What If
By VKchu137
Pair: Top! Kim Taehyung
Bottom! Jeon Jungkook
Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,
Desclimer: Tahun dan sebagainya berkaitan dengan dinasti Joseon saya sendiri yang ngarang. Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok
Selamat membaca..
~oOo~
"Sial! Aku benar-benar berharap tak menyukaimu! Tapi tak bisa! Benar-benar tak bisa karena ini adalah pengalaman pertamaku!"
Taehyung mengusap kasar wajahnya, ringisan frustasi terdengar dari bibir tebalnya saat perkataan Jungkook sore tadi tak hentinya menggema dipikirannya. Ini bahkan sudah tengah malam, dirinya tak bisa tidur dan hanya duduk merenung.
Taehyung sendiri juga tak tahu apa yang tengah terjadi dengan dirinya. Iya, dia itu bukan penyuka sesama jenis! Hal seperti itu sangat tabu pada masa nya ini, bahkan dirinya baru mengetahui ada perasaan semacam itu di dunia ini. Tapi, dirinya sama sekali tak keberatan atau bahkan jijik dengan pernyataan Jungkook tadi. Dirinya lebih merasa bingung, jangan bertanya kenapa karena ia pun tak tahu alasannya.
Pangeran tampan itu benar-benar merasa kacau saat melihat wajah sendu Jungkook tadi, ia benar-benar merasa kacau saat senyum pahit terpatri pada wajah manis pemuda itu, ia benar-benar merasa kacau saat Jungkook pergi begitu saja setelah mengatakan 'Tak apa, aku masih labil. Jangan terlalu pikirkan ucapanku' dengan nada yang sama sekali tak dimengertinya, dan itu semua karena ucapan balasan darinya.
'Jangan seperti ini, Jungkook-ah'
Hanya seperti itu. Entah mengapa, satu kalimat itu saja sudah membuat semuanya kacau seperti ini. Dirinya tak pernah jatuh cinta selama ini, jadi dirinya sama sekali tak mengerti dengan apa yang dirasakan Jungkook. Ditambah lagi perasaan cinta dengan orang yang bahkan bergender sama denganmu, ia benar-benar tak mengerti perasaan seperti apa itu.
Ia tak bermaksud membuat siapapun terluka dalam hal ini, termasuk Jungkook dan Putri Jungmin yang juga mengaku menyukainya. Taehyung akui, dirinya memang sangat lamban dalam hal seperti ini. Jika disuruh memilih, dirinya lebih memilih menyukai Jungmin yang jelas bergender beda dengannya. Namun, dirinya sama sekali tak memiliki perasaan semacam itu pada putri tersebut. Selain karena Putri itu bisa jadi sudah meninggal, dirinya juga belum pernah bertemu dengan Jungmin.
Berbeda dengan Jungkook. Sama sekali tak terlintas dipikirannya memiliki hubungan semacam itu dengan pemuda manis dari masa depan itu. Awalnya, dirinya memang hanya membantu Jungkook kan? Mereka kemudian dekat, karena memang dirinya lah tempat pemuda itu bisa bersikap apa adanya mengingat hanya Taehyung lah yang mengetahui jati diri Jungkook. Kemudian, anak itu menyukainya. Setelah itu, dia harus bagaimana? Harus bersikap seperti apa? Dirinya masih pemula dalam hal seperti ini.
Taehyung suka Jungkook, tapi tak tahu suka dalam artian apa. Dia menyukai senyum pemuda itu, ketika dengan manisnya dua gigi bagian depannya menyembul keluar. Dia menyukai berkomunikasi dengan pemuda itu, ketika ujaran bernada rajukan terlontar dari bibir tipisnya. Dia menyukai bagaimana pemuda itu menyebut namanya tanpa embel-embel Pangeran tak seperti kebanyakan orang. Dia menyukai semuanya, dia menyukai Jungkook, hanya sebatas suka, dirinya tak mengerti hal lain yang lebih dari itu. Sama sekali tak mengerti.
"Arghh.. Kepalaku benar-benar sakit."
Taehyung meremas rambutnya sembari berdiri berniat keluar kamar mencari udara segar, ia butuh menenangkan diri untuk sejenak.
Kaki panjangnya melangkah ke arah kolam ikan istana dengan sesekali menghela napas disetiap langkahnya. Maniknya menangkap siluet seseorang dengan hanbeok khas pelayan berdiri ditengah jembatan yang membuat kakinya refleks berhenti melangkah. Dirinya sudah tahu siapa itu, Jungkook tentu saja. Bahkan Taehyung dapat menebak tanpa melihat wajahnya.
Pemuda itu terlihat menatap kosong pada air tenang kolam. Dan Taehyung sendiri tak tahu harus bertingkah seperti apa sekarang. Apakah dirinya tetap melanjutkan langkah sesuai dengan niat awalnya? Atau menghampiri pemuda itu dan berusaha bersikap biasa saja? Nyatanya, dirinya tak dapat melakukan keduanya yang membuatnya berbalik begitu saja, berniat kembali ke kamar. Tak memperhatikan Jungkook yang kini telah menyadari keberadaannya.
Jungkook berbalik tepat ketika Pangeran Tampan itu juga berbalik pergi. Maniknya menatap sendu punggung Taehyung yang terus terlihat menjauh. Pangeran itu tengah menjaga jarak darinya? Jika tahu akan seperti ini, dirinya tak akan mengatakannya tadi. Sekarang Taehyung menjauhinya, menjaga jarak, tak mau berbicara dengannya, bahkan untuk hanya menatap matanya saja sepertinya Anak kedua dari Raja Jongin itu enggan. Jungkook menyesal, sungguh.
Menghela napas dalam, mencoba menghilangkan rasa sesak yang menumpuk di dadanya. Ia sebenarnya tak ingin bertingkah melankolis begini. Tapi mau bagaimana lagi, hidupnya pasti akan menjadi melow layaknya drama-drama murahan belakangan ini.
Sungguh, Jungkook benar-benar merasa frustasi sekarang. Sedari tadi tak hentinya mengutuk dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri mengenai apa yang terjadi. Jika sudah begini, jika Taehyung sudah begini, dirinya bisa apa? Ingin rasanya Jungkook cepat-cepat kembali lagi ke masanya dan melupakan Pangeran itu, tapi caranya saja dirinya tak tahu.
~oOo~
Goryeo
Jimin mengibaskan hanbeok yang dikenakannya sebelum duduk dibalik meja yang terletak di ruang kamarnya. Maniknya nampak gusar memikirkan sesuatu dengan sesekali mengepalkan tangan entah kenapa. Dirinya kini tengah menunggu seseorang yang tengah dipanggil oleh salah satu prajurit kepercayaannya. Eksistensinya di Istana benar-benar berubah setelah menjadi calon Suami Jungmin dan diangkat sebagai Jendral Perang. Ia merasa lebih diperlakukan istimewa sekarang, sesuai dengan apa yang tengah menjadi rencana awalnya.
Suara pintu ruangan yang digeser mengalihkan perhatiannya. Seorang wanita terlihat masuk dengan kepala tertunduk, memberikan penghormatan singkat pada Jimin sebelum mendongakkan kepalanya, menatap Jenderal Park dengan pandangan datar. "Ada apa gerangan anda memanggil saya, Tuan?"
Jimin tersenyum tipis melihat tak ada yang berubah dengan wanita didepannya ini. Namanya Min Yoongi, seorang pelayan pribadi Putri Jungmin yang belakangan ini kedapatan menaruh hati padanya.
"Aku ingin kau melakukannya lagi untuk kali ini. Bantu aku, Yoongi-ya" Tatapan mata Yoongi yang sebelumnya datar, kini terlihat sendu saat mendengar kalimat yang diucapkan Jimin. Itu adalah kalimat pertama yang menjadi daftar kalimat yang tak ingin dirinya dengar dari Jendral itu. Apa yang membuat Jimin mengatakannya lagi? Tepatnya, siapa untuk kali ini?
"Saya tak mengerti dengan apa yang anda ucapkan, Tuan" dirinya mencoba bersikap senormal mungkin, setidaknya sampai Jimin mengungkapkan keinginan sebenarnya.
"Lakukan lagi kali ini. Bantu aku melakukannya pada gadis yang satu ini, seorang gadis yang mirip dengan Jungmin."
Yoongi menggigit bibir tipisnya pelan. Dirinya ingin menolak, benar-benar ingin. Tapi tak tahu bagaimana caranya, tepatnya kalimat apa yang dapat digunakannya untuk menolak. "S-saya tak ingin melakukannya lagi, Tuan." mencoba menolak dengan nada pelan. Yoongi sebenarnya penasaran, gadis seperti apa yang membuat Jimin ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Jungmin?
"Aku telah membalas perasaanmu dan ini balasanmu padaku?" Jimin berujar dengan nada kesal sembari menatap Yoongi melalui sudut matanya. "Aku mengabulkan permintaanmu setelah membantuku mengurus Jungmin, sekarang aku akan mengabulkan lagi permintaanmu setelah membantuku mengurus gadis satu ini." melanjutkan dengan tangan bertaut mencoba bernegosiasi dengan wanita didepannya.
Yoongi tak tahu harus apa. Jika menolak, tak menutup kemungkinan Jendral Park akan melakukan segala cara untuk membungkam mulutnya. Sehingga, dirinya pun mengangguk ragu dengan pandang gelisah menatap sekeliling ruangan.
Jimin sendiri tersenyum puas melihatnya, "Baiklah. Namanya Jungkook, seorang pelayan pribadi di Joseon. Kau hanya perlu melakukan seperti sebelumnya, sisanya serahkan padaku."
~oOo~
Joseon
Jungkook kini tengah membantu Seokjin merawat beberapa taman istana. Pemaisuri itu sedari tadi terlihat gelisah karena Sang suami yang ditemani Taehyung dan beberapa Prajurit kini tengah pergi melakukan perjanjian kerjasama dengan sebuah kerajaan China. Helaan napas gusar sedari tadi tak hentinya dilakukan oleh wanita cantik itu.
"Bagaimana ini Jungkook-ah. Kerajaan itu terkenal tak akan melakukan perjanjian tanpa adanya pertumpahan darah terlebih dulu." Kalimat ini setidaknya sudah didengarnya dua kali dari mulut sang Pemaisuri. Jungkook jadi bingung sendiri, tingkah Seokjin seperti seorang istri yang tak pernah ditinggal perang oleh suaminya. Bukankan Namjoon itu seorang Putra Mahkota? Tak menutup kemungkinan pria itu pasti sudah menghadapi berbagai macam perang sebelumnya.
Dan jika mendengar pertanyaan ini, Jungkook pasti menjawab, "Kita do'a kan semoga Putra Mahkota beserta Pangeran Taehyung dan beberapa prajurit yang mewakili Joseon kembali dalam keadaan baik-baik saja, Pemaisuri."
Seokjin mendengus saat mendengar kalimat persis yang diulang Jungkook, tapi dirinya tak mempermalahkannya, ia juga yang salah melontarkan pertanyaan yang sama. "Sudah berkali-kali Namjoon ikut andil dalam perang, tapi perasaanku selalu saja begini setiap ia pergi."
Jungkook tersenyum manis mendengarnya. Menurutnya, itu wajar saja mengingat kedua pasangan ini begitu romantis dan harmonis setiap harinya.
Dulu, dirinya juga berharap memiliki kehidupan seperti pasangan ini. Menikah dengan seorang wanita yang dicintainya dan saling mengkhawatirkan jikalau salah satu dari mereka tertimpa sesuatu yang tak diinginkan. Bukankah itu terdengar sempurna? Setiap pulang kerja, kau akan menemukan seseorang yang akan menunggumu dan memberikan kecupan selamat datang. Hahh..
Sekarang malah Jungkook terjebak di masa ini, benar-benar tak terlintas dibenaknya. Bahkan dirinya sekarang terjebak dalam sebuah perasaan asing pada seorang Pangeran. Benar-benar terdengar seperti cerita dongeng, yang membedakannya hanya pemeran utama wanita yang diganti oleh seorang Pemuda sepertinya. Jungkook benar-benar ingin tertawa memikirkannya, karena memang semuanya tak seindah dongeng kebanyakan. Apa di dongeng ada sebuah perasaan yang tak berbalas? Sudahlah! Jungkook benar-benar berpikir seperti seorang gadis sekarang. Geli sendiri dirinya.
Perhatian mereka teralihkan saat melihat seorang Pelayan biasa berlari terburu-buru kearah mereka. Pelayan itu terlihat mengatur napasnya sebelum memberikan penghormatan singkat pada Seokjin. "P-pemaisuri, Putra Mahkota dan Pangeran telah kembali." melaporkan ya dengan tergesa-gesa, namun membuat manik Seokjin berbinar mendengarnya.
Pemaisuri itu berlari kecil menemui sang Suami untuk menyambut kedatangannya. Jungkook tak mengikuti, dirinya masih memperhatikan gelagat si pelayan yang terlihat gelisah. "Apa yang terjadi, Wonwoo-ssi?"
Wonwoo, pelayan tersebut mendongak menatap langsung kearah manik coklat gelap Jungkook. "I-itu.. Tuan Mingyu, Prajurit kepercayaan Pangeran Taehyung terluka parah, sedangkan Pangeran sendiri juga mendapatkan beberapa luka serius dilengannya."
Wajah Jungkook pucat pasi mendengarnya. Taehyung terluka? Itu adalah hal yang sama sekali tak terlintas dipikirannya. "D-dimana dia sekarang?"
"Maksud anda Tuan Mingyu? Beliau tengah berada di ruangannya, sedang diobati oleh tabib istana. Semuanya juga tengah berkumpul disana." Bukan Mingyu yang ditanyakannya, tapi dirinya tak ambil pusing, pun menarik lengan Wonwoo untuk ikut melangkah bersamanya ke ruangan Mingyu.
Belum sempat kakinya menapaki bagian teras bangunan kamar Mingyu, maniknya lebih dulu menangkap Taehyung yang keluar dengan beberapa luka di wajah serta lengan yang telah diobati. Langkahnya terhenti begitu saja, membiarkan Wonwoo melanjutkan langkahnya.
Jungkook bungkam saat Taehyung juga balas menatapnya, hanya sekilas sebelum Pangeran tersebut kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kamar pribadinya.
Jungkook menggertakkan giginya menahan kesal, kakinya berlari kecil mendahului langkah Taehyung yang sudah mencapai setengah perjalanan itu.
"Ya!" Berteriak mencoba mendapat perhatian Taehyung, dan berhasil. Pangeran tampan itu menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menghadap Jungkook. Pemuda manis itu menggigit gemas bagian dalam pipinya menahan diri, "K-kau tak apa?" Nyatanya, dirinya hanya ingin mengutarakan kekhawatirannya, dan mengharapkan mendapat balasan jawaban dari orang didepannya ini.
Taehyung terdiam sejenak, mulutnya masih menutup rapat tak kunjung menjawab. Sebenarnya, dirinya hanya bingung harus bertingkah seperti apa. "Tak apa." Menjawab singkat kemudian berbalik kembali melanjutkan langkahnya.
Jungkook sendiri bertambah kesal, dan berjalan mendahului, kemudian menghadang langkah Taehyung. "Jangan menghindariku. Jangan hanya karena perasaanku kau berubah seperti ini. Sungguh, aku juga tak ingin seperti ini. Anggap saja aku tak pernah mengatakan apapun kemarin, aku benar-benar bingung. Jika kau menjauhiku seperti ini, lalu aku harus bagaimana? Setidaknya tetaplah membantuku menemukan jalan untuk kembali ke masa ku agar aku juga dapat menjauh darimu." Jungkook mengambil napas sejenak kemudian melanjutkan, "Aku tak tahu bahwa akan seperti ini jadinya. Jika dapat memilih, aku tak ingin merasakan hal seperti ini lagi. Ini adalah pengalaman pertama bagiku, dan ini benar-benar membuatku sesak. Aku sama sekali tak mengerti dengan hal semacam ini, jadi anggaplah bahwa ucapanku kemarin hanyalah ucapan pemuda labil yang tak lebih dari sekedar omong kosong."
Taehyung tetap terdiam, tak membalas. Dan Jungkook dibuatnya menarik napas dalam sekedar menghilangkan sesak di dada nya. "Aku tak manghindarimu."
"Iya, kau menghindariku. Semalam, dan bahkan sampai saat ini! Setidaknya bertingkahlah seperti biasanya, kau membuatku merasa ditolak terang-terangan dengan sikapmu yang seperti ini."
"Aku tak menghindarimu. Aku– hanya bingung. Itu saja."
Jungkook menggigit bibir tipisnya pelan, "Bersikap biasalah. Aku akan mencoba menghilangkan perasaan ini secepatnya, jangan khawatir." Setelah mengatakannya, Jungkook mlangkah pergi meninggalkan Taehyung dengan berbagai pertanyaan dikepalanya.
Maniknya memperhatikan Jungkook yang melangkah kesusahan menuju ruang kamarnya, sesekali pemuda itu terlihat tersandung karena menginjak bagian bawah hanbeok wanita yang dikenakannya.
Ya. Dirinya hanya perlu bersikap biasa, sebenarnya apa yang ada dipikirannya? Tak seharusnya dirinya menghindar dari masalah seperti ini, bukan Taehyung sekali.
~oOo~
Flashback
Jungmin memetik setangkai mawar biru yang hanya tumbuh disekitaran istana nya itu. Senyum manis tak pernah luntur dari bibirnya, menghirup sebentar bunga tersebut sebelum berbalik menghadap Yoongi yang sejak tadi menunggu.
"Seperti biasa, Mawar Biru untuk Pangeran Taehyung. Benar begitu, Tuan Putri?"
Jungmin tersenyum membalasnya, "Benar sekali. Tapi, apa Pangeran Taehyung tak bosan dengan ini? Bagaimana jika beliau marah?"
Yoongi tersenyum gemas mendengar ketakutan wajar sang Putri, "Sepertinya tidak, karena Prajurit kepercayaannya tak pernah mengatakan hal seperti itu." berucap sembari melangkah mengikuti Jungmin yang sudah melangkah lebih dulu keluar istana, sedangkan para pelayan lain mengikuti dibelakang Yoongi.
Tawa ceria lepas dari mulut Putri itu, kakinya melangkah riang dan mengisyaratkan Yoongi untuk melangkah bersama disampingnya. "Sekarang, Prajurit Mingyu mengatakan akan bertemu dimana, Yoongi -ya?"
Yoongi menggigit bibir tipisnya pelan. Apakah ini saatnya? Apakah ini saatnya untuk melakukan hal seperti yang diperintahkan Jimin?
"Prajurit Kim mengatakan akan bertemu di pondok yang berada di perbatasan, Putri." Nyatanya, dirinya tetap mengatakannya, mengatakannya seperti yang Jendral Park perintahkan.
"Kau tetap ikut bersamaku kan, Yoongi -ya?"
"Maafkan saya, Tuan Putri. Saya hanya dapat mengantarkan sampai perbatasan karena ada tugas dari Ibu Suri yang belum saya kerjakan. Tak apa jika Tuan Putri melanjutkan sendiri?"
Jungmin tersenyum maklum, "Tentu saja"
"Tak perlu khawatir. Seperti biasa, saya akan mengurus pelayan lainnya agar tak mengikuti."
.
.
Jungmin melangkahkan kakinya semangat menelusuri hutan perbatasan, dirinya sama sekali tak takut dengan keadaan yang sepi. Senyum sedari tak lepas tadi bibirnya, mengingat Prajurit Kim juga berjanji akan membawakan ikat kepala milik Pangeran Taehyung yang telah berhasil dicurinya sesuai keinginan Jungmin. Tak sabar sekali rasanya.
Langkahnya semakin semangat saat maniknya menangkap sebuah pondok kumuh beberapa kilo didepannya.
Syutt–
Langkahnya terhenti saat merasakan sesuatu menusuk perutnya. Sakit sekali. Pandangannya mengarah kebawah, dan menangkap sebuah anak panah yang tertancap dalam pada perut bagian kanannya. Darah segar mengalir disekeliling tusukan anak panah yang membuat wajah Jungmin memucat.
Tarikan napasnya mulai memberat. Tidak. Dia tak ingin mati konyol disini, pun melangkahkan kakinya terseok kearah pondok. Paling tidak setahunya, disana ada Prajurit Kim yang akan membantunya.
Bruk–
Dirinya tersandung pada sebuah batu tajam yang menyebabkan bagian bawah hanbeoknya robek sedikit menyangkut pada bagian tajam batu. Betisnya tergores, namun Jungmin tetap berusaha bangkit kembali melangkah menuju pondok.
Sementara disisi lain, Jimin terlihat menyeringai memperhatikan perjuangan Putri tersebut untuk bertahan hidup dengan busur panah digenggamannya.
Dirinya mulai mengikuti langkah sang Putri yang kini telah sampai di pondok dan terlihat menatap sekeliling, sepertinya mencari Prajurit Kim Mingyu. Jimin tertawa dalam hati melihatnya, mau dicari sampai matipun Kim Mingyu tak akan ada disana karena memang ini semua telah diatur oleh Jimin sendiri.
Napas Jungmin sudah semakin memberat, tak sanggup walau hanya sekedar untuk berdiri. Dirinya telah kehilangan banyak darah. Pandangannya mulai mengabur dan gelap perlahan-lahan. Tergelak pingsan pada bagian tengah pondok.
Jimin mulai mendekati untuk memastikan Jungmin benar-benar kehilangan kesadaran. Maniknya menatap tajam Putri tersebut yang kini sudah tak berdaya. Tak puas hanya melihatnya pingsan, Jimin pun kembali mengarahkan anak panahnya pada bagian perut yang masih tertancap. Menembakkan tambahan tiga anak panah sekaligus yang membuat darah segar semakin banyak keluar dari perut sang Putri.
Kemudian meninggalkan Jungmin kehabisan darah setelah sebelumnya menyeretnya ke ujung pondok dan menutupnya dengan dedaunan yang telah dipersiapkan.
~oOo~
Jungkook tersentak dari tidurnya, napasnya memburu dengan keringat yang terus mengucur dari pelipisnya. Apa-apaan ini? Dirinya baru saja memimpikan Putri Jungmin? Benarkah? Kenapa terasa nyata?
Dalam mimpinya juga ada nama Mingyu yang disebut-sebut, apa hubungan prajurit kepercayaan Taehyung itu dengan semua ini?
Jika memang hal yang terjadi pada Jungmin seperti apa yang terjadi di mimpinya, sudah pasti Jendral Park adalah dalang dari semua ini. Tapi, mimpi itu masih samar, belum jelas apa penyebab pasti , ditambah lagi adanya orang baru yang sama sekali tak diketahuinya. Dalam mimpinya hanya menggambarkan bahwa Jungmin diantarkan sampai perbatasan oleh pelayan pribadinya, selebihnya Jungkook sama sekali tak tahu.
Ia pun bangkit, dan mulai keluar ruangan berniat menanyakannya langsung pada Mingyu. Namun, Prajurit itu sampai sekarang masih belum sadar karena luka parah yang didapatnya.
~oOo~
TBC
Chapter 8 up yeyy..
Aku sengaja up tengah malem, soalnya tugas lagi numpuk mau dikerjain nanti pagi kkkk~
Maafkeun aku yang telah membuat bang Jimin jahat disini.. Ku kehabisan pasok karakter soalnya wkwkwk
Kritik dan saran, boleh dicoret-coret dikotak Review. Tapi, bahasanya jangan kasar yaa~ Ku sedih membacanya nanti :'v
Terimakasih buat yang selalu mendukung fanfiksi aneh ini..
Special Thanks to:
livanna shin | nuruladi07 | Jieunjilee | ExileZee | Kyunie :* | VK | cookies | emma | Park RinHyun-Uchiha | YolYol17 | Kwonshistar | Kimizaku | Guest | LittleDeviL94 | Albus Covallaria majalis :* | dwi-yomi | Swaggxr13 | Ly379 :* | Kyuminjoong | hjs30 | llis | Taekooks'cream | Monvernx | minkyway | odorayaki | Jeon97Kim | kimrin | Jenna Seo | sugarydlight | yeonbin818 | swanb919 | lioneatbunny | bunnykookie | Onye lucu | Rena Shimazaki | JeonCarmy | syafitrinf9f | fad24 | Pongpongie | Hannie | MinMiJK | vkooknokookv | riigumtanshua | 9597 | pecintaoppa | ndnochu | karlienjustien | Dan semua yang udh Follow dan Favorite dichapter sebelumnya Iluv u~ :*
Review lagi boleh dong yaaa~
Sampai ketemu dichapter selanjutnya~
Ayoo berteman dan saling sapa di Ig: vkchu137
Jum'at, 17 Maret 2017
Di Kos Tercinta
VKchu137
