THIN LINE
Kim Jongin x Oh Sehun
.
.
Chapter 1
.
.
Aku menunggu di mobil
Send
Pesan itu terkirim dari ponsel yang dipegang seorang pria yang sekarang sedang duduk di kursi kemudi mobil sedan berwarna hitam. Oh Sehun, pemuda berperawakan tinggi dengan kulit pucat, hidung mancung dan dagu yang runcing. Rahang pemuda itu tegas, menegaskan pandangan datarnya yang selalu ia berikan pada orang orang.
Hari itu hari Minggu. Seperti biasa, orang tuanya akan pergi ke Gereja untuk beribadah. Sehun yang dari kecil sudah diajari agama dengan taat akan mengikuti mereka. Nyonya Oh meninggal saat usia Sehun masih kecil, yang akhirnya membuat sang ayah menikah lagi dengan janda anak satu, Nyonya Byun. Semenjak saat itu, kegiatan pergi ke Gereja menjadi hal yang tidak begitu menyenangkan lagi bagi Sehun.
Faktanya, sang kakak tiri-Byun Baekhyun-merupakan perwujudan setan kecil yang sempurna. Pintar, menggemaskan, jago bernyanyi. Sehun masih ingat saat Baekhyun berhasil menjadi anggota paduan suara di sebuah Gereja besar yang disambut bahagia berlebihan oleh Tuan Oh. Iri-kah? Tidak juga. yang membuat Sehun malas berurusan dengan Baekhyun adalah sifatnya yang benar benar menyebalkan.
Syukurlah pemuda brengsek itu sedang menjalani kuliahnya di luar negeri. Sehun bisa menikmati hidupnya dengan sedikit lebih tentram beberapa tahun terakhir ini.
Membunuh rasa bosan, Sehun memutuskan untuk menyalakan radio di mobilnya dan memilih milih channel yang biasa menyiarkan lagu yang dia suka. Kaca mobil Sehun biarkan terbuka, memberi akses agar angin pagi di hari Minggu bisa memberikan sirkulasi udara di dalam mobil yang tidak menyala.
Sehun mengedarkan pandangannya pada keadaan sekitar, dimana banyak orang yang berlalu lalang. Entah sekedar bersepeda, mengajak binatang peliharaan jalan jalan, atau bermain di taman dekat bangunan Gereja. Suara tawa yang sayup sayup terdengar seolah mengejek Sehun yang sudah jarang sekali tertawa akhir akhir ini.
Tatapan Sehun terkunci pada seorang pria berkulit tan yang sedang duduk di bawah pohon. Bersama kedua temannya. Yang satu memiliki telinga tidak normal dan satu memiliki bentuk muka kotak dengan tampang seperti bebek karet. Yang dia kenal, pemuda itu bernama Jongin. Sumber masalah di sekolah sejak tahun pertama.
ooo
"kenapa kau tidak mengikuti acara doa sampai selesai?" Tuan Oh masuk ke dalam mobil dengan teguran, diikuti oleh Nyonya Byun yang duduk dibelakang. Secara hukum, Sehun belum legal untuk menyetir mobil, tapi jarak Gereja dan rumah mereka yang tidak begitu jauh rasanya cukup aman untuk Sehun menyetir. Lagi pula, pria itu juga selalu membawa kendaraan ke sekolah. Orang kaya bebas melakukan apa saja, bukan?
"aku pusing." Sehun menjawab sekenanya. Jawaban yang sama setiap Minggu.
"baiklah. Ayo kita pulang, kau bisa beristirahat di rumah. Lagi pula, Ibu punya kejutan untukmu dirumah." Nyonya Byun celetuk dari kursi belakang. Sehun tidak tertarik dengan apapun yang berbau kejutan-terlebih dari ibu tirinya-karena ujung ujungnya, kejutan yang dia maksud hanyalah sup atau makanan yang dia buatkan khusus Sehun. Atau hadiah hadiah yang bisa ia beli sendiri.
Nyonya Byun sebenarnya berusaha keras untuk bisa lebih dekat dengan Sehun. Tapi entah kenapa, pria itu seakan menghindar. Hatinya masih sulit menerima orang baru, meskipun si wanita sudah menyandang gelar Oh selama lima tahun. Baginya, seorang ibu tidak bisa digantikan oleh siapapun.
Sehun menancap pedal gas nya lalu membawa mobil sedan mewah itu pergi, ia sempat melirik kerumunan Jongin saat mobilnya berbelok di dekat mereka.
.
.
.
.
.
"surprise~"
"sedang apa kau disini." Sehun menyahut ketus saat mendapati si kejutan yang dimaksud oleh Nyonya Byun sekarang berada di kamarnya. Pemuda bersurai hazelnut dengan mata sipit dan tubuh pendek. Kakak tirinya, Byun Baekhyun sedang menginvansi kamarnya tanpa dosa.
"menyapa adikku tentu saja." Baekhyun berucap dengan raut wajah sok polos. Sehun tidak mengindahkan Baekhyun dan memutuskan untuk duduk di depan macbook diatas meja belajarnya.
"Los Angeles benar benar gila! Seharusnya kau kesana liburan kemarin. Siapa tau kan, kau bisa menggoda beberapa hot guy disana." Baekhyun terkikik menyebalkan sambil merebahkan diri diatas ranjang Sehun.
"Shut up Baek." Sehun berkata tanpa membalikan badannya. Mencoba menyibukkan diri dengan laptop berlambang apel itu. Mencari sesuatu hal yang setidaknya bisa mengalihkan perhatian Sehun dari sosok Baekhyun yang menggangu.
"why? Memangnya ada yang salah dengan kata kataku?"
"kembali lah ke kamarmu. Aku ingin tidur."
"yasudah, kalau begitu kita tidur saja seranjang berdua! Aku tidak masalah kalau kau menjamahi tubuhku nanti. Ya asal ja-"
Sehun memutar kursi meja belajarnya dan memotong ucapan Baekhyun cepat cepat. "get the fuck out!" bukannya merasa takut, Baekhyun malah terkekeh.
"Alright, grumpy. Sampai jumpa saat makan malam." Dan kemudian pria itu bangkit lalu meninggalkan Sehun sendirian dikamarnya.
Sehun benci pemuda itu. Sehun benci Baekhyun. Apalagi saat ia kehilangan kesabarannya dan Baekhyun akan menatapnya penuh kemenangan. Sudah bertahun tahun lamanya seperti itu. Sehun sendiri tidak ingat kapan asal mula Baekhyun suka menggodanya dan membuatnya marah.
Mungkin, sejak Sehun pernah tertangkap basah mencium seorang pria olehnya.
.
.
.
.
.
.
Makan malam keluarga adalah hal paling anti dalam hidup Sehun. Tidak perduli banyaknya makanan yang melimpah diatas meja. Daging sapi terbaik Korea atau jamur truffle dengan harga selangit. Toh sebenarnya bukan makanan yang menjadi masalah. Tapi orang orang di meja makan yang membuat Sehun rasanya ingin sekali pindah ke kolong meja.
Nyonya Byun akan berusaha semanis mungkin sementara Tuan Oh akan mengajak bicara-yang ujung ujungnya hanya soal bisnis. Dan yang ujung ujungnya lagi hanya akan mempertanyakan kepantasan Sehun unuk memimpin perusahaan nantinya. Fuck it! Sehun tidak suka apapun yang berbau bisnis.
Dan makan malam yang sudah memuakkan itu semakin parah dengan adanya Byun Baekhyun. Duduk tepat di hadapannya dengan seringaian yang membuat Sehun ingin memaki.
"Bagaimana kuliah mu Baekhyun?" ini adalah pertanyaan pembuka dari Tuan Oh. Bisa dipastikan kaemana arah pembicaraan berlanjut. Saus carbonara dari pasta yang Sehun makan tiba tiba membuatnya mual. Ah ralat, bukan karena saus. Tapi karena makan malam ini.
"baik sekali dad. Setelah liburanku disini selesai, aku akan kembali ke sana dan melanjutkan kuliah seperti biasa"
Dad. Baru beberapa tahun si pendek itu menetap di California dan dia menolak memanggil ayahnya dengan budaya tempat kelahiran mereka. norak!- Sehun membatin.
"aku hanya harus menyelesaikan beberapa kelas lagi dan aku akan segera lulus." Jawaban Baekhyun terakhir sukses membuat Sehun menghentikan kunyahannya.
"Secepat itu?" Sehun celetuk. Yang kemudian ia sesali karena hal itu hanya akan membuat Sehun terlibat dalam pembicaraan paling dia benci. Baekhyun menolehkan pandangannya pada Sehun. ia menyempatkan diri untuk menarik sudut bibirnya, membuat sebuah senyum remeh."kenapa?"
Sehun tidak pernah ingin Baekhyun lulus. Kalau bisa, dia selalu kuliah di luar negeri. Tidak usah pulang sekalian! Kenyataan Baekhyun akan lulus berarti si manusia kerdil berhati iblis Itu akan kembali ke rumah. Akan kembali merebut kehidupan tenangnya selama ini. Oh Tuhan,siapapun tolong bawa Baekhyun pergi jauh jauh!
"kakakmu ini kan pintar Sehun. Sudah sepatutnya dia lulus cepat. Kau sendiri, bagaimana sekolahmu?" Tuan Oh mengambil kesempatan itu untuk menanyakan pertanyaan telak pada Sehun. Si kepala keluarga bahkan bertanya sambil menyendok pastanya-tanpa melihat Sehun sedikit pun-mungkin karena enggan. Dan Lagi, Baekhyun masih bertahan dengan senyum sialannya. Bahagia sekali dia mendengar pertanyaan itu akhirnya terlontar juga. Oh, Baekhyun sungguh menikmati saat saat dimana dia dibandingkan dengan Sehun.
"Appa, aku baru saja selesai liburan. Apa yang bisa kuceritakan?"
"ya kau harus belajar dengan giat kalau begitu. Tahun ini kau kelas tiga. Jad-"
"aku baru masuk kelas dua appa." Sehun memotong ucapan ayahnya dengan nada jengah. Tolonglah. Jika kau memang tidak begitu memperhatikan sekolah anakmu-sampai lupa kelas berapa tepatnya anakmu sekarang-jangan sok untuk bertanya. Kenyataannya, Tuan Oh yang tetap diam lebih disyukuri Sehun ketimbang Tuan Oh yang bertanya macam macam.
Tuan Oh menghentikan gerakan tangannya, lalu menatap Sehun yang sekarang sudah kentara sekali merasa malas. Dia berdeham sebentar "hm. Begitu"
"kau bisa mengajari Sehun belajar kan, Baekhyun? Ya.. kau tau sendiri dia tidak sepintar dirimu. Siapa tau dengan bantuanmu, dia juga bisa kuliah di luar negeri" Lanjut Tuan Oh, ditujukan pada Baekhyun yang tersenyum manis. Manis sekali hingga membuat Sehun muak dan kehilangan selera makannya.
"aku selesai." Sehun melepas serbet yang berada di pangkuannya lalu membersihkan mulutnya dengan itu. Ada bunyi dentingan yang terdengar saat Sehun tidak sengaja melempar serbetnya keatas meja. Mengenai sendok yang tergeletak diatas piring.
"Lihat adikmu itu, dia masih saja tidak sopan." Kata Tuan Oh sambil melanjutkan makan begitu Sehun sudah beranjak tanpa dipersilahkan. Baekhyun tersenyum lebar sekali.
.
.
.
.
Sehun bukan tipe murid yang akan pergi ke sekolah di pagi buta. Dia juga bukan tipe murid nakal yang suka terlambat. Sehun lebih suka pergi ke sekolah jam enam lewat empat puluh dan akan masuk tepat pukul tujuh kurang lima menit. Sebisa mungkin dia membuat dirinya tiba saat bel sekolah nyaris berbunyi.
Tapi kenyataan sekarang berbeda. Anak berkulit pucat itu sudah memacu mobilnya di pagi buta. Tepat jam enam pagi, Sehun sudah memarkirkan mobil sport mahalnya di parkiran sekolah.
Kau pasti heran kenapa seorang anak yang baru resmi menjadi sophomore sudah membawa mobil ke sekolah-lagi pula Sehun sudah membawa kendaraan sendiri sejak dia masih menyandang status junior. Alasannya adalah kepala sekolah Senior High Sehun merupakan tuan Bangka yang matrealistis. Ayahnya cukup mendonasikan sejumlah uang lalu dengan ajaibnya Sehun boleh membawa kendaraan sendiri. Sehun menolak untuk sekolah di sekolah elit tempat para anak anak direktur seperti kaumnya bersekolah. Ia tidak ingin kembali lagi masuk dalam lingkungan anak anak kaya-Sehun punya alasan sendiri untuk itu. Tambahan plusnya, sekolah ini cukup dekat dari rumah.
Dan jika kau pikir Tuan Oh begitu mencintai putera kandungnya, sampai rela merogoh kocek dalam untuk fasilitas Sehun. Kau salah besar, kawan. Pertama, Bagi Tuan Oh, nominal tersebut tidak ada artinya. Dan kedua, cara Tuan Oh memanjakan Sehun seperti itu hanya semata mata agar Sehun merasa sang appa adalah ayah terbaik di dunia. Lalu Sehun akan merasa sangat beruntung. membalas budi. Tergerak moralnya untuk belajar giat dan dengan senang hati mengambil alih perusahaan. Mengikuti apapun yang ayahnya mau. Intinya, menurut atas titah mutlak sang ayah.
Huh! Mimpi! Silahkan saja dia hujani Sehun dengan fasilitas. Sampai kapan pun Sehun tidak akan pernah mau menjabat sebagia presdir Oh corporation. Camkan itu!
Kembali lagi pada Sehun yang sudah berada di sekolah.
Bangunan itu tampak sepi. Mungkin murid murid yang lain masih enggan untuk masuk sekolah karena betah dengan suasana liburan yang masih menyelimuti mereka. Sehun pun begitu. Dia sangat menikmati liburannya ke rumah nenek di Jeju-tolong jangan salah kaprah, Nenek Sehun adalah nenek paling hebat sedunia!- tapi kenyataan bahwa Sehun akan menemukan lagi wajah Baekhyun dimeja makan saat sarapan pagi ini, membuat Sehun memaksa membuka matanya yang masih mengantuk lalu segera bersiap ke sekolah.
Mungkin, mulai sekarang, dia akan berangkat sepagi ini selama Baekhyun masih berada dirumah.
.
.
.
Sehun menyelesaikan sarapan nya di dalam mobil. Ia menyempatkan diri untuk membeli sandwich dan sekotak jus jeruk kemasan di sebuah toko saat perjalanan ke sekolah. Setelah memastikan tampilannya baik-tidak ada noda ikan tuna yang jatuh ke kerah seragam-Sehun turun dari mobil dan pergi ke kelasnya di lantai dua.
.
.
.
Sehun mendudukan dirinya di pojok kelas, memilih sebuah kursi didekat jendela. Tidak. Dia bukan tipe melankolis yang suka memandangi pemandangan sambil meratapi hidup. Dia hanya ingin memiliki sirkulasi udara paling baik. faktanya, rumus rumus kalkulus di kelas akan membauat ruangan sedikit engap.
Sehun memutuskan untuk menghabiskan waktu sambil mendengarkan lagu.
6.45 KST
Kelas yang tadinya sepi sudah cukup ramai sekarang. Mayoritas diisi oleh para yeoja yang sedang berkasak kusuk. Senang bisa satu kelas dengan pria tampan nan kaya raya seperti Sehun. Beberapa bahkan mencuri pandang kearahnya, namun Sehun acuhkan. Selau saja seperti itu. Jika saja isi hati mereka semua bisa didengar, pastilah akan menjerit satu hal yang sama : bisa duduk semeja dengan Sehun.
Murid murid lelaki yang lain sudah mulai berdatangan. Ada yang saling ngobrol. Menertawakan hal yang Sehun tidak tau apa itu-dia masih menyumpal telinganya-ada yang keluar kembali menemui teman dikelas sebelah. Semua sibuk dengan urusan masing masing sampai bel berbunyi.
Sehun mencopot headset dan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas. Tidak berapa lama, pak guru Kim masuk. Pria berperawakan tidak begitu tinggi, perut buncit, kacamata frameless yang terpasang rendah diujung hidung dan rambut beruban.
"selamat pagi anak anak."
"selamat datang kembali ke Sekolah. Seperti yang kalian tahu, setiap tahun ajaran baru, posisi duduk kalian akan ditentukan secara acak"
Suara bergumam para yeoja terdengar pelan. Berharap dengan amat sangat nama mereka lah yang akan disebutkan bersama nama Oh Sehun nantinya.
"baiklah, saya akan membagikan posisi duduk kalian sekarang."
Guru Kim menyebut nama murid satu persatu. Beberapa murid akan berseru bahagia begitu mengetahui teman sebangkunya adalah teman dekat mereka sendiri atau memiliki posisi duduk yang menguntungkan –jauh dari papan tulis-tapi, tidak banyak juga yang mendesah kecewa karena tidak bisa duduk dengan Sehun.
Sementara Sehun sendiri, namanya belum dipanggil. Apa guru itu sengaja menyebut Sehun paling akhir? Memberikan efek efek dramatis seperti di drama Korea? Yang benar saja!
"Oh Sehun dengan…" beberapa Yeoja terkesiap begitu nama Sehun disebut, mereka berdoa dalam hati agar nama mereka dipanggil. Sementara yeoja yang sudah diatur tempat duduknya lebih dulu, memilih untuk tidak perduli, kecewa.
"… Kim Jongin."
Semua anak terhenyak. Kim Jongin? Entah Jongin yang begitu beruntung bisa sebangku dengan Sehun, atau Sehun yang sangat sial bisa sebangku dengan pembuat onar nomor satu disekolah.
"dimana Jongin?" guru Kim bertanya-entah pada siapa-saat dia tidak menemukan Jongin dikelas. Tidak berapa lama, pintu terbuka bgitu saja tanpa ketukan lebih dulu. Seorang murid pria masuk ke dalam kelas dengan tampilan seragam berantakan. Heol. Ini masih pagi dan bajunya sudah semerawut seperti itu.
Kancingnya terbuka sampai kancing kedua, memperlihatkan kaus hitam yang ia pakai sebagai dalaman. Dasi nya ia genggam-alih alih terpasang dileher-sementara ranselnya menggantung di salah satu bahunya.
"sori. Aku terlambat." Kata anak itu setengah hati. Ia menyibak poni yang menutupi rambutnya lalu berjalan menghampiri guru Kim.
"Jongin. Sudah jam berapa ini?!"
Jongin mengedikkan bahunya santai. "tidak tahu. Aku tidak memakai jam." Suara helaan nafas guru Kim terdengar jelas sekali. Pria gempal itu memijit pelipisnya. Dia bahagia saat mengetahui bisa menjadi wali kelas Oh Sehun (Karena tampaknya, mayoritas guru disekolah sedang berusaha cari muka agar kecipratan kebaikan Tuan Oh!) tapi begitu menemukan nama Kim Jongin terselip di deretan absen kelas yang ia pegang, rasa antusias Guru Kim berkurang. Siapa sih yang tidak tau troublemaker itu?
"sudah. Duduklah di samping Sehun."
"dan pakai dasimu!"
Jongin mengabaikan perintah yang terakhir. Pria berkulit tan itu melangkah ke satu satunya meja kosong yang berada disamping pria berkulit putih dengan tatapan datar yang membosankan.
Jongin mendudukan dirinya tanpa permisi. Reflek Sehun menatap pria itu yang tampaknya jauh dari kata beretika. Bukankah seharusnya dia memberi salam dulu? Atau menyapa mungkin?
Jongin menoleh begitu menyadari tengah diperhatikan. Dia mengerjap saat kedua mata sipit dengan manik kelam sedang menatapnya tanpa ekspresi "apa yang kau lihat?!"
Sehun kembali menatap ke depan tanpa menyahut appaun.
Hari pertama dimulai dengan perkenalan para guru dan kegiatan belajar yang tidak berarti. Sehun tetap dengan sikap tenangnya sementara Jongin? Anak itu tertidur hampir disetiap pelajaran.
ooo
"ku dengar, kau duduk dengan si kaya raya Oh Sehun?" Chanyeol bertanya. Nadanya meledek. Jelas sekali. Saat itu, sekolah telah usai. Sebelum kembali pulang, biasanya Jongin, Chanyeol dan Jongdae akan menyempatkan diri pergi ke tempat billiard disudut jalan. Sesak dengan asap rokok. Berpencahayaan minim dan wangi parfum murahan yang menguar dari para pekerja wanita disana.
Jongdae berdecak kesal saat bola putihnya masuk kedalam lubang.
"tau dari mana kau?" Jongin balik bertanya, pria itu sedang duduk diatas sofa kumal didekat table mereka. Jari telunjuk dan tengahnya menjepit batang rokok sementara satu tangannya yang lain terentang di bahu sofa.
"yeah. Apapun soal primadona kita itu pasti beritanya cepat terdengar bukan." Chanyeol menyahut sambil menusuk bola bernomor 7 dengan bola putih. Ia tersenyum senang saat bola itu berhasil masuk.
"pasti dia bahagia sekali."
Dahi Jongin berkerut bingung. "maksudnya?"
"ayolah Jongin, masa kau tidak tau. Dari tahun pertama kan dia sudah mencuri curi pandang kearahmu. Sepertinya Oh Sehun itu naksir kau!." Jongdae berujar santai sambil menumpukan pegangannya pada stick billiard. Tampak tidak begitu fokus lagi dengan permainannya. Chanyeol sedang membidik bola nomor 9 sekarang, dan pasti akan masuk.
Asap rokok yang Jongin hirup tersangkut di tenggorokannya. " apa maksudmu!? Si kaku itu menyukai ku?" katanya sambil terbatuk batuk.
"yeah. Tidak tahu juga. tapi mungkin iya." Kata Chanyeol sambil mengedikan kepalanya. Tidak lama seorang pekerja wanita menghampiri table mereka, menyiapkan game berikutnya sambil mengerling nakal kearah Chanyeol.
"berikan padaku." Jongin bangkit dari sofanya sambil meminta stick yang dipegang Jongdae. Si muka kotak sekarang duduk diatas sofa lalu mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Jongin bersiap melawan Chanyeol, dengan lihai ia mengasah ujung tongkatnya lalu meniupkan serbuk biru yang menggumpal di titik itu.
Si pemuda berkulit tan lalu menundukkan badannya, mengincar bola dengan tatapan mata tajam.
"aku membenci orang seperti dirinya!"
Traakkk
Dengan sekali hentakan, semua bola billiard berpencar.
.
.
.
Tidak jelas alasan kenapa Jongin membenci Sehun. Sebenarnya tidak bisa dikatakan dia membenci juga. Jongin hanya tidak suka. Sangat tidak suka orang orang kaya yang berkuasa seperti Sehun. Lucu memang. Jika dilihat lihat, temannya sendiri-Chanyeol-nyatanya berasal dari keluarga cukup berpengaruh disekolah. Keluarganya memiliki sebuah perusahaan di pusat kota yang sedang berkembang-memang tidak sebesar Oh Corporation. Tapi dasar otak Chanyeol yang tidak waras, alih alih menikmati hartanya yang berlimpah, ia lebih memilih untuk hidup bebas. Tinggal di apartemen kecil dekat sekolah. Mobil yang terparkir di bassement apartemennya pun jarang dia pakai. Chanyeol lebih suka naik motor ugal ugalan. Intinya, dia lebih menyukai orang mengenalnya sebagai Chanyeol. hanya Chanyeol
Bukan Park Chanyeol, putera dari pebisnis Park Siwon
Prang!
Suara bising menyambut Jongin yang baru pulang sekolah saat itu. Tepat jam delapan malam. Suara berisik TV yang tidak di tonton menambah ruwetnya keadan rumah yang berantakan. Makanan sisa makan malam tergeletak diatas meja. Piring kotor menumpuk di bak cuci piring. Serta cat yang mulai mengelupas serta sofa yang sudah reyot menambah kesan menyedihkan rumah pria bermarga Kim ini.
Jongin menoleh (atau tidak perlu, karena rumahnya terlalu kecil untuk bisa hanya sekedar mengedarkan pandangan) kearah suara bising yang tadi menusuk telingannya. Di depan TV kuno, sang ayah-atau yang biasa Jongin panggil dengan Kim sialan-sedang menonton TV dengan kaki menjulur. Wajahnya teler. Tidak jauh didekatnya terlihat pecahan botol bir. Ah.. ternyata dari situ suara tadi berasal.
"Jongin, kau sudah pulang? Mau ibu siapkan makanan?" seorang wanita muncul dari balik dapur dengan keadaan lusuh. Wajahnya lelah, rambut bergelombangnya diikat asal hingga beberapa helai anak rambut terlihat mencuat. Celemek yang ia pakai warnanya juga sudah pudar. Wangi ayam goreng tercium dari dapur. Jongin sudah terbiasa dengan harum itu karena sang ibu bekerja sebagai penjual makanan di kedai kecil depan perkantoran. Yeah, bisa dikatakan itu hanya salah satu dari banyaknya pekerjaan sampingan yang juga dia lakukan. Mengingat, tak hanya harus menafkahi Jongin, sang ibu harus menyokong hidup sang suami yang tak tahu diri.
"tidak usah." Jongin menjawab singkat sambil bersiap naik keatas, menuju kamarnya.
"tapi kau ba-"
"sudahlah, anak seperti dia untuk apa kau urusi!" Tuan Kim dengan sialnya celetuk tanpa dosa. Dia bahkan tidak repot repot untuk menoleh dan menatap lawan bicaranya. Rahang Jongin mengeras. Emosinya tersulut.
"bawakan aku bir lagi!" Nyonya Kim mengusap bahu Jongin lembut dan menggeleng pelan saat melihat emosi anaknya semakin jadi. Jongin menatap ibunya tidak percaya.
"kenapa kalian hanya berdiri disana!? cepat! Acara nya sudah mau mulai!"
Dengan dengusan nafas keras, Jongin mengambil bir kaleng dikulkas. Ia menghampiri ayahnya dengan langkah buas, lalu melempar kaleng itu asal keatas meja. Tuan Kim hanya mengibaskan tangannya, memberikan gesture agar Jongin menyingkir.
"untuk apa sih, ibu tetap menikah dengan binatang itu?!" Jongin bertanya tajam saat keduanya sudah berada di dapur sekarang. Sang ibu memutuskan untuk menyelesaikan tumpukan piring kotor. Stok piring mereka sudah habis jika piring ini tidak dicuci.
"jangan begitu. Dia tetaplah ayahmu, Jongin." Kata Nyonya Kim lemah.
"ayah? Orang yang kerjaannya hanya mabuk mabukan, tidak memberi nafkah. Bahkan memperlakukanmu seperti ini, masih ibu anggap sebagai ayahku?" nada Jongin meninggi.
"Jongin. I-"
"aku tidak percaya ini!" potongnya cepat cepat. Ia menggeleng saat sang ibu mencoba untuk kembali menjelaksan hal yang sama saja menjijikannya. Kenyataan bahwa Jongin menyandang marga Kim dari sang ayah.
Muak dengan ini, Jongin memutuskan untuk melangkah pergi dari rumah.
"Jongin!" Nyonya Kim segera mematikan air kerannya, mengelap tangan nya yang masih sedikit berbusa. Dia baru saja memutar tubuh untuk menghentikan Jongin saat anak itu sudah berada di pintu
"Jongin kau mau kemana?!"
"Fuck that!" Hanya suara pintu dibanting menutup yang kemudian terdengar bersamaan tubuh Jongin yang sudah menghilang keluar.
.
.
.
Jongin berjalan dengan langkah besar besar. Sementara tangan kanannya sibuk menempelkan ponsel ke telinga. Nada sambung tanpa sahutan mengalun di benda itu.
"sial! Kemana mereka!" Jongin mematikan panggilannya dan memasukan ponsel itu kedalam saku dengan gusar saat tidak ada satupun respon dari Chanyeol atau Jongdae. Untuk sekarang, biar lah ia menenangkan diri sendirian,
.
.
.
.
Jongin bisa saja pergi ke apartemen Chanyeol atau kerumah Jongdae. Tapi jarak tempat keduanya yang cukup jauh dari rumah Jongin-ditambah uang Jongin tidak cukup untuk menaik bus kesana-membuat ia lebih memilih untuk pergi ke supermarket terdekat.
Untung saja, uang receh disakunya masih cukup untuk membeli sekaleng bir. Dan untung lagi, rokok nya masih tersisa dua batang. Yeah, memang tidak cukup, namun lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
Jongin meminum birnya sambil sesekali menghembuskan asap rokok ke udara. Pria itu berjalan semakin menjauhi arah rumah. Membiarkan angin malam menerpa wajah dan membuyarkan asap yang keluar dari mulutnya. Jongin tidak perduli pandangan orang orang yang lewat saat mendapati seorang anak sekolahan tengah merokok sambil jalan. Persetan dengan itu! Jongin tidak perduli dengan persepsi orang lain.
Huh! urus saja hidupmu sendiri!
Omong omong soal Hidup. Mungkin itulah salah satu kenapa Jongin tidak menyukai orang kaya sombong yang menggunakan kekuasaannya untuk apapun. Jongin berdecih saat kenangan hidupnya terbersit.
Dari dulu hidup Jongin memang tidak bergelimang harta. Tapi juga tidak miskin dan mengenaskan seperti sekarang. Semua memburuk saat sang ayah mencoba mencari peruntungan dengan berbisnis yang kemudian gagal. Memiliki hutang yang menggunung, membuat Tuan Kim mengambil jalan pintas dengan berjudi. Tapi sial, pria itu payah sekali. Alih alih untung, kerugiannya semakin membengkak. Seluruh harta Jongin habis sudah. Dalam tujuh tahun terakhir, sang Ibu berusaha melunasi hutang hutang yang tersisa. Dan dalam tujuh tahun terakhir juga, Jongin hidup seperti ini.
Mungkin Jongin hanya iri? Dengki? Entahlah. Tapi jika perasaan itu memupuk selama bertahun tahun lamanya, rasanya sulit membedakan mana iri dan benci.
Jongin anti orang orang berkuasa yang menghalalkan segala cara atas uangnya. Orang orang sok suci yang menaikan dagu mereka. Sombong. Bertingkah layaknya konglomerat abadi dan bisa menindas siapapun. Orang orang yang sempurna.
Dan sialnya. Menurut Jongin, semua hal itu ada dalam diri seseorang : Sehun.
Bruk!
Sibuk dengan pikiran naas soal hidupnya, tanpa sadar, seorang pria menabrak Jongin hingga kaleng minumannya jatuh. Sial! Bahkan bir itu belum Jongin minum sampai setengahnya.
"YAK!"
"maaf. Maaf." Kata si pemuda itu terburu buru. Sosok nya yang memakai hoodie hitam dengan kepala tertutup membuat Jongin susah melihat wajahnya. Pria itu sekarang sibuk merogoh sakunya. Mencari dompet mungkin?
"aku ganti kerugianmu." Katanya, sambil menyerahkan berlembar lembar uang dari dalam dompet kulit mahal itu kepada Jongin. Raut wajah Jongin berubah menjadi dingin saat melihat wajah pria dihadapannya.
Oh Sehun, dengan hidung berdarah
.
.
.
.
TBC
A/N
Hehe. aku lagi ada feel untuk update ini dan pengen tahu aja sih, respon kalian. Kalau memang kalian suka, aku bakal lanjutin. Kalo engga aku juga lanjutin (tapi nanti. Aku hiatusin dulu hehe)
Terima kasih sudah sempetin baca. Aku mencoba angkat tema baru yang kalian mungkin ga sadar (nanti sambil berjalannya cerita pasti tau hoho)
Aku tunggu reviewnya
Gomawo
moza :*
