Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu.
Re-writing & editing by Christal Alice.
Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook
Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.
Warning! BL. AU.
Part. 3
"Tunggu!"
Jungkook membelalak dengan deru napas yang tidak beraturan. Tangan kanannya terangkat ke udara―seolah ingin menggapai sesuatu. Keringat dingin membasahi kulit di sekitar kening dan leher Jungkook, padahal suhu yang berasal dari air conditioner di kamar tersebut cukup sejuk. Seulas senyum sang Ibu yang tercetak di dalam sebuah lukisan yang menghiasi langit-langit kamarnya menyadarkan Jungkook dari keterpakuan.
"Apa lagi ini…"Jungkook mendesah lirih seraya mengusak helaian rambut hitamnya, tak habis pikir akan mimpi buruk yang terus menerus menghantuinya.
Sebuah sentuhan lembut pada jemari di tangan kirinya membuat Jungkook refleks menoleh, dan ritme detak jantungnya yang sempat meningkat perlahan berangsur normal ketika melihat Mogu lah yang ternyata tengah berbaring di sampingnya.
"Kau―pantas saja aku mimpi buruk lebih dari biasanya." Gumam Jungkook, namun tak urung ia mengelus kepala anjing itu.
Dengan sedikit tertatih, Jungkook berusaha bangkit untuk duduk lalu menata bantal di belakang punggungnya sebagai sandaran. Tanpa menunggu perintah darinya, Mogu bangkit untuk beralih duduk di pangkuan Jungkook.
"Apa kau tahu di mana Taehyung ?" tanya Jungkook seraya mengelus kembali kepala Mogu. Anjing Gembala Jerman itu hanya diam menatap Jungkook dengan kedua mata bulatnya yang cemerlang. "Keluar ? Sudah lama ? Ya aku tahu, jangan menatapku seperti itu!" cetus Jungkook lalu menepuk pelan puncak kepala Mogu dengan gemas.
Jungkook menghela napas pelan, menikmati waktu santainya dengan mengusap-usap bulu lembut milik Mogu. Dalam keheningan itu, ingatan Jungkook kembali melayang pada masa-masa sebelum peristiwa mengerikan yang menimpa anggota keluarganya dan juga anjing kesayangannya.
Sejak kecil, Jungkook bisa melihat semua arwah yang berada di sekelilingnya dan Jungkook tidak pernah mempersalahkan hal itu, tetapi, satu hal yang membuatnya sedih adalah; tidak pernah sekalipun dirinya berhasil menemukan keberadaan arwah sang Ibu ataupun kakak perempuannya sejak kematian mereka.
"Kau juga tidak pernah bertemu dengan Yein noona bukan ?" Jungkook menatap mata bulat Mogu lalu menengadah untuk memandangi lukisan keluarganya yang terukir dengan sangat artistik di atas langit-langit kamarnya. Jungkook sangat merindukan mereka.
'Memang tidak pernah.' sahut sebuah suara lembut dengan tiba-tiba. Jungkook memberengut, lalu beralih melihat ke asal suara—arwah seorang wanita muda berambut ikal, mengenakan dress putih dengan kulit sepucat salju kini tengah berdiri di depan ranjangnya
"Aku tidak sedang berbicara padamu!" kata Jungkook dengan nada ketus seperti biasa. Selalu saja seperti ini, Jungkook merasa tidak pernah bisa menikmati waktu santainya seorang diri, ada saja berbagai macam hal yang akan mengganggu ketenangannya.
'Apa itu anjingmu ?" tanya wanita itu acuh, mengabaikan sikap tidak bersahabat dari Jungkook. 'Kenapa dia mati.' Lanjutnya lagi penasaran.
"Kenapa tidak kau tanyakan saja sendiri padanya ?"
Wanita itu memutar bola matanya malas. 'Seharusnya kau bicara lebih baik padaku, Kookie. Kau kan masih membutuhkan bantuanku…' ujarnya seraya memainkan ujung rambutnya yang tergerai.
Jungkook hanya menatapnya datar. "Cepat katakan, informasi apa yang kau dapatkan." Kata Jungkook terkesan memerintah.
'Tidak ada apa pun hari ini. Aku sudah melakukan apa yang kau minta. Tapi aku tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.' Jelas wanita itu.
Jungkook termenung sejenak, "Kau yakin ?" tanyanya kemudian, wanita itu mengangguk mantap. "Lalu, kalau bukan dia, siapa lagi? Yang paling membenciku di tempat itu kan hanya Oh Sehun."
'Tapi dia orang yang jujur.'
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu ?"
'Aku kan mengikutinya seharian. Lagi pula, menurutku seharusnya kau patut mencurigai orang yang tidak pernah memancing kecurigaanmu.'
Jungkook mengernyit, "Jangan bicara sembarangan."
Arwah wanita itu hanya mengangkat bahu kecil. 'Aku hanya mengutarakan pendapatku.' Katanya lagi.
Suara ketukan pada pintu kamar Jungkook menginterupsi perbincangan mereka. Pemuda itu segera menyahut, "Masuk," dan tak lama pintu kamar itu terbuka. Sosok Seokmin muncul dari sana sambil membawa sebuah napan berisi makanan―bersamaan dengan itu, baik Mogu maupun arwah wanita yang tadi berbicara dengan Jungkook pun menghilang.
"Ada apa ?" tanya Jungkook. Cukup terheran-heran akan kehadiran satu anak buah dari Taehyung itu di kamarnya, tidak biasanya.
"Maaf. Saya diperintahkan ketua Kim untuk membawakan makan malam untuk anda." Jawab Seokmin.
"Bagaimana bisa dia memberimu perintah seperti itu?" Jungkook bergumam pelan namun cukup terdengar dengan jelas oleh Seokmin.
"Ketua bilang kalau Tuan Muda selalu terbangun di jam-jam seperti ini."
Jungkook melirik Seokmin dan akhirnya menyuruh pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu masuk. Tepat ketika Seokmin melangkahkan kakinya mendekati ranjang Jungkook untuk meletakkan napan tersebut di atas meja nakas, tampak arwah seorang gadis berwajah sangat mirip dengan Seokmin berdiri di ambang pintu dengan mengenakan piyama biru muda khas rumah sakit. Jungkook hanya mengacuhkannya meskipun saat ini arwah itu tengah menatapnya dengan sorot mata yang dipenuhi dengan kebencian.
"Apa terjadi sesuatu ?" tanya Jungkook setelah Seokmin meletakkan napan di atas meja stand night yang berada di sisi kiri tempat tidurnya.
"Hanya masalah kecil. Alat sensor di taman belakang rusak karena ulah anjing-anjing liar tadi pagi."
"Apa tidak ada yang bisa memperbaikinya selain Taehyung ?"
"Tidak. Karena perangkat sensornya berbahasa Jerman dan hanya ketua yang menguasai beberapa bahasa."
Jungkook menghela napas, lalu mengangguk paham. "Baiklah. Kau bisa keluar."
"Apa Tuan Muda tidak membutuhkan sesuatu ?"
Jungkook hanya menggeleng pelan. Seokmin membungkuk sopan sebelum keluar dari kamar itu. Namun, arwah gadis yang sejak tadi berdiri di samping Seokmin tetap berada di sana; berdiri diam di tempatnya dan hal itu membuat Jungkook terheran-heran.
"Apa maumu ?" tanya Jungkook pada akhirnya. Lagi-lagi, arwah gadis itu hanya diam menatap Jungkook; masih dengan sorot mata yang dipenuhi dengan kebencian, atau mungkin juga bisa dikatakan dendam. "Keluar dari sini. Kamarku bukan tempat untuk berkumpul makhluk-makhluk seperti kalian." Lanjutnya sinis.
Arwah gadis itu mengepalkan tangannya erat, merasa semakin kesal.
"Aku tidak mengenalmu dan juga sebaliknya. Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku membakarmu." Tukas Jungkook dengan nada yang tidak bersahabat sama sekali, gadis itu tetap bergeming dan bola matanya kini berubah warna menjadi merah.
Merasa tidak ada pilihan lain, Jungkook memutuskan untuk melepaskan sarung tangan berwarna putih yang selama ini melindungi tangan kanannya—menutupi sebuah simbol pentagram yang berada di punggung tangan kanannya. Simbol yang berfungsi untuk membakar arwah-arwah jahat yang mengganggu dirinya.
Tepat setelah Jungkook menarik lepas sarung tangan itu, suhu udara di kamarnya mendadak berubah dan ketika Jungkook kembali mengangkat wajahnya, kedua bola matanya sontak terbelalak melihat arwah gadis itu bergerak sangat cepat kearahnya dengan penuh amarah.
Membuat tubuh ringkih Jungkook terjatuh ke lantai dengan kepala menghantam laci meja stand night dengat sangat keras. Arwah gadis itu berusaha masuk ke dalam tubuhnya yang lemah, dan sayangnya saat ini Jungkook tidak memiliki cukup tenaga untuk membentengi diri.
.
.
"Selesai. Kalian sudah mengerti caranya ?" Taehyung menatap bergantian pada kedua anak buahnya. Kedua orang itu mengangguk tanda paham.
"Kami mengerti." Jawab Zelo seraya menutup kembali kotak besi yang berfungsi sebagai pusat kendali seluruh sensor di halaman belakang.
"Jika anjing-anjing liar itu masuk ke halaman lagi, tangkap mereka dan hubungi pusat rehabilitasi hewan." Ujar Taehyung kemudian.
"Oke."
Taehyung menepuk pelan pundak Zelo sebelum melangkah keluar dari ruang pusat keamanan yang letaknya berada tepat di belakang bangunan utama rumah. Sambil berjalan masuk melewati pintu belakang, Taehyung sesekali melirik beberapa ruangan yang dilewatinya―memastikan jika tidak ada hal lain yang mencurigakan yang sekiranya bisa melukai sang majikan.
Karena sejak Ibu dan kakak Jungkook meninggal dalam kebakaran delapan tahun silam, disusul dengan ayahnya yang meninggal karena sakit keras. Semakin banyak orang yang membenci keluarga ini dan juga ingin menghancurkan sosok Jungkook.
Taehyung menilik arloji yang tersemat di pergelangan tangan kanannya sejenak ketika ia mulai menaiki tangga marmer untuk menuju ke lantai dua, lalu ke lantai tiga; di mana kamar Jungkook dan juga ruang santai milik pemuda itu berada. Dan lantai tersebut hanya bisa di akses oleh orang-orang tertentu yang hanya diberi izin oleh sang pemilik rumah.
Taehyung mengetuk pintu bercat di hadapannya beberapa kali sebelum membukanya. Tepat ketika ia melangkah masuk, Taehyung melihat Jungkook yang terduduk di lantai dan bersandar pada ranjang di belakangnya. Dan yang membuatnya kaget adalah pemuda itu menggenggam pecahan kaca dengan bagian ujungnya yang tajam mengarah pada urat nadi.
Melihat hal itu, Taehyung segera berlari cepat lalu menampik satu tangan Jungkook yang menggenggam pecahan kaca dengan kasar, menyebabkan pecahan kaca itu terlempar jauh dengan suara berisik nyaring. "Jungkook! Apa yang kau lakukan!" bentak Taehyung marah. Jungkook mengangkat wajahnya dan menatap Taehyung dengan ekspresi yang sulit di artikan; marah, kesal, sedih.
Lalu tiba-tiba, tubuh Jungkook limbung ke depan.
"Jungkook!" Panggil Taehyung keras seraya menggoncang pundak pemuda itu. Dengan perasaan cemas dan juga kekhawatiran yang teramat sangat, Taehyung menangkup wajah Jungkook yang pucat lalu memeriksa sorot mata pemuda itu yang tidak lagi kosong.
"Apa yang kau lakukan! Kau mau bunuh diri, hah?!" semprot Taehyung begitu Jungkook mengerjapkan matanya.
Jungkook mengernyit bingung, " Huh ? Bicara apa kau?" tanyanya balik, lalu menepis tangan Taehyung di pipinya. Dan saat itulah matanya melihat darah yang mengalir keluar dari luka-luka sayatan yang cukup dalam di tangan kirinya. Kedua mata Jungkook membulat, terkejut. "A-apa ini ? Kenapa tanganku—"
"Kau yang melakukannya dengan pecahan kaca itu." potong Taehyung cepat seraya menunjuk pecahan kaca yang berada cukup jauh dari mereka. Taehyung melirik ke sisi meja stand night di mana terdapat pecahan kaca lain dari gelas yang pecah dan berserakan di lantai. "Kau memecahkan gelas, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan." Cecarnya lagi sambil menatap Jungkook dengan tajam.
Jungkook semakin dibuat bingung ketika melihat pecahan gelas yang berserakan, "A-aku tidak melakukan apa pun, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berada di bawah—" seketika Jungkook terdiam ketika ingatannya kembali pada kejadian beberapa menit sebelumnya. "Pasti arwah gadis itu…" gumam Jungkook pelan, lalu menunduk memperhatikan luka-luka di tangannya.
Taehyung meraih dagu Jungkook untuk membuat mereka saling bertatapan, dan lagi-lagi ia dibuat terkejut ketika setetes air mata mengalir dari sudut mata indah itu.
"Kenapa menangis ?" Pandangan matanya kini berubah sendu. Entah mengapa, Taehyung merasakan sakit pada hatinya ketika melihat sosok manis itu menangis.
"Siapa yang menangis ?"
Dan Taehyung mengusap lembut pipi Jungkook lalu menunjukkan jarinya yang basah pada pemuda itu. Pemuda manis itu pun meraba pipinya dan dirinya merasakan air mata di sana, Jungkook segera mengusapnya cepat. Tetapi, meskipun berulang kali ia menyekanya, air matanya tetap saja mengalir keluar.
"A-air matanya tidak mau berhenti keluar." Jungkook mulai meracau, masih mengusap pipinya yang basah dengan panik.
Taehyung mendesah lirih, lalu menarik tubuh Jungkook ke dalam pelukannya. "Ssh… tidak apa-apa." ujarnya berusaha menenangkan majikan kecilnya itu. Jungkook tidak menolak dan yang ada air matanya semakin deras mengalir. "Kita obati tanganmu." Imbuhnya lagi. Jungkook menyandarkan kepalanya pada dada bidang sang bodyguard, dan melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu.
Isakan-isakan kecil meluncur dari bibir Jungkook, dan yang hanya bisa Taehyung lakukan hanyalah memeluk pemuda itu semakin erat.
"Selama hidupku… hanya dua hal yang selalu ku ingat." Jungkook terisak lirih. "Pertama, saat peristiwa kebakaran itu dan yang kedua saat pertama kali kau muncul di hadapanku." Jungkook meremas bagian belakang pakaian yang Taehyung kenakan. "Jangan tinggalkan aku, Taehyung…" Jungkook memohon.
Taehyung mengusap punggung Jungkook dengan sayang, lalu mencium puncak kepala pemuda itu. "Selama kau masih membutuhkanku di sini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana." Kata-kata yang Taehyung ucapkan terdengar tulus. Dan Jungkook percaya, kata-kata yang Taehyung ucapkan bukanlah bualan semata dan dirinya yakin jika Taehyung akan selalu berada di sisinya.
Karena Jungkook tidak ingin lagi di tinggal sendirian.
.
.
Suasana yang berbeda terlihat kentara di ruang kerja Direktur Utama hari ini. Masih dengan aktivitas yang sama setiap harinya, namun hal yang tidak biasa ditunjukkan oleh Jungkook di balik meja kerjanya. Sudah hampir satu jam pemuda itu hanya diam melamun sambil memandangi perban yang membalut lengan kirinya.
Meskipun Jungkook tidak ingin memikirkan atau bahkan mengingatnya, tetapi memori di dalam otaknya seolah memaksanya untuk mengingat kilas balik kejadian yang menimpa dirinya semalam. Jungkook sudah menyadari jika arwah gadis asing yang datang ke kamarnya bersama Seokmin lah yang merasuki tubuhnya dan melukai tangannya. Dan selama arwah gadis itu mendiami tubuhnya, sedikitnya Jungkook dapat melihat dan juga mendengar apa yang di katakan gadis itu.
'Aku benci manusia seperti. Apa kau pikir orang sepertimu pantas mendapatkan semua perhatian itu ? Kau hanya manusia cacat.'
'Gara-gara kau, kakakku mengabaikanku!'
'Kau seharusnya mati! Kau pantas mati! Seperti keluargamu yang terkutuk itu!"
'Kau sama seperti ayahmu yang sangat ku benci. Kalian hanya bisa merenggut kebahagiaan orang lain! Kau seharusnya mati!'
Jungkook refleks meremas dadanya yang tiba-tiba terasa ngilu, dan ia tidak tahu kenapa. Sudah sejak lama Jungkook tidak pernah lagi merasakan sakit pada hatinya, tidak pernah sejak Ibu dan Kakak perempuannya meninggal dunia. Semua itu karena didikan keras dari sang Ayah dan Jungkook tidak keberatan akan hal itu karena dengan begitu, tidak akan ada orang lain yang akan mendekatinya.
Jungkook tidak mengingkari semua yang dikatakan arwah gadis itu. Semua yang dia katakan memang benar. Tetapi, apakah benar bahwa dirinya telah merampas kebahagiaan orang lain ?
Seperti yang selalu dilakukan ayahnya ?
Jungkook menghembuskan napas panjang, memutuskan duduk bersandar untuk merilekskan otot tubuhnya yang sedikit tegang. Sorot matanya tampak redup ketika menatap layar laptop yang menampilkan sebuah grafik penjualan rata-rata per tahun perusahaan. Lalu, ia meraih sebuah proposal yang tertumpuk di antara berbagai dokumen lainnya di atas meja.
Jungkook membalik satu per satu lembar halamannya. Namun, sudah beberapa menit ia berusaha untuk fokus pada susunan kalimat-kalimat itu, tidak ada satu kata pun yang mampu diserap oleh otaknya.
"Ada apa denganku…." Desah Jungkook, merasa tidak nyaman akan dirinya sendiri. Dengan gusar, ia menutup wajahnya dengan proposal tersebut.
Suasana hening yang melingkupi ruang kerjanya, tak ayal membuat Jungkook mulai merasa mengantuk. Dan Jungkook memutuskan untuk tidur beberapa saat, melupakan semua permasalahan yang ada untuk sejenak.
Hingga pada akhirnya, ia benar-benar jatuh terlelap.
Tidak berlangsung lama, pintu ruang kerja Jungkook di buka oleh seseorang. Sosok Taehyung muncul dari sana dan melangkah mendekat, bersamaan dengan arwah seorang gadis yang mengenakan setelan kantoran muncul di dekat meja kerja Jungkook. Taehyung sempat terdiam beberapa saat― memandangi Jungkook yang menutupi wajahnya dengan sebuah dokumen.
Taehyung berjalan mendekat perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Lalu meraih proposal tersebut dan melihat majikan kecilnya itu tertidur dengan pulas. Taehyung meletakkan proposal itu kembali ke atas meja, kemudian dengan perlahan mengangkat tubuh ringkih Jungkook dan memindahkannya ke sofa.
Taehyung memastikan jika Jungkook telah berbaring dengan nyaman dan untuk sesaat ia hanya diam untuk memperhatikan wajah manis pemuda itu yang selalu terlihat pucat. Taehyung hendak bangkit berdiri ketika tanpa sengaja ia melihat bulir air mata yang mengalir dari sudut mata Jungkook.
Taehyung termenung melihat hal itu. Aneh rasanya melihat air mata itu lagi setelah semalam ia melihat Jungkook menangis.
Kali ini, apa yang membuat pemuda itu menangis ? Apakah mimpinya sangat buruk hingga Jungkook menangis di dalam tidurnya ?
Tangan Taehyung terulur untuk mengusap air mata Jungkook, kemudian ia melepas jas hitam yang dikenakannya untuk menyelimuti tubuhnya. Dan seperti yang selalu dilakukannya, Taehyung sedikit menunduk untuk mencium kening pemuda manis itu.
Setelah itu Taehyung beranjak keluar dari ruang kerja Jungkook karena masih ada banyak hal yang harus ia kerjakan. Dan arwah seorang gadis yang masih berdiri di dekat meja kerja Jungkook—yang sejak tadi memperhatikan semua gerak-gerik Taehyung ―segera mengalihkan pandangannya kembali pada Jungkook yang tertidur di sofa.
"Laki-laki seperti itu pasti sudah banyak membuat para wanita patah hati." Ucapnya seraya memegangi dada.
tbc
Otsu & Christal
