THE BLOOD CURSE
.
.
.
.
Pagi menjelang, matahari menampakkan dirinya disambut oleh sekawanan burung yang sudah bernyanyi indah. Termasuk salah seorang makhluk Tuhan yang satu ini. Dia terbangun dengan caranya sendiri. Tangan cantik dan lentik miliknya membuka untaian tirai yang menggantung indah di bingkai jendela kamarnya. Dialah Baekhyun. Seorang yeoja yang mungkin terjebak ditubuh seorang namja.
"Appa, Eomma, aku berangkat ya~"
"Belajarlah dengan baik dan berhati-hatilah." Baekhyun tersenyum dan mengangguk.
"Baekhyunee, susu mu!" Heechul hampir saja berteriak karena Baekhyun melupakan susu stroberinya. Baekhyun yang menyadarinya segera berbalik badan dan menghabiskan langsung susunya.
"Eomma! Kenapa Baekhyunee!?" Baekhyun protes karena pikirnya panggilan yang Heechul berikan agak terlalu aneh untuknya.
"Kenapa? Itu menggemaskan!" karena dirasa itu tidak terlalu penting, Baekhyun segera beranjak dari rumahnya kemudian pergi menjemput Luhan untuk berangkat sekolah bersama.
Sesampainya disekolah, mereka dikejutkan dengan beberapa siswa-siswi yang sedang terlihat menggosipkan sesuatu. Ada diantara mereka yang bahagia akan gossip itu, ada juga yang.. Hmm.. Entahlah memasang mimic wajah yang seperti apa. Luhan yang penasaran akhirnya bertanya dengan salah satu teman sekelasnya.
"Eunji-ya! Ada berita apa? Sampai kalian seperti ini?"
"Oh! Kau belum dengar? Ternyata sekolah kita akan kedatangan siswa baru dari Rusia. Mereka bilang dia tampan."
"Heol. Sejauh itu?"
"Ne. Dan ada juga yang mengatakan bahwa dia akan masuk ke kelas kita, HUAAA!" Gadis itu berteriak sekuatnya, membuat Luhan kaget. Tidak terkecuali Baekhyun. Berbeda dengan Luhan, Baekhyun kurang menyukai yang namanya bergosip. Karena menurutnya itu membuang waktu dan hanya akan menghabiskan tenaga saja.
"Kira-kira kap-" Jung Saem memasuki kelas mereka. Seketika ruang kelas hampa bagai tak berpenghuni. Jung Saem mengatakan bahwa kelasnya akan mendapat seorang siswa baru yang berasal dari Rusia. Namun, siswa baru itu sepertinya belum menampakkan diri dikelas ini, hingga…
"Silahkan masuk," Jung Saem mempersilahkan seseorang untuk masuk. Benar saja, seseorang itu adalah murid pindahan dari Rusia. Anak itu laki-laki. Berperawakan tinggi. Berkulit pucat namun tampan dan seksi disaat bersamaan. Itu yang mungkin dipikirkan Luhan saat ini—
"Perkenalkan anak-anak, ini adalah Park Sehun. Dia pindahan dari Rusia." Suasana kelas menjadi gaduh karena Jung Saem sudah memberitahukan nama dari anak tampan itu.
"Saya Park Sehun atau Sehun. Saya berdarah Korea namun lama di Rusia. Jadi, mari berteman semuanya." Sehun kemudian membungkuk hormat dihiasi tawa teman sekelasnya. Mereka menertawakan Sehun karena kalimat terakhir yang diucapkan Sehun begitu terdengar polos dan lucu. Jung Saem memberitahu dimana Sehun akan duduk. Yaitu tepat dibelakang Baekhyun juga Luhan.
"Selamat datang! Aku Byun Baekhyun." Baekhyun meyodorkan tangannya untuk menjabat tangan Sehun. Yang ingin dijabat hanya memasang wajah terkejut.
"Oh ne. Senang bertemu denganmu. Ehm.. Baekhyun-ssi"
Sehun membalas jabat tangan Baekhyun. Ketika ia memegang tangan Baekhyun. Sehun seperti melihat aura aneh dalam tubuh Baekhyun. Aura yang sama yang juga dirasakan oleh Luhan. Dirinya juga dilihatkan dengan kejadian yang berputar seperti sebuah kaset dalam mata Baekhyun. Disana Baekhyun Nampak bahagia namun sisanya hanya hitam dan juga bercampur kemerahan.
'Itu Darah. Apa anak ini?' Sehun mulai berperang dengan pemikirannya.
"Ekhem, S-sehun.. A-aku juga senang bertemu denganmu.. Tapi-" Sehun yang tidak tersadar jika dirinya melamun pun akhirnya melepaskan genggaman tangan Baekhyun.
"O-oh, maafkan aku Baekhyun-ssi"
"Jangan terlalu formal, kita kan seumuran, kau bisa memanggilku Baekhyun saja."
Sehun hanya tersenyum. Luhan yang sedaritadi melihat interaksi antara Sehun dan Baekhyun sebenarnya ia juga melihat apa yang Sehun lihat. Hanya saja, ketika Sehun menjabat tangan Baekhyun, Luhan seperti masuk kedalam sebuah lorong waktu berwarna hitam. Ia dilihatkan dengan Baekhyun yang akan bertemu dengan seorang pria misterius yang berasal dari dunia lain. Pria itu tinggi, kulitnya pucat, bola matanya berwarna merah. Kemudian juga ia mendengar seorang pria tua yang membacakan sebuah mantera. Ia merasa tak asing dengan mantera itu. Hingga…
"Ya Tuhan!" Luhan menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Luhan? Kenapa? Apa kau melihat hantu disekitar sini?" tanya Baekhyun.
"Oh, t-tidak, a-aku hanya-" Sehun memperhatikan Luhan. Ia tahu, Luhan berbeda. Sehun hanya mengeluarkan smirk tampan miliknya setelah Sehun juga mengetahui bahwa Luhan barusan saja melihat sekilas masa depan Baekhyun.
"Anak-anak sekalian, mengenai tugas kalian yang kemarin. Saya akan membahasnya hari ini. Mungkin kita akan mulai dari-"
"Maaf Saem, kami tidak menemukan buku yang membahas mengenai mantera itu di perpustakaan sekolah" potong Sungjae.
"Kami juga tidak menemukannya di perpustakaan negara" potong siswa yang lain. Jung Saem hanya menaikkan sebelah alisnya. Ia bingung, padahal buku yang seperti membahas makhluk mitologi banyak dijumpai di perpustakaan manapun, tapi mengapa ini?
"Hmm.. Baiklah, karena begitu.. Saya akan memperpanjang waktu kalian untuk tetap mencari materi itu dari sumber manapun, sampai kalian menemukannya, baru kita akan membahas juga menampilkan hasil kerja kalian." Tambah Jung Saem yang kemudian membuat suasana kelas agak sedikit ricuh.
"Saem! Jika ini dikerjakan sendiri, itu menyusahkan kami. Jadi, boleh-" Luhan memberikan pendapatnya.
"Baik, kalian boleh berkelompok. Karena jumlah murid disini ganjil, 1 kelompok akan berisikan 3 orang. Mengerti? Ini sudah termasuk kemudahan yang diperpanjang, kalian harus mencari materi itu sampai ketemu!" Semua siswa dan siswi dikelas menjadi senang karena selain tugas ini diperpanjang, juga mengerjakannya secara berkelompok.
Bel berbunyi menandakan bahwa waktu istirahat tiba. Seketika juga kelas kosong dan hanya menyisakan Baekhyun, Luhan juga Sehun. Luhan sesekali melirik Baekhyun yang sedang membereskan peralatan sekolahnya. Kemudian Luhan tertuju pada si anak baru—Sehun.
'Apa ini?' Luhan mulai berargumentasi dengan pikirannya. Ia memiringkan kepalanya dan mengangkat sebelah alisnya. Demi melihat si anak baru—Sehun.
Yang dilihat kemudian tersadar jika dirinya sekarang sedang dimata-matai secara dekat. Sehun hanya menaikkan kedua alisnya. Ia mengetahui jika Luhan sedang memperhatikannya.
"Ekhem.. Luhan-ssi?" ia mengarahkan satu tangannya kedepan wajah Luhan dan membuat gerakan seperti ke kanan dan kiri.
"Omo! M-maafkan aku. A-aku hanya, ini, kau.. Seperti orang sakit, wajahmu sedikit pucat—" Sehun kini berbalik menatapnya.
"Juga tampan. Aigo! Apa yang kukatakan?!"
"Aish! Ini memalukan! Maafkan Luhan ya Sehun? Dia memang begini, seperti sudah lama tidak melihat pria tampan" Baekhyun tertawa kesal. Sehun hanya tersenyum. Kembali memasang senyum tampannya. Luhan kini menggosok tengkuknya yang tidak gatal. Suasana tiba-tiba hening.
"Eee.. Baiklah, j-jadi mungkin.. Lu, aku lapar, mari kita ke kantin! Ayo Sehun! Kau juga bisa ikut. Dan mulai sekarang, berhentilah menjadi formal. Itu berlebihan" Baekhyun dengan puppy smile-nya. Luhan kemudian berdiri dan mengikuti kata-kata Baekhyun. Entah mengapa setelah ia menatap wajah Sehun, ia merasa agak takut, dan juga sepertinya.. Sehun- Ah tidak. Itu hanya pikirannya saja. Sehun mengangguk. Baekhyun dan Luhan keluar kelas mendahului Sehun. Tinggalah Sehun sendiri dikelas sekarang.
"Luhan. Aku tahu aku tampan. Tapi bukan itu yang sebenarnya ada di pikiranmu. Yeah. Kau memang berbeda." Sehun berbicara dengan disaksikan beberapa kursi kosong yang menjadi saksi bisunya. Kemudia ia beranjak meninggalkan kelas dan menyusul kedua sahabat itu.
.
"Baiklah.. Sepertinya memang kita bertiga ditakdirkan untuk menjadi satu kelompok." Baekhyun memulai sambil menyantap sup rumput laut yang dipadukan oleh nasi miliknya. Luhan asyik dengan bubble tea rasa teh hijau. Ia tidak makan seperti Baekhyun. Program diet katanya. Sehun kemudian mengeluarkan sebuah kantong dingin berwarna merah dari saku celananya.
"Oh, kau juga diet?" tanya Baekhyun polos. Sehun kemudian tercekat. Ia hampir lupa. Bisa bahaya jika terbongkar, pikirnya. Lagi-lagi Luhan hanya terdiam. Ia masih agak sedikit.. takut.
"O-oh ya! Ini jus, ehm.. Buah persik yang dicampur dengan buah delima."
"Boleh aku coba?!" pinta Baekhyun dengan penuh antusias. Luhan menyenggol kaki Baekhyun, si pelaku hanya meringis karena ia tidak merasa bahwa dirinya salah.
"I-ini, ini tidak disarankan untuk.. Untuk—" ia melihat kotak susu stroberi itu.
"Untuk orang yang rutin minum susu. Ya. Itu bisa menyebabkan tubuhmu kebingungan menyerap nutrisi" kini ia mulai berpeluh dan dengan segera ia menyesap kembali 'minumannya'. Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya dengan polos (lagi). Dan langsung menyambar susu stroberi miliknya.
"Ekhem.. S-sehun. Ini mengenai tugas tadi. Bagaimana menurutmu? Apa kita hanya perlu mengarang saja mengenai materi itu?" Luhan memberanikan dirinya bertanya pada Sehun.
"Materi apa yang ditugaskan?" Sehun bertanya sambil meminum apa yang ia bawa—Darah rusa.
"Hmm.. Biar kuingat. Ah ya—"
"Vive et quaeretis me sanguine rubra ligno vitae et sicut radix ad arborem" potong Baekhyun sambil menatap tepat kedua mata Sehun. Untuk yang pertama kalinya. Hingga terjadilah sebuah koneksi antara Sehun dan Baekhyun. Yang hanya bisa dirasakan dan dilihat oleh Sehun sendiri tentunya.
"Dia orangnya.
Dia mengetahui semuanya.
Cepat bawa dia!
Baek, aku mencintaimu.
Sehun. Kurasa aku..
Damon! Hentikan!
Sayang! Kau tidak bisa melakukan ini!
TIDAK! DIALAH ORANGNYA—"
Suara-suara dan bayangan itu berputar seperti sebuah kaset klasik dalam matanya. Sehun begitu mengenal jelas pemilik dari suara-suara itu. Itu suara Ayah, Ibu, Paman Jimo, Luhan juga kakaknya, Damon. Kemudian pada akhirnya ia melihat Baekhyun tak bersuara dengan memasang wajah bahagianya, tentunya dengan puppy smile miliknya. Tak lama kebahagiaan itu hilang dengan Baekhyun yang jatuh tak sadarkan diri dibawah pohon baobab yang berbuah apel. Tetesan darah pekat menjadi akhir dari apa yang ia lihat. Ini adalah bagian dari masa depan Baekhyun.
"Tidak mungkin" ia tersadar dan dengan segera mengambil nafas panjang. Luhan dan Baekhyun kebingungan dengan apa yang mereka lihat.
"Sehun! Apa yang terjadi?" Ini Luhan. Untuk beberapa saat ia menjadi khawatir.
"Tunggu! Biar aku ambilkan air mineral!" kemudian Baekhyun berlari untuk mendapatkan air mineral.
"T-tidak. Maaf Luhan. Aku hanya" Sehun berpeluh seperti orang yang baru selesai lari marathon keliling lapangan sepakbola. Tak sadar, Luhan menyeka peluh yang melewati pelipis kiri Sehun. Keduanya kini sedang menatap satu sama lain. Cukup lama. Hingga tidak menyadari bahwa seseorang sudah berada disini.
"Ya! Kalian berdua seperti pasangan kekasih saja! Ini! Aku menemukan airnya, tapi ini tidak dingin." Baekhyun mendengus kesal dan menyodorkan botol air mineral itu pada Sehun. Dengan segera Sehun mengambil botol itu dan membukanya. Ia menenangkan dirinya dengan air itu. Dan Luhan kembali melanjutkan duduk dan menyedot bubble tea yang telah habis.
Setelah beberapa menit mereka beristirahat, bel pertanda istirahat telah berakhir pun berbunyi. Semua siswa tanpa terkecuali kembali masuk ke dalam kelasnya masing-masing dan melanjutkan pelajaran selanjutnya. Di dalam kelas, ada wali kelas dari kelasnya Baekhyun, Luhan dan Sehun. Ibu Yoon memberitahu jika Jung Saem tidak bisa masuk kelas selama kurang lebih 1 bulan. Dikarenakan istrinya yang sebentar lagi akan melahirkan. Jadi kemungkinan Jung Saem akan masuk sekitar bulan depan. Semua murid bahagia. Mereka bahagia karena tugas yang diberikan bisa mundur dan juga mereka bahagia mengetahui bahwa guru kesayangan mereka akan segera menjadi seorang ayah.
Saat ini sudah menunjukkan pukul 4 sore. Semua murid kembali pulang ke rumahnya masing-masing. Kecuali 3 orang yang kini sedang membereskan barang-barangnya.
"Ini bagus bukan? Jadi kita tidak perlu mencari materi itu dengan tergesa-gesa." Kata Baekhyun yang memecahkan keheningan diantara mereka. Luhan hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tapi, kita harus tetap mencarinya. Bagaimanapun ini sudah menjadi tugas kita. Maksudku, pekerjaan rumah." Sehun menambahkan.
"Benar, Baek. Jangan terlalu santai. Bagaimana jika Jung Saem tiba-tiba datang dan menagih tugas kita?" Luhan menambahkan. Baekhyun hanya mengerucutkan bibirnya imut. Ia hanya kesal. Mengingat ia kurang menyukai pelajaran sejarah.
"Jika kalian mau, biar aku saja yang mencari materinya. Jadi—"
"Tidak bisa seperti itu Sehun-ah! Tugas kelompok seharusnya dikerjakan secara berkelompok juga. Benar kan, Baekhyun?" yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya malas.
"Hmm. Begini saja, ayo kita mengerjakannya di café dekat sekolah." Tambah Sehun. Kini ia akan membiasakan untuk tidak terlalu formal. Menurutnya, Baekhyun dan Luhan tidak buruk. Mereka keren. Pikir Sehun.
"Teabub café? Kau mengetahuinya?" Luhan bertanya kepada Sehun dengan bersemangat. Dan menampilkan wajah cantiknya. Sehun mengangguk dengan bahagia.
'Dia.. Cantik' batin Sehun.
"Ya ya ya! Pergilah kalian berdua tanpaku. Aku hanya akan dirumah sambil bermain LOL dan menunggu hasilnya, oke?" Baekhyun berdiri dan bersiap pulang.
"KAU. IKUT. BAEK. HYUN. NEE!" Luhan menegaskan disetiap kata-katanya. Inilah kebiasaan Baekhyun. Ia akan malas mengerjakan tugas secara kelompok. Karena ia pikir, suruh saja yang lebih cerdas untuk mengerjakannya. Dengan itu ia bisa mendapat nilai individu dari hasil kerja kelompok secara cuma-cuma. Ya, nilai memuaskan tanpa berpikir keras. Baekhyun kemudian berlalu dan meninggalkan Sehun dan Luhan dikelas.
"Emm. Ini. Jika kau membutuhkannya, kau bisa menghubungiku, maksudku kami." Luhan menyodorkan sepotong kertas yang sudah diisi dengan nomor telepon genggamnya. Kini ia benar-benar merasa tertarik. Mungkin.
"Baiklah. Terima kasih. Aku akan segera menghubungimu, ah—maksudku kalian." Sehun tampak gugup. Ia menggaruk tengkuk yang sudah jelas tidak gatal itu. Luhan hanya menahan tawa bahagianya. Kemudian ia berlalu dan meninggalkan kelas setelah mengucap kata 'aku duluan, berhati-hatilah dijalan. Telepon aku' dengan menunjukkan tangan yang seperti orang menelepon. Sehun hanya merespon dengan tawa yang dipenuhi dengan kecanggungan. Ini pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki cantik yang sepertinya mengaguminya. Coret. Menyukainya.
"Aku menyukai senyumanmu, Luhan" Sehun kembali bergumam setelah Luhan kini sudah benar-benar pergi pulang duluan meninggalkannya sendirian dikelas. Hingga saat ia akan melangkah keluar kelas. Seseorang memanggilnya—
"Willis. Dimana kau? Aku lapar."
"Masih disekolah dan baru akan pulang. Bersabarlah, aku juga lapar."
"Kalau begitu cepat! Aku merasa aku akan mati kelaparan setelah ini" Sehun hanya membuang nafasnya malas.
"Bersabarlah. Aku akan segera pulang. Makanan seperti biasa, tidak ada yang lain, oke?"
"Asal itu bisa mengenyangkanku dan mencegahku dari mati kelaparan, Sehun-ah. Maksudku, Willis." Sehun kembali membuang nafasnya.
"Kalau begitu berhati-hatilah. Aku tutup" Sehun kembali melangkahkan kakinya keluar dan segera mencari apa yang telah dipesan. Ia hanya akan menyamakan diri dengan yang lainnya. Tidak ada berubah. Dan tidak ada muncul di suatu tempat dengan tiba-tiba.
—memanggilnya melalui telepati. Ini Damon. Kakaknya yang juga menyamar menjadi manusia. Dan memiliki nama samaran, Park Chanyeol.
.
.
"Tapi, bagaimana mungkin ia mengetahui namaku, Baek? Padahal aku belum memperkenalkan diri tadi"
"Benar juga. Tapi kurasa ia mengetahuinya dariku. 'kan sedaritadi aku terus memanggil namamu, Lu." Yang diajak bicara hanya mengangguk paham.
"Baekby, kurasa aku melihat sesuatu darinya—" keduanya terhenti.
.
.
.
Ia berjalan menyusuri kota dengan ditemani semilir angin sore yang menjadi petunjuk arah bagi para burung-burung untuk kembali ke sarangnya. Di salah satu tangannya, ia membawa beberapa bungkus barang yang akan dijadikannya santapan malam nanti. Beberapa menit pun telah ia lalui hanya untuk berjalan. Hanya berjalan. Dan tujuannya kali ini adalah Kantor Palang Merah Pusat. Ia akan membeli beberapa kantong darah hari ini. Satu kantong mungkin? Atau empat kantong?
"Tolong berikan aku kantong darah" ia meminta dengan penuh kesopanan.
"Maaf, sebelumnya Anda harus mengisi biodata di lembar ini," wanita urusan pelayanan itu memberikannya secarik kertas untuk diisi.
"Ini berguna supaya Anda jika diwaktu yang akan mendatang membutuhkan kantong darah. Khususnya untuk waktu yang sangat tiba-tiba. Misalnya pada kecelakaan atau semacamnya." Jelas wanita itu. yang diberi penjelasan mengangguk sebagai tanda jika ia mengerti dengan penjelasan singkat ini. Kemudian ia memulai mengisi lembar itu. Tak butuh waktu lama, ia sudah menyelesaikannya.
"Baik. Golongan darah apa yang Anda butuhkan?" yang ditanya terlihat sedang berpikir keras.
"Hmm.. Aku punya keluarga. Dan kami mempunyai golongan darah yang berbeda. Jadi, untuk.. Ya.. Kau tahu, untuk keadaan tiba-tiba seperti yang kau katakan tadi. Jadi aku akan meminta semua jenis golongan darah dalam kantong yang berbeda. Bisakah?" wanita itu mengangkat sebelah alisnya, ia heran, baru kali ini ada keluarga yang jenis golongan darahnya berbeda-beda.
"O-oh. Saya baru mengetahui jika ada kasus yang seperti itu. Baiklah, tunggu sebentar."
Beberapa menit kemudian, wanita itu keluar dari sebuah ruangan dengan membawa sebuah kotak pendingin di salah satu tangannya. Wanita itu memberikan kotak itu kepada si pemesan. Tak lupa si pemesan juga menandatangan sebagai syarat terakhir untuk mengambil kantong darah. Setelah apa yang dibutuhkan dirasa sudah terpenuhi. Kemudian ia langkahkan kakinya menuju ke apartemen yang terletak di pinggir kota Seoul. Anak ini adalah Sehun.
.
Pukul 07.00
"Aku pulang!"
"Akhirnya! Woah! Aku hampir mati saat menunggumu pulang!"
"Jangan berlebihan. Itu menjijikkan" sahut Sehun untuk kakaknya—Chanyeol. Chanyeol hanya tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan adik satu-satunya ini.
"Ini. Aku bawakan beberapa daging untuk dimasak. Juga beberapa kantong darah."
"Ya! Untuk apa kau membeli begitu banyak darah?"
"Aish. Ini untuk mencari tahu darah mana yang cocok untukmu, maksudku untuk kehidupanmu" Chanyeol hanya mengangguk. Ia kembali tersadar, jika adiknya ini begitu pintar.
"Ini. Mulailah dulu dari golongan darah A." Sehun menyodorkan kantong darah yang dingin itu kepada Chanyeol. Kemudian Chanyeol membuka penutup dari kantong itu dan dengan segera ia meminumnya. Tentunya sampai habis. Setelah ia menghabiskan kantong pertama.
"Bagaimana? Apa yang kau rasakan pada tubuhmu?" tanya Sehun.
"Tidak. Terjadi. Apa. Pun."
"Hmm. Setahuku, jika itu bereaksi, maka yang pertama adalah dalam waktu 3 detik bekas tusukan di dadamu itu akan sembuh dengan sendirinya, seperti tidak terjadi luka apapun." Kemudian Chanyeol segera melihat bekas tusukan itu didadanya. Alhasil, memang tidak terjadi apa-apa.
"Lalu yang kedua, jika itu bereaksi, warna dari lensa matamu juga akan kembali seperti semula. Merah darah. Yang ketiga, kau akan merasa seolah tubuhmu terbakar, padahal itu adalah cara lain dari tubuhmu yang menandakan bahwa seluruh kekuatan yang kau punya telah kembali lagi. Dan, ya! Kau sudah kembali menjadi Dracula seperti semula." Jelas Sehun sambil ia mengarah ke dapur untuk merapihkan belanjaannya tadi. Kemudian Chanyeol segera menyambar ketiga kantong darah yang tersisa. Setelah meminum kantong darah yang bergolongan B dan AB, Chanyeol kembali memeriksa bekas tusukan di dadanya. Tidak ada yang bereaksi tepat setelah ia meminum dua kantong darah tersebut. Pada saat ia akan menghabiskan kantong yang terakhir, yaitu kantong dengan golongan darah berjenis O, ia melihat identitas si pendonor yang bertuliskan sebuah inisial nama.
"B.. BH?" Chanyeol berkata dengan kesusahan. Karena memang tulisan itu sudah hampir terhapus sebagian. Dikarenakan penyimpanannya yang berada didalam lemari pendingin. Sehun yang sedang merapihkan barang belanjaannya kemudian ia tercekat dan membulatkan kedua bola matanya. Dengan segera ia sudah berteleportasi ke samping Chanyeol.
"Kak! Tunggu!" Sehun meminta Chanyeol untuk jangan meminum dulu. Chanyeol hanya menurut dan mengangkat kedua alinya kebingungan. Sehun mengambil kantong itu dan membaca inisial si pendonor.
"BBH. Sepertinya aku tidak asing dengan ini." Sehun kembali berperang dengan pemikirannya. Kemudian setelah ia tidak mendapat petunjuk dengan inisial 'BBH' itu, ia memberikan lagi kantong itu kepada Chanyeol.
"Hmm.. Ini. Enak. Kental, manis. Juga begitu lembut saat aku menelannya." Chanyeol menghentikkan aktivitasnya sejenak hanya untuk menikmati betapa darah ini terasa begitu nikmat. Tidak seperti ketiga kantong yang sudah ia minum sebelumnya tadi. Dan ia kembali menghabiskan darah itu dalam satu tegukan.
Setelah meminum beberapa kantong darah, Sehun dan Chanyeol menikmati makan malam mereka. Kali ini Chanyeol yang memasak. Karena ia merasa kasihan dengan adiknya. Jadi biarkan kali ini ia yang memasak makan malam. Sebagai ucapan terima kasihnya untuk Sehun karena telah sabar dalam merawatnya selama ini.
.
Raja Vladimirheus dan penasehat kerajaan, Paman Jimo sedang berdebat didalam ruang kerja Raja. Mereka mendebatkan tentang nasib sang putra mahkota, Damon.
"Maaf yang Mulia. Setelah aku membaca beberapa kitab dan gulungan kuno Hellenium, jika seorang Dracula sudah membuat mantera, maka itu akan menjadi mantera terhebat yang pernah ada. Jikapun mantera itu akan dipatahkan, yang dimanterai harus bersedia dulu untuk menjadi Vampire. Dia harus memangsa setidaknya beberapa orang yang berada didekatnya. Tidak peduli siapapun itu. Setelah ia melakukannya, ia bisa menjadi Pangeran Mahkota untuk kerajaan ini." Jelas Paman Jimo kepada Sang Raja.
"Aku sudah mengetahuinya Jimo. Dan memang itu yang aku inginkan. Biarkan ia berubah menjadi vampire dan memangsa apapun. Setelahnya ia bisa menjadi Pangeran yang kuat. Aku yakin, itu bisa menjadikannya sebagai Pangeran Dracula terhebat yang pernah ada."
"Maafkan hamba yang Mulia.. Jikapun ia menjadi Vampire, itu akan membahayakan orang-orang yang berada disekitarnya. Dan ia akan menjadi kesulitan untuk mengendalikan dirinya sendiri."
"Itu tidak masalah. Willis adalah anak yang luar biasa. Ia berbeda dengan Dracula lainnya. Ia punya kemampuan dalam mengendalikan hati dan pikiran siapapun. Ini menurun dari sifat istriku, Zeandara. Bukankah kau sudah mengetahuinya jika istriku dulunya adalah seorang manusia?"
"Maafkan hamba yang Mulia.. Jika memang ini yang Mulia inginkan, maka aku akan menyiapkan perbekalan untuk Damon dan Willis." Paman Jimo memang sudah mengetahuinya jika Sang Ratu dulunya adalah seorang manusia yang diubah menjadi Dracula. Ratu telah diubah oleh suaminya sendiri. Raja Vladimirheus.
"Ya. Siapkanlah. Aku mengizinkan mereka untuk berkelana mencari darah. Sesuai dengan arti dari mantera yang aku berikan untuk Damon." Paman Jimo hanya mengangguk. Kemudian ia beranjak meninggalkan ruangan itu dan segera menyiapkan perbekalan untuk kedua putera Raja. Sepeninggal Paman Jimo dari ruangan itu. Kini tinggal Sang Raja yang berada dalam ruang kerjanya.
"Ayah tahu ini kejam untukmu Damon. Tapi ini demi kebaikanmu. Saat ini kerajaan kita dalam keadaan bahaya." Raja terlihat sedang bebicara dengan dirinya sendiri. Tak lupa juga ia menyesap darah dalam cawan emas miliknya.
"Ada beberapa orang yang tidak menginginkanmu menjadi Pangeran Pewaris. Ayah takut ini akan membahayakan keluarga kita." Hingga seseorang masuk ke dalam ruangan dengan menampilkan raut wajah yang terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu.
"Sayangku Zea." Raja menoleh ke belakang. Mengetahui jika istrinya menyusul kedalam ruang kerjanya. Sang istri hanya memeluknya dari belakang. Menyalurkan perasaan takut dan khawatirnya.
"Kita harus berhati-hati" Raja membalas pelukan istrinya.
"Kenapa? Ada apa sayang?" Ratu Zeandara menolehkan kepalanya ke wajah sang suami.
"Aku rasa aku mengetahui siapa pelaku penusukan Damon." Ratu yang kemudian mengetahui siapa yang dimaksud oleh suaminya ini kemudian ia melepaskan pelukannya dari sang Raja.
"S-siapa.. M-maksud- Tidak! Tidak mungkin dia akan melakukan hal bodoh seperti itu sayang, iya kan?" kini mata sang Ratu terlihat berkaca-kaca. Ini agak menyakitkan.
"Kita sudah mengenalnya cukup lama, Ze. Dan dialah juga yang membuatku murka! Jika kali ini dia tetap bersikeras merebut itu dariku, dari kerajaan kita, aku tidak akan segan untuk membunuhnya!" Raja Vladimirheus kini terlihat sedang murka. Ia menggebrak meja yang ada didepannya. Ia begitu membenci orang yang sudah membuat keluarganya seperti ini. Kemudian sang Ratu segera menenangkan Rajanya. Ia juga membenci hal ini. Ia membenci melihat Rajanya seperti ini.
"Tenang sayang.. Maka dari itu kita harus mempersiapkan semuanya sebelum dia melakukan penyerangan lagi." sang Raja kemudian memandang Ratunya.
"Hmm.. Maafkan aku, aku hanya tak ingin keluargaku tersakiti. Tidak lagi sayang! Sudah cukup!" Ratu Zeandara tersenyum dan Raja segera memeluk Ratu. Mereka menyalurkan kesedihan juga kerinduan masing-masing.
.
Damon terlihat sedang duduk dibalkon kamarnya. Ia sedang menikmati udara sore hari ini. Hingga sebuah ketukan terdengar dipintu kamarnya. Tidak lain, Willis-lah yang kini sedang berada dikamarnya.
"Kakak. Kau sudah mendengarnya?" tanya Willis sambil menuangkan darah ke dalam cangkir kosong milik kakaknya. Damon mengangguk. Ia sudah mengetahui jika dirinya dan sang adik mendapat perintah dari sang Raja, Ayah mereka sendiri untuk berkelana mencari darah yang bisa mengembalikan tubuh Damon seperti semula. Damon mendudukkan dirinya didepan meja yang diatasnya sudah tersedia darah yang dituangkan Willis tadi.
"Kapan kita akan mulai?" Damon terlihat lesu saat bertanya. Karena memang keadaannya saat ini belum dalam keadaan yang begitu baik. Ia masih sangat sakit. Setelahnya ia meminum darah itu.
"Paman Jimo bilang besok malam saat bulan sabit berada di tepat dibawah istana." Jawab Willis.
Damon hanya kembali menganggukkan kepalanya bahwa ia mengerti. Mungkin dipikirannya saat ini ia akan pasrah dan hanya menurut apa yang dikatakan oleh Ayah, Paman Jimo juga adiknya. Ibunya, Ratu Zeandara sebenarnya tidak menginginkan mereka berkelana. Ibunya begitu mengkhawatirkan keadaan Damon. Damon saat ini benar-benar sakit. Jangankan untuk berkuda, sinar mataharipun sekarang benar-benar akan membunuhnya jika ia keluar istana tanpa pakaian tebal yang tentunya akan melindunginya dari sinar matahari.
"Ibu sudah memberiku beberapa persediaan untuk perjalanan kita." Sambung Willis. Hingga Paman Jimo masuk kedalam kamar Damon dengan membawa beberapa barang-barang.
"Eh Paman! Apa-apan?!" Willis terkejut dengan apa yang dibawa oleh Pamannya ini. Paman Jimo sudah mereka anggap sebagai paman mereka sendiri. Paman Jimo adalah sahabat dekat Ayah mereka sewaktu sang Ayah belum menjadi Raja seperti sekarang.
"Ini! Semua ini adalah persediaan kalian selama berkelana nanti!"
"Memangnya berapa lama Ayah memberi kami waktu untuk berkelana?" kini Damon membuka suaranya. Paman Jimo terlihat sedang membuka gulungan catatan yang ada dalam saku celananya.
"Hmm.. Disini tertulis.. Hingga Damon mendapat darah yang benar-benar cocok atau hingga kekuatan Damon telah kembali dan Damon menjadi Dracula lagi seperti semula. Ya. Sampai kau sehat lagi, nak"
"Ya! Berarti itu butuh waktu yang sangat sangat sangat lama!" seru Willis. Damon terlihat sedang menggosok pangkal hidungnya. Sepertinya ini akan menjadi perjalanan panjang yang beresiko. Pikir Damon.
"Benar. Dan kalian anak muda, disini Ayah kalian sudah menulis beberapa aturan yang benar-benar tidak boleh dilanggar oleh kalian. Sebentar. Ini. Baca dan pahami." Paman Jimo menyodorkan dua gulungan kertas kepada Damon dan Willis. Setelah dibuka, gulungan itu berisi tulisan sang Ayah mengenai peraturan untuk mereka berdua.
'Untuk Anakku,
Damon,
Ayah tahu ini begitu menyulitkanmu. Tapi ayah berharap ini akan membantumu dalam mengembalikanmu ke keadaan sebelumnya. Berhati-hatilah dengan matahari. Usahakan agar kau terus berada dalam baju pelindungmu. Jangan sekali-kali membukanya. Untukmu, ayah memanteraimu supaya kau bisa dengan cepat menjadi Pangeran Pewaris Kerajaan kita. Mantera itu akan patah jika kau berhasil menemukan darah dari seorang untuk kau minum. Tidak harus tetes, dengan kau yang sudah meminumnya sebanyak dua kali itu sudah memberimu kekuatan besar. Jika kau menyadari betapa nikmat darah itu, kau boleh meminumnya untuk yang ketiga kali. Ayah tak akan memarahimu. Ayah sudah memberikan semua kebutuhanmu selama diperjalanan kepada Paman Jimo. Jika itu kurang, kau bisa meminta apa yang kurang pada Paman Jimo. Bersiaplah untuk besok malam. Jagalah dirimu selalu anakku. Jagalah adikmu. Pulanglah dengan keadaan yang baik. Benar-benar baik.
Dari Ayah, Raja Vladimirheus.'
'Untuk Anakku,
Willis,
Maafkan Ayah jika ini membuatmu tak bisa menikmati masa mudamu. Ayah mempercayaimu untuk menjaga kakakmu kedepannya. Kau mengagumkan, nak. Kau memiliki kemampuan yang Damon sendiri tidak memilikinya. Kau bisa menyamakan diri dengan manusia biasa. Itulah sebabnya Ayah mengirimkanmu juga untuk menemani kakakmu. Kalian berdua akan mengalami perjalanan yang panjang dan penuh tekanan. Jadi, berhati-hatilah. Jagalah dirimu dan jagalah kakakmu. Ayah sudah menyiapkan perbekalan untuk kalian selama diperjalanan. Jika itu kurang, mintalah lagi pada Paman Jimo. Maafkan Ayah yang tidak memberimu gelar Pangeran Pewaris. Setidaknya kau menjadi Pangeran Kebanggaan keluarga kita, nak. Pulanglah saat dirasa keadaan kakakmu sudah benar-benar baik.
Dari Ayah, Raja Vladimirheus'
Damon dan Willis sudah membaca surat Ayah mereka. Kemudian mereka menggulung kembali surat itu dan memasukkannya kedalam saku masing-masing.
"Kalian akan berkelana sangaat lama. Dan ini peraturannya..
Tidak diperbolehkan untuk merubah wujud menjadi apapun. Baik itu kelelawar, bayangan hitam, Siberian Husky, atau apapun itu.
Tidak diperbolehkan untuk berteleportasi. Kecuali didalam rumah kalian atau keadaan hanya tinggal kalian berdua saja.
Tidak diperbolehkan marah. Itu akan menyebabkan taring kalian tumbuh. Ini menakutkan manusia normal.
Tidak diperbolehkan minum darah didepan manusia normal. Minumlah dalam keadaan sepi. Jika itu terdesak, diperbolehkan untuk mencari alasan.
Tidak diperbolehkan memangsa binatang untuk diambil darahnya. Paman sudah menyiapkan darah dengan stok yang benar-benar banyak. Jika habis, diperbolehkan untuk mencari darah dengan cara apapun.
Ini untuk Damon, tidak diperbolehkan untuk keluar dari persembunyian tanpa mengenakan apapun, maksud Paman, tanpa baju pelindung. Matahari ancaman terbesarmu saat ini. Satu lagi, tidak diperbolehkan mencintai siapapun. Ini berbahaya untuk orang yang kau cintai nanti.
Untuk Willis.. Tidak diperbolehkan untuk membaca pikiran dan mengubah suasana hati manusia normal. Ini melanggar aturan yang sudah ada. Tidak diperbolehkan untuk menyembuhkan siapapun, kecuali dalam keadaan benar-benar terdesak. Ya. Kurasa hanya itu. Ada yang ingin menyangkal aturan itu?" tanya paman Jimo kepada Damon dan Willis yang saat ini keduanya sedang terlihat pusing dengan aturan-aturan itu. Damon hanya menggeleng. Willis hanya mengangguk. Paman Jimo tersenyum puas. Ia tahu bahwa mereka berdua tidak akan menyangkal aturan itu. Paman Jimo juga sudah menganggap mereka berdua sebagai anaknya sendiri.
"Jika ada sesuatu yang kurang, minta saja denganku. Paman permisi."
"Terima kasih banyak Paman!" kata Damon.
.
Keduanya kini sedang mempersiapkan diri masing-masing. Sebentar lagi bulan sabit akan berada tepat di puncak istana. Itu artinya perjalanan panjang mereka akan segera dimulai. Raja dan Ratu sudah menunggu di singgasana mereka. Sang Raja telah mempersiapkan kuda untuk kedua putranya.
Ratu Zeandara memeluk kedua putranya sayang. Sebenarnya ia tidak menginginkan ini. Tapi ini demi kebaikan putranya. Demi kebaikan Kerajaan juga tentunya. Ratu juga menghujani kedua putranya dengan ciuman selamat tinggal. Raja yang melihatnya ia juga merasa bersalah, memisahkan ibu dan anak dalam waktu yang sangat-sangat lama. Ratu terlihat menangis, ia sungguh tidak siap jika akan ditinggalkan putra-putra kesayangannya. Raja kemudian memeluk Ratu. Dan dibalas oleh Damon dan Willis. Sekarang ini terlihat sebuah keluarga sedang berbagi kasih dan kesedihan akan dipisah dalam waktu lama. Damon sudah meneteskan air matanya. Begitupun Willis. Mereka berdua akan segera pergi dari istana ini, dari rumah mereka. Hanya untuk mencari dan membuat Damon kembali ke keadaan sebelum ia ditusuk. Mereka berdua akan melewati banyak cobaan selama diperjalanan. Mereka berdua tentunya akan melewati beberapa waktu kedepan. Bisa dibilang, mereka akan menjadi penjelajah waktu.
Sudah saatnya Damon dan Willis pergi sekarang. Paman Jimo juga terlihat begitu sedih. Seluruh maid yang ada di istana juga terlihat sedih melihat kedua tuannya pergi. Mungkin untuk beberapa waktu kedepan istana mereka akan sepi. Tanpa adanya putra-putra mahkota kerajaan Hellexus.
.
Damon dan Willis menjelajahi seluruh negeri. Sudah mencari dan mendapat darah dari berbagai pelosok. Namun tidak ada yang bisa membuat Damon kembali seperti dulu. Mereka saat ini benar-benar menjadi penjelajah waktu. Beratus tahun sudah terlewati, mereka kini sudah tidak menaiki kuda lagi. Mereka sudah sampai di abad modern. Semua orang tidak ada yang menggunakan kuda. Untungnya mereka membawa harta untuk ditukarkan menjadi sebuah hunian mereka saat ini. Mereka sekarang berada di Seoul. Jika disini mereka tidak juga menemukan darah yang cocok, perjalanan mereka akan segera dilanjut lagi.
Damon dan Willis menyewa apartement di pinggiran kota untuk dijadikan sebagai rumah. Tentunya untuk tempat persembunyian mereka. Tak hanya itu, kedua kakak beradik tampan ini juga menyamarkan identitas asli mereka mengikuti daerah yang mereka tempati. Saat ini, Damon menyamar menjadi manusia dengan nama Park Chanyeol. Sedangkan Willis menyamar menjadi manusia juga dengan nama Park Sehun. Karena Damon sudah 'terlalu tua' untuk bersekolah, jadi Willis memutuskan supaya ia saja yang akan bersekolah. Ia kan menyamakan diri dengan manusia lain. Dengan itu juga ia akan mulai mencari darah untuk kakaknya. Ya, sambil menyelam minum air.
.
.
'Halo Baekhyunee?'
"Hmm? Kau mengganggu tidurku saja!"
'Ya! Aku hanya memberitahu jika besok adalah jadwal kita untuk donor darah. Apa kau melupakan itu?'
"Ya Tuhan aku hampir lupa, ge. Besok hubungi aku ya?"
'Seperti biasa akan menjemputmu pangeran cantik!'
"Ya! Aku tampan!"
'Hahaa terserah kau saja. Aku tutup ya. Dah~' sambungan telepon Baekhyun dan Luhan terputus. Baekhyun kemudian tersadar. Luhan benar, besok adalah tanggal 4 yaitu jadwalnya dan Luhan untuk donor darah. Kegiatan ini sudah menjadi kegiatan rutin bagi mereka berdua.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
.
Gimana untuk chapter 3 kali ini? Keknya ini chapter terpanjang yg pernah aku buat.
Untuk kalian yang 'mungkin' masih menginginkan FF ini lanjut, tolong banget buat tinggalin jejak dikolom review yaa :")
Aku sedih banget yg review Cuma sedikit, kan ini tanda kalau FF ku ini gak byk yg pengen :"")
Maaf banget untuk ketelatan update, karena emg aku kemaren disibukkan dengan UAS praktek dan tulis. Jadinya sekarang baru bisa update.
Mungkin dari chapter ini ada beberapa pertanyaan yg bisa kejawab atau mungkin gak kejawab. Aku minta maaf juga kalau alurnya disini makin gak jelas. Kalau ada typo-typonya yaa aku mohon maaf, aku hanya human yang gak luput dari salah heuheu
Kalau dirasa ada yg kurang pas, PLIS BANGET BUAT REVIEW.
Kenapa? Karena dari review lah aku bisa perbaikin kesalahan yg ada di FF ku ini.
Buat para Readerku, makasih yaa udah sempetin diri kalian buat baca FF gajeku ini :")
Akhir kata, makasiiihh~
KEEP READING KEEP REVIEW YAA MY AEGIES 3
CHANBAEK IS MORE THAN REAL
PS.
diceback-
