Jungkook menatap sekeliling pasar yang padat, banyak orang dengan berbagai macam usia dan jenis kelamin sudah menyibukkan diri melakukan jual beli atau hanya melihat-lihat disini. Padahal dirinya sudah mengusahakan berangkat sepagi mungkin untuk menghindari hal semacam ini, biasanya di Seoul tak seperti ini, lupa saja dia kalau kini tengah berada di masa beratus-ratus tahun jauhnya dari masanya.
Pemuda manis yang selama ini tengah menyamar sebagai pelayan pribadi itu kini tengah menjalankan perintah dari Pemaisuri untuk membelikan beberapa keperluan tabib yang kurang untuk mengobati penghuni istana yang terluka parah. Tentu saja tak sendiri, ia ditemani oleh tiga orang pelayan istana lainnya yang meluangkan waktu sibuk mereka untuk menemaninya.
Beberapa rempah sudah dibelinya, kini hanya tinggal sesuatu yang biasa digunakan untuk membalut luka. Dan masalahnya adalah Jungkook sama sekali tak tahu seperti apa benda itu, mungkin saja banyak ditayangkan pada drama-drama bertema masa lalu di Seoul sana, tapi Jungkook tak suka drama! Dia hanya suka berbagai jenis anime, dan berbagai macam film barat.
Maniknya beralih melirik pelayan disebelah kanannya dengan pandangan ragu, "Itu.. Bisakah kau membeli sisanya? Aku lelah sekali berkeliling." Pelayan tersebut membalas dengan senyuman dan anggukan menyetujui.
Tiga pelayan itu pergi meninggalkan Jungkook yang menghela napas lega. Setidaknya, bebannya sudah hilang sekarang, tinggal menunggu lalu mereka akan pulang bersama setelahnya.
Bruk–
Mata Jungkook membelalak kaget saat melihat seorang wanita tiba-tiba terjatuh didepannya, barang bawaannya terlihat berhamburan ditanah. Pemuda manis itu pun beranjak membantu wanita itu untuk berdiri, "Anda tak apa?" pertanyaan bernada khawatirnya dibalas dengan senyuman tulus dan pandangan sendu wanita tersebut.
'Mirip sekali'
"Tak apa, terimakasih." Wanita itu berdiri dengan meraih tangan Jungkook yang terulur, "Anda baik sekali."
Jungkook tersenyum canggung mendengar pujian tersebut. "Itu hanya sikap spontan, heheh" sangkalannya diakhiri dengan cengiran sungkan.
"Nama saya Min Yoongi. Mungkin saja kita akan bertemu lagi sesekali, jadi apa boleh saya juga mengetahui nama anda?"
"Jeon Jungkook. Senang bisa bertemu denganmu, Yoongi -ssi"
~oOo~
What If
By VKchu137
Pair: Top! Kim Taehyung
Bottom! Jeon Jungkook
Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,
Desclimer: Tahun dan sebagainya berkaitan dengan dinasti Joseon saya sendiri yang ngarang. Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok
Selamat membaca..
~oOo~
Lima hari berlalu sejak hari dimana Taehyung, Mingyu dan beberapa prajurit yang menemani kembali ke istana dengan luka parah. Sudah lima hari pula Jungkook tak bertemu dengan Pangeran tampan tersebut. Ia hanya melaksanakan tugas sebagai pelayan pribadi Pemaisuri dan sebisa mungkin tak bertatap muka dengan Taehyung, untuk mempermudah menata hati –pikirnya–
Dirinya juga tengah menyibukkan diri membuka kembali buku pelajaran Sejarah yang dibawanya dari Masa depan. Membaca dengan teliti setiap rangkai tulisan tangannya. Niat awalnya membawa buku-buku ini sebenarnya untuk memudahkannya agar tak perlu menyatat lagi saat kembali ke masa lalu, bukan masa lalu sejauh ini.
Maniknya berubah serius saat membaca tulisan mengenai masa pemerintahan Raja Cho Kyuhyun di Goryeo. Tak banyak yang tertulis disini, hanya berkisar tentang kebijakan-kebijakan sang raja dan betapa makmurnya rakyat saat masa pemerintahannya. Namun, ada satu paragraf yang membahas mengenai anak sang Raja yang sempat menghilang kemudian ditemukan dalam keadaan perut terpanah. Yang membuat Jungkook heran adalah disini Jungmin –anak sang Raja– masih dapat diselamatkan, berarti tak menutup kemungkinan Putri itu masih hidup.
Jungkook mengangguk-angguk kecil atas apa yang dipikirkannya, maniknya kembali membaca dengan teliti lanjutan paragraf yang hanya bersisa empat baris itu. Dahinya berkerut aneh saat membaca satu kalimat yang sangat janggal.
Tidak mungkin.
Tangannya bergetar menutup kembali buku Sejarahnya saat otaknya menghubungkan kemungkinan yamg bisa jadi penyebab dari semua ini.
Putri Jungmin ditemukan keesokan harinya dalam keadaan perut berdarah tertusuk anak panah.
Ditemukan keesokan harinya—
Sedangkan sekarang sudah lebih dari tiga minggu semenjak hilangnya sang Putri, dan tak ada satu pun kabar mengenai ditemukannya Putri Goryeo tersebut.
Jungkook menggigit kecil kuku jarinya dengan keringat bercucuran dipelipisnya. Jika dirinya tak masuk kedalam alat penemuan orang tuanya, jika dirinya tak kembali ke masa lalu, sudah pasti semuanya berjalan seperti apa yang tertulis di buku Sejarah. Sang Putri pasti ditemukan dalam keadaan masih hidup, jika saja Putri Jungmin tak bertukar masa dengannya, semua pasti baik-baik saja.
Jika hal seperti ini terjadi, berarti masa lalu berubah karena Jungkook. Karena rasa ingin tahunya, karena pemikiran pendeknya, karena kebodohannya.
Tak tahu bagaimana reaksi Jungmin saat mengetahui kenyataan yang baru diketahuinya ini. Apa putri itu akan marah? Entahlah.. Yang pasti, Jungkook mengetahui bahwa Penyebab Jungmin atau dirinya di masa lalu meninggal adalah karena keteledoran dirinya yang berasal dari masa depan. Aneh memang, dirinya mati karena dirinya sendiri, terdengar rumit.
"Disini kau ternyata."
Maniknya beralih kearah pintu pondok saat mendengar suara berat yang ditandanya. Merutuk dalam hati ketika matanya menangkap memang Taehyung lah yang bersuara, dan sekarang Pangeran itu tengah melangkah kearahnya.
"Apa yang kau lakukan? Seokjin noona memanggilmu untuk makan siang bersama."
Jungkool buru-buru mengemas buku-bukunya dan berdiri berniat pergi, "B-baiklah. Aku pergi dulu." Belum sempat dirinya mengambil langkah kedua, Taehyung sudah lebih dulu mencekal tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" Jungkook mengernyit tak mengerti dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan pangeran tersebut. Apa yang dilakukannya? Tentu saja pergi menemui Seokjin, apalagi?
"Maksudku, dengan membawa itu semua? Kau ingin identitasmu terbongkar?" Taehyung melanjutkan dengan sedikit penjelasan sementara tangannya masih mencekal pergelangan Jungkook.
"Eoh?" Jungkook gelagapan dibuatnya, "T-tentu saja tidak! Aku akan menaruhnya dulu sebelum pergi."
"Tak perlu. Kau duduklah kembali." Jungkook benar-benar tak mengerti sekarang. Sebenarnya maksud si Taehyung ini apa sih?
"Aku– tak mengerti—"
"Beberapa pelayan sedang dalam perjalanan membawakan makan siang untuk kita, jadi kau tak perlu pergi. Lagipula Seokjin noona sudah lebih dulu makan siang." Taehyung duduk pada lantai kayu pondok dengan menuntun Jungkook untuk mengikuti tindakannya.
Beberapa pelayan mulai masuk menyiapkan meja makan dan menata berbagai macam jenis makan siang diatasnya. Jungkook menelan ludah dibuatnya, "T-tak perlu. Aku akan makan sendiri." Jungkook berusaha menolak sebisa mungkin. Jika terus begini, usaha yang dilakukan selama beberapa hari ini akan sia-sia. Setidaknya, untuk menghilangkan perasaan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang. Yahh.. paling tidak dua minggu mungkin cukup. Jika tidak, dua minggu itu bisa jadi seumur hidup kalau situasinya terus seperti ini.
"Ku bilang duduk, Jungkook-ah." Ucapan itu ditekankan oleh Taehyung dengan pandangan mutlaknya. Jungkook pun hanya dapat duduk kembali, tak bisa membantah.
Pangeran tampan itu mulai menikmati hidangan didepannya, menyumpit beberapa lauk sembari mengisyaratkan agar Jungkook juga melakukan hal sama dengannya. Pemuda manis itu menghela napas pelan, kemudian menuruti saja apa yang diinginkan Taehyung.
Satu dua suap masih bisa dilalui Jungkook, sebelum batasnya telah tiba. Pemuda Jeon itu meletakkan sumpitnya dengan keras pada meja, meninggalkan bunyi gebrakan yang cukup membuat Taehyung tersentak disela kegiatannya meletakkan beberapa lauk pada mangkuk nasi Jungkook. Ya, Pangeran sialan itu sejak tadi tak hentinya meletakkan berbagai macam lauk pada mangkuknya dan memaksa Jungkook untuk memakannya. Sebenarnya apa yang sekarang dipikirkan Taehyung?!
"Cukup sudah! Kau– tidak, maksudku.. maumu apa sih?"
"Maksudmu?"
Jungkook kembali menghela napas untuk yang kesekian kalinya, menyingkirkan beberapa mangkuk makanan dari meja dan mulai melipat tangannya serius disana. "Beberapa hari yang lalu kau menghindariku, dan ini apa sekarang?"
Taehyung meniru apa yang Jungkook lakukan, dan ikut pula menatap serius pemuda manis itu, "Bagini.. bukankah kau mengatakan aku bersikap seperti biasa saja? Dan sekarang, aku sedang mencoba untuk bersikap biasa."
Heol! Jungkook memandang tak percaya pada Pangeran muda didepannya, "Bersikap biasa? Jika dimasa depan, ini Pemberi harapan palsu namanya! Sudah, aku pergi saja."
"Ya!"
~oOo~
Jungkook bersembunyi dibalik sebuah pohon, dengan manik yang sesekali memandang waspada sekitar. Ia tengah menghindari Taehyung sekarang. Pangeran itu... entah kenapa terus saja mengikutinya sejak tadi, bersikap biasa versi si Pangeran Joseon itu benar-benar unik dan berlebihan menurutnya.
Pemuda Jeon itu juga sedang ada janji sekarang. Janji bertemu dengan Min Yoongi, teman baru yang sudah cukup akrab dengannya beberapa hari ini. Sebenarnya, Jungkook berniat menjenguk Mingyu dulu yang telah siuman dua hari yang lalu, sekalian menanyakan perihal apa yang dimimpikannya. Tapi, di ruangannya masih ramai karena proses masa pemulihan. Untuk itu ia akan bertemu Yoongi dulu kali ini.
Wanita berkulit putih pucat itu mengatakan akan bertemu didekat rumahnya saja, kebetulan letaknya yang cukup dekat dengan istana.
Yoongi sempat bercerita dipertemuan mereka sebelumnya, bahwa dirinya dulunya berasal dari Goryeo. Namun karena mengikuti orang tua angkatnya, gadis itu kini menjadi rakyat Joseon. Jungkook sih mengiyakan saja karena tak mungkin gadis baik seperti Yoongi berbohong. Sangat tidak mungkin.
Kakinya mulai melangkah ke luar lingkungan Istana dengan mata yang terus waspada menatap sekitar. Tarikan napas lega dikeluarkannya saat sudah melewati pintu besar yang menjadi gerbang masuk istana. Senyum manis terukir dibibirnya sekedar menyapa para penjaga gerbang yang tentu saja tak mendapat balasan, mereka itu seperti patung, tak akan merespon sesuatu yang tak penting. Jungkook sendiri tak peduli, yang penting dirinya sudah menyapa sopan, merekanya saja yang sombong. Dasar.
Jungkook melanjutkan langkahnya sembari mengingat-ingat arah tujuan. Sesekali tangannya mengangkat hanbeok yang dikenakan agar bagian bawahnya tak kotor terkena genangan air dijalan. Huhh.. lama-lama dirinya terbiasa juga mengenakan pakaian untuk wanita ini.
Drab Drab—
Pemuda yang tengah berjalan sembari menggerutu itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ada seekor kuda yang berhenti tepat di depannya sehingga menghalangi jalan. Alisnya menyatu penuh tanda tanya, namun dengan cepat berubah saat maniknya menangkap sang Penunggang.
Kim Taehyung, pangeran ini sampai mengikutinya keluar istana?!
Mencoba tak mempedulikannya, atau mungkin pura-pura tak melihat, Jungkook pun melanjutkan langkahnya dengan mengambil sisi kanan jalanan yang kosong.
"Kau ingin ke pasar?" Taehyung berucap sembari menunggang kuda yang kini tengah berjalan lambat mengikuti langkah Jungkook.
"Tidak" sok tahu sekali si Taehyung ini –pemuda manis itu melanjutkan dalam hati.
"Naiklah. Aku akan mengantarmu sampai tujuan."
Ajakan tadi berhasil menghentikan kembali langkah Jungkook yang kemudian membalik badannya menghadap ke samping kiri sembari menatap sang Pangeran, mengisyaratkan agar turun dari tunggangannya.
"Kau.. Jangan seperti ini. Ini membuatku berharap banyak pada tindakanmu. Jika menurutmu bersikap biasa adalah seperti ini, aku akan lebih memilih kau menghindariku saja." Jungkook berucap pelan saat Taehyung sudah berdiri dihadapannya, pandangannya terlihat lelah dengan helaan napas diakhir kalimat.
Taehyung memandang kikuk, tak tahu juga dirinya harus menjawab apa. Kepalanya ditolehkan keberbagai arah, melihat keadaan jalan yang tak begitu ramai sebelum membalas, "Jungkook-ah.. aku juga tak mengerti. Ini bukan tindakan yang disengaja, aku melakukannya karena memang itu yang ingin ku lakukan. Tindakanku yang menghindarimu beberapa hari yang lalu itu semata-mata karena aku sedang dilema, tak tahu harus berbuat apa karena semua ini begitu mendadak" Sang pangeran menghentikan ucapannya sejenak, sekedar menghela napas, "Menurutku, justru tingkahmu lah yang aneh. Kau mengatakan padaku untuk tetap bersikap seperti biasa, tapi kau sendiri malah bertindak tak biasa. Kau menghindariku lima hari belakangan ini, apa itu termasuk bersikap biasa versi mu?"
Mulut Jungkook terkatup rapat mendengarnya. Benar apa yang dikatakan Taehyung, tindakannya memang tak biasa. Tapi, dirinya melakukan ini semata-mata untuk melupakan Taehyung. Menghilangkan perasaannya sebelum semakin berkembang sehingga akan sulit untuk dilepaskan. "Aku.. minta maaf akan hal itu. Aku akan berusaha bersikap biasa mulai sekarang." Paling tidak, dirinya harus bertindak tanpa melibatkan perasaan.
Taehyung tersenyum puas mendengarnya, "Sebagai langkah awal bersikap biasa, aku akan menemanimu sampai tujuan. Ayo naik"
~oOo~
Nyatanya, dua pemuda berbeda penampilan itu kini tengah berjalan kaki menuju kediaman Yoongi. Jungkook menolak keras menaiki kuda karena jujur saja, pemuda manis itu tak menyukai hewan dengan liur berbusa itu. Memikirkannya saja sudah membuat Jungkook merinding jijik.
Sepanjang perjalanan, tak sedikit orang yang mengenal Taehyung membungkuk memberikan penghormatan pada anak kedua Raja tersebut. Pangeran itu pun hanya membalas dengan senyuman profesionalnya.
"Jungkook-ah" manik keduanya beralih pada sosok yang baru saja menyuarakan nama Jungkook dengan nada tinggi. Disana, di depan sebuah rumah sederhana, Yoongi tengah melambai semangat kearahnya.
Jungkook tersenyum lebar, kemudian tanpa sadar menarik lengan Taehyung untuk berlari kecil menghampiri gadis manis tersebut.
.
.
Yoongi mempersilakan dengan sopan dua tamunya untuk memasuki rumah sederhananya, mengingat ada orang yang berpengaruh disini. Jungkook membawa Pangeran Taehyung ikut serta, ia harus apa untuk itu?
Pangeran ini benar-benar tampan menurutnya, pantas saja Putri Jungmin sangat mengagumi orang ini sampai mengorek informasi dari Mingyu. Padahal saat itu, Jungmin sendiri telah memiliki calon suami.
Tangan kecilnya menata hati-hati tiga cangkir teh dan beberapa kue kering diatas meja. Dirinya tersenyum kikuk tak tahu harus berbuat apa, ini benar-benar diluar rencana. Kenapa Jungkook tak datang sendiri saja sih?
"Kenapa kau tak kembali? Katanya cuma ingin mengantar." Taehyung mendelik tajam kearah Jungkook mengisyaratkan agar pemuda itu memperbaiki ucapannya, karena sekarang mereka tak sedang berdua, ada orang lain disini. "Ahh.. Itu.. maksudku, bukankah Yang Mulia Pangeran sedang ada tugas?" Jungkook meralat ucapannya dengan senyuman canggung dibibir.
"Hanya memantau perkembangan pasar, dan itu bisa dilakukan nanti."
Jungkook mendelik kearah Taehyung sembari memberikan gigitan pertama pada kue kering ditangannya. Alasan sialan.
Yoongi sendiri hanya memperhatikan dengan senyum yang tak lepas dari bibir merah jambunya. Dua orang dihadapannya ini benar-benar sangat akrab menurutnya. Bukan hanya karena percakapan mereka yang terdengar ringan, namun juga gesture mereka telah memperlihatkan kedekatan secara tak langsung.
Yahh.. Apaboleh buat, rencananya mungkin tak akan terlaksana hari ini. Padahal Jimin sudah menyiapkan semuanya sejak awal, mulai dari rumah sederhana ditanah Joseon hingga rencana-rencana lainnya yang tak ingin dituturkannya. Tidak. Jika kalian berpikir rencananya adalah membunuh Jungkook, itu salah besar. Dirinya yakin, Jimin tak akan membunuh gadis itu, mengingat gadis itu tak tahu apapun mengenai masalah ini.
Hanya sebuah rencana untuk mengorek informasi mengenai asal-usul gadis ini.
"Yoongi noona, ayo ceritakan kisahmu lagi."
"Noona? Bukankah seharusnya Eonni?" Taehyung menekankan kalimatnya dengan bibir yang ditegangkan sekedar mengingatakan Jungkook mengenai gender palsunya. "A-Ahh.. maksudku.. Ayo ceritakan kisahmu, Yoongi Eonni?" Kembali meralat ucapannya diselingi cengiran canggung diakhir.
~oOo~
2016
Seoul
Jungmin tersenyum senang saat pasangan suami istri Jeon keluar dari Laboratorium itu, kakinya melangkah senang menghampiri alat yang 'katanya' dapat mengembalikan Jungkook ke masa ini. Tangan lentiknya meraba lembut setiap lapisan kaca dialat tersebut dengan manik yang terus menatap kagum.
Tuan Jeon mengatakan, alat ini sebentar lagi akan sempurna. Hanya tinggal menunggu beberapa minggu saja, mungkin? Tapi, Jungmin berpikir. Jika alat ini benar-benar dapat mengembalikan Jungkook ke masa ini, bukankah dirinya juga akan kembali ke masa lalu? Bukannya ia tak senang. Sangat senang malah. Tapi, siapa yang akan membantunya memecahkan masalah disana? Pangeran Taehyung? Entahlahh..
Dirinya sebenarnya bosan karena selama ini selalu berada di Laboratorium. Ia hanya berjaga-jaga kalau saja akan terhubung kembali dengan Jungkook, tapi hingga kini mereka tak kunjung terhubung. Apa yang salah? Apa Jungkook disana tak pernah menyentuh ponselnya? Atau di masa lalu sedang terjadi sesuatu? Jungmin benar-benar penasaran dibuatnya. Padahal ia ingin menceritakan semua yang terjadi disini pada pemuda itu, sekaligus ingin melihat wajah Pangeran Taehyung tentunya.
Benda yang selalu berada dipergelangan tangannya tiba-tiba memancarkan radiasi yang sempat menyilaukan matanya. Benda yang menjadi alat komunikasinya selama ini, Jam tangan namanya. Jungkook sendiri yang memberitahukan bahwa Jam tangan pemuda itu tertinggal saat akan berpindah masa.
Tak lama kemudian, penampakan hidung besar Jungkook terlihat. Pemuda itu kini tengah memperbaiki poninya yang telah memanjang sedikit menutupi mata kanannya dengan pandangan polos menatap layar.
"Hai, Jungmin -ssi. Apa kabar? Maaf karena aku baru bisa memegang ponsel ini sekarang." Gambar itu terlihat bergetar, sepertinya Jungkook tengah melangkah sekarang.
"Tak apa. Kau akan kemana, Jungkook -ssi?" Jungmin mulai pusing sekarang karena sedari tadi gambarnya terus berubah, menampikan pemandangan random Istana Joseon.
"Aku sedang ke kebun istana. Diperintahkan untuk mengambil beberapa madu untuk pemulihan Mingyu" kini, wajah Jungkook kembali terlihat memenuhi layar. "Kau enak sekali bisa melihat wajahku, seperti sedang melakukan Video Call"
Jungkook tak terlalu ambil pusing dengan kalimat terakhir Jungkook yang tak dimengertinya. Tapi, kalimat pertama cukup mengambil perhatiannya, "Mingyu? Maksudmu prajurit kepercayaan Pangeran Taehyung? Pemulihan apa?"
"Kau banyak tahu tentang Taehyung yaa.. Sebentar, aku ingin mencari madunya dulu." Setelahnya terdengar grasak-grusuk dari seberang sana. "Katanya tergantung dipohon, tapi disini banyak sekali wadah madu yang tergantung. Kira-kira yang mana?"
Jungmin berdecak mendengar gumaman kecil Jungkook, "Ambil yang mana saja. Semua sama, itu sudah difermentasi untuk pengobatan."
"Ohh.. Terimakasih. Aku mulai cerita yaa. Jadi beberapa hari yang lalu, Taehyung, Mingyu dan beberapa prajurit lainnya mendapat luka parah karena gagal untuk meyakinkan sebuah Kerajaan China melakukan perjanjian kerjasama.." Jungkook terus menjelaskan dengan sesekali ditanggapi dengan nada khawatir Jungmin.
"Kau tenang saja. Taehyung sudah tak apa sekarang, bahkan sangat tak apa-apa untuk membuat orang merasa kesal. Hmm.. aku juga ingin memberitahukan sesuatu padamu—" Jungmin melihat Jungkook membuka tutup wadah madu tersebut dan mencium aromanya. "Ini tak seperti bau madu, tapi sepertinya sangat enak. Aku coba sedikit tak apa kan?"
Jungmin membelalakkan matanya saat Jungkook mulai mencolet madu tersebut dengan ujung jarinya. "Jangan. Itu tak boleh untuk orang yang jelas tak sakit apa-apa sepertimu!"
Jungkook sendiri mendengus tak peduli, "Memang kenapa? Aku sedang sakit kok.. Sakit hati." Dengan entengnya pemuda itu mengecap beberapa colek madu dengan gumaman memuji disetiap suapan.
"Ya! Kau bis—"
"Kau hanya disuruh mengambil madu yang menggantung, kenapa lama sekali sih?" Bibir Jungmin bergetar mendengar suara husky yang dikenalnya.
Tebakannya pun benar, karena setelahnya wajah pangeran Taehyung terlihat di layar. Sepertinya Pangeran itu sendiri yang mengarahkan layar ponsel Jungkook pada wajahnya. "Kau sedang berkomunikasi dengan Putri Jungmin? Pantas lama." Taehyung berucap lagi sembari tangannya yang terlihat menggoyangkan tubuh Jungkook.
"Hm? Ya! Apa yang kau lakukan? Kenapa memakan madu ini?!"
"Eunghh? Taeee... Aku mencintaimuuu~"
Jungmin melihat semuanya, Jungkook yang dalam keadaan tak sadar –dalam artian mabuk– dan ucapan bernada manjanya sembari tangan kiri kosong pemuda itu mengelus pelan sisi kanan pipi Pangeran Taehyung.
"Hei! Sadarlah!"
Chup—
Dengan tangan bergetar, mata membelalak, dan bibir terkatup rapat, Jungmin menyaksikan semuanya sebelum layar pada Jam Tangan itu menggelap. Menyaksikan wajah kaget Taehyung karena Jungkook menciumnya tiba-tiba tepat dibibir.
~oOo~
TBC
Chapter 9 update yeyy..
Itu ending tbc nya apa-apaan? Aku tak mengerti wkwkwk...
Ayoo pada tebak kejadian selanjutnya, apakah Taehyung akan membalas atau mendorong? Atau kaburr? Wkwkwk
Silakan yang mau nanya-nanya juga, kolom review masih tersedia..
Bisa juga lewat akun2 ku
Line: fika137
Ig: vkchu137
Special Thanks to:
livanna shin | nuruladi07 | Jieunjilee | ExileZee | Kyunie | VK | cookies | emma | Park RinHyun-Uchiha :* | YolYol17 | Kwonshistar | Kimizaku | Guest | LittleDeviL94 | Albus Covallaria majalis | dwi-yomi :* | Swaggxr13 | Ly379 :* | Kyuminjoong | hjs30 | llis | Taekooks'cream | Monvernx | minkyway | odorayaki | Jeon97Kim :* | kimrin | Jenna Seo | sugarydlight | yeonbin818 | swanb919 | lioneatbunny | bunnykookie | Onye lucu | Rena Shimazaki | JeonCarmy | syafitrinf9f | fad24 | Pongpongie | Hannie | MinMiJK | vkooknokookv | riigumtanshua | 9597 | pecintaoppa | ndnochu | karlienjustien | Jk97b | Suni Mozaa | titamarlina357 | Hatake Hikari | LianaPark | Dan semua yang udh Follow dan Favorite dichapter sebelumnya Iluv u~
Sampai ketemu di Jum'at berkah lainnya, jika tak ada halangan..
Jum'at, 24 Maret 2017
Di Kos Tercinta
VKchu137
