidaknya tidak ada alasan bagimu untuk memukulnya" kata Jaejoong datar namun menusuk. Ia segera membantu Taecyeon yang terjatuh.

"Gwenchanha, hyung?" Tanya Jaejoong khawatir. Taecyeon hanya tersenyum kecil.

"Tak apa. Ini hanya luka kecil" jawab Taecyeon sambil tersenyum pada Jaejoong, yang membuat Yunho memukulnya kembali. Semua orang berteriak pelan.

"Menjauh darinya, Kim Jaejoong" perintahnya dingin.

"Apa urusanmu, hah?" gertak Jaejoong, tak takut.

"KUBILANG MENJAUH!" teriak Yunho sambil menarik Jaejoong. Jaejoong geram, dan tanpa segan-segan ia balik memukul Yunho. Yunho meringis pelan sambil memegangi pinggiran bibirnya yang mulai mengeluarkan darah. Walaupun ia uke, namun Jaejoong tetaplah laki-laki yang memiliki kekuatan. Pukulan Jaejoong tidaklah pelan, mengingat dia dulunya adalah atlet taekwondo.

"Kau kira aku tak bisa memukulmu, huh? Apa urusanmu hingga memukul Taecyeon hyung?" Bukan, ini bukan Yunho yang ia kenal. Yunho memilih diam, dan menariknya menjauh dari kerumunan itu, meninggalkan Taecyeon yang masih meringis kesakitan.

"Siapa dia?" Tanya Yunho lagi setelah mereka berada di sebuah lorong yang cukup sepi. Jaejoong yang tak ingin menjawab, hanya menatapnya dingin.

"Aku membutuhkan jawaban, Kim Jaejoong!" gertak Yunho.

"Ia pemilik bar ini" jawab Jaejoong singkat dan tetap dingin.

"Pemilik bar ini? Kau mengenalnya?" Yunho terus menanyai Jaejoong layaknya polisi yang sedang mengintrogasi seorang buronan.

"Ya, beberapa saat lalu. Aku jatuh dan ia menolongku" Jaejoong berusaha sabar dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh Yunho. Yunho semakin emosi mendengar laki-laki kurang ajar itu menolong Jaejoong. Itu artinya ia menyentuh Jaejoong, bukan? Yunho mendorong Jaejoong ke tembok dan mendekatkan wajahnya. Jaejoong membeku.

"Aku membenci seseorang yang menyentuhmu" ucap Yunho tegas. Ia tak menyadari tubuh Jaejoong yang mulai bergetar.

"Memangnya kau siapaku? Kita bukan sepasang kekasih, Jung Yunho!" Jaejoong memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Yunho menyerngitkan dahinya.

"Tentu kau kekasihku, Jaejoongie. Kau hanya milikku" ucap Yunho posesif, namun kali ini tak membuat Jaejoong berbunga-bunga. Ia semakin ketakutan melihat Yunho sekarang.

"T-tapi kau tidak pernah menanyakan apakah aku mau jadi kekasihmu. Kau hanya mengucapkan kata cinta, namun tidak meresmikan hubungan kita. Aku mulai bertanya-tanya, hubungan apa yang kita miliki? Apakah benar kau mencintaiku? Aku meragukan itu semua, Yun" ucapan Jaejoong semakin melirih. Namun, ia tetap berusaha berbicara dengan Yunho. Yunho terlihat kesal karena Jaejoong meragukan perasaannya. Tentu, ia sangat mencintai Jaejoong. Bukankah ia sudah sering mengungkapkannya?

Yunho semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Jaejoong. Refleks Jaejoong memundurkan badannya sehingga menghimpit tembok. Yunho menaruh kedua tangannya di samping kepala Jaejoong.

"Kau milikku seorang, Jaejoongie. Kim Jaejoong hanya milik Jung Yunho, selamanya" bisik Yunho di telinga Jaejoong yang sensitive sembari mengecupnya pelan. Jaejoong bergidik. Kilasan-kilasan kejadian mengerikan yang ia alami di masa lalu bermunculan di benaknya. Ketika Yunho mulai mendekatkan wajahnya, Jaejoong spontan bertanya dengan ketakutan.

"Apa yang akan kau lakukan?" Sayangnya, Yunho tak menyadari ada ketakutan di dalam ucapan Jaejoong. Ia hanya menyeringai tipis, lalu melumat bibir merah Jaejoong dengan kasar.

.

.

.

Changmin mengantarkan Kyuhyun kembali bekerja, setelah membiarkan laki-laki manis itu menangis sampai puas dalam dekapannya. Namun, saat mereka masuk ke dalam bar, mereka melihat kerumunan yang baru saja bubar. Semua orang terlihat berbisik satu sama lain, seperti sedang membicarakan sesuatu.

"Omo, Taecyeon hyung!" pekik Kyuhyun, lalu segera menghambur ke arah Taecyeon yang masih kesakitan itu. Changmin menoleh, lalu segera mengikuti Kyuhyun.

"Hyung! Gwenchana? Mengapa wajahmu babak belur seperti ini?" Tanya Kyuhyun panik.

"Yah, hanya sedikit sakit. Bisa kau mintakan es pada Junho?" pinta Taecyeon, dan Kyuhyun segera memanggil salah satu bartender yang bernama Junho untuk membawakan es.

"Aigoooo mengapa bisa seperti ini hyung?" Tanya Kyuhyun.

"Aku berkenalan dengan seorang namja cantik. Lalu seorang laki-laki datang dan memukulku begitu saja. Sepertinya kekasihnya" jelas Taecyeon.

"Hyung ini, selalu saja seperti itu. Kalau cantik sedikit, langsung diajak berkenalan" Tanya Kyuhyun, sembari menempelkan es itu ke luka-luka lebam Taecyeon. Changmin merasa sedikit tidak suka dengan perhatian Kyuhyun pada Taecyeon. Berbagai pertanyaan berkecamuk di benaknya. Siapa Taecyeon ini? Mengapa Kyu bisa sangat perhatian padanya? Apa mereka sudah lama saling mengenal?

"Awww, slow down, Kyu. Kau menyakitiku" gerutu Taecyeon.

"Siapa namanya?" Tanya Kyuhyun lagi.

"Siapa? Yang kuajak berkenalan, atau memukulku?" Taecyeon balik bertanya.

"Dua-duanya" jawab Kyuhyun sambil tetap mengobati luka lebam Taecyeon dengan telaten.

"Oh. Yang kuajak berkenalan Kim Jaejoong, sedangkan yang memukulku… Aku tidak yakin, namun aku mendengar mereka berbisik 'Jung Yunho, Jung Yunho' seperti itu" jawab Taecyeon sambil menunjuk sekumpulan siswa Toho High School. Changmin membulatkan matanya.

"Mwo? Siapa tadi kau bilang?" Tanya Changmin tak percaya.

"Kim Jaejoong dan Jung Yunho. Wae?" Changmin meneguk ludahnya kasar.

"Di mana mereka sekarang?" Tanya Changmin berusaha tenang.

"Wae, Min?" Tanya Kyuhyun bingung, namun tak dijawab oleh Changmin.

"Kulihat Jung Yunho itu menarik Jaejoong ke arah lorong yang ada di pojok itu" jawab Taecyeon. Tanpa menunggu lama, Changmi segera berlari meninggalkan mereka berdua. Persetan dengan semuanya, kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jaejoong Hyung-nya, ia takkan segan-segan menghabisi Yunho, tak peduli dengan hubungan mereka yang mulai membaik.

"Siapa dia, Kyu? Mengapa ia terlihat begitu khawatir" Tanya Taecyeon.

"Teman lama. Molla, aku juga baru bertemunya sekarang setelah sekian lama" Taecyeon mengangguk-angguk kecil. Kyuhyun kembali mengurus luka-luka Taecyeon, namun ia terus memikirkan siapa Kim Jaejoong dan Jung Yunho itu, hingga Changmin terlihat sangat khawatir.

.

.

.

Yunho terus mencium Jaejoong dengan kasar. Ia menggigit bibir bawah Jaejoong, memaksa agar Jaejoong membukakan mulut untuknya. Jaejoong sendiri sudah gemetaran. Tangannya lemas, badannya terus meronta, berusaha melepaskan diri dari Yunho. Namun tangan kekar Yunho yang mencengkram kuat kedua lenganya membuatnya kesusahan. Potongan-potongan kejadian itu bermunculan satu persatu di benaknya.

"Ikut aku, b*tch!"

"Lepaskan aku!"

"Takkan begitu saja, cantik. Kau milikku malam ini!"

"Kurang ajar kamu! Ku kira kita berteman! Cepat lepaskan aku!"

"Sudah kubilang, kau milikku malam ini! Aku sudah berusaha 5 bulan lebih untuk menyeretmu ke ranjang, dan malam ini aku sudah tidak sabar untuk menikmatimu. Apakah rasanya senikmat yang diucapkan oleh orang-orang, eh? Sudah berapa orang yang kau layani?"

"AKU TAK PERNAH TIDUR DENGAN SIAPAPUN! LEPASKAN AKU, BRENGSEK! JAUHKAN TANGAN HINAMU DARIKU!"

Jaejoong benar-benar sudah lemas. Ia tak menyangka, hal ini akan terulang kembali di hidupnya, bahkan kali ini dengan seseorang yang sangat ia cintai. Ya, Jaejoong mencintai Yunho sepenuh hati. Ia tahu, mau meronta pun Yunho takkan mungkin melepaskannya. Ia hanya bisa berharap akan ada seseorang yang menolongnya. Atau, berharap Yunho segera sadar dan menghentikan semua ini, walau sepertinya tidak mungkin.

Tangan Yunho sudah mulai menyusup di balik sweeter tipis Jaejoong. Ia dapat merasakan darah yang berada di bibir Yunho, hasil dari ia memukul Yunho tapi. Air mata mengalir dari kedua mata rusanya, dan badannya semakin bergetar hebat. Yunho yang sudah dibutakan oleh emosi tidak menyadari itu.

Baru saja Yunho mau menyobek sweeter Jaejoong, ia merasa seseorang menarik kerah bajunya dengan kasar, menjatuhkannya ke lantai, dan menghantam wajahnya sangat keras. Yunho mengaduh kesakitan. Ia hendak membalas memukul kepada seseorang yang 'mengganggu' kesenangannya, namun sebelum ia mengangkat tangannya, ia kembali menerima sebuah pukulan, kali ini lebih keras.

Yunho berusaha melihat siapa yang berani-beraninya mencampuri urusannya. Ia dapat melihat seorang Jung Changmin berdiri di depannya dengan mata merah dan tangan terkepal kuat.

"Apa yang kau lakukan, hah?! Apa yang kau lakukan pada Joongie Hyung-ku?!" teriaknya emosi. Ia kembali melayangkan sebuah bogem mentah, kali ini di perut Yunho.

"Sudah kubilang bukan, jangan pernah berpikir untuk menyakitinya! Kau tak tahu apa-apa tentangnya, brengsek! Kau tak berhak mendampinginya!" teriaknya lagi.

"Apa urusanmu, Jung Changmin? Berusaha menjadi pahlawan, huh?" Yunho berusaha berdiri sambil meremehkan Changmin. Changmin yang masih emosi menendang perut Yunho kuat-kuat, hingga ia menabrak tembok di belakangnya. Kepalanya terasa sedikit pusing. Changmin mencengkram kerah bajunya kasar.

"Ini belum seberapa atas apa yang telah kau lakukan pada Joongie Hyung. Jangan pernah berpikir untuk mendekatinya lagi, jika kau hanya menyakitinya seperti ini" ujar Changmin dingin dan tajam. Ia melepaskan cengkramannya, dan segera menghampiri Jaejoong yang sedang terduduk di pojok ruangan.

"Hyung-ie! Gwenchana?" Tanya Changmin panik, sambil mengecek keadaan tubuh Jaejoong. Jaejoong hanya memandangnya dengan tatapan kosong.

"Mian hyung, aku lagi-lagi telat menolongmu. Tidak seharusnya aku meninggalkanmu dengan bajingan itu. Mian, hyung, mian" ujar Changmin dengan suara bergetar, dan memeluk Jaejoong erat-erat. Jaejoong tidak membalas memelukya, tapi Changmin dapat memastikan bahwa sesuatu yang membasahi bahunya adalah air mata Jaejoong. Ia semakin erat memeluk Jaejoong, terisak pelan di ceruk leher hyung kesayangannya. Ia merasa gagal melindungi Jaejoong. Ia sudah berjanji untuk selalu melindungi Jaejoong apapun keadaannya sejak saat 'itu', namun apa? Ia membiarkan Jaejoong mengalaminya untuk kedua kali, bahkan kali ini dengan seseorang yang sangat ia cintai. Changmin tak bisa membayangkan betapa sakitnya Jaejoong saat ini.

"Kita pulang ya?" Tanya Changmin pelan, setelah terdiam beberapa saat. Ia mengelus bibir merah Jaejoong yang bengkak karena ulah Yunho. Sungguh, jika membunuh itu tidak dilarang, orang pertama yang akan ia bunuh adalah Jung Yunho. Jaejoong tidak mengangguk namun juga tidak menggeleng. Changmin mendesah pelan, melihat tatapan Jaejoong yang kosong. Sama seperti dua tahun yang lalu.

Akhirnya ia mengangkat tubuh Jaejoong yang ringan, dan menggendongnya seperti pengantin baru. Sebelumnya, Changmin melepaskan jaket yang ia pakai, dan memakaikannya pada Jaejoong. Sesaat sebelum ia melangkahkan kaki keluar, ia menghampiri Yunho yang masih kesakitan.

"Berpikirlah dulu sebelum menyakitinya, karena yang akan kau hadapi itu aku" ucapnya tegas, lalu meninggalkan Yunho sendirian. Yunho menatap Changmin dan Jaejoong yang mulai menjauh. Seakan tersadar akan apa yang telah ia lakukan, ia mengacak rambutnya kasar. Ia mengerang dalam hati.

"Apa yang telah aku lakukan? Aku menyakitinya? Bodoh"

.

.

.

Changmin dengan sedikit kesusahan membuka pintu, dan mendudukkan Jaejoong di kursi depan. Untung sekali hari ini ia membawa mobil. Dengan segera, ia masuk ke dalam mobil, dan mengendarainya menuju apartemennya. Ia mengambil ponselnya, lalu menelfon Heechul Ahjumma.

"Ahjumma, ini Changmin. Jaejoong Hyung sedang bersamaku, bolehkah ia menginap di rumahku?"

"….."

"Aku hanya ingin bercerita-cerita saja padanya, sudah lama aku tidak bercerita tentang banyak hal pada Jaejoong hyung"

"…."

"Arraseo,ahjumma! Gomawoyo"

Changmin menutup telfonnya, lalu menoleh ke arah Jaejoong yang sedang memandang jalanan dengan tatapan kosong. Ia tersenyum miris, melihat hyung kesayangannya seperti itu. Persetan dengan hubungannya dan Yunho yang sudah mulai membaik, jika Yunho menyakiti Jaejoong, maka ia sudah berurusan dengan seorang Jung Changmin.

"Kali ini aku tak akan membiarkan siapapun menyakitimu hyung"

.

.

.

Sementara itu, seseorang menatap mobil yang baru meninggalkan Purple Line Bar dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.

"Siapa namja cantik itu? Mengapa Changmin segitu perhatiannya pada dia?" Tanya Kyuhyun, orang itu dalam hati. Ia meraba dadanya, lalu bergumam lirih.

"Mengapa rasanya sesak di sini?"

.

.

.

TBC

Update setelah 3 bulan~!

Maaf ya buat readers yang nungguin FF ini :(

Entah kenapa setiap ada waktu buat nulis FF ini, idenya stuck gitu, gadapet feelnya

Untung liburan ini bisa ngelanjutin, walaupun cuma satu chapter~ :')

Veect ga janji bisa fast update seperti biasanya, karena hingga sekitar bulan Mei nanti Veect memutuskan untuk semi-hiatus ((focus UN :'))

.

Anw, ratednya Veect naikin ke M. Gaada part NC-nya kok, cuma biar aman aja, karena nyrempet-nyrempet gituhh (?)

Tuh yang minta Kyu buat nemenin Changmin, udah muncul tuh~

Dan mulai dari chapter ini, satu persatu rahasia akan terbongkar. Dari masa lalunya Jaejoong dan Changmin. Penasaran ga? ((:

Oh iya, Veect punya project FF baru! FF remake dari novelnya Evline Kartika, Separuh Bintang. Hanya FF ringan yang Veect gunakan sebagai selingan :) boleh dong, dibaca kkk~

.

Igotyvnjae : kalo Jae dibikin agak ganjen, nanti jatuhnya kayak Youngwoon dong ((: yap, trimakasih usulannya! Ratednya sudah kutingkatin ke M~ gomawo ^^

.

Btw curhat dikit boleh ya(?)

Belakangan ini, Cassie rame karena masalah warna sama fandom dan boyband sebelah~

Veect bukannya gasuka warnanya samaan ((karena menurut veect warnanya 'agak' beda. Agak)). Tapi…. Sakit hati aja lihat kata-kata mereka, yang jelek-jelekin oppars… They dunno nothing about them, about us :"""))

Buat temen-temen yang belum sign petisinya, ikut tanda tangan yuk…. We'll show to the world, who are we :)

Terus Junsu! Veect ganyangka yang pertama kali go public tentang hubungannya itu Junsu xD sama Hani pula~ *w* Kayaknya jiwa mereka ketuker tapi (?)

Veect kira semua Cassie sudah cukup dewasa lah ya, buat mendukung hubungan mereka. Kalo prinsip veect sih, selama mereka bahagia, kita juga harus bahagia. Kita sebagai fans cuma bisa support yang terbaik buat mereka, ka? :)

Lagian mereka keliatan lucu~ Apalagi dari cerita-ceritanya tentang cara mereka ngedate~ Gemes sendiri Yunjae kapan nih go public (?) :')

Gitu aja sesi curhat kali ini (?)

Pokoknya #RedisTVXQ dan chukkae Junchannnnnnn *emot lope lope*

.

Thankyou for reading!

Buat temen-temen yang mau kenalan, tanya-tanya, ngobrol, nggosip (?), ngabsurd (?), atau apapun itu lah, boleh contact veect ke :

Line : victingrid

: victingrid

Twitter : princelfss

Veect ga gigit kok, jangan takut kenalan kkk~ Siapa tau kita berjodoh (?)

That's all!

Review, please? :)