Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu.

Re-writing & editing by Christal Alice.


Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook

Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.

Warning! BL. AU.


Part. 2


...

Jenuh dan mengantuk―itulah yang Jungkook rasakan sekarang.

Pemuda itu sesekali memejamkan matanya sejenak seraya menopang dagu; di mana saat ini ia tengah duduk di kursi Direktur yang berada di bagian paling ujung dari meja rapat. Namun, walaupun begitu Jungkook tetap mendengarkan apa yang sedang dipresentasikan oleh salah seorang pegawai kantornya di depan ruangan.

Pria-pria dalam balutan jas formal yang memiliki jabatan strategis di perusahaan itu pun sudah tak acuh akan tingkah Bos muda mereka; meski ketidaksukaan mereka terhadap sosok Jungkook semakin lama semakin besar. Dan, sudah dapat ditebak jika setelah rapat siang ini berakhir, mereka semua akan sibuk membicarakan segala macam keburukan keluarga Jeon dan betapa sok berkuasanya pemuda manis itu.

Jungkook menutup mulutnya dengan sebelah tangan ketika ia menguap—tepat setelah presentasi di depan sana selesai disampaikan. Beberapa orang yang ada di ruangan itu saling melirik satu sama lain, lalu kemudian mendecih pelan. Dan, hal seperti itu pun sudah biasa Jungkook rasakan.

"Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk penjualan tahun ini. Seperti yang kita ketahui, bahwa produk makanan instant kita lebih unggul dari perusahaan lain." Jelas salah seorang Manajer Quality Control yang bernama Yoo Yeon Seok.

"Bagaimana dengan produk makanan bayi kita ?" tanya Jungkook yang kini bersandar dengan santai di kursinya. Dan hanya dengan melihat tatapan mata Jungkook, agaknya membuat Yeon Seok yan masih berdiri di depan ruangan menjadi gugup.

Jeon Jungkook―di usianya yang baru saja menginjak sembilan belas tahun, pemuda itu memiliki kemampuan untuk membuat orang lain menyukainya, sekaligus membencinya dalam waktu yang bersamaan.

Yeon Seok memejamkan matanya sejenak, lalu menarik napas sebelum kembali mendongak untuk balas menatap Jungkook, "Produk tersebut mengalami sedikit penurunan penjualan dibandingkan bulan lalu. Lebih tepatnya, sejak kita mengganti kemasan produk." Jawabnya; merasa ragu dan juga cemas.

"Jadi…" Jungkook mengangkat punggungnya, kemudian menekuk kedua sikunya ke atas meja. "Anda ingin mengatakan bahwa desain kemasan produk yang kubuat tidak menarik ?" Lanjutnya dengan intonasi suara yang direndahkan—membuat Yeon Seok salah tingkah di tempatnya berdiri.

"Saya memiliki saran, ada baiknya jika kemasan produk tersebut kita ganti." Ujar seorang pria yang duduk disisi kanan meja.

Jungkook menatapnya beberapa saat, sebelum berujar, "Baik. Kalau begitu, kumpulkan semua desain kemasan yang ada dan serahkan padaku. Aku ingin lihat kemasan produk yang bisa menarik produsen seperti yang kalian maksud." Katanya lalu meraih pena untuk menuliskan sesuatu pada selembar kertas yang ada di hadapannya."Ah, ya…" Jungkook kembali mengangkat wajahnya. "Aku baru saja mendapat laporan jika beberapa hari yang lalu ada petugas dari kantor pajak yang datang untuk menagih pajak perusahaan yang belum dibayarkan selama dua tahun. Ada yang bisa menjelaskannya padaku ?" tanyanya sambil menilik satu persatu wajah-wajah yang berada di ruangan itu.

Namun, mereka semua hanya diam bahkan tidak ada satu orang pun yang berani menatapnya.

"Anda bisa menjelaskan sesuatu Kyuhyun-ssi ?" tanyanya lagi. Tatapan mata Jungkook kini tertuju pada seorang pria berusia dua puluh delapan tahun yang menjabat sebagai Manajer Keuangan di perusahaan tersebut.

Kyuhyun segera bangkit berdiri lalu mengadap ke arah Jungkook, "Saya berencana untuk melaporkan perihal ini kepada anda setelah rapat berakhir, tapi karena anda sudah lebih dulu mengetahuinya―saya minta maaf atas kelengahan saya untuk hal ini." Kyuhyun sedikit membungkukkan badan.

"Tidak sepenuhnya salahmu. Ini perusahaan besar, tapi tidak cukup besar sebagai tempat berkumpulnya orang-orang yang serakah." Kata Jungkook santai, namun tak ayal karena perkataannya barusan membuat semua orang yang berada di dalam sana semakin bungkam.

"Saya akan segera mencari tahu." Ujar Kyuhyun lagi.

Jungkook mengangguk, "Lakukan, dan aku ingin semua laporan keuangan perusahaan dalam kurun waktu lima tahun terakhir berada di atas mejaku sore ini. Dan, hubungi juga cabang perusahaan lainnya."

"Saya mengerti." Kyuhyun menundukkan kepalanya lagi dengan sopan, kemudian kembali duduk.

Jungkook membiarkan suasana hening mendominasi untuk beberapa saat, dengan tatapan matanya yang datar dan juga mengintimidasi sehingga tidak ada satu orang pun yang sama sekali berani mengangkat wajahnya.

"Aku tidak perduli dengan apa yang kalian lakukan di belakangku, tapi tidak akan kubiarkan satu orang pun dari kalian, siapa pun dia, menghancurkan apa yang sudah dibangun oleh Ayahku selama masa hidupnya." Ucapnya tegas namun tetap tenang.

"Anda mencurigai kami semua ?" tanya Sehun yang terlihat tidak terima atas tuduhan Jungkook. Jungkook beralih menatapnya.

"Ya." Jawabnya lugas. "Tidak ada satu orang pun yang bisa ku percaya di tempat ini dan aku tidak mau bekerja dengan orang-orang yang tidak berkompeten. Jadi, jika tidak ada yang menyatakan diri bertanggung jawab akan hal ini, tunggu sampai aku menemukan orangnya dan kalian akan tahu apa yang akan kulakukan." Ancamnya kemudian.

"Anda berbicara seolah kami semua tidak memiliki sisi baik, Tuan Muda Jeon…" Kris Wu angkat bicara.

"Jangan berpikir bahwa aku tidak tahu apa saja yang kalian bicarakan tentangku dan juga keluargaku di belakangku, dan apa saja yang kalian lakukan di luar ruangan ini. Kakiku memang cacat, tapi mataku tidak buta dan telingaku tidak tuli." Jungkook mengedarkan tatapan tajamnya pada peserta rapat.

Hening sejenak.

"Rapat selesai." Cetusnya kemudian.

Helaan napas lega terdengar diantara suasana tegang yang sejak tadi melingkupi ruangan rapat itu, dan setelahnya satu per satu para peserta rapat mulai meninggalkan ruangan tersebut. Jungkook sendiri masih duduk di kursinya, menyandarkan punggungnya dengan nyaman ketika ia melihat kehadiran seekor anjing berjenis Gembala Jerman yang duduk di samping kursi dan tengah menatapnya intens.

"Sudah beberapa hari ini aku tidak melihatmu, Mogu." Jungkook mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala anjing besar itu, dan si anjing menyalak riang.

Jungkook memberengut. "Kau lihat rapat tadi ? Apa menurutmu aku harus benar-benar mengganti kemasan produknya ?"

Guk! Mogu menjulurkan lidahnya. Jungkook memutar bola matanya malas lalu berdecak.

"Kau itu anjing yang sudah mati! Kenapa kau mengatakan hal yang sama seperti mereka dan juga si brengsek Taehyung ?!" cibirnya lucu.

Bahkan arwah seekor anjing saja mengenal tabiat Jungkook.

Mogu bangkit berdiri dan mengusapkan bulu-bulunya di sekitar kaki Jungkook. Pemuda itu baru saja hendak membungkuk untuk mengusap bulu anjingnya ketika pintu ruang rapat terbuka dan sosok Taehyung muncul dari sana.

"Kenapa lama sekali ?" Jungkook bertanya dengan setengah kesal.

"Lift nya macet dan aku terjebak di dalamnya." Jawab Taehyung yang telah berdiri di dekat kursi Jungkook.

Jungkook mengerutkan keningnya, "Memangnya kau dari mana ?"

"Hyuna datang kemari, karena tidak bertemu denganmu dia memaksaku untuk menemaninya ke lobi."

"Untuk apa tante-tante itu datang ke sini ?"

"Entahlah, dia tidak mengatakan apa pun."

"Pasti dia datang ke sini untuk menggodamu kan ?" kekesalan terdengar jelas dalam nada suaranya.

"Sayangnya aku tidak tertarik."

Jungkook merentangkan tangannya, "Lalu apa yang membuatmu tertarik ?" tanya Jungkook. Taehyung meraihnya lalu mengangkat tubuh ringkih itu.

"Aku lebih tertarik dengan orang yang selalu merengek padaku tapi selalu berkata 'aku bisa melakukannya sendiri' jika sedang marah." Jawab Taehyung santai. Jungkook yang berada di gendongan pemuda itu menyipitkan mata karena merasa tersindir.

"Cuma kau yang bisa seenaknya bicara seperti itu. Ayo kita pergi Mogu!" Jungkook memanggil anjingnya, lalu meletakkan dagunya di pundak Taehyung.

"Mogu ?" ulang Taehyung.

"Ya. Dia ada di sini." Seperti anak yang tengah digendong ayahnya, Jungkook tampak nyaman di bopong seperti itu. Mereka telah keluar dari ruang rapat dan kini menuju ke ruang kerja Jungkook.

"Kau bilang Mogu tidak pernah muncul lagi."

Jungkook menggeleng pelan, "Entahlah, tiba-tiba saja dia duduk di sebelahku setelah rapat selesai."

Pemandangan seperti ini sudah biasa terlihat di sana. Semua para staff perusahaan pun tahu jika pemilik perusahaan ini adalah seorang pemuda yang bahkan belum genap berusia dua puluh tahun, juga tidak bisa berjalan.

Taehyung menurunkan Jungkook di kursi kerja miliknya dengan perlahan, dan pemuda manis itu langsung memasang wajah masam ketika melihat tumpukan kertas yang menggunung dan bisa membuatnya sakit kepala seharian.

"Aku sudah membacanya, tidak perlu dibaca lagi. Tanda tangani saja." Kata Taehyung yang sudah mengerti akan perubahan raut wajah Jungkook.

Jungkook menoleh pada Taehyung. "Benarkah ?" Taehyung mengangguk. "Bagus! Sekarang aku mau cemilan manis." Ucapnya seraya meraih pena dan mulai memilah-milah lembaran kertas yang berisi laporan perusahaan dan mulai menanda tanganinya satu per satu.

"Sudah kusiapkan." Taehyung beralih ke meja kaca di ruangan tersebut, kemudian mengambil sebuah kotak kue berukuran kecil. Taehyung menyiapkan sepotong Red Velvet di atas piring kecil, lalu ia meletakkan kue berwarna merah itu di meja―tepat di hadapan Jungkook.

Pemuda manis itu dengan tidak sabar mulai memotong kue nya dengan garpu kecil dan melahapnya. Tapi baru saja mengunyah, sebuah kerutan menghiasi kening Jungkook dan setelah itu, ia menyambar selembar tisu dan memuntahkannya kembali."Ini tidak manis!" protesnya kepada Taehyung, menatapnya kesal.

"Memang tidak. Red Velvet itu dibuat dengan gula khusus."

"Kalau begitu carikan yang lain."

"Tidak. Hanya kue semacam itu yang boleh kau konsumsi." tegas Taehyung memperingati.

Jungkook menggeram, semakin kesal. "Kim Taehyung… kau mau membunuhku ?!"

"Kau yang akan membunuh dirimu sendiri jika kubiarkan makan makanan selain yang sudah ditetapkan. Tadi pagi, kau juga tidak meminum obatmu kan ?" tanya Taehyung ofensif.

Jungkook mengusap wajahnya kasar, lalu menghela napas gusar. "Aku lupa, nanti akan ku minum. Sekarang cepat bawakan cemilan lain yang lebih manis."

"Tidak."

"Akan ku suruh Mogu menggigitmu!" Ancam Jungkook.

"Aku tidak keberatan kalau memang bisa." Ujar Taehyung menantang.

Jungkook meletakkan penanya karena kesal, lalu melirik Mogu yang masih setia duduk di samping kursinya. Anjing itu sangat besar dengan bulu tebal berwarna hitam dan coklat, sebuah kalung yang pernah Jungkook pasangkan masih menghiasi lehernya meskipun anjing itu sudah lama mati. Mogu memang sangat dekat dengan dirinya, mungkin karena hal itulah setelah mati pun anjing itu tetap mengikutinya, walaupun kadang kala dia tiba-tiba menghilang.

Taehyung tidak ingin mengusik lamunan Jungkook. Pemuda bersurai dark blue itu justru memperhatikannya dengan pandangan lembut dibalik sorot matanya yang tajam. Sudah delapan tahun dirinya bersama Jungkook dan selalu setia berada disisinya. Membuatnya semakin perduli, dan lambat laun rasa perduli itu berubah menjadi rasa ingin melindungi.

Karena, meskipun Jungkook terlihat kuat dan jahat. Taehyung hanya menganggap hal tersebut sebagai salah satu bentuk pertahanan diri dari Jungkook. Dan sudah delapan tahun pula sejak peristiwa kebakaran yang menewaskan ibu dan kakak perempuannya dan sejak saat itulah, sosok manis Jungkook disetiap detiknya berubah menjadi sosok yang rapuh.

"Kenapa ?" tanya Jungkook seraya mengangkat wajahnya dan menatap bingung pada Taehyung yang tiba-tiba mengusap rambutnya disaat dirinya tengah mengobrol dengan Mogu. Taehyung segera menarik tangannya dan terlihat bingung dengan apa yang baru saja ia lakukan."Apa kau mulai berpikir untuk membelikanku cemilan lain ?" tanya Jungkook sedikit antusias.

"Tidak." Jawab Taehyung datar.

Jungkook berdecak malas, "Kau satu-satunya bawahan yang tidak patuh dengan atasanmu." Cibirnya. "Kalau begitu aku mau keluar saja, aku ingin ke Lotte Mart." Ujarnya kemudian, masih diliputi rasa kesal.

"Untuk apa ke sana?"

"Inspeksi. Aku ingin tahu apakah supermarket itu berjalan lancar atau tidak. Sudah enam bulan sejak Grand Opening."

Taehyung hendak meraih tangan Jungkook, namun tiba-tiba setetes darah keluar dari hidung pemuda itu. Lantas, dengan cepat ia segera menyambar tisu di atas meja dan membersihkan darah yang keluar. Jungkook tersentak kecil; sedikit kaget karena gerakan refleks dari Taehyung. Tapi atas tindakan pemuda itu, ia langsung paham akan apa yang terjadi.

Taehyung menatap Jungkook tepat di matanya, wajah pemuda itu mulai terlihat pucat. "Minum obatmu." Titahnya kemudian. Selagi ia memegangi tisu yang digunakan untuk mengusap darah yang menetes dari hidung Jungkook, satu tangannya yang lain membuka laci meja teratas dan mengambil kotak kecil berisi obat-obatan milik pemuda itu.

Jungkook segera menelan habis obat-obatnya yang telah dipersiapakan oleh Taehyung. "Ayo berangkat." Ajaknya seraya meletakkan gelas berisi air putih ke atas meja.

"Kita tidak akan ke mana-mana, kau harus beristirahat." Kata Taehyung tegas.

"Aku sudah minum obatnya kan ?"

"Kau harus istirahat." Ujar Taehyung lagi, sengaja menekankan kata disetiap kalimat yang diucapkannya.

Jungkook mendesah lelah, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dibelakangnya. "Kau tidak mau mencarikan cemilan dan disaat aku mau bekerja kau malah menyuruhku tidur. Apa maumu sebenarnya, Kim Taehyung?!"

"Tidur. Aku mau kau tidur, Tuan Muda Jeon."

"Tidak!" tolak Jungkook, ia berpikir beberapa saat sebelum kembali berkata. "Baiklah, aku akan tidur tapi belikan dulu sesuatu yang manis."

"Tidak bisa."

Ya Tuhan.

"Susu ?" Taehyung tetap bergeming. "Ternyata kau lebih keras kepala daripada aku." Cemooh Jungkook.

"Begini saja. Kau bisa memberiku makanan atau apapun yang ukurannya lebih kecil." Jungkook masih mencoba untuk bernegosiasi, namun Taehyung tetap tidak menggubrisnya. Sialan. "Meski yang ku minta itu bibirmu ?"

Sorot menantang. Pemuda bersurai dark blue itu menatap Jungkook lekat. Dan tanpa Jungkook duga jika Taehyung mencodongkan tubuh dan mencium bibirnya. Jungkook refleks memejamkan mata ketika Taehyung membawanya pada ciuman yang semakin dalam dan memabukkan, Taehyung membimbing tangan Jungkook untuk melingkari lehernya.

Tanpa melepaskan tautan bibir mereka , Jungkook menarik lepas sarung tangan putih yang selama ini melindungi tangan kanannya, lalu meremas rambut dark blue milik Taehyung.

Taehyung pintar menjaga ritme untuk tetap pada ciuman yang selalu membuat Jungkook melayang. Dan ia tahu di mana batasan pada diri Jungkook, tidak bisa lebih lagi karena pemuda manis itu mulai kehabisan napas. Taehyung segera melepaskan tautan bibir mereka, lalu mengusap bibir merah Jungkook yang basah akan saliva dengan ibu jarinya.

"Sudah cukup, Manis ?" tanya Taehyung; sedikit menggoda. Jungkook mengulum bibirnya, mencecap rasa manis yang tertinggal di sana.

"Apa yang kau makan ?" tanyanya balik.

"Permen. Sekarang waktu mu untuk istirahat." Taehyung mengangkat tubuh Jungkook dengan mudah, dan membawa tubuh ringkih itu ke arah salah satu sofa yang berada, lalu membaringkan Jungkook di atas sana.

"Tidur. Aku akan duduk di sofa sebelah." Ujarnya, lalu mencium kening Jungkook lembut. Jungkook mengangguk patuh; merasa tidak mampu lagi melawan. Karena Taehyung lebih keras kepala dari pada dirinya.


tbc

Otsu & Christal