THE 3F-TEAM : Abandoned City
.
.
.
Naruto's Belong To Masashi Kishimoto
.
.
.
SILENT WORLD
13.15
Masih berdiri di perbatasan antara hutan dan kota tempat Sakura dan teman-temannya turun. Mereka sedang berkumpul untuk membicarakan sesuatu.
Sakura menatap temannya satu persatu. 'Sasuke, Karin, Konohamaru, Hinata, dan Hanabi. Baiklah.. Eh? Tunggu-'
"Mana Naruto?" Konohamaru juga menyadari ketidakhadiran sang pemuda kuning diantara mereka, "Apa dia tertinggal atau hilang? Tunggu... Jangan-jangan dia diculik oleh traveler mobil van yang kita tumpangi tadi?!"
Semua heran mendengar ucapan Konohamaru, terlalu berlebihan.
-Kresek- -Kresek-
Terdengar bunyi dari belakang Konohamaru, semua langsung bersiaga dan menatap ke sumber suara.
"Ada sesuatu dibalik semak-semak itu." Ucap Karin memperjelas.
5..
4..
3..
2..
1..
Semua bengong melihat sesuatu yang baru saja membuat mereka waspada keluar dari semak-semak tersebut.
"Akhirnya.. Fiuh." Makhluk tersebut menghela nafas lega.
Tap. Tap. Tap. JDUAK!
"Aduh! Kenapa kau suka sekali menghajarku?!" Makhluk itu baru saja menerima hantaman maut dari anggota kelompok 3F-TEAM berambut pink.
"Kau itu mengagetkan saja! Setelah menghilang lalu tiba-tiba muncul dari semak-semak tidak jelas! Huh." Omel Sakura kepada sang makhluk, Naruto.
Sang makhluk, maksudnya Naruto, masih mengurusi badannya yang baru saja tersungkur akibat perbuatan Sakura. "Tadi aku kebelet waktu di mobil, jadi saat kita turun aku langsung lari ke semak-semak itu. Mengertilah sedikit!"
"Tapi tetap saja-"
"Sudah." Potong Sasuke malas mendengar pertengkaran Sakura & Naruto yang menurutnya lebih mirip pasangan suami istri baru menikah dan mengalami krisis ekonomi akibat inflasi negara, terlalu rumit!
"Setidaknya sekarang kita sudah lengkap, ayolah." Konohamaru sepertinya setuju dengan pikiran Sasuke.
"Huh. Oke oke. Ayo kita lanjutkan." Ajak Sakura masih sedikit kesal.
Merekapun kembali berkumpul membentuk lingkaran. Melanjutkan perbincangan yang bahkan belum sempat dimulai akibat insiden 'makhluk' tadi.
"Oke, kita berkumpul disini untuk persiapan sebelum masuk ke kota. Pertama-tama.." Ucap Sakura lalu menatap ke arah Naruto.
"Hmm.. Baiklah. Pertama, aku akan membagikan ini dulu ke kalian semua." Naruto mengeluarkan sebuah kantung berbentuk kotak dari tasnya, dan memberikan isinya kepada masing-masing anggota.
"Ini yang disebut Geiger counter. Alat ini akan mengukur tingkat radiasi yang ada di sekitarmu." Jelas Naruto lalu mendemonstrasikan cara menghidupkan alat tersebut diikuti yang lainnya.
Terdengar bunyi khas alat pendeteksi dari benda tersebut.
"Angka yang ditunjukan pada layar merupakan tingkatan radiasi dalam satuan mikro rontgen. Yang terpenting adalah jika kalian berada di suatu tempat dan angka pada alat tersebut mencapai kisaran ratusan atau bahkan ribuan, kalian tidak boleh terlalu lama ditempat tersebut. Jika mencapai ratusan ribu, segera lari menjauh dari tempat itu." Jelas Naruto lebih lanjut tentang Geiger counter, "Jadi gunakan alat ini setiap kali kalian berpindah tempat."
"Berapa batas maksimal radiasi yang dapat diterima tubuh manusia?" Konohamaru bertanya, bergidik ngeri serta merinding membayangkan apa yang terjadi jika dia tidak sadar sedang berada di sebuah tempat dengan radiasi tinggi.
Naruto tampak berpikir, "Sekitar 500 Rontgen dalam 5 jam, dosis tersebut dapat berdampak mematikan bagi manusia. Berada di tempat dengan paparan radiasi sekitar 3000 Rontgen selama beberapa detik, kulit mu akan terbakar."
"Baiklah sekian tentang alat itu, terima kasih atas penjelasannya Naruto." Ucap Sakura merasa cukup mengerti tentang alat ditanganya, "Selanjutnya Konohamaru.."
Konohamaru membuka resleting jaketnya dan menunjukan 7 benda yang menggantung di sabuk pinggangnya.
"Ini, walkie talkies. Kalian sudah mengerti maksudnya bukan? Untuk berjaga-jaga." Ucap Sakura sementara Konohamaru memberikan satu ke masing-masing orang.
"Kita hanya memiliki 1 buah peta karena si bodoh itu melupakan teman satu timnya." Sakura menatap Naruto karena keteledoran yang dilakukan pemuda coklat itu. Sedangkan sang pelaku hanya tersenyum sambil menunjukan selembar peta khusus Exclusion Zone di tangan kanannya.
"Itu saja sudah cukup. Lagipula kita tidak akan lama disini." Kata Sasuke berdiri mengahadap ke kota, membelakangi teman-temannya.
Naruto berjalan menghampiri Sasuke dan berdiri di sampingnya, "Hanya untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu, kemungkinan terburuk."
"Kalau begitu semua sudah siap, ayo kita mulai!" Sakura semakin semangat untuk memulai penjelajahannya di kota mati tersebut.
3F-TEAM memulai penjelajahannya, di Pripyat.
.
.
.
THE 3F-TEAM
.
.
.
14.00
Naruto dan Sasuke berjalan memimpin di paling depan.
"Hei. Teme." Panggil Naruto pada pemuda di sebelahnya. "Ada apa? Kau seperti memikirkan sesuatu."
Sasuke sedikit bergumam mendengar perkataan Naruto yang mengetahui bahwa dia memang sedang berpikir.
"Seperti ada yang aneh dengan pos penjaga tadi." Sasuke mengutarakan pikirannya.
"Maksudmu?" Tanya Naruto tidak mengerti, dia bahkan tidak tau berapa pos yang mereka lewati. Sempat tertidur di mobil, dasar pemalas.
"Kau tau? Di pos pertama para penjaga itu bersikap biasa saja dan mengijinkan kita masuk saat aku bilang ingin ke Pripyat. Tapi saat di pos bagian dalam, penjaga menolak saat aku mengatakan hal yang sama seperti di pos pertama dan mereka bilang kalau sedang ada perbaikan atau sejenisnya di dalam kota." Jelas Sasuke merasa aneh akan hal tersebut.
"Lagipula apa yang diperbaiki dari kota ini?" Lanjutnya melihat kondisi bangunan-bangunan di kota yang terlihat rapuh, seolah bisa runtuh dan menimpamu kapan saja. Lalu jalanannya penuh dengan retakan yang ditumbuhi tanaman liar mencuat dari retakan-retakan tersebut.
"Entahlah. Mungkin penjaga di pos satu hanya iseng membiarkan kita masuk karena mereka pikir kita akan kembali setelah dilarang masuk di pos bagian dalam." Naruto mencoba berpikir positif, meskipun terdengar tidak masuk akal. Untuk apa tentara melakukan hal se-iseng itu?
"Hei..." Terdengar suara Karin dari belakang Naruto & Sasuke. "Apa kalian bisa mendengarnya?"
"Apa?" Tanya Konohamaru.
"Itu.." Karin melanjutkan.
.
"Keheningan"
.
Ya, kota tersebut sangatlah hening, tanpa suara sama sekali. Tak ada kicauan burung, atau bahkan sekedar goyangan rumput yang tertiup angin. Hembusan anginpun tak terdengar, seolah angin saja tidak berani hanya sekedar berhembus di kota yang sudah ditinggalkan selama puluhan tahun ini.
"Keheningan ini merasuk ke dalam telinga ku." Ucap Sakura menatap ke arah bangunan tua di sebelah kirinya. Menurut dia bangunan tersebut adalah sebuah apartemen mewah pada jamannya, tidak untuk saat ini. Yang tersisa hanyalah bangunan tua dengan cat yang sudah mengelupas tak tersisa, serta kaca jendela yang pecah di setiap lantai. Ia pun mengeluarkan kamera miliknya dan mengambil gambar berbagai sudut dengan objek gedung tersebut.
"Kondisi seperti ini bisa membuat orang menjadi gila." Lanjut Sakura masih fokus dengan kameranya, "Bukan hanya sekedar keheningan tanpa suara, tapi menggambarkan bahwa tak satupun kehidupan yang berani menampakkan diri disini."
Memang, terlampau hening untuk telinga manusia.
Mereka memutuskan untuk masuk ke sebuah apartemen yang terlihat lebih baik daripada gedung di kanan dan kirinya. Tak lupa selalu siaga dengan alat Geiger counter di tangan masing-masing.
Sasuke yang berjalan di depan mengarahkan GC (Geiger Counter) nya ke gedung yang akan mereka masuki. "50, masih aman jika hanya beberapa menit."
Sasuke berjalan masuk terlebih dahulu disusul teman-temannya. Menyusuri lorong apartemen yang dipenuhi kesunyian, retakan dinding, tak satupun keramik lantai terlihat utuh, dan dihiasi berbagai barang yang berserakan di setiap sudut ruangan.
Memasuki salah satu ruangan. Sakura memotret sebuah bingkai yang tergeletak di lantai dengan isi foto satu keluarga sedang tersenyum bahagia. "Pada malam itu, mereka bahkan tidak diberikan waktu walaupun sekedar 5 menit hanya untuk menyelamatkan barang-barang pribadinya. Kini mereka hanyalah rongsokan yang telah kehilangan pemiliknya."
Berjalan ke balkon, sang gadis coklat mengambil potret pemandangan kota melalui lensa kameranya. Berada di sebelahnya, Karin menatap langit yang mulai menggelap, seolah menyesuaikan keadaan dengan kota mati dibawahnya.
"Melihat sekilas kota ini.." Karin menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan, mencoba mencari aroma kehidupan dari indra penciumannya. "Memang tidak ada tanda kehidupan. Tapi di setiap sudut tempat yang sudah kita lewati, seolah berada di dimensi yang berbeda. Aku merasa dapat melihat bentuk kehidupan yang pernah ada disini. Saat mengalihkan pandangan ke arah lain, rasanya aku dapat mendengar suara orang saling menyapa dan kendaraan lalu-lalang dari arah jalanan. Tapi hilang begitu saja saat aku coba untuk mencarinya."
Kota ini seperti sebuah batas dimensi pertemuan antara masa lalu dan masa depan. Kenangan akan kesalahan yang dilakukan oleh para pendahulu, dan penglihatan bahwa semua dapat terulang di masa depan. Gambaran akan bagaimana peradaban yang dibanggakan manusia dapat hancur hanya dalam semalam. Anggapan bahwa alam mencoba mengklaim ulang apa yang sudah seharusnya menjadi milik alam.
.
.
Konohamaru menatap ke arah cermin yang berada di meja rias pada ruangan yang sama.
"Jangan sentuh apapun." Ucap Naruto cepat melihat Konohamaru yang mendekatkan tangannya ke cermin, terlihat ingin mengambilnya. "Mungkin terlihat aman dan hanya dipenuhi debu, tapi faktanya semua benda yang tergeletak di kota ini masih mengandung radiasi. Kau tau? Terdengar rumor bahwa ada pihak tidak bertanggungjawab yang mengambil barang disini dan menjualnya ke pasar gelap, lalu pembelinya jatuh sakit karena terpapar radiasi dari barang tersebut."
Naruto benar, tak peduli seberapa mahal barang tersebut dimata mu, jangan berpikir untuk menyimpannya jika itu berasal dari tempat seperti Pripyat. Beberapa hari pasca insiden 26 April 1986, pemerintah mengerahkan polisi setempat untuk menembaki para penjarah setelah ditemukan TV yang mengandung radiasi dijual pada pelelangan.
Seketika itu juga Konohamaru langsung menarik tangannya menjauh dari cermin tersebut, "Hampir saja. Thanks Naruto."
.
.
Sasuke mengernyitkan dahinya merasa ada yang aneh, "Ssst. Apa kalian dengar itu?" Ucap Sasuke memfokuskan pendengarannya.
Yang lain pun mengikuti aba-aba Sasuke untuk tidak bersuara agar ia bisa mendengar lebih jelas lagi.
"Tunggu disini." Perintah Sasuke pelan seraya berjalan menuju sumber suara yang menurutnya dari arah lorong bagian dalam.
Sasuke berjalan dengan hati-hati menjaga agar langkahnya tak bersuara, merapatkan tubuhnya ke dinding. Terus berjalan menyusuri lorong lalu berbelok ke kanan di bagian ujung lorong tersebut. Sementara yang lain hanya memperhatikan dari belakang.
"Dimana Sasuke?" Ucap Sakura pelan.
Masih terus memperhatikan arah kepergian Sasuke, Karin menjawab. "Entahlah, mungkin dia- AWAS!"
Karin segera menarik tubuh Sakura yang sejak tadi berdiri di tengah lorong sambil memotret. Terlihat sesuatu yang besar berlari dari arah lorong tempat Sasuke pergi dan melewati mereka semua.
"I-Itu... Apa itu?!" Konohamaru kaget akan keberadaan makhluk seperti itu di gedung yang mereka tempati, tak sempat memperhatikan karena ia terjatuh saat menghindar dan makhluk tersebut lari sangat cepat melewati mereka semua.
"Itu hanya beruang kawan-kawan!" Teriak Sasuke dari ujung lorong. Menghampiri teman-temannya yang masih terlihat kaget.
"Hanya beruang katamu? Itu beruang!" Sepertinya Konohamaru berlebihan menanggapi rasa kagetnya sendiri.
Naruto berjalan menghampiri Sasuke, "Seekor beruang di siang hari? Kupikir hewan liar hanya akan masuk ke kota pada malam hari."
"Ya, kau benar. Tapi ada yang aneh.." Sasuke telah tiba di tempat teman-temannya berada, namun merasa ada yang salah dengan sikap beruang tadi. "Kenapa hewan sebesar itu, justru terlihat sangat ketakutan saat ada manusia? Aku menemuinya di sudut ruangan sedang berbaring, dia bangun dan mencoba menghindar saat melihatku. Lalu berlari keluar seperti yang kalian lihat tadi."
Naruto pikir Sasuke ada benarnya. Seekor beruang, dengan ukuran sebesar itu, bisa saja menyerang manusia jika dia mau. Tapi ini justru sebaliknya, seolah beruang tersebut takut Sasuke akan menyerangnya.
-Srriiing- -Twiit-
Terdengar suara dari walkie talkie yang tergantung di pinggang Naruto.
"Itu pasti Hinata." Terka Sasuke.
"Kawan-kawan, keluarlah. Kami menemukan sesuatu di belakang gedung." Ucap suara dari seberang sana, Hinata.
Sudah menjadi protokol bagi 3F-TEAM untuk menghidupkan alat komunikasi hanya dalam keadaan saling terpisah. Jika terpisah dengan bentuk kelompok, hanya satu alat yang dihidupkan dalam setiap kelompok tersebut. Salah satu bagian dari Communication Protocol.
Sejak awal Hinata & Hanabi tidak ikut masuk ke gedung apartemen bersama Sakura dan yang lainnya. Mereka berdua lebih memilih berkeliling di sekitar gedung, menjalankan Perimeter Protocol.
.
.
.
Apa yang ditemukan Hinata & Hanabi?
.
.
.
To Be Continued
