KLING KLING

Mendengar suara bel, Minghao membalikkan tubuhnya untuk melihat sekaligus menyapa pengunjung yang masuk.

.

"Sela-,"

.

Ucapannya seketika terhenti begitu ia melihat siapa pengunjung yang datang ke tempat itu..

.

Orang itu...

.

"Junhui-ge,"

.

"Hao,"

.

.

.

Chapter 3!

.

.

.

Memories supposed to fade, what's wrong with my heart?

Shake it off, let it go. Didn't think it be this hard

Should be strong, moving on

But I see you sometimes, I try to hide

What I feel inside and I turn around,

You're with 'her' now

I just can't figure it out

.

.

.

.

.

Minghao tidak mengharapkan reaksi terkejut itu dari pemuda yang selama bertahun - tahun ini mengisi relung hatinya.

Terutama ketika mata Jun bergerak turun menatap ke arah benda yang melingkar di leher jenjangnya.

.

Kalung itu..

.

Dan seolah tersadar, tangan Minghao kemudian bergerak menutupi kalung berbandul setengah hati itu.

.

Ini tidak boleh seperti ini.

.

"A-Apa kabar, ge? Kau mau membeli bunga?" Minghao mencoba memulai pembicaraan dan bersikap biasa saja. Tapi yang terjadi ia malah nyaris tak mengenali suaranya sendiri.

Jun tersadar dari lamunan sesaatnya.

"Aku... baik, kau sendiri?"

"Seperti yang kau lihat,"

.

'Aku sangat terluka, ge,'

.

Mereka masih berpandangan.

.

"Aku ingin membeli bunga mawar,"

"Ah, ada di sini," Minghao berjalan ke rak yang terletak paling ujung.

"Di sini ada banyak jenisnya, kau bisa memilih,"

.

Suasana masih terasa canggung saat ini. Melihat Jun yang terlihat serius mengamati bunga mawar di depannya, membuat Minghao berpikir.

'Bunga itu.. pasti untuk Sojin,"

.

Anggapan yang membuat hatinya tiba - tiba berdenyut nyeri.

.

"Kau pemilik toko ini?"

.

Kedipan polos di berikan Minghao.

"Huh? Aku bekerja di sini. Toko ini milik Wonwoo hyung,"

.

"Ah! Benarkah?"

.

Minghao mengangguk.

"Kau sendiri bagaimana kehidupanmu di Amerika?"

.

Jun menceritakan bagaimana kehidupannya di sana. Bagaimana tiba - tiba ia menjadi penyanyi. Semuanya, tanpa menyinggung pertunangannya dengan Sojin. Dan Minghao mendengarkan dengan cermat.

Tidak butuh waktu lama kecanggungan yang semula melingkupi di antara dua namja yang dulu pernah menjalin kasih itu mencair.

Menggali kembali perasaan asing yang selama ini terkubur jauh di relung hati masing - masing.

Dan dapat Minghao rasakan jika pandangan Jun ke arahnya tetap sama seperti dulu.

.

Lembut. Dan penuh perhatian.

.

Ya Tuhan, bolehkah ia berharap kembali?

.

Sekuat tenaga Minghao menahan gelegak di hatinya. Dia sangat ingin memeluk Jun dan menumpahkan segala keluh kesahnya selama ini. Betapa menderitanya ia tanpa ada Jun di sisinya. Tapi ia bukanlah orang yang terbiasa mengekspresikan emosinya dengan cara yang memalukan seperti itu.

Terlebih lagi pemuda ini bukan miliknya lagi, ia akan menjadi milik orang lain.

.

Ya, sebuah fakta sederhana yang mengiris hati.

.

Cukup lama mereka mengobrol, hingga akhirnya Jun melirik arloji di pergelangan tangan kirinya.

"Sepertinya aku harus segera pergi,"

Dari nada bicaranya, Minghao dapat merasakan gurat kekecewaan di sana.

"Aku mengerti,"

.

"Tunggu sebentar, aku harus membayar bunga ini" Jun mengeluarkan dompetnya menyerahkan beberapa lembar won ke Minghao. Setelah itu mengeluarkan sebuah kertas tebal berwarna baby blue.

"Ehm, kalau kau ingin menghubungiku, ini nomorku,"

.

Dan ketika Minghao menerima kartu nama itu dari tangan Jun, ia tahu jika perasaan di dalam hatinya semakin mengkhianatinya.

.

.

.

Minghao merasa gelisah saat ini, meski angin semilir dari jendela kamarnya yang terbuka dan suasana kamarnya mampu mengirimnya ketenangan. Tetap saja, rasanya tidak ada yang bisa menenangkan hatinya saat ini.

Di meja depannya kini tegeletak kartu nama yang baru saja di berikan Jun tadi siang. Kartu nama itulah yang membuat peperangan sejak tadi berlangsung dalam dirinya. Dan kartu nama itu juga yang membuat perjuangan Minghao untuk melupakan Jun menjadi kian berat.

Tangan kanannya meremas ponsel miliknya yang ia genggam sedari tadi, untuk meredam hasrat keinginannya menghubungi namja China itu.

.

Walaupun pada akhirnya ia mengesampingkan akal sehatnya dan menuruti perasaannya. Jamarinya perlahan mengetik sebuah kalimat di layar ponselnya. Kalimat yang mewakili semua perasaannya pada Jun selama ini.

.

'Aku tidak akan pernah bisa melupakanmu, ge,'

.

Kalimat itu langsung dihapus oleh Minghao ketika ingatannya tiba - tiba melayang jauh kembali ke minggu - minggu yang lalu. Ingatannya tertuju pada wajah yeoja yang digandeng Jun waktu pertama mereka bertemu.

Wajah yang cantik, riang dan terkesan penuh percaya diri itu tanpa ampun mengobrak - abrik pertahanan dan kepercayaan diri Minghao pada Jun.

.

Dan jemarinya kembali menari di layar keypadnya, mengetik sebuah kalimat yang memang seharusnya ia sampaikan pada Jun. Dan mengirimkannya.

.

.

Belum sempat namja itu meletakkan ponselnya, benda itu berbunyi kembali karena ada panggilan masuk.

.

"Ne, Wonwoo-hyung?"

.

"Kau bisa ke tokoku sekarang? Seungchol dan yang lainnya sedang di sini,"

.

"Arra, aku akan kesana sekarang,"

.

.

.

Jun terdiam menatap bunga mawar merah yang ada di genggaman Sojin. Melihat bunga itu, ia jadi teringat Minghao. Setelah bertemu dengannya tadi, entah mengapa tiba - tiba perasaan Jun terasa aneh. Dalam hatinya ketika melihat wajah imut itu, ia merasa hangat dan sedikit...

.

Sakit?

.

Terutama ketika melihat ke arah mata bening namja imut itu. Ia seolah dapat melihat bagaimana perasaan Minghao padanya.

.

Jun tidak menyangka jika ia harus bertemu kembali dengan namja yang pernah bersamanya dulu.

Bahkan Jun tadi juga sempat melihat ke arah leher Minghao. Di leher itu melingkar sebuah kalung yang sama dengan miliknya dulu. Minghao masih memakainya.

Dan yang membuatnya merasa jahat adalah ketika ia belum pernah menghubungi Minghao, atau memutuskan hubungannya. Ia sudah berani muncul di hadapannya dengan menggandeng yeoja lain.

Katai saja Jun itu tidak tahu diri, karena telah menghancurkan perasaan Minghao yang selalu mewarnai harinya dulu. Hanya karena bertemu dengan yeoja yang mampu membuatnya kembali merasa jatuh cinta, ia mempertaruhkan kesetiaannya pada namja imut itu.

Dan rasa bersalah kini seolah tumbuh di dalam hatinya. Ketika Jun melihat jauh ke dalam mata namja itu yang seolah mengatakan padanya tentang bagaimana luka yang selama ini ia sebabkan.

.

Terlihat begitu menyakitkan.

.

"Oppa!" Jun tergeragap dan memandang wajah cantik Sojin yang tengah mengerucutkan bibirnya.

.

"Kau tidak mendengarkanku bicara!" Katanya merajuk.

.

"Ah.. mian. Jadi apa yang ingin kau katakan?"

.

Dan setelah itu, Sojin terus bercerita panjang lebar tentang rencana pernikahan mereka, undangan, baju pengantin, dan di mana mereka akan tinggal yang hanya di tanggapi dengan gumaman singkat dari Jun. Ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk menanggapi kekasihnya hari ini.

Drrt.. Drrt..

.

Jun mengambil ponsel dari saku celananya dan menemukan sebuah pesan dari nomor asing yang masuk.

.

'Ku harap kau selalu bahagia, ge. - Minghao'

.

Seharusnya Jun merasa bahagia ketika mendapat pesan tersebut. Tapi justru perasaan sedih yang menghampirinya. Ia tidak mengharapkan kalimat seperti itu dari Minghao. Selain itu keraguan juga tiba - tiba melanda hatinya. Ia ragu tentang perasaannya pada Sojin. Ia ragu tentang pernikahannya yang dua minggu lagi akan berlangsung.

.

.

"Kenapa, oppa?"

"Aniya, aku ke kamar mandi sebentar," kata Jun sambil beranjak dari tempat duduknya.

Ketika punggung Jun menghilang di balik tembok restoran itu, tangan Sojin meraih ponsel kekasihnya yang tadi ia letakkan di atas meja. Sojin ingin tahu hal apa yang membuat Jun tiba - tiba terlihat bersedih.

'Ku harap kau selalu bahagia, ge. - Minghao' kening Sojin mengernyit ketika membaca pesan itu.

.

Siapa Minghao?

.

Apa mungkin...

.

Bibir mungil yeoja cantik itu tersenyum miring ketika tahu apa yang harus ia lakukan.

Matanya melirik sekitarnya dan mengetik sebuah pesan balasan untuk Minghao. Dan seringaiannya semakin terlihat licik begitu jemarinya mengetuk tombol 'sent'.

.

.

.

SVT Florist benar - benar terlihat ramai malam ini. Padahal di sana hanya ada dua belas orang, tapi terdengar sangat berisik. Terutama dari Trio Mood Maker -Dokyeom, Seungkwan, dan Hoshi-.

Hoshi tengah mengatai - ngatai Seungkwan tentang tubuhnya yang sedikit membesar.

"Karena tugas kuliah yang padat, kita semua terlihat kurus, tapi kenapa kau malah membengkak?"

.

Mendengar pertanyaan yang bernada ejekan tersebut, namja Boo itu tiba - tiba memijit pipinya dengan ujung sendok. "Aku kan tidur," ia beralasan.

"Hyung, jangan menghina Seungkwanku!"

Vernon yang merasa tidak terima jika kekasihnya di hina, langsung memeluk Seungkwan dari samping.

"Seungkwan memang gendut, tapi aku tetap mencintainya,"

"Ya! Berarti kau juga sependapat dengan mereka,"

"Hehe, mian. Tapi kenyataannya kau memang sedikit gendut,"

"Sembarangan,"

.

Drrt.. Drrt..

.

Minghao yang tengah tersenyum mendengar gurauan pasangan aneh itu tiba - tiba mendapati ponselnya yang kembali bergetar.

Dihidupkannya layar benda putih itu dan ia menemukan sebuah pesan balasan dari Jun. Tiba - tiba saja kegugupan melanda dirinya ketika akan membuka pesan singkat itu. Khawatir tentang hal - hal yang tidak di inginkan terjadi.

Dan kekhawatirannya memang terbukti.

.

'Aku tidak pernah menginginkan doa darimu. Jadi jangan pernah menghubungiku lagi, karena aku malas melihatmu,'

.

Nyut.

.

Hatinya tiba - tiba berdenyut ngilu.

.

Kalimat itu membuat Minghao tertegun cukup lama.

Sebelum dengan sempoyongan bangun dari kursinya lalu berjalan seperti robot meninggalkan ruangan itu tanpa diketahui yang lainnya.

.

.

.

TBC

.

.

Makin kesini kenapa makin gaje ya. Emang saya kesulitan bikin konfliknya...

Tapi sudahlah..

Mohon kritik dan sarannya.. #bow