Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu
Re-writing & editing by Christal Alice
Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook
Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.
Warning! BL. AU.
Part. 8
...
Hari ke 2
Tidak ada perubahan yang signifikan. Suasana masih sama seperti kemarin. Kamar rawat VIP bernomor 02 itu masih terlampau hening, tidak ada tanda-tanda akan munculnya kabar baik dari sang pemuda yang masih memejamkan mata. Jungkook seperti tak ingin bangun dari mimpi indah yang tak pernah menghampirinya selama bertahun-tahun.
Di saat seperti inilah kesetiaan Taehyung akan di uji. Sejauh mana dirinya sebagai bawahan sekaligus asisten pribadi akan tetap setia menunggu. Tak peduli seberapa besar keinginannya untuk menggantikan posisi Jungkook, ia harus tetap berada di sisinya. Karena kapan pun pemuda itu membuka mata, hal pertama yang akan di lihatnya adalah dirinya.
Setelah memejamkan mata untuk beberapa saat, Taehyung kembali membuka mata. Dan hal pertama yang di lakukannya adalah memeriksa keadaan Jungkook, berharap menemukan gerakan kecil atau apa pun yang menandakan jika pemuda itu akan segera sadar. Sayang sekali, ia tidak melihat tanda-tanda itu dan hanya mampu menghela napas kecewa.
Tepat pada saat Taehyung menoleh kearah jam dinding, seseorang mengetuk pintu kamar rawat tersebut dan melihat seorang suster masuk membawa papan catatan dan sekantung infuse baru. Suster itu sempat tersenyum ramah pada Taehyung, lalu mendekat ke tempat tidur.
Taehyung memperhatikan sang suster yang mulai mengganti kantung infuse, dan memaku tatapannya pada gerak-gerik wanita itu, bahkan saat suster itu sedang menulis sesuatu di catatannya. Hingga sang suster mengangkat wajahnya setelah selesai menulis, dan balas menatap Taehyung.
"Anda bisa istirahat. Saya yang akan berjaga disini." kata suster itu ramah.
"Tidak perlu, terima kasih." tolak Taehyung.
"Maaf jika saya lancang, tapi anda tidak beranjak sedikitpun dari kamar ini. Jika anda tidak beristirahat sejenak, anda juga bisa jatuh sakit." ujar suster itu panjang lebar. Taehyung beralih menatap wajah pucat Jungkook untuk sesaat sebelum mengangguk singkat.
"Baiklah," ia pun bangkit berdiri. "Tolong berjaga disini selagi saya keluar."
Suster itu tersenyum tipis. "Tentu saja."
Hari ke 3
Tidak ada aktifitas yang berarti di kamar rawat Jungkook. Dimana Taehyung masih setia duduk di sebuah kursi di samping tempat tidurnya tanpa pernah sama sekali merasa bosan. Entah sedang menerima telepon, makan, ataupun tidur, ia melakukan semuanya dengan duduk. Jika saja suster di sana atau Namjoon tidak 'mengusir paksa' dirinya untuk sekadar mandi atau merebahkan tubuhnya sejenak, bisa dipastikan ia tidak akan sedikit pun bergerak dari sana.
Suster-suster yang bertugas di dalam kamar rawat tersebut sampai terheran-heran. Karena mungkin baru kali ini mereka melihat seorang pria dewasa sangat 'gigih' menunggu seorang pemuda di samping tempat tidurnya.
"Ketua Tim." panggil seseorang. Taehyung mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah pintu kamar rawat yang kini terbuka. Kerutan samar menghiasi dahinya ketika melihat sosok Hanbin datang dengan membawa tumpukan buket bunga dan beberapa parsel.
"Saya sudah mengetuk pintu tadi." kata Hanbin. Taehyung bangkit berdiri.
"Darimana semua itu?" tanyanya heran. Hanbin melangkah masuk dan meletakkan semua yang di bawanya ke atas meja kaca di depan sofa yang letaknya sejurus dengan pintu kamar―di sisi kanan tempat tidur yang di peruntukkan bagi penunggu pasien.
"Semua ini dari rekan bisnis Tuan Muda, dan juga dari beberapa rekanan perusahaan." jawab Hanbin. Taehyung pun berjalan mendekat kearah sofa, mengambil salah satu buket bunga mawar merah dan melihat kartu yang terselip.
"Semuanya di kirimkan ke rumah?" tanyanya sembari meletakkan kembali buket itu.
"Tidak semua. Beberapa dikirimkan ke kantor."
Taehyung memilah-milah semua buket bunga yang ada, dan di singkirkannya keatas sofa. Sementara parsel yang berupa buah-buahan dan beberapa macam makanan sehat dibiarkan di atas meja kaca itu.
"Bawa bunga-bunga ini kembali. Tuan Muda alergi serbuk bunga." ujarnya. Hanbin mengangguk.
"Dan makanan-makanan ini, ambil yang kau mau. Tuan Muda tidak akan mau memakan semua ini." lanjutnya, kemudian menoleh kearah Jungkook diatas tempat tidur. "Lagipula dia belum akan bangun dalam waktu dekat" ujarnya dengan sorot sendu. Hanbin pun ikut mengalihkan pandangannya pada sang majikan.
"Apa separah itu penyakit Tuan Muda, Ketua?" tanyanya prihatin. Taehyung hanya mengangguk.
Setelah itu, Hanbin pun keluar dari kamar rawat itu dengan membawa serta buket-buket bunga dan beberapa parsel. Sementara Taehyung memutuskan untuk mengambil sekotak cokelat impor yang memiliki bungkus berwarna putih bertuliskan Hamlet. Mungkin saja dengan memakan cokelat, pikirannya bisa sedikit merasa rileks. Dan saat ia akan beranjak ke samping tempat tidur, seorang Dokter dan suster masuk untuk melakukan pemeriksaan rutin.
Hari ke 4
Suara ceria nan polos milik Kairi dan Ken mewarnai kamar rawat Jungkook hari ini. Si kembar itu sengaja diantar untuk menjenguk sang Paman yang terbaring di sana sepulang sekolah. Meskipun pada akhirnya kedua bocah itu malah membuat repot Taehyung akan tingkah khas anak-anak seperti mereka. Meski begitu, Taehyung tidak merasa terganggu atau pun kerepotan dengan semua itu. Justru sudah hampir beberapa jam mereka memainkan macam-macam permainan.
Walau sering kali Taehyung melemparkan pandangannya pada sosok Jungkook yang terbaring di tempat tidur. Setidaknya dengan kehadiran si kembar itu, kesendiriannya sedikit terlupakan. Untungnya tak lama kemudian Namjoon datang dengan membawa empat kotak bento. Dan bisa di tebak jika si kembar sangat senang di bawakan bento dengan lauk tempura kesukaan mereka.
"Jungkook pasti bingung jika dia sadar saat ini. Bocah itu sangat canggung ketika menghadapi anak kecil." kata Namjoon di sela makan malam mereka di kamar rawat itu. Taehyung memperhatikan Kairi dan Ken yang sedang asyik melahap makanan sambil menonton tv.
"Kau masih ingat Istri ku, Ketua?" tanyanya tiba-tiba. Taehyung mengangguk.
"Dulu saat dia masih hidup dan belum tahu jika Jungkook adalah sepupuku, dia sangat membencinya. Tidak mengherankan jika sifatnya yang sok tua itu terkadang membuat orang lain kesal, tapi saat isriku tahu kalau yang mengirimkan mainan tiap bulan itu adalah Jungkook, kebenciannya mulai memudar. Dan dia benar-benar kaget saat tahu kalau anak sok tua dan arogan itu adalah sepupuku." kenangnya menatap sendu pada sosok Jungkook. Taehyung cukup tahu diri untuk tidak bersuara saat ini, ia hanya diam mendengarkan.
"Jungkook sering berkata kalau semua wanita di dalam keluarga kami selalu berakhir tragis. Sulit di percaya tapi itulah yang terjadi. Bahkan setelah kecelakaan yang merenggut Istri ku, aku masih tidak mempercayainya."
"Menurut saya, itu hanya sugesti yang terlanjur tertanam di benak Tuan Muda. Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, semuanya akan baik-baik saja." ujar Taehyung. Namjoon tersenyum samar, kemudian mengangguk kecil.
"Aku tahu itu. Sebaiknya nanti tidak ku perbolehkan Kairi dan Ken terlalu sering bergaul dengan Pamannya. Anak itu bisa mendoktrin anak-anak ku dengan hal yang tidak-tidak." ucapnya sembari terkekeh kecil.
"Sayangnya kita tidak tahu kapan Tuan Muda akan bangun." Taehyung yang sudah lebih dulu menghabiskan makanannya, kembali memaku tatapannya pada Jungkook.
"Sebagai seorang Dokter aku tidak percaya apa kata orang. Jika seseorang mengalami koma, maka saat itu jiwanya sedang berkeliaran. Itu sangat aneh, bagaimana mungkin jiwa seseorang dapat berkeliaran jika orang itu tidak meninggal? Apa aku benar?" ia menoleh pada Taehyung. Pria itu mengangguk kecil. "Tapi apa menurut mu Jungkook mengalami hal itu saat ini?"
Taehyung terdiam, begitu pula Namjoon yang memilih untuk larut dalam keheningan 'kecil' itu. Terlepas dari suara berisik Kairi dan Ken yang duduk di atas tempat tidur tamu, tengah berebutan menonton channel favorit masing-masing. Dan meski dirinya tidak mempercayai hal-hal seperti itu, tidak dapat di pungkiri jika saat ini dirinya berharap hal itu benar adanya. Karena tentu Jungkook dapat melihat dan mendengar semua yang ada di kamar rawat ini.
Bukankah dengan begitu pemuda itu akan lebih cepat sadar? Tapi apakah itu mungkin? Entahlah. Dirinya berharap hal-hal ajaib yang tam di percayainya terjadi saat ini juga. Karena dirinya tak tahan melihat sang majikan terbaring tak sadarkan diri.
Namun kesunyian diantara kedua pria itu terurai akan bunyi tak beraturan dari sebuah alat medis di samping tempat tidur pasien. Namjoon spontan bangkit berdiri, mendekat ke tempat tidur di ikuti Taehyung.
"Apa yang terjadi ?" tanyanya cemas. Tiba-tiba saja tubuh ringkih itu mengejang hebat
"Panggil Dokter! Cepat!" suruh Namjoon cukup panik. Taehyung pun keluar dengan tergesa-gesa.
"Kuki kenapa Ayah?" tanya Kairi yang kini berdiri berjinjit di sisi kanan tempat tidur. Namjoon mengangkat wajahnya, melihat wajah polos serta sorot mata yang penuh akan tanda tanya di mata anak kembarnya.
"Berdo'a lah supaya Hyung-mu baik-baik saja." ujarnya bijak.
.
.
.
Krriiiingg~!
Telepon yang berdering di ruang keamanan memaksa Jimin yang sedang sibuk berkutat dengan komputernya berpaling sejenak dan mengangkat telepon.
"Dengan kediaman keluarga Jeon." sapanya.
"Oh, Taehyung. Ada apa?" Jimin menarik kursi ergonomic nya mendekat ke meja seberang dimana telepon terletak. "Semuanya aman. Baik, akansegera ku laksanakan."
Sambungan itu pun usai, Jimin meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya, kemudian bangkit berdiri.
"Yesung Hyung dan Eunhyuk Hyung, kalian diminta Ketua untuk ke Rumah Sakit sekarang!" ujarnya pada dua orang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan sambil membawa cangkir kopi.
"Kami berdua? Memang ada apa?" tanya Yesung tampak bingung. Karena baru kali ini Ketua Tim mereka meminta orang untuk datang ke Rumah Sakit selama satu minggu ini.
"Aku tidak tahu, dia tidak mengatakannya. Sudah pergi saja, mungkin ada sesuatu."
"Baiklah. Ayo." Eunhyuk meletakkan cangkir kopinya dan beranjak keluar dengan diikuti Yesung yang mengekor di belakangnya.
"Kau sendiri dapat tugas dari Ketua?" tanya Hanbin yang duduk di balik meja monitor cctv.
"Aku harus mengambil sesuatu di kamar Tuan Muda, nanti akan ada yang mengambilnya ke sini." kata Jimin.
Pria muda itu pun beranjak dari ruang kemanan menuju ke bangunan rumah yang semakin terasa sepi dari hari ke hari. Dan tentu saja hampir semua karyawan di rumah itu bertanya-tanya akan apa yang terjadi pada majikan mereka, tak terkecuali dirinya. Meski hari itu ia juga berada di kamar Jungkook, tapi ia tak tahu pasti akan apa yang terjadi.
Langkahnya masih terasa santai menyusuri lantai dasar rumah berlantai tiga tersebut. Sesekali mengecek ruangan lain di tiap lantai yang di lewatinya, hingga akhirnya ia sampai di kamar tidur milik Jungkook. Jimin baru saja memasukkan kunci serep ke pintu tersebut, saat sayup-sayup ia mendengar alunan lagu dari dalam kamar. Gerakan tangannya sempat terhenti kembali memutar kunci berwarna perak itu, dan dengan wajah bingung ia membuka pintu tersebut lebar-lebar.
Semua properti dan barang-barang pribadi milik Jungkook tertata rapih seperti seharusnya, dan tidak terdengar apa pun disana. Jimin melangkah masuk dengan hati-hati dan memperhatikan ke seluruh kamar. Tidak ada yang aneh disana. Lalu, apakah lagu yang tadi di dengarnya itu hanyalah perasaannya saja?
Jimin menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal, masih memandang ke sekitar. Setelah merasa semuanya baik-baik saja, ia pun berjalan ke arah lemari arsip yang berada di dekat sofa. Ia mengeluarkan ponselnya terlebih dahulu untuk melihat password lemari yang di kirimkan Taehyung melalui e-mail. Setelah terdengat bunyi 'klik', pintu lemari itu pun terbuka. Jimin kembali mengantongi ponselnya sambil membuka pintu tersebut.
Dengan seksama, pria itu mencari dokumen yang di maksud oleh Taehyung. Sebuah dokumen bercover merah gelap yang berada di deretan paling ujung, di ambilnya dokumen itu lalu menutup pintu lemari kembali. Saat itulah secara tak sengaja matanya melihat pantulan sosok Jungkook yang berdiri di belakangnya.
Kedua matanya melebar, melihat bayangan yang terpantul jelas di depan kaca. Majikan kecilnya itu hanya diam dan balas memandang dengan sorot yang khas. Namun tampak sehat dan anehnya Jungkook berdiri dengan kedua kakinya.
Bukankah pemuda itu sudah lumpuh sejak kecil?
Jimin berbalik cepat dengan wajah tegang, namun dirinya tak melihat siapapun di kamar itu. Tidak ada siapa pun selain dirinya. Ia pun beranjak ke arah kamar mandi, membukanya, dan tak melihat siapa pun disana.
"Tidak mungkin Tuan Muda ada disini, kan?" ucapnya merasa bingung sendiri, lalu menutup pintu kamar mandi kembali.
.
.
.
Tepat pada pukul sebelas siang, Taehyung memasuki gedung JAPFA Group, melangkah lebar-lebar seperti takut akan terlambat naik kereta. Jika tidak ada alasan yang terlalu penting untuk meninggalkan Rumah Sakit walau hanya semenit, ia tidak akan mau bergerak sedikit pun untuk keluar dari kamar rawat Jungkook.
Sayangnya, siang ini ia harus keluar untuk mengambil beberapa dokumen di kantor. Sementara dirinya pergi, Taehyung telah memerintahkan dua anak buahnya untuk berjaga di Rumah Sakit selama dirinya menjalankan tugasnya yang lain sebagai Asisten sang Direktur. Terlalu fokus pada apa yang ditujunya, Taehyung sampai mengabaikan beberapa sapaan dari pegawai lain yang ditujukan kepadanya. Dan kemunculannya di kantor hari ini setelah satu minggu menghilang cukup mengejutkan sekretaris yang mejanya berada di depan ruang Direktur.
"Ketua Tim." Lisa refleks bangkit berdiri. Hendak menanyakan sesuatu tapi pria itu tampak sedang tidak ingin bicara, terlihat dari cara berjalannya yang tergesa.
"Aku hanya datang untuk mengambil beberapa berka.s" kata Taehyung singkat saat masuk melewati pintu kaca yang terbuka otomatis.
Lisa hanya mengangguk paham, memilih untuk menunda apa yang ingin ia utarakan.
Tanpa kesalahan Taehyung memencet rangkaian angka kombinasi password untuk akses masuk ke ruang Direktur. Pria tampan itu segera masuk menuju meja kerja Jungkook, kemudian memilah-milah setumpuk berkas yang sudah satu minggu tak terjamah. Ia hanya membutuhkan dua berkas yang harus di serahkannya pada wakil Direktur hari ini. Karena bagaimana pun juga, perusahaan ini harus tetap berjalan.
Taehyung sempat memeriksa isi kedua berkas yang di butuhkan, memastikan jika tidak ada isi berkas yang salah. Tepat saat ia menutup berkas-berkas itu, aroma harum lembut yang sangat familiar menerpa indera penciumannya.
Kepalanya berputar seperti anak kunci, dengan pandangan waspada menatap keluar ruangan. Seperti mengharapkan sesuatu yang berasal dari aroma harum tersebut. Tanpa di sadarinya, ia mencengkram erat berkas yang sedang ia genggam, lantas tertegun ketika tatapannya jatuh pada botol kaca parfum kosong yang berada di dekat sebuah patung kucing kecil di meja tersebut.
Taehyung terdiam untuk beberapa saat, lalu akhirnya melangkahkan kaki membawa dokumen yang di butuhkannya. Pintu ruangan itupun terkunci otomatis ketika di tutup.
"Tadi saya sudah meminta Sehun-ssi untuk mengantar beberapa berkas baru ke rumah Direktur." kata Lisa ketika melihat Taehyung melalui pintu kaca.
"Baik, terima kasih." sahutnya singkat.
Kembali melanjutkan langkahnya, berjalan cepat dan tak menghiraukan tatapan beberapa karyawan yang menatapnya dengan rasa penasaran. Tak butuh waktu lama untuk turun ke lantai dasar, segera menuju ke meja receptionist untuk menitipkan berkas.
"Tolong berikan dokumen ini kepada Yoo Yoon Seok." ujarnya pada seorang wanita di balik meja panjang itu.
Wanita itu meraih berkas tersebut seraya menundukkan kepalanya kecil.
Taehyung baru saja membalikkan badan untuk beranjak saat ponselnya berdering. Ia merogoh saku jasnya, dan melihat nama salah satu bawahannya yang muncul di layarnya.
"Ada apa?" tanyanya begitu mengangkat telepon.
"Tuan Muda kejang-kejang, Ketua." kata suara di seberang sana. Saat itu juga, mata sipit Taehyung seketika melebar.
Kalimat singkat itu cukup menjelaskan kepanikan Yesung di telepon. Lantas, Taehyung segera mengambil langkah seribu dengan perasaan tak karuan, yang dimana langkahnya berubah menjadi derapan yang sangat cepat menuju mobil yang terparkir di lobi.
.
.
Taehyung langsung membuka pintu kamar rawat dengan napas tak beraturan dan wajah tegang. Sekujur tubuhnya mendadak membeku saat melihat pemandangan di dalam kamar itu. Terdapat seorang Dokter dan dua orang suster yang sibuk melakukan pertolongan pada sosok Jungkook yang masih terbaring tak sadarkan diri. Matanya sampai tidak bisa berkedip ketika melihat alat pengejut jantung yang di persiapkan oleh sang Dokter.
Ada apa ini? Sepertinya otaknya kini mendadak tak dapat bekerja dengan baik. Otak cemerlangnya seolah tak berfungsi saat melihat Dokter di dalam menggunakan alat pengejut itu diatas dada telanjang Jungkook. Di iringi bunyi dengung nada tinggi yang dapat menghentikan jantungnya saat itu juga.
Seorang suster yang baru saja menyiapkan beberapa peralatan melihat Taehyung yang berdiri di ambang pintu, akhirnya berjalan mendekat dengan tergesa.
"Maaf Tuan. Anda harus menunggu di luar." kata sang suster tegas namun ramah.
Taehyung masih tak bergeming saat si suster mendorong tubuhnya mundur dari ambang pintu lalu menutupnya. Masih tidak ada reaksi, seolah pikiran dan jiwanya melayang begitu jauh. Karena pemandangan di dalam kamar rawat tadi sangat mengerikan hingga membuat pria tinggi itu shock.
"Maaf, siapa pemilik mobil sedan hitam di depan lobi yang mesinnya masih menyala? Mobil anda menghalangi jalan." tegur seorang suster. Eunhyuk menoleh pada Yesung, mereka berpandangan bingung karena Taehyung tetap diam tak bergeming.
"Akan saya pindahkan." Sahut Eunhyuk pada akhirnya. Suster itu pun melangkah pergi.
Pria itu memberi isyarat pada rekannya―Yesung. Memutuskan untuk beranjak dari sana, tak ingin mengganggu sang Ketua yang saat ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Keheningan lorong seperti memberi sebuah tamparan untuknya. Dengan satu tarikan napas panjang, Taehyung menyudahi keterpakuannya, dengan tubuh dan perasaan yang berat ia membalikkan badan dan berdiri bersandar pada dinding yang dingin. Rasanya gamang, kakinya jadi tak bertenaga hingga tubuhnya merosot turun dan membuatnya duduk di lantai.
Taehyung menekuk kedua lututnya dan menundukkan kepalanya hingga keningnya menempel pada lulut. Dalam kesunyian ini ia hanya diam menunggu tak berdaya. Namun sepasang kaki yang berdiri di depannya, membuatnya mau tak mau mengangkat wajah perlahan.
Seorang wanita muda, berpakaian anggun, dengan wajah teduh yang cantik. Untuk kedua kalinya, Taehyung dibuat terkejut, iris matanya membesar sempurna melihat sosok wanita yang sangat di kenalnya
Wanita itu berpakaian serba hitam ala baju kantoran, hanya menatap Taehyung yang terpaku menatapnya. Seulas senyum tercetak di bibir merah wanita itu, saat Taehyung dengan perlahan bangkit berdiri.
"Nyonya..." Taehyung berucap sangat pelan. Tampak tak percaya dengan apa yang di lihat kedua matanya.
'Akan ku bawa anak itu kembali, karena belum waktunya dia pergi bersama kami.' suara lembut itu kembali menyapa gendang telinganya. Meski wanita itu tak terlihat membuka mulutnya.
"Maksud anda apakah..." Taehyung tak berani melanjutkan kalimatnya. Jeon Ji Won mengangguk samar.
'Berjanjilah untuk lebih menjaganya... Anak itu sangat berarti bagi kami.'
"Saya berjanji."
'Selama ini kami bisa tenang karena kau lah yang berada di sampingnya. Terima kasih sudah menjaganya.'
Ji Won kembali tersenyum, lalu sedetik kemudian sosoknya menghilang seperti asap. Taehyung termenung menatap dinding bercat putih di depannya. Suasana di lorong tersebut kembali terasa sunyi, seolah tak pernah ada percakapan apa pun.
Namun suara pintu yang dibuka tepat di samping kirinya membuat Taehyung segera menoleh dan berdiri. Akhirnya yang di tunggu-tunggu tiba, karena Dokter yang ada di dalam kamar rawat kini keluar.
"Apa anda yang bernama Taehyung?" tanya Dokter itu.
"Benar." jawab Taehyung tak sabar.
"Pasien sudah sadar dan memanggil nama anda, silahkan masuk." kata Dokter berkacamata itu.
Taehyung langsung saja melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kamar rawat Jungkook. Rasa lega luar biasa menyergapnya saat melihat sosok ringkih itu kini membuka matanya meski tak sepenuhnya. Ia meraih tangan Jungkook yang terulur lemah kearahnya. Jungkook tampaknya ingin menyampaikan sesuatu, bibirnya yang kering bergerak di balik alat bantu pernapasan. Dan Taehyung segera melepas alat itu tanpa bertanya lebih dulu pada Dokter.
"A―aku..." Jungkook mengatur napasnya, matanya tampak berkaca-kaca. "Mereka. A―aku me...lihat...mereka..." sambungnya lirih. Pemuda pucat itu meneteskan air mata.
Taehyung menyusupkan tangan kirinya ke belakang leher Jungkook, sedikit mengangkat pundak majikannya itu.
"Se―telah delapan tahun. Akhirnya...aku melihat mereka..." Jungkook terisak. Tanpa berniat menyakiti pemuda itu, Taehyung mendekap kepala Jungkook ke dadanya.
"Aku tahu." balasnya berbisik. Dengan tangan bergetar Jungkook mencengkram erat belakang jas yang Taehyung kenakan.
"Aku salah...selama...ini..."
Taehyung mempererat dekapannya tanpa membuat Jungkook sesak. Baik sang Dokter maupun dua orang suster yang ada di kamar tersebut hanya diam menyaksikan. Jujur saja karena mereka cukup kaget akan kondisi pasien yang baru sadar tetapi dapat berbicara cukup banyak serta menangis.
Hingga tak terdengar lagi suara isakan itu, dan tubuh Jungkook kehilangan tenaga. Taehyung merenggangkan dekapannya, kini melihat kedua mata itu kembali tertutup dengan sisa air mata di pipinya.
"Dok?" panggil Taehyung bingung, kemudian menoleh pada sang dokter yang berdiri di depan ranjang.
"Tenang saja, pasien hanya tertidur. Karena cukup lama tak sadarkan diri, fungsi otaknya belum dapat bekerja secara optimal." jelasnya seraya berjalan mendekat. Taehyung kembali menatap wajah pucat Jungkook, lalu dengan hati-hati meletakkan kepala pemuda itu kembali ke atas bantal.
Dirinya harus rela untuk bergeser dari sisi tempat tidur agar sang Dokter dapat melakukan tugasnya . Dan ia cukup senang melihat Dokter itu melepas beberapa alat yang sebelumnya menunjang kehidupan Jungkook, sementara seorang suster membantu, seorang lagi keluar dari kamar rawat membawa papan catatan.
"Berdo'a saja agar kondisi pasien tetap stabil. Tapi jika melihat reaksinya tadi, saya yakin pasien akan baik-baik saja. Saat ini pasien hanya tertidur, karena masih terpengaruh obat-obatan. Terlebih kinerja otak dan syaraf-syaraf di tubuhnya belum bekerja secara optimal." kata Dokter itu. Taehyung mengangguk.
"Saya mengerti. Terima kasih."
Dokter dan suster itupun keluar dari kamar rawat. Sementara Taehyung kembali mendekat ke tempat tidur, menyingkirkan poni tipis di dahi Jungkook dengan perlahan. Perasaan lega itu tampak jelas di sorot matanya, memandangi wajah tidur sang majikan.
.
.
I'm gonna swing from the chandelier, from chandelier
I'm gonna live like tomorrow doesn't exist, like doesn't exist
.
Chandelier itu mengalun lembut di dalam kamar rawat yang hening, suara Sia yang berkarakter serasi dengan suasana kamar saat ini. Dan tampaknya Taehyung― yang sedang berkutat dengan laptop di sofa, memang menyukai lagu tersebut, karena sudah beberapa kali ia memutarnya malam ini, sembari menjaga Jungkook yang masih terlelap setelah beberapa jam lalu sempat sadar.
Taehyung tampak tengah fokus mengecek e-mail tanpa di ketahuinya jika jemari tangan Jungkook bergerak pelan. Pemuda itu terlihat akan membuka mata, dan meskipun dengan perlahan akhirnya kedua kelopak mata itu terbuka. Dengan mata yang menyipit karena cahaya lampu dan kesadaran yang belum sepenuhnya pulih, ia hanya diam sambil mencerna kondisi di dalam kamar.
"...berisik..." satu kata yang meluncur dari mulutnya. Sangat pelan tetapi cukup dapat di dengar Taehyung.
Pria itu refleks mengangkat wajahnya saat melihat Jungkook yanh kini mengedipkan mata pelan. Pemuda itu tampak berusaha menggerakkan tubuhnya, tapi apa daya karena kondisinya masih terlalu lemas dan tak bertenaga. Ia harus rela bebaring diam dan hanya bisa menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri dengan perlahan.
"Akhirnya kau bangun." ucap Taehyung yang kini berdiri di samping tempat tidur. Jungkook menoleh ke samping kirinya, menatap sang bodyguard. Ia hanya memejamkan mata saat pria itu mengusap kepalanya.
"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanyanya dengan suara pelan.
"Satu minggu, dan tertidur selama sepuluh jam setelah bangun dari koma pagi tadi." Taehyung menyeret kursi di dekat tempat tidur tamu dan menempatkannya di dekat ranjang Jungkook. Pemuda itu menghela napas panjang yang samar.
"Wanita sialan itu, lihat saja. Akan ku buat dia mati untuk yang kedua kalinya jika dia berani muncul di depan ku lagi." ujar Jungkook setengah menggerutu, dan Taehyung hanya tersenyum samar mendengarnya.
Ya, rasanya senang dan lebih baik jika melihat Jungkook yang asli―yang seperti ini.
Pria tampan itu meraih tangan kiri Jungkook yang tergeletak lemas, memperhatikan sebuah tanda berbentuk lingkaran dan rangkaian kalimat aneh yang mengikuti pola lingkaran di telapak tangan itu. Sebuah rahasia yang selalu di sembunyikan di balik sarung tangan yang selalu di kenakan Jungkook kapan pun.
"Lain kali bertindak lah lebih dulu, karena akan lebih banyak lagi roh yang ingin menempati tubuhmu." ujarnya, dan kembali meletakkan tangan Jungkook.
"Aku tahu itu."
"Terakhir kali kau membakar arwah penasaran saat usiamu lima belas tahun. Apa kau ingat siapa dia?"
"Tidak, yang jelas mereka sangat mengganggu, tapi kalau kau bisa memanfaatkan mereka, itu akan sangat berguna."
"Tentu saja."
Hening sesaat di antara mereka. Jungkook hanya menatap langit-langit kamar, seperti tengah mengingat sesuatu. Dan Taehyung ikut terdiam saat ingatannya kembali terulang akan kejadian aneh beberapa belas jam yang lalu, pada saat sosok Jeon Ji Won muncul di hadapannya.
"Lucu sekali." Jungkook mengakhiri kesunyian dan Taehyung kembali menatapnya. "8 tahun aku berusaha untuk bertemu mereka dan sia-sia. Dan ketika aku hampir mati, mereka muncul dengan sangat singkat. Bukankah sangat lucu?" lanjutnya, kini menoleh pada Taehyung.
"Mereka sangat menyayangi mu." kata Taehyung menanggapi.
"Bahkan setelah meninggal pun Ibu tidak banyak bicara. Dia hanya menyuruh ku untuk hidup bahagia. Sepertinya selama ini aku salah, aku tidak melihat rasa penasaran atau dendam di wajahnya."
"Sudah seharusnya, karena satu-satunya yang beliau khawatirkan hanya dirimu. Sekarang mereka bisa lebih tenang karena kau anak yang sangat kuat, terlebih ada aku yang menjagamu."
Jungkook menoleh, memperhatikan Taehyung yang lekat menatapnya. "Apa kau sedang menyampaikan pesan dari seseorang?" tanyanya dengan wajah datar. Taehyung mengangkat satu alisnya. "Gaya bicaramu agak berbeda." lanjutnya menyelidik.
"Apanya yang berbeda?" tanya Taehyung tenang.
"Seseorang bicara padamu saat aku koma?" Jungkook balik bertanya. Taehyung hanya diam untuk beberapa detik.
"Nyonya muncul di hadapanku, tadi pagi." Ujarnya sembari mengalihkan tatapannya dari Jungkook. Pemuda itu menatap tak percaya.
"Kau serius?" Taehyung mengangguk.
"Kau sangat berarti bagi mereka."
"Tidak bisa dipercaya." Jungkook tertawa lemas. "Ternyata, untuk bertemu dengan mereka, aku harus sekarat terlebih dahulu dan kau yang tidak ada keinginan justru bertemu Ibu dengan sangat mudah." ucapnya terkekeh.
"Tidak ingin tahu apa yang Nyonya katakan padaku?"
"Tidak. Aku sudah tahu apa itu. Karena itulah alasanmu berada di sini sampai detik ini."
"Kau benar."
Jungkook kembali menatap langit-langit. Saat kepalanya mendadak terasa berat lagi. "Kepala ku pusing, panggilkan Dokter." pintanya sambil memejamkan mata.
"Baiklah." Taehyung pun bangkit berdiri. Sempat mengusap lembut rambut majikan kecilnya itu sejenak sebelum keluar dari kamar rawat.
Perlahan Jungkook kembali membuka matanya, menghela napas pendek. Tenggelam dalam diam yang melunakkan hati. Ia tidak menangis dan bukan berarti hatinya terbuat dari batu. Seangkuh apapun sifatnya, ia hanyalah seorang anak remaja berusia sembilan belas tahun yang 'di paksa' menjadi dewasa. Namun mungkin saat ini ia dapat mengerti akan semua hal yang telah terjadi di dalam hidupnya.
Lalu bolehkah saat ini dirinya merasa lega?
.
.
"Sebenarnya, anda masih harus menjalani rawat inap untuk beberapa hari kedepan." kata dokter di dalam kamar rawat pagi ini. Berdiri di depan tempat tidur dan memperhatikan pasiennya yang duduk di pinggir tempat tidur untuk bersiap-siap.
Jungkook tengah mengaitkan kemeja kotak-kotaknya saat merespon kata-kata sang Dokter.
"Anda tahu berapa banyak kerugian yang di timbulkan selama aku ada di Rumah Sakit?" tanyanya, tanpa menatap lawan bicaranya.
"Tapi hal ini juga untuk kesehatan anda." sang dokter memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jubah putihnya.
"Kesehatan ku baik-baik saja seperti yang anda bilang. Yang tidak baik adalah perusahaan yang sudah ku tinggalkan selama delapan hari ini." sahut Jungkook lagi.
Dokter itu mengerutkan kening, "Perusahaan? Di usia semuda ini?" raut wajahnya terlihat tak yakin dan Jungkook menoleh ke arah dokter berkacamata itu.
"Beginilah hidup, dokter. Banyak hal yang tidak anda ketahui." ujarnya sok dewasa. Dokter itu tak lagi menanggapi, karena sudah cukup tahu karakter sang pasien.
Jungkook memakai jam tangan merah favoritnya selagi Taehyung mengemasi barang-barangnya dan baju kotor ke dalam sebuah tas. Sang Dokter tampaknya telah berasumsi jika pemuda itu adalah seorang Tuan Muda yang memiliki pengawal yang setia, karena saat ini Taehyung sedang memakaikan sepatu pada Jungkook. Yah tentunya itu benar.
"Baiklah, saya permisi." ucap sang dokter pada akhirnya lalu melangkah keluar. Dan Taehyung yang baru saja selesai membantu Jungkook memakai sepatu, segera berdiri dan menundukkan kepalanya kecil seraya mengucapkan 'terima kasih'.
"Sudah kau urus administrasi nya?" tanya Jungkook. Taehyung memutar kepalanya.
"Sudah beres. Apa kau yakin sudah merasa lebih baik?" pria tampan itu memperhatikan wajah Jungkook yang masih agak pucat.
Bagaimana tidak? Pemuda itu baru saja sadar dari koma dua hari yang lalu, dan secara medis tubuhnya belum dapat melakukan aktifitas normal karena masih lemah. Tapi karena kondisinya cukup stabil, maka Jungkook bersikeras untuk keluar dari Rumah Sakit saat ini juga.
"Kau juga mau menyuruhku untuk tetap berada di sini?" tanyanya balik.
"Bukan. Hanya saja tubuhmu masih belum kuat untuk bekerja."
"Aku tidak berniat untuk langsung ke kantor, aku mau pulang."
"Baiklah."
Jungkook melipat kedua tangannya di dada memperhatikan Taehyung yang mengambil sebuah kursi roda yang sudah di sediakan di dekat tempat tidur. Pria itu membuka kursi tersebut, lalu mengangkat tubuh kurus Jungkook dan mendudukkannya di atas kursi roda. Taehyung segera mendorong kursi itu kearah pintu.
"Bawa tasnya dan masukan ke bagasi." perintahnya pada seorang bawahannya yang berdiri di depan kamar rawat.
"Baik."
.
.
Sepanjang perjalanan selama berada di dalam mobil, Jungkook tak sedikitpun melewatkan pemandangan di luar kaca jendela di samping kanannya dengan tangan terlipat di dada. Suasana di dalam mobil cukup tenang berkat rangkaian lagu yang mengalun dari seperangkat audio. Dan beberapa kali Taehyung yang berada di balik kemudi mencuri pandang ke kursi belakang melewati kaca spion dalam.
Lagu itu lagi. Chandelier milik Sia, kembali mengalun, membuat Jungkook mengalihkan perhatiannya. Dengan satu alis terangkat sorot matanya tertuju pada kursi kemudi di mana Taehyung sedang duduk dan mengemudi.
"Saat aku bangun tidur juga aku mendengar lagu ini." komentarnya. Taehyung kembali melirik kearah kaca spion.
"Aku suka lagu ini." ucapnya.
"Suaranya seperti orang yang sedang sakit tenggorokkan."
"Itulah menariknya. Apa kau tahu persamaan dan perbedaan mu dengan lagu ini?"
Kedua alis Jungkook terangkat. "Apa?" ia tampak ingin tahu.
"Persamaannya, kalian sama -sama sedang mabuk."
"Maksudmu?" Jungkook mengerutkan keningnya.
"Kau mabuk dalam ritme kehidupanmu, sampai kau tidak menyadari jika ada seseorang yang ingin masuk dan menolong mu. Kau terlalu menikmati dan menginginkan itu untuk dirimu sendiri. Semua kamu lakukan sendiri seolah tidak ada hari esok." ujar Taehyung panjang lebar. Dan Jungkook tampak tak ingin berkomentar.
Pemuda kurus itu memalingkan wajahnya, kembali menatap keluar jendela. Karena enggan di akuinya jika apa yang di katakan sang bodyguard itu benar. Dirinya memang memikmati 'rasa mabuk' itu.
"Dan perbedaannya, kau mabuk bukan karena minuman. Tapi hal lain, yang Justru lebih sulit untuk disadarkan." Taehyung melanjutkan.
"...aku yakin tidak sulit." gumam Jungkook. Taehyung yang dapat mendengarnya hanya mampu menahan senyum di sudut bibir.
Perjalanan pulang yang singkat tersebut berakhir dalam beberapa menit kemudian. Sedan hitam yang di kendarai Jungkook itu berhenti tepat di lobi utama kediaman keluarga Jeon, dan dua pria berbaju hitam yang berdiri di dekat pilar bergerak cepat. Satu orang membuka bagasi, dan yang lain membuka pintu belakang di mana sang majikan duduk. Mereka sigap membuka lipatan kursi roda dan meletakkannya di depan pintu rumah yang terbuka lebar, sementara Taehyung yang baru saja turun segera mengangkat tubuh Jungkook dan di dudukkan ke atas kursi tersebut.
Taehyung mulai mendorong kursi roda menuju ke arah tangga, sementara seorang bawahannya membawakan tas yang berisi pakaian kotor Jungkook. Namun saat pria tampan itu mendorong kursi roda melewati ruang tengah, terdengar suara derap langkah kaki kecil yang menuju ke arah mereka dari belakang.
Taehyung otomatis menghentikan kursi tersebut tepat di bawah tangga, dan Jungkook menengok ke belakang punggungnya. Spontan menyipitkan mata saat melihat kedua keponakannya yang kini sedang berlari ke arahnya, dan belum sempat ia mencerna kebingungan itu, Kairi dan Ken sudah memeluk dirinya yang mematung.
"Kairi! Ken!" Namjoon berjalan cepat, menghardik si kembar.
"Ada apa ini?" tanya Jungkook bingung, sekaligus shock. Bukan karena tidak suka di peluk, ia hanya tidak tahu harus melakukan dan berkata apa. Yah, dirinya memang terlalu kaku.
"Jungkook Hyung baru saja sembuh, kalian bisa membuatnya sakit lagi." kata Namjoon sembari menarik Kairi ke gendongan sementara Ken masih bergelayut layaknya koala di atas pangkuannya Jungkook.
Bocah laki-laki itu memang di kenal sangat menyayangi Jungkook karena lebih sering mendapat hadiah game atau mainan yang diberikan partner bisnisnya. Dan otomatis Jungkook memberikan semua barang itu pada Ken. Dan meskipun mereka jarang bertemu, Ken cukup menyayangi Jungkook dan tak pernah canggung jika bertemu Paman nya yang sok misterius itu.
"Horeee! Kuki Hyung pulang~!" soraknya sambil mengangkat kepalanya, tersenyum lebar pada Jungkook. Sang empunya hanya terdiam dengan wajah bingung, yang pada akhirnya ia hanya menepuk kepala Ken kecil.
"Tuan Ken, Jungkook Hyung baru saja sembuh. Tolong turun, ya." kata Taehyung, menundukkan badannya. Bocah laki-laki itu mengangguk kecil, dan turun dari pangkuan sang Paman.
"Kenapa Kuki Hyung lama sekali? Aku dan Ken sudah tidak sabar merayakan hari ini!" ujar Kairi bersemangat. Jungkook refleks menoleh ke arah Taehyung yang berdiri di sisi kiri kursinya.
"Kau memberitahu mereka aku pulang hari ini?" tanyanya pelan, dengan mulut setengah terkatup. Taehyung sempat melirik kearah Namjoon yang berdiri di anak tangga paling bawah.
"Aku memang sudah meminta agar Taehyung memberitahuku saat kau pulang." sahut Namjoon seraya menurunkan Kairi dari gendongannya. Jungkook pun memutar kepalanya, kini menatap Namjoon.
"Mereka sudah tidak sabar bertemu dengan mu, sejak terakhir kali mereka bertemu dengan mu lima bulan yang lalu. Dan juga ada yang ingin mereka sampaikan."
Jungkook menaikkan satu alis, bergantian menatap Kairi dan Ken yang berdiri di sisi kursi rodanya, dan Namjoon seolah memberi isyarat agar kedua anaknya itu mengatakan apa yang ingin mereka sampaikan.
"Kairi dan Ken ingin bilang terimaaaaaa kasih sama Kuki Hyung karena sudah sering memberikan kami hadiah banyaaaaaakk sekalii." ujar Kairi lucu sambil menggerakkan kedua tangannya.
"Iya! Jungkook Hyung baik sekali! Aku sering di kasih hadiah mainan!" Ken menyahut dengan mata berbinar.
"Sewaktu Kuki Hyung di Rumah Sakit aku dan Ken juga ikut menemani loh," Kairi menatap lucu. Jungkook pun melirik Namjoon, lalu pada Taehyung. Kedua pria itu mengangguk kompak.
"Terima kasih." ucapnya kaku. Taehyung sampai menahan senyumnya melihat kecanggungan majikan kecilnya itu.
"Ya sudah, sekarang ayo kita makan siang bersama." kata Namjoon.
"Uhm! Ayo Hyung, tadi aku dan Ken sudah memilih banyaaaakk makanan enak untuk Jungkook Hyung!" Kairi tampak sangat bersemangat.
"Makan siang? Tapi aku―"
"Tidak ada alasan untuk menolak. Ayo kita ke ruang makan!" Namjoon segera memutar kursi roda Jungkook tanpa mempedulikan berbagai macam kalimat penolakan yang Jungkook layangkan.
"Taehyung! Kenapa diam saja?!" Jungkook menatap garang pada sang bodyguard. Namun Taehyung hanya diam, lalu mengangkat bahu kecil.
Justru kesalah tingkahan dan kecanggungan Jungkook itulah yang membuat suasana di ruang makan menjadi lebih menarik. Kairi dan Ken yang tidak pernah berhenti berceloteh pada Jungkook yang duduk diam di ujung meja makan, sementara si kembar itu mengambilkan beberapa lauk ke mangkuk Jungkook dengan antusias.
Pemuda kurus itu dengan canggung mengambil mangkuknya yang isinya sudah menjulang dengan berbagai lauk. Namjoon pun berhasil menertibkan kedua anaknya untuk duduk tenang di kursi mereka masing-masing, dan jam makan siang itupun berjalan lancar. Tentu saja di sertai celotehan Kairi dan Ken yang tak jarang berebut lauk ataupun rewel saat menemui makanan yang tidak mereka suka.
Jungkook memakan makan siangnya dengan pelan, meski mulutnya sibuk mengunyah, tetapi kedua matanya memperhatikan kedua keponakannya. Dan hal itu tak luput dari tatapan Taehyung, yang berdiri di sisi kanan belakang kursi Jungkook.
Dan jam makan siang itu tak berlangsung lama, karena selesai menghabiskan makan siang mereka, Kairi dan Ken segera turun dari kursi dan berlari keluar dari ruang makan. Dan mau tak mau Namjoon harus mengikuti kedua anaknya itu, yang berlomba untuk mengambil hadiah yang mereka bilang sudah dipersiapkan untuk Jungkook.
Seperti badai, suara nyaring mereka lenyap begitu Ken dan Kairi tak lagi terlihat. Jungkook meletakkan mangkuknya di atas meja, lalu menegak air minumnya. Dan entah apa yang di pikirkannya saat ini, ia hanya diam menatap lurus ke depan.
"Kenapa?" sebuah kata yang meluncur dari mulut Jungkook. Taehyung menoleh pada pemuda itu.
"Apa?" sahutnya.
"Kenapa di saat ada banyak orang yang menghindar dan membenci ku, anak-anak itu malah mendekat padaku? Memangnya mereka tidak takut padaku?" Jungkook memutar kepalanya, balas menatap Taehyung dengan sorot bingung.
"Apa yang kau bingungkan? Kairi dan Ken memang keponakan mu 'kan. Sudah sewajarnya mereka dekat denganmu."
Jungkook menggeleng pelan. "Bukan begitu. Hanya saja aku sangat jarang bertemu mereka."
"Mereka hanya anak-anak berusia enam tahun. Apa yang mereka tahu selain mainan? Yang mereka tahu jika Paman mereka sangat baik hati dan selalu memberikan hadiah mainan. Kau tidak dengar apa yang mereka katakan tadi?"
Jungkook berdecak kecil. "Aku tidak tuli, ok?"
"Anak-anak selalu lebih jujur, mereka akan berkata senang jika mereka senang, dan akan berkata baik jika orang-orang yang berada di sekelilingnya memang baik. Dan bagi mereka, dirimu sangat baik."
Jungkook menghela napas pendek, serta menyandarkan punggungnya ke belakang. "Kau tahu aku paling tidak bisa berhadapan dengan anak-anak." gumamnya.
"Ya, aku bisa melihatnya. Bukankah itu sisi manis yang ada pada dirimu."
Jungkook menoleh, menatap tajam. Hanya sejenak, karena ia kembali menatap lurus ke depan.
"Aku harus menaikkan jabatan mu. Sudah bertahun-tahun kau bekerja padaku." ujarnya tiba-tiba. Taehyung mengangkat satu alisnya.
"Apa ada yang lebih tinggi dari jabatan keamanan yang sedang ku jabat sekarang?"
Jungkook kembali menatap pria tampan itu, tanpa aba menarik dasi hitamnya yang membuat Taehyung refleks membungkukkan badan kearahnya.
"Mulai saat ini, kau bukan lagi bodyguard atau asisten ku. Aku membutuhkan mu lebih dari itu, dan sejak awal kau menjadi bodyguard, kontrak kerja mu akan berlaku seumur hidup. Jadi jangan berpikir kau bisa dengan mudah mengundurkan diri." ucapnya. Baik dirinya dan Taehyung saling menatap ke dalam mata masing-masing.
"Aku tidak ada niatan untuk mengundurkan diri." ucap pria itu.
"Sudah seharusnya."
"Aku menerima jabatan baru ku dengan senang hati."
Jungkook tak merespon apapun, dan malah menarik dasi Taehyung di genggamannya hingga membuat pemuda itu harus mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Tanpa aba, ia menempelkan bibirnya pada bibir Taehyung.
Sebuah ciuman hangat yang singkat. Taehyung dan Jungkook saling memagut lembut, dan tanpa harus meminta izin. Taehyung meraih dagu Jungkook, dan memperdalam ciuman mereka.
"...hanya kau yang bisa berada di dekat ku." ucap Jungkook setelah menyudahi ciuman mereka. Taehyung mengusap saliva di bibir kering itu, lalu mengecup keningnya sekilas.
"Lagi pula, hanya aku yang bisa mengerti orang seperti mu." balasnya, menatap ke dalam mata Jungkook.
"Dan jangan pernah berpikir setelah jabatan mu naik, aku akan dengan mudah memberi toleransi."
Seringaian muncul di sudut bibir Taehyung, "Aku tahu itu, Tuan Muda. Lebih baik dari siapa pun."
Jungkook tersenyum masam, lalu melepaskan dasi Taehyung tepat saat Kairi dan Ken kembali ke ruang makan, Taehyung membenahi letak dasinya, dan tak lupa tersenyum pada Namjoon yang membuat pria berkacamata itu keheranan.
"Apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada?" tanyanya, bergantian menatap Jungkook dan Taehyung. Adik sepupunya itu hanya menggeleng pelan, namun meskipun begitu, ia bisa dengan jelas melihat rona berbeda di wajah manis Jungkook.
"Aku gambar ini untuk Kuki Hyung~" kata Kairi lucu, memberikan selembar kertas gambar pada Jungkook. Dan, Jungkook menerima kertas tersebut kemudian membuka lipatannya.
Mulutnya terkatup rapat melihat gambar di kertas tersebut. Meski hanya goresan tangan khas anak berusia enam tahun yang berantakan, namun dirinya dapat merasakan kehangatan yang tulus dari gambar itu. Hanya gambar garis tegak lurus yang membentuk sosok orang, ada lima 'orang' di sana. Di mana setiap gambar di sertai nama: Ayah, Kairi, Ken, Jungkook Hyung, Paman Taehyung.
Entahlah. Padahal itu hanya gambar bocah yang bahkan tidak bisa di katakan bagus.
"Ini hadiah dariku untuk Jungkook Hyung!" kata Ken tak mau malah. Bocah laki-laki itu memberikan sebuah patung clay berwarna abu-abu yang membentuk seperti anjing yang bahkan tak mirip.
"Kata Ayah, Jungkook Hyung suka sekali dengan anjing. Jadi aku buatkan Mogu untuk Hyung." Ken tampak bangga dengan karyanya.
Jungkook memperhatikan clay yang hanya seukuran jari telunjuk itu, lalu kembali menatap Kairi dan Ken yang berdiri di sisi kanan kursinya.
"Terima kasih Kai, Ken." ucapnya, tersenyum untuk yanh pertama kalinya. Lalu mengusap kecil kepala kedua bocah itu
Baik Namjoon maupun Taehyung tampak kaget melihat pemandangan langka. itu. Mereka sempat saling bertukar pandang.
Suara pintu ruang makan yang di ketuk, membuat ketiga pria berbeda usia disana menoleh kompak kearah pintu. Tampak Jimin berdiri di sana dengan wajah tegang.
"Ada apa?" tanya Taehyung, berjalan mendekat. Di ikuti tatapan Jungkook.
"Maaf Ketua, baru saja ada telepon dari kepolisian jika mereka sudah mengumpulkan cukup banyak bukti dan telah menangkap pelaku yang menyelewangkan uang pajak perusahaan JAPFA Group." jawab Jimin.
Taehyung spontan menengok ke belakang punggungnya, pada Jungkook yang juga mendengar hal itu. Dan dapat si tebak jika pemuda itu tampak tak sabar untuk segera ke kantor polisi.
"Kita kesana!" perintahnya.
.
.
Tepat pukul 8 malam, Jungkook memasuki kamarnya yang luas yang sudah satu minggu lebih tak di tempatinya. Wajahnya yang masih agak pucat tampak lelah, namun meski begitu raut wajahnya cukup terkontrol. Sementara Taehyung kini tengah berdiri di hadapannya, sedang melepaskan blazer yang Jungkook kenakan.
"Aku masih tidak percaya jika Kyuhyun lah yang melakukan hal itu." ujarnya. Condong berbicara pada dirinya sendiri. Taehyung meletakkan blazer Jungkook yang baru saja dilepaskannya tepat di samping pemuda itu.
"Apa saja bisa terjadi, tidak ada yang tidak mungkin. Seperti yang sering kau bilang." sahutnya kalem, mulai membuka kancing kemeja putih Jungkook.
"Seharusnya aku tahu seperti apa orang-orang yang bekerja padaku selama ini. Alibinya sangat rapi."
"Kalau sudah seperti ini kau jadi tahu karakter mereka yang sebenarnya bukan?"
Jungkook mengangguk samar. "Entah bisa di bilang hari baik atau tidak. Aku baru saja keluar dari Rumah Sakit dan sudah di suguhi kasus seperti ini." ucapnya, seraya menyingkirkan rambutnya yang sedikit menutupi matanya.
"Istirahat lah sekarang, besok kau harus check up ke Rumah Sakit." ujar Taehyung, meraih sebuah t-shirt hitam setelah membuka kancing kemeja yang di kenakan Jungkook.
Tapi pemuda itu tak bergeming saat Taehyung menyodorkan t-shirt itu, dan malah menatap sang bodyguard dengan tatapan aneh yang tak di mengerti oleh pria tampan itu. Alhasil Taehyung harus melepas kemeja Jungkook untuk memakaikan t-shirt hitam yang biasa di pakainya untuk tidur, tapi bukannya bekerja sama, Jungkook malah menarik kepala Taehyung dan nyaris membuat pria itu roboh ke arahnya.
Bibir mereka melekat sempurna. Jungkook menyesap bibir Taehyung lembut, meremas helaian rambut dark blue milik pria itu seraya mendorong kepalanya. Taehyung sendiri menyambut ciuman Jungkook yang tiba-tiba dengan senang hati, selagi bibirnya balas menyesap bibir kering sang majikan, kedua tangannya menggeser kemeja Jungkook yang telah terbuka, hingga membuat si manis itu bertelanjang dada.
Jungkook semakin meremas rambut Taehyung, ketika tanpa daya tubuhnya roboh di atas tempat tidur. Dan Taehyung kini tepat berada di atasnya. Saling memagut lembut dengan napas mulai memburu dan menerpa wajah satu sama lain. Namun tak lama, Jungkook menyudahi ciuman itu, dengan bibir basah menatap Taehyung yang wajahnya hanya berjarak beberapa inci saja.
"Aku tidak mau beristirahat. Masih banyak hal yang harus ku lakukan malam ini." ujarnya, tetap mengalungkan kedua tangannya di leher Taehyung. Pria tampan itu mendaratkan kecupan kecil di dahi Jungkook.
"Bisa kau lakukan besok, tidurlah. Kondisimu bisa kembali memburuk jika memaksakan diri." ucapnya lembut.
"Aku tidak bisa tidur cepat, kau tahu itu. Lagipula sejak kenaikan jabatan mu, kau belum melaksanakan tugas baru mu dengan baik."
Taehyung mengangkat salah satu alisnya. "Jadi sekarang, apa tugas barku?" tanyanya penasaran. Tangan Jungkook turun ke jas yang di kenakan Taehyung, meraba kemeja putih di bagian dalamnya, dan menatap ke dalam mata kelam itu dengan tajam.
"Bukahkah seharusnya kau sudah lebih dulu tahu tanpa harus kuberi tahu?"
Taehyung mendekatkan wajahnya, semili lagi bibir mereka akan bersentuhan.
"Aku mengerti. My Lord."
Jungkook tak bereaksi, dan menutup matanya saat Taehyung mencium bibirnya. Dan sesi itu pun berlanjut, tatkala Jungkook juga tak tinggal diam untuk meraba ke dalam kemeja putih yang di kenakan sang bodyguard.
.
.
Suasana kamar yang hangat, dan terasa lebih nyaman dari hari-hari sebelumnya. Malam ini terasa sangat berbeda, entah karena perubahan atmosfir yang tercipta, atau karena suatu hal yang lain.
Jam dinding menujukkan tepat pukul sebelas malam saat Jungkook memutuskan untuk menyibukkan diri di meja kerjanya yang ada di kamar tersebut. Setelah cukup puas bergulat dengan Taehyung di atas tempat tidur king size nya, kini ia harus memeriksa beberapa laporan perusahaan yang terbengkalai selama dirinya sakit.
Meski Taehyung sudah mengingatkan jika dirinya harus beristirahat, Jungkook tentu saja tidak akan semudah itu menurut. Alhasil, mau tak mau Taehyung harus mengangkat tubuh ringkih Jungkook yang kini sudah mengenakan kemeja ke depan meja kerja. Sementara dirinya bertelanjang dada dengan masih menakai celana bahan berwarna hitam yang kancingnya sengaja dibiarkan terbuka, duduk di belakang Jungkook untuk menemani pemuda itu bekerja.
Taehyung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Jungkook, selagi pemuda itu membaca selembar laporan, ia menciumi leher mulus sang majikan yang kini terdapat banyak tanda merah yang dibuatnya sendiri.
Sang empunya sendiri tampak fokus membaca kertas laporan mengenai perusahaan di tangannya, dan sesekali melihat laporan yang dibuat oleh Taehyung selama dirinya sakit. Dengan santai ia menyandarkan punggungnya di dada Taehyung, membiarkan pria itu melakukan apa pun yang diinginkannya.
"Apa aku harus menaikkan gaji Lalisa? Dia yang sudah melaporkan masalah uang pajak perusahaan itu ke polisi 'kan?" tanya Jungkook meminta saran, dan menurunkan kedua tangannya yang masing-masing memegang kertas laporan. Taehyung mengangkat wajahnya.
"Terserah padamu. Kalau di pikir-pikir itu hal yang pantas, anggap saja sebagai hadiah untuknya." Ujar Taehyung menanggapi.
"Kau benar, biar bagaimanapun, aku harus memberinya hadiah." Jungkook mengangkat punggungnya sejenak untuk meletakkan kertas print out tersebut keatas meja.
"Apa aku tidak diberi hadiah juga?" tanya Taehyung dengan maksud terselubung dari perkataannya. Jungkook yang hendak kembali menyandarkan punggungnya ke dada pria itu pun dengan cepat menoleh.
"Kau bercanda? Aku baru saja menaikkan jabatan mu dan sekarang kau meminta hadiah dari ku?" satu alisnya terangkat naik.
"Bukankah aku juga pantas? Aku juga patut menerima hadiah."
Jungkook mendengus. "Oh, jadi kau juga menginginkan hadiah?"
"Tentu saja, tapi bukan jenis hadiah seperti yang akan kau berikan kepada Lisa atau pada yang lainnya."
"Lalu?" Jungkook menautkan kedua alisnya, masih tidak mengerti arah pembicaraan mereka. Taehyung mengeratkan kedua tangannya di pinggang Jungkook.
"Hadiah yang lain, yang hanya aku saja yang bisa menerima hadiah itu."
Jungkook menyipitkan mata, menatap ke dalam sepasang mata kelam Taehyung yang berkilat akan suatu hal. Sedetik kemudian Jungkook kembali menyandarkan punggungnya setelah akhirnya paham apa yang Taehyung maksud.
"Kau sudah menerima hadiah mu sejak awal. Bahkan lebih dulu dari pada yang lain." Ujar Jungkook pada akhirnya. Taehyung tersenyum miring.
"Dan aku menginginkan hadiahku lagi." ucapnya.
"Jangan bercanda, kau mau membuat ku mati di atas tempat tidur?!"
"Jangan belebihan. Bukankah kau juga menikmatinya."
"Aku baru tahu kalau sebenarnya kau adalah orang yang pervert."
"Resiko saat kau berhubungan dengan pria berusia dua puluh delapan tahun yang terlalu sibuk dengan majikannya sampai tidak punya waktu untuk bersenang-senang."
Jungkook tertawa lirih mendengar kata-kata yang di ucapkan Taehyung barusan. "Bersenang-senang? Lucu sekali." desahnya merasa geli.
"Teruslah tertawa dan tersenyum seperti itu, seperti saat tadi siang di hadapan Kairi dan juga Ken."
Jungkook langsung mengatupkan bibirnya. "Tidak akan. Senyum ku mahal untuk di lihat." ucapnya judes. Taehyung tertawa kecil. "Kau tahu?"
"Hm?" Taehyung meletakkan dagunya di pundak Jungkook.
"Kairi dan Ken, aku bersyukur mereka tidak mengalami apa yang aku alami saat aku seusia mereka."
"Kairi dan Ken, mereka memiliki jalan yang berbeda denganmu."
"Apapun akan ku lakukan untuk melindungi masa kecil mereka. Semoga saja kutukan itu tidak menimpa Kairi, kalaupun iya, akan akan ku lakukan apapun untuk menebusnya."
Taehyung mengeratkan pelukannya, lalu mencium pundak Jungkook yang terekspos, karena kemeja kebesaran yang di kenakan pemuda itu.
"Kutukan itu tidak ada, percayalah. Itu hanya sugesti yang di tanamkan Tuan Besar kepadamu, agar kau bisa tetap fokus pada semua perusahaan yang sudah didirikannya."
"Semoga saja apa yang kau katakan benar."
"Kalaupun kutukan itu benar, aku akan ikut menebusnya bersama mu. Seperti yang selama ini ku lakukan untuk mu."
Jungkook menahan napas, dan memegangi tangan Taehyung yang berada di pinggangnya. Sejenak suasana di kamar itu menjadi hening, Jungkook menutup matanya, begitu pula Taehyung. Seolah tengah merasakan suasana hangat yang tercipta.
"Mulai detik ini, kau tidak boleh jauh dari sisiku." kata Jungkook, seraya membuka matanya kembali.
"Aku sudah menandatangani kontrak seumur hidup dengan mu, apa aku terlihat akan pergi setelah sejauh ini?"
"Apa yang membuatmu bertahan? Seperti yang mereka bilang, aku hanya anak kecil sok tahu yang cacat. Sebenarnya tidak ada yang bisa di banggakan dariku, aku sadar betul mereka hanya takut jika aku memecat mereka."
"Tidak butuh alasan untuk berbangga pada seseorang. Begitu pula aku, tapi aku bangga karena hanya aku saja yang mengetahui sisi lain dari dirimu yang manis."
Jungkook mendengus. "Sejak kapan mulutmu jadi semanis itu?" tanyanya, sedikit salah tingkah. Meski di sembunyikannya dengan cukup rapi.
"Sejak aku mulai bekerja untuk mu, aku harus pintar mengatakan hal-hal manis."
"Ah ya, aku lupa kalau kau terkadang menyebalkan."
"Bagaimana dengan hadiah ku?" tanya Taehyung, memiringkan kepalanya di atas pundak Jungkook. Menatap pemuda itu, yang kini menoleh padanya dengan kerutan di dahi.
"Apa kau serius?" Jungkook menatap tak percaya.
"Kenapa aku harus bercanda?"
"Tidak. Sekali tidak tetap tidak, kau tidak lihat tempat tidur ku berantakan? Aku tidak mau berbaring disana, dengan cairan-cairan itu."
"Jadi aku tidak mendapatkannya lagi?"
Jungkook hendak membuka mulutnya kembali, namun dirinya lebih dulu merasakan sesuatu di bawah sana yang terasa mengganjal, dan cukup mengganggu.
"Yang benar saja Taehyung..." desah Jungkook, seraya melepaskan tangan sang bodyguard di pinggangnya. "Bagaimana bisa penis mu kembali tegang hah?" tanyanya tak habis pikir.
Taehyung melepaskan pelukannya, dan dengan mudah mengangkat tubuh Jungkook dan mendudukkannya di atas meja hingga kini mereka berdua berhadapan.
"Aku serius saat aku ingin hadiah. Dan sekarang, kau yang harus beradaptasi dengan ku, dengan pria berusia dua puluh delapan tahun."
"Kau tidak―"
Taehyung sudah lebih dulu menyumpal bibir majikan kecilnya itu dengan bibirnya. Dan Jungkook tidak bisa menolak, karena toh dirinya juga menikmati ciuman itu. Sementara kedua tangan Taehyung bergerak mengelus-elus kaki ramping Jungkook yang berada di sisi tubuhnya, dan bergerak ke balik kemeja putih yang di kenakan pemuda itu, menggerayangi kedua belah bokong Jungkook yang membuat si empunya mendesis lirih di sela-sela ciuman mereka.
"Jangan pernah menganggap jika dirimu telah hancur. Karena keberadaanku disisimu adalah untuk menjagamu dari hal-hal yang bisa membuatmu hancur. Dan hal itu tidak akan pernah kubiarkan terjadi." ujar Taehyung, setengah berbisik saat sejenak melepaskan bibirnya.
Belum sempat Jungkook puas mengambil napas, pria tampan itu sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya. Dengan mudah membopongnya kembali ke atas tempat tidur. Tepat setelah Taehyung membaringkan dirinya di atas kasur yang empuk, dan pria itu berada di atas tubuhnya. Jungkook seperti menyadari sesuatu.
Sesuatu yang tidak pernah di sadarinya selama ini. Ia pun kembali menutup matanya saat pria kesayangannya itu kembali mencium bibirnya dengan mesra.
Bahwa dirinya tidak pernah benar-benar sendiri selama ini. Ia tidak pernah benar-benar hancur di dalam kehidupannya yang kelam. Ia hanya tidak pernah ingin membuka mata; bahwa sebenarnya, keberadaannya pun sangat berarti bagi orang-orang yang saat ini berada di sekitarnya.
Kenyataannya, kedua sayap di punggungnya tidak benar-benar patah. Seperti yang selama ini di alaminya dengan berbagai hal yang telah terjadi. Sayapnya hanya rapuh, serapuh jiwanya yang telah banyak terguncang. Namun serapuh apapun dirinya, kerapuhan itu tidak membawanya kedalam kehancuran yang dapat membuatnya rusak.
END
Otsu & Christal.
