THE BLOOD CURSE

Cast :

Park Chanyeol (EXO), Byun Baekhyun (EXO), Oh Sehun (EXO), Xi Luhan, Kim Jongin (EXO), Do Kyungsoo (EXO), Choi Minho (Shinee), Dara Park (2NE1), Choi Siwon (Super Junior), Kim Heechul (Super Junior), and other casts.

Genre :

Fantasy, Romance

Boy X Boy (WARNING!)

Rated :

K/T/M (Choose by yourself )

Hallo/

Makasih buat para readers yang udah ninggalin reviewnya buatku^^

Dari review yang udah aku terima, ada beberapa yang udah nebak gimana bakal cerita ini kedepan

Makasih buat para readers yang udah review ^^

Nih aku bawain chapter 2

Chapter ini khusus membahas Damon dll yaa

Don't forget to review chingu-yaaa~


(Last Chapter)

"TIDAK! DAMON! SADARLAH! SADARLAH! BUKA MATAMU!"

"Ini tidak akan berhasil jika aku tidak bertindak apa-apa!"

"Willis, setelah ini berakhir kau akan aku berikan keistimewaan yang orang lain bahkan Damon sendiri tidak mempunyainya. Nanti, dikehidupan kakakmu dan dikehidupanmu."

"Maafkan Ayah, Damon. Ayah akan melakukannya. Bertahanlah! Kau akan segera kembali."

'Vive et quaeretis me sanguine rubra ligno vitae et sicut radix ad arborem''

Dan mantera itupun akhirnya terucap.

Mantera terhebat yang pernah ada.


-Chapter 2 : Belati Perak dan Mantera-

Laki-laki itu tiba di kediamannya dengan raut wajah lelah. Namun dibalik wajahnya itu tersimpan rasa senang sekaligus damai yang sangat menenangkan hatinya. Ibunya yang sedang asyik membaca kitab dikejutkan dengan kedatangan putra pertamanya.

"Ibu lihat kau sangat senang hari ini. Apa yang terjadi sayang? Hmm?" yang ditanya hanya memasang senyum tampan nan menyejukkan hati.

"Aku hanya.. Aku hanya membantu mereka terbebas dari para rentenir itu Bu." Wajah senangnya menghilang di kalimat terakhir.

"Memangnya apa yang dilakukan para rentenir itu? Bukannya itu salah mereka yang tidak menepati janji mereka Nak?"

"Tidak Bu! Mereka telah berusaha sebisa mereka untuk bisa melunasi hutang itu. Namun tadi, disaat mereka sedang berjualan dipasar, para rentenir itu mendatangi mereka dan merusak semua dagangan yang mereka jual! Aku tidak menyukai itu! Mereka terlalu kasar dalam bertindak, seharusnya mereka harus lebih bersabar!" air matanya terjatuh begitu saja setelah mengucapkan kalimat ini. Sang Ibu kemudian tersenyum dan menenangkan putranya dengan sebuah pelukan hangat.

"Damon anakku.. Kau memang berbeda dari yang lain. Ibu bangga dengan sikapmu yang seperti ini. Kau telah membela mereka yang benar." Putranya yang bernama Damon itu membalas pelukan sang Ibu dan menyandarkan dagunya di bahu sang Ibu.

"Lalu, yang kau perbuat untuk para rentenir itu?" Ibunya bertanya.

"Ketua rentenir itu telah melukai seorang kakek disana, jadi aku mengambil belati perak yang ada di kudaku dan kemudian aku-"

"Apa kau membunuhnya?" Ibunya melepas pelukan itu.

"Tidak Bu. Aku hanya melukainya dengan sebuah goresan di lengan kanannya. Setelah itu rombongan rentenir itupun pergi. Tapi Bu.." Dia terlihat sedih sekarang.

"Hmm?"

"Aku kehilangan belati perakku disana. Setelah aku melukai ketua rentenir itu aku segera menghampiri kakek yang terluka dan aku melupakan belatiku. Tapi, tak apa. Yang penting kakek itu tidak terbunuh dan rentenir sialan itu tidak menampakkan diri lagi didepanku." Dia kembali tersenyum haru mengingat kejadian hari ini. Ibunya yang sebelumnya khawatir dengan keadaan putranya kemudian mengajak putranya kedalam sebuah pelukan. Ibunya bangga dengan putra pertamanya ini. Dia Dracula, namun berhati mulia. Ia sangat senang jika menolong rakyatnya yang dalam kesusahan. Namun itu tidak berarti bahwa ia harus menghentikan kebiasaannya. Yaitu meminum darah segar dari siapa saja yang ingin memberikan darah mereka untuk Calon Pangeran itu.

Damon kembali ke kamarnya. Ia rasa ia harus beristirahat setelah seharian berkeliling desa tadi. Pikirannya tak lepas dari belati perak kesayangannya. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya. Dan mulai memejamkan matanya sambil berucap..

"Aku akan terus membela rakyatku yang tersiksa." Kemudian ia pejamkan matanya.

.

Seorang laki-laki berperawakan tinggi sedang menuju kamarnya. Ia lelah karena habis berburu rusa bersama Ayahnya. Dia tertarik untuk ke kamar Kakaknya. Tidak biasanya Kakaknya ini tidak mengunci pintu kamarnya. Laki-laki itu masuk dan..

"Kakak aku- DAMON!" laki-laki itu berlari mendekati Kakaknya yang tengah sekarat.

"Wi-willis.. Ahh." Ia mengerang kesakitan sambil memegang dadanya yang tertusuk benda tajam.

"S-siapa yang melakukan ini" Laki-laki yang dipanggil Willis itu bertanya sambil memegang tangan dingin kakaknya. Dan melihat disekujur tubuh kakaknya telah dipenuhi oleh darah hitam segar yang berasal dari tusukan itu.

"Akhh-aku-" Kakaknya kemudian terpejam. Kakaknya telah meninggal. Tertusuk belati perak kesayangannya.

"TIDAK! DAMON! SADARLAH! SADARLAH! BUKA MATAMU! IBU! AYAH!" Laki-laki yang dipanggil Willis itu sekarang tengah mencoba untuk menyadarkan kembali kakaknya yang sudah tidak bernyawa lagi. Ia terus berusaha membangunkan kakanya itu dari kematian yang seharusnya tidak kakaknya terima. Ia menangis. Ia begitu menyayangi kakaknya. Tidak seharusnya kakaknya mati dengan cara seperti ini. Kemudian ia melihat pegangan belati itu. Disana terdapat sidik jari dari si penusuk kakaknya. Kemudian ia pegang sidik jari itu dan ia pejamkan kedua matanya. Tak lama kemudian kedua orangtuanya datang.

"Astaga Damon!"

"DAMON! Anakku, siapa yang telah melakukan ini padamu nak?!" tangisan Ibunya pecah.

"Ayah, Ibu, aku juga tidak mengetahui siapa yang telah melakukan ini pada Kakak. Tak biasanya kakak tidak menutup pintu kamarnya. Begitu aku masuk untuk memastikan, keadaan kakak sudah seperti ini!" Willis menjelaskan kepada kedua orangtuanya.

"Sialan! Ini belati perak milik Damon!" Ayahnya mendekat kea rah tusukan itu dan menemukan bahwa belati perak yang telah tertancap didada tepatnya Di jantung putranya ini adalah belati perak milik Damon sendiri. Ibunya yang mendengar ini kemudian menutup kedua mulutnya tak percaya. Ibunya memang tidak mengetahui seperti apa bentuk belati perak itu. Namun Damon sendirilah tadi yang menceritakan itu padanya. Bahwa ia kehilangan belati perak miliknya saat ia membela sebuah keluarga kakek tadi.

"APA?! Tidak mungkin! Tadi Damon mengatakan padaku bahwa ia kehilangan belati peraknya saat ia sedang berada di desa! Ini.. tidak mungkin! Damon!" tangis Ibunya kembali pecah dan kini semakin menjadi-jadi. Willis tidak bisa jika harus melihat keadaan seperti ini. Ini terlalu pedih. Ini terlalu menyakitkan untuk Ibunya. Ibunya sangat menyayangi Kakaknya. Kemudian Willis mencoba untuk menarik belati perak itu dari tubuh kakaknya. Namun hasilnya nihil. Ia tidak bisa menarik benda itu.

"Inilah yang akan terjadi jika Damon terus ikut campur dalam urusan rakyat-rakyat itu! Ia kuat namun ia tidak bisa mengeluarkan kekuatannya! Ia tidak tega jika harus membunuh orang yang seharusnya dibunuh! Lihatlah sekarang! Belati itu telah membunuhnya dengan cara seperti ini!" Geram Ayahnya.

"Ini bukan salahnya Ayah! Ini memang sifat kakak sejak ia kecil, ia suka menolong orang-orang dan-" Willis angkat bicara untuk membela kakaknya.

"Tidak! Ini kelemahannya! Ia terlalu baik. Bagaimana jika Damon meninggal?! Besok adalah hari pengangkatannya menjadi Pangeran Pewaris kerajaan kita! Aku akan bertindak. Aku akan-" kata-kata Ayahnya terpotong oleh omongan Ibunya.

"Tidak! Itu beresiko untuk Damon, sayang! Kau harus-" Ayahnya balas memotong perkataan Istrinya.

"Ini tidak akan berhasil jika aku tidak bertindak apa-apa! Willis belum cukup usia jika harus menggantikan Damon sebagai Pangeran Pewaris." Jelas Ayahnya sambil mendekati Willis dan jasad putra pertamanya.

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya istrinya.

"Aku akan menarik belatinya keluar dan memanterai Damon dan juga belati ini." Jelas Ayahnya.

"Tidak sayang, jangan lakukan itu! Ini akan berdampak buruk pada Damon di kehidupannya nanti" Istrinya menolak apa yang akan ia lakukan untuk kebaikan putranya sendiri.

"Tapi Bu, Ayah benar! Ayah harus memanterai kakak supaya ia bisa kembali hidup dan menjadi Pangeran Pewaris sesuai dengan apa yang Ayah harapkan."

"Bagaimana mungkin kau juga berpihak pada Ayahmu? Tidakkah kau-"

"Sayang, tenanglah. Ini akan berhasil. Yakinlah padaku." Pria yang disebut Ayah pun menenangkan wanitanya yang sedaritadi khawatir dengan keadaan Damon, Putra Pertamanya. Pria itu yakin, jika ia melakukan ini pasti Damon nanti akan menjadi Pangeran Pewaris kerajaan sesuai dengan apa yang ia harapkan. Tetapi jika Pria itu tidak melakukan ini, maka tidak ada harapan lagi bagi Damon untuk kembali hidup. Damon akan tertidur abadi selamanya. Namun jika ia melakukan ini, Damon akan hidup kembali tapi dengan beberapa pantangan hidup seperti Damon tidak bisa merasakan apa itu Cinta. Karena itu bisa membahayakan seorang yang akan dicintainya nanti. Karena Cinta bisa membutakan suatu hal. Dan memuat kesadaran seorang perlahan menghilang. Dan jika Damon hidup kembali, ia akan menerima kesengsaraan hidup. Seperti jika kulitnya atau tubuhnya terkena sinar matahari langsung maka dengan segera ia akan berubah menjadi abu dan tak bersisa. Dengan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya wanita itu percaya dan meyakini apa yang akan dilakukan oleh Prianya ini. Wanita itu mau tak mau harus pasrah menerima semua konsekuensi jika Putranya dihidupkan kembali. Tapi ia tak akan sanggup jika melihat Putranya mati dengan cara seperti ini. Dan ia membolehkan Prianya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh Prianya.

"Lakukanlah. Lakukanlah dengan cepat.. Aku begitu menyayangi Damon.." wanita itu berbicara dengan nada yang sangat pilu. Kemudian Pria itu memeluk wanitanya sebagai wujud rasa terima kasih karena telah mempercayainya.

"Willis, setelah ini berakhir, kau akan aku berikan keistimewaan yang kaum kita Dracula bahkan Damon sendiri tidak mempunyainya. Akan kuberikan itu dikehidupanmu dan Damon selanjutnya."

"Baik Ayah. Aku mengerti. Aku rela Damon yang menjadi Pangeran Pewaris. Karena memang itu yang seharusnya ia dapat atas kebaikannya selama ini Ayah. Lakukanlah, aku ingin Damon kembali hidup lagi"

Willis berkata dengan penuh keyakinan dan penuh keikhlasan. Ia yakin jika Damon, kakaknya akan hidup lagi. Namun ia juga mengiikhlaskan jika gelar Pangeran Pewaris itu diberikan kepada Kakaknya. Sebenarnya ia juga menginginkan gelar itu. Namun melihat apa yang sudah diperbuat kakaknya untuk para Rakyat Hellexus, ia menjadi rela gelar itu hanya untuk kakaknya saja. Tak apa jika ia tidak mendapat gelar itu asalkan Kakaknya hidup kembali. Dan ia bisa melihat senyum bahagia dari kakaknya.

"Maafkan Ayah, Damon. Ayah akan melakukannya. Ayah akan memanteraimu supaya kau bisa hidup lagi dan kau bisa menjadi Pangeran Pewaris sesuai dengan apa yang Ayah harapkan. Bertahanlah! Kau akan segera kembali Damon! Ayah berjanji!" Ayahnya kembali meyakinkan dirinya sendiri dan meyakinkan Damon bahwa ia akan hidup kembali. Ia mengelus rambut putranya sayang dan meneteskan air matanya. Ia tak seharusnya melakukan ini. Tapi ini demi kebaikan Damon dan Kerajaan Hellexus sendiri.

Pria itu melebarkan kakinya diantara jasad Damon. Seketika ruangan dan alam berubah. Seakan akan terjadi sesuatu hal besar. Angin bertiup kencang. Gemuruh mengejutkan alam semesta. Aura hitam keluar dari dalam tubuh Pria itu. Kemudian ia tutup matanya sambil menarik nafas panjang. Saat Pria itu membuka matanya, Pria itu telah berubah menjadi Vampire terhebat yang pernah ada. Mata merah bersinarnya melihat kearah belati perak sialan itu. Dengan satu hembusan nafas dan satu tarikan saja Pria itu berhasil menarik belati perak itu sambil mengucapkan mantera :

''Vive et quaeretis me sanguine rubra ligno vitae et sicut radix ad arborem''.

Belati itu sudah terlepas dari tubuh Damon. kemudian Pria itu membakarnya-belati perak- dengan kekuatan api yang ia punya. Belati perak itu sudah musnah. Pria itu kembali ke wujudnya semula dengan perlahan. Jasad putranya sudah berubah menjadi tubuh normal. Damon sudah kembali hidup.

Damon membuka matanya. Ia terbatuk dan mengeluarkan darah berwarna hitam dari mulutnya. Ia tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Ia terluka. Lukanya cukup dalam. Melihat itu, Willis segera berlari mencari kain dan menyeka darah yang keluar dari mulut kakaknya. Ibunya mendekat dan segera memegang kedua tangan Damon. Damon yang tersadar, ia mencari dimana Ayahnya. Ibunya menenangkan Damon dan berkata bahwa Ayahnya ada di kamarnya. Ayahnya-Raja Vladimirheus- mendekat kearah Damon dan memegang tubuh dingin Damon. Raja Vladimirheus senang atas kembalinya Damon. Dan ia sedikit menyesal telah melakukan ini. Damon akan mengalami kesulitan hidup setelah ini. Raja Vladimirheus memerintahkan putra keduanya-Willis- untuk tetap berada dikamar Damon. Ia meminta Willis untuk tidur dan terus menjaga Damon disini. Istrinya-Ratu Zeandara- menyetujuinya. Ratu Zeandara kembali menenangkan Damon yang terus berusaha untuk berdiri dan berkata akan membawakan sup kalkun untuk Damon. Raja Vladimirheus berkata pada Willis bahwa ia akan memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk menemukan siapa pelaku dari penusukan Damon. Ia tidak segan akan membunuhnya jika pasukannya berhasil menemukan pelaku penusukan itu. Raja Vladimirheus juga memerintahkan sebagian pasukannya untuk berjaga-jaga disekitar kamar Damon untuk mencegah adanya penyusup. Ratu Zeandara mengecup kening Damon dan meninggalkan Damon dan juga Willis dikamar itu. Kemudian Raja juga meninggalkan kedua putranya disini. Ia mempercayai Willis untuk menjaga Damon.

.

"Bagaimana rasanya mati dan hidup kembali hmm?" Willis bertanya kepada kakaknya sambil memberi obat-tanaman obat yang telah ditumbuk- pada bekas tusukan di dada kakak tersayangnya. Damon hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adik tercintanya.

"Hmm.. Rasanya seperti kau ditusuk benda tajam kemudian benda tajam itu ditarik lagi dari tubuh- AKHH!" Damon meringis karena Willis dengan sengaja menekan bekas tusukan itu.

"Ya! Tidak kau jawabpun aku sudah tahu." Damon tertawa.

"Baiklah maafkan kakakmu ini Willis! Lalu mantera apa yang Ayah berikan untukku? Apa itu mantera terbaik?"

"Aish! Mana ada mantera terbaik jika mantera itu sudah diucapkan seorang Dracula seperti kita!"

"Bukannya itu terbaik jika dalam keadaan mendesak?" Damon bertanya dengan sangat penasaran. Willis geram karena kakaknya ini tidak berhenti bertanya mengenai mantera yang telah diberikan Ayahnya. Ia pun menghentikan kegiatannya –Mari-mengobati-kakak-yang-baru-saja-bangkit-dari-kematian-

"Memang terbaik untuk keadaan terdesak dan terburuk untuk keadaan hidupmu! Terbaik karena kau bisa hidup lagi sampai saat ini. Lalu, terburuk pertama, dikehidupanmu kau tidak akan pernah merasakan apa itu Cinta. Terburuk kedua, kau tidak akan pernah bisa menunggangi kudamu lagi!" Willis melanjutkan membalut luka Damon dengan kain.

"Ya! Kenapa kudaku kau bawa-bawa?!" protes Damon pada Willis.

"Karena mulai dari sekarang hingga ke masa masa masa depan nanti, kau akan langsung menjadi abu jika kulit atau tubuhmu terkena sinar matahari." Willis telah selesai mengobati kakaknya, kemudian ia berdiri.

"K-kenapa bisa begitu?! Aish! Kenapa Ayah begitu kejam kepadaku?!" Willis memutar kedua bola matanya malas. Ia berpikir jika kakaknya ini sangat tidak berterimakasih kepada sang Ayah yang telah menyelamatkannya dari kematian.

"Kau itu harusnya bersyukur karena kau bisa hidup lagi dan akan diangkat menjadi Pangeran Pewaris!"

"Ya aku tahu itu! Tapi, mantera apa yang Ayah ucapkan?" Kemudian Damon terduduk dan Willis mendekat kearah Damon.

''Vive et quaeretis me sanguine rubra ligno vitae et sicut radix ad arborem''. Willis menjawab dengan mendekatkan wajahnya kepada Damon.

"Ya! Kau membuatku takut! Lalu apa artinya?" Damon tidak main-main. Wajah Willis memang menakutkan jika dari dekat.

"Itulah kau selalu sibuk berkuda sampai-sampai kau tidak menyempatkan dirimu untuk pergi ke perpustakaan istana!" Damon hanya memasang senyum bodohnya.

"Menurut buku yang sudah aku baca, itu berarti bahwa : Hiduplah engkau dari darah apel merah dan kemudian engkau akan mencari pohonnya dan kemudian menjadikan pohon itu sebagai akar dari kehidupanmu. Hanya itu yang aku ketahui." Damon hanya membulatkan kedua matanya. Ia tak menyangka bahwa adik kecilnya sekarang sudah lebih pintar darinya.

"Dan itu berarti jika kau ingin hidupmu kembali seperti semula kau harus mencari darah dari seseorang untuk kau minum. Kemudian kau akan mendapatkan kekuatanmu kembali dan kau bisa hidup abadi selamanya." Willis memang adik yang sangat berguna pikir Damon.

"Bukankah hidupku sekarang sudah kembali seperti semula?" Damon bingung karena ia pikir hidupnya sekarang telah kembali membaik seperti dulu.

"Tidak bodoh! Kau itu sekarang masih sekarat dan masih sangat sakit! Kau harus minum 2 tetes darah merah yang segar dan kental juga berwarna pekat dari seseorang agar kau sembuh dari kesekaratanmu dan kesakitanmu itu. Kemudian kau akan mendapat kekuatanmu kembali dan kau bisa hidup aaaabadi selamanya!" Willis selesai dengan penjelasannya. Ia geram karena kakaknya terlihat sangat bodoh jika sedang seperti ini. Salahkan kakaknya yang tidak pernah berkunjung ke perpustakaan istana.

"Wah! Ternyata aku masih sekarat dan sakit. Lalu bagaimana caranya? Apa kita akan mulai mencari darah itu?" Damon berusaha berdiri namun ditahan Willis.

"Ya! Kita harus mencarinya! Ayah mengatakan bahwa penobatanmu akan dilakukan jika keadaanmu sudah benar-benar sangat sangat sangat sehat. Mengerti?" Willis tersenyum-palsu- kepada kakak-bodoh- tersayangnya. Damon hanya mengangguk mengerti dan memasang kembali wajah tersenyum-bodoh-nya.

"Aku lapar, apa kau ingin sesuatu?" Tanya Willis kepada kakaknya.

"Ya. Ambilkan aku roti gandum saja dan satu teko darah hangat. Jangan tambahkan serbuk madu didalamnya! Itu menjijikkan!" pesan Damon kepada adik tersayangnya.

"Baiklah yan A. Tunggu sebentar!" kemudian Willis meninggalkan Damon didalam.

Willis tiba dikamar Damon dengan membawa nampan berisi roti gandum dan satu teko darah hangat sesuai dengan pesanan Damon. Willis menuangkan darah itu ke cangkir milik kakaknya. Kemudian Damon segera meminum darah itu.

"Ahh.. Darah remaja memang selalu terasa nikmat." Damon mengambil potongan roti gandum dan mencelupkannya kedalam cangkir berisi darah miliknya. Willis hanya diam sambil menikmati secangkir darah juga. Ia tidak melakukan apa yang Damon lakukan. Mencelupkan roti gandum kedalam darah itu adalah kebiasaan Damon sejak kecil. Willis kurang menyukainya karena menurutnya itu akan merusak rasa nikmat dari darah itu sendiri. Willis menyukai dua macam darah. Darah remaja dan darah rusa. Menurutnya darah rusa itu terasa lebih manis. Dan darah rusa bisa digunakan untuk program dietnya karena rusa hanya memakan rumput-rumputan. Ia percaya darah rusa lebih menyehatkan daripada darah remaja yang hanya terasa kental dan agak tawar.

"Hmm.. Willis, apa kau tahu benda tajam apa yang menusuk jantungku?" Tanya Damon sambil mengunyah roti gandumnya.

"Belati perak milikmu" Damon terkejut dan membelalakkan matanya. Membuat ia berhenti mengunyah roti gandumnya.

"L-lalu d-dimana belatiku?" Damon bertanya dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak percaya jika itu adalah belati perak miliknya sendiri.

"Ayah membakarnya, itu sudah musnah sekarang" Willis meneguk kembali darah di cangkirnya. Kemudian ia melihat kakaknya meneteskan air mata. Damon sedikit terisak.

"Aish! Kakak! Kau itu hampir mati abadi akibat benda sialan itu! Berhentilah menangis! Kau itu mempermalukan kaum kita saja!" Damon hanya mengangguk-angguk pasrah kemudian ia kembali bertanya pada Willis.

"L-lalu siapa yang telah melakukan ini padaku?" Damon kemudian meneguk darah yang berada dicangkir itu untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.

"Mana aku tahu! Aku hanya melihat dipegangan belati itu ada sidik jari. Kemudian aku mencari tahu siapa itu dan kemudian yang aku lihat hanya seorang laki-laki berjubah hitam menunggangi kuda dan itu lebih tua 3 tahun darimu." Damon terlihat sedang berpikir. Siapa yang dimaksud Willis seorang laki-laki berjubah hitam, menunggangi kuda dan lebih tua darinya 3 tahun.

"Siapa laki-laki sialan itu?!" Damon meletakkan cangkirnya dengan keras sehingga membuat darah didalam cangkir itu tumpah setengahnya.

"YA! Itu darah terakhirmu! Paman Jimo belum mencarikanmu darah lagi!" seketika wajah Damon berubah khawatir. Ia tak tahu bahwa itu persediaan darah terakhirnya.

"Tenanglah, Ayah sudah memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk mencari tahu siapa pelaku penusukanmu. Dan ia berjanji akan langsung membunuh orang itu. Sekarang beristirahatlah. Aku akan mengambil beberapa buku untuk kubawa kesini." Damon kembali menganggukkan kepalanya. Ia percaya bahwa pasukan Ayahnya akan segera menemukan pelaku penusukan dirinya. Willis kemudian beranjak dari duduknya namun itu ditahan oleh Damon.

"Satu lagi, tadi kau bilang aku tidak akan bisa merasakan apa itu Cinta. Kenapa? Apa aku kurang tampan?" Damon masih menahan tangan Willis. Willis kembali memutar kedua bola matanya malas.

"Kau tampan. Tapi kau hanya akan membahayakan orang yang kau cintai itu."

"Oh itu memang aku. Tapi kenapa begitu? Bagaimana jika suatu saat nanti aku begitu mencintai seseorang?" Willis mengambil nafas panjang. Damon sangat seperti orang bodoh pikirnya.

"Damon Salvator, kakakku yang aku sayangi. Maka dari itu kita harus mulai mencari darah sesuai arti mantera supaya kau bisa hidup normal seperti dulu sebelum kau ditusuk. Apa kakakku ini sekarang sudah mengerti?" Willis memasang senyum-palsu- nya lagi.

"Oh, baiklah. Aku mengerti adikku yang pintar. Pergilah, aku ingin beristirahat. Tolong katakan pada Paman Jimo aku ingin darah lagi. Tidak ada tambahan serbuk madu, ingat itu adikku, Willis Ohander." Damon melepaskan tangannya dari tangan Willis dan kemudian merebahkan dirinya diranjang empuk miliknya.

'Aish.. Untung kau itu kakak kandungku, kalau tidak aku akan menghisap darahmu sampai habis.' Willis berkata dalam hatinya.

"Aku mendengar itu adikku. Hati-hati atas ucapanmu." Damon tersenyum. Willis memukul kepalanya sendiri. Ia lupa bahwa Dracula bisa mendengar kata hati seorang. Kemudian Willis meninggalkan kakaknya dikamar.

.

"Bagaimana?"

"Aku sudah mengurusnya."

"Bagus! Sebentar lagi kau akan mendapatkannya!"

"Jika aku dapat apa yang aku inginkan, aku harap kalian semua tunduk padaku!"

.

.

"Kita harus berhati-hati!"

"Kenapa? Ada apa sayang?"

"Aku rasa aku mengetahui siapa pelaku penusukan Damon."

"S-siapa.. M-maksud- Tidak! Tidak mungkin dia akan melakukan hal bodoh seperti itu sayang, iya kan?"

"Kita sudah mengenalnya cukup lama, Ze. Dan dialah juga yang membuatku murka! Jika kali ini dia tetap bersikeras merebut itu dariku, dari kerajaan kita, aku tidak akan segan untuk membunuhnya!" Seseorang itu terlihat sedang murka sekarang.

"Tenang sayang.. Maka dari itu kita harus mempersiapkan semuanya sebelum dia melakukan penyerangan lagi." Dia menenangkan.

"Hmm.. Maafkan aku, aku hanya tak ingin keluargaku tersakiti. Tidak lagi sayang! Sudah cukup!" Seseorang itu memeluk sayang orang yang menenangkannya tadi. Dia membalas pelukannya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-To Be Continue-

Gimanaaa? Greget gak? Apa kurang greget? Kalo dirasa kurang greget, REVIEW YAAAA^^

Itu aku tambahin preview buat next chapternya..

Semoga ada banyak Readers yang menantikan kelanjutan dari FF ku ini aamiin ,

Baca The Blood Curse sambil dengerin lagunya EXO yang For Life yaaa^^

Maaf updatenya lama soalnya ada persiapan mau UAS ,

Selebihnya..

Makasih~ Khamsahamnida~ Thank you~

LOVE CHANBAEK AS A LOVER