Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu.
Re-writing & editing by Christal Alice.
Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook
Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.
Warning! BL. AU.
Part. 5
...
Sudah tiga hari sejak tawaran investasi dengan salah satu perusahaan manajemen artis berjalan lancar karena pemilik JAPFA Group yang tidak lain adalah Jungkook telah menyetujuinya.
Sejauh ini, pemuda itu telah merasa melakukan hal yang benar untuk perkembangan perusahaannya meski terkadang ada beberapa tawaran atau kerjasama yang tidak sesuai dengan visi dan misinya selama ini. Dan dalam beberapa hal itu, Taehyung akan selalu mengingatkannya.
Tapi menurut Taehyung, belakangan ini, ada yang aneh dengan sikap Jungkook. Di matanya, pemuda itu mendadak menjadi orang yang gila kerja. Ya, walaupun memang pemuda itu selalu serius jika sedang bekerja, tetapi tidak pernah sampai seperti ini―tidak pernah sampai berada di luar batas dan lagi pula, Taehyung tahu bahwa Jungkook tidak memiliki target untuk menjadi orang yang serakah.
Dan ketika Taehyung mengingatkan beberapa hal kepada Jungkook, pemuda itu akan mendengarkan meskipun tidak selalu disukainya atau bisa jadi saling ngeyel karena tidak sejalan dengan apa yang Jungkook pikirkan. Namun beberapa hari ini sangat berbeda, Jungkook seperti tidak mau digurui dan lebih keras kepala dari sebelumnya.
Bahkan, Taehyung masih ingat dua hari yang lalu saat pemuda itu memiliki agenda makan siang bersama beberapa klien pemilik saham di sebuah restaurant, biasanya Jungkook akan memesan makanan tanpa garam dan gula. Tapi hari itu, Jungkook melahap habis makanan yang disediakan tanpa memperhatikan kandungan gula dan garam di dalamnya. Dan segelas soju yang tidak pernah di liriknya sekalipun malah ditenggaknya hingga habis.
Pemuda manis itu juga lebih rewel tiga hari belakangan ini. Karena biasanya ia tidak pernah mengeluh akan hal-hal di sekitarnya. Seperti betapa liciknya orang-orang yang bekerja di perusahaannya yang selalu membicarakan mengenai keburukannya, atau ketika ia harus melobi pemilik sebuah perusahan stasiun televisi untuk membicarakan salah satu produk perusahaannya yang menjadi sponsor untuk salah satu tayangan televisi tersebut. Belum lagi ketika Jungkook bersikeras meminta cemilan manis pada Taehyung dengan berbagai macam alasan yang tidak biasa di lontarkan olehnya.
Aneh.
Taehyung sadar akan hal itu. Bukan hal yang aneh jika dirinya lebih mengenal Jungkook lebih dari siapapun, dan dirinya lebih peka akan perubahan itu yang terasa sangat janggal. Dan yang membuat Taehyung tidak habis pikir adalah salah satu hal yang terjadi tadi pagi, di mana Jungkook dengan sengaja menumpahkan sup miso nya ke lantai hanya karena makanan itu kurang garam.
Pemuda itu juga jadi jarang memanggil atau menyuruh dirinya untuk membantu pekerjaannya, alhasil Taehyung hanya melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Yaitu membantu pemuda itu ketika mandi, mengambilkan sesuatu, dan menggendongnya jika harus pergi ke suatu tempat.
Selain itu, Jungkook jadi jarang merengek dan tidak lagi bergantung padanya. Saat dirinya bertanya 'Kenapa ?, Jungkook akan selalu menjawab 'Apa salahnya jika aku belajar mandiri?'. Jujur saja, Taehyung jadi merasa tidak di butuhkan lagi dan rasanya ada sesuatu yang hilang.
Taehyung tidak pernah mengenal Jungkook yang seperti itu, tidak sedikit pun. Dirinya jadi sering melihat majikan kecilnya itu bicara sendiri di kamarnya atau di beberapa kesempatan. Taehyung tahu jika pemuda itu sedang berbicara dengan seorang arwah penasaran bernama Sana.
Benar-benar menyebalkan.
Bukan berarti hal itu tidak berimbas pada kesehatan Jungkook. Jika bukan dirinya yang menyuntikkan insulin dan obat lain yang harus dikonsumsinya, Jungkook tidak akan ingat pada semua itu.
Kulit Jungkook terlihat jauh lebih pucat, sering mimisan, dan beberapa kali batuk darah, tapi Jungkook sendiri hanya mengabaikannya. Dan semua hal yang berbeda itu sangat membuat Taehyung khawatir. Taehyung mulai berpikir apakah semua perubahan sifat drastis Jungkook berkaitan dengan arwah wanita bernama Sana ?
Sudah beberapa kali sepasang mata tajam milik Taehyung melirik ke arah kaca spion dalam mobil untuk memperhatikan sosok Jungkook yang duduk di kursi belakang sambil menikmati satu cup ice cream vanilla. Suasana di dalam mobil jadi hening akhir-akhir ini, tidak ada lagi pertengkaran kecil oleh keduanya yang biasa terjadi.
Hanya alunan lagu berbahasa Inggris yang mengisi keheningan di dalam mobil itu. Seperti yang di sukai Jungkook, karena bagi pemuda itu lagu adalah jalan lain untuk mempelajari bahasa International.
Cause darling I'm a nightmare dressed like a daydream. Sepenggal lirik lagu milik Taylor Swift terdengar mengalun, dan biasanya Jungkook akan menyahut 'Ore wa' (means is : itu aku) dengan jelas. Tapi sekarang―
"Matikan lagunya, aku bosan mendengarnya." Perintahnya seraya melahap suapan terakhir ice cream vanilla miliknya. Taehyung mematikan perangkat audio itu dan kembali melirik ke arah kaca spion dalam mobil.
"Namjoon hyung menghubungiku saat kau rapat tadi." Taehyung mencoba untuk membuka percakapan.
Dahi Jungkook berkerut samar, "Kenapa lagi ?" tanyanya kemudian masih memandangi jalan raya dari balik kaca mobil.
"Nanti malam, dia bilang akan datang ke rumah bersama Kairi dan Ken."
Jungkook menghembuskan napas kasar, tampak tidak senang akan hal tersebut. "Aku sudah memberi mereka tiket taman bermain, apa masih kurang?"
"Kurasa Kairi dan Ken ingin bertemu denganmu."
"Katakan pada Namjoon hyung, aku tidak punya waktu untuk bertemu mereka." Perintahnya ketus.
Taehyung hanya diam, entah kenapa akhir-akhir ini setiap kali Jungkook berbicara selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Alhasil disepanjang perjalanan kembali menuju kantor terasa sangat sepi. Tidak ada obrolan 'aneh', tidak ada diskusi atau perdebatan seputar bisnis, ataupun alunan musik yang di sukai Jungkook.
Sesampainya di kantor, Taehyung langsung turun dan berjalan memutar untuk membuka pintu belakang mobil. Seperti biasa ia akan menggendong Jungkook ke ruang kerjanya, masih tanpa adanya obrolan di antara mereka. Lagi pula, Taehyung juga tidak ingin mengajak pemuda itu berbicara dulu.
Pemuda bersurai dark blue itu segera keluar setelah menurunkan Jungkook di kursi kerjanya, karena Taehyung tahu ia tidak akan di butuhkan jika tetap berada di sana, dan ia benar-benar merasa muak jika harus melihat Jungkook dengan sangat percaya membicarakan banyak hal dengan arwah bernama Sana yang tidak mampu dilihat oleh mata telanjangnya.
Jungkook memperhatikan sosok tinggi Taehyung yang keluar dari ruangannya, bibirnya terkatup rapat padahal dirinya sangat ingin mengucapkan sesuatu. Dan tiba-tiba, pandangannya terhalangi oleh sosok cantik Sana yang tiba-tiba muncul di depan mejanya dengan senyuman yang khas. Setelah itu, Jungkook merasakan sesuatu yang basah menetes dari hidungnya, darah. Jungkook segera menyambar tisu yang tersedia di atas meja dan menyumpal lubang hidungnya.
Jungkook menghela napas perlahan, merasa sangat kelelahan. "Akan aku lanjutkan setelah istirahat sebentar." Ujarnya seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
Sana—arwah wanita pucat itu masih berdiri di depan meja, memaku pandangannya pada wajah manis Jungkook. Raut wajah wanita itu berubah datar ketika melihat Jungkook yang mulai memejamkan matanya dan tertidur.
Sementara itu, Taehyung yang masih berada di dalam lift untuk turun ke lantai dasar gedung tampak tengah memikirkan sesuatu, karena air mukanya tidak pernah terlihat se serius ini sebelumnya. Tanpa sengaja tangan kanan Taehyung menyentuh sesuatu di dalam saku celananya, ia pun mengeluarkan benda tersebut yang ternyata sebuah strip omamori yang beberapa hari lalu ia dapatkan dari seorang karyawan wanita.
Ting!
Suara pintu lift yang terbuka membuat Taehyung kembali mengantongi strip itu lalu berjalan keluar. Jujur saja, sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu harus melakukan apa, karena seharusnya dirinya berada di ruangan Jungkook untuk membantu pemuda itu menyelesaikan pekerjaannya. Tapi sekarang, rasanya ia tidak perlu lagi melakukan hal itu.
"Oh, Ketua Tim." Seorang pemuda lain menyapanya. Taehyung yang baru saja melewati meja receptionist pun refleks menghentikan langkah kakinya dan mengangkat wajahnya untuk menatap si penyapa.
"Hoseok-ssi?" Taehyung menundukkan kepalanya sedikit. Ia memang biasa di panggil 'Ketua Tim' oleh bawahannya maupun orang lain yang mengenalnya.
"Aneh rasanya melihat mu berkeliaran pada saat jam seperti ini, bukankah seharusnya kau berada di Ruangan Direktur ?" Tampaknya pria yang mengenakkan suit berwarna abu-abu itu merasa penasaran.
Taehyung menghela napas samar,"Tuan Muda sedang sibuk." Ujarnya, rasa kesal itu masih berkecamuk di dalam hatinya jika mengingat sikap Jungkook belakangan ini, "Apa anda kemari untuk menemuinya?"
Hoseok menggeleng pelan, "Tidak. Aku kemari untuk menemui wakil Direktur."
"Baiklah."
"Apa ada masalah? Raut wajahmu itu menunjukkan seperti sesuatu sedang terjadi." Pria yang menjadi Konsultan perusahaan itu tampaknya ingin tahu. Taehyung hanya diam, meski di dalam hati dirinya pun ikut bertanya-tanya, 'Apa wajah ku terlihat seperti itu?'
"―selain saya hanya anda yang tahu jika Tuan Muda memiliki kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat..." Taehyung menggantungkan kalimatnya.
"Apa masalahnya berkaitan dengan hal itu?" Tanya Hoseok lagi.
Taehyung mengangguk, "Saya rasa begitu. Sudah tiga hari belakangan ini Tuan Muda bersikap aneh."
Hoseok menatap Taehyung dengan raut wajah serius, "Jungkook kerasukan?"
"Bukan. Bukan yang seperti itu."
"Lalu?"
"Arwah seorang wanita bernama Sana mengikutinya selama tiga hari ini, saya sering melihat Tuan Muda bicara dengannya. Dan menurut saya hal itulah yang membuat sikap Tuan Muda berbeda." Jelas Taehyung kemudian.
"Maksud mu arwah wanita itu sudah mempengaruhi Jungkook ?"
Taehyung mengangguk ragu. "Saya rasa begitu."
"Dengarkan aku," Jeda sejenak. "Aku memang tidak tahu banyak tentang hal seperti itu. Tapi atas dasar pengalaman kenalan ku. Orang yang masih hidup tidak seharusnya berhubungan dengan orang yang sudah mati. Memang awalnya tidak akan ada masalah, tapi hantu ataupun arwah bisa memberi dampak buruk bagi orang yang dapat melihatnya."
"Saya tahu itu. Tapi sebelum ini tidak ada masalah yang berarti, dan Tuan Muda tidak banyak mengalami penurunan kesehatan."
"Ya memang untuk sementara. Tapi, apakah kita tahu apa maksud arwah itu terus mengikutinya? Karena bagaimana pun arwah itu dulunya pernah memiliki kehidupan."
Taehyung terdiam. Ia baru menyadari hal itu.
"Sebaiknya kau selalu di sisinya, arwah yang memiliki tujuan tertentu bisa menghancurkan orang yang dapat melihatnya." Kata Hoseok sembari menepuk kecil pundak Taehyung. "Aku duluan, Ketua Tim." Ucapnya kemudian. Taehyung segera membungkukkan badannya sedikit.
"Memang benar. Dia semakin pucat sejak saat itu." gumam Taehyung pada dirinya sendiri dan mendadak ia teringat akan sesuatu, dan merogoh saku celananya. Kembali mengamati strip omamori miliknya.
.
.
Jam makan malam baru saja usai, dan Jungkook cukup puas dengan menu makan malamnya yang berupa ayam goreng dan semangkuk sup. Seperti biasa, Jungkook selalu melewati malamnya dengan suasana hening, tapi keheningan yang ada selama beberapa hari ini terasa sangat berbeda.
Terasa lebih kaku dan canggung.
Selesai makan malam, Jungkook segera meminta Taehyung untuk membawanya ke kamar, dan seperti malam-malam sebelumnya, ia akan menyibukkan diri dengan segala macam pekerjaan dengan tanpa keberadaan Taehyung di sana. Namun sepertinya Jungkook sendiri sama sekali tidak menyadari atas perubahan sikapnya yang terbilang cukup aneh. Jangankan menyadarinya, untuk mengontrol pikirannya saja ia tidak mampu.
Guk!
Suara anjing yang menyalak mengalihkan perhatian Jungkook dari layar laptop. Mogu kini duduk di samping kakinya. Jungkook menghentikan kesibukannya sejenak, memandangi arwah anjing kesayangannya itu. "Apa maksud mu mencium sesuatu yang aneh?" tanyanya dengan dahi mengernyit samar. Mogu kembali menyalak.
Guk!
"Aku aneh?" Jungkook menunjuk dirinya sendiri.
Guk!
'Benar kata Mogu. Kau sangat aneh beberapa hari ini.' Sahut Taeyeon yang tiba-tiba duduk di bibir ranjang. Jungkook meliriknya sekilas.
"Apa maksud mu?"
'Apa kau sadar betapa pucatnya kau sekarang, Kookie?' Taeyeon menatap sangsi pada wajah Jungkook.
"Sejak dulu aku memang seperti ini." Dengan cuek, Jungkook kembali melanjutkan pekerjaannya.
'Beberapa hari ini kau jauh lebih pucat. Aku juga tidak melihat Ketua Tim di kamar ini.'Karena Taeyeon pun ikut merasakan perubahan atas sikap pemuda itu
"Dia punya pekerjaan lain selain menjaga ku."
'Tidakkah wanita bernama Sana itu sudah mempengaruhi mu? Apa kau tidak merasakannya?' Ujar Taeyeon memperingati.
"Dia membantu ku bekerja, Taeyeon-ssi."
'Sekaligus membantu menjauhkan dirimu dari Ketua Tim? Dan juga merubah sifat aslimu?'
Jungkook berhenti mengetik dan melirik tajam pada arwah wanita muda itu. "Jangan berani-berani memprofokasi ku." ujarnya tajam, seraya menatap sengit pada Taeyeon.
'Aku tidak sedang memprofokasimu, Jungkook, tapi memang itulah kenyataannya.'
Guk! Mogu menyalak, seolah membenarkan apa yang sudah di katakan Taeyeon barusan.
"Pergi. Sebelum aku mengusir kalian dengan cara yang tidak menyenangkan." kata Jungkook dengan sangat tidak bersahabat.
Mogu menundukkan kepalanya sambil berjalan mundur dari atas tempat tidur itu. Tak ingin berdebat lagi, sosok transparan Taeyeon dan Mogu segera menghilang dari sana. Meninggalkan Jungkook yang masih terdiam menatap layar laptopnya. Tak lama, ia memijat kecil pelipisnya dengan wajah lelah. Entahlah, rasanya emosinya jadi lebih mudah tersulut dengan hal-hal kecil seperti tadi.
'Aku melihat anjing mu dan perempuan itu keluar dari kamar ini. Kalian membicarakan sesuatu?' tanya suara yang akhir-akhir ini selalu berada di dekatnya. Jungkook mengangkat wajah untuk melihat Sana sekilas yang sedang berdiri di dekat tempat tidur, sebelum kembali memijat pelipisnya.
"Bukan sesuatu yang penting," ucapnya pelan dengan nada suara yang terdengar sangat lelah. Sana melangkahkan kakinya yang tak menapak lantai, mendekat ke sebuah meja laci panjang yang memajang rapi koleksi berbagai macam souvenir.
'Ngomong-ngomong, kenapa perempuan itu mati?' tanyanya penasaran.
Jungkook menggedikkan bahu. "Entah, aku tidak tahu." Jawabnya dan kembali melanjutkan kesibukkan awalnya, mengetik.
'Apa dia sering datang kemari?'
"Ya, jauh sebelum kau muncul."
Sana membalikkan tubuhnya untuk menatap Jungkook. 'Apa dia suka Ketua Tim?'
Jungkook melirik Sana sekilas, lalu terkekeh sinis. "Kau bercanda? Dia bahkan tidak pernah bertanya tentang Taehyung."
'Siapa yang tahu bukan? Dan ngomong-ngomong soal Ketua Tim, apa dia sudah lama bekerja denganmu?'
"Separuh dari usianya dia lewatkan untuk bekerja dengan keluarga ku. Kenapa?"
'Tidak. Hanya merasa pernah melihatnya. Wajahnya itu mengingatkan ku pada seseorang yang membuat ku berakhir seperti ini.'
Jungkook mengangkat wajahnya, menatap lamat-lamat pada arwah wanita itu. "Jadi, kau seperti ini karena laki-laki?" Tanyanya tak habis pikir.
'Ya. Laki-laki brengsek yang mencampakkan banyak wanita hanya karena seorang bocah laki-laki yang tidak bisa lepas darinya.' Sana merendahkan suaranya, sorot matanya berubah kelam akan suatu hal.
"Wanita seperti mu berakhir sia-sia karena seorang bocah? Yang benar saja." Ucap Jungkook mencemooh lalu kembali fokus dengan layar laptopnya. Tidak ada reaksi sedikit pun di wajah Sana.
Saat pemuda manis itu telah menyelesaikan pekerjaannya. Tiba-tiba Jungkook terbatuk hebat sampai harus membungkkukkan badan. Susah payah ia menutupi mulutnya dengan satu tangan seraya menyingkirkan laptopnya yang berada di atas pangkuan ke sisi samping. Rasa anyir tembaga kembali memenuhi indra perasanya, dan Jungkook tahu tanpa harus melihat jika darah keluar dari mulutnya.
Sana masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang sama ketika Jungkook berusaha mengambil tisu yang berada di atas nakas untuk membersihkan tangannya yang berlumuran darah. Dan ketika Jungkook hendak menggapai gelas air putih di dekat lampu tidur, gelas kaca itu tiba-tiba jatuh ke lantai sehingga menimbulkan suara pecahan yang cukup nyaring.
'Kasihan sekali.' ucap Sana merasa prihatin akan kerapuhan tubuh Jungkook, lalu beralih menatap gelas kaca yang telah pecah berkeping-keping di atas lantai.
.
.
Malam semakin larut, dan udara di kamar tersebut semakin terasa dingin. Memucatkan sosok pemuda berambut hitam yang sudah tak berdaya. Suasana kamar yang temaram oleh sebuah lampu tidur sedikit terbantu cahaya bulan di luar yang masuk melewati kaca pintu balkon yang tirainya sengaja dibuka oleh Taehyung.
Pemuda tampan itu berhenti tepat di samping tempat tidur, memperhatikan wajah tidur Jungkook yang tampak sangat kelelahan. Ia pun merogoh saku celananya dan meletakkan strip omamori miliknya ke genggaman tangan Jungkook. Sejenak, Taehyung hanya diam menatap wajah manis Jungkook yang semakin hari semakin terlihat pucat, membuat Taehyung semakin ingin melindunginya.
Dan tanpa di ketahui Taehyung, jika sosok Taeyeon kini sedang berdiri tepat di sampingnya.
'Kau harus mencari tahunya, Ketua Tim. Wanita itu bernama Minatozaki Sana.' Kata Taeyeon berusaha memberitahu Taehyung. Walaupun percuma, karena pemuda itu tidak akan pernah bisa mendengar suaranya.
Taehyung membenahi letak selimut Jungkook dengan hati-hati, dan mendaratkan kecupan singkat di dahi pemuda itu, lalu mengurangi suhu Air Conditioner di dalam kamar tersebut. Ia pun beranjak dari samping tempat tidur, menembus tubuh transparan Taeyeon yang menatap Jungkook cemas. Dan tepat sebelum pemuda itu berjalan melewati pintu kamar, Taeyeon segera berbalik untuk menatap sang Ketua Tim.
'Minatozaki Sana. Cepatlah mencari tahu. Jika tidak, wanita itu akan benar-benar menghancurkan Jungkook!'
Setelah menutup pintu kamar Jungkook, Taehyung berdiri diam membelakangi material kayu bercat hitam itu, tampak memikirkan sesuatu lalu menengok pada pintu kamar yang tertutup.
"Hanya perasaan ku saja atau benar-benar ada suara perempuan tadi?" Taehyung bergumam dengan dahi berkerut, pasalnya samar-samar, tadi ia mendengar suara perempuan berbisik padanya.
Beberapa detik kemudian ia melangkahkan kaki dari sana, kembali menjalankan tugasnya yang belum selesai. Meskipun begitu, tak dipungkiri bahwa hatinya benar-benar merasa luar biasa cemas.
tbc
Otsu & Christal
