Sepertinya chapter ini dan kedepannya bakal fokus di era Joseon dulu yaa~

~oOo~

What If

By VKchu137

Pair: Top! Kim Taehyung

Bottom! Jeon Jungkook

Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,

Desclimer: Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok

Selamat membaca..

~oOo~

1415

Dinasti Joseon

Taehyung melangkah pasti dengan Jungkook yang mengikuti sambil menunduk dibelakang.

Jungkook kini tengah mengenakan baju khusus pelayan istana dengan sedikit riasan wajah dan rambut yang ditata sedemikian rupa seperti perempuan era Joseon pada umumnya.

Taehyung hanya menyuruh tangan kanannya menyiapkan perlengkapannya. Selebihnya seperti memasang, merias dan lain sebagainya dilakukan sendiri oleh Jungkook –dengan sedikit bantuan dari Taehyung–. Seadanya, tapi sempurna.

Jungkook sih sebenarnya tak mau disuruh pasang sendiri. Tapi Taehyung tetap memaksa, takutnya jika pelayan lain yang membantu memasang, identitas Jungkook sebagai seorang Pria bisa terbongkar.

Menghentikan langkah mereka saat telah sampai disebuah pintu, menunggu seorang penjaga pintu memberitahukan kedatangannya pada beberapa orang didalam.

Taehyung melangkahkan kakinya memasuki ruangan setelah sebelumnya menyuruh Jungkook menunggu diluar dengan isyarat mata.

"Kau sudah datang, Tae?" Kim Namjoon, sang Putra Mahkota menyapa terlebih dulu.

Taehyung mengangguk dan membungkuk hormat saat sang Raja –ayahnya– memberikan senyuman. Kemudian mulai duduk diseberang Namjoon, tepatnya sebelah kiri Raja.

"Mana Pelayan pilihanmu, Tae? Aku ingin melihatnya" Kim Seokjin, pemaisuri Putra Mahkota bertanya dengan nada lembut khas -nya.

"Sebentar" Taehyung mengarahkan pandangannya pada Kim Mingyu –orang kepercayaanya, sekaligus tangan kanannya– yang menunggu dipintu, memberikan isyarat dengan satu anggukan kepala yang langsung dimengerti pemuda tinggi itu.

Jungkook masuk kedalam ruangan tersebut setelah dipersilahkan oleh Mingyu. Berusaha jalan layaknya perempuan anggun pada umumnya. Bersujud memberikan penghormatan pada Yang Mulia Raja, sesuai dengan apa yang diajarkan Taehyung sebelumnya.

"Hormat hamba, Yang Mulia Raja Kim Jong In"

Sempat menegakkan duduknya, kemudian melakukan penghormatan yang sama pada tiga orang lainnya.

Sungguh, Jungkook benar-benar tersiksa duduk dengan kaki ditindih seperti ini, ditambah lagi mengenakan hanbeok wanita yang mekar begini.

"Perkenalkan dirimu" kali ini Namjoon yang bersuara saat melihat 'gadis' didepannya hanya duduk kaku setelah melakukan penghormatan.

Jungkook mengumpat dalam hati mendengar suara berat Putra Mahkota tersebut. 'Sialan. Si Taehyung itu tak mengatakan akan ada sesi perkenalan seperti ini'. Melirik Taehyung sedikit yang tetap tenang disana.

"Nama saya Jeon Jungkook, Putra Mahkota." Itu saja, karena Jungkook tak tahu lagi apa yang biasa dikatakan selama proses perkenalan pada era Joseon seperti ini.

"Bagaimana dengan asal-usul keluargamu?" Kali ini Raja sendiri yang bertanya.

Jungkook yang mendengarnya pun mulai gelisah dalam duduknya. Kenapa harus asal-usul keluarga? Ia hanya seorang calon pelayan pribadi Pemaisuri, bukan calon menantu. Dia merasa terintimidasi jika seperti ini. –setidaknya itulah yang dipikirkan Jungkook

Taehyung berdehem kecil, yang mengalihkan perhatian yang lain padanya. "Maaf sebelumnya, Yang Mul–"

"Ayah saja. Kita tak sedang dalam keadaan serius, Tae."

"Baiklah. Apa aku boleh menjawab pertanyaanmu, ayah? Karena Jungkook sendiri punya pengalaman yang menyedihkan jika diingatkan dengan orangtua nya" Taehyung berucap meyakinkan.

"Pengalaman menyedihkan seperti apa itu?" Seokjin bertanya dengan nada tertarik.

Taehyung lagi-lagi berdehem, yang membuat Jungkook berpikir mungkin Pangeran ini akan berdehem dulu sebelum mengatakan kebohongan. "Begini, Orangtua Jungkook dibantai oleh sekawanan perampok yang diduga suruhan dari Kerajaan Tetangga, dan setelahnya dia dirawat oleh ibu angkatnya yang telah meninggal satu tahun yang lalu." Taehyung mengatakannya dengan lancar.

"Kasus perampokan lima tahun yang lalu? Bukankah banyak keluarga yang dibantai saat itu?" Seokjin berucap dan mengalihkan pandangannya yang tadi menatap Taehyung, sekarang beralih menatap Jungkook. "Keluargamu juga korbannya?" melanjutkan mengajukan pertanyaan dengan nada lembut.

Jungkook mengangguk kaku dengan senyum kecut yang menghiasi wajahnya. "Ya, Pemaisuri"

Seokjin menatap iba. "Baiklah. Kau akan menjadi pelayan pribadiku mulai sekarang, Jeon Jungkook"

Hanya seperti ini? Jungkook sendiri mengira akan ada tes memasak, menyapu dan lain sebagainya, seperti tes pembantu rumah tangga di masa depan.

~oOo~

Jeon Jungkook dan Pemaisuri Kim Seokjin terlihat tengah berjalan-jalan ditengah keramaian pasar. Mereka mengenakan pakaian layaknya rakyat biasa, beralasan agar mudah berbaur. Diikuti oleh dua pengawal yang menjaga jarak dari mereka.

Tadi saat membawakan teh untuk Kim Seokjin, Pemaisuri dari Putra mahkota ini memerintahkan Jungkook untuk bersiap-siap dan menemaninya membeli beberapa jepit rambut untuk dirinya sendiri dan beberapa ikat kepala untuk suaminya.

Jungkook sendiri sempat mengutarakan pertanyaanya mengenai mengapa Pemaisuri sendiri yang membeli, bukannya menyuruh pelayan lain? Yang didapatkannya hanya balasan berupa senyuman anggun dari wanita bangsawan tersebut.

"Jungkook-ah, pilih -lah beberapa untuk dirimu sendiri" Panggilan santai sudah mereka sepakati sebelumnya, walaupun sempat ditolak Jungkook karena menurutnya tak sopan berbicara dengan orang yang latar belakangnya jauh diatas kita dengan santai –setidaknya itulah pelajaran yang didapatnya dari novel histori yang pernah dibacanya–. Namun, ditolak keras oleh Seokjin dengan kedok bahwa itu adalah sebuah perintah.

"Tak usah, Pemaisuri." Menolak sopan dengan senyum diwajahnya.

Heol, berpenampilan seperti perempuan seperti ini sudah cukup menurutnya, tak perlu sampai mengoleksi pernak-pernik khas perempuan juga kan.

"Tak ada penolakan. Kau pilih-pilih disini. Aku akan membelikan sesuatu untuk Namjoon dulu." Seokjin berucap dengan menepuk satu kali pundak Jungkook, kemudian pergi ke stand lain.

Jungkook menghela napas pelan dengan mata menatap tak minat pada beberapa sopenir didepannya.

"Permisi–" Sebuah suara berat terdengar dari arah sampingnya. Jungkook menoleh merasa pria tersebut berbicara dengannya.

"Ya?"

"Benar ternyata. Apa anda punya waktu sebentar?" Pria dengan janggut tipis itu berujar dengan nada pelan dan dibalas dengan anggukan kecil Jungkook.

Jungkook mengikuti langkah pria itu yang membawanya ke tempat yang sedikit sepi. Kemudian mengeluarkan sebuah gulungan perkamen dari balik bajunya. Memperhatikan sesuatu pada perkamen itu dan wajah Jungkook secara bergantian berulang-ulang. "Benar." berucap kemudian membungkuk hormat.

Jungkook sendiri terkejut dengan tingkah pria asing didepannya ini, cara pernghormatannya benar-benar tak wajar untuk seorang pelayan seperti Jungkook. "A-apa yang anda lakukan?"

Pria tersebut menghentikan penghormatannya dan menatap Jungkook. "Yang Mulia Putri Cho Jungmin, anda selama ini kemana? Yang Mulia Raja dan Ratu mencemaskan anda."

Jungkook mengerutkan alisnya bingung, dirinya merasa asing dengan nama dan kalimat yang diucapkan pria ini. "Maaf tuan. Anda sepertinya salah orang. Saya Jeon Jungkook, dan bukan seorang Putri seperti yang anda sebutkan" berujar hati-hati.

"Hamba tak mungkin salah putri, lihat ini. Ini benar-benar Tuan Putri." Pria itu menolak tegas, dan menyerahkan gulungan perkamen tadi kepada Jungkook.

"I-ini.." netra Jungkook membola melihat sketsa wajah yang sangat mirip dengannya dengan nama Cho Jungmin pada bagian bawah.

"Syukurlah, Tuan Putri tak terbunuh seperti dugaan Yang Mulia Raja.." berucap dengan senyum tulus, kemudian melanjutkan "Hamba akan mengawal Tuan Putri untuk kembali ke kerajaan. Dan sepertinya setelah mengetahui berita bahwa Tuan Putri disembunyikan oleh orang dari Kerajaan ini, Yang Mulia Raja akan langsung mengutarakan perang."

Tangan Jungkook bergetar mendengarnya, "P-perang?". Ia telah mendengar Taehyung bercerita tentang perang dengan Kerajaan tetangga yang sepertinya akan terjadi dalam waktu dekat ini. "K-kau dari kerajaan tetangga?"

Pria tersebut menatap bingung, sempat hening sejenak karena sepertinya Pria itu tengah memikirkan sesuatu. "Hamba mohon maaf sebelumnya, Tuan Putri. Sepertinya ada yang salah dengan anda. Tentu saja kita dari kerajaan tetangga, hamba kesini sebagai mata-mata atas perintah dari Yang Mulia Raja."

Jungkook mulai gelisah, meremas ringan perkamen ditangannya. "T-tidak tidak. Kau salah orang, aku bukan Tuan Putri mu" setelah mengucapkannya, Jungkook berlari tak tentu arah dengan membawa gulungan perkamen itu , dan melupakan Seokjin yang tengah menunggunya.

~oOo~

Jungkook menatap bingung pepohonan disekelilingnya, menggigit bibir tipisnya panik.

Berdecak menyesal atas apa yang dilakukannya. Merutuki kebodohannya yang sama sekali melupakan Seokjin yang tadi keluar istana bersamanya, berakhir dengan dirinya yang tersesat seperti ini. Sekarang ia harus apa? Jalan menuju istana sama sekali tak dihafalnya.

Dirinya gelisah tadi, pikirannya kosong karena dapat menyimpulkan sesuatu setelah mendengar ucapan Pria asing yang mengatakan bahwa Jungkook adalah Cho Jungmin, Tuan Putri kerajaan tetangga.

Membekas jelas diingatannya tentang semua yang diceritakan Taehyung padanya. Pangeran itu mengatakan, akan terjadi perang yang disebabkan oleh kesalah pahaman kerajaan tetangga yang mengira bahwa Putri sang Raja meninggal di perbatasan karena ulah orang dari Kerajaan ini.

Berarti sekarang, mungkin saja Pria asing tadi telah memberitahukan kepada Raja nya mengenai Jungkook yang mirip sang Putri. Dan kemudian menuduh kerajaan ini menyembunyikan sang Putri.

Drab drab

Pendengaran Jungkook menangkap suara langkah kuda mendekatinya. Meremas ujung lengan bajunya panik. Jangan katakan kalau pria asing itu mengikutinya?

'Eomma–' mulai membantin menyebut ibu nya dengan eomma –kebiasaan saat Jungkook ketakutan–.

Langkah kuda itu terdengar berhenti, Jungkook memejamkan matanya bertambah panik. Takut kalau-kalau Pria asing itu membawanya paksa. Disini sepi dan sebenarnya masih sore, tapi pohon-pohon disekelilingnya membuat suasana jadi sedikit gelap.

"Ya! Pelayan Jeon" Jungkook membuka matanya cepat, itu suara Taehyung.

Membalik badannya keasal suara, kemudian tersenyum lebar saat melihat seorang pemuda yang ternyata memang Taehyung tengah melangkah kearahnya.

"Tae~" suara Jungkook terdengar seperti mendayu ditelinga Taehyung yang membuatnya menatap pemuda manis yang berpakaian perempuan itu dengan pandangan aneh.

"Sudah kubilang aku ini Pangeran, jadi panggil aku Pangeran Taehyung! Dan apa-apaan ini" berujar dengan nada tegas dengan matanya yang masih memandang aneh Jungkook yang kini tengah memegang lengan baju Taehyung dengan kedua tangannya.

Jungkook yang mendengar ucapan Taehyung pun memandang sinis, dengan tangan yang masih memegang lengan baju Taehyung. "Aku akan memanggilmu Pangeran Taehyung, jika kau tak memanggilku Pelayan Jeon. Itu terdengar seperti aku benar-benar seorang babu"

Taehyung memutar bola matanya malas, ia lupa akan hal itu. "Baiklah terserah. Dan sekarang ayo kita kembali ke kerajaan. Seokjin noona mencemaskanmu, lagipula kau kenapa bisa sampai tersesat begini." Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan yang diucapkan Taehyung sembari melangkah mendekati kudanya.

"T-tunggu tae–"

"Pangeran! Berapa kali aku harus memberitahumu. Ada apa lagi sekarang?" Taehyung berujar jengkel saat Jungkook menghentikan langkahnya.

Jungkook menggigit bibir tipisnya ragu, tak ada salahnya menceritakan apa yang telah terjadi padanya pada Taehyung."Ini. Kau harus melihat ini." Jungkook berucap sembari memberikan gulungan perkamen pada Taehyung.

Taehyung mengerutkan dahinya sembari membuka gulungan perkamen tersebut. "Hng? Ini seperti wajahmu. Siapa yang menggambarnya?"

"Benarkan? Ini benar-benar mirip denganku kan? Wahh– Daebak"

Taehyung menatap aneh Jungkook yang berucap heboh. "Kau kenapa?"

"Dengar. Yang berada di perkamen itu bernama Cho Jungmin"

"C-cho Jungmin? Itu kan– nama seorang putri dari kerajaan tetangga yang dikabarkan meninggal. Kenapa wajahnya mirip denganmu? Kau bercanda?"

Jungkook memutar matanya. "Aku juga terkejut. Tadi ada seorang pria yang mengira aku Tuan Putrinya dan menyuruhku ikut dengannya untuk kembali ke kerajaan tetangga. Karena itu aku berlari sampai tersesat begini." menjelaskan dengan nada jengkel.

"Kau serius?"

"Iya, tentu saja. Dan sepertinya, aku adalah Reinkarnasi dari Putri itu. Wahh– aku tak menyangka menjadi reinkarnasi dari seorang wanita." Jungkook berujar tak habis pikir. "Ah! Aku lupa, sepertinya akan benar-benar terjadi perang seperti prediksimu. Dan sepertinya perang tersebut akan dipercepat."

~oOo~

TBC

Chapter 3 update yeyy~

Maafkan karena banyaknya typo di fanfiksi ini T.T

Hayoo~ Kookie ada kembaran tuh di era Joseon :'v Maafkan akuu yang asal ngasih nama TT Itu nama yang terlintas pas nginget kelinci :'v

.

.

Makasih buat yang udah baca atau yang sekedar mampir.

Terimakasih banyak buat yang udah Follow, Favorite, apalagi Review untuk chapter sebelumnya I luv u~ Yang log-in Review-nya udh aku bales yaa~

Review lagi gk apa-apa dong yaa~ buat tambahan semangat nulis :))

Kritik, saran, atau yang mau tanya-tanya silakan coret-coret dikolom review yaa~

Mampir juga ke akun Wattpad ku "VKchu137"


Jum'at, 10 Februari 2017

Di Kamar Tercinta

VKchu137