THE 3F-TEAM : Abandoned City

.

.

.

Naruto's Belong To Masashi Kishimoto

.

.

.

SEPARATED WAYS

02.30

Di dalam ruangan, hampir semuanya tertidur karena lelah. Kecuali Sasuke, Sai, dan Naruto. Mereka bertiga memilih untuk berjaga-jaga. Meskipun ruangan ini dirasa cukup aman, tetap saja mereka harus waspada.

Sementara yang lain tertidur di tengah ruangan, Naruto duduk di dekat lorong tempat mereka masuk tadi, sedangkan Sai berada di lorong lainnya. Selain lorong tempat mereka masuk tadi masih ada dua lorong yang terlihat sama, terpisah dalam 3 arah tanpa diketahui kemana arahnya.

Sasuke tidak menjaga lorong satunya lagi, Ia justru menyusuri ruangan tersebut.

'Ruangan ini cukup besar' pikir Sasuke, ruangan tersebut berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 20 meter. 'Semua barang disini terbuat dari besi dan sudah berkarat, namun kenapa semua nampak rapi dan tersusun?'

Sasuke menuju sebuah meja yang terletak di sudut ruangan. Terlihat seperti sebuah meja kerja.

Dia mencoba membuka laci meja tersebut.

'Sial, terkunci?!'

Sasuke memikirkan sebuah cara untuk membuka laci tersebut. "Hei, Dobe." Dia memanggil Naruto yang sedang bersandar di dinding tempatnya berada, "Kemarilah."

Naruto yang merasa ada hal penting, langsung berdiri dan menghampiri Sasuke.

"Ada apa?" Tanya Naruto setelah tiba di tempat Sasuke.

Sasuke tampak memperhatikan sekitar, lalu kembali fokus pada Naruto. "Apa pistol mu masih memiliki peluru?"

Mendengar pertanyaan Sasuke, Naruto sedikit mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa?"

"Ku anggap pertanyaan mu sebagai jawaban masih." Simpul Sasuke.

"Tch. Ya ya, aku masih memiliki peluru." Gerutu Naruto. "Masih tersisa 2 peluru pada slot di pistol ku. Kenapa?"

Sasuke mengutarakan maksudnya, "Aku memerlukannya, satu saja sudah cukup."

Naruto pun mengeluarkan pistolnya dan memberikannya ke Sasuke. "Untuk apa kau memerlukannya disini?"

Sasuke mengalihkan pandangannya pada laci yang terkunci tadi, "Aku ingin membuka laci ini."

Dia mulai mengarahkan pistolnya pada laci yang tak berdosa itu, "Apapun itu, aku rasa ada sesuatu di dalamnya yang sangat penting."

Sasuke bersiap menarik pelatuknya, sebelum Naruto menahan tangannya.

"Jika kau ingin menembak disini, setidaknya gunakan ini." Kata Naruto sambil memberikan sebuah peredam pada Sasuke. "Apa kau lupa yang lain sedang istirahat?"

"Tch, aku mengerti." Sasuke pun memasang peredamnya pada pistol Naruto, dan langsung menembak kunci laci tersebut.

-Dor!-

-Ceklek-

Laci tersebut pun terbuka setelah menerima tembakan dari Sasuke.

"Ku harap kau tidak membuang peluru ku untuk hal sia-sia." Ejek Naruto.

.

.

.

Sementara di tempat yang lain istirahat, Karin tampak berbaring memejamkan mata. Tapi dia tidak bisa tidur.

'Sial. Apa benar yang kupikirkan?' Sambil memejamkan mata, dia terus memikirkan sesuatu. Sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Tak tahan dengan apa yang ia pikirkan, akhirnya Karin membuka matanya. 'Aku akan memberi tahu Sasuke dan Naruto.'

Dia pun berdiri, melihat sekitar, dan berjalan menghampiri dua orang yang dicarinya. "Kebetulan sekali kalian sedang berduaan."

Dua orang yang dimaksud langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.

"Hm? Karin. Ada ap-Hei, kami tidak berduaan." Naruto tau maksud Karin menyebutnya berduaan.

Sementara Sasuke menanggapinya santai, "Ada apa?"

"Huh, ada yang harus aku bicarakan dengan kalian berdua." Kata Karin pelan. Melihat sekitarnya, "Saat yang tepat, hanya dengan kalian berdua."

Naruto dan Sasuke saling pandang, lalu kembali menatap Karin, "Silahkan."

Karin memulai ceritanya, "Kalian tau?"

"Tidak." Balas Naruto cepat.

"Tch, jangan memotong kata-kata ku!" Bentak Karin.

"Sudah lah, jangan buang-buang waktu. Kau bisa membangunkan yang lain." Kata Sasuke.

Karin menghela nafas. "Baiklah. Begini.."

"Saat menuruni tangga, aku terus memperhatikan sekitar. Ada hal aneh yang aku sadari."

"Kenapa?" Tanya Naruto.

Karin menatap Sasuke, "Kau masih ingat kan berapa banyak makhluk yang kau tembaki di tangga itu? Mereka semua tertembak tepat di kepala."

"Ya, tembakan ku tidak ada yang meleset." Ingat Sasuke.

"Kalau begitu, seharusnya mereka sudah mati. Tapi anehnya, aku tidak menemukan jasad mereka saat menuruni tangga. Apa kau tidak menyadarinya, Sasuke?"

Mereka berdua tercekat mendengar pernyataan Karin, "Apa maksudmu? Aku terus memperhatikan jalan agar kalian tidak terjatuh."

Karin menunduk, memejamkan mata. "Sudah kuduga."

Dia kembali membuka matanya, menatap dua rekan di hadapannya. "Makhluk itu kebal terhadap tembakan. Karena yang ku lihat sebelum masuk ke bunker ini, mereka adalah makhluk yang sama dengan yang di tangga."

Naruto kembali dibuat bingung, "Apa maksud mu mereka makhluk abadi?"

"Bukan," Sambar Sasuke, sudah menarik kesimpulan. "Mereka memang sudah mati dari awal, dengan kata lain.."

"Zombie?"

.

.

.

THE 3F-TEAM

.

.

.

02.40

Sai terus bersandar di tembok, mengistirahatkan tubuhnya sambil tetap berjaga. Ia melihat ke arah Sasuke, Naruto, dan Karin berada.

'Apa yang mereka lakukan?' Pikir Sai melihat ketiganya, 'Tidak, apa yang mereka rencanakan?'

Sai masih terus memikirkan tentang siapa ketujuh remaja yang bersamanya, bersama kelompoknya.

Tentu, dia bersyukur bisa bertemu dengan remaja-remaja itu. Karena dia tidak menduga bahwa semuanya akan menjadi seperti ini, tidak seperti rencana awalnya yang hanya ingin melihat kota mati ini.

Tapi dilain sisi, Sai tetap curiga terhadap kelompok 3F-Team. 'Bagaimana bisa? Cara berpikir mereka, kemampuannya, serta semua perlengkapan yang mereka miliki. Apa mereka sudah merencanakan semua ini? Apa mereka sengaja ke kota ini untuk mencari sesuatu?'

Sai memutuskan untuk menghampiri mereka bertiga.

.

.

"Jadi ini alasannya kau tetap menyimpannya, dan hanya membicarakan kepada kami."

"Kau benar, Naruto." Karin melihat yang lainnya, "Aku pikir mereka lebih baik tidak menyadarinya."

"Mereka bisa tambah panik jika mengetahui, bahwa makhluk yang kita hadapi tadi adalah Zombie." Tambah Sasuke.

"Zombie?!" Terdengar suara lain di belakang mereka bertiga. Membuat ketiganya menoleh ke arah suara tersebut.

"Jadi makhkuk itu-"

"Ssst." Karin memberi isyarat agar Sai diam. "Jaga suara mu. Sudah kubilang kita harus menjaga agar yang lain tetap tenang."

Sai diam, kembali bertanya. "Jadi masih ada kemungkinan, bahwa semua makhluk yang kita temui sebelum datang ke sini, masih menunggu di luar?"

Tunggu, Sai benar. Mereka bertiga tidak memikirkan kemungkinan tersebut. Jika memang begitu, lalu bagaimana caranya mereka keluar?

"Itu artinya kita harus mencari jalan keluar lain." Simpul Naruto, menatap dua lorong di sisi lain ruangan, "Tapi yang mana?"

Mereka berpikir, mencari cara untuk menemukan jalan keluar. Tidak ada yang tau apa isi dari masing-masing lorong tersebut. 'Berpencar?' "Bagaimana jika kita berpencar? Kita bisa pergi ke masing-masing lorong itu berdua."

Tiga orang lainnya menatap pemilik ide tersebut.

"Sai benar, kita berempat bisa berpencar sekarang sebelum yang lain bangun."

"Tidak." Sasuke menolak ide Sai dan Karin. Kemudian menatap Naruto, "Biar kami berdua yang menyusuri lorong itu."

Karin dan Sai tercekat mendengar Sasuke, "Apa kau gila? Kita tidak tau apa isi lorong itu. Bagaimana jika-"

"Teme benar." Potong Naruto, paham akan kekhawatiran Karin. "Biar kami berdua saja, kami membawa pistol masing-masing. Sementara kalian berdua diam disini, harus ada yang berjaga disini."

Semua tampak diam, apa yang dikatakan Naruto ada benarnya. Kalau mereka berempat pergi, maka tidak ada yang menjaga sementara yang lain tidur. Jika ada yang bangun dan menyadari bahwa mereka berempat tidak ada, akan terjadi kepanikan.

Akhirnya Karin setuju membiarkan Naruto dan Sasuke yang mencari jalan. "Baiklah, aku dan Sai akan menunggu disini."

Sai mengangguk tanda setuju.

"Begini, aku akan pergi ke sebelah kanan. Sedangkan Dobe, kau pergi ke sebelah kiri." Jelas Sasuke, "Kita kembali dalam 30 menit. Yang menemukan jalan keluar, langsung kembali, dalan jika bertemu bahaya, maka segera kembali, jangan menghadapi sendirian."

"Kita gunakan Night Vision, kurasa akan lebih baik jika bergerak dalam gelap." Tambah Sasuke

Naruto mengerti, mereka mulai berjalan ke arah lorong yang dituju masing-masing.

"Tunggu, bagaimana kalau kalian tidak kembali dalam 30 menit? Atau salah satu dari kalian yang tidak kembali?"

"Tenang, Sai. Mereka masih membawa alat komunikasi." Jawab Karin, "Lagi pula mereka pasti bisa menghadapi keadaan apapun."

.

.

.

THE 3F-TEAM

.

.

.

03.00

Naruto memasang night visionnya saat mulai memasuki lorong. Dalam kegelapan, ia tak terlihat, namun masih bisa melihat. Itu lah yang selalu ada di pikiran anggota 3F-Team. Kondisi gelap bukan masalah selama mereka yang masih bisa melihat.

Terus berjalan menyusuri lorong tersebut, suara langkah kakinya menggema.

'Aku harus memelankan suara langkahku, disini terlalu sunyi'

Dalam penglihatannya, lorong tersebut lurus sepanjang 200 meter hingga ada belokan ke kiri. Naruto tiba di belokan tersebut. Menyusuri lorong yang sangat panjang, hingga bertemu belokan ke kanan.

Setelah melaluinya, dia menemukan sebuah pintu di sebelah kanan lorong. 'Pintu apa ini?'

Naruto memegang gagang pintu tersebut, mencoba membukanya.

'Tidak dikunci.'

Dia memutuskan untuk melihat ruangan di balik pintu itu sebelum melanjutkan menyusuri lorong.

Naruto membuka pintu secara perlahan, dia menempatkan dirinya di dekat tembok untuk menghindari jika sesuatu muncul saat pintu itu dibuka.

Saat pintu sudah terbuka sepenuhnya dan dirasa kondisi cukup aman, Naruto masuk ke dalam ruangan secara perlahan. Memperhatikan apa yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Ruangan apa ini?" Gumam Naruto begitu memasuki ruangan tersebut. Terdapat banyak sekali loker yang tersusun rapi memenuhi ruangan itu.

Naruto terus berjalan, hingga diujung ruangan dia menemukan pintu lagi. Sebuah pintu besi, sama seperti sebelumnya. Dengan lubang yang bisa dibuka tutup terletak setinggi mata, seperti pintu penjara.

Menghampiri pintu tersebut, dia mencoba membukanya lagi.

'Ah, dikunci?' Ternyata pintu tersebut dalam keadaan terkunci. Naruto mencoba melihat melalui lubang yang ada pada pintu.

'Ha? Itu semua?!'

Naruto dibuat kaget melihat apa yang ada di dalam ruangan tersebut. 'Aku harus membuka pintu ini!'

Dia mengeluarkan pistol miliknya, dengan sangat yakin menembakkan satu peluru yang tersisa untuk membuka pintu tersebut.

-Dor!-

.

.

.

THE 3F-TEAM

.

.

.

Sudah beberapa menit Sasuke menyusuri lorong, melalui beberapa belokan, lorong yang panjang, hingga belokan lagi. Tak ada tanda atau apapun yang ditemukannya sepanjang jalan.

'Tch. Tidak ada apa-apa disini.' Gerutu Sasuke merasa jenuh karena tidak kunjung menemukan sedikit pun tanda adanya pintu keluar.

Sasuke terus berjalan, bertemu belokan lagi, dan lorong yang panjang lagi. Hingga di ujung lorong kali ini, dia menemukan dua buah belokan.

'Hm? Aku harus memilih yang mana? Kanan atau kiri..' Pikir Sasuke memperhatikan kedua arah, hati-hati dalam memilih kemana Ia harus meneruskan. Tidak ada tanda apapun yang membantunya menentukan pilihan.

Sasuke maju beberapa langkah, berdiri di tengah percabangan lorong tersebut. Ia melihat ke lorong sebelah kanan, lalu ke kiri-

'Ah!' Sasuke kaget begitu melihat ke arah kiri. 'Sial, di tempat seperti ini?!'

Di hadapannya, melalui night visionnya, ia melihat ada sosok yang berdiri di ujung lorong. Sosok dengan dua kaki, mata merah, dan tubuh penuh luka.

'Makhluk itu, kenapa ada disini?!' Jauh dihadapannya, ada makhluk seperti yang ditemui di luar. Zombie itu.

Yang menjadi masalah, tidak hanya ada satu, tapi banyak. Sedangkan senjatanya hanya tersisa satu peluru. 'Tch, sial. Bagaimana ini? Aku akan mencoba lorong yang satu lagi-'

Sasuke kembali tercekat melihat apa yang ada di lorong lain, pemandangan yang sama.

Mengambil satu keputusan, bahwa dia harus segera pergi dari tempat ini secara diam-diam tanpa disadari oleh makhluk-makhluk itu.

Sasuke menurunkan perlahan tinggi badannya, merunduk. Lalu berjalan sepelan mungkin ke arah lorong sebelumnya.

'Aku harus pergi tanpa suara. Mereka pasti peka terhadap suara di dalam kegelapan.'

-Sriiing- -Twiiit-

"Sasuke, Naruto, ini udah lebih dari 30 menit. Ada apa dengan kalian?"

'Sial. Terima kasih Karin.'

Sasuke pun segera lari dari tempat itu, karena jelas saja suara walkie talkienya menarik perhatian makhlik-makhluk itu. Terdengar suara geraman dan langkah kaki dari tempatnya tadi.

Sasuke segera mengeluarkan pistolnya dan menekan tombol bicara pada walkie talkie miliknya.

.

.

.

THE 3F-TEAM

.

.

.

To Be Continued

Mohon maaf sebelumnya karena fict ini sempat terlantarkan selama puluhan tahun TT-TT ..Tapi sekarang mau dilanjutin kok, ceritanya lagi free dari sekolah hehehe XD ...Jadi rencana selanjutnya, fict ini akan update setiap minggu. Hari minggu kali ya? Minta saran reader dong.

Fict ini banyak yang saya ubah bagiannya, ada yang typo mulu, ada yang kependekan, ada yang kelewat gaje, lagi dibenerin terus. Dan bagi reader yang udah baca dari lama pasti sadar ada chara yang diganti.. Soalnya.. Ehm.. Terkait rencana saya buat kedepannya jadi mau ga mau ya mau aja(?) ganti charanya XD

Semoga readers sekalian masih berminat membaca dan memberi review untuk perkembangan cerita yah.

Dan untuk yang udah kasih review, ini dilanjut kok fictnya.

Don't forget. RnR.