Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu.
Re-writing & editing by Christal Alice.
Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook
Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.
Warning! BL. AU.
Part. 4
GS for Seokjin yang hanya numpang nama. Gomennasai.
...
Tepat pada pukul tujuh pagi, Jungkook telah menghabiskan sarapannya yang sangat sehat. Tidak pernah sedikit pun terlihat ada sisa makanan yang tersisa di atas mangkuk dan juga piring lauknya. Dan hal itu menjadi salah satu sisi positif seorang Jeon Jungkook―bahwa pemuda itu tidak pernah menyisakan makanan meskipun sejak bertahun-tahun yang lalu ia harus mengkonsumsi makanan yang bisa dibilang hambar; akibat penyakit diabetes yang menyerang tubuhnya, menyebabkan Jungkook harus benar-benar mengatur menu makanan apa saja yang boleh dikonsumsinya.
"Hyung tahu aku bisa melakukannya sendiri." Gerutu Jungkook sambil membenahi gulungan lengan kemeja coklat yang ia kenakan. Sedangkan Namjoon—kakak sepupunya―segera memasukkan bekas jarum suntik —yang baru saja ia gunakan untuk menyuntikkan insulin ke dalam tubuh Jungkook―ke dalam kantong plastik bening dan siap untuk dibuang.
Namjoon menggeleng pelan, sudah tidak heran akan sikap Jungkook yang hampir—selalu―menolak bantuan yang ia berikan. "Sebagai saudara sekaligus dokter pribadi keluarga ini, aku hanya ingin membantumu." Ujarnya santai. Sejak ayah Jungkook meninggal, Namjoon telah tercatat sebagai wakil resmi dari Jungkook. "Dan juga, aku masih tidak menyerah untuk menyuruhmu melakukan terapi." Lanjutnya.
Jungkook melirik dari sudut matanya lalu berkata, "Apa Hyung masih tidak mengerti ? Kakiku tidak akan pernah bisa sembuh meskipun diobati seumur hidup." Jawabnya sarkastik.
"Memangnya kau sudah mencoba ? Belum kan ?"
Jungkook tertawa sinis, "Untuk apa ? Percuma." Cetusnya lagi, "Adanya keluarga ini saja adalah sebuah kesalahan, keluarga ini dikutuk dan hanya aku satu-satunya yang bisa bertahan." Dalam keadaan cacat.
Namjoon menggeleng pelan, lantas menepuk kepala Jungkook sayang. "Jangan bicara seperti itu. Ayah dan Ibumu akan sangat sedih jika mendengarnya."
"Hyung tahu gosip itu sudah beredar luas,tidak ada satu pun orang yang tidak membicarakan hal itu. Bahkan semua orang yang bekerja di bawah JAPFA Group membicarakan kapan aku akan berakhir seperti mereka."
Namjoon mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping Jungkook, lalu memandang lurus ke arah adik sepupunya itu. "Tidak seperti itu Jungkook, semua ini takdir. Tidak ada yang namanya kutukan." Jelasnya berusaha memberi pengertian pada pemuda itu.
Jungkook balas menatap Namjoon, memandangnya dengan tatapan datar. "Benarkah ? Lalu, apa Hyung bisa menjelaskan padaku kenapa semua wanita dalam keluarga kita selalu berakhir tragis." Tanya Jungkook ofensif, "Ibu, Yein noona bahkan Seokjin noona ? Kenapa mereka semua mati dalam keadaan tragis?"
Namjoon menghela napas panjang, bahunya terkulai lesu setiap kali harus mengingat istrinya, Seokjin. "Yang jelas, itu tidak ada kaitannya dengan yang namanya kutukan." Cukup sulit bagi Namjoon untuk menjelaskan pada Jungkook yang selalu saja mengira bahwa keluarga mereka telah dikutuk. Otak pemuda itu sudah terdoktrin oleh perkataan orang-orang di sekelilingnya. "Percaya padaku, ini semua hanya permainan takdir, Jungkook. Tidak ada yang namanya kutukan."
"Anggap saja Hyung benar. Semua yang dilakukan ayahku, apa yang menjadi obsesinya, semua dia korbankan untuk hal itu. Tidak perduli semenderita apa istri dan anaknya." Jawab Jungkook dingin.
Namjoon sedikit membungkuk, membuat pandangannya berada dalam satu garis yang sejajar dengan mata milik Jungkook. "Anggap saja kau juga benar dan aku tidak akan menyerah untuk mengajakmu melakukan terapi." Ujarnya tegas. Jungkook membuang muka dan menepis tangan besar Namjoon yang masih berada di atas kepalanya.
"Aku baru tahu dokter sepertimu punya banyak waktu luang untuk mengurusiku." Gumam Jungkook pelan namun Namjoon bisa mendengarnya dengan cukup jelas.
"Baiklah. Nanti malam aku akan datang lagi." ujar Namjoon seraya bangkit berdiri lalu meraih tas kerja dan juga jas putih dokter miliknya. Sebelum Namjoon benar-benar beranjak dari sana, Jungkook teringat akan sesuatu. Pemuda itu pun segera merogoh saku blazernya dan mengeluarkan sebuah amplop putih tipis, kemudian memberikannya pada Namjoon.
"Berikan ini pada Kairi dan Ken. Sudah lama aku tidak melihat mereka."
Namjoon yang sedang memakai jas kerjanya menatap amplop putih itu sejenak sebelum menerimanya, "Apa ini ?" tanyanya penasaran sambil membolak-balikkan amplop itu.
"Tiket bermain di Everland. Pemiliknya sendiri yang memberikannya padaku."
"Wow, Kairi dan Ken pasti akan senang menerimanya." Namjoon tersenyum tulus menatap Jungkook, namun pemuda manis itu justru pura-pura tidak melihat, tak ayal membuat Namjoon merasa gemas."Aku harus pergi sekarang. Jaga dirimu, Jungkook." pamit Namjoon kemudian, dan sekali lagi tangannya terulur untuk mengusak surai hitam milik Jungkook.
Seperti biasa, Jungkook tidak merespon dan hanya memperhatikan kepergian kakak sepupunya itu dalam diam. Dan Jungkook dapat melihat, tepat di depan pintu ruang makan, pria itu berpapasan dengan Taehyung dan juga Seokmin yang memegang sebuket bunga Lily putih; mereka saling bertukar sapa dan tak lupa menunduk sopan.
Jungkook mengerutkan keningnya ketika melihat arwah seorang wanita yang mengenakan setelan kantoran; kulit sepucat salju dengan rambut terkuncir rapi dan wajah penuh senyuman seraya memeluk lengan kanan Taehyung. Tanpa Jungkook sadari, kini kedua matanya tengah memicing; menatap tajam kepada arwah wanita asing itu.
"―Muda ? Tuan Muda ?" suara berat milik Taehyung menyadarkan Jungkook dari rasa kesal tak beralasan yang ia rasakan. Pemuda manis itu beralih menatap kedua pekerja yang berdiri di samping meja makan.
"Saya membawa Seokmin ke sini." Ucap Taehyung. Pemuda itu mengernyit heran melihat raut wajah Jungkook yang mendadak terlihat kesal. Kenapa ?
"Ah ya, kau boleh pergi." Kata Jungkook, wajahnya tampak memberengut ketika menatap arwah wanita yang masih bergelayut manja di lengan Taehyung. Satu alis Taehyung terangkat —semakin heran, namun tak urung segera beranjak pergi meninggalkan ruang makan tersebut. Dan hal itu cukup membuat Seokmin mendadak gugup memikirkan kenapa dirinya di panggil oleh sang majikan.
Jungkook berdehem pelan sebelum berujar, "Kau sudah membeli bunganya ?" tanya Jungkook, menatap lurus pada Seokmin.
"Sudah, ini bunga pesanan anda." Seokmin meletakkan sebuket bunga Lily putih ke atas meja makan, tepat di hadapan Jungkook.
Jungkook memandangi bunga Lily putih itu untuk beberapa saat, bunga yang juga disukai kakak dan ibunya. " Dan, apa kau juga sudah mengambil cuti ?" tanya Jungkook lagi yang dibalas anggukan oleh Seokmin.
"Sudah. Saya mengambil cuti selama tiga hari."
Jungkook menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya, "Adik perempuanmu baru saja meninggal dunia bukan ?"
Lagi-lagi Seokmin mengangguk ragu. "Benar. Sudah dari beberapa hari yang lalu, karena itu saya mengambil cuti." Jawabnya kemudian.
"Kenapa dia meninggal?" Kesedihan terdengar dalam nada suaranya.
Seokmin menunduk, menatap lantai marmer dibawahnya dengan sendu. Kedua tangannya terkepal di masing-masing sisi tubuhnya, "Sejak kecil tubuhnya lemah. Dua minggu yang lalu dia di rawat di rumah sakit, saya berjanji untuk datang menemaninya, tetapi saya terlambat…"
Sejenak, Jungkook mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku turut berduka. Ucapnya di dalam hati. "Liburlah hari ini. Kunjungi makam adikmu dan berikan bunga ini kepadanya." Kata Jungkook setelahnya. Seokmin mengangkat wajahnya, cukup terkejut ketika mendengar kata-kata itu meluncur dari bibir Jungkook.
"Apa yang―"
"Aku bukan ayahku yang bisa merebut kebahagiaan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri. Aku tidak seperti itu." Rahang Jungkook terkatup ketika mengatakan hal itu, berusaha menahan kekesalannya sejak bertahun-tahun lalu terhadap sang ayah meskipun pria itu telah tiada. Namun, semua perilaku buruknya terhadap orang lain terus saja menghantui Jungkook dan membuatnya benar-benar muak sekaligus merasa bersalah. "Aku tidak senang melihat orang lain menderita. Liburlah untuk hari ini, dan kunjungi makam adikmu."
Tidak ada satu kata pun yang bisa Seokmin ucapkan sebagai balasan, karena diantara keterkejutannya , ia juga cukup kaget jika majikannya itu mengetahui segala hal yang telah terjadi di dalam kehidupan pribadinya.
Dan pada akhirnya, Seokmin hanya bisa membungkuk dalam-dalam. "Terima kasih, Tuan Muda." Ucapnya tulus.
Jungkook mengangguk sekenanya, "Bawa bunganya dan panggilkan Taehyung."
"Baik."
Seokmin membawa buket bunga Lily di atas meja dan beranjak dari sana. Jungkook meraih gelas berisi air putih dan menegaknya hingga lama setelahnya, Taehyung datang dan Jungkook tidak lagi melihat adanya arwah wanita yang sejak tadi bergelayut di lengan kanan Taehyung.
"Seokmin bilang, kau memberinya libur hari ini untuk mengunjungi makam adik perempuannya ?" tanya Taehyung ingin tahu, Jungkook mengangguk. "Dari mana kau tahu jika adiknya baru saja meninggal ?" Pasalnya,sejauh yang Taehyung ketahui, tidak ada seorang pun yang menyampaikan perihal kematian adik Seokmin kepada Jungkook. Tidak hanya itu, lagi pula, tidak ada satu orang pun dari karyawan yang bekerja pada Jungkook yang menceritakan kehidupan pribadinya kepada pemuda itu.
Pada awalnya, Jungkook hanya diam, lalu mengalihkan tatapannya ke seberang meja makan yang tampak kosong. Padahal, ada arwah seorang gadis yang berdiri di sana ;mengenakan piyama rumah sakit berwarna biru muda dan sejak tadi memperhatikan Jungkook. Tatapan matanya nya terlihat lebih lembut—sangat berbeda dengan tatapan penuh kebenciannya yang dilayangkan kepada Jungkook seperti beberapa malam yang lalu. Kemudian, ia tersenyum kecil ke arah Jungkook dan tanpa mengatakan sepatah katapun, arwah gadis itu menghilang dari sana.
"Karena dia sudah menegurku." Gumam Jungkook. "Ayo berangkat. Hari ini aku ada pertemuan penting dengan pihak manajemen artis." Ujarnya kemudian, lalu mengusap bibirnya dengan kain serbet di pangkuannya.
Taehyung segera mengangkat Jungkook dan membawanya keluar dari ruang makan. Sepasang mata Jungkook bergulir mengitari ke seluruh ruang makan, seperti tengah mencari sesuatu. Namun, tidak ada apa pun yang ditemukannya. Jungkook melingkarkan lengannya pada leher Taehyung, dan entah mengapa hatinya jauh merasa lebih lega.
Mungkin arwah wanita tadi hanya arwah nyasar yang tidak sengaja menempel pada Taehyung. Pikirnya.
.
.
Ketika jam makan siang tiba, tugas Taehyung sebagai pelayan pribadi dari seorang Jeon Jungkook pun dimulai. Dan untungnya siang ini, pemuda manis itu tidak terlalu rewel untuk memilih cemilannya dan beruntung bagi Taehyung karena hal itu, dirinya hanya perlu pergi ke sebuah toko kue yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor untuk membeli beberapa cup cakes.
Taehyung berjalan dengan pandangan tegak lurus dan mengacuhkan keadaan sekitarnya seperti biasa. Mengabaikan gosip mengenai hubungan antara dirinya dan juga Jungkook yang menyebar luas di dalam lingkungan perusahaan ini. Meskipun mereka semua tahu akan kedekatan Taehyung dengan atasan mereka yang terlihat kejam, hal itu tidak cukup untuk membuat para pegawai wanita yang ada di sana menjauh dari Taehyung.
"Taehyung-ssi!" panggil seorang wanita. Taehyung yang baru saja menekan tombol lift pun menoleh ke sisi kirinya, dan melihat salah satu pegawai yang ia ketahui menjabat sebagai receptionist tengah berjalan ke arahnya.
Wanita itu terlihat malu-malu ketika berdiri di dekat Taehyung, lalu menyodorkan sebuah paper bag kecil berwarna coklat kepada pemuda itu dengan kedua tangannya.
"Ini untuk Taehyung-ssi," ucapnya sambal menunduk dalam.
Tanpa berpikir dua kali, Taehyung mengambil paper bag itu. "Siapa pengirimnya ?" tanyanya kemudian sambil membolak balik kantong kertas itu untuk mencari siapa nama pengirimnya.
"Eh?" Wanita itu mengangkat wajahnya, keningnya sedikit berkerut. Bingung karena pertanyaan Taehyung.
"Ini untuk Direktur kan ? Siapa yang mengirimnya ?" Taehyung terpaksa menjelaskan pertanyaan yang diajukannya tadi.
Wanita itu menggeleng cepat. "Bukan untuk Direktur. Ini untukmu."
Taehyung mengernyit, "Untuk ku ?"
Wanita itu mengangguk. "Ya. Kemarin aku baru saja mengunjungi kuil." Ujarnya. Taehyung membuka kantong kertas itu dan mengeluarkan isinya; dan sebuah strip omamori berwarna merah menyapa netranya.
"Aku sengaja membelinya untukmu." Wanita itu berkata dengan nada malu-malu.
Taehyung termenung sejenak, memperhatikan jimat yang berbentuk khas yang kini berada di tangannya. "Kenapa ?" tanyanya tanpa menatap wanita itu.
"Karena Taehyung-ssi orang yang paling dekat dengan Direktur dan semua orang pun tahu kalau Direktur memiliki banyak musuh, dan otomatis Taehyung-ssi juga bisa terancam bahaya. Jadi aku membelikannya untukmu." Jelas wanita itu panjang lebar.
Taehyung memasukkan strip itu ke saku jasnya, "Terima kasih." Ucapnya datar, seandainya wanita itu tahu bahwa Taehyung sama sekali tidak senang mendengarkan semua yang dijelaskannya dan ia sama sekali tidak membutuhkan semua perhatian semacam ini.
Tring!
Pintu lift terbuka, belum sempat wanita itu mengatakan sesuatu, Taehyung sudah melangkah masuk ke dalam lift dan pintu besi itu pun tertutup. Sifat acuhnya terhadap wanita yang seperti inilah membuat gosip yang beredar semakin menjadi dan dianggap sebagai pembenaran bagi orang-orang yang membicarakannya. Tidak sampai lima menit, Taehyung telah sampai di lantai lima belas.
Taehyung melangkah lebar menyusuri lorong lantai itu, di mana hanya ada beberapa ruangan termasuk ruang kerja Direktur yang di jaga oleh seorang petugas keamanan dan juga diawasi oleh CCTV yang letaknya tersembunyi. Selain itu, terdapat meja sekretaris yang berada di sisi kanan pintu.
Sebelum masuk ke dalam sana, Taehyung mengetuk pelan pintu berwarna putih ruangan tersebut. Dan lagi-lagi, hari ini dirinya kembali dibuat heran karena kali ini Jungkook masih berkutat dengan tumpukan dokumen di atas mejanya. Jungkook tampak sangat serius membacanya dan sesekali melihat ke layar laptop miliknya.
Tidak biasanya, karena Taehyung sudah hapal diluar kepala bahwa Jungkook tidak pernah suka diajak bekerja ketika jam makan siang tiba.
Tapi kenapa kali ini―
"Ini kuemu." Taehyung meletakkan kantong kertas berisi cup cakes tepat di hadapan Jungkook. Tetapi, pemuda manis itu malah menyingkirkannya ke samping.
"Aku harus memeriksa laporan ini dulu." Ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun.
"Kau bisa melanjutkannya nanti." Kata Taehyung.
"Tinggal sedikit lagi. ini tentang kerjasama dengan pihak manajemen artis itu. Aku harus mempelajari bagaimana cara mereka berbisnis sebelum mengambil keputusan." Jawab Jungkook, lalu membalikkan halaman dokumennya.
Taehyung mengernyit bingung, "Bukankah tadi kau sendiri yang bilang kalau kau sama sekali tidak tertarik dengan konsep kerja mereka ?"
Jungkook menggedikkan bahunya, "Memang. Tapi setelah ku pikirkan lagi, tidak ada salahnya untuk investasi. Bayangkan keuntungan yang akan kita dapatkan."
Taehyung merasa benar-benar ada yang aneh dengan sikap Jungkook hari ini. "Kupikir, kau tidak tertarik dengan keuntungan semata…" ujarnya menyatakan kalimat yang pernah Jungkook ucapkan kepadanya.
Jungkook kini menatap Taehyung yang berdiri di seberang meja kerjanya. "Ya. Dan aku menyesal." Dan perkatannya barusan membuat Taehyung benar-benar berpikir bahwa bukan Jungkook lah yang sedang duduk di hadapannya saat ini. "Benar kata Sana, sebagai pemilik perusahaan, tidak ada salahnya aku sedikit serakah demi perkembangan perusahaan ini."
Dahi Taehyung berkerut samar saat mendengar nama asing yang baru saja diucapkan oleh Jungkook, "Siapa Sana ?"
"Arwah wanita yang tadi pagi menempel padamu. Aku pikir, dia tertarik padamu tapi ternyata tidak."
Taehyung terdiam beberapa saat. "Dia yang menyuruhmu memikirkan investasi ini ?" tanyanya.
"Dia hanya memberi saran. Dia wanita yang pintar."
"Dia ada di sini ? Sekarang ?"
Jungkook menggeleng, "Tidak. Dia sudah pergi ketika kau datang."
Tanpa berkata-kata lagi, Taehyung segera merebut dokumen yang sedang dipegang Jungkook, membuat pemuda itu melayangkan tatapan protes. "Apa-apaan kau―"
"Kau pernah bilang padaku, tidak baik jika terlalu dekat dengan arwah." Jelas Taehyung memperingatkan. "Dan, sekarang kau mulai mendengarkan apa yang makhluk-makhluk itu katakan kepadamu ?"
"Memangnya kenapa!" Jungkook berkata ketus.
Taehyung merasa geram, apa Jungkook lupa mengenai perkatannya sendiri ? Seandainya saja Taehyung juga bisa melihat makhluk-makhluk tak kasat mata yang selalu Jungkook lihat, Taehyung berjanji akan membuat mereka merasakan apa itu kematian untuk yang kedua kalinya. "Sekarang dengarkan aku. Makan cemilanmu, lalu minum obatmu dan setelah itu kau harus istirahat."
"Begitu caramu berbicara dengan atasanmu ?"
Taehyung tidak merespon, pemuda itu malah berjalan menjauh lalu melemparkan dokumennya ke atas meja kaca di depan sofa.
"Taehyung! Berikan dokumen itu padaku. Aku bisa membacanya sambil memakan cemilan." Kata Jungkook bersikeras. Tetapi Taehyung tidak menggubrisnya.
"Lakukan semua yang ku katakan dan dokumen ini akan kembali ke tanganmu." Ujar Taehyung tegas namun tetap tenang. Jungkook mendengus sebal, lalu mencibir dan dengan kasar meraih kantong kertas berisi cup cakes miliknya.
tbc
Otsu & Christal
