'Aku tidak pernah menginginkan do'a darimu. Jadi jangan pernah menghubungiku lagi, karena aku malas melihatmu,'

.

Nyut.

.

Hatinya tiba - tiba berdenyut ngilu.

.

Kalimat itu membuat Minghao tertegun cukup lama.

Sebelum dengan sempoyongan bangun dari kursinya lalu berjalan seperti robot meninggalkan ruangan itu tanpa diketahui yang lainnya.

.

.

Chapter 4!

.

.

.

Tell me why you so hard to forget don't remind me

And not over it tell me why

I can seem to face the truth, i just to little too not over you

.

.

.

Minghao tengah menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi. Menyelami segala kekurangan yang membuat Jun mampu berpaling darinya selama ini. Mengamati wajah di depannya yang semakin hari terlihat semakin tirus, mata yang berkantung dan sembab.

.

Dan di saat begini, ia jadi teringat tentang ucapan ibunya waktu itu.

'Tuhan tidak akan memberimu kesulitan hidup yang tidak bisa kau tangani,'

Setelah mengalami kejadian ini, entah mengapa hatinya tiba - tiba meragukan kalimat tersebut.

'Mama..

Kau berbohong padaku, kan?

Dulu kau mengatakan Tuhan tidak akan memberiku kesulitan yang tidak bisa kutangani.

Tapi sekarang itu tidak benar bagiku.

Aku merasa seperti tidak bisa menahan beban yang telah jatuh di bahuku.

.

Terasa kasar.

.

Dan sangat kejam.

.

Mama...

Aku sudah merasa bahagia bisa bertemu lagi dengannya. Sekarang, aku harus kembali mengucapkan selamat tinggal.

Aku tahu dia bukan lagi milikku.

Tapi aku tidak mau memaksanya berbagi.

Dan aku juga tidak mau membangun kebahagiaan di atas air mata orang lain.

Lalu apa yang harus kulakukan?'

.

Minghao benar - benar tidak sanggup lagi. Pesan singkat dari Jun tadi telah merobohkan pertahanan terakhir yang dimilikinya.

"Hiks.. hiks..."

Suara tangisnya pecah, membelah kesunyian di kamar mandi itu. Menangis termangu - mangu, layaknya anak kecil yang ditinggal pergi ibunya. Ia tidak peduli jika nanti suara tangisnya akan didengar oleh teman - temannya di luar sana. Ia hanya merasa hatinya benar - benar terasa sakit saat ini.

Tubuh mungil itu perlahan merosot, jatuh ke lantai kamar mandi yang terasa dingin menusuk kulitnya. Minghao memandang lantai kamar mandi yang lembab di depannya, dan sekelebat ingatannya tentang Jun dan Sojin terngiang kembali.

Membayangkan bagaimana Jun akan hidup bahagia bersama orang lain. Seakan menorehkan lingkaran luka yang semakin besar dan menukik. Sudah pasti ia tidak akan sanggup melihatnya.

Meskipun ia tahu jika hati Jun sudah tidak lagi untuknya, tetap saja ketika ia menerima pesan yang menyakitkan tersebut, sungguh menusuk - nusuk hati.

Suara tangisan Minghao terdengar semakin menyayat hati. Membuat siapapun yang mendengarnya pasti akan merasa iba.

.

.

Dan pada saat yang sama, Wonwoo tiba - tiba sudah ada di depan pintu kamar mandi. Terdiam menatap makhluk mungil di lantai dingin itu yang terlihat sangat menyedihkan.

"Minghao-ya... kau..."

.

"Hyung! Aku... aku pikir, aku akan mati..."

Minghao bicara tergagap, dengan air mata yang mengalir deras di kedua sisi mukanya. Tangannya mencengkeram dadanya dengan erat.

"Tolong aku... aku tidak mau terus seperti ini..."

Wonwoo mendekat menghampiri Minghao.

"Jebal..."

Sudah lama Wonwoo mengenal Minghao, dan ini pertama kalinya ia melihatnya menangis. Minghao yang selalu terlihat kuat dan tegar, kini terlihat begitu rapuh dan menyedihkan.

.

.

.

Wonwoo memandang Minghao yang masih berjongkok diam di kamar mandi. Penampilannya benar - benar berantakan. Mata yang merah dan sembab, dengan pipi yang masih terdapat jejak air mata. Tangisnya sudah berhenti, hanya sesekali suara senggukan keluar dari bibirnya. Persis seperti anak kecil yang baru selesai menangis.

"Kau mau keluar dengan kondisi seperti ini?"

Minghao tetap diam tidak menjawab. Membuat namja emo itu menghela napas lelah.

.

"Wonwoo hyung! Kau lihat Minghao?" Seperti hantu, tiba - tiba saja Mingyu sudah berdiri di belakang Wonwoo. Membuatnya terkejut dan secara refleks berjongkok di hadapan Minghao. Berusaha untuk menutupi wajah sembabnya dari pandangan Mingyu. Wonwoo tahu namja China itu tidak suka di perhatikan dengan kondisi seperti itu. Sementara Minghao sendiri mengalihkan wajahnya berusaha menghindari tatapan Mingyu.

"Oh, kau di sini rupanya, Hao," kata Mingyu, kemudian menatap mereka berdua dengan bingung, "Apa yang kalian lakukan di sini?"

Dengan isyarat tangannya Wonwoo berusaha menjelaskan pada Mingyu tanpa bersuara,'Kau jangan tanya - tanya. Minghao benar - benar sedih sekarang,'

Seolah memahami apa yang dikatakan Wonwoo, Mingyu hanya menganggukkan kepalanya singkat, "Yang lain baru saja pulang. Tadi mereka sempat menanyai 'dimana Minghao? Kenapa tiba - tiba menghilang?' Aku jawab saja 'dia sedang ada keperluan',"

Minghao menghela napas dan tiba - tiba berdiri membuat Wonwoo mengikutinya berdiri, "Kalau begitu aku juga mau pulang,"

.

Mereka kemudian berjalan bersama menuju teras toko, "Kau mau kuantar?"

"Aku baik - baik saja, Gyu," ia mengalihkan pandangannya dari Mingyu dan ganti memandang Wonwoo, "Gomawo. Aku juga minta maaf akhir - akhir ini banyak menyusahkan kalian,"

"Kau kenapa tiba - tiba berkata begitu?"

Minghao menggeleng sembari tersenyum tipis "Aniya. Aku pulang," setelah berkata begitu ia kemudian berlalu dari situ. Dan ketika tubuh kecil itu lenyap di belokan tokonya, Wonwoo dan Mingyu saling berpandangan.

"Ucapannya aneh sekali,"

"Aku juga merasa begitu, hyung. Tapi semoga saja ia tidak melakukan hal yang aneh - aneh,"

.

.

.

Pagi itu, di tengah hiruk pikuk kota Seoul, Jun tengah mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Menyelip kendaraan yang menghalangi jalannya. Karena tujuannya hanya ingin menemui seseorang sekarang, seseorang yang mungkin saja sedang menangis karena ulahnya.

'Xu Minghao, sungguh bukan aku yang mengirim pesan itu,'

Tadi pagi ketika bangun tidur, Jun bermaksud untuk memeriksa ponselnya. Siapa tahu saja ada pesan atau panggilan yang masuk yang belum ia terima. Namun entah karena iseng atau apa, namja itu tiba - tiba memeriksa kotak pesan terkirim dan menemukan sebuah pesan asing yang terkirim ke nomor Minghao.

'Aku tidak pernah menginginkan doa darimu. Jadi jangan pernah menghubungiku lagi, karena aku malas melihatmu,'

Jun mengingat - ingat, siapa kiranya seseorang yang berani melakukan hal tersebut. Dan ingatannya langsung tertuju pada Sojin. Kemarin setelah mendapat pesan dari Minghao, ia langsung meletakkan ponselnya di meja sebelum menuju ke kamar mandi.

Sudah pasti pelakunya adalah dia. Karena Jun paham betul bagaimana sifatnya ketika sesuatu yang sudah menjadi miliknya, diusik oleh orang lain.

Dalam hatinya Jun terus merutuki keteledorannya meletakkan ponselnya sembarang tempat. Minghao pasti akan salah paham dengannya.

.

Jun menepikan mobilnya di depan toko bunga Wonwoo. Pikirannya langsung tertuju pada tempat ini, karena mungkin saja namja itu sedang berada di sini. Di hari Minggu ini, Minghao libur kuliah. Dan SVT Florist tetap buka.

.

KLING - KLING.

.

Pandangannya menelusuri seluruh bagian toko tersebut, berharap menemukan yang dia cari. Tapi yang ia temui hanyalah Wonwoo dan Mingyu yang sedang berduaan.

"Mau apa kau kemari?" Wonwoo bertanya dengan nada tidak suka.

"Di mana Minghao?"

"Cih, untuk apa kau mencarinya? Kau mau membuatnya menangis lagi?"

Dahi Jun berkerut saat mendengar pertanyaan sengit dari Wonwoo.

"Menangis? Minghao menangis?"

"Kau ti- Wah.. aku tidak tahan lagi sekarang!" Wonwoo kemudian berdiri. Kedua tangannya dia letakkan di pinggang.

"Lihatlah, kau bahkan tidak tahu tentang kondisinya. Seharusnya Minghao mendengarkan saranku dulu, tidak ada gunanya ia mengingat namja yang bahkan sampai sekarangpun sama sekali tidak peduli dengan hidupnya,"

"Oh, betapa malangnya sahabatku, jika kau ingin memanfaatkan perasaan orang, seharusnya gunakan pada orang lain! Kenapa kau melakukannya pada sahabatku yang baik!? Karena kau, dia sekarang seperti orang yang tidak pernah bisa merasakan kebahagiaan di sisa hidupnya!?"

"Hyung, sudahlah," melihat kekasihnya yang sudah mulai naik darah, Mingyu berusaha menenangkannya. Tapi sepertinya Wonwoo tidak mendengarkan dan mulai meneruskan meluapkan emosinya.

"Karena kau, selama lima tahun ini Minghao harus hidup menderita! Setiap hari seperti orang bodoh menanti - nanti kedatanganmu, berusaha menutup - nutupi mata sembabnya setiap kali aku menanyakan kondisinya! Kau tidak tahu hal itu?! Ah, kau tentu tidak tahu karena yang ada di otakmu selama ini hanya Sojin yang cantik itu!"

Otak Jun seketika memproses dengan kecepatan penuh.

Jadi benar apa yang dia duga selama ini? Minghao menderita karena dirinya.

Oh, bodoh sekali kau Wen Junhui.

"Lalu, di mana Minghao sekarang?"

"Lupakan saja. Dia tidak akan mau bertemu denganmu," Wonwoo mengalihkan pandangannya dari Jun.

"Wonwoo-ya! Kumohon. Jangan sampai aku menyesal untuk yang kedua kalinya,"

Dan pemuda itu tetap terdiam.

"Anu.. dia tidak ke sini hari ini, hyung, mungkin dia di rumahnya,"

"Gomawo, Gyu,"

.

KLING - KLING

.

Setelah Jun keluar dari tokonya, Wonwoo mengalihkan pandangannya pada Mingyu.

"Kenapa kau memberi tahunya keberadaan Minghao sekarang, Gyu?"

"Tidak ada salahnya, hyung. Siapa tahu Jun menyadari kesalahannya dan bisa membuatnya kembali bahagia," ujar Mingyu. Tangannya menarik Wonwoo untuk duduk kembali.

"Kau yakin? Dia bahkan akan segera menikah,"

"Tidak juga. Hanya saja..." Mingyu menjeda ucapannya sambil melingkarkan lengannya di pundak Wonwoo.

"Saat aku melihat tatapan matanya tadi, sepertinya itu adalah tatapan seseorang yang penuh penyesalan dan patah hati,"

.

.

.

Di sinilah Jun berada sekarang. Berdiri di depan sebuah rumah yang cukup sederhana dengan pagar batu di depannya.

Sudah hampir lima tahun ia tidak kemari.

Namun rasanya masih sama. Terasa menyenangkan.

Tangannya terangkat, hendak memencet bel kalau saja tidak sesuatu yang menginterupsinya.

"Cari siapa, Nak?"

Jun menolehkan kepalanya. Dan di sampingnya berdiri seorang ahjumma yang sedang membawa kantong plastik besar. Sepertinya ia baru selesai belanja, karena Jun melihat sebuah lobak menyembul dari kantong plastiknya.

"Eeh... maaf apa benar ini rumah Xu Minghao?" Jun mencoba membuka pembicaraan.

"Apa kau temannya?"

Kelihatannya ahjumma ini tidak mengenali dirinya.

"N-ne,"

"Oh, benar ini rumahnya. Tapi, sepertinya sekarang ia sedang pergi,"

"Pergi? Pergi kemana?"

"Aku tidak tahu. Tadi saat aku menjemur pakaian, aku melihatnya membawa sebuah koper besar. Mungkin saja dia akan pulang kampung, dia kan dari China,"

Penjelasan dari ahjumma tadi sontak membuat balon harapan yang ada di dalam tubuh Jun bocor.

Minghao akan pergi? Karena dirinya?

"Maaf, kira - kira kapan dia pergi?"

Ahjumma itu terlihat berpikir, "Aku tidak tahu pasti, sekitar jam setengah sembilan, mungkin,"

Jun melirik arlojinya. Sekitar dua jam yang lalu.

Berarti ada kemungkinan Minghao masih ada di bandara.

Tapi di bandara yang mana?

"Khamsahamnida, Eommonim," Jun membungkukan badannya singkat. Setelah itu ia langsung berlari ke mobilnya. Dan mengendarai dengan kecepatan penuh, menuju bandara terdekat.

.

.

.

Jun mengedarkan pandangannya ke sekeliling bandara itu, berharap menemukan yang ia cari. Walaupun sebenarnya namja itu tidak yakin dengan keberadaannya. Tapi entah mengapa hatinya mengatakan jika Minghao masih di sini.

Pandangan heran sekaligus kagum dari orang - orang yang ada di situ tidak ia hiraukan. Sorot tajamnya masih terus mencari sosok Minghao dari sekian ribu orang yang ada di sana.

'Hao, kumohon jangan pergi. Aku belum menebus semua dosaku padamu,' batinnya pilu.

.

.

Jun kini telah sampai di eskalator menuju lantai dua. Area itu cukup sepi dengan satu dua orang yang berlalu lalang di sana, mengingat sebagian besar orang telah ada di area keberangkatan tadi.

.

"Oppa!" Kaki Jun sudah hampir melangkah ke eskalator tersebut ketika sebuah menyapa telinganya.

"Sojin-ah!"

Yeoja itu ada di sini.

"Kenapa kau disini?"

Sojin langsung mendekati Jun dan melingkarkan tangannya di lengan calon suaminya. Mengajaknya menaiki eskalator tersebut.

"Aku mencarimu dari tadi. Ternyata kau di sini," katanya sambil cemberut.

Bagaimana ia bisa semudah itu menemukannya di sini? Apa Sojin mengikutinya?

"Kenapa kau di sini, oppa? Harusnya kita sekarang pergi memilih cincin pernikahan kita,"

Oh, bahkan Jun lupa jika ia akan menikahi yeoja ini.

"Mian Sojin-ah, sepertinya hari ini aku tidak bisa,"

"Wae? Kau sudah janji padaku. Aku tidak mau tahu apapun alasanmu, pokoknya kau harus menemaniku hari ini,"

Jun hanya menghela napas saat mendengar omelan Sojin. Rasanya memuakkan sekali. Bagaimana ia bisa mencari Minghao kalau Sojin terus menempelinya seperti ini.

.

Ketika tangga eskalator yang mereka pijak telah sampai di tengah - tengah, Jun mengalihkan pandangannya ke sebelah kanannya. Di sebelahnya juga ada sebuah eskalator yang mengarah turun ke lantai satu. Eskalator tersebut terlihat kosong karena tidak ada orang yang menaikinya.

.

Tunggu!

.

Tapi sepertinya eskalator tersebut tidak kosong. Karena tepat detik itu juga ketika Jun dan Sojin telah sampai di lantai dua, Jun berpapasan dengan Minghao yang akan turun ke lantai satu. Ia tidak membawa kopernya, hanya sebuah tas yang melingkar di punggungnya.

Jun terus menatapnya, dan sepertinya Minghao paham akan keberadaannya dan Sojin. Karena ketika iris hitamnya bertemu dengan iris hitam Jun, dengan cepat namja itu mengalihkan pandangannya. Seolah tidak mengenalinya.

Dan yang membuat hati Jun terasa berdenyut adalah saat ia melihat ke leher Minghao, di leher itu tidak terlihat kalung yang selalu dia pakai. Kalung couple yang satunya lagi ada pada Jun, Minghao tidak lagi memakainya.

.

Berarti Minghao menyerah dengan cintanya.

.

"Oppa!" Jun mengalihkan pandangannya ke arah Sojin yang terlihat kesal, "Ayo kita beli cincin!"

.

Ia kemudian kembali menatap punggung Minghao yang hampir lenyap di tangga eskalator menuju lantai satu.

.h

Jun benar - benar bimbang sekarang.

.

Minghao yang terluka karena ulahnya.

.

Sojin yang meminta untuk segera dinikahi.

.

Tiba - tiba sebuah suara asing merasukinya.

'Jalan ini, kau sendiri yang memilihnya Jun!'

.

.

Ia harus membuat keputusan.

.

.

SET

"Mianhae Sojin-ah,"

Dengan satu hentakan pelan, tangan kanan Jun melepas tangan kanan Sojin yang melingkar di lengan kirinya.

"Oppa, apa maksudmu... kau.." Sojin terlihat sangat terkejut, dengan tindakannya. Dan Jun sama sekali tidak takut tentang akibat yang akan ia timbulkan nantinya. Ia harus membuat keputusan, agar nantinya tidak ada lagi orang yang akan terluka karenanya.

"Pernikahan ini lebih baik kita batalkan,"

.

PLAK

.

Sebuah tamparan mendarat telak di pipi kirinya. Tidak begitu sakit, hanya saja terlihat memalukan. Namun ia diam saja karena ia tahu, jika ini semua salahnya. Ia yang mengawali semua drama ini.

"KAU BRENGSEK, WEN JUNHUI!"

"Jongmal Mianhae, Sojin-ah! Aku harus melakukan ini! Aku harus mempertahankan, apa yang perlu dipertahankan!" Jun membalikkan badannya berjalan meninggalkan Sojin ke eskalator yang menuju ke lantai satu. Berusaha menulikan segala teriakan dan umpatan Sojin padanya.

Dia harus mengejar Minghao dan menjelaskan semuanya.

.

.

.

Jun mengumpat dalam hati ketika sosok Minghao kembali tidak ia temukan.

Kemana ia pergi?

Setelah melihatnya tadi, Jun yakin Minghao pasti akan semakin terluka.

Tiba - tiba saja Jun menyesali semua perbuatannya di masa lalu. Seandainya saja dulu ia bisa menjaga diri lebih baik, mungkin satu hal itu tidak akan pernah ia lakukan.

Berpaling.

Bagaimana ia bisa seperti ini?

Bayangan wajah Minghao yang sembab dan lelah terus berlompatan di pikiran Jun. Kedua tangannya sudah sejak tadi berkeringat.

.

.

"Pesawat KOREAN AIR 6705 jurusan Tiongkok, lima belas menit lagi akan segera lepas landas. Dimohon para penumpang untuk segera memasuki pesawat tersebut. Terima kasih"

Jun tahu ia harus segera menemukan Minghao sebelum pesawat itu lepas landas. Tapi matanya belum menemukan keberadaan namja itu. Sementara perasaan kalutnya semakin kuat menyergap dadanya.

Namja tampan itu menarik napas lagi.

.

TRING

.

Saat hampir putus asa mencari keberadaan Minghao, gendang telinga Jun menangkap suatu bunyi benda jatuh tepat di belakangnya.

Jun membalikkan tubuhnya dan menemukan Minghao yang sedang membungkuk mengambil kalungnya yang terjatuh. Tas yang tersampir di punggung tidak ada, berarti namja itu baru saja meletakkannya di tempat penitipan barang.

Ia benar - benar akan pergi.

"Minghao,"

Minghao yang baru saja menegakkan tubuhnya, menoleh menatap Jun. Terlihat tertegun seakan baru saja ketahuan mencuri. Ia langsung membalikkan tubuhnya berusaha melarikan diri dari Jun.

'Aku tidak akan membuang waktu lagi,'

Dengan cepat Jun mengejar Minghao dan diraihnya lengan mungil itu. Membalikan tubuh Minghao menghadap ke arahnya.

"Hao, kumohon,"

Genggaman tangan Jun semakin erat ketika Minghao memberontak.

"Lepaskan,"

"Dengarkan aku dulu,"

Sorot tajam Jun melihat sekeliling, ribuan pasang mata menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia beralih menatap Minghao yang terlihat tidak nyaman.

.

Ini tidak bagus.

.

Jun kemudian menyeret Minghao menuju ke tempat tersepi di bandara itu. Tanpa mempedulikan ratapan Minghao yang meminta di lepaskan.

.

Ketika sudah sampai di bagian yang tersepi, Jun segera memojokkan tubuh Minghao di tembok dengan kedua tangannya.

"Apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat tatapan mereka tadi! Karena hal ini, aku tidak ingin ada hubungan denganmu! Bagaimana jika nanti terjadi skandal?! Lepaskan aku!" Namun pegangan tangan Jun pada lengannya tetap menguat.

"Jangan pergi! Dengarkan!"

"Dengarkan aku, Hao. Jangan sampai kau membuatku menyesal untuk kedua kalinya. Kau sudah salah paham dengan pesan yang ku kirimkan kemarin. Itu-"

"Aku salah paham!? Katakan padaku! Apa yang aku salah mengerti?! Jelas - jelas kau yang mengirim pesan itu! Kau sendiri yang mengatakan kau muak melihatku! Lalu kau yang berjanji dulu bahwa kita akan kembali bersama setelah kau pulang dari Amerika! Dan saat itu, kau juga yang mengingkari janji itu! KAU JAHAT WEN JUNHUI!"

"KAU BENAR!" Jun berteriak, meluapkan rasa frustasinya. Membuat Minghao sedikit menciut ketakutan.

"Kau sangat benar, Xu Minghao! Karena itu, aku memutuskan ikatanku dengan Sojin,"

"Mwo?"

"Aku membatalkan pernikahanku dengan Sojin. Karena aku menyadari semua kesalahan yang telah kulakukan padamu dulu. Aku berpaling," sesaat Jun terdiam. Mencoba meredam gejolak di hatinya.

"Saat itu aku merasa frustasi karena jauh darimu. Dan aku mencoba mengatasinya dengan memacari Sojin. Meskipun kuakui aku menyukainya, bahkan aku sempat akan menikahinya. Tapi aku merasa jika hatiku selalu menuju padamu. Hingga akhirnya aku sadar jika di hatiku hanya ada dirimu. Kini, aku tidak mau melakukan kesalahan lagi,"

Ketika Jun mengatakan hal ini, Minghao menggelengkan kepalanya. Merasa sulit mempercayai perkataannya.

"Aku tahu, aku hanyalah pengingat masa lalu yang buruk untukmu. Dan aku ingin menebus semua kesalahanku padamu, karena perasaanku padamu masih tetap sama seperti dulu, Hao," Jun menatap wajah Minghao. Wajah yang selalu terlihat imut. Lembut. Dan ceria. Kini rautnya dipenuhi kelelahan, seolah baru saja menempuh perjalanan berkilo - kilo meter.

"Bohong!" Ucap Minghao kemudian.

"Aku bersungguh - sungguh!"

"Lalu bagaimana dengan pesan yang kau balas kemarin?"

"Bukan aku yang melakukannya. Aku berani bersumpah!" Sebenarnya Jun ingin mengatakan Sojinlah yang melakukannya, namun ia tidak mau menjelek - jelekkannya. Bagaimanapun juga yeoja itu pernah bersamanya dulu.

"Hao..."

Minghao kembali menggelengkan kepalanya, "Jangan buat aku berharap kembali, ge, sudah cukup aku terluka selama ini,"

.

Jun meraih tangan kanan Minghao yang masih memegang kalungnya. Kemudian tangannya yang lain bergerak menuju lehernya sendiri. Mengeluarkan sebuah kalung yang berbentuk sama dengan milik Minghao dari dalam sweaternya. Kalung berbentuk setengah hati.

"Aku juga masih menyimpan ini,"

.

TES

.

Satu air mata menuruni pipi Minghao saat melihat Jun masih memakai kalung itu.

"Kumohon, Hao. Jika aku menyakitimu lagi..."

Jun menarik napas dan memandang mata Minghao semakin dalam, "Aku siap mati untukmu,"

.

Setelah itu ia menarik Minghao ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh rapuh itu dengan sangat erat. Dan dapat Jun rasakan jika tangan Minghao balas memeluk pinggangnya.

.

"Jangan buat aku terluka lagi, ge. Aku mohon padamu," mendengar ucapan Minghao barusan, Jun melepaskan pelukannya dan memandang wajah Minghao yang masih basah.

"Hao, kau..."

"Jujur, aku masih meragukanmu. Aku takut kau akan meninggalkanku lagi nanti. Tapi saat aku melihat kau menyimpan kalung ini, entah mengapa semua keraguan itu lenyap. Dan aku benci ini. Aku benci dengan perasaanku yang begitu mudahnya luluh hanya karena kau, ge,"

"Jadi..." sebenarnya Jun sudah bisa menebak apa yang terjadi setelahnya, tapi ia masih ingin memastikan.

Minghao tersenyum, "Bagaimana jika aku membuka hatiku dan memulainya lagi denganmu. Apa kau akan menyakitiku lagi?"

"Tentu saja tidak, Hao,"

Senyuman lebar terpatri di bibir Jun, tangannya menggengam tangan Minghao. Mengambil kalungnya dan memasangkan kembali di tempat yang seharusnya.

.

"Jadi, kau juga masih mencintaiku?"

Minghao terdiam mendengar pertanyaan Jun, membuat namja tampan itu tertawa, "Ayo, jawab,"

"Aku tidak tahu," jawabnya. Berusaha untuk mengalihkan wajahnya yang memerah.

"Berarti kita bisa kembali berhubungan seperti dulu?"

"Aku tidak tahu, kau ini menyebalkan," wajahnya terlihat semakin merah padam.

.

Jun mengusap pipi merona Minghao dengan lembut, "Mengapa kau tiba - tiba menjadi pemalu? Kau baru mengakui bahwa kau akan membuka hatimu untukku. Jika aku ingin kembali memulai sebuah hubungan demi seseorang, orang itu haruslah kau, Minghao,"

"Jadi, bisakah kita mencobanya kembali?" Tanyanya lagi.

Minghao menatap iris hitam Jun dan tersenyum, "Arraseo,"

"YAAAYYY!" Teriakan Jun langsung membuat Minghao melotot, tangannya berusaha menutup mulut Jun.

"Diam! Seseorang akan mendengarnya!"

"DIAM? TIDAK ADA SEORANGPUN DI SINI! XU MINGHAO AKHIRNYA KEMBALI MENERIMA CINTAKU! Setelah berkata begitu, Jun kemudian memeluk Minghao dan memutar - memutar tubuh mungilnya.

.

"Hentikan, ge!"

.

Jun menghentikan aksinya dan menurunkan tubuh Minghao di lantai, membuatnya terhuyung ke belakang. Namun tidak sampai terjatuh karena Jun tidak melepaskan pelukannya. Tangannya masih menetap di pinggang Minghao.

"Aku tidak akan pernah lagi melukai perasaanmu, Hao. Aku bersumpah,"

Lalu Jun membungkam bibir Minghao dengan bibirnya. Melumatnya dengan lembut. Membuat tangan Minghao yang tadinya bertengger di kedua lengannya secara perlahan naik dan mengalung di lehernya.

Merasakan kembali rasa yang pernah tertinggal selama lima tahun lamanya. Dan dapat Jun rasakan jika bibir Minghao masih sama seperti dulu. Lembut dan manis.

Tubuh mungil itu mundur dan menabrak pelan tembok di belakangnya akibat dorongan Jun.

.

Baru saja Jun akan memperdalam ciumannya, secara tiba - tiba Minghao mendorong dadanya sehingga tautan bibirnya terlepas.

"Ada apa, Hao?" Tanyanya kesal. Sudah banyak tahun ia tidak menikmati bibir itu. Dan kini, saat ia sudah bisa merasakannya kembali, dengan paksa Minghao melepasnya.

"Ge, suara pesawat terbang. Kau dengar itu?" jari telunjuk Minghao terangkat, menunjuk ke atas.

"Ck, aku tahu. Lalu kenapa?"

"Koperku ada di pesawat itu!"

"Hanya itu?"

Minghao menatap Jun tidak percaya, "Mwo? Kau bilang hanya itu? Semua bajuku ada di koper itu! Bagaimana jika aku nanti akan ganti baju?"

"Memangnya siapa suruh kau memakai acara pergi dari rumah dan membawa semua bajumu, huh?"

"Ya! Ini semua gara - gara kau tahu! Kau yang membuatku menangis dan ingin pergi dari sini! Lagipula jika aku tidak berusaha pulang kampung, aku tidak yakin ini akan berakhir seperti ini," di akhir kalimatnya Minghao memelankan suaranya, membuat Jun tersenyum. Ia kembali mendekati kekasih barunya itu dan mengecup keningnya dengan lembut.

"Arraseo, aku minta maaf. Dan aku juga berterima kasih padamu. Untuk baju... kau mungkin bisa memakai bajuku dulu, sementara aku akan membelikanmu nanti. Bagaimana?"

Minghao mengangguk pasrah sambil merengut, "Bajuku..." ratapnya.

.

Yah, akhirnya kedua kalung berbentuk setengah hati itu dapat bersatu kembali dan menjadi sebuah kalung hati yang utuh.

.

.

.

Kedua manusia yang baru saja kembali menjalin kasih itu saling bercanda dan tertawa bersama, tanpa menyadari jika ada seseorang yang menatap mereka dari kejauhan dengan pandangan tidak suka. Mata orang itu terlihat semakin memicing berbahaya saat pandangannya tertuju pada namja yang lebih kecil.

"Jun bahkan tidak pernah sebahagia itu saat bersamaku. Xu Minghao, kau lihat saja nanti. Kau akan tahu akibatnya," desisnya sinis.

.

.

.

TBC

.

Review juseyo!

.

Di chap ini endingnya sengaja saya bikin agak bahagia. Karena biar the8nya ngga keliatan sedih terus. Terus Junnya juga ngga keliatan jahat. Tapi kok kayaknya ngga begitu nyambung ya...

Tapi biarlah... ff ini mungkin selesai dua chap lagi... saya akan berusaha sekuat tenaga buat nyelesainnya...

Terima kasih juga buat review kalian di chap2 yang sebelumnya.. review kalian benar2 membuat hari2 saya dalam menulis ff ini semakin berwarna :D terima kasih ya 3