My Sexy Succubus


.

Chapter 3

.


'Dia akan langsung menolakmu tanpa berkedip Kurama. Ingat masih ada sedikit aura itu di dalam dirinya. Apalagi saat tadi dia menceritakan masalahnya sebelum kau datang. Aura itu menguat dengan sangat tajam sebelum surut kembali. Aura kelabu-kehitaman. Aura kesedihan tak berujung, putus asa, penderitaan, sakit hati dan... patah hati'

"Sebenarnya aku..."


"Sebenarnya aku…."

Kurama tidak langsung menjawab pertanyaan Itachi. Dia memang bangsa Iblis tapi entah kenapa sekarang dia merasa takut. Tentu saja ini membuat Kurama merasa aneh. Tiba-tiba muncul di otaknya suatu ide.

"Sebenarnya aku…." ulang Kurama.

"Ya?" tanya Itachi penuh dengan harap.

"Aku…. tidak tahu kalau kau sangat ingin mengetahui Pasanganku, Chi? Ah, jangan-jangan kau sudah mulai menyerah ya pada nafsumu? Kau sudah jatuh cinta padaku?" jawab Kurama sambil tersenyum mengejek sambil menggesekkan buah dada ranumnya pada lengan Itachi dan menatapnya dengan mata mustahilnya yang berkilat jahil.

"Apa?" jawab Itachi tidak mengerti. Kenapa Itachi tidak paham dengan jawaban Kurama? Dia tiba-tiba merasa bodoh. Itachi terdiam sambil mengkerutkan dahinya sedangkan membuka dan menutup mulutnya untuk menjawab namun entah kenapa semua itu tidak keluar. Tiba-tiba matanya terbelalak dan kenyataan mengejutkannya. Uma-chan mencandainya?

'Oh, kau main-main dengan orang yang salah Kurama!'

Sedangkan Kurama yang memperhatikan mimik wajah Itachi hanya bisa menutup mulutnya menahan tawa. Oh, wajah bingungnya sungguh lucu sekali. Itachi bahkan tidak sadar sudah Kurama candai.

'Hahaha…. Dasar orang kaku! Kau sungguh terlalu serius sebagai seorang manusia Itachi'

"Pfftt…"

"Kau?!" sekarang wajah Itachi menunjukkan wajah garangnya. Matanya menatap tajam makhluk kurang ajar yang seenaknya mencemoohnya dengan mencandainya. Kurama sudah tidak tahan lagi menahan tawanya akhirnya membuka mulutnya yang tadi dia bungkam.

"Hahahaha…. kau hahaha harus ahahaha lihat haha wajahmu haha itu…. ahahahaha …." Kurama masih tertawa nyaris tidak menyadari aura Itachi yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah cerah tandanya dia sedang merasakan emosi yang meluap-luap. Mengusap matanya yang berbulu mata lentik itu akhirnya dia menyudahi tawanya walaupun masih sedikit terkikik.

"Baiklah…. hehehe aku minta maaf oke? Sungguh aku serius. Lagipula aku juga harusnya berterima kasih karena kau menunjukkan wajahmu tadi. Sudah lama aku tidak tertawa seperti tadi. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya. Hidup sebagai seorang iblis tidaklah mudah. Apalagi aku sudah melewati milenia. Bisa tertawa dan menikamatinya aku sangat bersyukur. Seharusnya kalian manusia yang diberi akal dan hati harusnya lebih bersyukur lagi pada-Nya. Hidup kalian yang singkat harusnya lebih membuat kalian sadar kalau sesuatu sekecil ini sangatlah berharga. Jika kau punya umur panjang yang ada hanya kebosanan dan rasa jenuh. Sehingga sangat jarang ada hal yang bisa membuatmu tertarik atau merasa senang. Sekali lagi terima kasih Itachi." Ucapan terakhir Kurama diiringi senyuman yang selalu saja bisa membuat detak jantung Itachi berdetak lebih kencang.

Sejujurnya suara tawa Kurama tidaklah jelek. Bahkan menurut Itachi sangat feminim untuk suara tawa sekeras itu. Apakah ada satu hal dari Kurama yang tidak menunjukkan kesempurnaan seorang wanita dalam wujudnya?

'Yah mungkin kejahilannya, nafsu makan dan libidonya .'

Itachi yang masih sedikit jengkel memalingkan mukanya yang sedikit memanas memandang wajah tersenyum Kurama. Kurama dalam mode tersenyum tulus bisa membuat laki-laki manapun menjadi gila. Bila ada seorang gay pun pasti akan berubah menjadi lurus lagi. Bahkan tersenyum sisnispun dia tetap nampak menggoda dan cantik. Tapi bukankah Kurama memang seorang iblis yang bertugas menggoda manusia?

"Itu tidak lucu tahu. Aku bertanya dengan sungguh-sungguh kau justru mempermainkanku. Siapa yang tidak marah. Ck, Kuso!" gerutu Itachi masih menatap pemandangan kota dan hanya melirik sekilas pada wanita di sebelahnya. Itachi bisa merasakan wajahnya semakin memanas. Itachi tidak yakin bisa menahan diri lagi lebih lama.

'Kami-sama benar-benar tidak menyukaiku dengan adanya Uma-chan sebagai ujian. Haah…'

"Lagi pula aku senang bisa mengapus wajah mengenaskan milikmu beberapa saat lalu. Kau bertambah semakin tua jika berekspresi seperti itu." Ucap Kurama tanpa menoleh pada Itachi. Namun kini giliran Itachi menatap kaget dan tidak percaya pada Kurama.

'Mungkinkah Kurama tahu?'

Tanpa sadar Itachi tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang mengejutkan Kurama.

"Kau ini benar-benar ya Uma-chan? Tapi terima kasih ya. Kau sudah mau menghiburku. Aku senang ada yang mengerti diriku yang katanya minim ekspresi ini. Apalagi padaku yang memang tidak suka mengungkapkan perasaanku dengan gamblang." Ucap Itachi sambil menatap langsung pada mata mustahil milik Kurama yang kini menatapnya kaget. Seolah tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini dari Itachi.

' Apa ucapanku salah? Mengapa Uma-chan kaget?'

Namun saat ekspresi mata itu berubah menjadi lembut dan mengerti. Sarat akan suatu gejolak emosi, sesuatu dalam tubuh Itachi bedesir hebat. Saat pertama-tama Kurama datang, Itachi merasa seperti sedang menatap seekor kucing saat menatap mata Kurama tapi lama-kelamaan itu sudah menjadi hal biasa baginya. Apalagi saat seolah Itachi bisa mengerti arti dari setiap ekspresi yang ditunjukkan oleh sepasang mata itu. Awalnya Itachi hanya berfikir kalau itu mungkin hanya imajinasinya saja namun semakin hari dia mulai bisa menerima kalau dia memang bisa mengartikan arti tatapan Kurama sejak awal.

'Tapi itu tidaklah mungkin. Aku bahkan mengenalnya belum genap satu bulan. Atau memang ada sesuatu dalam diriku yang memang bisa mengerti Uma-chan? Rasa-rasanya otakku mulai tidak waras lagi.'

Itachi sebenarnya mengagumi warnanya. Bagaimana ada warna mata seperti itu? Bentuk pupil seperti itu? Sungguh aneh namun mengagumkan. Apa orang lain bisa melihat apa yang Itachi lihat? Tanpa sadar Itachi semakin mendekat apalagi desiran yang membuat darahnya semakin bergolak di dalam tubuhnya semakin tak tertahankan. Itachi tidak tahu apa yang terjadi namun kini dia bisa melihat setiap inchi detil wajah milik Kurama. Dia bisa melihat garis tiga yang melintang di setiap sisi pipi Kurama. Itu memang seperti kumis seekor kucing. Apalagi dia bisa melihat bibir merah muda alami milik Kurama yang sempurna dan terlihat basah dan juga sepertinya sangat lembut. Itachi tidak sempat memprotes apa yang pikirannya kerjakan. Sedetik kemudian bibirnya sudah berada di atas bibir Kurama dan sedikit menekan merasakan teksturnya. Merasakan betapa lembut dan kenyal dan juga terasa enak. Oh, sangaaat enak. Sesuatu yang Itachi tidak sangka adalah bahwa ciuman ini mengipasi desiran yang bergejolak tadi dan membuat sesuatu yang berasal dari dalam tubuhnya merambat cepat menuju perut dan hampir kesetiap pembuluh darahnya. Menciptakan sensasi tergelitik dan rasa itu semakin merayap kesetiap jengkal sel tubuhnya kini membuat dadanya bergemuruh menambah kerja jantungnya dua kali bahkan berkali-kali lipat berdetak lebih keras. Walaupun bibir ini yang selalu memanjakannya namun dia seharusnya tahu kalau bibir ini terasa sangat nikmat. Ah, sepertinya Itachi akan kecanduan untuk mencium Kurama.

Itachi masih melumat kedua bibir Kurama. Menikmati teksturnya yang lembut dan kenyal. Menikmati rasanya yang segar dan sedikit agak dingin memberikan sensasi tersendiri untuk Itachi. Pikirannya tiba-tiba memberikan ide untuk mencicipi bagaimana rasa mulut Kurama. Apakah seenak bibirnya atau justru lebih enak? Kenapa tidak di coba saja?

Itachi mengulum bibir bawah milik Kurama dan dia sedikit mengeluarkan lidahnya untuk menyentuh bibir Kurama. Meminta ijin untuk lebih jauh merasakan Uma-chan-nya. Ah, Itachi tidak perduli pada logikanya. Mungkin benar kata Uma-chan bahwa sekali-kali dia juga harus bersenang-senang. Sekarang obyek kesenangannya adalah bibir milik Kurama yang sangat enak.


.

Disclaimer(c): Naruto Uzumaki milik Masashi Kishimoto

.


Mengerti dengan permintaan tersirat itu Kurama membuka bibirnya dan sedikit mengeluakan lidahnya seolah menyambut lidah Itachi dan membibingnya masuk menuju ke dalam mulutnya. Tubuh Kurama memanas. Seluruh inderanya, setiap inchi kulitnya panas akan gairah yang menguar dari tubuh Itachi. Seolah hanya berdekatan saja Kurama akan terbakar. Tapi Kurama tahu setiap pasangan Succubus itu memiliki keunikan sendiri dan Itachi punya kekuatannya sendiri yang memang sudah diberikan untuk melengkapi apa yang ada pada diri sang Succubus. Itachi yang entah sadar atau tidak logikanya membuat dia sedikit kebal terhadap segala godaan yang ada pada tubuh Kurama. Bahkan Kurama sempat sedikit ragu apakah benar-benar dia pasangannya. Karena Itachi tidak terlalu nampak kuat untuk seorang pria. Tentu dia punya tubuh bagus dan enak di pandang walaupun menurut Kurama sedikir terlalu kurus. Tapi Kurama tahu penampilan fisik bisa menipu mata dan benar adanya. Kekuatan Itachi ada pada pikirannya. Kesadarannya. Logikanya. Kejeniusannya. Sekarang Kurama tahu kalau dia memang untuk dirinya. Karena Kurama jarang menggunakan isi kepalanya. Tentu dia pintar, terima kasih pada darah siluman rubahnya. Tapi dia lebih sering bertindak tanpa memikirkan resikonya. Entah saat berburu atau sedang melaksanakan tugasnya. Itachi punya kontrol diri yang hebat. Sedangkan Kurama, yang memang memiliki darah binatang lebih sering menjadi seorang impulsif karena itu adalah insting binatangnya.

Itachi terus menjelajahi isi mulutnya dan diiringi dengan lenguhan dan geraman serta gumaman yang jika Kurama tidak salah tangkap adalah "enak". Bahkan sekarang dagu mereka masing-masing sudah teraliri oleh saliva mereka berdua. Tapi Kurama harus mengakhiri ciuman ini jika dia tidak ingin Itachi kehabisan nafas dan mati. Bagaimanapun mekanisme Kurama bernafas pasti berbeda dengan Itachi. Kurama mencoba menjauhkan bibirnya namun Itachi terus mengikuti arahnya. Seolah tidak ingin melepaskan mulutnya. Lalu tiba-tiba Kurama mengigit bibir bawah Itachi dan seketika itu membuat Itachi melepaskan bibirnya.

"Argh…"

Itachi reflek menjauhkan bibirnya dari bibir Kurama dan dia bisa merasakan bibirnya sedikit berkedut karena gigitan Kurama. Dia memberikan tatapan paling mematikan. Sedangkan si pelaku menutup bibirnya dengan punggung tangannya dan menatapnya dengan penyesalan.

"Ma-maaf. Aku hanya tidak ingin kau kehabisan nafas. Apa kau tidak apa-apa?" jawab Kurama yang sudah menyikirkan tangannya serta membersihkan lelehan saliva akibat ciuman tadi. Sekarang dia mencoba menyentuh bibir Itachi yang sekarang terlihat sedikit bengkak karena gigitannya. Bibir Kurama sendiri masih sangat basah dan sensasi dari ciuman Itachi masih sangat terasa. Untung saja gigitannya tidak sampai berdarah. Bahkan dia tidak yakin itu disebut gigitan. Dia hanya mengesekkan giginya saja. Manusia memang benar-benar rapuh.

"Aku tidak apa-apa. Aku ini seorang pencium ulung jadi jangan khawatir akan kehabisan nafas. Tapi tidak perlu juga kau mengigit bibirku. Ini pasti akan bengkak. Semoga saja besok sudah tidak terlalu bengkak." Gerutu Itachi sambil membersihkan lelahan saliva yang ada di dagunya. Sambil meraba bibirnya yang terkena gigitan Kurama.

"Ah, aku minta maaf kalau begitu. Aku tidak perah dicium seperti itu. Apalagi selama itu. Yang ada hanyalah ciuman kasar dan biasanya singkat karena saat para lelaki itu klimaks mereka pasti berakhir dengan berteriak. Hehehe…kalau begitu bagaimana jika aku menebusnya Chi?" seiring dengan ucapannya dia mendekatkan tubuhnya lagi pada Itachi dan menempelkan bibirnya pada bibir Itachi yang mulai terlihat bengkak dengan kelembutan yang justru membuat Itachi geram. Dia suka ciuman tadi dan Kurama dengan bodohnya menghentikannya. Peduli setan bibirnya besok bengkak.

'It's payback Uma-chan.'

Mereka berciuman lagi, lagi dan lagi. Seolah hidup mereka berdua sangat bergantung pada ciuman tersebut. Mereka berdua tahu bahwa hubungan mereka sudah berkembang ke tingkat yang lebih jauh walaupun diri mereka masing-masing masih tidak yakin. Ego dan logika mereka masing-masing masih lebih unggul. Namun apa yang mereka alami, adalah nyata. Mereka merasakannya jauh di dalam benak terdalam masing-masing mereka sudah mulai memanggil nama satu dan lainnya. Mereka tahu kalau mereka adalah bagian masing-masing diri dan jiwa mereka yang hilang. Berapakalipun mereka pernah mengungkapkan cinta dengan para kekasih di masa lalu perasaan ini tidak ada apa-apanya. Perasaan ini lebih sempurna. Pikiran dan tubuh teras menyatu dalam setiap kecupan dan tarikan nafas. Everything is complete.


.

Itachi Uchiha x femKurama/femKyuubi

.


Mulai malam itu sesuatu dalam diri Itachi berubah. Dia belum menemukan sesuatu tersebut. Hanya saja dia tahu ada yang berubah dengan dirinya. Dia hanya berharap bahwa perubahan ini bukan perubahan yang buruk. Semoga saja ini adalah perubahan yang baik. Itachi juga tahu bahwa seiring berjalannya waktu dengan perubahan yang ada pada dirinya, hubungannya dengan Kurama juga berubah. Itachi juga tahu kalau Kurama juga merasakannya. Itachi bahkan menemukan dirinya sangatlah cerewet terhadap Kurama setelah insiden ciuman tersebut. Lebih cerewet daripada yang seharusnya dia lakukan. Itachi tidak bisa menahan dirinya. Ada dorongan yang selalu timbul saat itu berhubungan dengan Kurama. Seolah-olah kehidupannya hanya ada pada Kurama saja. Hal ini sedikit membuat Itachi ngeri dan takut. Kehausan dirinya akan diri Kurama bukan sesuatu yang sehat. Ini adalah salh satu yang berubah dari dirinya. Maka dari itu Itachi sebisa mungkin menahan dorongan itu. Walau dia harus merasa pening setelahnya, dia akan sekuat tenaga menahannya. Itachi tidak ingin kehilangan lagi. Setelah Izumi dia tidak mau kehilangan Kurama juga jika nanti Kurama bertemu dengan pasangannya, mate-nya. Walaupun Itachi ragu jika dia akan baik-baik saja jika Kurama menghilang dari hidupnya seperti Izumi. Itachi akan menjadi gila. Memikirkannya saja membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bahkan setiap sel tubuhnya saja bisa mengetahui jawabannya. Untuk sekarang ,itu tidak penting. Yang terpenting adalah bagaimana menahan dirinya dari obsesi terhadap Uma-chan.

'Menahan diri agar perasaan ini tidak bertumbuh.'

Ya, Itachi sudah menceritakan kegalauan hatinya pada Uma-chan. Malam itu saat mereka pertama kali berciuman. Mereka berangkat tidur berdua tanpa Itachi berusaha untuk menghindari Uma-chan. Bahkan Itachi menemukan dirinya menyukai Uma-chan ada di pelukannya sepanjang malam dan bangun dengan memandang wajah ilerannya yang sangat iuh itu namun Itachi menemukan itu menggairahkan. Di malam yang sama dia menemukan dirinya menceritakan lebih banyak kehidupannya, keluarga, dan hampir sepanjang hidupnya pada wanita iblis ini. Jika Uma-chan tidak mengingatkannya kalau sudah hampir subuh mungkin saja dia akan terus terjaga sepanjang malam. Itachi juga merasa bingung. Hanya karena sebuah ciuman dan sesuatu dalam dirinya bergolak. Membuat dia tidak mengenali dirinya. Dia tahu tak seharusnya dia mencium Uma-chan. Saat menemukan dirinya menjadi bukan dirinya, dia sangat ketakutan. Namun dia juga senang bukan kepalang. Tubuhnya terbelah antara ketakutan dan kebahagiaan. Bahkan tubuhnya sampai berkeringat dingin. Akhirnya sampai dia merasa cukup berani menghadapi dorongan itu dia memutuskan untuk membuat batasan dan Itachi memilih untuk membuang rasa bahagianya karena menurutnya itu tidak masuk akal. Itachi tidak seharusnya bahagia jika akhirnya dia hnya kan melepaskan Kurama. Dia tidak boleh melewati batas lagi. Sudah cukup hanya ciuman itu saja. Bukan dia menyesalinya. Dia hanya terlalu takut dengan apa yang ada pada dirinya ini. Dia takut akan resiko dengan menjemput kebahagiaann itu. Apakah sepadan dengan pengorbanan pikiran dan logikanya, pedomannnya selama ini?

Seminggu Itachi berusaha untuk mengalihkan pikirannya dari Uma-chan. Yah, mereka sekarang lebih sering melakukan French kiss. Namun itu tidak menyurutkan libido Uma-chan. Bahkan mungkin menambah intensitasnya. Untungnya nafsu makannya tidak bertambah. Apalagi sekarang Itachi harus bisa membagi-bagi waktu untuk sekolah dan kerja part time di sebuah café. Kurama bahkan menawarkan diri untuk membantu dirinya bekerja agar dia bisa fokus di kuliahnya saja yang sebentar lagi selesai. Entah kenapa itachi tidak suka dengan ide Kurama dilihat banyak orang terutama kaum adam. Itu membuat dia tidak fokus saat kuliah dan itu menyebabkan sang sahabat kembali menghawatirkan dirinya.

"Kau kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kau nampak tidak fokus beberapa hari ini. Ah, aku tahu. Akhirnya si gadis tahu kan kau hanya memanfaatkannya?" ucap Shisui sambil menatap Itachi dengan senyuman lebarnya.

"Memangnya siapa yang menjadikannya pelarian? Dasar sok tahu!" sergah Itachi disertai pandangan tajam andalannya. Namun karena Shisui sudah makan asam-garam tatapan tajam ala Itachi jadi dia hanya terkekeh.

'Dasar tukang ikut campur menyebalkan!'

"`Kan benar apa yang baru saja aku katakan. Ini pasti karena seorang gadis kan? I got you man." Sekarang Shishui sudah tertawa seperti orang gila.

"Sesukamu sajalah." Balas Itachi dengan dengusan. Berurusan dengan Shisui hanya membuat kepala Itachi bertambah pusing. Apalagi hari ini dia ketinggalan laptopnya. Sungguh hari yang sial untuk Itachi.

"Hei, kau mau ke mana Itachi? Heii! Kelas mr. Andrews di undur satu jam. Dasar orang itu. Selalu saja asyik dengan dunianya sendiri. Haah...tidak tahu apa kalau aku benar-benar khawatir padanya."gerutu Shisui yang hanya menghela nafas saat melihat kepergian Itachi dengan wajah lelah dan kusut.

"Sekarang aku harus apa ya? Mungkin aku lebih baik makan dulu. Karena sekarang aku lapar dan tidak ada ide untuk memprovokasi Itachi. Perut kenyang otak lancar. You are genius Shisui."saat berbalik akan menuju kantin tiba-tiba...

"Aargh..."


.

My Sexy Succubus

.


Beberapa saat sebelumnya…

Para pria tak berkedip menatap dirinya yang berjalan sambil melihat bangunan-bangunan bergaya kuno di kompleks universitas Cambrigde. Kurama yang hanya mengenakan kaos hitam yang sudah terlalu kecil untuk Itachi namun masih sedikit terlalu besar untuknya sehingga pundak tan serta lengan atasnya. Kurama juga mengenakan celana jins pendek milik Itachi yang sudah sangat lama sehingga warnanya sudah terlalu pudar dan sedikit robekan namun masih saja tertalu besar untuk Kurama sehingga menampakkan pinggulnya yang tidak mengenakan celana dalam. Kurama sedikit tahu apa itu celana dalam, bra dan sebagainya, terima kasih untuk ceramah Itachi. Namun bukan salahnya pula jika dia tidak punya satupun atau bahkan pernah merasakan memakainya. Bukan salahnya pula dia lebih suka telanjang atau hanya mengenakan kaos milik Itachi saja yang biasanya jika dia berdiri ujung kaos hanya sampai pada pahanya atasnya namun tidak bisa menutupi bokongnya saat dia membungkuk. Kurama hanya mengikuti nalurinya saja. Dia tidak mesum.

Kurama masih mengagumi bangunan sekitarnya tanpa memperdulikan orang-orang di sekitarnya yang meneteskan air liur dan bersiul saat melihatnya. Bahkan beberapa perempuan terlihat memerah pipinya saat melirik ke arah Kurama. Efek Kurama sungguh mengerikan. Banyak teman-teman Iblisnya tidak tahu kalau Kurama mengagumi barang-barang antik termasuk gaya bangunan di Cambrigde yang masih memiliki gaya arsitektur lama. Para orang-orang Inggris masa lampau memang sangat memuja seni. Terlihat bangunan-bangunan yang sangat artistik dan bergaya. Mereka sekarang pun masih merawatnya dengan baik. Ternyata masih ada orang-orang yang menghargi sejarah dan seni. Pasti para ayah dan ibu akan sangat bangga memiliki anak yang bisa sekolah di sini.

Setelah merasa sudah puas mengagumi bangunan antik di sekililingnya. Kurama mengendusi udara untuk mencium aroma Itachi. Dia sudah mempersiapkan kekuatannya walaupun itu akan menguras sedikit tenaganya sehingga bisa membuat dia menjadi lemas nanti tapi tidak masalah. Dia bisa sedikit membantu Itachi dengan mengantarkan laptopnya. Walaupun dia tahu Itachi akan sangat marah nanti. Apalagi sekarang Itachi sedang membangun kembali tembok yang sudah hampir Kurama hancurnya saat mereka berciuman. Kurama sendiri tidak mengerti kenapa Itachi meakukan itu lagi namun jika instingnya tidak salah adalah karena Itachi merasakan dorongan untuk selalu berda di sekitar Kurama. Itachi ketakutan karena itu. Namun itu hanya spekulasi. Kurama juga tahu Itachi jug khawatir orang-orang akan mengetahui siapa jati dirinya yang sebenarnya. Yang Itachi tidak tahu adalah bahwa orang lain kan melihat hal berbeda dari apa yang di lihat oleh Itachi. Untuk itulah dia mengambil resiko dengan mengunjungi kampusnya. Untung saja jaraknya tidak cukup jauh dari apato milik Itachi sehingga Kurama tidak membutuhkan uang untuk naik bis. Hitung-hitung sambil cuci mata. Siapa tahu dia bisa mencari aroma yang sedikit mirip dengan milik Itachi. Paling tidak jika nanti Itachi menolaknya sebagai pasangannya dia masih punya cadangan. Walaupun dia tidak akan bisa sebahagia dengan Itachi paling tidak ada yang bersedia mengisi kekosongan hatinya nanti. Walaupun itu tidak akan gampang mengingat dia nanti hanya akan menjadi bayangan semu dari Itachi dan Kurama hanya melihat bayangan Itachi dalam dirinya. Itu jahat tapi lebih baik daripada dia menghilang sepenuhnya dari dunia ini.

Arah jam 9 dari tempat Kurama berdiri di bisa mencium aroma samar milik Itachi. Saat dia menggunakan kekuatan penuh tadi di apartemen dia bisa merasakan aroma Itachi yang seperti dugaan Kurama sangat maskulin. Aroma pinus yang segar dengan sedikit bau sandalwood dan mint. Serta sedikit buah lemon dan apel hijau yang segar. Sungguh memanjakan indra Kurama. Dia bahkan memakan waktu sedikit lebih lama hanya untuk menikmati aroma Itachi.

Tanpa membuang waktu lagi Kurama begegas menuju arah asal bau Kurama dengan berlari kecil karena aroma itu sedikit mulai menghilang. Kemungkinan Itachi sedang berjalan menjauh. Akan semakin merepotkan jika Kurama kehilangan bau milik Itachi.

Saat sampai di sebuah gedung yang bisa dibilang cukup modern dia terus mengikuti aroma Itachi yang sedikit menguat menandakan Kurama berada di tempat yang tepat. Namun langkahnya berhenti di belakang seoang pria yang sedikit lebih tinggi dari Itachi berambut hitam legam cepak tak beraturan. Kurama bisa mencium bau Itachi yang sedikit kuat darinya. Artinya kemungkinan dia baru saja berjumpa dengannya. Akhirnya Kurama memutuskan untuk berdiri di belakangnya saja. Namun kurama tidak sadar dia terlalu dekat sehingga saat sang pria berbalik dia justru kaget.

"Aargh...what the hell! Why did you stand behind me quietly?"Setelah berhasil menguasai kekagetannya sekarang Shisui justru bertambah kaget lagi.

Jika Aprhodite ada di zaman ini maka pasti ada dihadapannya sekarang. Dengan rambut merah yang tebal dan ikal. Wajah cantik dengan hidung bangir dan bibir kemerahan yang penuh serta dua bola mata bundar berwarna biru yang sangat dalam. Tak lupa di hiasi dengan bulu mata lentik. Pandangannya menurun lagi dan Shisui semakin menahan nafas saat melihat penampilannya yang sexy dan liar apalagi dengan kulit tan tersebut semakin menambah ke-sexy-annya. Apalagi tubuh impian seperti ini. Buru-buru Shisui menata kemeja dan merapikan rambutnya lalu menyunggingkan senyum kilowatt-nya untuk menggoda bidadari berambut merah di depannya ini.

"Ah, sorry for a moment ago. I was just too focus on my cousin so I did not pay attention to around me. I'm Shisui Uchiha. Who is beautiful angel in front of me?" senang dengan reaksi sang perempuan yang mempunyai semburat merah di kedua pipinya.

"Well, I'm sorry for surprise you but I'm here to give this laptop to Itachi. He forgot in this morning. Do you know where i could find him?"Kurama menjawab dengan sedikit menundukkan wajahnya. Dia sudah lama tidak berinteraksi langsung dengan manusia. Bahkan datang ke dunia manusia ini lagi hanya bertemu dan berinteraksi dengan Itachi saja.

"What? You know my cousin? Don't tell me it is you?"ini benar0benar diluar dugaan Shisui. Sekarang ia mengerti dengan Itachi yang tidak mau membagi rahasianya tentang wanita misterius yang berhasil menyembuhkan patah hatinya. Shisui pasti akan menyembunyikan dari dunia kalau punya yang seperti ini nantinya.

'Damn you Itachi! Pantas kau bisa melupakan Izumi. Dia bahkan jauh lebih cantik dan sexy dari Izumi. You're lucky bastard Itachi.'

"Umm..yeah but what do you mean 'me'?"Kurama yang tidak mengerti maksud dari Shisui yang ternyata sepupu Itachi ini.

"Okay. I will explain but not here. Would you come with me? Cafetaria?"

"I am not sure since my purpose to meet Itachi. Maybe It's better if I meet him first?" Kurama tidak ingin menambah kamarahan Itachi lagi. Dia tahu kalau Itachi akan marah.

"Okay. I'll take you to his class. Lucky you our class is being held an hour. Follow me."tanpa banyak kata Kurama mengikuti Shisui. Serta berusaha mengabaikan kegugupannya yang semakin lama semakin menjadi. Kurama nervous berbicara dengan manusia selain Itachi


Hai, masih pada nunggu cerita ini? hehehe maafkan saya karena baru bisa update. Untuk plot memang saya buat agak cepat namun nanti akan ada penjelasannya di chapter-chapter selanjutnya. Ada yang sadar kalau saya salah ketik nama Shisui?Tapi udah aku re-upload kok. Maaf ya sebelumnya.

PS: karena saya baik hati. Saya kasih cuplikan chapter selanjutnya.

Regrads

Almahiya09

29 April 2k17


Next Chapter:

"Apa ini sudah bagus?"

Itachi hanya bisa membelalakkan matanya saat melihat Kurama. Dia speechless. Hanya anggukan kepala dan sulitnya menelan ludah. Bahkan dia hampir meneteskan airliurnya.