My Sexy Succubus


.

Chapter 1

.


"Namaku adalah Kurama tapi kau bisa memanggilku Kyuubi. Mana sajalah yang kau suka. Aku bukan berasal dari dunia kalian. Aku seorang Succubus. Lebih tepatnya setengah Succubus. Kau tahu, Iblis wanita yang hidup dengan seks. Walaupun itu hanya setengah kebenarannya. Setengah diriku lagi adalah Demon atau kalian biasa menyebutnya siluman atau jelmaan binatang. Aku adalah siluman Rubah. Jadi saat pertama kali kau membuka matamu yang kau lihat adalah wujud asliku. Untuk itu aku minta maaf jika membuatmu ketakutan dan mengira aku seorang yang punya niat jahat."

Itachi hanya menatap Kurama atau Kyuubi. Seolah apa yang baru saja dia katakan adalah bohong. Ini abad 21 bro, siapa yang masih percaya hal-hal seperti itu.

"Oh, dan aku di sini untuk sebuah misi tapi di samping itu aku juga sedang belajar bagaimana cara hidup manusia. Jadi aku memutuskan untuk tinggal disini dan kau harus setuju. Apalagi kau masih perjaka, lumayanlah." Ucap Kurama sambil mengigit jari telunjuknya. Belum lagi kedipan matanya. Benar-benar genit.

"Apa maksudmu dengan tinggal di sini?"

Itachi berusaha mengatakan kalimat itu dengan nada tersinggung dan berpura-pura mengabaikan godaan Kurama. Padahal dia sudah bisa merasakan celananya mulai ketat.

'Dasar Itachi kecil pengkhianat. Tak bisakah kau menurut pada tuanmu sedetik saja?'

"Yah, selama pencarianku aku memutuskan untuk tinggal di sini. Kau orang baik walaupun sedikit telalu serius menurutku. Kau butuh hiburan pak tua Keriput."

Itachi kaget mendengar apa yang baru saja Kurama katakan. Lalu dia memberikan tatapan mata ala Itachi Uchiha yang katanya terkenal menyeramkan, kata teman-teman sekampusnya.

"Apa katamu?"

"Nah, kau lihat. Kau butuh sedikit hiburan. Kau terlalu serius dalam menjalankan hidupmu. Sedikit hiburan tidak akan membunuhmu Chi. Boleh aku panggil seperti itu?" ucap Kurama sambil menelengkan kepalanya sedikit.

Sungguh, bagaimana Itachi bisa marah dengan makhluk semanis ini? Rasanya giginya sampai ngilu jika terlau lama memandang Kurama. Tanpa menunggu jawaban dari Itachi, Kurama melanjutkan lagi ucapannya yang tadi terputus.

"Tapi aku tahu kalau garis itu menunjukkan kalau kau orang yang baik dan ramah. Karena kau pasti sering tersenyum. Maka dari itu aku akan mencoba bertahan hidup denganmu." kalimat itu diiringi senyuman oleh Kurama.

Itachi membelalakkan matanya. Dia bisa merasakan kalau dapurnya mulai kabur beserta seluruh keadaan di sekitarnya dan hanya terfokus pada senyuman di wajah Kurama. Dia bahkan merasakan jantungnya berhenti berdetak selama satu detik dan baru berdetak lagi detik berikutnya. Otaknya yang termasuk jenius itu hanya bisa memikirkan satu kata...

'Cantiknya...'

Masih menatap wajah Kurama yang tersenyum, namun sekarang di pipinya mulai muncul semburat merah dan mata yang indahnya tidak manusiawi itu berkontraksi melebarkan dan mengecilkan pupilnya yang seperti mata kucing itu. Mata itu seperti kaget akan sesuatu. Lalu sekarang tampak lebih bersinar lagi akan suatu emosi. Itu berdasarkan analisa otak jeniusnya. Darimana dia bisa melakukan itu? Hanya Tuhan yang tahu.

'Apa aku tadi secara tidak sadar mengucapkannya?'

Seakan membuktikan ucapannya, Kurama mengatakan sesuatu yang tidak akan di sangka-sangka oleh Itachi.

"Kau manis sekali Chi. Kalau kau begini terus mungkin aku akan jatuh cinta padamu." kalimat itu diiringi oleh senyuman yang tadi membuat jantung Itachi berhenti berdetak. Sekali lagi, jantungnya berhenti berdetak selama sepersekian detik lalu kembali berdetak dengan detakan yang lebih keras.

Itachi bisa merasakan pipinya sedikit memanas. Ada apa dengan dirinya? Seharusnya dia memanggil polisi dan mengusir wanita ini jika dia sangat sayang nyawanya. Ditambah lagi dia bukan manusia. Seharusnya Itachi memikirkan keselamatannya, bukan malah terpesona pada makhluk ini. Itachi tahu ini pasti salah satu dari kekuatan Succubusnya untuk memikat sang mangsa. Namun Itachi berjanji pada dirinya jika dirinya tidak akan tergoda. Mengumpulkan lagi segenap keteguhan yang masih tersisa namun ternyata hanya tinggal sedikit.

"Baiklah jika kau ingin tinggal di sini. Tapi aku punya aturan di sini dan kau..."sambil menunjuk Kurama yang masih menatap Itachi dengan mata tidak manusiawinya itu dengan pandangan geli. Itu menurut Iachi,"...harus mematuhinya. Tidak ada kompromi."

Setelah mengucapkan itu Itachi bergegas pergi untuk membuat sarapan dan bersiap-siap berangkat ke kampusnya. Dalam hati Itachi berdoa jika keputusannya membantu Succubus-Rubah ini tidak membawa penyesalan dalam hidupnya ka depan.


.

Disclaimer(c): Naruto Uzumaki milik Masashi Kishimoto

.


Itachi sangat terkejut saat Kurama atau Kyuubi mengatakan bahwa umurnya...

"A-apa? 2000 tahun? Ja-jadi kau sudah tua?"

Itachi menatap horor pada Kurama yang sekarang duduk manis di kursi meja dapurnya. Sedangkan Itachi masih berkutat dengan pancinya di atas kompor. Sudah hampir satu bulan Kurama tinggal dengan Itachi. Sejak itu pula peraturannya adalah Itachi yang memasak Kurama memotong sayuran yang akan di gunakan atau mengoles roti dengan selai dan menyiapkan piring. Percayalah, Itachi juga kaget saat tahu kalau Kurama tahu cara menggunakan alat-alat makan seperti sendok atau garpu bahkan alar-alat dapur lainnya. Walaupun Kurama hanya mengatakan ini hal yang mudah untuk di pelajari namun Itachi masih tidak percaya juga. Sayangnya kemampuan Kurama tidak di dukung oleh kemampuannya dalam memasak. Itachi hanya meringis mengingat Kurama bahkan menggoreng telur pun gosong. Ini adalah kebiasaan mereka setiap pagi setelah acara 'sarapan' Kurama di kamar Itachi. Itachi sebenarnya ingin tidur sendiri dan tidak bersama Kurama. Namun sekarang dia sudah menyerah melakukan itu. Bagaimana mungkin tidak menyerah jika dia hanya akan menemukan dirinya terbangun keesokan harinya di atas tempat tidurnya sendiri? Tanpa Itachi tanya pun dia sudah tahu kalau Kurama atau Kyuubi sendiri yang mengangkatnya dan memindahkannya ke ranjang yang Itachi suruh untuk Kurama gunakan dan Itachi sendiri memilih tidur di kantung tidur. Bukan karena Itachi mengeluh karena sering 'di serang' oleh Kurama secara tiba-tiba namun sungguh jika saja Kurama bisa sedikit berkelakuan baik saat tidur. Kurama saat tidur itu seperti seorang banteng mengamuk. Berguling-guling kesana dan kemari. Belum lagi air luirnya yang ...Iuhh...

Sungguh, mana ada seorang perempuan bisa seberantakan itu ketika tidur. Lalu bagaimana Itachi bisa tidur nyenyak kalau dia bahkan pernah jatuh dengan bunyi yang lumayan keras karena tidak sengaja di tendang oleh Kurama. Bagaimanapun Itachi butuh istirahat. Sialnya lagi jika dia tidur di kasur lipatnya dia juga tidak bisa tidur tenang. Dia pasti memimpikan dirinya sedang mengagahi Kurama dengan keras dan liar atau justru sebaliknya. Kurama menungganginya seperti koboi yang sedang memacu kudanya dengan cepat. Itu adalah mimpi paling erotis yang pernah Itachi alami tapi jika setiap hari Itachi ragu jika dia tidak berubah menjadi seorang hypersex dalam waktu dekat karena di hantui mimpi tersebut dan kesehatan mentalnya juga terancam. Sungguh ini siksaan batin yang sangat berat untuk Itachi sendiri. Walaupun Itachi tahu Kurama melakukan itu secara tidak sadar karena saat tidur Kurama tidak bisa mengendalikan apapun di sekitarnya termasuk kekuatannya yang satu ini. Haah...lebih baik kita kembali saja ke awal tadi. Itachi sudah bisa merasakan si Itachi kecil sudah bangun dan itu membuat dirinya tidak nyaman. Ia tidak mau terlambat lagi hanya karena menerima 'bantuan' Kurama menangani si Itachi kecil.

Itaci yang masih saja melotot tak percaya dengan apa yang baru saja Kurama katakan. Reaksi Itachi membuat Kurama tersinggung rupanya.

"Hei, tapi dalam dunia kami aku masih muda tahu! Apa-apaan pula reaksimu itu? Menyebalkan! Kau yang punya keriput kenapa aku yang di katakan tua?"

Itachi menghela nafas lelah. Ternyata menampung Kurama merupakan kesalahan fatal. Sifat mudah tersinggungnya merupakan ujian mental untuk Itachi. Sungguh Itachi harus mengunjungi salah satu kenalannya di fakultas psikologi mungkin untuk berkonsultasi tentang kesehatan mentalnya.

"Baiklah. Baiklah. Aku minta maaf, oke? Aku tahu itu pasti menyinggungmu jadi tolong hentikan omelanmu itu. Perlu kau ingat juga ini tanda lahir. Tanda lahir. Awas saja kalau kau mengataiku keriput lagi."

"Huh."

"Oke kita kembali ke topik awal. Usiamu 2000 tahun. Tapi tadi kau mengatakan kalau kau masih termasuk muda untuk orang-orang sepertimu. Tapi bagaimana bisa?"

"Yah, sebenarnya ungkapan kalau kami abadi atau immortal sebenarnya tidaklah sepenuhnya benar. Mungkin umur kami memang punya umur panjang tapi kami tetap bisa di musnahkan. Saat kami terlalu banyak menggunakan kekuatan kami. Kami bisa juga kehabisan tenaga dan menjadi lemah. Keadaan itulah yang membuat kami sangat rentan dan mudah untuk di musnahkan. Walaupun itu entah benar atau tidak tapi aku percaya kalau saat kita lemah keadaan tersebut amatlah sangat berbahaya jika jatuh di tangan yang tidak benar."

Itachi masih menatap Kurama dengan pandangan tidak percaya. Hello? Dengan tenaga monster-nya memangnya siapa yang bisa membuat dia menjadi lemah.

"Memang bagaimana caranya kau bisa menghabiskan kekuatanmu itu?"

Kurama tampak berfikir sejenak sebelum menjawab. Ini membuat Itachi mengerutkan dahinya.

'Memangnya pertanyaanku ada yang salah? Tapi tunggu, dia tidak berfikir kalau aku akan mencari tahu kelemahannya kan?'

Sebelum Itachi mengutarakan agar Kurama tak perlu mengungkapkannya jika dia tak ingin namun sudah di dahului oleh Kurama.

"Setiap Succubus akan memiliki pasangannya Itachi. Setiap pasangan akan berbagi apapun yang pasangannya punya. Jika sesama kami mungkin hanya berbagai kekuatan saja karena kami pasti hidup lama. Tapi...jika bukan dari golongan kami, apalagi manusia biasanya satelah ritual penyatuan biasanya kami akan melemah. Fisik kami tidak akan berubah banyak namun jiwa kami. Jiwa yang sudah ada selama ribuan tahun perlahan-lahan akan meregang dan bercampur dengan pasangan manusia kami. Mungkin di dunia kalian sering di sebut pingsan atau comatose atau koma. Karena peleburan itu maka seluruh yang ada di tubuh kami berpusat pada jiwa kami jadi jika kau menusuk jantungku saat upacara dengan pasanganku aku akan mati seketika."

Kurama menatap dalam mata yang hampir menyerupai batu onyx tersebbut. Kurama selalu terpesona dengan mata itu. Bagaimana mungkin ada iris yang sehitam itu? Bahkan jika tidak bisa melihat lingkaran tipis berwarna cokelat-kemerahan yang berada dekat sekali dengan dengan pupilnya yang berwarna hitam.

Itachi yang mendengarkan dengan baik penjelasan Kurama dan masih menatap mata yang berwarna menakjubkan dengan iris mata yang mustahil tersebut. Mata yang sedang menatapnya intens seolah-olah menembus ke dalam jiwanya. Seolah-olah mencari-cari sesuatu penjelasan. Mencari sebuah kepastian di dalam mata itu. Di dalam jiwa itu. Akhirnya setelah saling tatap mendalami isi hati masing-masing suara ketelnya yang ada di atas kompor membuatnya harus melepaskan kontak mata mereka. Entah kenapa dia merasa Kurama sedang mencari sesuatu dalam dirinya.

'Itu hanyalah khayalanku saja kan? Haah...lama-lama aku bisa gila juga. Kenapa aku sekarang sering melakukan hal ini sih? Seolah-olah aku mengerti arti dari tatapan Kurama padaku.'

"Apa ada lagi yang kau ingin tahu Chi?"

Pertanyaan Kurama hampir membuat Itachi jantungan. Untung saja dia tidak menjatuhkan ketelnya yang sedang ia tuang isinya ke dalam dua gelas yang berisi kopi yang salah satunya berisi gula dan ditambahkan sedikit susu.

"Aku tidak mungkin melakukan itu padamu Ku-chan. Sesebal-sebalnya aku padamu aku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu padamu. Mungkin aku sering berfikir untuk melakukan itu tapi tidak jika keadaanmu seperti itu. Itu adalah tindakan pengecut. Baiklah kalau begitu, karena karinya sudah siap dan juga aku tahu kau sangat lapar maka kita makan dulu. Kita bisa membicarakan hal itu lain kali."

Selama mendengarkan Kurama ternyata Itachi sudah memasukkan sayuran yang Kurama potong tadi dan sekarang karinya sudah matang. Kurama yang sudah menyiapkan dua piring dan sudah mengambil nasi terlebih dahulu hapir meneteskan air liurnya. Jujur saja dia memang tak terlalu suka masak. Kurama bukan orang yang suka repot dan baginya masak itu repot, Sangat repot. Dia lebih memilih mencuci atau bahkan menjahit. Asal kalian tahu Kurama bisa menjahit dan merajut juga. Tapi hanya masak yang dia tidak ahli. Mungkin dia harus mencari pasangan seorang yang pandai memasak. Mungkin seorang chef tapi jika tidak dapat dengan seorang Itachi pun tidak apa-apa. Tapi kata-kata Itachi barusan membuatnya merasa...hangat.

'Astaga! Apa yang kau pikirkan Kurama? Hanya karena kau tahu bau Itachi bukan berarti dia adalah pasanganmu. Ingat, dia masih bisa menahan dirinya terhadapmu. Jika dia pasanganmu maka dia sudah memasukkan senjatanya yang masih sedikit ereksi ke dalam lubang perawanmu itu Kurama. Tapi nyatanya dia tidak melakukannya. Tahan dirimu Kurama. Kau berada dalam misi yang penting. Dasar bodoh!'

"...rama?"

Mata hitam Itachi menatap dalam mata Kurama.

"Hei, Kau tak apa-apa? Wajahmu memerah."

Tangan Itachi yang besar memegang tangannya yang berwarna tan dengan lembut dan itu membuat Kurama blushing berat. Sungguh, bagaimana mungkin ada manusia seperti Itachi? Sudah baik, perhatian, pengertian dan sabar. Kurama bahkan bisa merasakan panas menjalar dari leher ke seluruh wajahnya. Dia yakin dia seperti apel merah sekarang. Keadaan ini mengirim perasaan hangat yang menjalar ke dadanya dan turun ke perut dan memunculkan sensasi menggelitik yang terus turun ke bawah ke daerah intinmya. Dia bisa merasakan otot-otot vagina kecilnya mengetat,berkotraksi, semakin erat dan astaga dia bisa merasakan dia akan... Oh...

Klimaks


.

~.~

.


Itachi yang dari tadi sibuk makan sama sekali tidak memperhatikan jika Kurama hanya menatap makanannya saja. Dia akan sangat kelaparan saat pagi. Kurama mengatakan jika itu karena energinya yang dia serap saat memberikan blowjob setiap paginya. Makanya sekarang Itachi sangat suka makan. Bahkan seumur hidupnya dia belum pernah merasakan senafsu ini pada makanan. Apalagi di pagi hari. Dia tidak pernah suka terlalu kenyang karena itu akan membuat dia cepat mengantuk dan menjadi malas untuk melakukan aktifitas. Tapi sekarang berbeda. Seberapa pun dia makan, rasa kenyang tak pernah muncul. Yang ada hanya rasa cukup. Entahlah hanya saja itu yang Itachi dapat simpulkan dari persaan ini.

Hari ini Itachi kuliah seperti biasa. Namun mungkin dia akan pulang sedikit terlambat karena akan mampir ke bank dulu. Sebenarnya jadwal hari ini tidak banyak. Kuliah juga selesai lebih awal karena Mr. Delawney sedang tidak bisa mengajar karena sedang menangani proyek di Jerman. Serta dosen penggantinya hanya sering meninggalkan tugas saja. Jadilah banyak anak-anak yang menyelesaikan tugas mereka di rumah.

Semenjak Kurama tinggal bersamanya dia sering melakukan ini. Selalu memberitahu apapun yang akan dia lakukan di luar, termasuk jika dia pulang sedikit terlambat. Entah kenapa Itachi tidak mau membuatnya khawatir.

'Huh, seperti Ku-chan istriku saja.'

"Ku-chan, aku na..."ucapan Itachi terputus saat melihat Kurama hanya menatap karinya dan wajahnya sedikit memerah.

'Ada apa dengannya? Bukankah tadi baik-baik saja? Apa karinya terlalu pedas ya?.'

"Ku-chan?"

Kurama masih diam saja. Sekarang wajahnya sedikit lebih memerah.

"Kurama?"

Itachi menaruh sendok dan garpunya di atas piringnya.

'Sial! Ada apa dengan Kurama?'

Tanpa sadar Itachi menggegam tangan Kurama dengan lembut agar bisa sedikit mengalihkannya dari dunianya sendiri. Ternyata berhasil. Itachi menatap lekat Kurama yang sekarang sudah menatapnya dengan pandangan yang sulit Itachi jelaskan.

"Hei, Kau tak apa-apa? Wajahmu memerah."

Entah apa yang terjadi tiba-tiba Kurama terdengan seperti melenguh. Apa? Melenguh? Sungguh, apa sih yang sebernarnya terjadi. Sekarang Kurama menatap Itachi dengan pandangan seolah dia baru saja terpesona akan sesuatu. Seolah dia baru saja mengalami sesuatu hal yang sangat menakjubkan dan indah. Kau tahu, dazzled eyes.

"I-Itachi...a-aku..."

Itachi semakin khawatir sekarang. Suara Kurama sangat pelan. Dia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan gadis di depannya ini. Sampai saat ini pun Itachi masih tidak percaya tangan kecil dan halus itu mempunyai tenaga yang sangat super.

"Kau benar tidak apa-apa? Apa karinya terlalu pedas? Ada apa Kurama? Jangan membuatku khawatir. Katakanlah sesuatu Kurama."

"A-aku..."

Itachi mengeratkan lagi genggaman tangannya yang tadi sempat mengendur, namun gerakan kecil itu justru membawa pengaruh besar bagi Kurama.

Kurama tahu dia merasakannya. Bahkan seluruh indranya menjadi lebih hidup setelah klimaks pertamanya. Ingat klimaks pertama. Walupun sangat pelan dan karena ini pertama kalinya dia merasakannya namun dia tahu organnya itu tidak pernah bekerja sebelumnya atau itu yang selama ini dia kira. Dia memang punya organ tersebut yaitu jantung. Tapi dia belum pernah merasakan ini. Sesaat setelah Itachi mengeratkan genggaman tangannya tadi barusan. Si jantung bekerja. Walaupun hanya satu kali tapi dia bekerja. Bunyi dug tadi bukan hanya ilusi Kurama saja tapi memang benar adanya. Itachi tidak tahu kalau jantungnya tidak berdetak seperti manusia. Entahlah itu yang dia tahu dari buku. Tapi bunyi tadi adalah...

Detakan pertamanya.

Detakan jantung pertamanya.

Oh Kami-sama, kenapa?


.

~.~

.


'Seorang Succubus, tidak perduli itu hanya setengah Succubus atau Succubus murni, TIDAK boleh merasakan detakan jantung pertama mereka jika belum berpasangan atau belum menemukan sang pasangan.'


tbc


Hai, bagi yang menunggu melon dan lemon, maaf banget belum bisa ngeluarin. Nanti ada saatnya. Jadi mohon bersabar. Kritik, saran, pertanyaan are very welcomes guys. Maaf untuk typo, gak apalah untuk seni. Tolong di maafkan. Terima kasih yang sudah review, seorang Guest dan TheB1gboy. Terima kasih buat yang udah follow juga, gak bia sebutin satu-satu.

Sincere,

Farizaaa

27 September 2016