THE 3F-TEAM : Abandoned City

.

.

.

Naruto's Belong To Masashi Kishimoto

.

.

.

THEIR PLAN

21.30

Ruang tengah penginapan yang ditempati 3F-TEAM. Terlihat seluruh anggota 3F-TEAM berkumpul di ruangan tersebut, kecuali satu orang yaitu Sakura. Sakura masih berdiam diri di kamarnya karena kesal oleh godaan Karin tadi.

"Baiklah." Lanjut Sasuke, "Kita mulai sekarang saja."

Sasuke mengusulkan untuk memulai diskusi sekarang juga, terlalu lama jika menunggu si berisik itu selesai dengan urusan ngambeknya. Perempuan memang merepotkan, menurut Sasuke.

"Ehm.. Tapi kan.." Konohamaru menggantung kalimatnya, membuat yang lain penasaran.

"Ada apa?" Tanya Karin, sedikit kesal dengan sikap Konohamaru yang menggantung kalimatnya seperti itu. 'Dasar laki-laki tukang gantung. Hukum gantung saja sudah diganti menjadi hukum tembak, huh' ucapnya dalam hati . Dasar otak perempuan.

"Itu... Bukankah semua ini rencana Sakura? Lalu bagaimana kita membahasnya kalau dia tetap di kamar?" Jelas Konohamaru kemudian. Membuat 4 orang lainnya jadi ikutan bingung, kecuali Naruto.

"Biar aku yang menjelaskan." Sambar Naruto.

Seluruh pasang mata di ruangan itu pun otomatis menatap pemuda berambut kuning tersebut seolah berkata 'Tunggu apalagi? Cepat jelaskan!'.

"Kalau begitu cepat jelaskan." Sasuke nampak mulai tidak sabar dengan pembicaraan ini, terlalu bertele-tele. Seperti mengayuh becak di medan berlumpur, jadi lebih baik mengendarai motor Ninja di jalan raya, pikir Sasuke jayus.

Naruto sedikit menarik nafas sebelum menjelaskan, merancang kata-kata.

"Oke. Jadi begini rencananya.." Naruto memulai penjelasannya, "Untuk hari ini, seperti yang kalian lihat, kita perlu istirahat. Besok, kita gunakan seharian penuh mencari barang-barang yang diperlukan untuk perjalanan kita nanti dan sedikit refreshing di kota ini jika kalian mau."

"Lalu?" Karin semakin penasaran, "Sakura 'menyeret' kita kesini tanpa memberikan penjelasan sedikit pun."

Naruto kembali menarik nafas, dan melanjutkan, "Setelah itu, lusa kita-"

"KITA AKAN KE PRIPYAT!" Potong Sakura dari arah kamarnya, hanya memperlihatkan kepalanya di pintu dengan senyum lebarnya.

"APA?!" Respon semuanya bersamaan, kecuali Naruto & Sakura.

"Kau tau kota itu berbahaya? Masih terdapat radiasi di sana!"

"Yang benar? Lalu bagaimana kalau kita mati? Aku bahkan belum sempat menghubungi Ayah dan Ibu ku untuk minta maaf!"

"Aku tidak ingin radiasi merusak fisik kami sehingga membuat kita berdua tidak terlihat mirip lagi!"

Dan berbagai macam protes tidak jelas lainnya masih terus bermunculan sampai terdengar lebih mirip rentetan tembakan senjata daripada suara manusia.

"Hei, kalian tenanglah. Aku yakin mereka tidak kelewat bodoh untuk mengajak kita ke kota tersebut tanpa rencana apapun." Sasuke mencoba menenangkan yang lain sebelum keadaan semakin tidak jelas, "Lalu apa rencana selanjutnya, Dobe?"

"Kalian dengar sendiri apa kata Sakura, lusa kita akan ke kota Pripyat. Dan.. Yah. Seperti protes Karin tadi, kota Pripyat masih mengandung tingkat radiasi yang cukup berbahaya bagi kesehatan manusia, meskipun sudah sedikit menurun dalam beberapa tahun belakangan ini. Karena itu kita memerlukan beberapa keperluan demi keamanan, jadi kita akan membelinya besok di kota. Mungkin sebuah masker, masker radiasi jika kalian mau sekalian. Tapi yang terpenting adalah Geiger Counter, alat untuk mengukur tingkat radiasi di daerah sekitar kita. Kuharap setiap orang memiliki satu, jadi kita bisa membelinya bersama-sama. Sisanya kalian beli sendiri sesuai kebutuhan masing-masing." Jelas Naruto panjang lebar, memberi jeda sebentar untuk menarik nafas, "Lalu kita akan berangkat ke sana lusa pada siang hari, naik angkutan umum."

Konohamaru mengernyitkan dahinya, tanda bingung. "Naik angkutan umum?"

"Kenapa kita tidak menyewa kendaraan untuk seharian atau menggunakan jasa, sejenis pemandu." Tanya Sasuke. Tak habis pikir, kenapa ada cara yang lebih mudah tapi justru membuatnya terlihat rumit? Entahlah.

Tiba-tiba saja Sakura keluar dari kamar dan bersuara, "Akan lebih seru kalau kita bisa melakukannya sendiri. Pemandu atau apapun itu terlalu banyak mengatur menurutku. Ayolah kawan-kawan, kita ini traveler bukan turis! Lagipula tujuan kita kesini untuk sebuah petualangan bukan?"

"Memangnya kau tau arah?" Tanya Karin meragukan Sakura.

"Sekitar 150 Kilometer ke arah Utara dari sini, 2 jam perjalanan jika tanpa macet." Jelas Konohamaru sambil menatap laptopnya yang entah sejak kapan sudah ada di pangkuannya.

"Bukankah kalau begitu kita harus berangkat pagi agar bisa kembali sore hari? Kecuali jika kau cukup gila untuk bermalam di sana." Ucap Karin menatap Sakura seolah menyindir.

Yang ditatap merasa kesal dengan ulah sang gadis merah, "Apa maksudmu menatap ku seperti itu?! Bukan aku satu-satunya orang gila disini!"

"Sudahlah." Sasuke coba melerai, "Kita tidak mungkin bermalam di sana, jauh lebih berbahaya pada malam hari."

Naruto akhirnya memutuskan untuk sedikit mengubah rencana awal, "Baiklah. Kalau begitu kita ikuti usul Karin. Berangkat pagi dan kembali sore hari."

"Apakah kita akan membawa 'perlengkapan'?" Tanya Konohamaru.

Semua tampak sedang berpikir.

.

.

Hening

.

.

"Hoaaamm.." Suara Hanabi memecah keheningan, pertanda dirinya sudah tidak kuat lagi bertahan lebih lama dalam pembicaraan ini.

"Kupikir lebih baik kita bicarakan besok lagi, sekarang sudah terlalu malam. Badan ku masih terasa lelah karena perjalanan hari ini." Saran Hinata. Kondisinya sama seperti sang adik, lelah dan mengantuk.

"Mereka benar, sekarang kita istirahat dulu. Lanjutkan pembicaraan ini besok pagi." Kata Sasuke. Sepertinya kondisi semua orang di ruangan tersebut sama, merindukan kasur.

Akhirnya tidak ada orang di ruang tengah karena semua sudah kembali ke kamarnya masing-masing untuk mematuhi rasa kantuknya.

.

.

.

Di kamar Sakura & Naruto.

Mereka berdua bersiap untuk tidur. Untung saja mereka memilih kamar yang tepat, karena kamarnya dilengkapi 2 single bed yang terpisah. Jadi, jangan berpikir yang aneh-aneh.

"Hei, Sakura." Panggil Naruto dari ranjangnya sendiri. Menatap lurus ke arah langit-langit kamarnya, terlihat sedang memikirkan sesuatu.

"Hm?" Jawab Sakura malas, sudah mengantuk. Posisinya menghadap ke arah yang berlawanan dari ranjang sebelahnya, membelakangi Naruto.

"Apa kau yakin? Entahlah, ini akan menjadi petualangan pertama kita sebagai satu tim. Secara Internasional maksudku." Naruto sedikit ragu akan semua ide Sakura. Bagaimanapun, rasanya kali ini akan menjadi jauh lebih berbahaya dari perjalanan mereka sebelum-sebelumnya.

Sakura membalik tubuhnya menghadap Naruto, menatap dengan penuh keyakinan. Membuat Naruto merasa sedikit aneh akan tatapan Sakura.

"Tentu saja! Kita sudah sejauh ini, tidak mungkin untuk kembali bukan?" Sakura terlihat sangat yakin dan bersemangat akan perjalanan kali ini, seperti biasanya.

Naruto menghela nafas pelan, pasrah. "Ya, kau benar. Kita hanya bisa melanjutkannya."

Mengikuti arah pandangan Naruto, Sakura menatap ke arah langit-langit kamar sambil tersenyum, "Kau tau tim kita tidak selemah itu. Percayalah pada semuanya."

Merekapun akhirnya terlelap, menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu masuk ke dunia mimpinya masing-masing.

.

.

.

THE 3F-TEAM akan pergi ke Pripyat? Apa yang ingin mereka lakukan? Kita lihat saja nanti

.

.

.

THE 3F-TEAM

.

.

.

To Be Continued