Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu.
Re-writing & editing by Christal Alice.
Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook
Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.
Warning! BL. AU.
Part. 6
...
Rasanya, pagi ini matahari terbit terlalu cepat, dan sinarnya seolah terasa tak terlalu hangat saat menerpa kulit. Kehangatan kecil di pagi hari yang seharusnya mampu memberikan sedikit suntikan semangat pada banyak orang, termasuk Taehyung yang selalu bangun lebih pagi dari semua karyawan yang bekerja di kediaman keluarga Jeon`.
Dan, pagi ini terasa berbeda. Taehyung merasa sedikit lesu karena tidak cukup beristirahat. Setiap kali ia mencoba menutup mata, hal yang dilihatnya adalah sosok Jungkook yang berlumuran darah. Taehyung menghembuskan napas keras; berharap hal itu bisa membantu melenyapkan sedikit rasa khawatir yang terus berkecamuk di hatinya. Setelah melakukan briefing pagi bersama para bawahannya, sekarang, waktunya untuk menuju ke kamar Jungkook dan melihat keadaan majikan kecilnya itu.
Dan kini Taehyung telah berada di depan pintu kamar Jungkook, hanya berdiri diam untuk beberapa saat. Tampak tengah memikirkan sesuatu, lalu melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul setengah tujuh. Tidak biasanya seperti ini―karena seharusnya ia sudah membangunkan pemuda manis di dalam kamar itu sejak tiga puluh menit yang lalu.
Tidak ingin mengulur waktu terlalu lama, Taehyung memutuskan untuk membuka pintu di hadapannya itu lebar-lebar. Namun, bahkan sebelum ia melangkah masuk lebih jauh, niatnya tertunda ketika melihat sosok Jungkook yang dilihatnya sudah lebih dulu duduk bersandar pada kepala ranjang dengan mata terpejam. Ia pun beranjak masuk dan tak lupa menutup pintu kembali. Hampir tanpa suara ketika ia melangkah perlahan, mendekat ke arah tempat tidur, seiring dengan Jungkook yang membuka matanya.
Taehyung menghentikan langkah saat melihat tatapan Jungkook yang terasa berbeda. Kilatan di mata berwarna coklat itu sedikit aneh baginya, sulit di jelaskan tapi ia tahu jika tatapan majikan kecilnya itu terlihat berbeda.
Selama beberapa detik yang berlalu dalam hening, mereka berdua hanya diam dan saling memandang. Sampai pada akhirnya, tiba-tiba Jungkook tersenyum, dan hal itu membuat Taehyung mengerutkan keningnya samar, karena Jungkook hampir tidak pernah tersenyum ataupun tertawa sejak Ibu dan Kakaknya meninggal dunia.
Setidaknya, tidak pernah sekali pun terlihat olehnya.
"Siapa kau?" tanya Taehyung tajam. Perkataan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
"Apa maksud mu bertanya seperti itu?" cetus Jungkook dengan nada yang sangat tenang.
"Jungkook tidak akan bicara dengan nada seperti itu. Siapa kau? Apa yang kau lakukan padanya?" campuran rasa kesal dan cemas tampak jelas terlihat dari sorot mata Taehyung. Jungkook tertawa kecil, lalu melipat kedua tangannya di dada.
'Minatozaki Sana.' suara itu kembali terngiang di telinga Taehyung. Suara yang semalam sempat di dengarnya saat hendak keluar dari kamar ini.
"Tentu saja kau tidak tahu siapa aku Ketua Tim. Kau juga tidak pernah tahu siapa saja wanita yang sudah kau―"
"Minatozaki Sana." sela Taehyung cepat, dan Jungkook terlihat mengangkat satu alisnya. "Itu namamu 'kan?" lanjut Taehyung. Pemuda itu mengepalkan tangannya. "Kau yang membuat sikap Jungkook berubah, kau juga yang membuat kesehatannya menurun. Keluar dari tubuhnya sekarang." kata Taehyung tajam.
"Apa hanya anak ini yang kau pedulikan?"
"Ya."
Jungkook berdecak sebal, "Itu sama sekali tidak menyenangkan. Anak ini bahkan tidak bisa berjalan. Aku tahu kau melakukan semua hal untuknya, apa saja yang diinginkan anak ini selalu saja kau turuti. Gajimu pasti sangat besar."
"Keluar dari tubuhnya atau kau akan membuatnya semakin memburuk."
"Memang itulah tujuan ku," katanya sambil tertawa. Tawa yang terdengar keji. Lantas, ia balas menatap Taehyung, memandangnya tajam. "Anak ini memiliki mu dan tidak akan ku biarkan hal itu terus berlanjut," ujarnya dengan sorot mata yang dipenuhi dengan kebencian.
Taehyung mengepalkan tangannya. "Urusan mu adalah dengan ku, jangan menyeretnya ke dalam masalah ini." ujarnya.
"Kau bercanda Ketua Tim? Bukankah anak ini alasan mu untuk tidak memandang semua wanita yang menyatakan cinta padamu?"
"Dia tidak ada kaitannya."
"Anak ini memang sudah terlibat sejak awal. Dan beruntung untuk ku, anak ini mudah untuk di rasuki." ia tersenyum.
"Cepat katakan apa yang sebenarnya ingin kau katakan padaku," kata Taehyung tak sabar. Tak tahan jika terus melihat ada roh yang menghuni tubuh ringkih Jungkook. Dan dirinya tidak dapat berbuat apapun saat darah mulai mengalir keluar dari hidung Jungkook
Sana―yang menghuni tubuh itu saat ini segera menyekanya. "Kau lihat? Aku bisa dengan mudah menghancurkan anak ini." ucapnya sambil tertawa geli melihat darah di jemarinya.
"Ku hitung sampai tiga, cepat keluar dari tubuhnya!" perintah Taehyung. Jungkook mengangkat wajahnya.
"Atau apa? Apa yang bisa kau lakukan padaku?" Sana menantang. "Kau mau memanggil pendeta? Ya, kau bisa memanggilnya. Dan sebelum pendeta itu datang, akan kupastikan anak ini mati lebih dulu.
Berengsek. Taehyung benar-benar kesal sekarang. Kesal karena tidak ada satu hal pun yang bisa dilakukannya untuk melawan arwah wanita itu, "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
"Tidak ada yang ku inginkan darimu. Masalah ku sekarang dengan anak ini."
"Tidak. Aku alasanmu mencelakai Jungkook."
"Kenapa kau sangat peduli padanya?"
"Aku dan semua orang yang bekerja di rumah ini akan kehilangan pekerjaan jika dia mati."
Sana mendengus geli. "Yang benar saja. Tidakkah kau ingin tahu apa yang di pikirkan anak ini tentang mu? Karena aku mengetahui semua hal yang ada di kepalanya saat ini."
Taehyung terdiam untuk sesaat. "Tidak. Aku sama sekali tidak ingin tahu." tolaknya.
"Sungguh? Tidak sedikit pun?"
"Tidak."
"Sayang sekali…"
"Karena aku sudah tahu lebih dulu, tanpa harus kau beri tahu. Delapan tahun aku bersamanya dan kau pikir, ada hal yang tidak kutahu tentangnya?"
Wajah Jungkook berubah masam, sorot matanya menyiratkan ketidaksukaan. "Tidak terdengar menyenangkan. Kalian berdua benar-benar membuatku muak." ucapnya dingin.
Keheningan melanda, mereka berdua hanya saling menatap angkuh. Tapi tak lama Jungkook menghela napas pendek, lalu menepuk perutnya yang mulai berbunyi. "Aku lapar," ucapnya, lalu mengangkat wajah. "Apa kau akan membiarkan perut anak ini kosong?" tanyanya kemudian karena Taehyung sama sekali tak bergeming.
"Aku sama sekali tidak punya waktu untuk bermain-main denganmu, Sana-ssi."
"Aku benar-benar lapar. Kau ingin aku pergi bukan? Jadi biarkan aku berpikir sambil makan."
Taehyung menghela napas, tak habis pikir.
"Aku mau sashimi." jawabnya seraya tersenyum. "Aku tidak akan melakukan apapun selama kau pergi untuk mengambilkan makanan." lanjutnya kemudian.
Setelah menimbang-nimbang sejenak, Taehyung pun membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kaki keluar dari kamar itu. Tidak menyadari Sana yang kini tengah memperhatikan punggungnya dengan tatapan yang sedikit melembut.
Taehyung segera meminta juru masak untuk membuatkan sashimi dan selagi menunggu makanan tersebut tersedia, ia mendatangi ruang keamanan yang letaknya di bagian belakang rumah. Hanya ada dua orang karyawan yang berada disana, dua orang lainnya sedang berada di bagian depan rumah.
"Cari tahu tentang seorang wanita bernama Minatozaki Sana," perintah Taehyung begitu membuka pintu ruangan. Jimin dan Hanbin yang sedang bersantai sambil menikmati segelas kopi di kursi masing-masing pun menoleh kompak. Mereka buru-buru berdiri seraya meletakkan cangkir kopi ke meja.
"Ada apa, Tae?" tanya Jimin sedikit bingung dengan kedatangan Taehyung yang tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang tidak biasa.
"Carikan aku informasi mengenai seorang wanita bernama Minatozaki Sana." ujarnya lagi, mengulang perintah. "Mulailah dari database perusahaan, cari nama karyawan yang ku sebutkan tadi. Kalau sudah ketemu berikan padaku. Aku berada di atas."
"Baik."
Taehyung beranjak dari ruangan tersebut, kembali ke arah dapur untuk mengambil makanan yang di mintanya tadi. Tapi belum sampai di dapur, sang juru masak menghadangnya dengan membawa napan berisi makanan. Ia pun segera berjalan ke arah tangga, melangkah lebar-lebar agar lebih cepat sampai ke kamar Jungkook.
Dan sosok manis itu tersenyum ketika dirinya datang. Tanpa ekspresi berarti, ia menyediakan meja makan kecil yang biasa digunakan oleh Jungkook di atas tempat tidur, dan meletakkan napan yang di bawanya diatas meja tersebut.
"Menyenangkan menjadi anak ini. Apapun yang di minta akan langsung tersedia, ya 'kan?" Jungkook mengambil sumpitnya, lalu tersenyum pada Taehyung.
Pemuda itu mulai memakan sashimi nya, sementara Taehyung masih mengawasi dengan tatapan yang sulit di artikan. Suasana di biarkan hening, karena Taehyung sendiri masih berpikir apa yang kira-kira akan ia lakukan. Tak lama kemudian, Sana telah menghabiskan sarapannya. "Dan, sekarang aku ingin mandi." Ujarnya kemudian, kembali menatap Taehyung.
Pria tampan itu tidak memiliki cara lain selain menuruti Sana yang menempati raga sang majikan. Ia membantu pemuda itu membuka piyamanya, lalu menggendongnya ke kamar mandi, meletakkannya di bath up dan membuka keran air.
"Aku mau air dingin." kata Sana. Taehyung menoleh."Jungkook tidak suka mandi dengan air dingin." ucapnya.
Sosok itu menggedikkan bahu acuh, tak peduli. "Sayangnya aku bukan dia."
Memang tidak ada pilihan. Taehyung pun beralih membuka keran air dingin, lalu menuangkan sabun cair aromaterapi kesukaan Jungkook. Kemudian keluar dari sana.
"Taehyung," panggil Jimin di depan pintu kamar. Taehyung yang sedang menyiapkan baju di depan lemari pun menoleh. Sambil membawa setelan berwarna midnight blue yang tergantung rapih pada hanger.
"Apa kau sudah menemukan informasinya?" tanya Taehyung seraya menutup lemari besar di depannya. Jimin mengangguk sembari berjalan masuk, membawa selembar kertas print out dan memberikannya pada sang Ketua.
"Minatozaki Sana, tercatat sebagai karyawan di Divisi desain produk sejak tahun 2005." Jimin menjelaskan sementara Taehyung membaca isi kertas tersebut. Tiba-tiba keningnya berkerut dalam."Tapi, dia sudah meninggal satu minggu yang lalu. Dia di temukan tewas bunuh diri di apartement nya karena overdosis obat tidur." Jimin melanjutkan
Taehyung terdiam cukup lama, memperhatikan dengan seksama pada foto yang tercetak. Seorang wanita berusia 25 tahun, cantik, rambutnya di kuncir kuda, dan meski samar ia mengingat sesuatu akan wanita itu.
Memang dirinya tidak pernah mengingat wanita mana saja yang pernah menyatakan cinta padanya. Namun,samar-samar ia masig mengingat jika wanita bernama Sana itu pernah beberapa kali mengatakan suka dan sering memberinya bekal saat di kantor. Namun kenyataan jika wanita itu sudah meninggal tidak lama ini membuatnya cukup merasa kaget.
"Apa Tuan Muda memiliki masalah dengan wanita ini?" tanya Jimin ingin tahu.
"Tidak," jeda sejenak. "Akulah yang memiliki masalah dengannya." jawab Taehyung cenderung pada dirinya sendiri.
"Kau? Kau memiliki masalah dengan seorang wanita? Tumben." Jimin tampak tidak percaya. "Setahuku kalau ada masalah atau urusan yang belum selesai dengan orang yang sudah meninggal, roh orang itu tidak akan bisa tenang." lanjutnya.
"Kau benar. Wanita itu tidak akan pergi sebelum dia melakukan apa yang memang dia inginkan." kata Taehyung, wajahnya tampak gelisah. Jimin mengangguk-angguk kecil tanpa tahu maksud yang di katakan Ketua Tim nya itu.
Namun suara gemericik air dari arah kamar mandi mengalihkan perhatian kedua pria itu. Jimin memperhatikan ke sekeliling kamar, tapi tidak melihat sosok Jungkook di kamar itu.
"Apakah Tuan Muda ada di kamar mandi?" tanya Jimin, kembali menatap Taehyung. Pria itu balas menatap, lalu menengok kearah pintu kamar mandi yang tertutup.
"Ya," ia menilik jam tangannya. "Sudah terlalu lama dia berada di dalam. Tolong pegang kertas ini sebentar." Taehyung menyerahkan kertas hasil print out juga baju milik Jungkook yang baru saja diambilnya kepada Jimin. Kemudian, ia berjalan mendekat ke arah kamar mandi. Tetapi, tiba-tiba Taehyung berhenti melangkah saat tatapannya terpaku pada genangan air yang keluar dari dalam sana. Dan sialnya pintu itu terkunci dari dalam saat ia mencoba untuk membukanya."Buka pintunya! Sana!" perintah Taehyung lantang. Berusaha membuka pintu kamar mandi tersebut sampai kenop nya berbunyi.
"Sana!" panggilnya geram sekaligus khawatir. "Jimin, bantu aku!" perintahnya. Jimin buru-buru meletakkan kertas print out dan baju diatas tempat tidur dan mendekat. "Kita dobrak pintunya, hitungan ketiga." Jimin mengangguk. "Satu, dua, tiga!"
BRAK!
Taehyung dan Jimin berhasil mendobrak pintu kamar mandi dengan satu tendangan bertenaga bahkan hingga merusak salah satu engsel pintu tersebut. Dan matanya membelalak kaget ketika melihat Jungkook yang terendam di bath up dengan wajah pucat pasi, bibir membiru dan cairan merah yang memudarkan warna bening air keran.
Dengar sigap, Taehyung menarik salah satu jubah mandi yang tergantung di sana, mengangkat tubuh ringkih Jungkook dan menutupinya dengan pakaian itu.
"Jimin, cepat siapkan mobil!" perintah Taehyung, menengok pada Jimin yang berdiri tegang di depan pintu kamar mandi.
"B-baik!" sahut Jimin terbata dan segera melesat dari sana.
Taehyung menggendong tubuh dingin Jungkook, mendekapnya erat, berharap kehangatan tubuhnya dapat sedikit Jungkook rasakan. Kakinya melangkah dengan cepat, nyaris berlari. Benar-benar tidak ingin kehilangan sedetik pun untuk menyelamatkan majikan kecilnya yang berada diambang kematian.
"Kookie, kumohon bertahanlah.." ucapnya berbisik lirih sembari mempererat dekapannya.
tbc
Otsu & Christal
