What If

By VKchu137

Pair: Top! Kim Taehyung

Bottom! Jeon Jungkook

Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,

Desclimer: Tahun dan sebagainya berkaitan dengan dinasti Joseon saya sendiri yang ngarang. Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok

Selamat membaca..

~oOo~

Taehyung dan Jungkook kini tengah duduk dihadapan Yang Mulia Raja, Putra Mahkota serta sang Pemaisuri. Sebenarnya tak apa walau hanya Taehyung yang menghadap tiga orang besar ini, tapi Jungkook memaksa ikut karena merasa tak enak melampiaskan semuanya pada Pangeran tampan itu. Lagipula ramuan aneh tadi sudah benar-benar menurunkan demamnya.

Tingkah keduanya benar-benar kontras, Taehyung terlihat mendongakkan kepalanya menatap tenang tiga orang didepannya, sedangkan Jungkook sendiri juga tak menunduk namun matanya memandang random seisi ruangan gugup.

Didepan sana Raja Jong In memandang datar keduanya. Sungguh, Jungkook merasa terintimidasi dengan tatapan itu. Ditambah lagi fakta bahwa dirinya lah pemeran utama dalam pembicaraan kali ini. Namjoon yang berada disamping kanan Raja memandang jengah karena sedari tadi tak ada yang kunjung membuka suara.

"Jadi.."

Jungkook tersentak terkejut begitu mendengar Raja Jong In membuka suara tiba-tiba. Sebenarnya bukan tiba-tiba sih, Jungkook saja yang tak fokus sedari tadi. Dirinya memandang malu semua mata yang kini menatap kearahnya karena kejut refleks nya yang seperti orang tersetrum.

Jong In berdehem pelan agar semua orang kembali memperhatikannya. "Jadi.. ada yang ingin kalian jelaskan?" yang terlontar memang pertanyaan, namun dipendengaran yang lain pertanyaan itu terdengar seperti 'Jelaskan semuanya sekarang' ditambah dengan suara datar yang mengiringi.

Jungkook melirik Taehyung yang juga tengah menatap kearahnya. Keduanya saling melempar isyarat -siapa yang lebih dulu berbicara- melalui tatapan mata. Jungkook benar-benar sebal dengan tingkah Pangeran disampingnya ini, seharusnya si Taehyung itu bersikap Gentle dengan mau menjelaskan lebih dulu. Jungkook kan berperan sebagai seorang gadis disini. "Ya! Kau sudah berjanji akan membantuku tadi sebelum meminum ramuan aneh itu." berbisik kesal sembari memandang tajam kearah Taehyung.

"Aku akan membantumu. Tapi, kau dulu yang mulai berbicara" Taehyung membalas dengan berbisik pula yang membuat Jungkook berdecak semakin kesal. "Tahu begini, aku tak akan meminum ramuan tadi. Sial!" berucap dengan umpatan diakhir kalima. Jungkook mengalihkan tatapannya kearah tiga orang didepan yang memandang penuh selidik kearah dirinya dan Taehyung.

"A-"

"Ayah, jadi begini. Seperti yang sudah ku katakan tadi, aku bertemu dengan Jungkook di pasar dalam keadaan dirinya yang tak ingat apapun. Dan ini adalah cerita sesungguhnya. Aku begitupun dia, tak tahu identitas aslinya. Apakah ia benar-benar Cho Jungmin atau tidak, kami sungguh tak tahu." Jungkook sempat kesal karena perkataannya dipotong oleh Taehyung, namun tetap mengangguk setuju saat mendengar penjelasan dari pangeran itu.

Sebenarnya, Jungkook sudah bilang pada Taehyung agar jujur didepan Raja mengenai jenis kelamin Jungkook. Namun, Pangeran itu menolak mentah-mentah, selain karena takutnya tak dapat mengarang lagi mengenai mengapa Taehyung memasukkan Jungkook yang seorang laki-laki kedalam istana sebagai pelayan pribadi, alasannya juga karena hukum di masa lalu itu sangat keras. Kebohongan mereka sedari awal ini sudah termasuk kebohongan fatal karena pemalsuan identitas dan lain sebagainya. Jungkook juga tak mau kepalanya dipenggal hanya karena ber-crossdressing di masa lalu.

"B-benar Yang Mulia. Saya benar-benar tak ingat apapun. Biarkan saya tetap disini."

Seokjin menghela napas berat. "Tapi mereka mengiramu Putri Cho Jungmin, Jungkook-ah. Dan pasti kurang dari dua hari ini Raja Goryeo datang sendiri ke Joseon menjemputmu. Dan kami benar-benar tak tahu apa yang dapat kami lakukan untuk itu."

Jungkook diam mendengar perkataan itu. Benar juga. Jika sudah begini, ia harus apa?

"B-biar saya yang akan menolak jika mereka ingin membawa paksa. Tapi, saya mohon dukungan dari keluarga Kerajaan Joseon untuk bantu mempertahankan saya." Jungkook menunduk dalam tanda permohonan, setahunya sih begitu. "S-saya mohon. Saya benar-benar tak tahu harus berbuat apa jika berada di Goryeo."

Taehyung memandang iba Jungkook disampingnya. Kasian juga pemuda ini, dirinya tersesat dan pasti merasa sangat asing hidup di masa yang jauhnya ratusan tahun dari masa asalnya. Dan disini, pemuda ini hanya memiliki Taehyung yang mengetahui identitas sebenarnya.

"Baiklah. Kau yang selesaikan jika Raja Goryeo benar-benar datang kesini. Kami tak ingin menanggung akibat dari kejadian ini." Raja Jong In berucap final dengan berat hati, tak tega juga ia melihat wajah memohon Jungkook.

"T-termakasih.. Terimakasih banyak, Yang Mulia.."

"Kau boleh pergi."

~oOo~

Goryeo

Park Jimin memberikan penghormatan pada pasangan Raja dan Ratu Goryeo didepannya. Kepalanya mendongak menatap Raja Kyuhyun yang tengah menampilkan ekspresi datarnya. Manik sang Raja menatap lurus kearahnya, benar-benar tajam. Otak Jimin memikirkan kemungkinan sang Raja sedang marah karena keadaan ini tak sesuai dengan apa yang diinginkan.

"Mohon maaf, Yang Mulia."

Tak ada tanggapan dari Raja Goryeo itu. Mulutnya masih mengatup rapat dengan rahang mengeras. Sang Istri disampingnya menggenggam tangannya dan memberikan tatapan teduh. Seperti yang diketahui, Sungmin adalah Ratu berhati baik yang sangat cocok dengan sikap keras suaminya.

"Jadi, apa yang dikatakan prajuritmu itu benar? Mengenai Putriku yang berada di Joseon."

Jimin mengalihkan tatapannya saat mendengar suara lembut sang Ratu. "Ya, Yang Mulia Ibu Suri. Ada seorang gadis di Joseon yang parasnya benar-benar mirip dengan Putri Jungmin. Tapi, saya sangat yakin sikap mereka benar-benar berbeda."

Pasangan Raja dan Ratu itu mengerutkan dahinya mendengar tuturan Jimin. "Apa maksudmu dengan berbeda?"

"Gadis di Joseon memiliki sikap yang berantakan, sama sekali tak ada sisi anggun dari dirinya. Sangat berbeda dengan sikap Tuan Putri yang lemah lembut dan tentu saja sangat anggun dan berkelas. Pangeran Joseon, Kim Taehyung juga mengatakan bahwa gadis itu bukanlah Putri Cho Jungmin, melainkan Jeon Jungkook.." Jimin berhenti sejenak untuk menarik napas, kemudian melanjutkan "Mereka bertemu di pasar Joseon dalam keadaan gadis bernama Jeon Jungkook itu tak ingat apapun kecuali namanya."

"Alasannya terasa aneh, penyakit seperti apa yang membuat seseorang kehilangan ingatan dan hanya dapat mengingat namanya sendiri?" Ratu Sungmin bertanya pada sang suami yang dibalas dengan gelengan halus.

"Maaf menyela, Yang Mulia. Kami telah menyelidiki hal itu, para tabib bahkan tak mengetahui jenis penyakit tersebut."

Raja Kyuhyun terdiam, terlihat berpikir yang menyebabkan suasana menjadi hening sejenak.

"Aku jadi penasaran seperti apa gadis bernama Jeon Jungkook itu. Kami akan berkunjung ke Joseon setelah urusanku selesai. Sampaikan itu kepada yang lain untuk mempersiapkan semuanya." Jimin membungkuk mendengar titah sang Raja, lalu berbalik berniat keluar ruangan.

'Tak akan kubiarkan gadis itu menginjak Goryeo sebelum aku mangetahui identitas aslinya.'

~oOo~

Taehyung berjalan menyusuri halaman istana. Langkah kakinya dipelankan saat maniknya melihat Jungkook berdiri dipinggir sebuah jembatan kecil, jembatan indah diatas kolam ikan. Pemuda dengan hanbeok wanita berwarna biru muda itu terlihat tengah memperhatikan dan sesekali memberi makan ikan-ikan disana dengan senyum manis tersemat dibibirnya.

Jungkook mengalihkan pandangannya menatap Taehyung saat menyadari kehadiran Pangeran itu tak jauh dari tempatnya. Senyumnya melebar dengan tangan melambai semangat dan mengisyaratkan agar Taehyung mendekat.

"Apa yang tadi ingin kau katakan padaku?" Taehyung bertanya saat dirinya telah berada dihadapan Sungmin.

"Ah iya! Ini penting sekali. Tapi, tak bisa dibicarakan ditempat terbuka seperti ini." Taehyung terkekeh kecil mendengar ucapan Jungkook.

"Pasti ini tentang dirimu, karena setiap sesuatu yang berhubungan denganmu pasti tak masuk akal dan sangat aneh."

Tawa kecil keluar saat melihat wajah cemberut Jungkook. "Ini memang tentangku. Tapi bukan hanya itu."

"Kalau begitu, ayo kita ke pondok pinggir danau."

Jungkook berdecak pelan dan mengalihkan pandangannya menatap ikan-ikan kecil aneka warna dibawah. "Tak sabaran sekali. Aku masih ingin disini, kau pergilah lebih dulu." Jungkook berucap sembari tangannya memegang pinggir jembatan.

"Aku juga masih ingin disini" Taehyung ikut memegang pinggiran gembatan.

Jungkook memandang wajah bagian samping Taehyung dengan mata menyipit. "Kau menyukaiku ya?" Pangeran itu menatap tak percaya dengan apa yang barusaja dituturkan pemuda disampingnya ini. "Itu.. maksudku, sikapmu aneh. Kau baik sekali padaku, merawatku yang sedang sakit padahal pelayan lain bisa melakukannya, sekarang kau mengikuti tindakanku dan bertingkah seolah-olah tak ingin pisah dariku. Bukankah itu sudah menandakan bahwa kau menyukaiku?"

Taehyung masih menatap tak percaya Jungkook, jarinya menunjuk tepat di wajah pemuda itu lalu berucap, "Apa yang barusaja kau katakan benar-benar tak termaafkan! Berani sekali kau menuduh seorang pangeran terhormat sepertiku menyukai sesama jenis. Aku melakukan ini karena memang aku adalah orang baik. Kau ini bukannya berterimakasih atas bantuanku, malah menuduhku seperti itu?!" Nada suaranya terdengar campuran antara kemarahan dan kekesalan.

"Itu.. Yahh.. Jika tidak, yaa tak perlu marah begitu. Aku kan hanya menebak. Lagipula, apa salahnya menyukai sesama jenis? Di masa depan, itu boleh-boleh saja kok." Jungkook mencoba membela dengan nada ketus sembari mendelik kearah Taehyung.

"Benarkah? Jangan bilang kau penyuka sesama jenis juga!"

Jungkook menatap sebal Taehyung yang menjaga jarak darinya. "Aku ini bi! Sudahlah, ayo ke pondok" berjalan cepat dengan tangan kanan menarik lengan Taehyung dan tangan kirinya mengangkat habeok bagian bawahnya.

"Bi itu apalagi? Dan berjalanlah dengan anggun, kau benar-benar tak terlihat berkelas."

"Jangan bahas itu lagi, tak terlalu penting." Langkah mereka melambat saat telah sampai disekitaran danau istana. Taehyung menyentak tangannya agar terlepas dari pegangan Jungkook.

"Kenapa melambat? Cepatlah, aku masih banyak urusan" kini giliran tangannya yang menarik lengan Jungkook memasuki pondok tersebut.

Mereka duduk berhadapan didekat jendela tempat Jungkook sebelumnya. Pemuda manis itu menyingkirkan rambut palsu yang kedepan mengikuti pergerakannya mengambil tas punggung.

Taehyung hanya memperhatikan kegiatan Jungkook yang terlihat bingung mengaduk isi tas punggungnya. "Ponselku tak ada. Apa kau melihatnya saat aku pingsan kemarin?"

Pangeran itu terlihat berpikir, mengingat-ingat kejadian saat Jungkook pingsan. "Aku tak terlalu memperhatikan, lagipula kau adalah pusat perhatian orang saat itu. Mana sempat memperhatikan sekitar."

Jungkook berdiri tergesa dan mencari disetiap sudut pondok. "Ini gawat. Ponselku adalah kunci dari apa yang ingin kuberitahukan kepadamu."

Raut bingung kembali terlihat diparas tampan Taehyung. "Ada apa dengan benda bagus itu?"

Jungkook tak menjawab, hanya terus meneliti setiap sudut. Hanya terdengar suara langkah Jungkook dilantai kayu pondok itu. Pemuda manis itu tersenyum lebar saat netranya menangkap keberadaan ponselnya.

Benda canggih itu berada dibawah buku matematika yang dibawanya dari Masa depan. Kakinya mulai melangkah mendekati, lalu meraih benda itu yang kemudian diputar-putarnya.

"Jadi, ada apa dengan benda ini?" Jungkook tersentak mendengar suara berat Taehyung yang sangat dekat, bahkan hembusan napasnya benar-benar terasa ditengkuk Jungkook.

"Jangan mengagetkan! Kita duduk dulu." Taehyung mengedikkan bahu dan mengikuti apa yang dikatakan Jungkook. Mereka kembali duduk berhadapan.

Hening..

Taehyung mengerutkan dahinya bingung melihat Jungkook yang hanya diam dengan tatapan terus mengarah ke ponselnya. Sesekali terlihat menggoyangkan benda canggih itu. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"

Jungkook menatap panik Taehyung. "Ini kemarin mengeluarkan suara, padahal ini dalam keadaan mati kehabisan daya. Tapi, kenapa sekarang tak kunjung bersuara?"

"Mengeluarkan suara apa maksudmu?"

"Suara seorang gadis! Aku mendengarnya sendiri kemarin, itulah mengapa aku pingsan."

Taehyung tersenyum meremehkan. "Mana ada yang seperti itu! Kau benar-benar terlalu banyak berimajinasi."

"Aku ser-"

"Pangeran Kim Taehyung?"

Mata keduanya membulat mendengar suara lembut seorang gadis dari ponsel tersebut. Tangan Jungkook yang memegangnya terlihat berair dan bergetar ketara. "T-tuh kan, aku benar!"

Tangan Taehyung berniat merebut benda itu dari Jungkook, Namun pemuda manis itu lebih dulu menjauhkannya dari jangkauan Taehyung. "Jangan! Biar aku saja yang memegangnya. Aku memiliki firasat kalau benda ini akan berhenti berbicara jika aku melepasnya."

Taehyung mengangguk singkat dan menarik kembali tangannya menuruti lagi perkataan Jungkook. "Tapi, dia baru saja menyebut namaku."

"S-saya mengetahui segala hal tentang anda. Tapi, sepertinya anda sama sekali tidak mengetahui tentang saya."

Jungkook memandang aneh ponselnya. Pasalnya, suara tadi benar-benar terdengar sedih. "Itu.. Sebenarnya kau siapa?" mencoba bertanya dengan nada ragu, Taehyung sendiri hanya diam mendengar.

"Ahh.. Maaf karena aku melupakanmu Jungkook-ssi. Aku adalah Cho Jungmin, Putri Kerajaan Goryeo."

Mata keduanya membola tak percaya. Heol! Cho Jungmin katanya? Mustahil!

"Aku juga benar-benar tak mengerti dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba saja saat membuka mata, aku sudah terbaring didalam ruangan dengan berbagai barang yang sangat asing dimataku."

Jungkook memperhatikan ekspresi Taehyung yang sama sepertinya. "Tidak mungkin. Jangan katakan kalau sekarang kau berada di Laboratorium orang tua ku?" Taehyung menatap Jungkook saat mendengar satu kata asing dari pemuda itu.

Terdengar dengungan dari seberang sana. "Labo- apa? Aku juga mendengar kata yang sama dari orang tuamu disini."

Jungkook dan Taehyung saling bertukar pandangan. "Jika yang kita pikirkan sama, berarti kau benar-benar bertukar masa dengan Putri Cho Jungmin, Jungkook-ah." Taehyung berucap dengan nada rendah.

"B-benar apa yang anda katakan, pangeran"

Jungkook memandang kembali kearah ponselnya. Jika pendengarannya tak salah, nada suara Jungmin terdengar gugup saat berbicara dengan Taehyung. "Lalu bagaimana ini? Kau bisa sembunyi? Aku tak ingin orang tua ku melihatmu, dan mengira anaknya berubah gender menjadi seorang wanita."

"Mmm.. Soal itu, jangan khawatir. Aku disini hanya dalam wujud arwah, mereka tak dapat melihatku."

"Arwah? Bagaimana bisa? Anak ini bahkan dalam keadaan sehat saat jatuh dari langit." Taehyung membeo penasaran mengingat awal pertemuannya dengan Jungkook.

"Itu.. Jungkook-ssi, bisakah kau mengarahkan benda yang kau pegang pada Pangeran Taehyung? Aku sedari tadi hanya dapat melihat wajahmu saja."

"Eung?" Jungkook mendengung tak mengerti. Melihat wajah katanya? Jadi putri itu sedari tadi dapat melihat wajahnya? Lalu kenapa ia tak bisa? Kenapa ponselnya tak menampilkan wajah Putri itu juga?

Dirinya merasa tersinggung juga dengan perkataan putri tersebut. Apa maksudnya hanya ingin melihat wajah Taehyung dan tak tertarik dengan wajah Jungkook, begitu?

Tak kehabisan akal, Jungkook pun mengubah posisi duduknya menjadi disamping kanan Taehyung. Tangannya mengarahkan layar ponsel pada wajah mereka berdua. "Kau dapat melihat wajah kami? Bagaimana bisa?"

"Iya, aku tak tahu mengapa. Tapi benda seperti gelang tangan ini menampikan gambar kalian."

Benda seperti gelang tangan? Jungkook terlihat berpikir sejenak. Ah! Jam tangannya! Benar juga, saat tiba di masa lalu jam tangannya sudah tak ada dipergelangan tangannya. Tapi, mengapa Jam tangan dapat menampilkan wajah sedangkan ponsel tak bisa?

Jungkook menggelengkan kecil kepalanya tak mau ambil pusing.

"Itu.. W-wajah kalian terpotong. Wajah pangeran Taehyung saja, mungkin jika wajah dua orang tak akan muat."

Jungkook memandang kesal ponselnya saat mendengar suara malu-malu Jungmin. Matanya melirik sejenak kearah Taehyung yang juga tengah menatapnya.

Lalu tangannya merangkul Taehyung agar lebih dekat. "Bagaimana? Sekarang sudah terlihat semua kan?" berucap sombong dengan senyum meremehkan dibibirnya

Taehyung memandang lucu dengan tindakan kekanak-kanakan Jungkook. "Dasar." ucapnya sembari telunjuknya mendorong pelan dahi Jungkook yang langsung menatap kesal kearahnya.

Setelahnya, tak terdengar suara apapun dari ponsel itu. Jungkook mengira mungkin sambungannya sudah terputus.

"Hmm.. sebenarnya aku ingin meminta bantuan pada kalian."

"Bantuan? Padaku juga?" Taehyung menyahut sembari tangan kanannya merangkul Jungkook setelah mendapat isyarat dari pemuda itu. Kini Taehyung lah yang merangkul, sedangkan Jungkook memegang ponselnya dengan dua tangan. Pegal juga memegang ponsel lama-lama.

"I-iya. Karena tak mungkin Jungkook dapat melakukannya sendiri."

"Hei! Kau meremehkanku?"

Tangan kiri Taehyung membekap mulut Jungkook, "Tsk! Diamlah! Dengarkan dulu bantuan apa maksudnya"

"Aku.. Bisakah kalian menemukan jasadku?"

"Hah?!"

"Aku sebenarnya sudah meninggal dan benar-benar tak mengingat kejadian sebelumnya. Tapi.. bisakah kalian menyelidiki Jendral Park Jimin dan menemukan jasadku? Tak tahu kenapa, tapi aku memiliki firasat buruk dengan Jendral Park."

~oOo~

TBC

Chapter 6 Update yeyy..

Special Thanks to:

livanna shin | nuruladi07 | Jieunjilee | ExileZee | Kyunie | VK | cookies | emma | Park RinHyun-Uchiha | YolYol17 | Kwonshistar | Kimizaku | Guest | LittleDeviL94 | Albus Covallaria majalis | dwi-yomi | Swaggxr13 | Ly379 | Kyuminjoong | hjs30 | llis | Taekooks'cream | Monvernx | minkyway | odorayaki | Jeon97Kim | kimrin | Jenna Seo | sugarydlight | yeonbin818 | swanb919 | lioneatbunny | bunnykookie | Onye lucu

Terimakasih banyak buat yang udah Follow, Favorite, dan Review dichapter sebelumnya. I luv youuu~ (titik dua bintang)

Itu yang Siders gk berniat ikut ninggalin review gitu? Gk maksa sihh.. heheh..

Baca juga fanfict Remake "Detectives Of Bangtan High School" yaaa..

Sampai jumpa dichapter depan, respon yang banyak yaaa.. biar aku nulisnya semangat..

Follow IG: vkchu137


Jum'at, 3 Maret 2017

Di Kamar Tercinta

VKchu137