Kelopak mata sebelah kiri Jungkook mulai terbuka, sedikit menyipit karena silau matahari siang yang menusuk. Dahinya berkerut memandang tubuh atasnya yang tak mengenakan apapun dan melirik singkat kearah seorang pemuda yang masih tidur dengan memeluk pinggangnya. Sebenarnya, bukan itu yang membuat pemuda manis itu bingung, melainkan alas tidur mereka saat ini.

Pasangan itu memang memakai selimut untuk menutupi bagian bawah tubuh mereka yang juga tak mengenakan apapun, tapi bukan ranjang empuk nan bersih milik Jungkook yang mereka tiduri. Melainkan lantai dari kayu keras yang terlihat sedikit menghitam.

Maniknya membelalak saat menyadari sesuatu. Dirinya kenal dengan tempat ini, sangat kenal bahkan. Ini adalah tempat dimana dirinya dan Taehyung sering menghabiskan waktu saat masih terdampar di Masa lalu. Tempat ini adalah... Pondok dekat danau Istana..

Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa?

Jungkook pun mencoba membangunkan pemuda disampingnya, menggoyangkan badan tanpa busana itu dengan brutal. "Tae, bangun!" terus seperti itu, namun hanya dibalas dengan dengungan ngantuk dari pemuda yang telah merebut keperjakaannya semalam.

Si Pemuda Jeon mendengus kesal, mencoba mencari akal dengan memperhatikan sekitar. Tempat ini masih sama seperti terakhir kali Jungkook mengunjunginya. Masih dengan lumut dibeberapa bagian dinding kayu, namun keadaan bersih pada bagian lantai.

Jungkook ingin bangun, setidaknya walau hanya sekedar mengintip di pintu atau jendela, tapi dirinya dalam keadaan telanjang bulat. Memang tak ada yang melihat, tapi Jungkook malu! Ada ruam merah karya Taehyung dibeberapa bagian tubuhnya, dan itu terlihat benar-benar jorok mengingat seberapa rakus si Pemuda Kim itu menghisap kulitnya semalam suntuk.

"Tae, bangunlah.." Dirinya masih berusaha mengguncang tubuh telanjang disampingnya, kali ini dengan semangat penuh. Terserah jika badan si Kim sampai sakit gara-gara bergesekan dengan lantai kayu, bergesekan dengan kulit Jungkook saja Pemuda ini keenakan.

"Eunghh.. Ada apa, sayang? Aku masih mengantuk.." Taehyung dengan mulut dan suara serak brengseknya berhasil membuat wajah Jungkook memerah. Bukan hanya karena panggilan sayang, Jungkook hanya mengingat geraman pemuda itu semalam. Oke, lupakan.

"Bangun dan lihatlah dulu.."

Manik mereka langsung bertemu saat Taehyung membuka matanya, senyum lebar tersemat dibibir tebal Pemuda yang baru bangun tidur melihat wajah sang kekasih. Senang sekali rasanya disambut dengan wajah manis ini saat baru membuka mata dari tidur lelap akibat kegiatan melelahkan tapi nikmat semalam.

"Ada apa, hm?"

Jungkook mendengus, kekasihnya ini benar-benar tak cepat tanggap memang. "Lihat sekeliling, Tae."

Mendengarnya, Taehyung mengernyitkan alisnya sebelum memandang sekitar sesuai perkataan Jungkook. "Eh? Bukankah semalam kita melakukannya di kamarmu, Kook? Kenapa sekarang kita berada disini?"

"Kenapa kau malah balik bertanya?" Jungkook cemberut, kesal juga dirinya dengan kekasihnya ini yang sekarang masih memasang ekspresi kosong andalannya. "Kau tak merasakan hal aneh, Tae? Mungkin perasaan familiar dengan tempat ini?"

Alis Taehyung terlihat menyatu, sepertinya tengah memproses pertanyaan Jungkook. Sungguh! Taehyung saat bangun tidur benar-benar terlihat sangat idiot!

Si Pemuda Kim mulai mengedarkan pandangan, dan sepersekian detik berikutnya membelalakkan matanya aneh, "Ehh? Bukankah ini di masa lalu?"

Jungkook mendengus keras mendengarnya, "Iya. Dan kita sepertinya terdampar lagi disini, parahnya lagi dalam keadaan tanpa busana." Beralih menatap sinis kearah Taehyung, "Ini semua karena kau dan perbuatan mesummu semalam!"

"Aku tak telalu memikirkan busana sekarang, karena aku lebih suka melihat kau yang seperti ini. Tanpa busana." Taehyung mengeluarkan cengirannya saat mendapat tinjuan cukup keras pada paha nya. "Masalahnya, kenapa kita bisa kembali kesini? Bukankah semua permasalahan telah selesai? Bagaimana mungkin?"

Jungkook memeluk dirinya sendiri setelah sebelumnya merapatkan selimut tebal itu. Meskipun cahaya matahari siang menusuk melalui celah atap Pondok, tapi udara disekitar sini benar-benar dingin. Ini benar-benar dingin! Bukan hanya sekedar kode dari Jungkook untuk membuat Taehyung memeluknya, bukan! Sungguh. "Entahlah. Tapi setidaknya, apa tidak ada satu pakaian pun disini?"

Taehyung mendekat, membawa sang kekasih kedalam pelukan hangatnya. Si Pemuda Jeon sendiri menyamankan diri dalam pelukan itu sembari berpikir keras atas apa yang terjadi saat ini. Mereka tak pernah masuk kedalam Laboratorium orang tua Jungkook, dan tak pernah memegang buku kuno apapun yang dapat membuat mereka terlempar ke masa lalu seperti ini. Lalu apa yang tengah terjadi sekarang? Bagaimana jika orang-orang di masa lalu tak mengenal mereka? Bukankah saat terakhir kali, mereka berdua mati di depan mata prajurit istana?

Degupan jantung Jungkook semakin cepat, bahkan dirinya juga dapat mendengar kalau Taehyung juga sedang merasakan hal yang sama dengannya saat mendengar suara ribut-ribut di luar pondok itu. Sudah pasti ada orang diluar sana, dan jangan sampai orang atau siapapun itu masuk kedalam pondok ini!

"Bagaimana ini, Tae?" Jungkook berbisik dengan wajah mendongak mencoba menatap wajah bagian bawah sang kekasih.

"Tenanglah. Ada aku disini." Taehyung mencoba menenangkan dengan cara mengelus pelan punggung tangan Jungkook.

Dirinya juga takut, tak tahu harus melakukan apa. Bagaimana jika orang diluar sana masuk, dan menemukan mereka dalam keadaan telanjang bulat seperti ini? Tak masalah jika Taehyung masih dipandang sebagai pangeran disini, masalahnya adalah jika mereka sama sekali tak dikenal atau malah dianggap arwah. Sungguh, Taehyung sendiri tak berani membayangkan kejadian selanjutnya jika itu benar-benar terjadi.

Tubuh Jungkook bergetar dalam pelukan Taehyung saat mendengar suara derikan lantai kayu disertai langkah seseorang yang semakin mendekat pada pintu utama pondok. Pemuda yang lebih muda menyembunyikan wajahnya di dada telanjang sang kekasih saat suara langkah itu berhenti dan digantikan dengan suara tangan yang menyentuh keras pintu.

Brak

Semuanya terjadi begitu saja, Jungkook yang masih menenggelamkan wajahnya semakin bergetar dipelukan Taehyung yang tampak terkejut sekaligus takut. Beberapa orang yang diketahuinya sebagai prajurit istana masuk kedalam pondok dengan busur siaga serta anak panah yang mengarah ke mereka berdua.

"Ternyata benar yang dikatakan para penjaga kebun. Mereka sering mendengar suara aneh sepulang dari bekerja, ternyata itu suara kalian?" Seorang pria yang sangat dikenalnya melangkah ditengah-tengah prajurit. Itu Kim Namjoon, sang putra mahkota. "Kalian tahu? Perbuatan kalian ini sangat melanggar peraturan Raja. Berhubungan seperti ini diluar nikah, bahkan dengan sesama jenis? Benar-benar tak termaafkan"

Jungkook benar-benar ingin menangis sekarang, bahkan dirinya sudah sesenggukan walaupun tak ada air mata yang keluar. Bagaimana ini, mereka ketahuan dan Para orang-orang ini benar-benar tak mengenal dirinya dan Taehyung.

"Kalian siapa? Kami tak pernah melihat wajah kalian sebelumnya. Dan bagaimana kalian bisa masuk kedalam istana seperti ini?"

Tak ada tanggapan dari keduanya. Mereka masih takut, Taehyung bahkan masih mengingat hukuman apa yang akan diterima bagi orang yang melakukan pelanggaran seperti ini.

"Baiklah. Kalian berhak untuk tetap diam, tapi kami akan tetap menghukum kalian untuk ini. Bawa mereka!" Suaranya terdengar dingin, mengalahkan hawa dinginnya pondok.

Dua pemuda yang masih diam terlihat bergetar meraih pakaian yang dilemparkan kearah mereka, bahkah Jungkook sendiri terlihat menggerak-gerakkan mulutnya berdo'a dalam hati. Jangan sampai kapala mereka dipenggal sesuai dengan hukum istana. Mereka bahkan hanyalah pasangan baru yang masih labil.

~oOo~

Pasangan dari masa depan itu terlihat berjalan beriringan dengan kedua tangan diikat di belakang. Mereka terlihat kontras diantara banyaknya masyarakat juga orang istana yang menyaksikan proses penghukuman tersebut, dengan pakaian lusuh putih petani biasa.

Taehyung melirik kearah samping kirinya, melihat wajah ketakutan sang kekasih yang juga menatapnya cemas. Si pemuda Kim tersenyum, mencoba menenangkan Jungkook yang sudah berlinang air mata, mencoba menguatkan dirinya tentang apa yang nantinya akan terjadi.

Taehyung takut, karena kepalanya akan dipenggal sebentar lagi. Tapi Taehyung merasa lega, karena hanya kepalanya lah yang akan dipenggal. Dirinya lega, karena Jungkook hanya mendapat hukuman untuk melihat kematian Taehyung saja. Tak apa, dirinya tak apa asalkan sang kekasih tetap selamat.

Tapi, Jungkook yang apa-apa sekarang. Dirinya lebih memilih untuk sama-sama dipenggal kepalanya dengan sang kekasih daripada harus hidup sendiri di masa yang masih terasa asing baginya ini. Jungkook memang bisa dibilang sempat tinggal cukup lama disini, tapi saat itu ada Taehyung disampingnya. Ada Taehyung yang mengetahui jati dirinya. Dan jika pemuda itu mati, dirinya harus apa?

Isakan Jungkook mulai keluar saat Taehyung diseret untuk melangkah lebih cepat, sedangkan dirinya dipaksa untuk berhenti melangkah saat sudah jaraknya hanya tinggal beberapa meter dari tempat penghukuman.

Terlihat Taehyung yang dipaksa berbaring tengkurap dengan bagian leher yang disangga pada kayu yang diduganya menjadi saksi terhadap banyaknya kepala para pendosa yang terpenggal. Si Pemuda Kim mengubah posisi kepalanya, menghadap Jungkook yang tengah menggigit bibirnya diseberang sana.

Cukup sudah. Jungkook sudah tidak tahan lagi, "Huaaaa... Taeee—" tangisnya semakin keras yang berhasil menyita perhatian orang-orang disana. Jungkook terduduk di aspal berdebu dengan masih menangis dengan suara keras, kakinya menendang-nendang tak terima serta tangan yang berusaha keras melepaskan ikatan.

Semua orang dibuat melongo karenanya. Taehyung diseberang sana terkekeh kecil melihat tingkah kekanakan kekasihnya, tapi bukan ini yang diinginkannya. Taehyung sangat ingin melihat senyum manis dari Jungkook sebelum kepalanya berpisah dari tubuhnya. Dirinya sangat ingin mendengar kalimat cinta dari Jungkook, sangat.

"Jungkook -ah. Jangan menangis, tersenyumlah." Tangis Jungkook berhenti saat mendengar suara berat sang kekasih yang tengah melempar senyum kearahnya, tapi disana algojo terlihat sudah bersiap dengan kapak ditangannya yang diangkat. "Tetaplah tersenyum. Aku mencintaimu."

Trash

Suara darah yang mengucur mengalahkan suara kapak yang menebas. Air mata Jungkook jatuh dalam keheningan, dirinya tak ingin mendengar apapun, bahkan hanya sekedar teriakan ngeri orang-orang yang menyaksikan saat kepala Taehyung menggelinding kearah kakinya. Suaranya terasa tersangkut ditenggorokan saat salah satu dari prajurit disana melepaskan ikatan tangannya dan mendorongnya untuk semakin mendekat kearah kepala Taehyung yang tergeletak tepat menghadapnya.

"Tidak. Tidak mungkin! T-tae.." Tangannya bergetar mencoba mendekap kepala sang kekasih, "T-tae.. TAEHYUNG!"

Bruk

Dan.. semuanya menjadi gelap, saat hantaman keras terasa ditengkuknya.

~oOo~

Jungkook membuka matanya cepat, keringat dingin masih mengalir dipelipisnya. Bahkan dirinya dapat merasakan bekas air mata yang mengering dikedua pipinya. Dahinya mengerut bingung, saat mulai sadar dengan keadaan sekitar. Ini... kamarnya, Kamar Jungkook di masa depan! Bagaimana bisa dirinya tiba-tiba berada disini? Apa semuanya hanyalah mimpi?

Pandangannya turun memperhatikan keadaan tubuhnya yang masih telanjang ditutupi selimut. Namun, ada yang aneh disini. Maniknya mengarah pada sisi lain ranjangnya.. sepi. Tak ada Taehyung disampingnya, dan dirinya mulai takut.

Seharusnya jika ini hanyalah mimpi, Taehyung masih berada disampingnya dalam keadaan sama-sama telanjang selepas kegiatan mereka semalam. Tapi, kenapa tak ada orang disampingnya? Apa mungkin semuanya bukan mimpi? Dirinya dan Taehyung memang benar-benar kembali ke masa lalu, dan Taehyung mati disana. Sehingga begitu Jungkook kembali ke masa depan, Taehyung tak ikut serta karena sudah tiada? Tidak mungkin! Ini tidak adil! Bahkan dirinya tak tahu alasan mengapa harus dikirim kembali ke masa lalu!

Jungkook mengibas kasar selimut yang menutupi bagian bawahnya. Pemuda itu bangun, mencoba membuka pintu kamar yang masih terkunci dan mencari Taehyung di luar kamar.

Belum sempat dirinya memutar kunci pintu, suara geseran pintu balkon kamarnya lebih dulu terdengar. "Wow!"

Jungkook berbalik cepat saat mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Tarikan napas lega dilakukannya bertepatan dengan punggung yang bersandar pada pintu kamarnya. Taehyung berdiri di pintu balkon kamar dengan handuk yang disampirkan pada pundak kanannya.

Senyuman jahil tersemat dibibir tebal pemuda itu setelah sebelumnya memberikan siulan pada Jungkook. "Kau berniat menggodaku dengan berkeliling dalam keadaan telanjang begitu?"

Sungguh. Jungkook baru saja keluar dari kepanikannya sekarang, dirinya baru saja akan lari dan memeluk pemuda itu. Tapi Taehyung dan otak mesumnya benar-benar merusak niatannya. Jungkook sadar dengan keadaannya yang tengah telanjang tanpa sensor atau penutup apapun sekarang, tapi dirinya tadi sangat panik dan Jungkook tak peduli.

Si Pemuda Jeon mendengus sembari berjalan menghentak mendekat kearah Taehyung, merebut kasar handuk dipundak Taehyung dengan bibir yang dikerucutkan. "Kau tahu? Aku baru saja akan berlari memelukmu, mungkin juga menciummu jika saja kau dan otak mesummu itu tetap diam." Jungkook berbalik, melangkah kearah kamar mandi.

"Benarkah? Kenapa tak jadi memelukku? Jungkook -ahh sini biar aku yang peluk."

Jungkook buru-buru menutup pintu kamar mandi dengan kasar saat mendengar suara langkah kaki Taehyung berlari mendekatinya.

"Kenapa di tutup kook-ahh.."

Si mesum itu dengan tak tahu malunya menggedor-gedor pintu kamar mandi sembari tak hentinya berteriak mengenai hal-hal laknat.

Di dalam sana, Jungkook menghela napasnya lega. Dirinya benar-benar lega karena semuanya hanya mimpi. Mungkin, Jungkook terlalu terbawa suasana masa lalu sehingga bermimpi seperti itu. Ya, mungkin memang begitu. Setidaknya, Taehyung nya masih ada dengan anggota tubuh yang lengkap. Taehyung masih disisinya dengan senyum yang tak lepas dari bibir pemuda itu. Taehyung masih kekasihnya dan akan selamanya seperti itu. Dan Jungkook bahagia akan hal itu, sungguh.

~oOo~

End

Udh yaaa~

Aku masih sempet-sempetnya nulis Omake di tengah kesibukan UTS

Gimana Konsernya? Ciee yang nonton.. Aku mah apa yang cuma modal kuota malam minggu

Terimakasih buat yang selalu mendukung fanfiksi ini.. seneng sekali akutuuu..

Bai bai~


Senin, 01 Mei 2017

Di Kos Tercinta

VKchu137