Title : Who Knows?

Author : veectjae

Cast :

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun,

Kim Junsu, Choi Seunghyun, dll (find it your self :p)

Genre : Romance, Drama, Friendship, School life

Pair : YJ

Length : Chaptered

WARNING: B x B

DON'T LIKE DON'T READ

Preview last chapter

Jaejoong akhirnya kembali ke rumahnya dan ia merasakan kekuatan dari keluarganya. Ia mulai merasa lebih baik.

Hyunjoong datang ke rumah Youngwoon dan menuduhnya berselingkuh dengan Changmin karena sebuah foto, Youngwoon yang merasa emosi balik menyerang Hyunjoong dan meminta penjelasan atas 'hilangnya' Hyunjoong selama dua bulan ini, namun Hyunjoong tidak dapat menjelaskannya. Tentu hal ini membuat Youngwoon semakin kecewa hingga meminta putus. Hyunjoong memilih untuk pulang dan memberikan waktu bagi Youngwoon untuk berpikir.

Yunho pergi menemui Changmin yang sedang pulang ke rumah dan menanyakan keadaan Jaejoong. Pada saat itu lah Changmin mengatakan bahwa Jaejoong memiliki sebuah trauma. Yunho penasaran akan trauma tersebut.

Sementara Changmin menemani Kyuhyun ke ulang tahun Sungmin. Di sana, Sungmin mengumumkan kehamilan Saeun yang membuat Kyuhyun kembali patah hati. Changmin setia menguatkan Kyuhyun, hingga pada akhirnya Kyuhyun bertanya pada dirinya sendiri, apakah dirinya pantas untuk diperjuangkan?

Chapter 21

Hari ini Jaejoong mulai masuk sekolah. Tidak seperti biasanya, ia berangkat dengan Changmin. Tidak mungkin bukan, ia berangkat bersama Yunho lagi? Jaejoong memang bisa berangkat dengan Youngwon, namun adik kembarnya itu akan mengikuti kontes musik hari ini, sehingga ia tidak masuk.

Entah apa yang akan terjadi di sekolah nanti, mengingat Yunho yang tak lelah menyambangi rumahnya seminggu ini. Yang jelas, ia belum siap bertemu Yunho.

Jaejoong berjalan beriringan bersama Changmin menuju kelas mereka. Sekolah masih terlihat sepi, bahkan lapangan yang biasanya selalu ramai sejak pagi terlihat kosong.

Ya, Jaejoong sengaja mengajak Changmin untuk berangkat sepagi mungkin. Tentunya, untuk menghindari Yunho. Yahh, walaupun ia terkena omelan Changmin karena membangunkannya pukul lima pagi, setidaknya ia tak bertemu Jung Yunho pagi ini.

"Hyung, aku masih mengantuk~" rengek Changmin. Jaejoong berdecak kesal.

"Dasar pemalas. Katanya mau melindungiku, eoh? Ku ajak berangkat pagi saja susahnya minta ampun"

"Tapi tidak jam lima pagi juga hyung! Aigooo, sekolah kita baru masuk pukul delapan hyung! Dan pukul berapa ini? Masih setengah tujuh! Se-te-ngah tu-juh! Memangnya hyung mau membersihkan sekolah dulu?" balas Changmin tak mau kalah.

"Aishh, terserah kau Jung Changmin! Kau sama menyebalkannya dengan hyungmu itu?" kesal Jaejoong lalu melangkah pergi meninggalkan Changmin.

"Ya, hyung! Jangan samakan aku dengannya! Enak saja kau menyamakanku dengannya! Tentu aku jauh lebih baik darinya" teriak Changmin sambil berlari menyusul Jaejoong, walaupun tetap dengan mulut menggerutu.

Jaejoong terkekeh melihat tingkah namja yang sudah seperti adiknya itu. Ketika sampai di kelas, ia mengeluarkan kotak bekal.

"Ini, kubawakan khusus untukmu. Kau belum sarapan, kan?" ucap Jaejoong sambil memberikan kotak itu pada Changmin. Ia bangkit dari tempat duduknya, lalu berjalan ke luar kelas.

"Yahh, hyung! Kau mau ke mana! Aishhh, sudah kutemani sepagi ini, dan sekarang aku ditinggal sendiri!" teriak Changmin tak terima.

Jaejoong terus berjalan, mengabaikan Changmin yang tidak henti berteriak. Ia menyusuri koridor kelas-kelas, berjalan tanpa arah. Ya, ia menghindari Jung Yunho. Changmin berkata, setiap hari Yunho selalu mendatangi kelas mereka untuk menanyakan keberadaan Jaejoong. Dan Jaejoong belum memiliki cukup kuat mental untuk menemuinya.

Tanpa sadar, kaki Jaejoong berhenti melangkah di depan studio musik. Perlahan, ia masuk ke dalamnya. Jaejoong terdiam cukup lama, menatap grand piano putih yang terletak di pojok ruangan.

Teringat, dulu ia sempat memainkan piano itu di depan Yunho. Hal yang sudah lama tidak ia sentuh, kembali ia mainkan hanya untuk Yunho.

Strumming my pain with his fingers

Singing my life with his words

Killing me softly with his song

Telling my whole life with his words

Killing me softly with his song

Jaejoong tersenyum kecut mengingatnya. Saat itu, ia memainkan lagu ini. Killing me softly – Fugees. Tanpa sadar, setetes air mata pun turun dari mata Jaejoong.

Ya, tak dapat dipungkiri bahwa rasa cintanya untuk Yunho memang tidak berkurang sedikit pun. Rasa cinta itu tetap ada, tetap utuh seperti dulu. Tersimpan dengan baik di sudut hatinya. Namun, rasa kecewa yang ia rasakan mengalahkan segalanya. Rasa takut itu tidak dapat ia hilangkan begitu saja. Ia butuh waktu utnuk mengatasi ketakutannya akan Yunho. Traumanya memang bukan main-main.

Jaejoong menghapus air matanya. Berusaha tersenyum kecil, untuk menenangkan dirinya. Perlahan, ia menyentuh tuts-tuts piano itu. Jemari lentiknya tanpa sadar memainkan sebuah lagu yang indah. Silhouette, Owl City. Sebuah lagu yang tak pernah gagal menenangkannya. Lagu yang menggambarkan dirinya, lagu yang selalu menemaninya di titik terkelam dalam hidupnya. Dengan suara lirih, Jaejoong bernyanyi mengikuti irama.

I'm tired of waking up in tears

'Cause I can't put to bed these phobias and fears

I'm new to this grief I can't explain

But I'm no stranger to the heartache and the pain

The fire I began is burning me alive

But I know better than to leave and let it die

I'm a silhouette asking every now and then

"Is it over yet? Will I ever feel again?"

I'm a silhouette chasing rainbows on my own

But the more I try to move on, the more I feel alone

So I watch the summer stars to lead me home

I'm sick of the past I can not erase

A Jumble of footprints and hasty steps I can retrace

The mountain of things I still regret

Is a vile reminder that I would rather just forget (no matter where I go)

The fire I began is burning me alive

But I know better than to leave and let it die

I'm a silhouette asking every now and then (now and then)

"Is it over yet? Will I ever smile again?"

I'm a silhouette chasing rainbows on my own

But the more I try to move on, the more I feel alone

So I watch the summer stars to lead me home

'Cause I walk alone

No matter where I go

'Cause I walk alone

No matter where I go

'Cause I walk alone

No matter where I go

I'm a silhouette asking every now and then (now and then)

"Is it over yet? Will I ever love again?"

I'm a silhouette chasing rainbows on my own

But the more I try to move on, the more I feel alone

So I watch the summer stars to lead me home…..

Ya, seperti lirik terakhir lagu itu. The more he tries to move on, the more he feel alone. So he watch the summer stars to lead him home…..

.

.

.

Yunho berjalan dengan pandangan kosong. Sudah seminggu, namun masih saja ia tidak dapat menemui Jaejoong. Jaejoong selalu menghindarinya dengan berbagai alasan. Ia terus menyalahkan dirinya yang terbawa emosi, hingga hampir melakukan hal yang tidak sepantasnya ia lakukan, apalagi dengan seseorang yang sangat ia cintai. Segala cara telah ia lakukan agar dapat menemui Jaejoong, namun nihil. Hingga kini Jaejoong tetap enggan menunjukkan batang hidungnya di hadapan Yunho.

Ia melangkah menuju kelas Jaejoong, dengan harapan Jaejoong sudah kembali masuk. Matanya berbinar ketika mendapati tas Jaejoong berada di kursinya.

"Jaejoong sudah masuk, Min?" Di mana ia sekarang?" Tanya Yunho segera.

"Nado molla. Tadi Jaejoong hyung pergi begitu saja setelah menaruh tas" jawab Changmin singkat. Sesungguhnya ia masih malas dengan hyungnya ini. Namun mengingat perjugannya mencari Jaejoong, bahkan meminta tolong padanya –sesuatu yang tidak akan dilakukan Jung Yunho padanya- ia melunak sedikit.

"Ahh, begitu? Tapi dia sudah masuk, bukan?" Raut wajah Yunho kembali terlihat kecewa walaupun ia berusaha menutupinya. Harapan yang tumbuh di hatinya terkikis sedikit.

"Ne" Yunho menghela nafas. Sedikit lega, setidaknya masih ada kesempatan untuknya untuk bertemu dan meminta maaf pada Jaejoong hari ini.

"Arraseo, katakan padanya aku ingin menemuinya istirahat nanti" kata Yunho lalu beranjak pergi.

"Aku tidak yakin Jaejoong hyung mau menemuimu, hyung. Ingat perkataanku beberapa hari lalu" ucap Changmin.

Perkataan Changmin kembali terngiang-ngiang di kepala Yunho.

'Ini lebih kepada…. trauma masa lalu Jaejoong hyung'

Sebenarnya, apa yang terjadi pada Jaejoong? Yunho cukup yakin hal itu terjadi ketika Jaejoong berada di Jepang, karena Changmin dapat mengetahuinya. Yunho harus segera mencari tahu tentang trauma itu serta mengembalikan kepercayaan Jaejoong padanya.

Dan apapun trauma itu, Jaejoong harus bisa mengatasinya. Ya, Yunho berjanji akan membantu Jaejoong dengan segala cara untuk menyembuhkan traumanya itu. Apapun.

.

.

.

Istirahat ini, Jaejoong terpaksa keluar kelasnya karena ia harus mengurusi tugas-tugasnya yang terbengkalai karena dirinya membolos cukup lama. Belum lagi, ia harus mengikuti ujian susulan untuk beberapa mata pelajaran. Mau tak mau, Jaejoong harus menahan rasa tak nyamannya karena sedari tadi banyak orang yang menatapnya seraya berbisik.

"Bukankah itu Kim Jaejoong?"

"Ahhh, akhirnya dia sudah masuk? Ku kira ia tak mau menginjakkan kakinya di sini lagi semenjak insiden itu"

"Iya, aku juga memikirkan hal yang sama. Tidakkah ia malu?"

"Egois sekali ia, sudah mendapatkan prince kita, masih saja mencari lelaki lain"

"Ku dengar kemarin di bar ia bergenggaman tangan dengan orang itu, yang menyebabkan Yunho mengamuk. Kabarnya juga Jaejoong tertawa mesra dengan lelaki itu"

"What a bitch! Pantas saja ia selalu sendiri, tak seperti Youngwoon. Sikapnya terlalu jalang untuk seorang nerd sepertinya"

"Mungkin Youngwoon juga malu memiliki saudara kembar sepertinya, karena itu mereka jarang sekali terlihat bersama di sekolah"

"Apakah Jung Yunho masih mau dengannya?"

"Kalau aku menjadi dia sih, tidak. Hey, dia Jung Yunho! Siapa saja bisa ia dapatkan dengan mudah"

"Ne, aku setuju denganmu. Yang jelas, seseorang yang lebih baik daripada jalang itu!"

Jaejoong memejamkan matanya sambil memeluk erat buku-buku yang ia bawa. Rasa takut dan marah mulai menyelimuti hatinya, walaupun rasa takut itu lebih mendominasi. Ah, sepertinya ia masih trauma menjadi pusat perhatian. Bagimana pun, hal itu lah yang memicu trauma asli Jaejoong muncul.

"Sekali lagi aku mendengarmu mencaci Jaejoong, kau akan habis di tanganku!" tiba-tiba terdengar suara itu. Suara yang sangat Jaejoong kenal, suara yang sangat Jaejoong rindukan, sekaligus suara terakhir yang ingin ia dengar.

Jaejoong dapat melihat Jung Yunho sedang mencengkram kerah seorang siswa yang tadi mengatainya jalang. Siswa itu terlihat ketakutan, sama halnya beberapa siswa-siswi lain yang turut membicarakan Jaejoong.

Yunho menghempaskan cengkramannya dengan kasar, lalu menghampiri Jaejoong.

"Ayo kita bicara" ucap Yunho sembari menarik tangan Jaejoong lembut. Namun, Jaejoong menepisnya.

"A-aku… harus mengumpulkan tugas ini" ucapnya terbata. Belum berhasil mengatasi ketakutannya akan omongan-omongan orang, sosok yang menjadi ketakutan terbesarnya malah datang menghampirinya. Hati Jaejoong sungguh kalut saat ini. Yunho menghela nafas dalam.

"Bagaimana jika kita bicara setelah kau mengumpulkan tugas itu, hm? Aku tunggu di halaman belakang seperti biasa" pintu Yunho dengan suara selembut mungkin, walaupun sangat ketara ada nada putus asa di dalamnya.

"B-baiklah, aku akan menemuimu setelah aku mengumpulkan tugas ini" ucap Jaejoong pelan sambil tetap terbata. Segera, ia pergi dari hadapan Yunho. Jaejoong bersandar di tembok, terengah-engah dan mengeluarkan keringat dingin. Kepalanya mulai terasaa pening.

'Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di sekolah' batinnya. Jaejoong berusaha menormalkan gejolak emosinya lagi. Ia sudah memutuskan untuk mengakhiri semuanya sekarang. Setidaknya untuk sementara, sampai ia bisa mengatasi trauma ini sendiri. Ya, sendiri, karena lagi-lagi ia tak ingin merepotkan orang lain.

.

.

.

Yunho bersandar di hpohon sambil melihat arlojinya. Sudah hampir 15 menit, dan Jaejoong masih belum menghampirinya. Apakah Jaejoong akan menghindarinya lagi? Semoga saja tidak.

"Ada apa?" Suara itu mengagetkan Yunho. Ia menoleh ke samping, mendapati Jaejoong yang sedang menatapnya datar. Senyum tipis terulas di bibir Yunho. Ia berjalan mendekati Jaejoong, bermaksud untuk merengkuh Jaejoong dalam pelukannya. Namun, Jaejoong malah melangkah mundur dengan tubuhnya yang bergetar.

"J-Jangan mendekat!" ucap Jaejoong panik. Matanya melirik ke sana ke mari, bergerak gelisah. Yunho bingung melihat reaksi yang menurutnya sedikit berlebihan. Apakah ini ada hubungannya dengan trauma yang ia alami?

"Ada apa, Jae?" Tak tahan, Yunho pun langsung menanyakannya.

"Aa-ani… Jangan terlalu dekat denganku" ucap Jaejoong cepat. Ia pun mundur beberapa langkah. Setelah merasa cukup tenang, Jaejoong pun membuka suara.

"Jadi, apa yang perlu kita bicarakan lagi?" Yunho menghela nafas.

"Aku minta maaf atas perlakuanku tempo hari, Jae. Aku sadar aku berlebihan saat itu. Maaf, Jae" Jaejoong hanya menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

"Aku tahu Jae, perbuatanku memang sulit untuk dimaafkan. Aku juga tidak akan memaksamu untuk memaafkanku. Tapi…. Bisakah kita seperti dulu lagi? Maksudku, jangan menghindar dariku. Aku merindukanmu. Percayalah padaku" ucap Yunho setengah putus asa. Jaejoong tidak membalas. Hanya ada suara angin-angin dan daun-daun yang berterbangan.

"Kau tahu, Yun? Kepercayaan itu seperti selembar kertas. Sekali saja kertas itu terremas dan kusut, kertas itu tidak bisa kembali sempurna itu. Memaafkan untuk hal yang mudah, namun untuk mempercayaimu lagi…. Itu cerita lain lagi" Suara Jaejoong memecahkan keheningan.

"Tidak bisakah kita melanjutkan hubungan ini, Jae? Kau tahu aku sangat mencintaimu, berikan satu kesempatan untuk memperbaiki semua ini"

"Apa yang perlu dilanjutkan? Sejak awal, kita memang tidak memiliki hubungan spesial. Cinta, namun kau tidak pernah memintaku untuk menjadi kekasihmu" ungkap Jaejoong pada akhirnya. Yunho terhenyak. Ia teringat dengan ucapan Changmin, yang mengatakan hal yang sama dengan Jaejoong. Yunho tidak dapat berkata apapun lagi.

"Namun kalau kau menganggap kita memiliki hubungan…. Baiklah. Aku ingin mengakhiri hubungan kita" Yunho kaget dengan ucapan Jaejoong. Mengakhiri hubungan? Apa ia tak salah dengar?

"Aku tidak sanggup melanjutkan hubungan ini. Di sini" tunjuk Jaejoong pada dadanya.

"Rasanya sesak. Sakit" Jaejoong menatapnya sekilas, lalu melangkah pergi menjauh. Jaejoong tahu, Yunho tak mampu menjawabnya. Yang tidak Jaejoong tahu adalah, saat itu juga luka di hati Yunho seakan ditabur garam. Perih.

.

.

.

Youngwoon termangu, sambil menatap ke arah hujan di luar. Biasanya, ia akan berada café ini bersama Hyunjoong, sambil bercerita tentang apa pun. Tapi sekarang? Youngwoon terkekeh miris.

"Mungkin ia sedang sibuk dengan Yura-Yura itu" gumamnya sedih. Ia mengaduk-aduk hot chocolate di depannya tanpa berniat untuk meminumnya. Tanpa ia sadari, seseorang menarik kursi di depannya dan menatapnya lamat. Awalnya Youngwoon tidak sadar, namun lama-kelamaan ia merasa rishi karena diperhatikan. Ia menoleh dan mendapati orang tersebut.

"Hyunjoong hyung?" tanyanya kaget. Hyunjoong hanya tersenyum melihatnya. Ia menggenggam tangan Youngwoon lembut.

"Ikut aku" ucapnya lalu menarik Youngwoon pelan. Youngwoon kebingungan, namun tetap mengikuti Hyunjoong. Mereka berdua keluar dari café itu dan masuk ke mobil Hyunjoong.

"Kita mau ke mana?"

"Lihat saja nanti" Hyunjoong tersenyum penuh arti sambil tetap setia menggenggam tangan Youngwoon. Dari jalan yang mereka lewati, sepertinya mereka pergi ke daerah pinggiran kota. Sejam berlalu, mereka sampai di sebuah bangunan tertutup yang berada di samping sekolah dasar. Hyunjoong segera turun dan membukakan pintu bagi Youngwoon. Ia meraih tangan Youngwoon, lalu menuntunnya masuk ke dalam bangunan tersebut.

Bangunan itu sangat gelap. Bau cat sangat terasa di hidung Youngwoon.

"Tunggu sebentar" ucap Hyunjoong dan melepaskan tangan Youngwoon. Kini Youngwoon berdiri sendiri. Sebenarnya ia sedikit merasa takut, namun ia tetap percaya dengan kekasihnya –walaupun mereka sedang bertengkar-.

KLIK

Lampu menyala. Terlihat ruangan yang cukup besar dan bernuansa biru-hijau. Di sisi-sisi ruangan ad arak-rak berwarna putih yang dipenuhi oleh berbagai buku walaupun masih ada beberapa bagian yang kosong. Sementara, kursi dan meja bulat berada di tengah ruangan. Youngwoon membuka mulatnya, terkejut.

"Suka, hmm?" Kedua lengan tegap memeluknya dari belakang. Hyunjoong menaruh dagunya di pundah Youngwoon. Ia menatap Youngwoon yang masih terkejut dengan senyum manis.

"Ini… Apa?"

"Ini mimpimu, Luv" Hyunjoong melepaskan pelukannya, lalu membalik tubuh Youngwoon. Ya, sejak dulu Youngwoon yang memiliki jiwa sosial besar memang bercita-cita untuk membuka perpustakaan bagi anak-anak yang kurang mampu. Ia ingin mereka juga memiliki kesempatan membaca dan menambah wawasan.

"Mianhae, aku mengabaikanmu dua bulan ini. Sebenarnya ini adalah hadiah untuk hari jadi kita, namun aku memutuskan untuk memberikannya padamu sekarang karena kau marah. Sebulan ini, aku sibuk menyelesaikan pembangunan perpustakaan ini, Luv.

Aku sama sekali tidak berniat untuk mengabaikanmu. Selain itu, aku harus mengisi rak itu dengan buku-buku sendiri. Oleh karena itu, aku meminta tolong Yura untuk membantuku. Jangan salah paham, Yura adalah designer interior perpustakaan ini, Luv. Dia yang membantuku menyelesaikan perpustakaan ini dalam waktu yang singkat. Jadi mau tak mau, aku harus menghabiskan banyak waktu dengannya. Tidak ada yang perlu dicemburukan darinya. Lagi pula, dia jauh lebih tua dariku. Dia seperti noonaku" jelas Hyunjoong.

Youngwoon terharu sekaligus merasa bersalah. Terharu akan kejutan yang diberikan Hyunjoong, merasa bersalah karena meragukan cinta Hyunjoong. Seharusnya ia bisa mengerti, Hyunjoong waktu itu tidak memberikan penjelasan bukan karena ia berbohong, namun ia ingin memberrikan kejutan pada Youngwoon.

Youngwoon tidak bisa berkata-kata, ia memeluk Hyunjoong erat lalu menangis kecil. Hyunjoong terkekeh pelan, lalu mengelus lembut kepala Youngwoon.

"Maaf telah membuatmu menangis, Sayang. Maaf aku telah mengabaikanmu. Maaf, bahkan aku menuduhmu berselingkuh. Maaf" ucapnya sambil mengecup kepala Youngwoon. Hyunjoong sangat merasa bersalah ketika ia menuduh Youngwoon selingkuh hingga membuatnya menangis. Seharusnya ia tidak mempercayai Minki. Ya, Minki adalah adik kelas Youngwoon yang juga merupakan teman masa kecil Hyunjoong yang menyukai Hyunjoong sejak lama. Minki lah yang mengirimkan foto itu pada Hyunjoong dan mengatakan bahwa Youngwoon selalu menghabiskan waktu berdua dengan lelaki itu.

Youngwoon yang menyembunyikan kepalanya di dada bidang Hyunjoong hanya mengangguk sambil tetap terisak kecil. Beberapa saat mereka bertahan di posisi itu, hingga akhirnya Youngwoon melepaskan pelukan mereka. Ia menatap Hyunjoong yang melemparkan senyum hangatnya. Tangan Hyunjoong terangkat untuk menghapus air mata Youngwoon.

"Aku tidak pernah berpikir kau akan melakukan ini untukku" ujar Youngwoon lirih. Hyunjoong hanya tersenyum mendengarnya.

"Terimakasih, dan maaf… Maaf telah meragukan cintamu. Seharusnya aku-" Ucapan Youngwoon terpotong oleh kecupan yang diberikan Hyunjoong.

"No, Luv. Jangan meminta maaf. Kau tidak tahu apa-apa, jadi wajar jika kau marah" Youngwoon merona malu karena dicium Hyunjoong. Oh my, sudah berapa lama ia tidak merasakan ciuman manis Hyunjoong?

"Gomawo Hyunnie… Saranghae" ucap Youngwoon lalu kembali memeluk Hyunjoong.

"Love you too, Luv. More than anything" balas Hyunjoong yang balik memeluk Youngwoon erat.

"Jadi, bagaimana? Mau mengelilingi perpustakaan barumu, hum?" goda Hyunjoong setelah selesai berpelukan. Youngwoon tertawa kecil sambil mengangguk dengan semangat. Ia menggelayutkan tangannya di lengan kekar Hyunjoong sambil berjalan kecil dengan bahagia. Ah, senangnya berbaikan dengan kekasihnya ini.

.

.

.

Beberapa hari kemudian, Jaejoong menginjakkan kakinya di tempat ini. Ngurah Rai International Airport. Ya, Jaejoong memutuskan untuk 'melarikan diri' sebentar dari kehidupan sehari-harinya untuk menenangkan dirinya. Ia butuh suasana yang tenang, untuk mengendalikan ketakutanya. Untuk mengontrol traumanya. Untuk melupakan Yunho.

Jaejoong menarik kopernya dan masuk ke taksi yang sudah dipesannya menuju hotel.

"To Karma Kandara, Uluwatu, Sir" ucapnya yang segera diangguki oleh sang supir. Taksi itu segera berjalan meninggalkan bandara.

Jaejoong menatap ke luar, memandang pemandangan di Bali. Tempatnya selama beberapa hari kedepan untuk menghabiskan waktu, mulai membuka lembaran baru. Menenangkan pikirannya, melupakan sejenak segala permasalahan. Meninggalkan Yunho di belakang. Ia akan berusaha tetap bertahan tanpa Yunho di sisinya.

'Ya, hanya kembali ke kehidupanku sebelum Yunho tidak. Tidak sulit, kan? Kau pasti bisa, Kim Jaejoong' batin Jaejoong, walaupun sebenarnya dirinya sendiri tidak yakin.

TBC

.

.

.

.

Updateee *love love*

Senangnya bisa update lagi :")

Terimakasih untuk kalian yang setia menunggu ff ini. Jjang!

Susah-susah gampang menulis ff ini. SMA super banyak kegiatannya, jadi tidak se mudah dulu untuk menulis :') dan untungnya sekarang sudah mulai berkurang kegiatannya. Tapi UAS sudah menunggu huhuuhuhuhu.

Thanks to Jung Yunho who has been my moodbooster for this month. Walaupun Yunppa bukan bias… tapi gatau kenapa waktu dia discharge senengnya lebih daripada waktu Jaemma discharge :') ((padahal bias gue jae heu))

Btw Who Knows sudah hampir selesai, tinggal 2 chapter lagi. Tapi tenang saja, sudah ada stock ff baru ((yang baru ditulis sampai prolog. Hehehehehehehee mohon sabar menunggu)).

Rencananya sih veect mau menulis sampai setengah jadi, baru publish. Jadi kemungkinan besar veect akan hiatus hehehehehee~~~

Segitu aja deh. Jangan lupa follow veectjae di wattpad ya! Untuk kedepannya akan lebih aktif di wp soalnya heheehe

Thanks for reading, review please? ^^~