Mingyu menghela napas dan memandang ke trotoar yang sejalur di depannya.
.
"Aku ta-Ya Tuhan! Inikah yang di sebut takdir?"
.
.
.
Chap 2!
.
.
Tell me why you so hard to forget don't remind me
I'm not over it tell me why
I can seem to face the truth, i just to little too not over you
.
.
.
.
Minghao dan Wonwoo mengikuti arah pandang Mingyu. Dan tertegun di tempat mereka berdiri.
.
Saat ini, tepat di trotoar yang sama, terlihat sosok namja tampan yang selama ini mereka bicarakan, namja tampan yang tadi diberitakan di TV, baru saja turun dari sebuah mobil mewah diikuti oleh seorang yeoja cantik yang terlihat tersenyum cerah.
Namja tersebut menoleh, dan saling menggenggam tangan, detik berikutnya mereka bertatapan dengan kedalaman yang hanya bisa dirasakan keduanya. Siapapun yang melihatnya pasti menganggap mereka sangat serasi.
.
Minghao merasakan wajahnya kembali memanas. Kakinya nyaris kehilangan kekuatan. Untung saja Mingyu yang mengerti, langsung mengeratkan pegangannya pada lengan Minghao.
Seperti orang bodoh, Minghao menyaksikan saja kemesraan yang terjalin di seberang jalan. Namja itu mengecup kening sang yeoja dengan lembut membuat yeoja itu tertawa. Membenarkan sweater rajut namja di hadapannya. Dan berjalan beriringan ke arah mereka bertiga.
.
Seperti dandelion yang dihempaskan angin musim gugur, begitu perasaan Minghao sekarang.
.
Terasa sesak.
.
Sakit.
.
Dan tercabik - cabik.
.
Sementara sesuatu yang hangat hendak menerobos kedua matanya. Minghao tergeragap, sadar harus segera pergi dari tempat itu.
.
Tetapi, ketika mereka berdua berjalan semakin mendekati tempat Minghao, Mingyu, dan Wonwoo. Dan berpapasan...
Sepasang mata teduh dari namja tampan itu, entah karena naluri atau kebetulan, atau mungkin sekali lagi karena takdir -seperti yang di ucapkan Mingyu barusan, tiba - tiba mengalihkan perhatian.
.
Dengan cepat mereka bersitatap.
.
Dari jarak kurang dari lima meter itu.
.
Dua pasang mata saling menatap. Yang sepasang tatapan terluka, yang sepasang lagi tatapan terkejut dan nanar.
.
Jun, namja tampan yang menggandeng tunangannya itu hanya bisa memandang Minghao seperti mata hewan buruan yang tersudut ke dalam perangkap. Bahkan langkah kaki berbalut sepatu kets berwarna merah gelap tersebut tidak mengimbangi langkah yeojanya.
Ia berhenti dan menoleh ke belakang ke arah Minghao yang juga tengah melakukan hal yang sama. Sementara yeoja yang sudah mendahului Jun, berbalik dan kembali menghampirinya, menggenggam tangannya erat. Membuat Jun mengalihkan pandangannya dari Minghao ke arah yeoja itu. Dan mereka kembali berjalan.
Minghao seketika tergeragap. Ia kemudian melepaskan gengaman tangan Mingyu -yang masih tertegun bersama Wonwoo- pada lengannya.
Ia beranjak dari situ. Berjalan berlawanan arah dengan Jun. Membawa lukanya bersama dengan dirinya.
.
.
.
Minghao duduk sendirian di lantai kamarnya. Sudah tiga hari sejak ia, Mingyu, dan Wonwoo bertemu kembali dengan Jun di trotoar sore itu. Semenjak itu pula Minghao terlihat seperti manusia yang tidak memiliki jiwa.
Ia tetap berekspresi seperti biasanya, hanya saja sorot matanya terlihat semakin meredup. Seakan - akan segala emosinya telah terhisap oleh lukanya.
Namun, sesakit apapun perasaan Minghao pada Jun ia tidak pernah meneteskan air matanya.
Entahlah, meskipun air mata itu tidak pernah melesak keluar dari netranya. Tetapi luka yang dirasanya tidak pernah pergi dari hatinya. Malah semakin menggerogotinya dengan kejam.
Dan yang membuat Minghao merasa membenci dirinya sendiri adalah ketika ia tahu Jun telah mengkhianatinya namun ia tidak bisa marah ataupun membenci namja tampan itu.
Rasa cintanya pada Jun tetap utuh seperti lima tahun yang lalu.
.
'Drrt.. drrt...'
'Jamkkan sonyeoya jeoldae neon dareun saramege nokjima naega jiltu najanha~'
.
Ponselnya yang diletakkan di lantai sebelahnya tiba - tiba berdering. Di layarnya tertulis 'Mama' yang membuat Minghao tersenyum samar.
.
"Mama!" Tubuhnya ia sandarkan di tempat tidur belakangnya.
.
"Anakku! Kau baik - baik saja?" Terdengar sapaan riang dari seberang.
.
"Tentu saja, aku selalu bahagia di sini," kata Minghao, berusaha untuk membuat suara yang seceria mungkin.
.
"Kau masih tetap belajar sambil bekerja? Apa kau bisa kuliah sambil berjualan bunga?"
.
"Aku hanya kerja part time. Mama dan Baba, bagaimana disana?"
.
"Sangat baik. Udara bersih. Para tetangga juga tetap baik seperti dulu. Kami tetap baik - baik saja di sini,"
.
"Di belakang rumah kini ditumbuhi semak - semak. Ketika malam terlihat seperti hantu besar yang muncul," Minghao tertawa mendengar ocehan ibunya.
.
"Jika kau di sini, pasti akan menyenangkan. Mama selalu mengkhawatirkanmu,"
.
"Mama, aku tidak apa - apa. Kau tahu betapa senangnya aku sekarang? Aku sebentar lagi lulus kuliah, teman - temanku juga sangat baik padaku,"
.
Ia kembali meyakinkan ibunya..
"Aku baik - baik saja. Jadi Mama tidak perlu merasa khawatir,"
.
"Kau sendirian di sana.. kau pasti juga sering mengalami kesulitan, tapi kau harus selalu yakin satu hal, Hao. Ingatlah, 'Tuhan tidak akan memberimu kesulitan yang tidak bisa kau tangani,'"
.
Minghao terdiam.
"Aku mengerti,"
.
"Ah, Babamu baru pulang, kau ingin bicara dengannya?"
"Lain kali saja. Baba pasti sangat lelah, sampaikan saja salamku padanya,"
"Baiklah. Sampai nanti, Hao,"
"Hm," sambungan telepon itu kemudian terputus.
.
Dan ketika ponsel itu diletakkan kembali di tempat semula, Minghao langsung memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana sembari menghela napas lelah.
Ia merasa, perasaannya malam ini selalu saja sama dengan malam yang sebelumnya.
.
Sendirian. Dan kesepian.
.
.
.
"Hao, tolong jaga toko ini sebentar! Aku ada keperluan mendadak dengan Jisoo, aku akan segera kembali,"
"Iya, hyung!"
Setelah berpesan seperti itu, Wonwoo keluar dari tokonya meninggalkan Minghao yang sedang melanjutkan pekerjaannya, mengerjakan tugas kuliah.
Minghao cukup sibuk minggu - minggu ini. Sebagai mahasiswa akhir yang akan lulus kuliah beberapa bulan lagi, ia dituntut untuk bekerja lebih keras agar bisa lulus dengan nilai yang memuaskan. Dengan begitu ia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi dan membantu perekonomian keluarganya di China.
.
Ngomong - ngomong tentang orang tuanya, Minghao jadi merindukan mereka.
.
Sudah banyak tahun ia tidak bertemu dengan ayah dan ibunya. Selama ini ia hanya dapat berkomunikasi dengan mereka melalui telepon -seperti kemarin malam, mengatakan bahwa dirinya baik - baik saja setiap kali mereka menanyai keadaannya. Meskipun nyatanya ia memang sedang tidak baik - baik saja.
Minghao tidak mau menceritakan masalahnya pada mereka, karena ia tidak mau membuat keluarganya khawatir, selain itu ia juga selalu percaya dengan ucapan ibunya yang selalu dikatakan padanya sejak kecil.
'Tuhan tidak akan memberimu kesulitan yang tidak bisa kau tangani,'
Dan ia akan terus percaya dengan itu.
.
Minghao menggelengkan kepalanya mengusir pikiran aneh yang melayang di otaknya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
Selesai dengan tugasnya, ia kemudian beralih ke pekerjaan yang lainnya. Menata bunga - bunga yang berjejer di rak - rak besar, menyemprotnya dengan air, atau sekedar memasukkannya ke dalam pendingin agar bunga tersebut tidak cepat layu.
Meskipun Wonwoo tidak ada, ia tidak mau hanya duduk dan bermalas - malasan tanpa melakukan kegiatan apapun.
Ia bukanlah orang yang tidak tahu terima kasih. Pemuda emo itu sudah cukup baik hati mau memberinya pekerjaan.
.
KLING KLING
Mendengar suara bel, Minghao membalikkan tubuhnya untuk melihat sekaligus menyapa pengunjung yang masuk.
.
"Sela-,"
.
Ucapannya seketika terhenti begitu ia melihat siapa pengunjung yang datang ke tempat itu..
.
Orang itu...
.
"Junhui-ge,"
.
"Hao,"
.
.
.
.
TBC
.
.
Makin ngga nyambung ya... -_-
Maafkan saya, saya hanya menuruti ide yang muncul di otak nista saya..
Saya sebenarnya ngga tega bikin The8 menderita di sini.. tapi entahlah saya kepengen.. #plak
Mohon kritik dan saran yang membangun..
Thanks!
