What If
By VKchu137
Pair: Top! Kim Taehyung
Bottom! Jeon Jungkook
Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,
Desclimer: Tahun dan sebagainya berkaitan dengan dinasti Joseon saya sendiri yang ngarang. Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok
Selamat membaca..
~oOo~
2016
Seoul
Laboratorium itu terlihat sepi setelah pemiliknya –Tuan dan Nyonya Jeon– meninggalkan ruangan. Pasangan Suami istri itu berniat mencari perlengkapan untuk menyelesaikan penemuan mereka yang sebelumnya tak ingin mereka teruskan. Namun, demi kembalinya sang anak, mereka akan menyempurnakan mesin tersebut.
Sekilas jika dilihat oleh orang biasa, Laboratorium itu memang terlihat sepi. Hanya berisi benda-benda elektronik dan beberapa kertas untuk keperluan penemuan. Namun, jika yang melihat adalah seorang indigo, mungkin mereka akan menangkap sosok gadis yang tengah terbaring tak sadarkan diri disamping mesin 'penjelajah masa lalu' itu. Mengenakan hanbeok mewah khas keluarga bangsawan, dengan rambut ditata sedemikian rupa layaknya seorang berpengaruh.
Cho Jungmin namanya. Gadis itu mulai menggerakkan kelopak matanya mencoba membiasakan diri dengan sorotan lampu yang mengarah langsung ke matanya.
Saat matanya telah terbuka sempurna, Jungmin mulai mendudukkan dirinya panik karena merasa asing dengan keadaan sekitar. Seingatnya, ia telah mati. Tapi mengapa sekarang dirinya masih hidup? Dan dimana ia sekarang? –setidaknya begitulah pertanyaan dipikirannya–
Maniknya beralih pada hanbeok yang dikenakannya. Masih sama, dengan bercak darah mengering dibagian perut. Mengerjapkan matanya berpikir, jika keadaannya tetap seperti ini, berarti dirinya memang benar-benar sudah mati.
Jungmin bangkit perlahan dari duduknya, mengedarkan kembali matanya menatap benda-benda yang tak pernah dilihatnya. Masih berkecamuk dibenaknya mengenai keberadaannya sekarang. Kakinya melangkah perlahan menuju meja panjang yang dekat dari tempatnya.
Netranya memperhatikan beberapa kertas yang berserakan diatas meja tersebut, mencoba membaca deratan hangeul yang tertulis disana. Tangannya mencoba meraih salah satu kertas,
Bats–
Tak bisa. Kertas itu benar-benar tak bisa disentuh oleh tangannya. Dirinya mulai menyimpulkan segala kemungkinan yang terjadi padanya, dan mencoba membuktikannya dengan melangkah perlahan mendekati meja panjang didepannya.
Plash–
Tubuhnya dengan mudah menembus meja tersebut. Dengan ini, ia sudah dapat menyimpulkan bahwa dirinya yang sekarang hanyalah seonggok jiwa tanpa raga. Dan disini bukan tempat asalnya, tepatnya dirinya sedang tak berada pada masa -nya yang seharusnya.
Lalu, apa yang harus dilakukannya sekarang? Ingatan-ingatan menyakitkan sebelum kematiannya mulai berkeliaran dipikirannya. Ada banyak hal yang harus diselesaikannya di Goryeo. Namun tak mungkin dapat dilakukan dalam keadaan dirinya hanya seonggok jiwa saja.
Jungmin menggelengkan kepalanya kasar. Tidak. Pertama, ia harus mengetahui seberapa jauh dirinya pergi dari masa nya yang sebenarnya.
Jadi, Ia mengedarkan pandangannya mencari sesuatu yang dapat mengidentifikasi pada masa apa ia sekarang. Netranya terus menatap sekeliling, karena tak tahu dan tak mengerti dengan semua benda yang berada disekitarnya.
Tatapannya berhenti pada mesin yang tadi menjadi tempat tubuhnya terbaring. Mulai melangkahkan kakinya, saat yakin bahwa mesin itulah yang menjadi penyebab dirinya terlempar dari masanya yang sebenarnya.
Dirinya telah berada didalam mesin tersebut kini. Tak ada apapun, hanya kaca bening yang mendominasi. Langkahnya mulai maju–
Trak–
Kaki kanannya tak sengaja menendang sesuatu dibawah, ia pun mengalihkan pandangannya pada sesuatu tersebut.
Dahinya berkerut aneh saat melihat benda berwarna hitam yang tak dimengertinya, benda itu terlihat seperti aksesoris yang selalu melingkar dipergelangan tangannya pada masa lalu. Namun, benda ini berbeda, dengan satu sisi yang lebih besar dan terlihat aneh. Pun mencoba mengambil benda tersebut–
Dan.. berhasil! Benda itu berada ditangannya sekarang. Apa maksudnya? Bahkan kertas yang lebih ringan tadi tak dapat disentuhnya. Lalu kenapa benda ini bisa?
Tak kehabisan akal, ia pun mencoba membuktikan lagi dengan menyentuh kaca bening mesin ini.
Plash–
Tak bisa. Tangannya menembus kaca bening tersebut! Dengan ini, otaknya mulai menyimpulkan bahwa dirinya hanya dapat menyentuh benda ini. Tapi kenapa?
Tangannya mulai memutar benda tersebut untuk lebih memperhatikan.
"Ini. Ini namanya ponsel pintar, dengan ini kau bisa berhubungan dengan orang lain."
Betapa terkejutnya ia saat tiba-tiba benda itu mengeluarkan suara. Tak hanya suara, disalah satu bagian yang lebih besar dari benda itu menampilkan gambar yang dapat bergerak.
Disana terlihat potongan wajah dari pangkal hidung keatas dengan suara grasak-grusuk berisik. "Disini tak ada sinyal"
"Woah– Ada benda seperti ini dimasa depan?" Tiba-tiba gambar berubah menjadi wajah seorang pemuda dengan ikat kepala berwarna merah.
"I-ini kan... Pangeran Taehyung dari Kerajaan Joseon. Bagaimana bisa?"
Plip–
Tiba-tiba benda itu tak menampilkan apapun lagi, juga tak terdengar lagi suara-suara. Dahinya berkerut bingung, memperhatikan benda tersebut. Jungmin pun berbalik dan mengedarkan pandangannya mencari jalan keluar dari Laboratorium tersebut. Dirinya berniat mencari tahu siapa pemilik benda sekaligus tempat ini. Sebenarnya, dia sudah meyakini bahwa pemuda yang wajahnya hanya terlihat setengah tadi merupakan orang yang bertukar masa dengannya, mendengar pemuda tersebut mengutarakan kata yang asing dipendengarannya –ponsel–. Tapi, ia juga harus memastikan siapa pemuda tersebut, dan mengapa harus bertukar masa dengannya?
Senyum puas tersemat dibibirnya saat menangkap sebuah pintu, pun mulai melangkahkan kakinya dan berniat menembus pintu–
Cklek–
"Cepatlah yeobo. Kasihan Jungkookie kita sendirian ditempat yang tak diketahuinya"
Jungmin terkejut. Badannya membeku panik. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda tiba-tiba membuka pintu tersebut dan berucap panik dengan sang Suami yang mengikuti dibelakang.
"Tenanglah. Kita dapat menyelesaikan ini secepatnya."
Kedua alisnya terangkat saat pasangan suami istri itu berjalan melewati tanpa menatapnya. "Ahh benar. Aku kan hanya arwah." bergumam pada diri sendiri dan membalikkan badannya mengikuti langkah suami istri tersebut. Dirinya meyakini bahwa ia akan mendapatkan informasi dari suami istri ini.
"Jeon Jungkook. Anak itu, sebenarnya apa yang ada dipikirannya sehingga mencoba alat ini" Tuan Jeon berujar sembari menyalakan monitor besar yang ada di Laboratorium tersebut.
'Nama pemuda itu Jeon Jungkook'. Jungmin telah mendapat satu informasi.
~oOo~
'Hahhh'
Suara helaan napas bosan itu berasal dari Jungmin, gadis itu kini hanya duduk berselonjor dipojokan memperhatikan pasangan suami istri yang tengah tidur didepan monitor. Kelelahan mungkin.
Matanya menatap benda yang tadi dapat mengeluarkan gambar dan suara dari masa lalu –masanya–, jarinya mengelus perlahan layar kecil pada benda tersebut. Dirinya tengah menantikan untuk terhubung lagi dengan pemuda yang bernama Jeon Jungkook itu. Dipikirannya, mungkin alasan dirinya bertukar masa seperti ini mungkin saja agar Jungkook itu bisa membantunya menyelesaikan sesuatu di Goryeo sana.
Dirinya meyakini, mungkin jika ia tak mati sebelumnya sudah pasti Jungmin dalam wujud manusia yang terlempar ke masa depan, bukan seonggok jiwa seperti ini.
Sqrrkk sqrkk–
Jungmin mulai menegakkan duduknya saat mendengar suara berisik pada alat itu. Netranya membulat melihat benda itu kembali berfungsi dengan menampilkan gambar seorang gadis berwajah bingung pada layar kecilnya.
Itu Jeon Jungkook? tapi mengapa pemuda itu berpenampilan seperti seorang gadis? Dan paras Pemuda yang menyerupai seorang gadis itu benar-benar sangat mirip dengan parasnya. Dia baru memperhatikan, karena sebelumnya wajah Jungkook hanya terlihat setengah.
"J–Jungkook -ssi?" Ia mulai bersuara ragu, netranya memperhatikan perubahan raut wajah Jungkook saat mendengar suaranya. Dengan ini, dapat diyakini bahwa Jungkook hanya dapat mendengar suaranya tidak beserta gambar.
Dan setelahnya, terdengar suara berisik benda jatuh sebelum layar itu kembali menghitam, yang menandakan sambungan kembali terputus.
~oOo~
1415
Dinasti Joseon
"Saya akan membawa Tuan Putri kembali ke Kerajaan Goryeo" Jimin bersuara memecahkan keheningan diruangan tersebut. Taehyung yang mendengarnya, menatap tajam Jendral itu.
Sebelumnya, Taehyung beserta Putra Mahkota dan beberapa prajurit mengawasi Park Jimin yang tengah memeriksa disekitar istana. Dirinya tenang saja, sebelum Jendral bertubuh pendek beserta prajuritnya itu melangkah ke danau belakang istana. Taehyung melarang keras saat Jimin berniat menggeledah pondok kecil dekat danau, yang sudah dipastikan terdapat Jungkook disana.
Namun, gagal. Si Jimin itu memaksa masuk. Dan bukan hanya dirinya, bahkan semua yang berada disana terkejut melihat Jungkook tergeletak pingsan dibagian pojok pondok dengan tas punggungnya disamping tubuh. Sementara semua orang masih dalam keadaan shock nya, ia dengan sigap menggendong Jungkook, memindahkannya dari pondok ke kamarnya.
"Apa maksud anda? Dia adalah Jeon Jungkook, pelayan pribadiku. Bukan Tuan Putrimu!" Seokjin yang juga berada di ruang kamar Jungkook melayangkan protes.
"Pelayan? Wahh.. Aku tak dapat membayangkan bagaimana murkanya Yang Mulia Cho Kyuhyun mendengar kalau anak semata wayang nya dijadikan seorang pelayan di Kerajaan musuh."
"Sebentar, Park Jimin -ssi. Bukankah nama Tuan Putri anda adalah Cho Jungmin? Jika benar, maka anda salah. Gadis ini bernama Jeon Jungkook." Kali ini Namjoon bersuara membela sang Istri. Jimin terlihat berpikir sejenak, memperhatikan dengan seksama paras gadis didepannya.
"Dia benar-benar Cho Jungmin, Tuan Putri sekaligus calon istriku. Aku yakin sekali. Dan harus membawanya kembali sekarang."
"Tak mau! Aku akan tetap di Joseon. Lagipula kau siapa sih?"
Perhatian semua orang beralih pada Jungkook yang telah sadar dengan mata yang menatap tajam Jimin. Tak tahu kenapa, tapi perasaan Jungkook tak tenang melihat wajah pemuda itu.
"Ehm.." Taehyung mulai berdehem. "Park Jimin -ssi, Namanya adalah Jeon Jungkook. Aku menemukannya di pasar dalam keadaan linglung. Saat itu, dia bertanya tentang keberadaannya sekarang padaku dan mengaku tak ingat apapun. Jadi, apakah dia benar Tuan Putrimu atau tidak, aku tak akan membiarkanmu membawanya dalam keadaan seperti ini." mulai menjelaskan sembari netranya menatap satu-satu setiap orang diruangan.
"Apa maksudmu Tae? Bukankah kau mengatakan Orang Tua Jungkook meninggal karena pembantaian? Lalu mengapa sekarang kau mengatakan menemukannya di pasar dalam keadaan tak ingat apapun?" Raja Jong In mulai bersuara, menatap menyelidik kearah putra bungsunya.
"Maaf, Ayah. Aku hanya ingin agar Jungkook diterima menjadi Pelayan pribadi Seokjin noona, karena aku sudah berjanji akan membantunya" berucap dengan nada bersalah, matanya melirik sedikit kearah Jungkook dan memberikan isyarat mata yang sama sekali tak dimengerti pemuda manis itu.
"Baiklah. Untuk sementara anda akan tetap disini karena saya harus memastikan sesuatu terlebih dulu. Mungkin beberapa hari lagi Raja Kyuhyun sendiri yang akan ke Joseon menjemput putri nya." Jimin kembali berujar sembari menatap Jungkook, dan melanjutkan sembari mengalihkan pandangannya pada Jong In. "Kalau begitu, saya permisi dulu Yang Mulia" membungkuk hormat, kemudian pergi keluar ruangan tanpa menunggu Raja mempersilahkan.
Suasana dalam ruangan seketika hening setelah kepergian Park Jimin. Semua orang terlihat menunggu penjelasan dari dua orang yang tengah saling tatap itu. Taehyung dan Jungkook terlihat saling menukar pandangan satu sama lain, saling memberi isyarat untuk memulai penjelasan.
Dahi Taehyung berkerut saat melihat wajah pucat Jungkook. "Kau kenapa?" berujar sembari mendekatkan diri. Tangan kanannya meraih dagu Jungkook agar menatap lurus kearahnya. "Ya! Kau pucat sekali. Badanmu juga panas."
Seokjin menatap panik Jungkook saat mendengar tuturan Taehyung. Mencoba mendekat juga, lalu mengecek suhu badan Jungkook. "Taehyung benar. Badan Jungkook panas sekali. Kau berbaringlah." berucap sembari membantu membaringkan tubuh Jungkook.
Yang Mulia Raja dan Putra Mahkota kompak menghela napas. "Baiklah. Kami menantikan penjelasan dari kalian berdua setelah ini." Itu Jong In yang berucap sembari bersiap meninggalkan ruangan.
"Tidak ayah. Biarkan Jungkook istirahat, aku saja yang menjelaskan setelah ini." tawaran Taehyung ini sempat diangguki pelan oleh Jong In dan Namjoon sebelum benar-benar keluar ruangan.
Taehyung mengalihkan pandangannya pada Seokjin yang tengah membenah selimut Jungkook. "Kau juga istirahatlah, noona. Biar aku yang mengurus Jungkook."
Belum sempat Seokjin membuka mulut untuk menyanggah, Taehyung lebih dulu melanjutkan, "Tenanglah. Aku akan benar-benar merawatnya. Noona pergilah berbicara dengan Ayah dan Namjoon hyung, buat mereka agar tak terlalu marah padaku nanti"
"Tsk.." Seokjin mendecak kesal, namun tetap berdiri berniat keluar, ".. Kau memang pantas dimarahi"
"Ah! Jangan lupa panggilkan tabib istana, noona."
Taehyung kini tengah membantu Jungkook meminum ramuan pemberian tabib.
Jungkook sendiri mengernyit jijik saat lidahnya mengecap rasa pahit aneh dari ramuan tersebut. Rasa yang aneh, tentu saja. Dirinya tak pernah meminum ramuan seperti ini, "Yaikss– Rasanya aneh, aku tidak mau meminumnya lagi!" berhenti meneguk ramuan itu sembari tangannya meraih wadah air minum untuk menghilangkan rasa aneh dimulut.
"Kenapa berhenti?! Kau harus menghabiskannya dalam sekali teguk jika ingin cepat sembuh!" Taehyung berucap kesal sembari meracik ulang ramuan tadi untuk diteguk kembali oleh Jungkook.
"Tidak mau. Ini benar-benar tak enak! Apa tak bisa diganti dengan pil, kapsul, atau sirup rasa strawberry?"
Taehyung memutar bola matanya saat mendengar kalimat aneh kesekian yang dikeluarkan Jungkook. "Tak ada hal semacam itu disini. Sekarang minum ini." Tangan satunya meraih dagu Jungkook memaksa pemuda manis itu membuka mulutnya.
Jungkook sendiri menggeleng panik sembari berusaha tetap menutup rapat mulutnya. "Aku tak akan mau membantumu jika tak mau minum ini." Kalimat yang barusaja dituturkan Taehyung berhasil menghentikan rontaan Jungkook yang kini hanya dapat menatap melas.
"Minum! Ingat, sekali teguk!" Tangan Taehyung yang memegang dagu tadi beralih meraih tangan kanan pemuda manis itu, memindahkan wadah ramuan yang telah diraciknya ke tangan Jungkook yang menatap ragu cairan hitam pekat tersebut.
Glek–
Secepat mungkin meneguk ramuan itu, lalu mencoba meraih wadah air biasa untuk menghilangkan rasa ramuan. Belum sempat tangannya meraih, Taehyung lebih dulu menghentikannya sembari menggeleng pelan, '"Tanpa minum. Tahan sedikit" berucap dengan senyum geli yang tersemat melihat ekspresi lucu Jungkook menahan agar tak memuntahkan ramuan yang telah ditelannya.
Jungkook menahan dengan menutup mulut dan menarik dalam napas lalu membuangnya. "Anak pintar" Taehyung terkekeh geli sembari mengusak kepala Jungkook yang menatap kesal kearahnya.
"Tae.. sebenarnya, ada yang ingin kubicarakan denganmu"
~oOo~
Enam kuda dengan masing-masing satu pengendali dipunggung terlihat berlari semangat saat hampir melewati perbatasan Kerajaan. Namun, Jimin menghentikan kuda yang dikendarainya, otomatis lima lainnya juga turut berhenti.
Jendral itu menatap satu persatu prajuritnya. "Kalian pergilah lebih dulu menghadap Raja. Masih ada hal yang harus ku selesaikan. Aku akan menghadap pada beliau setelah urusan ini selesai." perkataanya diangguki patuh oleh kelima prajuritnya.
"Hyak!"
Jimin mulai melajukan kudanya kearah yang berbeda. Kuda coklat dengan rambut hitam dibagian kepala itu terus berlari, kakinya yang bersentuhan kasar oleh tanah menimbulkan suara bersahutan. Hingga kemudian berhenti pada sebuah pondok ditengah hutan perbatasan.
Perbatasan merupakan wilayah netral, kedua Kerajaan tak boleh mengklaimnya, ini sudah tercantum dalam perjanjian.
Jimin mulai turun dari kudanya, dan melangkah menuju pondok tersebut. Pondok itu terlihat tua dengan lumut yang menyelimuti bagian luar dan dedaunan kering menutupi lantai.
Brak–
Jimin membuka paksa pintu pondok dan mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.
Pandangannya kemudian terpaku pada sesuatu yang berada dibawah tumpukan daun kering.
"Masih ada. Lalu, siapa gadis pelayan itu?" bergumam sendiri sembari langkahnya mendekati sesuatu tersebut.
"Wajahnya benar-benar mirip. Itu tak mungkin kau kan Jungmin?" tatapan tajamnya terlihat menakutkan ditengah gelapnya pondok tersebut.
Mata sipitnya terus menetap kearah sesuatu itu.
Sesuatu yang merupakan jasad membusuk yang dilapisi dengan hanbeok indah yang telah lusuh.
~oOo~
TBC
Chapter 5 update yeyyy...
Ini gimana? Itu apaan? Kkkk...
.
.
Big Thanks to:
livanna shin | nuruladi07 | Jieunjilee | ExileZee | Kyunie | VK | cookies | emma | Park RinHyun-Uchiha | YolYol17 | Kwonshistar | Kimizaku | Guest | LittleDeviL94 | Albus Covallaria majalis | dwi-yomi | Swaggxr13 | Ly379 | Kyuminjoong | hjs30 | llis | Taekooks'cream | Monvernx | minkyway | odorayaki | Jeon97Kim | kimrin | Jenna Seo
Makasih buat yang udh baca atau nyempetin mampir di fanfiksi ini.
Terimakasih banyak buat yang udh follow, favorite, apalagi review di chapter sebelumnya. I luv u~ :*
Ada yang nanya, apa hubungan Jungmin sama kelinci wkwk.. "Jung" dari Jungkook, "Min" dari Sungmin, "Jungmin" = kelinci wkwkwk :'v
Review lagi untuk chapter ini yaaa... aku semangat update gara-gara respon lohh^^
Mampir juga ke akun Wattpad ku "VKchu137"
Berteman juga di Ig yaa.. Follow " VKchu137"
Jum'at, 25 Februari 2017
Di Kamar Tercinta
VKchu137
