My Sexy Succubus
.
Chapter 2
.
Kurama tahu dia merasakannya. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi lebih hidup setelah klimaks pertamanya. Di tambah detakan jantung pertamanya. Walupun sangat pelan dan karena ini pertama kalinya dia merasakannya namun dia tahu organnya itu tidak pernah bekerja sebelumnya atau itu yang selama ini diketahui umum. Dia memang punya organ tersebut yaitu jantung. Tapi dia belum pernah merasakan ini. Sesaat setelah Itachi mengeratkan genggaman tangannya tadi barusan. Si jantung bekerja. Walaupun hanya satu kali tapi dia bekerja. Bunyi dug tadi bukan hanya ilusi Kurama saja tapi memang benar adanya. Itachi tidak tahu kalau jantungnya tidak berdetak seperti manusia. Entahlah itu yang dia tahu dari buku. Tapi bunyi tadi adalah...
Detakan pertamanya.
Detakan jantung pertamanya.
Oh Kami-sama, kenapa?
.
Disclaimer(c): Naruto Uzumaki milik Masashi Kishimoto
.
Sebelum keberangkatan ke Dunia Atas...
'Seorang Succubus, tidak perduli itu hanya setengah Succubus atau Succubus murni, TIDAK boleh merasakan detakan jantung pertama mereka jika belum berpasangan atau belum menemukan sang pasangan.'
"Kau harus ingat Kurama. Kau tidak boleh mendapatkan Detak sebelum memiliki Sang Terpilih. Kau harus ingat baik-baik ini. Ingatlah, efeknya untuk setengah Succubus lebih besar daripada seorang Succubus darah murni. Kau bisa hancur Kurama. Kau hanya sedikit dari sekian kelahiran Succubus hybrid dengan Demon yang masih tersisa. Apalagi setengah Demon biasanya sering bertingkah bodoh."
"Aku tahu Lilith. Aku tahu dan aku tidak akan melupakannya. Kau ini saja yang terlalu penakut. Sudahlah tenang saja. Kau hanya perlu duduk di Kursimu seperti biasa. Aku akan pastikan aku akan baik-baik saja atau kau cuma ingin menunda-nunda kepergianku ke Dunia Atas kan? Huh, Dasar!"
Lilith hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tahu Kurama sudah terlatih dengan baik segala persiapan untuk para Succubus yang akan berangkat ke Dunia dia percaya jika Kurama saalah satu Succubus yang berbakat. Tapi, ketakutan itu selalu ada. Karena entiti seunik Kurama hampir punah karena kecerobohan mereka sendiri. Lagipula dia menyanyangi Kurama seperti saudara perempuannya yang lainnya.
'Semoga kau selalu selamat Kurama. Doaku selalu bersamamu.'
Bersamaan dengan itu, Lilith memandang Kurama yang mulai menghilang beserta sebuah pusara berwarna ungu yang berpendar.
.
Itachi x femKurama
.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang Lilith?"
Sudah beberapa minggu terakhir ini Itachi tampak lesu. Bukan karena tugas kuliahnya. Dia termasuk jenius jadi itu tidak terlalu memusingkannya. Yang membuatnya pusing adalah wanita rubah jejadian yang ada di apartemennya. Bagaimana dia tidak pusing? Wanita itu dengan seenak jidatnya menyuruh ini itu terhadapnya. Belum lagi flirting yang dia lakukan padanya. Walaupun dia tidak sepenuhnya menyangkal kalau beberapa kali Itachi hampir kehilangan kendali dan ingin membenamkan dirinya dalam-dalam di tubuh indah milik Ku-chan. Yah, dia akhirnya memanggilnya seperti itu. Lebih manis kalau menurut Itachi sendiri. Daripada Kurama yang lebih kelelakian menurutnya.
Belum lagi libido milik Ku-chan yang bahkan melebihi remaja yang sedang memasuki masa pubertas. Bisa di bilang seperti kelinci ingin kawin. Setiap saat, ada saja tingkahnya yang membuat Itachi kecil bangun dan Kurama akan senang hati tanpa babibu memberikan blow job. Bukan Itachi tidak suka. Hanya saja semakin hari, pengendalian dirinya semakin menipis. Hei, dia lelaki normal yang sehat dan waras. Belum lagi berurusan dengan makanannya. Sejak pertama kali dia mencicipi buah Apel di hari naas Itachi, seakan-akan jika tidak ada apel di dalamnya rasanya ada yang kurang. Sedikit-sedikit apel. Jadilah Apel ada di daftar belanja Itachi sekarang. Itu membuat Itachi selalu ingat hari naasnya.
'Kenapa ini terjadi padaku Kami-sama? Apa kehidupan masa laluku sangat penuh dosa?'
Itachi jadi semakin hobi mengeluh akhir-akhir ini. Mungkin karena Kurama atau Kyuubi. Belum lagi dia yang harus memenuhi segala keperluan mereka berdua. Rasa-rasanya Itachi menyesal menyetujui permintaan Ku-chan tinggal dengannya. Uangnya sudah berkurang banyak sekarang. Ngomong-ngomong uang, uang bulanannya yang biasanya bisa sedikit dia disisihkan untuk dia tabung kini harus pas bahkan sedikit kurang. Jika terus seperti ini mau tak mau dia harus mencari kerjaan part-time untuk menambah sedikit pemasukannya jika Itachi ingin bisa bertahan hidup dengan Kurama. Itachi memang berasal dari keluarga yang cukup kaya. Tapi itu jika di negara asalnya, Jepang. Di Inggris dia sama dengan mahasiswa perantauan lainnya. Hidup sederhana di apartemen yang memiliki cukup pemanas untuk dia bertahan saat musim dingin. Inggris lebih dingin dari pada Jepang. Lagipula dia tidak ingin merepotkan ke dua orangtuanya. Biaya kuliah di Cambridge University sudah mahal apalagi masuk fakultas unggulan di sini. Lagipula ini keputusannya sendiri dengan menerima Kurama tinggal di apartemennya. Jadi, sudah kepalang tanggung untuk menyesal, kan?
'Bodoh. daripada memikirkan Rubah gila lebih baik fokus kuliah saja. Sebentar lagi kau lulus Itachi hanya dalam hitungan bulan dan akan memebuat persahaannmu sediri dan menjadi salah satu cover majalah Forbes.'
Itachi mengusap wajahnya lelah. Itachi denga berat hati harus mengakui kalau dia tidak merasa kesepian lagi. Hampir 5 tahun dirinya hidup sendiri di Negara ini. Kesehariannya hanya kampus dan apartemen. Mungkin sesekali keluar jika sedang dalam keadaan mood jika ada teman atau sahabatnya yang mengajak. Bukan Itachi tidak punya teman. Sungguh temannya banyak, namun tidak ada yang merasa dekat dengannya atau memang Itachi yang tidak terlalu dekat dengan mereka. Tapi keberadaan Kurama benar-benar membawa sedikit angin segar dalam hidupnya. Orang-orang di sekitarnya tahu Itachi seorang yang perfeksionis, sedikit kuno, terlalu rajin untuk ukuran mereka dan sedikit kaku. Walaupun begitu dia pendengar yang baik. Dia orang akan selalu menolong teman yang lain. Karena itulah dia punya banyak teman. Hanya saja menurut teman-temannya, Itachi seperti memiliki semacam dinding yang di dalam dirinya sehingga membuat mereka sulit menjadi dekat dengan Itachi karena dinding tersebut. Bahkan menurut orang yang mengatakan dia sahabatnya, sering mengeluh kalau kadang Itachi sering larut dalam dunianya sendiri.
Itachi sendiri merasa dia baik-baik saja. Dia tidak pernah merasa mencoba menjauh dari teman-temannya atau membatasi dirinya dari teman-temannya. Bahkan dari sahabatnya sekaligus sepupu jauhnya, Shisui Uchiha. Mereka berteman sejak dari SD sampai mereka berdua kuliah bersama-sama di Cambridge. Walaupun Shishui satu tahun di atasnya, mereka bisa masuk universitas bersama.
Ngomong-ngomong lagi tentang sahabatnya, mungkin dia bisa mendapatkan informasi jika ada lowongan pekerjaan yang bisa dia masuki. Lebih cepat akan lebih baik. Semoga saja Kyuubi tidak mengacau saat dia tidak di rumah. Tapi pertama-tama dia harus mencari sahabatnya dulu, Shisui Uchiha.
Di sinilah mereka berdua sekarang berada. Di kafe tempat Shisui bekerja. Antara shock dan tidak percaya. Sahabat yang lebih suka merenung seolah tidak ada hal lagi di dunia ini yang dapat menarik perhatiannya. Sekarang berada di depannya dan apa yang baru saja dia katakan?
"Bisa kau ulangi lagi perkataanmu tadi Itachi?"
"Haah...aku tahu ini kedengarannya sangat mendadak tapi memang aku butuh pekerjaan Shisui. Secepatnya."
"Hei, aku tidak salah dengar kan? Ayo, tampar aku?"
Plak!
"Awh! The hell!"
"Kau yang bodoh Shishui. Aku minta bantuanmu kau malah bercanda?"
"Ini sakit Baka!"
"Makanya seriuslah sedikit. Aku benar-benar butuh bantuanmu, Shisui."
"Alright, akan bantu. Walaupun sebenarnya aku ingin tahu yang sebenarnya Itachi. Tapi jika kau tidak ingin bercerita itu tidak masalah. Aku senang akhirnya kau bisa move on darinya. Sudah ku bilang kan? Kalau kau akan tetap melanjutkan hidupmu walaupun dia pergi?"
"Dia?"
"Oh, bahkan kau sudah melupakan namanya? Astaga? Siapa gadis mengenaskan yang kau jadikan pelampiasan Itachi? Dia pasti cantik sekali sampai-sampai kau melupakan kejadian 2 bulan yang lalu?"
'Dua bulan yang lalu? Ada apa dua bulan yang lalu? Dan siapa dia?'
.
.
Bukan Kurama tidak tahu kalau Itachi sedang gelisah. Bagaimanapun dia ini makhluk supranatural. Apalagi Succubus bisa merasakan bahkan jika kekuatannya sedang dalam puncaknya bisa melihat aura seseorang. Dari gelagatnya dia tahu, Itachi sedang memendam sesuatu. Mungkin pikirannya sedang bingung dan itu membuat suasana hati seseorang tidak tenang sehingga menjadikannya dia gelisah seperti Itachi saat ini. Beberapa kali dia menangkap Itachi menghela nafas. Dia juga melihat Itachi kerap kali memandang kosong, seolah dia melihat jauh. Sangat jauh. Seolah dia sedang melintasi waktu dan hanya meninggalkan raganya di sini.
Kurama tahu para manusia berbeda dengan mereka para entiti supranatural seperti dirinya. Mereka lebih banyak menggunakan empati dan simpati sedangkan para makhluk supernatural lainnya lebih sering menggunakan insting dan pikirannya. Sungguh berkebalikan. Seandainya kekuatan kurama sudah penuh mungkin dia bisa menbaca pikiran juga tapi butuh berapa lama? Sedangkan dia tahu, untuk mencapainya dia harus bisa memiliki hati Itachi. Kurama adalah bangsa iblis. Mereka menunjukkan kasih sayang dengan cara yang berbeda dengan manusia. Maka dari itu Kurama sebenarnya bingung dengan semua gejolak yang dia rasakan dalam detak jantungnya. Emosi ini begitu intens dan...menakutkan.
'Mungkin aku harus menyerah saja? Aku sungguh tak mengerti dengan perasaan ini. Namun aku semakin yakin jika Itachi adalah mate-ku. Dia yang terpilih untukku. Bagaimanapun aku tak pernah merasakan perasaanku pada orang atau selain diriku sendiri seperti ini.'
Kurama yang sedang melamun tiba-tiba teringat acara yang ada di televisi tadi pagi. Sebuah talk show yang entah kebetulan atau tidak sedang membahas komunikasi yang baik antar pasangan. Sepertinya Tuhan sedang barbaik hati padanya hari ini. Lalu kenapa tidak dia coba saja.
Kurama mencari keberadaan Itachi yang ternyata sedang berada di balkon di depan kamar tidur mereka. Memberanikan duri Kurama mendekatinya dengan pelan agar tak mengagetkannya.
"Ehm, ku kira kau sedang belajar. Tapi justru merana di sini?" ucap Kurama sambil memandang ke depan pada bangunan kota.
"Hn. Hanya mencari angin. Lagipula besok hari Jum'at. Jadi kuliah selesai lebih awal."jawab Itachi sambil menoleh sedikit ke arah Kurama.
"Lalu kenapa kau terlihat gundah? Kau seperti sedang bingung dan gelisah?"tanya Kurama langsung ke alasan di balik sikapnya.
"Apa? Tidak ada. Memangnya dari mana kau bisa menyimpulkan seperti itu?"
"Kau berkali-kali menghela nafas dan detak jantungmu tidak teratur. Jantungmu berdetak lebih keras dari sebelum aku bertanya. Itu berarti kau sedang terkejut dan dari yang aku simpulkan itu di sebabkan karena pertanyaan yang aku tanyakan padamu tadi. Apa sekarang kau mau menjawab pertanyaanku?"ungkap Kurama dengan jelas.
Ah, sepertinya Itachi lupa dengan kemampuan Kurama satu ini. Dia adalah makhluk yang manipulatif dan pintar. Seperti Demon-nya, fox atau rubah.
Helaan nafas terdengar lagi dari bibir Itachi. Namun Itachi tahu Kurama tidak akan meninggalkan dirinya untuk bisa berfikir karena dia pasti akan menggunakan kemampuan manipulatifnya pada dirinya. Sehingga Itachi lebih memilih untuk mengatakan saja yang sejujurnya pada Kurama.
'Apa makhluk seperti dirinya mungkin akan mengerti tentang seluk-beluk manusia?'
"Jika aku ceritakanpun kau psti tidak akan mengerti, Ku."
Kurama hanya diam. Mencerna apa yang baru saja Itachi katakan padanya.
"Ya, kau benar. Karena aku bukan manusia makanya aku tidak mengerti. Untuk itu aku bertanya agar aku mengerti. Lagipula mungkin saja dengan menceritakannya padaku perasaanmu akan lebih tenang. Kau yang bingung dan gelisah ini sangat menyusahkanku. Kau mengerti maksudku, Itachi?"
"Memangnya bagaimana rasanya aura kegelisahan itu rasanya?"tanya Itachi. Dia selalu senang mendengar penjelasan Kurama tentang salah satu kemampuannya ini. Menurutnya akan sangat menguntungkan saat di masa depan nanti.
"Yah rasanya seperti...kau tahu saat kau menjilat kain atau semacamnya. Tidak mengenakkan. Tidak bernutrisi justru membuat kekauatanku sedikit berkurang agar aku tak terlalu terpengaruh. Memangnya seberat itukah masalahmu?"
"Sebenarnya tidak terlalu berat. Hanya saja aku tiba-tiba menjadi memikirkan urusan yang lalu. Jika sahabatku tidak mengungkitnya, mungkin aku tidak ingat. Aku bahkan secara tidak sadar sudah melupakannya. Padahal jika aku masih ingat bagaimana diriku saat menghadapi masalah tersebut aku merasa itu bukan diriku. Lalu saat sekarang aku mengingatnya. Aku merasa malu sendiri pada diriku dan itu melukai harga diriku. Aku ini seorang laki-laki tapi..ah, sudahlah."ungkap Itachi yang akhirnya tanpa sadar mulai menceritakan masalahnya pada Kurama.
"Memangnya kejadian apa? Apa sebelum aku datang ke sini?"
"Ya, kejadian ini kurang lebih dua bulan sebelum kau membobol apartemenku dan menjadikan apartemenku tempatmu bersarang."jawab Itachi dengan sedikit terkekeh dan di balas Kurama dengan dengusan.
"Tapi menurutku itu sepadan dengan service yang aku berikan."jawab Kurama dengan mengedipkan matanya.
"Hn. Dalam pikiranmu foxy."jawab Itachi sambil memutar matanya dan menunjukkan wajah datarnya. Walaupun dalam hatinya, jauh sekali itu adalah hal terbaik yang dapat dialami seorang lelaki single setiap harinya. Ah, ngomong-ngomong soal single...
"Apa kau sudah menemukan pasanganmu? Tapi bagaimana kau bisa menemukannya kalau kau tidak pernah keluar dari apartemen ini?"
Kurama menatap Itachi dengan matanya yang tidak manusiawi itu. Apa dia harus jujur? Bagaimana reaksi Itachi saat dia tahu bahwa dia yang Terpilih. Dia yang akan menggegam jiwa Kurama. Apa dia akan menolaknya?
'Dia akan langsung menolakmu tanpa berkedip Kurama. Ingat masih ada sedikit aura itu di dalam dirinya. Apalagi saat tadi dia menceritakan masalahnya sebelum kau datang. Aura itu menguat dengan sangat tajam sebelum surut kembali. Aura kelabu-kehitaman. Aura kesedihan tak berujung, putus asa, penderitaan, sakit hati dan... patah hati'
"Sebenarnya aku..."
.
~.~
.
tbc
Hai, maaf ya baru sedikit. Idenya ada tapi peralatannya yang ga ada. Aku tidak terlalu suka mengetik memakai hape. Kurang puas aja gitu rasanya.
well,jangan lupa meninggalkan review ya ^.^
Salam,
Almahiya09
03 Maret 2017
