Seorang pemuda terlihat berlari cepat membawa sesuatu dipelukannya. Semilir angin dari arah berlawanan menerbangkan poninya sehingga dahi indah itu terlihat penuh, kepalanya sesekali diputarkan kebelakang sekedar melihat sudah sejauh mana dirinya menghindari kejaran massa.

Ya. Dirinya baru saja mencuri sebuah tas dari seorang Pria kaya berpenampilan aneh. Namun hanya sebuah bukulah yang ada dipelukannya kini, tas tadi sudah dibuangnya pada tikungan sebelumnya tapi dirinya bahkan masih saja dikejar-kejar seperti ini.

Keringat lelah mulai membasahi tubuhnya, kulit kecoklatannya bahkan terlihat bertambah kusam karena debu dan asap polusi kendaraan yang lewat. Saat maniknya melihat sebuah gang sempit, pria itu mulai menyembunyikan tubuhnya, mencoba mengelabuhi para massa.

Hahh.. Jika seperti ini, sudah tak ada gunanya lagi. Dia tak mendapatkan apapun! Hanya sebuah buku, dan itu tak cukup untuk biaya sekolahnya. Sial! Pria itu mulai merutuki dirinya yang dengan bodohnya membuang tas yang sudah susah payah dicuri tanpa mengambil sebuah dompet atau sejenisnya.

Kepalanya menyembul dari balik tembok, melirik sekeliling sekedar memastikan keadaan aman sebelum keluar dari persembunyian. Kaki panjangnya mulai melangkah cepat, berlari kearah halte terdekat. Tujuannya adalah rumah sekarang, Rumah kumuhnya dengan masih membawa buku yang dicurinya. Memang tak berguna, tapi paling tidak ini adalah hasil curiannya untuk hari ini.

Disisi lain, pria yang menjadi korban perampokan memungut tas punggung hitamnya. Seringaian terukir dibibir tipisnya saat maniknya tak menangkap keberadaan sesuatu di dalam tas tersebut. Keberadaan sebuah buku wasiat moyangnya, buku kumuh dengan tulisan Sejarah pada sisi kanan atas.

"Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah ditakdirkan." gumaman pria itu pada keheningan jalan terdengar, ada sisipan kekehan disetiap kalimatnya, "Tiga tahun lagi, Masa lalu akan berubah sesuai takdir." — SEOUL 2013

~oOo~

What If

By VKchu137

Pair: Top! Kim Taehyung

Bottom! Jeon Jungkook

Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,

Desclimer: Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok

INI ANEH! INI FANTASY! JANGAN COBA DIPIKIRKAN KALAU GK MAU PUSING.

Selamat membaca..

~oOo~

"Ughh.." suara ringisan terdengar memecahkan kesunyian di sebuah pondok yang terletak di tengah hutan perbatasan. Ringisan tersebut berasal dari sosok Jungkook yang kini telah membuka pelan kelopak matanya dan membiasakan diri dari sengatan matahari yang masuk melewati celah atap pondok yang rusak.

Kepalanya terasa berat, sangat sakit -bahkan hanya untuk digerakkan kesamping. Seluruh bagian badannya terasa sakit, pegal yang menyiksa disetiap sendi. Maniknya mulai meneliti keadaan sekitar, dan terkejut melihat tubuhnya yang dalam keadaan terikat, serta bayangan aliran darah yang mengering pada pipinya.

Apa yang terjadi dengannya?

Bahkan untuk berpikir dan mengingat pun, dirinya tak sanggup.

Mencoba tetap tenang dengan menghirup napas dalam, sebelum "Hmphh–" Jungkook dengan cepat menahan napasnya begitu indra penciumannya mencium bau busuk yang memenuhi pondok. Ini seperti bau bangkai yang benar-benar busuk.

"Wahh.. Kau sudah sadar? Cepat sekali." Kepala Jungkook menoleh pelan kearah datangnya suara. Geraman kecil lolos begitu saja dari mulutnya saat maniknya menangkap sosok Jendral Park Jimin yang berdiri angkuh dekat pintu masuk. Benar dugaanya, Jimin ada hubungannya dengan semua ini.

"Brengsek! Apa mau mu, sialan!" Jungkook berteriak dengan wajah memerah, mulutnya tak di bekap seperti aksi penculikan pada umumnya yang membuatnya bebas mengeluarkan suara.

Pandangan tak percaya yang dibuat-buat begitu ketara dari ekspresi Jimin, kekehan cemooh terdengar sembari dirinya mendekati gadis manis yang tengah terikat dipojokan itu. "Mulutmu jelas sangat kotor untuk dianggap sebagai Jungmin. Kau siapa sebenarnya, huh? Berani sekali memata-matai mitraku."

Begitu ucapan itu selesai, seorang gadis terlihat masuk dari pintu utama pondok dan berdiri tepat dibelakang Jimin.

Jungkook sendiri memandang datar sosok yang tengah menunduk itu. Yoongi, dirinya sudah ingat sekarang. Benar dugaan Taehyung, dua orang ini adalah dalang dari semua ini. "Kau sembunyikan dimana Putri Jungmin?" Tak ingin mengungkit masalah identitas aslinya, Jungkook mencoba mengalihkan dengan pertanyaan yang sejak tadi memenuhi kepalanya.

Dengusan kecil terdengar, sebelum Jimin menjawab, "Kau belum sadar dengan keadaan sekitar? Jungmin sejak tadi ada disampingmu, manis"

Sempat mengerutkan dahinya bingung sebelum Jungkook dengan cepat menolehkan kepalanya menghadap bagian kiri dan kanannya. Tak ada apa-apa disana, hanya setumpuk dedaunan kering pada bagian kirinya dekat dinding kayu pondok. Maniknya menyipit saat menyadari ada yang janggal dengan tumpukan daun tak beraturan tersebut. Begitu dirinya mulai menghirup napas, ia menyadari bahwa dari situlah bau busuk itu berasal. Bahkan dari tempatnya, Jungkook dapat melihat beberapa belatung yang keluar dari tumpukan daun tersebut.

Jangan bilang

"Sudah menemukannya?" Jimin yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-gerik Jungkook mencoba bertanya. "Benar sekali. Dibawah tumpukan itu memang ada Jungmin."

Pandangan tak percaya dilayangkan Jungkook pada Jendral itu. Jika sesuatu yang berada dibalik daun itu adalah jasad Jungmin, berarti benar Putri itu sudah mati?

"Apa sebenarnya tujuanmu, huh?"

Jimin melipat tangannya di depan dada, mencoba menimang apakah ia memberitahukan tujuannya apa tidak. Keputusanpun diambil, mengingat Jungkook memang tak ada hubungannya dengan niat awalnya.

"Kau hanya pendatang baru, tak tahu apa-apa. Biar ku perjelas, aku hanya menginginkan Jungmin mati dalam keheningan. Tak perlu khawatir, sudah beberapa minggu berjalan dari hari kejadian. Aku hanya tinggal menunggu jasadnya rata dengan tanah, dan setelahnya akan memerintahkan beberapa dari prajurit untuk memeriksa bagian pondok ini. Kau sudah dapat menebak kejadian setelahnya, bukan?"

Jimin terkekeh saat mendapati pandangan geram tak lepas dari manik indah Jungkook, "Benar. Jungmin akan ditemukan dalam keadaan hanya tersisa belulang saja—" menghentikan ucapannya sejenak, pandangannya terlihat menyendu, "–seperti yang terjadi pada Ibuku." melanjutkan, kemudian menatap Jungkook dengan kilatan aneh dimata, "Dan kau, akan merasakan hal yang sama karena telah berani mencoba merusak rencanaku."

"Anda sudah bertindak sangat jauh, Tuan. Jungkook sama sekali tak ada hubungannya dengan tujuan awal anda." Yoongi mulai bersuara, nada terdengar bergetar dan takut.

"Kau diamlah. Jika rencanaku terhadap Jungmin berajalan dengan lancar, serta pengganggu ini juga lenyap. Kita akan menikah sebagai ucapan terimakasihku padamu."

Jungkook dapat melihat rahang Yoongi yang mengeras menahan kesal. Oh! Sepertinya dirinya dapat membaca situasi sekarang. Tapi, ia benar-benar tak percaya bahwa Yoongi melakukan hal ini hanya demi balasan cinta dari pria brengsek ini?!

"Aku.. tak mengerti.." pandangan dua orang itu beralih ke Jungkook yang baru saja membuka suara, "Aku sungguh tak mengerti. Sebenarnya, apa hubungan Jungmin dengan Ibumu?"

Sempat hening sejenak, sebelum Jimin bersuara, "Aku tak tahu mengapa harus mengatakan ini padamu. Tapi, aku akan tetap menceritakannya—"

Lontaran cerita terus keluar secara beraturan dari bibir tebal Jimin. Semuanya berawal dari saat itu, saat dimana Jimin diceritakan semuanya oleh seorang Pejabat Goryeo –Orang yang menghamili Ibunya, sosok yang tentu saja adalah ayah kandungnya–.

Pejabat Goryeo itu mengatakan bahwa Ibu Jimin tidak meninggal karena melahirkannya, ada rencana jahat dari kematian sang Ibu. Wanita yang merupakan mantan calon selir Raja itu ditemukan meninggal dalam keadaan hanya tersisa belulang ditumpukan daun belakang Istana Goryeo. Memang sedikit yang mengetahui hal tersebut dikarenakan sang Raja tak ingin jika hal ini merusak reputasi kerajaannya. Tapi bukan hanya itu alasannya, Raja menyembunyikan hal ini semata-mata karena dialah pelaku yang telah membunuh Ibu dari Jendral Park tersebut. Yang lebih membuat Jimin geram sehingga menyusun rencana balasan seperti ini adalah, karena alasan sang Raja membunuh Ibunya benar-benar tak dapat diterima.

Pejabat Goryeo, yang juga merupakan ayah nya itu mengatakan bahwa Ibunya sering sekali memohon pada Raja untuk dijadikan istri sah. Padahal Ayah kandungnya sendiri sudah bersedia bertanggung jawab atas kehamilan Ibunya. Namun, sang Ibu bersikeras karena ingin sang anak menjadi orang terpandang nantinya. Oleh sebab itulah, Raja Kyuhyun menjadi murka karena lelah dihasut seperti itu. Tak hanya itu, Raja Kyuhyun meneguhkan tekadnya untuk membunuh Ibu dari Jendral Park karena wanita itu sempat akan meracuni Ratu Sungmin, sang Istri tercinta.

Begitulah sepenggal cerita yang didengarnya dari sang Ayah kandung. Dirinya sempat tak terima, bahwa Ibunya meninggal hanya karena permintaan yang tak terkabulkan serta percobaan pembunuhan yang gagal. Sangat tidak terima. Masih ada hukuman yang lain, mengapa harus membunuh ibunya seperti itu? Si Jendral benar-benar tak dapat membayangkan bagaimana menderitanya sang Ibu meninggal dalam keheningan, tanpa ada seorangpun yang tahu.

"Kau sama saja. Membunuh hanya karena cerita yang tak jelas kebenarannya." Jungkook membuka suara dengan manik memandang datar sang Jendral. "Kau yakin, apa yang dikatakan Pejabat Goryeo itu benar adanya?"

Raut Jimin yang sebelumnya sendu setelah menceritakan masalah sang Ibu, kini berangsur memerah menahan marah mendengar ucapan Jungkook. "Tentu saja! Aku percaya, karena dia adalah Ayah kandungku!"

"Jangan lupakan bahwa Ayah kandungmu lah yang menghamili Ibumu diluar nikah."

Jimin meraih anak panah dipunggungnya, dan mengarahkan busurnya kearah Jungkook, "Cukup sudah. Aku akan membunuhmu, gadis sialan! Berani sekali menuduh satu-satunya orang yang ku percaya selama ini."

"Satu-satunya? Jadi... Kau menganggapku apa selama ini? Aku bahkan telah mengikuti segala perintahmu." Yoongi menyela tak terima yang sama sekali tak digubris oleh Jendral tersebut.

"Kau tetap diam, Min Yoongi. Aku sudah mengatakan akan menikah denganmu jika semua ini selesai. Aku hanya tinggal melepas anak panah ini, dan—"

"Jangan menyentuhnya, Park Jimin!"

Manik semua orang yang berada di ruang sempit pondok itu beralih kearah pintu utama menatap seseorang yang baru saja bersuara. Raut Jungkook yang awalnya takut saat ujung lancip anak panah terarah padanya kini terlihat lega melihat kalau Taehyung lah yang tengah berdiri dan melangkah memasuki pondok.

Jimin sendiri terlihat bertambah marah melihat sosok pangeran tersebut. Sudah dipastikan, rencana awalnya akan gagal setelah ini. Kecuali, jika ia membunuh dua pengganggu ini sekaligus.

"Jangan coba berpikir untuk membunuhku juga." Taehyung berucap seakan dapat membaca pikiran sang Jendral, padahal dirinya hanya menebak saja. "Setidaknya, cobalah berpikir mengenai kejanggalan dari ceritamu tadi."

"Kau sama saja, sialan!"

Syutt

Anak panah meluncur kearah Taehyung setelah teriakan tak terima dari Jimin keluar. Beruntunglah dirinya yang merupakan seorang pemimpin perang, hal seperti ini dengan mudah dihindarinya. Meski baju bagian bahunya sedikit robek akibat terserempet bagian tajam panah.

"Kau salah. Semua yang dikatakan Pejabat Goryeo itu adalah kebohongan." Taehyung berucap cepat saat melihat Jimin kembali meraih anak panah dipunggungnya. "Setidaknya, dengarkan aku dulu."

Syutt

Anak panah kedua meluncur begitu saja kearah dinding kayu disamping kanan Taehyung. Dia sudah terpojok sekarang, jika Jimin meluncurkan panah ketiganya, ia tak tahu harus menghindar kemana lagi. "Ayahmu, Pejabat Goryeo itu sudah ditangkap sekarang. Atas tuduhan membunuh mantan calon selir Raja, yang merupakan Ibumu."

Ucapan itu sukses menghentikan peegerakan Jimin menarik tali busurnya. Maniknya menatap minta penjelasan kearah Taehyung.

"Semuanya salah. Kau telah dibohongi olehnya. Peran Raja Kyuhyun dalam ceritamu tadi adalah Peran dari Pejabat Goryeo itu sendiri. Dialah dalang dari kematian ibumu."

Suasana hening, semua orang dalam ruangan terdiam menunggu kelanjutan ucapan Taehyung. Pangeran itu menghela napasnya sejenak saat maniknya menangkap Jungkook yang dalam keadaan kurang baik disana. Paling tidak, dirinya tak terlambat. Berterimakasih pada Yoongi yang mengirim pesan padanya melalui seorang petani Joseon mengenai Jungkook yang dijadikan tahanan disebuah pondok yang terletak di perbatasan kerajaan.

"Ayahmu berjanji bahkan pada Raja untuk bertanggung jawab karena telah menghamili Ibumu setelah kelahiranmu. Tapi, itu hanyalah siasat si Pejabat Goryeo untuk mengambil alih tahta Kerajaan. Pria itu membunuh Ibumu karena kesal wanita itu terus meminta pertanggung jawabannya. Akhirnya, rencananya beralih setelah membunuh ibumu. Rencana yang akan melibatkan dirimu, mempropokasimu dan menanamkan kebencian pada keluarga kerajaan. Memanfaatkan posisimu untuk membantunya pada niat awal mengambil alih tahta."

"Tutup mulutmu! Hentikan omong kosong ini! Kau kira aku akan percaya begitu saja?!"

Syutt

"Ughh.." Panah ketiga meluncur dan berhasil mengenai lengan kanan Taehyung. Dirinya masih dapat bersyukur tembakan Jimin meleset pasti karena pikiran sang Jendral yang sedang kacau.

"Taehyung!" Sang Pangeran melirik sekilas kearah Jungkook yang menampilkan raut khawatirnya, mencoba menenangkannya dengan senyuman. Mencoba mengisyaratkan Jungkook untuk tak terlalu banyak bergerak agar ikatan pada tubuhnya tak melukai.

"Sadarlah Park Jimin. Kau yang harusnya menghentikan semuanya. Kau balas dendam pada orang yang salah. Secara terang-terangan, kau justru membantu pelaku atas kematian ibumu."

"KU BILANG, DIAMLAH!"

Syutt

Kali ini panah itu meluncur kearah Jungkook dan mengenai tepat perut sebelah kanannya. "Akhh.."

"Brengsek!"

Bugh

Taehyung tak dapat membendung rasa marahnya. Pangeran itu menerjang tubuh Jimin yang lebih pendek darinya, melemparkan busur yang dipegang oleh Pangeran tersebut dan memberikan pukulan bertubi-tubi pada wajah sang Jendral. Maniknya berair perih melihat Jungkook yang terbatuk mengeluarkan darah dari mulut, dadanya sesak saat perut pemuda yang masih berpakaian pelayan wanita itu mengeluarkan banyak darah.

"Hentikan!" Yoongi mencoba menghentikan pukulan keras Taehyung pada Jimin. Wajah sang Jendral sudah dipenuhi banyak darah akibat kepalan tangan keras yang terus menghantam setiap inchi tulang bagian wajahnya.

Taehyung menghentikan pukulannya saat maniknya menangkap Jungkook sudah dalam keadaan lemas. Pemuda itu terlihat menundukkan kepalanya setengah sadar.

"Tidak! Jungkook-ah.. Ya! Bertahanlah!" Ucapan-ucapan menyadarkan terus terlontar dari bibir tebalnya. Dirinya mulai membawa Jungkook kedalam rengkuhan hangat saat sebelumnya membuka ikatan tali pada tubuh pemuda itu. Tangannya memegang pinggiran perut yang terluka, mencoba menahan agar tak banyak darah yang keluar.

"T–taeh..hhh.." Jungkook berucap terputus, tangannya meraih lengan baju Taehyung yang berada diperutnya. "A–kuhh.. takh mau m-matiih..hh.." Ia tak mau mati, setidaknya jangan mati di masa ini. Dirinya masih ingin melihat wajah orang tuanya, Jungkook belum meminta maaf atas kenakalannya selama ini. Dirinya masih ingin terus bersama Taehyung, setidaknya sampai sang Pangeran membalas perasaannya. Dirinya tak mau mati dan setelahnya menjadi arwah penasaran. Tak mau.

"Diamlah. Aku akan membawamu ke tabib, sekarang." Taehyung mengangkat tubuh lemah itu, berlari tergesa keluar pondok tak peduli dengan keadaan sekitar.

Diluar sana, terlihat rombongan dari dua kerajaan berlari kearahnya. Terlihat kedua Raja serta Putra Mahkota memimpin dibagian depan. Dirinya masih punya harapan, ia setidaknya akan meminjam kuda untuk membawa Jungkook.

"TAE! AWAS!"

Teriakan Putra mahkota terdengar, pria itu terlihat mengisayratkannya dengan tangan agar bergeser. Memang kenapa?

Syutt

Taehyung menelan ludahnya saat merasakan tusukan benda tajam pada punggungnya. Badannya berbalik dan menangkap keberadaan Jimin yang mengarahkan anak panah padanya.

SyuttSyutt

"Ughh.." "Arghh"

Dua anak panah meluncur bersamaan. Satu anak panah yang berasal dari Jimin mengarah tepat ke jantung Taehyung, satunya lagi yang berasal dari salah satu prajurit Joseon mengarah tapat ke jantung Jimin.

Pangeran itu berlutut, mencoba terus mengeratkan rengkuhannya pada Jungkook. Jantungnya terasa panas, panas yang sangat menyakitkan. Maniknya sempat melirik kearah Jungkook yang juga melihatnya dengan pandangan lemah, setetes air mata terlihat jatuh dari manik keduanya saat menyadari takdir kejam yang terjadi.

Takdir mempermainkan mereka, mempermainkan perasaan mereka. Taehyung merutuk betapa takdir yang sangat kejam, menyiksanya karena baru menyadari perasaannya sekarang. Menyadari perasaanya setelah semua yang terjadi. Menyadari perasaannya disaat-saat terakhir seperti ini.

"Aku.. mencintaimu"

Tubuhnya roboh dengan pandangan gelap menguasai saat ucapan itu terlontar sangat jelas dari bibirnya yang penuh muntahan darah.

~oOo~

2016

Seoul

Jungmin terlihat mondar-mandir tak tentu arah dengan jam tangan digenggaman yang tak pernah dilepaskannya. Entah kenapa, perasaannya tak tenang sejak tadi. Dirinya terus memikirkan masa asalnya, sebenarnya ada apa disana? Jungkook sama sekali tak menghubunginya, apa sesuatu tengah terjadi?

"Aku hanya tinggal mengoperasikan monitor ini, dan semuanya akan bekerja." Suara bass Tuan Jeon terdengar, maniknya melirik pasangan suami istri yang kini tengah sibuk memasang dan menghubungkan berbagai macam sesuatu yang panjang –setahunya itu bernama kabel, Tuan Jeon sendiri yang mengatakannya–.

"Ku harap setelah ini, Jungkook dapat kembali lagi."

Bip bip

Terdengar suara pengaman pintu ditekan begitu Nyonya Jeon mengakhiri ucapannya. Ketiganya, termasuk arwah Jungmin menatap heran kearah pintu Laboratorium yang perlahan terbuka.

Manik Tuan dan Nyonya Jeon melebar begitu melihat seorang Pria yang baru saja memasuki Laboratorium mereka.

"Hoseok -ah.. Akhirnya, kau datang juga." Wanita paruh baya itu melangkah kearah seorang pria berkulit putih yang dipanggilnya Hoseok tadi, dan memberikan pelukan rindu yang langsung dibalas oleh sang pemuda.

"Hahh.. Aku sangat merindukan bibi.." maniknya beralih menatap Pria paruh baya yang juga tengah melangkah kearahnya.

"Kenapa baru datang sekarang? Bibimu telah memanggil beberapa minggu yang lalu."

Kekehan dilayangkan oleh Hoseok sembari menjabat tangan pamannya. "Tak ada alasan khusus, karena memang hari ini lah seharusnya aku datang."

Pasangan suami istri itu sontak memutar mata bersamaan saat mendengar lontaran kalimat yang diucapkan oleh keponakan mereka, "Kami juga sedang membutuhkan keahlian paranormal mu disini. Sepupumu yang nakal sampai sekarang belum juga kembali, kami yakin kau sudah tahu semuanya kan?"

Pemuda itu tersenyum sembari melangkah kearah sebuah alat yang sudah disempurnakan itu. "Tentu saja tahu. Aku bahkan sudah mengetahuinya sejak tiga tahun yang lalu."

Raut heran begitu kentara dari wajah Tuan dan Nyonya Jeon. "Apa maksudmu?"

"Tiga tahun yang lalu, ada seorang pemuda yang merampok tasku. Sebelumnya, aku sudah tahu kejadiannya akan seperti itu, oleh sebab itu aku memasukkan buku peninggalan leluhur kedalamnya. Dan.. Bam!—" menghentikan sejenak ucapannya sembari mengukir senyum, "Semuanya terjadi seperti dugaanku. Aku sangat yakin, pemuda itu pasti sudah membuka buku itu dan terlempar ke masa lalu setelah membaca setiap bait tulisan di dalamnya."

"Terlempar ke masa lalu? Maksudmu.. tempat Jungkook berada sekarang?" Tuan Jeon melontarkan pertayaan yang diangguki singkat oleh Hoseok.

"Yup, benar sekali paman. Dan, apa paman tahu? Buku leluhur itu adalah buku Jungkook, yang ditinggalkannya di masa lalu. Paman akan langsung mengenali tulisan tangan anak itu begitu melihatnya."

"Aku.. tak mengerti. Jadi maksudmu, Jungkook dan pria yang kembali ke masa lalu itu adalah takdir?" Nyonya Jeon mencoba mengeluarkan pertanyaan yang tak dimengertinya.

"Iya, bibi. Semua sudah ditakdirkan, dan masa lalu yang berubah karena mereka juga sudah ditakdirkan." Tangannya meraba pelan setiap sudut alat di depannya dengan manik yang berkilat senang seakan telah berhasil memecahkan takdir yang tersembunyi. "Masa lalu telah berubah. Tiga tahun yang lalu, Pemuda pencuri itu terlempar ke masa lalu yang membuat Istri dari Raja Joseon meninggal. Dan tahun ini, Jungkook terlempar ke masa lalu yang membuat seorang Putri dari Kerajaan Goryeo meninggal."

Jungmin terkejut begitu maniknya bersitatap dengan Hoseok. Pemuda itu tersenyum dengan pandangan lurus tepat ke matanya. "Dan.. apa paman dan bibi tahu? Tanpa sengaja, Putri yang seharusnya masih hidup malah terlempar ke masa depan dalam wujud arwah. Disitulah.. letak perubahan besar masa lalu."

Kaki sang Putri melangkah mundur seiring dengan langkah Hoseok yang maju. "Maaf atas semuanya, Jungmin -ssi. Saat kembali nanti, kau sudah meninggal, dan itu adalah takdir yang telah berubah."

"T-tidak mungkin."

Sepasang suami istri itu merinding sendiri melihat tingkah Hoseok yang berbicara sendiri. Pemuda itu juga menampilkan senyum bersalah, "Maafkan aku, tapi jangan salahkan aku. Salahkanlah kedua pemuda yang namanya telah tercatat sebagai orang pengubah takdir. Aku pernah berusaha menghindarinya tiga tahun yang lalu. Namun, seberapa kuatpun aku berusaha, takdir Taehyung tetaplah seperti itu."

Jungmin semakin terkejut begitu nama Pangeran yang dikaguminya tersisip dalam kalimat pemuda didepannya. Tidak mungkin! Jangan bilang kalau Taehyung juga berasal dari masa depan?

"Apa sama sekali tak terbesit dipikiranmu alasan mengapa Jungkook muncul di masa lalu tepat di depan Taehyung?" Hoseok berucap seolah-olah memang tahu segala, pemuda itu berucap seperti melihat langsung segala kejadian pada masa lalu. "Itu karena mereka berasal dari masa yang sama. Tak perlu ada perubahan besar jika seperti itu, seperti menghilangkan ingatan orang lain yang melihat kemunculan Jungkook misalnya."

"Hahh.. lelah sekali rasanya. Aku memang tahu segalanya, tapi tak dapat berbuat apa-apa"

"Kau sebenarnya sedang berbicara dengan siapa, Hoseok -ah?" Nyinya Jeon mencoba mendekati sang keponakan, yang langsung berbalik kearahnya sembari tersenyum.

"Ada seorang putri dari masa lalu yang terlempar ke sini, bibi. Sayangnya dalam wujud arwah." Menjawab sembari kembali melangkahkan kakinya mendekati alat dengan dinding bening ditengah ruangan. "Ini sudah sempurna, bukan? Karena sekitar lima menit lagi, Jungkook akan datang bersama seseorang. Aku juga sudah menghubungi ambulan."

Tepat lima menit setelahnya, cahaya terang menyilaukan keluar dari alat tersebut, bertepatan dengan tersedotnya arwah Jungmin kedalam dan menghilang meninggalkan kabut putih. Beriringan dengan menghilangnya kabut tersebut, dua tubuh terlihat tergeletak saling tindih di dalam alat tersebut. Darah segar masih membekas pada pakaian yang mereka kenakan.

"Jungkook-ah!"

~oOo~

1415

Joseon

Manik setiap orang membelalak melihat kejadian saling lempar anak panah di depan mereka, ditambah lagi setelah melihat tubuh Taehyung ambruk dengan Jungkook dipelukannya. Sang Putra Mahkota yang pertamakali sadar dengan apa yang tengah terjadi, dengan cepat memerintahkan prajuritnya agar membawa tubuh dua orang itu ke tabib.

Beberapa prajurit langsung mematuhinya dan bertindak lebih dulu menggiring dua tubuh itu keluar hutan. Dua Raja yang sedari hanya memperhatikan mulai mengambil alih bagian pondok dan memeriksa semuanya. Putra Mahkota ikut membantu dengan memeriksa keadaan Jimin, dirinya sebenarnya akan mengikuti prajurit yang membawa Taehyung dan Jungkook. Tapi, setelah ini.

Tubuh tegap Raja Kyuhyun terlihat bergetar begitu membongkar tumpukan daun mencurigakan disudut ruangan. Tubuh hancur sang Putri terlihat di depan matanya. Wajah Putri tercintanya hancur termakan ulat dengan pakaian anggunnya yang sudah terlihat lusuh tercemar tanah.

"J–Jungmin -ah.." berlutut meratapi nasip sang anak yang begitu tragis. Mata yang biasanya bersinar tegas, kini terlihat rapuh dengan tetesan likuid yang terus mengalir.

Raja Jongin hanya terdiam menyaksikan dan mendengar isakan lirih Raja yang terkenal tangguh itu.

Disisi lain, beberapa Prajurit yang membawa tubuh rapuh Taehyung dan Jungkook terus melajukan kereta mereka cepat.

Gruduk gruduk

Satu prajurit yang memimpin mulai panik saat tanah yang dilalui kereta mereka mulai bergetar. "Ada apa ini? Cepat periksa! Kita tak akan bisa terusa jalan jika seperti ini!"

Prajurit lain yang mendengar perintah tersebut, mulai memeriksa sekitar, "Pak, tanah disekitar sini tidak bergetar. Hanya tanah disanalah yang bergetar."

Mendengar laporan dari salah satu prajuritnya, pemimpin itu melangkah mendekati sekedar memastikan diikuti oleh semua prajurit lainnya. Meninggalkan kereta pada tanah yang masih bergetar.

Tepat ketika kaki mereka menginjak tanah yang tak bergetar, Kereta dibelakang mereka tenggelam oleh tanah yang langsung memisahkan diri. "Apa-apaan ini? Ada Pangeran Taehyung dan Jungkook-ssi di dalam sana! Cepat selamatkan!"

Mereka mulai mendekat kearah tanah yang kini telah berubah menjadi jurang. "Tak bisa, pak. Jurang ini sangat dalam, bahkan ujungnyapun tak terlihat."

Mereka hanya tak tahu, bahwa sebelum kereta itu terjatuh menyentuh daratan diujung sana, tubuh kedua orang yang berada di dalam kereta tersebut sudah menghilang meninggalkan kabut putih yang bercampur dengan kabut alami hutan.

~oOo~

TBC

Chapter 11 update yeyy..

Bagaimana buat chapter ini? Udh kembali kan? Kkkk~

Ciee.. siapa nihh yang bisa nebak jalan ceritanya, berhasil yaa~

Percaya gk percaya, aku nulisnya mulai jam 6 pagi tadi. Sibuk tugas terus sihh hufftt..

Sekarang, mereka udh di masa depan. Mau tebak apa yg bakal terjadi lagi? Heheheh..

Terimakasih buat yang udh respon di chapter sebelumnya, apalagi sampe nyempetin Review Makasih banget~

Special Thanks to:

livanna shin | nuruladi07 | Jieunjilee | ExileZee | Kyunie :* (3 | VK | cookies | emma | Park RinHyun-Uchiha :* (3 | YolYol17 | Kwonshistar | Kimizaku | Guest | LittleDeviL94 | Albus Covallaria majalis :* (3 | dwi-yomi :* 3 | Swaggxr13 :* (3 | Ly379 :* (3 | Kyuminjoong | hjs30 | llis | Taekooks'cream | Monvernx | minkyway | odorayaki :* (3 | Jeon97Kim :* (3 | kimrin | Jenna Seo | sugarydlight | yeonbin818 | swanb919 | lioneatbunny :* | bunnykookie | Onye lucu | Rena Shimazaki | JeonCarmy | syafitrinf9f | fad24 :* | Pongpongie | Hannie | MinMiJK | vkooknokookv | riigumtanshua | 9597 | pecintaoppa | ndnochu | karlienjustien | Jk97b | Suni Mozaa | titamarlina357 | Hatake Hikari | LianaPark | cuicuiwow | kimouna | Iis899 | ByunBaekh614 | PRISNA CHO | ara'seo | vkookie | callystachoi | ducik49 | Kim04My | Yuri Ta Kookie 21 | irisjulianamethyst | PricesBlue | Sohwapark8894 | wirna | Dan semua yang udh Follow dan Favorite dichapter sebelumnya Iluv u~ :*

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~


Jum'at, 07 April 2017

Di Kampus Tercinta

VKchu137