Taehyung menutup wajahnya sebatas mata dengan kerudung hodie yang yang melapisi seragam sekolahnya. Manik tajam itu mengintip sedikit memperhatikan keadaan sekitar koridor yang tak dapat dikatakan lenggang karena ini memang waktu istirahat pertama.

Beberapa siswa melenggang begitu saja melewatinya, mengabaikan eksistensinya, tak peduli dengan keberadaannya. Sebenarnya, Taehyung juga tak terlalu ambil pusing, karena dirinya juga bahkan tak peduli dengan mereka semua. Si Pemuda Kim memang adalah seorang yang misterius, –aneh– jika para siswa itu yang menyebutnya. Menakutkan, apabila manikmu bersitatap dengan manik tajamnya, seakan-akan tergambar dirimu yang tercabik-cabik pada beningnya bola mata coklat tua itu.

Selain itu, mereka juga tak akan mendapat apa-apa jika berteman atau hanya sekedar menegur Taehyung. Orangnya tak terlalu cerdas meski tak bodoh, dan.. Miskin. Si Miskin yang misterius, tepatnya.

Kaki panjangnya melangkah berlawanan arah dengan beberapa siswa yang bertujuan ke Kantin, karena itu memang bukan tujuannya. Ia akan ke atap sekolah seperti biasa, menghabiskan waktu istirahat dengan tidur –atau sering disebut waktu pengumpulan energi olehnya–. Tapi tak semuanya berjalan seperti biasa, karena pada genggaman tangan sebelah kanannya terdapat sebuah buku yang terlihat kecoklatan termakan zaman.

Pantat tak berisinya mulai bersentuhan dengan sebuah meja kayu pendek yang terletak dipojokan atap. Pandangan bosan mulai nampak pada kilatan maniknya saat kembali memusatkan perhatiannya pada buku kuno yang dibawanya. Buku kuno ini... apa ya Taehyung menyebutnya? Ini tak berguna, tak ada untungnya mendapat hasil curian seperti ini. Tapi tak tahu kenapa, tangan panjangnya secara begitu saja meraih benda itu dari dalam tas yang dicurinya dan membuang sisanya. Entah apa yang terjadi, tapi Taehyung sendiri merasa aneh dengan benda ini. Seperti memiliki ikatan yang kuat pada dirinya. Mau bagaimanapun, tetap saja tak berguna.

Taehyung malas. Tapi tangannya seakan refleks, mulai membuka sampul buku tersebut. Tak ada yang aneh, hanya tulisan tangan yang sedikit buram. Jarinya terus membalik buku, hingga sampai pada bagian halaman terakhir yang penuh dengan coretan abstrak. Seperti gambaran iseng seorang siswa yang malas mendengarkan penjelasan guru. Namun, ada satu tulisan yang jelas dan menyita perhatiannya.

Tulisan yang begitu bibir tebal itu melontarkannya hingga huruf terakhir, tubuhnya seakan terserap oleh silaunya cahaya yang keluar begitu saja dari pancaran sebuah nama.

Jeon Jungkook

Nama yang membawa dirinya terdampar disebuah masa yang beratus-ratus tahun jauhnya. Nama yang menentukan takdirnya. –Seoul 2013

~oOo~

What If

By VKchu137

Pair: Top! Kim Taehyung

Bottom! Jeon Jungkook

Warning!: BoysLove, Typo(s), aneh,

Desclimer: Fanfict ini asli punya saya, saya yang buat, dari otak laknat fujoshi saya, cuma meminjam nama karakter tanpa dapat memiliki aslinya*lah?, Tapi menurut saya Tae tetep cinta Kookie kok

INI ANEH! INI FANTASY! JANGAN COBA DIPIKIRKAN KALAU GK MAU PUSING!

Selamat membaca..

~oOo~

Sepasang manik indah mulai terlihat begitu kelopak mata yang melapisinya terbuka perlahan. Mengerjap kecil, membiasakan diri dengan suasana silau lampu yang tepat berada diatasnya.

"Nghh.."

Lenguhan kecil mulai terdengar disertai dengan gerakan pelan dari otot-otot jarinya, membuat seorang wanita paruh baya yang tidur pada kursi kayu samping ranjangnya terbangun cepat.

"Jungkook -ah.." suara lembut sang Ibu terdengar indah dipendengaran si Pemuda Jeon yang terlihat langsung mengarahkan pandangan kesamping, melihat wajah awet muda sang Ibu.

"Ibu.." balasnya lemah dengan mencoba tersenyum manis.

Dirinya sudah kembali? Apa ini nyata? Atau hanya gambaran keinginan selama di akhirat sebelum dirinya dihukum pada panasnya api neraka?

Masih sangat membekas diingatannya kejadian dimana dirinya tertusuk tajamnya anak panah yang diluncurkan oleh Park Jimin. Kejadian dimana Taehyung juga tertusuk panah didepan matanya. Kejadian dimana tubuh kokoh sang Pangeran ambruk menimpa tubuhnya, dengan masih memeluk erat dirinya yang lemah. Kejadian dimana satu kalimat pengakuan yang ditunggu-tunggu Jungkook, akhirnya terucap lancar dari mulut Pangeran Kim Taehyung dengan linangan air mata yang mengiringi. Ironis.

Kenapa ironis? Karena sekarang dirinya sudah kembali ke masa depan, tanpa dapat membalas pernyataan sakral itu. Dirinya sudah tak dapat lagi bertemu si Pangeran Kim, tak dapat lagi menatap wajahnya, berbicara dengannya, atau hanya sekedar berpapasan. Sekarang tak bisa, karena ini adalah Masa depan. Masa asal seorang Jeon Jungkook yang tak dapat menjadi masa Pangeran Taehyung.

Suara pintu ruangan putih itu terdengar memecahkan tatapan haru dari pasangan Ibu–anak tersebut.

"Jungkook -ah.. Kau sudah sadar, nak?" Ayahnya datang dengan tergesa diikuti oleh dokter dan beberapa perawat dibelakang.

Dirinya masih belum dapat menyerap apapun sekarang. Ini benar-benar nyata? Dirinya yang kembali ke masa depan ini nyata? Betapa Jungkook merindukan wajah dengan keriput tipis dari kedua orang tuanya. Jungkook rindu, sangat –dan ini sungguhan–.

Jungkook membalas pertanyaan sang Ayah dengan anggukan pelan disertai senyuman manis menenangkan. Tak ada pilihan lain, sepertinya dirinya harus move on lagi dari si Pangeran yang tak akan pernah diraihnya–

Kriet

Atau..

Tidak?

Entah memang nyata atau tidak, manik lancangnya menemukan sosok Kim Taehyung dengan pakaian kasual tengah berdiri diambang pintu. Manik tajam dan lemah itu saling bersitatap, sebelum si pemilik manik tajam mengalihkan pandangannya menatap Tuan Jeon yang tersenyum menyambut kedatangannya.

Jelas ini bukan hanya sekedar hayalan semata, karena sang Ayah tercinta pun dapat melihat sosok Pangeran tersebut, bukan hanya Jungkook! Ditambah lagi keberadaan sosok sepupunya –Jung Hoseok– yang baru masuk ruangan, dan merangkul akrab si Pemuda Kim.

Jungkook benar-benar tak mengerti kali ini. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Keadaan—" Perkataan Sang Dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Jungkook terpotong oleh isyrat dari Tuan Jeon, yang seolah mengatakan agar sang Dokter membicarakannya diluar bersamanya. Rupanya, Ayah dari Jungkook ini ingin segera memberikan kesempatan pada sang Anak untuk melontarkan pertanyaan yang memenuhi kepalanya.

Namun sesaat setelah ditutupnya pintu ruangan, suasana berubah menjadi hening. Hening yang canggung bagi Jung Hoseok, karena dirinya tak terbiasa dengan hal seperti ini.

"Jadi– Kau benar-benar Taehyung?" Jungkook membuka suaranya sembari netranya menatap lurus kearah orang yang dituju.

"Aku– memang Taehyung, dan kau—" jawaban si Pemuda Kim mengambang, seolah-olah mengisyaratkan pada pemuda di depannya agar memperkenalkan diri.

"Kau– Tak mengenalku?"

Suasana kembali hening begitu pertanyaan tersebut terlontarkan. Jungkook seharusnya senang melihat orang yang disukainya juga berada di masa depan, tapi sedikit dari perasaannya juga tak tenang begitu mengetahui bahwa Taehyung sepertinya tak mengingat dirinya.

Apa Taehyung ikut terlempar ke masa depan bersamanya? Atau bagaimana? Sungguh! Jungkook benar-benar butuh penjelasan sekarang!

Ehm

Deheman Hoseok memecahkan keheningan yang tak sengaja kembali tercipta. Pemuda yang selalu tersenyum itu terlihat menggaruk kecil kulit kepalanya canggung.

"Jadi begini— bisa aku berbicara?"

Hoseok bertambah kikuk saat tak kunjung mendapat jawaban dari orang-orang di dalam ruangan. Jungkook hanya menatapnya bingung, sedangkan Taehyung tak kunjung mengalihkan tatapannya dari si Pemuda Jeon. Nyonya Jeon dibuat tersenyum geli karenanya.

"Tanyakan semua yang membuat kalian bingung pada Hoseok. Dia ini mengetahui segalanya, asal kalian tahu. Ibu pergi menemui Ayahmu dulu yaa, Kook"

Sepeninggalan sang Ibu keluar ruangan, Jungkook mencoba mengubah posisi berbaringnya menjadi sedikit duduk. Dirinya tak bisa berpikir serius jika hanya terus berbaring.

"Apa yang ingin kalian tanyakan terlebih dulu?" Hoseok melirik bergantian pada dua pemuda disana, lalu mendengus kesal saat tak kunjung mendapat tanggapan, "Dia mengingat namamu, tenang saja. Kau juga berhentilah pura-pura amnesia seperti itu, Kim Taehyung"

Alis kanan Jungkook berkedut samar. Apa-apaan ini? Jadi Taehyung masih mengingatnya?

Dengusan samar terdengar dari si Pemuda Kim yang kini tengah memposisikan dirinya untuk duduk di kursi samping ranjang Rumah sakit yang ditempati Jungkook. "Aku bukannya berpura-pura tak mengenalnya. Aku hanya ingin kami kembali memperkenalkan diri, mengingat kita berada di masa yang berbeda sekarang."

"Memangnya apa gunanya? Menurutku sama saja."

"Tentu saja berbeda, kami memiliki kehidupan yang berbeda disini."

Jungkook tak tahu kenapa, sisi di dalam dirinya merasa sangat tenang setiap kata 'Kami' terlontar indah dari bibir tebal itu.

"Aku.. tak mengerti, Hoseok hyung. Kenapa Pangeran Taehyung juga berada di Masa depan sekarang?"

Dua pemuda yang beradu argument tadi mengalihkan pandangannya pada Jungkook yang baru saja mengutarakan pertanyaan.

Hoseok mengawali jawabannya dengan kekehan ringan, lucu sekali sepupunya ini. "Sepertinya, aku akan menjelaskan dari awal saja yaa..."

Lontaran penjelasan mulai keluar secara teratur diri bibir tipis Hoseok.

Awalnya, hanya Jungkook lah yang namanya tertulis indah pada catatan takdir. Tepatnya, nama Jungkook dengan seseorang yang belum dipastikan siapa. Taehyung terpilih sebagai orang tersebut pada Tahun 2013, dan terlempar ke Masa lalu lebih dulu dari si pemilik takdir. Hidup di masa yang sama sekali tak dikenalnya sebagai seorang pangeran Kerajaan besar.

"Kenapa harus aku?" Pertanyaan Taehyung itu diangguki setuju oleh Jungkook yang berpikiran sama.

"Karena kalian itu sama. Dua siswa yang sama sekali tak memiliki teman di kehidupan sekolahnya, dua siswa yang selalu menghabiskan hari-harinya dengan mengeluh dan rasa bosan disetiap tindakan yang dilakukan."

"Hidupku tak membosankan. Hidupku itu penuh tantangan karena setiap harinya dikejar-kejar massa."

Jungkook menatap bingung atas kalimat yang diucapkan Taehyung. Apa maksudnya dengan dikejar-kejar massa setiap harinya?

"Aku tahu, dasar pencuri. Tapi, hidupmu berjalan begitu saja, terlalu monoton. Kau mencuri untuk biaya pendidikan, kau tak memiliki teman dikehidupan sekolah, dan begitu seterusnya karena tak ada perubahan. Kau benar-benar membosankan, seperti Jungkook. Ditambah lagi kau tak begitu memiliki kerabat dekat, jadi tak ada yang terlalu ambil pusing dengan dirimu yang menghilang."

Manik Jungkook mengerjap tak percaya. Taehyung seorang pencuri? Yang benar saja!

"Lalu, hal yang paling tak ku mengerti adalah, kenapa aku yang lebih dulu terlempar ke masa lalu dari pada Jungkook? Perbedaan waktu tiga tahun itu tidak lama."

"Karena memang harusnya seperti itu, kau terlempar ke masa lalu untuk memecahkan sebuah kasus di kerajaan Goryeo. Namun, kau malah muncul di Kerajaan Joseon, bahkan sebagai anak dari seorang Raja." Hoseok mulai melangkah maju dan duduk dipinggiran ranjang Rumah sakit, lelah juga dirinya sejak tadi berdiri, "Jadi takdir sebenarnya adalah, Kau akan kembali ke masa lalu sebagai anak dari seorang prajurit Goryeo, tentunya dengan ingatan baru seolah-olah kau memang sudah hidup lama disana. Kemudian, Jungkook akan muncul di masa lalu itu, dan membawamu kembali ke masa depan setelah kasus tersebut selesai dengan alat yang dibuat oleh orang tuanya. Pembuatan alat tersebut tentunya sudah masuk dalam garisan takdir."

"Aku masih tak mengerti, Hoseok hyung. Semua ini sudah direncanakan? Maksudku.. sudah tertulis dalam catatan takdir? Lalu, bagaimana bisa Taehyung muncul di masa lalu sebagai anak dari Raja Joseon yang jelas-jelas melenceng, tak sesuai takdir sebenarnya."

"Itu karena si bodoh Taehyung ini. Kau seharusnya melihat sekeliling dulu sebelum membuka buku kuno itu."

"Kenapa menyalahkanku? Aku mana tahu kalau akan terlempar ke masa lalu hanya dengan hal sepele seperti itu."

"Benar juga. Tapi, rencana takdir berubah mulai saat itu. Seharusnya Taehyung terlempar begitu saja tanpa diketahui oleh orang lain, tapi ada seorang siswa yang memergoki saat tubuhmu terserap begitu saja masuk kedalam sebuah buku. Menurutmu, bagaimana shock nya pemuda itu?"

Jungkook berdehem pelan, mencoba memdapat perhatian, "Hoseok hyung, apa hubungan hal tersebut dengan Taehyung yang menjadi anak dari seorang Raja?"

"Ughh.. Kau semakin besar, kenapa semakin manis sihh.." Hoseok tersenyum lebar sembari tangan mencubit gemas pipi Jungkook, "Jadi, yang memergoki Taehyung itu adalah reinkarnasi dari Raja Joseon saat itu. Kim Jongin. Dan.. anak itu menjadi gila karena kau, Kim Taehyung"

"Aku mengerti sekarang. Jadi, sebenarnya Taehyung yang muncul dengan ingatan baru itu sudah bagian dari takdir? Lalu secara tak sengaja malah menjadi anak dari Raja Joseon karena dipergoki oleh reinkarnasinya. Tapi, kenapa aku tak muncul dengan ingatan baru juga di masa lalu?"

"Eumm.. gimana yaa?" Manik Hoseok menatap jahil kearah Jungkook yang mulai menatap kesal kearahnya, karena tahu pasti apa yang dipikirkan sepupunya ini.

"Ayolahh hyung, jangan mulai. Cukup jelaskan saja."

"Hahaha.. baiklah. Jadi, kenapa kau tak muncul dengan ingatan baru juga? Karena kau adalah si pemilik takdir, Jungkook-ah. Si pemilik buku kuno dengan tulisan tangan yang tentu saja sangat aneh. Ditambah lagi, kau pergi ke masa lalu dengan membawa beberapa barang dari masa depan. Menurutmu, jika kau juga memiliki ingatan baru, apa yang akan terjadi?"

Jungkook terdiam, suasana kembali hening untuk sesaat. "Kami tak akan kembali ke masa depan?" Semua mengarahkan perhatian mereka kearah Taehyung, "Yahh.. aku hanya menebak, karena pemikiran Jungkook yang ingin kembali ke masa nya lah yang membuat kami kembali seperti ini, bukan?"

Pok pok pok—

Hoseok bertepuk tangan semangat sembari mulai berdiri dari duduknya. Semangat sekali pemuda ini.

"Benar sekali. Wahh.. kau cerdas juga yaa setelah beberapa tahun di Joseon."

"Lalu.. bagaimana keadaan di Joseon sana, sekarang? Bagaimana dengan Jungmin? Jendral Park juga?"

"Kenapa kau masih sempat memikirkannya? Dia itu yang hampir membunuhmu, Jeon Jungkook!"

"Aku kan hanya bertanya, kenapa kau marah begitu?!"

Hoseok kembali ke keadaan canggungnya dengan tangan yang menepuk-nepuk pelan bahu dua oemuda tersebut, bermaksud menenangkan.

"Kalian ini.. kenapa jadi bertengkar begini?!"

"Dia yang lebih dulu, Hoseok hyung." Si pemuda manis mengadu pada yang lebih tua dengan melempar pandangan sinis kearah si pemuda tampan. "Lalu, jika Taehyung juga berasal dari masa depan, apa ingatan sebelumnya pada masa depan sudah kembali? Dan dan dan.. bukankah di masa lalu dia juga ikut terpanah? Kenapa dia terlihat baik-baik saja? setahuku, lukaku bahkan tak lebih parah darinya. Dan juga, kenapa kau seolah tahu segalanya, hyung? Kau kan hanya paranormal yang tidak normal."

"Wahh wahh.. tanyakan satu-satu, Jungkook-ah. Tentu saja ingatanya di masa depan akan kembali, menurutmu apa yang terjadi jika ia hanya kembali dengan ingatan pada masa lalu saja? Dan untuk luka panah, karena Taehyung yang di masa lalu adalah Taehyung yang baru, jadi luka pada kejadian di masa lalu tak akan membekas atau berpengaruh pada kehidupan masa depannya. Ingat? Dia bukan si pemilik takdir."

"Aku memang Paranormal, tapi aku juga istimewa. Aku diberikan kelebihan yang tak perlu kalian tahu."

~oOo~

Pintu utama Rumah keluarga Jeon dibuka lebar oleh sang Tuan Rumah. Jungkook baru saja keluar dari Rumah sakit, mereka sangat sibuk sekarang.

Ibunya langsung saja melangkah kearah dapur, menyiapkan masakan besar menyambut kedatangan sang anak dengan Si Pemuda tampan.

Jungkook sendiri hanya melangkah masuk membawa diri sendiri, karena tak di izinkan membantu membawa beberapa barang Taehyung sekarang.

Ya, si Pemuda Kim akan ikut tinggal di Rumah besar ini. Taehyung sudah menolak, tapi Ibu dan Ayah Jungkook bersikeras merayu karena tak ingin anak mereka kesepian lagi dan mengambil tindakan yang lebih parah lagi dari kembali ke masa lalu.

Tuan Jeon bahkan berniat mengajarkan Taehyung mengenai seluk-beluk suatu penelitian dan hal sejenisnya, karena Jungkook sama sekali tak tertarik dengan dunia seperti itu.

"Jadi.. kau juga akan tinggal disini?" Jungkook berucap tanpa menatap kearah pemuda yang sedang membawa kotak disampingnya. Dirinya masih canggung, jika Taehyung masih mengingat kejadian di masa lalu, apakah pemuda itu juga mengingat pernyataan cinta darinya? Jungkook malu, sungguh.

"Maaf untuk itu, tapi ya. Ayahmu lah yang menawarkan, dan aku tak dapat menolak." Kotak tadi mulai diletakkan pada lantai dekat sofa ruang tengah. "Bisa kau tunjukkan dimana aku harus menaruh barang-barang ini?"

"Ah! Itu.. Kamarmu ada dilantai dua, sebelah kamarku."

"Kau bisa menunjukkan jalannya? Atau mengantarku kesana mungkin?"

Jungkook dibuat gelagapan saat Taehyung memutar badannya dan menatap lurus kearahnya. "B-baiklah. Ikut aku." Buru-buru berbalik juga, dan melangkah kearah tangga.

Bibir tipisnya tak hentinya digigit-gigit kecil oleh Jungkook. Ini benar-benar canggung, bagaimana cara mengubah suasananya? Jungkook tak suka jika terlihat salah tingkah begini, apalagi si Taehyung itu terlihat berkali-kali lipat lebih tampan dengan hodie hitam yang dikenakannya. Jangan lupakan dengan sesuatu yang digunakan untuk mengikat kepalanya, agar tak keliru dengan poni panjanganya katanya. Tapi.. ini neraka bagi Jungkook, karena Taehyung terlihat benar-benar ughh.. bagaimana cara menjelaskannya?

Kriet

"Ini kamarmu. Kamarku ada disebelahnya, kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu. Aku mau ganti baju dulu." Dan, kenapa Jungkook harus melaporkan apa kegiatan yang akan dilakukannya? Memangnya Taehyung peduli? Jungkook bodoh!

"Kau bisa membantuku membersihkan kamar ini?"

Langkah Jungkook terhenti saat kalimat dengan nada biasa saja itu terlontar dengan tak tahu tempatnya. Menolehkan sedikit kepalanya, hanya untuk menjawab heran, "Bukankah kamarnya sudah dibersihkan? Apa masih kotor?"

Sekarang, giliran Taehyung yang dibuat gelagapan. Tidak, itu bukan tujuan utamanya mengajak Jungkook membersihkan kamar. "Maksudku.. eumm.. Apa kita bisa berbicara? Mungkin mengenai hal yang sama-sama tidak kita mengerti?"

Jungkook terdiam sebelum mengangguk mengiyakan. Ia melangkah mendahului Taehyung masuk kedalam Kamar berpintu abu-abu itu.

Dan setelahnya... Tak terjadi apapun. Mereka hanya diam, canggung sekali.

"Itu.. Boleh aku meminta sesuatu?" Jungkook lebih dahulu membuka suara, yang langsung mendapat balasan anggukan dari Taehyung.

"Jika kau masih nengingat kejadian di masa lalu.. maksudku, mengenai aku yang menyatakan.. Yahh kau tahulah.." ucapannya terdengar rumit tak beraturan dipendengaran, "Apa kau bisa berpura-pura seperti tak terjadi apapun? Ini di masa depan, aku tak tahu kehidupanmu disini. Aku hanya tak ingin mengganggu pikiranmu dengan perasaan masa lalu ku. Aku tak ingin memberatkanmu, jadi lupakanlah."

Jungkook dibuat gugup dengan pandangan datar pemuda di depannya. Ada apa? Apa Taehyung marah?

"Kau mengatakan padaku untuk melupakannya saat aku bahkan telah mengungkapkan perasaanku padamu?"

Manik Jungkook membola mendengarnya. Apa ini? Jadi, Taehyung mengingat kalimat terakhir yang diucapkannya saat di masa lalu? Kenapa Jungkook jadi semakin salah tingkah begini? Dia harus bertingkah seperti apa?

"Jadi, kau serius dengan apa yang kau katakan saat itu?"

"Tentu saja. Sekarang, aku juga mencintaimu Jeon Jungkook, dan kau harus bertanggung jawab."

"Kau.. bukannya tak menyukai hubungan sesama jenis?"

Taehyung terkekeh kecil, "Itu diriku di masa lalu. Diriku di masa depan adalah orang yang menyukaimu, dan kita adalah sesama jenis. Kau bisa menyimpulkannya?"

"Aku.."

"Tak mau tahu, kita adalah sepasang kekasih sekarang."

.

.

Suasana ruang makan begitu tenang, hanya terdengar suara sentuhan sendok dengan piring yang memecahkan keheningan. Perasaan bahagia tak dapat dibendung oleh Jungkook, dirinya benar-benar senang bisa makan bersama lagi dengan keluarganya seperti ini.

"Taehyung seminggu lagi akan home schooling, untuk mengganti ketertinggalanya selama tiga tahun. Mau?" Tuan Jeon berucap setelah meletakkan sendoknya pada sisi kanan piring, tanda bahwa dirinya sudah selesai dengan kegiatan makan.

"Jika tak merepotkan anda—"

"Eyy.. jangan kaku begitu, kau sudah menjadi bagian disini sekarang." Nyonya Jeon memotong ucapan Taehyung dengan senyuman manis dibibirnya. Cantik sekali wanita paruh baya ini.

"Dan Jungkook, dua minggu lagi kau sudah memulai kegiatan perkuliahan. Ayah sudah menguruskan segala halnya selama kau berada di masa lalu."

"Benarkah? Yahh.. malas sekali rasanya kembali ke sekolah."

Tak— "Aghh.."

Hoseok memukul pelan kepala Jungkook dengan kepalan tangannya. Meskipun pelan, tapi tenaga pemuda itu tak dapat dianggap remeh.

"Dasar pemalas. Kau mau dikirim ke masa lalu lagi, huh?"

"Sudah sudah. Taehyung, besok guru home schooling mu akan datang. Tapi, hanya untuk perkenalan, peroses belajarnya mulai minggu depan." Nyonya Jeon menengahi pertengkaran antara dua sepupu itu, "Namanya adalah Park Sooyoung."

~oOo~

1415

Joseon

Semuanya berjalan tak seperti biasa. Keluarga kerajaan begitu terpukul dengan menghilangnya jasad sang Pangeran beserta seorang pelayan di sebuah jurang baru diperbatasan. Tak ada yang berani memeriksa sampai kedasar, karena memang jurang tersebut sangat dalam seperti tak berujung. Sudah dipastikan Sang pangeran yang memang sebelumnya tengah terluka, pasti sekarang sudah meninggal dibawah sana.

Sungguh, kejadian seperti ini tak boleh terjadi lagi pada mereka. Raja Jongin yang awalnya hanya duduk tenang mengontrol keadaan kerajaan, kini mulai turun tangan sendiri memerintahkan pada semuanya, menjalankan kegiatan kerajaan. Yang membuat Kerajaan Joseon kini sukses besar dalam hal perluasan wilayah. Kerajaan Goryeo bahkan telah ditaklukannya dengan mengambil kesempatan saat kerajaan tersebut dalam keadaan terguncang atas kejadian sebelumnya.

Setidaknya, semuanya dapat berjalan normal setelah kejadian besar sebelumnya. Kejadian yang akan selalu membekas diingatan mereka, yang akan selalu mereka ingat apapun yang terjadi.

~oOo~

TBC

Chapter 12 Update yeyy..

Mulai chapter depan, bakal mulai ke masa depan aja yaaa...

Maaf telat update, seharian ini penuh di kampus doang. Persiapan buat UTS yang sebentar lagi soalnya.

Minggu depan, mudah-mudahan gk ada halangan. Karena pasti pas UTS mulai bakal sibuk belajar...

Maaf kalau chapter ini mengecewakan dan pendek, aku banya tugasss maaf bangettt...

Makasih buat yang udh respon dichapter sebelumnya..

Special Thanks to:

livanna shin | nuruladi07 | Jieunjilee | ExileZee | Kyunie| VK | cookies | emma | Park RinHyun-Uchiha | YolYol17 | Kwonshistar | Kimizaku | Guest | LittleDeviL94 | Albus Covallaria majalis | dwi-yomi | Swaggxr13 | Ly379 | Kyuminjoong | hjs30 | llis | Taekooks'cream | Monvernx | minkyway | odorayaki | Jeon97Kim | kimrin | Jenna Seo | sugarydlight | yeonbin818 | swanb919 | lioneatbunny | bunnykookie | Onye lucu | Rena Shimazaki | JeonCarmy | syafitrinf9f | fad24 | Pongpongie | Hannie | MinMiJK | vkooknokookv | riigumtanshua | 9597 | pecintaoppa | ndnochu | karlienjustien | Jk97b | Suni Mozaa | titamarlina357 | Hatake Hikari | LianaPark | cuicuiwow | kimouna | Iis899 | ByunBaekh614 | PRISNA CHO | ara'seo | vkookie | callystachoi | ducik49 | Kim04My | Yuri Ta Kookie 21 | irisjulianamethyst | PrincesBlue | Sohwapark8894 | wirna | Dhienssi315 | lalice26 | dianaindriani | Dhien263 | Dan semua yang udh Follow dan Favorite dichapter sebelumnya Iluv u~ :*

Respon lagi yaa..

Sampai ketemu di chapter depan...


Jum'at, 14 April 2017

Di Kos tercinta

VKchu137