Title : Who Knows?
Author : veectjae
Cast :
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun,
Kim Junsu, Choi Seunghyun, dll (find it your self :p)
Genre : Romance, Drama, Friendship, School life
Pair : YJ
Length : Chaptered
WARNING: B x B
DON'T LIKE DON'T READ
Preview last chapter
Peristiwa jatuhnya Jaejoong membawanya berkenalan dengan pemilik bar yang sedang ia singgahi ini. Tak disangkanya, Jung Yunho begitu cemburu ketika melihatnya sedang bercengkrama dengan Taecyeon, si pemilik bar. Yunho memukul Taecyeon dengan penuh emosi. Jaejoong tentunya tidak suka dengan sikap Yunho yang menurutnya sangat berlebihan dan kekanak-kanakan. Yunho yang masih emosi menarik Jaejoong menjauh.
Sementara itu, Changmin bertemu dengan cinta pertamanya yang sudah lama menghilang. Ia menarik Cho Kyuhyun, cinta pertamanya yang sekarang menjadi pelayan di Purple Line Bar ini ke rooftop. Ia sama sekali tidak tahu bahwa di bawah sedang terjadi keributan, yang melibatkan hyungnya tercinta dan hyung kandungnya.
Changmin begitu panik ketika mengetahui Jaejoong bertengkar dengan Yunho. Ia segera mencari Jaejoong, dan mendapati Yunho sedang mencium kasar Jaejoong yang berusaha melawan Yunho. Segera saja, Changmin memberikan bogem mentah pada hyungnya itu dan membawa pergi Jaejoong yang sedang ketakutan.
.
.
.
Chapter 18
Changmin merebahkan Jaejoong di kasurnya, lalu bersimpuh di sampingnya. Jaejoong tertidur saat di mobilnya. Hatinya terasa sakit saat melihat bekas air mata yang sudah kering di pipi namja cantik yang sangat ia sayang itu. Tak terasa, air matanya kembali menetes sambil menggenggam tangan Jaejoong.
Jaejoong memang memiliki peran besar dalam hidup Changmin. Jaejoong lah orang yang selalu berada di samping Changmin. Jaejoong lah yang bisa mengembalikan senyum Changmin. Jaejoong lah yang selalu memotivasinya untuk bangkit. Jaejoong lah yang dapat menahan emosinya. Intinya, Jaejoong adalah segalanya bagi Changmin.
Jika ada yang bertanya kepada Changmin siapa orang yang paling ia sayang, tanpa pikir panjang ia akan menjawab Jaejoong. Bukan eommanya, bukan appanya, bukan hyungnya. Katakan ia durhaka, namun memang seperti itu kenyataannya. Jaejoong bisa memahaminya lebih dari keluarganya memahaminya. Ia menyayangi Jaejoong lebih dari apapun. Tak heran jika ia selalu ingin melindungi Jaejoong. Dan kali ini, ia gagal. Untuk yang kedua kalinya. Lebih-lebih, dalam hal yang sama.
Changmin masih menangis dalam diam, sambil menatap wajah Jaejoong sendu. Ia meraih tangan Jaejoong yang sepucat pualam, lalu menggenggamnya perlahan. Ia menundukkan kepalanya sambil tetap menangis. Penyesalan mulai menggerogoti hatinya. Tak seharusnya ia meninggalkan Jaejoong tadi. Tak seharusnya ia menarik Kyuhyun ke atap, dan membuat Jaejoong bertemu dengan Taecyeon. Tak seharusnya ia mengingkari janjinya untuk melindungi Jaejoong, untuk kedua kalinya.
"Mianhae, hyung. Jeongmal mianhae"
.
.
.
Jaejoong bangun dari tidurnya, lalu mengerjapkan matanya ketika menyadari ini bukan kamarnya. Ia memegang kepalanya yang terasa pening, berusaha berpikir mengapa ia tidak berada di kamarnya. Sesaat, sekelebat bayangan kejadian semalam muncul di benaknya. Ia dan Yunho. Apakah mungkin?
Sontak, ia membuka selimutnya. Sungguh, ia bernafas lega ketika mendapati pakaian yang ia kenakan semalam masih menempel di tubuhnya dengan lengkap. Lalu, di kamar siapa ia sekarang?
Jaejoong menoleh ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Dilihatnya Changmin sedang masuk ke kamar yang ia tempati ini, sambil membawa sebaskom air es. Disimpulkannya, sekarang ia sedang berada di apartemen, lebih tepatnya kamar Changmin. Apakah semalam Changmin yang membawanya pergi? Lalu... Yunho?
"Kau sudah bangun, hyung?" suara Changmin menyadarkan Jaejoong. Ia tidak menyahut, ia hanya memperhatikan Changmin yang menaruh baskom itu di meja. Entah mengapa, lidahnya serasa kelu. Hatinya tidak menginginkannya untuk berbicara sekarang. Changmin menghela nafas, lalu mendorong pelan bahu Jaejoong.
"Tidurlah lagi, hyung. Badanmu masih panas, walau tidak sepanas semalam" ucap Changmin. Jaejoong hanya menurut, lalu merebahkan kembali badannya. Ia bergerak sedikit, mencari posisi yang nyaman untuk beristirahat. Jaejoong memejamkan matanya kembali saat merasakan kompres dingin di dahinya. Changmin memperhatikan hyungnya itu.
"Hyung... mianhae..." lirih Changmin, sambil menahan tangisannya yang dapat meledak kapanpun. Jaejoong membuka matanya, lalu sedikit menoleh ke arah Changmin yang masih memegangi kompresnya. Jaejoong menggeleng perlahan, seolah mengatakan bahwa itu bukan salahnya. Ya, itu memang bukan salah Changmin, kan?
"Ania... Seharusnya aku tidak meninggalkanmu waktu itu. Kalau saja aku tetap di sampingmu, dia tidak akan melakukan apapun karena aku pasti akan mencegahnya. Hyung pasti akan baik-baik saja, trauma sialan itu tidak akan muncul kembali, hyung tidak perlu ketakutan seperti semalam. Lagi-lagi aku terlambat, hyung. Padahal aku sudah berjanji selalu menjagamu, terutama setelah kejadian itu. Aku egois, aku-"
Sebelum Changmin dapat menyelesaikan ucapannya, Jaejoong bangun dan menangkup wajah Changmin dan menatap mata bambinya. Jaejoong tersenyum kecil, lalu menggeleng.
"Bukan salahmu" ucapnya pelan. Pertahanan Changmin runtuh. Tangisnya meledak di dada Jaejoong. Ia benar-benar merasa bersalah. Ia tidak bisa menepati janjinya sebagai seorang laki-laki sejati. Apalagi, waktu itu ia dengan egoisnya menemui Kyuhyun. Yah, walaupun itu sebenarnya pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun setelah sekian lama. Namun, seharusnya ia bisa menempatkan diri. Ia akui, sesungguhnya kemarin bukan waktu yang tepat untuk menemui cinta pertamanya itu. Setidaknya, itu menurut Changmin.
Jaejoong menepuk-nepuk pelan punggung Changmin, menenangkan laki-laki yang sudah ia anggap adik itu. Walaupun, sebenarnya pikirannya melayang ke waktu itu. Ketika ia memiliki banyak teman, sekaligus musuh. Ketika ia masih terlalu polos untuk mengerti betapa kejamnya dunia ini. Malam itu, yang setia menghantuinya hingga sekarang, terutama saat ini.
Tubuh Jaejoong bergetar. Rasa takut kembali menguasai hatinya. Changmin yang merasakan tangan Jaejoong yang bergetar di punggungnya, mendongak. Ia terkejut sekaligus takut melihat Jaejoong sedang memejamkan matanya erat-erat, sembari sesekali menggeleng kuat-kuat.
"Hyung! Gwenchana?" tanya Changmin panik, lalu menarih kedua tangan Jaejoong dan menggenggamnya erat. Jaejoong berusaha untuk mengendalikan rasa takut itu. Setidaknya, untuk saat ini. Ia membuka, lalu menutup matanya kembali sembari menghela nafas dalam. Ia melakukan hal itu berulang-ulang, untuk menenangkan dirinya.
"Yunho... Otte?" tanya Jaejoong pelan, sedikit ragu. Rahang Changmin mengeras ketika Jaejoong menanyakan keadaan hyung kandungnya. Apa yang sudah dilakukan semalam, tidak akan pernah Changmin maafkan begitu saja.
"Untuk apa hyung menanyakan si brengsek itu?" tanya Changmin penuh emosi.
"Dia hyungmu, Chwang"
"Hyungku bukan seorang monster!" Jaejoong hanya terdiam mendengar jawaban Changmin. Ia lagi-lagi menghela nafas. Mereka berdua larut dalam keheningan.
"Dia akan baik-baik saja, kalau hyung ingin tahu. Paling-paling juga tubuhnya hanya lebam. Tidak sampai membuat trauma atau luka hati yang sangat susah untuk disembuhkan, bahkan bisa membunuhmu perlahan" ucap Changmin akhirnya, sarkastik. Jaejoong hanya diam mendengarnya. Giliran Changmin yang menghela nafas.
"Sepertinya akan lebih baik jika hyung menginap di apartemenku untuk beberapa hari ini. Biar aku yang meminta ijin pada Heechul Ahjumma. Dan besok hyung tidak usah masuk sekolah dulu." Jaejoong hanya mengangguk pelan. Lagi-lagi mereka berdua terdiam.
"Ternyata... Yunho tidak ada bedanya dengan namja-namja itu, Chwang" ucap Jaejoong lirih, memecah keheningan yang mencekam. Tak bisa ia pungkiri, ia kecewa dengan Yunho. Sangat kecewa. Ia kira, Yunho bisa mengusir bayang-bayang itu dari benaknya. Namun, justru kini Yunho yang membawanya ke permukaan. Membuat Jaejoong semakin susah untuk menghapusnya.
"Aku terlalu naif, menganggap ucapannya serius. Seharusnya aku sadar, semua ucapan manis dan perlakuan lembutnya itu hanya salah satu caranya untuk mendapatkanku. Setelah itu, ia akan membuangku. Hanya karena nafsu, Chwang..." tubuh Jaejoong kembali bergetar. Ia tertawa miris. Matanya tak dapat berbohong. Setetes air mata jatuh dari mata indah itu. Mata yang biasanya memancarkan kehangatan. Sekarang hanya ada kekecewaan dan ketakutan yang ada di mata itu.
Changmin menghela nafas, sebelum merengkuh Jaejoong dalam pelukannya. Jaejoong mulai terisak dalam pelukannya. Changmin menepuk perlahan punggung Jaejoong sembari berkata,
"Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih lega, hyung..." Changmin mengeratkan pelukannya ketika merasa tangisan Jaejoong semakin menjadi. Kepalanya mendongak, menatap langit-langit kamar apartemennya. Ia mengedipkan matanya yang terasa panas, lagi.
"Apa aku salah, Chwang?"
"Aku hanya ingin dicintai dengan tulus... Apa aku salah?"
.
.
.
Keesokan harinya, Changmin berjalan di koridor kelas. Langkahnya terhenti ketika Yunho berdiri tepat di depannya.
"Di mana Jaejoong?" ujar Yunho cepat. Changmin hanya menatap Yunho datar, lalu bergeser sedikit dan meneruskan langkahnya. Yunho menggeram kesal, lalu menarik lengan Changmin.
"Bagaimana bisa kau bersikap tidak sopan dengan hyungmu sendiri?" Changmin menyentakkan tangannya lalu menatap Yunho tajam.
"Aku tidak ingin berurusan dengan orang yang telah menyakiti Jaejoong hyung-ku" jawab Changmin dingin, sambil menekankan pada kata 'ku'.
"Dia kekasihku! Aku berhak mengetahui keadaannya!" teriak Yunho emosi. Teriakannya membuat beberapa siswa-siswi mulai berkerumun di sekeliling mereka, sambil bertanya-tanya ada apa dengan kedua prince mereka. Setahu mereka, Yunho dan Changmin tidak saling mengenal. Mereka belum tahu bahwa Yunho dan Changmin adalah kakak adik. Changmin tertawa sinis sebelum berkata,
"Jaejoong hyung tidak pernah menjadi kekasihmu, hyung. Apa kau lupa, kau tidak pernah memintanya untuk menjadi kekasihmu?" Yunho terdiam. Memang ia tidak pernah meminta Jaejoong untuk menjadi kekasihnya secara resmi, namun bukankah semua ungkapan cintanya pada Jaejoong sudah cukup? Seakan bisa membaca pikiran, Changmin berkata lagi.
"Status dalam sebuah hubungan itu penting, hyung. Yaaa, jika kau tidak ingin 'kekasihmu' itu direbut orang lain" ucapnya santai, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Changmin menoleh, melihat sekelilingnya sudah banyak orang yang ingin tahu tentang apa yang mereka bicarakan.
"Jangan berlagak sok pahlawan, Jung Changmin" ucap Yunho dingin. Changmin tertawa keras.
"Sok pahlawan, huh? Kenyataannya pun aku memang pahlawan bagi Jaejoong hyung" sahut Changmin santai, walaupun sesungguhnya ia berusaha menahan emosi kuat-kuat.
"Justru kau yang tidak usah berlagak tahu semua tentang Jaejoong hyung. Masih banyak hal tentang Jaejoong hyung tidak kau ketahui" lanjutnya.
"Sudah cukup selama ini Jaejoong hyung menderita. Kristal bening itu tak boleh jatuh lagi dari mata indahnya" Ia berjalan mendekati Yunho, lalu berhenti tepat di sampingnya.
"Jangan harap kau bisa bertemu Jaejoong hyung setelah apa yang kau lakukan malam itu, Yunho-ssi" Changmin meneruskan langkahnya, meninggalkan Yunho yang membeku di tempat. Yunho mengerang kesal, lalu mengacak rambutnya.
'Apa yang sudah ku lakukan?'
.
.
.
Jaejoong terbangun ketika sinar matahari mulai memasuki kamar yang ia tempati. Ia menoleh ke meja nakas di sampingnya, dan menemukan sebuah note berwarna merah.
'Jaejoong hyung, aku berangkat ke sekolah. Maaf aku tidak menyiapkan sarapan untukmu, hyung tahu sendiri seperti apa kemampuan memasakku kkk~~
Tapi tenang saja, di kulkasku ada banyak bahan masakan yang bisa kau olah! ^^
Jangan pergi kemana-mana sebelum aku pulang! Beristirahatlah dulu, keadaanmu belum begitu stabil. Jangan membuatku terpaksa memanggil dokter, aku masih mengingat betapa hyung membenci para dokter itu. Jangan bukakan pintu untuk sembarang orang! Oh ya, jangan lupa meminum obatmu setelah makan! Obatnya sudah ku taruh di meja makan.
Aku akan segera pulang setelah sekolah berakhir. Saranghae Jaejae hyung~
- adikmu yang paling tampan, Jung Changmin ^^'
Jaejoong terkekeh pelan membaca note itu.
"Baboya, kau kira aku anak kecil?" sungut Jaejoong namun tetap terkekeh geli. Ia segera bangkit dari tidurnya, dan merapikan kasurnya. Setelah itu ia segera mandi.
Seusai mandi, ia melangkah menuju dapur apartemen Changmin dengan baju yang sedikit kebesaran. Yah, karena ia menginap dengan tiba-tiba, ia tidak memiliki baju ganti. Jadi, terpaksanya ia meminjam baju milik Changmin terlebih dahulu. Mungkin nanti sore ia akan meminta Changmin untuk menemaninya berbelanja.
Tidak mungkin bila ia pulang ke rumah untuk mengambil baju. Yang ada, ia pasti akan diintrogasi oleh eomma dan adik kembarnya itu. Ia belum siap untuk bercerita sekarang. Dan mungkin ia tidak akan menceritakan kejadian sesungguhnya, seperti ia tidak pernah menceritakan kejadian beberapa tahun silam. Cukup Changmin yang mengetahuinya.
Jaejoong menghela nafas ketika ia selesai mengeluarkan bahan-bahan yang akan dimasaknya. Ia mencoba untuk tersenyum. Mungkin, ia memang salah karena terlalu banyak berharap pada Yunho.
"Show must go on, right?" gumamnya.
Ia tidak ingin terlihat lemah, hanya karena seorang Jung Yunho yang telah menyakitinya. Jaejoong tetap harus menjalani hidupnya seperti biasa, seakan kejadian itu tidak pernah terjadi.
Ia harus berusaha agar semuanya terlihat baik-baik saja.
Ia harus berusaha agar semuanya tampak normal seperti biasa.
Ia harus berusaha agar semuanya seakan tidak ada yang berubah.
Ia tidak akan membiarkan orang lain melihat betapa dalamnya lukanya.
Cukup ia sendiri yang merasakannya. Cukup ia tutupi luka itu dengan perban, tanpa berusaha untuk mengobatinya.
Ia hanya harus menghindari Yunho untuk sementara waktu, dan semuanya akan menjadi seperti semula.
Ya, setidaknya itu yang Jaejoong pikirkan.
.
.
.
TBC
HUWEEE AKHIRNYA UPDATEEEEE
((maaf saya terlalu exited ehehehee~~))
Huhuhuu maaf sekali semuanyaaa, veect baru bisa update sekarang :'))
Setelah melewati Ujian Nasional yang begitu melelahkan, ternyata veect malah semakin sibuk... OTL
Veect masih harus mengurusi buku tahunan sekolah dan acara perpisahan sekolah, yang baru selesai minggu lalu OTL
Jadilah ff ini nangkring di folder veect, dan baru bisa diselesaikan minggu ini :')
Kira-kira masih ada yang ingat dengan ff ini ga ya? Veect ga terlalu banyak berharap sih, veect cuma pingin ff ini bisa complete :"))) syukur deh kalau masih ada yang ingat dan menunggu hehehe. Terimakasih banyak buat semua readers! ^^
Semoga setelah ini veect bisa rajin update ff seperti dulu ^^
.
Chapter 18 ini veect persembahkan untuk anniversary eomma dan appa kita~~
Happy 9th anniversary, YunJae! #610YunJae9thAnniv *laf laff*
Semoga cepat bersatu kembali huhuhu we'll always wait for you :') #AKTF~
.
Mengenai FF ini, veect sih berharap bisa selesai sebelum mencapai chapter 25.
Jadi kemungkinan 4-5 chapter lagi menuju ending~
Dan setelah FF ini selesai, veect bakal posting project FF baru! Banyak project yang tersimpan rapi di folder veect, tapi belum selesai~ Maafkan XD
Tapi, kemungkinan veect akan lebih aktif di wattpad. Jadi, bagi teman-teman yang punya wattpad boleh follow veect ((veectjae)) ^^
Bagi teman-teman yang tidak memiliki account wattpad/tidak menggunakan wattpad tenang saja, veect akan tetap memposting FF di ffn, namun kemungkinan akan update di wattpad lebih dulu.
.
Sekian dari veect!
Sekali lagi, terimakasih bagi semua readers, baik yang sider, comment, follow, dan favorite veect ataupun FF Who Knows ini. Kalian penyemangat veect~ *cium satu-satu*
Thanks for reading, review please? :)
