oh sehun/kim jongin; multichaptered; pg-13; 1896 words
"Bisakah Anda menggantikan diksi pada halaman 27; paragraf keempat hingga enam. Itu terkesan seperti mengarang buku anak-anak." Jongin mengatur perlahan deru nafasnya, terkadang ia mudah terpancing emosi jika bawahannya tidak becus atau tidak bekerja sesuai kriteria yang sudah ia jelaskan sebelumnya. "Kita ini sedang membicarakan perjalanan karir singkat model ini, bukan dongeng. Diksi harus lebih elegan, atau setidaknya tidak kekanakan sepert ini. Mengerti?" Tegasnya sekali lagi. "Saya tunggu revisi terbaru pukul 4 sore nanti." Dengan itu Jongin memutuskan hubungan sepihak tanpa menunggu jawaban bawahannya, mereka sudah biasa dengan sikap Kim Jongin.
.
Kim Jongin, pemuda berusia 23 tahun, bekerja sebagai supervisor editor majalah Vogue Korea. Hingga saat ini, ia termasuk yang paling muda menduduki jabatannya di majalah khusus model ternama itu. Selain dengan paras yang memikat, kinerjanya dalam bidang yang ia geluti banyak mendapat pujian, bahkan ada desas-desus mengatakan bahwa Kim Jongin adalah anak emas Anna Wintour. Namun, Kim Jongin menggubris dengan sopan bahwa rumor itu tidak benar.
Walaupun demikian, dengan sikap santun dan ketegasannya dalam bekerja, tidak seorang pun tidak terpikat dan terkagum-kagum pada seorang Kim Jongin. Para senior selalu mengelu-elukan bahwa mereka bangga memiliki Kim Jongin, ah tidak, Vogue merasa bangga memiliki seorang Kim Jongin.
Sempat sekali waktu, fotografer senior majalah itu berkata: sayang Kim Jongin sebenarnya mampu menjadi seorang model profesional, dengan tampang rupawan, kaki jenjangnya, dan cara pembawaan diri yang elegan; para perancang busana, agensi model pasti akan menghampirinya.
Kim Jongin tetaplah Kim Jongin, anak santun dan mudah tersipu jika dipuji demikian, ia mengatakan tidak, ia tidak cocok menjadi seorang model, ia lebih memilih menjadi seorang editor; bekerja di balik meja dan berkutat dengan komputer.
.
"Istirahatlah sejenak. Ibu sudah bawakanmu sarapan."
Suara lembut ibu membuatnya sedikit melompat dari kursinya. Ia menyentuh dadanya, deruan jantung begitu kencang. Kim Jongin begitu mudah untuk dikejutkan.
Jongin melirik nampan yang terisi beberapa porsi sarapan dan segelas susu. "Aku melewatkan sarapan? Maaf, Ibu."
Ibu memberi senyuman kecil. "Terkadang ibu tidak rela membiarkanmu tinggal sendiri, memikirkan kau lebih teledor daripada kakek dalam mengingat makan tepat waktu," nada candaan itu terdengar tegas.
Jongin tidak berani melihat langsung pada ibunya, rasa bersalah menghampiri hatinya. Memang benar, terkadang jika terlalu terlena pada pekerjaannya, Jongin akan lupa mengatur waktu untuk makan, bahkan terkadang tidur. Oh Tuhan, orang-orang pasti tidak akan menyangka Kim Jongin permuda workaholic ini sebenarnya seekor beruang yang selalu berhibernasi di segala musim. Hanya saja perkerjaan di atas segalanya; termasuk di atas dirinya.
(Itulah sebabnya, setiap hari ibu selalu menelpon mengingatkan dirinya agar lekas makan atau beristirahat. Pasalnya, alarm bahkan ia tidak gubris, hanya tuturan sang ibu yang mampu menaklukkan sisi keras kepalanya.)
"Kenapa hanya ditatap? Ayo, makan. Nanti keburu dingin, hmm?"
Dengan ucapan itu Jongin mulai menyantap sarapannya. Ia sudah menutup komputer jenjangnya, mengingat ibu tidak suka melihat orang makan sambil melakukan aktivitas lain. Akan berpengaruh pada pencernaan, begitu kata ibu.
Pada suapan kelima, Jongin mulai tersadar ibunya masih berada di sampingnya, duduk dengan tenang di atas tempat tidur sambil membaca sebuah majalah koleksi pribadinya. (Hanya majalah Vogue, ia pegawai setia.)
"Ibu?" Panggil Jongin.
Mata yang selalu dikatankan begitu mirip dengannya tidak memalingkan padangannya dari halaman majalah itu. "Hmm?" Gumaman kecil adalah jawabnya.
"Kenapa ibu masih di sini?" Tanyanya sedikit sangsi.
Ibu kini melihatnya, ia memberi tatapan yang begitu Jongin ingat. Tatapan yang selalu ia berikan saat Jongin kecil dulu. Tatapan lembut itu tidak berubah, walau keriput kini menghias kelopak mata itu. "Bukankah Jongin berjanji akan berbicara dengan ibu semalam?"
Jongin kembali terdiam. Ada kalanya ia merasa malas dengan sikap optimis dan terkadang menuntut yang dimiliki ibunya, tentu gen itu menurun pula pada dirinya. "Tapi aku sedang sarapan. Ibu tunggu di luar saja, setelah ini Jongin akan mengajak ibu bicara." Baik Kim Jongin mulai merengek dan merajuk, senjata jitu yang selalu mutlak mengalahkan keluarganya. Saat dalam lingkaran keluarga atau orang terdekat, Kim Jongin itu anak perajuk dan manja, ia tetap menyalahkan posisinya sebagai anak bungsu, jadi jangan salahkan jika ia bersikap kekanakan.
"Jonginie."
"Ibu." Beo Jongin tidak mau kalah.
Kim Jongin benar-benar anak seorang Jeon Solbi.
Jongin melihat sang ibu menghela nafas singkat. Wanita itu meletakkan majalah yang sempat ia baca rapi ke posisi mula. "Baik, baik. Ibu akan tunggu di ruang keluarga. Cepat habiskan sarapanmu." Dengan kecupan pada keningnya, ibu keluar dan menghilang dari balik pintu.
Jongin menatap sisa sarapannya dengan tatapan lelah. Ia kehilangan selera makan, mungkin karena topik yang akan dibicarakan dengan sang ibu. Pernikahan.
Jongin mengerucutkan bibirnya, ia belum ingin menikah. Bagaimana mau menikah? Status melajang masih tertera semenjak ia menyudahi hubungan dengan kekasihnya 5 tahun lalu. Benar, Kim Jongin belum sempat menjalin hubungan dengan siapapun sejak bangku menengah atas.
Jongin turun menuju ruang keluarga dengan berat hati. Ia benar-benar ingin menghindari topik pembicaraan ini atau setidaknya membuat sang ibu melupakan topik itu. Tentu saja, segala cara yang terencana tidak akan berhasil, yang ia akan tipu dan hadapi adalah Jeon Solbi, ibu rumah tangga yang begitu keras kepala (dan sangat ia kasihi).
Tatapan berbinar begitu terpancar di mata sang ibu, bahkan Jongin yakin batu pertama termahal saat ini akan terkesan tak berharga jika bersanding dengan tatapan mata itu. Untuk hari ini, Jongin tidak suka tatapan itu. "Kemarihlah, Jongin," ajak ibu sambil menepuk kursi di sampingnya.
Jongin dengan langkah perlahan menghampiri ibunya dan duduk dengan segera.
Tangan ibu mengganggam miliknya dan menarik untuk diletakkan di atas pangkuan sang ibu. Tatapan berbinar itu tidak pudar. Ini seperti Déja Vu tadi malam, posisi duduk yang sama; di mana kedua tangannya berada dalam genggaman sang ibu, tatapan berbinar di mata ibu, dan sebuah ucapan yang membuat Jongin kabur menuju kamarnya: "Jongin kecilku, apa pendapatmu mengenai pernikahan?"
Kali ini Jongin tidak beranjak kabur dari kursinya. Ia hanya diam menatap sang ibu. "Membangun sebuah keluarga," jawabnya dengan suara kecil, seakan ia dihakimi jika memberi jawaban salah. Jongin menelan ludahnya dan lanjut berkata, "Jika ibu ingin aku menikah, aku belum memiliki pasangan. Jadi, tunggu beberapa waktu lagi, mungkin aku akan membawakan ibu seorang menantu." Ini terkesan mengada-ada, tapi itu sebuah janji.
Ibu semakin tersenyum lebar, tawaan geli mengirinya. "Bagaimana jika ibu yang membawakanmu pendamping hidup?"
Jongin tertegun. Apa?
"Ibu dan ayah sudah menemukan pendamping yang pantas untuk putra kecil kami ini." Bangga, itulah kata yang tetap mendeskripsikan nada anaforis ucapan wanita ini.
"Ibu?" Jongin tidak bisa berkata apapun, ia kehabisan kata untuk menimpali ucapan sang ibu. Ini tidak ada dalam ekspektasinya semalam. Pertunangan? Oh, ayolah! Ini sudah jaman melania, perjodohan sudah tertelan jaman.
Jongin mengerjapkan matanya perlahan, merasa heran menyadari di atas telapak tangannya kini sudah ada tiga lembar foto seorang pemuda. Ia memicingkan matanya, ia tidak mengenal siapa orang itu.
"Namanya Oh Sehun."
Oh Sehun, beonya dalam hati. Jongin menatap penuh tanya pada sang ibu.
"Dialah calon pendamping hidupmu, Jongin."
Jongin kembali menatap foto pemuda itu, ada perasaan aneh di dalam dirinya begitu menatap; mempelajari setiap lekuk wajah dan tubuh pemuda itu. Entah mengapa Jongin tidak merasa kaget atau adanya rasa penolakan, atau rasa gundah yang ia rasakan begitu mendengar ia akan ditunangkan. Semua itu sirna, hanya tersisa perasaan aneh yang menggelitik hatinya. Apa mungkin ia terbuai dengan pemuda yang ia akui begitu memikat, walaupun tak ada senyuman yang tertangkap dari pemuda itu?
Oh Sehun, ia begitu terlihat misterius; tanpa senyuman dan terkesan susah untuk didekati.
"Jadi bagaimana? Pemuda ini begitu menawan, bukan? Ia begitu ramah dan santun, saat ibu dan ayah berkunjung ke rumah keluarganya kemarin," jelas ibu.
Jongin kembali terdiam, ia mengerti sekarang. Kedua orang tuanya mengujungi rumah pemuda ini dan berbicara mengenai pertunangan mereka. Jongin merasa risih, ia salah satu peran utama dalam hal ini, namun tidak dilibatkan dari awal sesi.
"Bagaimana jika aku menolak pertunangan ini?" Tanya Jongin tanpa basa-basi.
"Itu tidak akan terjadi karena Jongin adalah anak ibu," jawab ibu lugas.
Benar, Kim Jongin adalah anak Jeon Solbi. Jongin adalah anak ibu. Walaupun memiliki sifat keras kepala dan manja, Jongin adalah anak yang penurut dan santun, ia tidak mungkin menolak ajakkan orang tuanya, selama itu dalam batas kesabaran dan nalarnya.
"Lagipula, kau tidak akan menolak pertunangan ini karena ibu tahu, hanya menatap 3 foto itu saja sudah membuat dirimu terpikat," gurau ibu dengan senyuman usil.
Jongin hanya memalingkan wajahnya, agar ibunya tidak melihat rona merah kedua pipinya. "Aku terus menatap karena aku berpikir dia bisa menjadi seorang model dengan bakat natural," gerutunya..
Tidak bisa dipungkiri hanya tatap sekilas sudah dapat menyimpulkan Oh Sehun memiliki kabat menjadi seorang model. Tidak perlu menjadi seorang kritisus profesional, orang awan akan mengakui bagaimana Oh Sehun ditangkap kamera lensa hingga menghasilkan karya natural, walaupun terlihat jelas foto itu diambil dengan sengaja.
Dan itu bukanlah sebuah dusta, jika rasa tertarik dalam Kim Jongin mulai tumbuh. Hanya secercah kecil.
"Jika Kim Jongin seorang editor majalah bisa berkata demikian mengenai Oh Sehun, bagaimana dengan Kim Jongin yang merupakan tunangan Oh Sehun?" Goda ibu semakin menjadi-jadi. Berapapun usia Jongin, ibu tetap akan menggodanya, terutama menganai kehidupan percintaanya.
"Aku belum mengiyakan pertunangan ini, ibu," tutur Jongin kesal. Ia menarik tangannya dan melipatkannya di depan dada.
"Pasti Sehun akan sedih mendengar ini, anak itu sudah menerima pertunangan ini," ibu berhenti sejenak. "Apa kau tahu? Pemuda itu mengatakan iya setelah melihat beberapa fotomu. Senyuman lembut terlukis dibibirnya. Hah, jika ibu masih muda mungkin ibu akan jatuh hati padanya," ucap ibu sambil berkhayal tidak-tidak. Sama seperti setiap kali sang ibu menonton drama picisan dengan tokoh pria muda, mudah terpesona dengan pria muda.
Jongin mengerjapkan matanya, perkataan sang ibu baru selesai ia cerna. "Oh Sehun menerima pertunangan ini?" Tidakkah itu terkesan cepat? Tidak terucap secara verbal.
"Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin," jawab ibu santai. "Bagaimana tidak, ia akan bertunangan dengan putra bungsuku yang paling menawan sejagat raya. Pria mana tidak jatuh hati padamu, hmm?"
Jongin memutar bola matanya, malu mendengar ucapan itu yang sangat hiperbolis. Jika dibandingkan dengan Oh Sehun, tentu dirinya kalah saing. Bagaimana pun juga, pemuda ini tidak memiliki cela yang tak terhindar orang-orang untuk menyebut rupa dan tubuh itu sempurna.
"Sehun juga menatap fotomu seperti yang kau lakukan sekarang pada foto anak itu." Suara ibu membuyarkan lamunanya, sontak Jongin dibuat kaget dan malu ketahuan menatap lekat setiap lembaran foto itu. Jika sudah ketahuan begini, Jongin terang-terangan menatap kembali foto tersebut. Salahkan Oh Sehun yang terlihat begitu memikat; pemuda itu hanya memakai celana trek dan jaket dengan warna yang mulai pudar. Natural.
"Jadi bagaimana, Jongin kecilku?" Tanya ibu dengan penuh harap.
Jongin terdiam sejenak, beberapa detik kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku menerima pertunangan ini, Ibu." Dan ia memiliki perasaan baik tentang ini, untuk sementara waktu.
Tanpa aba-aba sang ibu menariknya dalam dekatan erat dan membanjirinya dengan kecupan dan bisikan 'anak ibu; ibu bangga, jongin kecilku'.
"Tapi ibu," ibunya berdeham halus, Jongin melanjutkan, "jika ini tidak berjalan lancar, ibu tidak keberatan 'kan aku memberhentikan pertunangan ini?"
Ibu meregangkan pelukan mereka, menatap dirinya dengan mata membesar. Sebuah senyuman lebar menghiasi bibir yang tak teroleh lipstick hari ini. "Kalian ini benar-benar berjodoh. Kemarin Sehun berututur hal yang serupa; menyudahi pertunangan jika tidak berjalan mulus."
Terdiam dalam rangkulan ibu, Jongin tidak tahu harus merasakan apa atas informasi itu.
Malam itu Jongin mendapatkan sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
...
Selamat malam, Kim Jongin.
Ibumu memberitahukanku bahwa kau menerima pertunangan ini. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan semoga semua ini berjalan dengan lancar karena aku mengharapkan itu.
Mimpi indah, Jongin.
Oh Sehun.
...
Jongin menggigit bibir bawahnya, matanya masih lekat menatap layar ponselnya yang kini redup menampakkan pantulan ekspresi wajahnya. Apa ini disebut cinta pada pandangan pertama? Oh Tuhan, bahkan ia belum bertemu langsung dengan pemuda itu. Bagaimana ini? Hatinya mulai terjatuh.
.
.
1. Bahasa Indonesia is quite popular these days. I kid you not, all my classmates are from around the world, well mostly from East Asia because Bahasa Indonesia is kinda of 'a-must-learn' language now. Kebetulan saya ini fan sastrawan Ayu Utami, beliau menginspirasi saya untuk menulis, her books are gold.
2. Do not worry, i love bottom!jongin :)
3. Anyone is still interested in this one? We will go in slow tempo with this story (my capability of writing in Bahasa Indonesia is the cause, please be more understanding), thank you :)
4. Thank you so much for your follow/faves/review, i absolutely appreciate you and these lovely things. I am sorry i cannot write down one by one your ids right now, planning doing so on the very last chapter.
5. See you on next chapter.
