park chanyeol/xi luhan; multichapters; 5316 words.
warning: anonymous sex.
I don't know much about Instagram since I never use it let alone have an account, so pardon me if this is a failure attempt of Instagram reference. I know Chanyeol has an official account but in this story I made up his account, I respect his privacy.
Sebulan ini sibuk dengan penelitian jadi update untuk seri ini sangat lambat, not that I am going to abandon this, nope, never. And I'm sorry I did some typos on last chapter, and mentioned Morfologi as Mofologi. Duh. Cerita ini masih menggunakan licentia puitica dan akan terus digunakan.
I did say this was slow burn; I wanted to write smut, Luhan being a slutty whore that he was. Chanlu happens.
"Luhæn!"
Luhan memijat pangkal hidungnya ketika indera pendengarannya menangkap suara yang begitu familiar, suara tinggi namun serak; bagi kebanyakan orang, suara ini bagaikan malaikat yang bernyayi di malam kudus dan Luhan mengakui hal itu namun ia lebih memilih juniornya itu untuk tutup mulut, terima kasih.
"My baby Luhæn!" Tuhan, juniornya yang satu ini selalu membuatnya menua lebih awal.
"Bukankah ini masih jam kerja, Baekhyunah?" Tanya Luhan malas begitu sadar juniornya kini sudah duduk di kursi tamu dengan senyuman lebar. "Setidaknya panggil aku 'Hyung', jika kau enggan menyebut jabatanku," lanjutnya yang hanya mendapat balasan anggukan kecil. Tentu saja Byun Baekhyun menghiraukan semua itu.
"Putramu adalah seorang bintang pendatang baru!" seru Baekhyun dengan senyuman semakin melebar, terdengar kata bangga dari suaranya. Namun pembicaraan ini sangat di luar topik.
"Terima kasih," jawab Luhan lugas.
Baekhyun memicingkan matanya, mungkin kesal dengan reaksi datar darinya. "Kau tidak mengecek Instagrammu?"
Kata terakhir itu menarik perhatiaannya. Intagram, Luhan lupa meng-google hal itu. "Ada apa dengan Instagram?" Tanya Luhan mulai penasaran. Baekhyun kembali memicingkan matanya dengan tatapan seolah Luhan berasal dari jaman purba kala. "Oh, for God's sake. Berhenti menatapku seperti itu!"
"Sebagai manager pemasaran kau benar-benar kurang update," cibir Baekhyun.
"Maafkan pak tua ini yang tidak mengikuti perkembangan jaman, Baekhyunah," balas Luhan tidak mau kalah. "Jadi, kembali ke poin; ada apa dengan Instagram?"
Bukan balasan verbal yang ia terima namun Byun Baekhyun menyodorkan ponselnya ke hadapan Luhan. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah foto digital, foto putranya dan pemuda yang temui seminggu lalu, Park Chanyeol. Tentu saja ia tak lupa akan hal itu. Luhan tersenyum lembut melihat senyuman khas balita dari Jongin; gigi mungilnya terlihat jelas, sepasang mata bulat yang banyak orang katanya begitu mirip dengannya, di pipinya penuh dengan saus pasta. Ekspresi Park Chanyeol berefleksi espresi anaknya.
"Hyung, coba baca caption foto itu," suruh Baekhyun memecahkan pikirannya. Luhan sempat kebingungan sebelum ia menemukan 'caption' yang dimaksud.
Meet this cute little guy pastopasta. Aren't we cute? ;)
This makes his heart sing. Park Chanyeol menyebut anaknya 'cute little guy', pujian tentang anaknya selalu membuat hatinya dipenuhi pelangi bunga, dan unicorn. "Itu foto yang bagus." Luhan mengkerutkan keningnya begitu melihat ekspresi heboh juniornya.
"Jongin berfotoan dengan Park Chanyeol hanya itu tanggapanmu?" tanya Baekhyun tak percaya. Ia merampas ponselnya kembali sambil menunjuk foto pada sisi Park Chanyeol. Ini membuat Luhan bingung. "Dan Hyung, kau jahat sekali tidak memberi tahuku sempat bertemu dengan Park Chanyeol!" Omel Baekhyun.
"Memang ada apa dengan Park Chanyeol?"
Mulut Baekhyun mengaga dan berkata dengan tempo cepat, "Kau benar-benar pak tua, Luhan Hyung!"
Luhan menendang kaki Baekhyun dari bawah meja dan mendapat erangan kesakitan dari juniornya. "Ouch, Hyung! Kau benar-benar tidak tahu Park Chanyeol?" Tanya pemuda itu masih tak percaya.
Luhan hanya menggelengkan kepalanya tidak. Ia benar-benar tidak memiliki petunjuk siapa pemuda dalam pertanyaan. Dari nada bicara Byun Baekhyun, tentu saja ia bisa menebak Park Chanyeol adalah orang terkenal. Mungkin seorang aktor—dilihat dari wajah pemuda itu.
"Park Chanyeol adalah model kelas internasional! Dia banyak menjadi model untuk brand ternama dunia, apapun yang ia kenakan pasti langsung meningkatkan jumlah penjualan!" Kata Baekhyun menggebu-gebu, matanya terlihat berbinar. Saat ini ia lebih terdengar seperti agen pamasan dibandingkan seorang fans, mungkin beda-beda tipis. "Kau lihat phone case ini, Hyung? Chanyeol menggunakan case ini dan Boom! Hanya semalam banyak orang yang membelinya!" lanjut Baekhyun dengan nada semakin semangat dan dengan bangga menunjukkan phone case miliknya.
Luhan memijat pangkal hidungnya kembali, rasa pusing mulai muncul. "Jadi?"
"Hyung, apa kau yakin usiamu tiga puluhan karena saat ini kau sama menyebalkan dengan orang tua di panti jompo," cibir Baekhyun.
Luhan hanya menghela nafas pasrah dan menyahut dengan sarkastik, "Setidaknya aku adalah orang tua yang tampan di antara yang lain." Melambaikan tangannya seolah mengusir Luhan lanjut berbicara, "Cepat kembali ke ruanganmu, ini masih jam kerja." Karena Luhan adalah atasan yang baik tentunya ia tidak ingin bawahannya mendapat teguran (yang tentunya ia akan dapat pula karena lengah mengurus seorang bawahan).
"Baik, baik," balas Baekhyun menyerah namun tidak beranjak dari tempat duduknya. "Sebelum itu, Hyung harus baca komentar dari foto itu," perintah Baekhyun.
Luhan mengangguk pelan dan mengambil ponsel yang disodorkan kepadanya. Ia membaca beberapa komentar yang ada; hampir semua adalah pujian kepada Park Chanyeol dan Jongin, ada pula menanyakan siapa Jongin, dan hal terakhir yang membuatnya hatinya senang yaitu beberapa tanggapan Park Chanyeol yang mengatakan ia beruntung bertemu balita selucu Jongin dan ingin memiliki putra sepertinya. Luhan merasa bangga membaca jawaban pemuda itu.
"Kau lihat tanda hati di bawah foto itu? Itu adalah jumlah orang yang menyukai foto itu."
687709 likes
"Salah satunya adalah 'like' dariku. Jongin adalah keponakanku yang paling lucu sedunia!"
Luhan tersenyum mengetahuinya. Jika ada kesempatan untuk bertemu dengan Park Chanyeol, ia ingin mengucapkan terima kasih.
.
(Setelah pulang kerja Byun Baekhyun menghampirinya kembali dan bertanya apakah ia ingin membuka akun Instagram, ia setuju. Awalnya Luhan ragu karena ia tidak yakin akan sering menggunakannya namun jika itu salah satu cara untuk berterima kasih kepada Park Chanyeol, mengapa tidak?
xxluhan foto yang bagus dan terima kasih, Park Chanyeol.
Luhan tidak mendapat balasan, ia tahu Park Chanyeol belum mengetahui komentar itu dari ayah Jongin apalagi namanya dan ia tidak begitu mengharapkan sebuah respon.)
Luhan bertemu dengan Jo Sinkyung sudah empat kali, memang cukup banyak, namun mereka berdua tidak pernah melampaui batas pengetahuan Luhan bahwa pria yang akan menjadi suami Kim Hanjin adalah seorang duda yang berprofesi sebagai dosen pada universitas swasta di Busan.
Pertemuan kedua pria dewasa itu tentunya tidak pernah Luhan lupakan, walaupun Jo Sinkyung adalah seorang dosen namun kesan tegas sebagai pengajar hilang terhapus total oleh senyum ramah yang dia tunjukkan saat memperkenalkan diri. Pria itu tersenyum ramah namun tetap membawa aura wibawa seorang pria yang mapan, terhormat, dan Luhan tidak buta, pria itu begitu penyayang; terlihat dari tatapan ketika menatap Hanjin, seolah wanita di sampingnya itu adalah surga yang kini ia temukan; begitu berharga dan pantas untuk dicinta. Namun dari itu semua, kesan pertama pria itu terhadap Luhan yang tak terlupakan adalah saat mereka bertatapan langsung, calon suami Kim Hanjin bukannya menyebutkan namanya terlebih dahulu namun langsung melontarkan kalimat: "Aku tidak akan merebut hak asuh Kim Jongin darimu, Xi Luhan. Aku memiliki dua orang putra tapi aku tetap ingin memiliki hubungan baik denganmu dan Jongin."
Luhan begitu mendengar pengakuan pria itu hanya bisa tertawa, bukan maksud mengejek namun menatap keseriusan di wajah pria itu yang tak sebanding dengan nada khawatir, ragu, dan ketulusan terdengar di suaranya yang membuat Luhan tak bisa menahan tawanya. Semua itu tidak seperti bayangannya saat Hanjin bercerita dengan pria itu. Hal pertama yang Luhan bayangkan ketika mendengar nama Jo Sinkyung adalah pria itu memiliki dosen killer.
Luhan, di sela tawanya yang belum reda, memberikan pelukan hangat kepada Jo Sinkyung. Ia masih belum bisa berkata secara normal namun suara efoni yang ia hasilkan setidaknya menghilangkan rasa tegang dari Jo Sinkyung. Pria itu membalas dekapan Luhan tanpa ragu. Xi Luhan tetaplah Xi Luhan, ia memiliki jiwa yang usil dan (walaupun ia selalu menyangkal) kekanakan, saat masih berada di pelukannya Luhan memberi kecupan sederhana di pipi Jo Sinkyung.
"Aku berharap kita bisa menjadi teman baik. Teman baik di sini dalam artian kau tidak masalah jika aku mendekapmu dan memberimu kecupan tiba-tiba tanpa alasan yang jelas," lontar Luhan dengan senyuman penuh keusilan. Senyum usil itu sirna ketika bibir kering dan sedikit kasar menyentuh bibirnya dengan sentuhan lembut namun cepat.
"Di sini aku berharap kita bisa menjadi keluarga, jadi aku bisa menciummu di bibir tanpa ijin terlebih dahulu," sahut Jo Sinkyung tak kalah usilnya dengan Luhan. Pria yang tadinya begitu kikuk kini menampilkan sosoknya sebagai pengajar, dan tentu saja Luhan adalah muridnya. Sepertinya pria itu sudah terbiasa meladeni mahasiswa usil seperti Luhan.
Luhan mendengar kata-kata itu hanya bisa membelalakkan matanya tidak menyangka. Niatnya mengerjai pria itu namun malah berbalik padanya, harga dirinya terasa begitu rendah (bercanda) tapi kecupan dari Jo Sinkyung begitu memikat walau sekejap untuk diingat. Ia menghiraukan tawa Kim Hanjin dan perkataannya yang samar-samar berbisik di kepalanya: "Kau tidak bisa mengusili Jo Sinkyung karena ia akan menjadi lebih usil ketika kau mencoba."
Luhan benar-benar lupa perkataan Hanjin saat mendeskripsikan karakter Sinkyung kepadanya. Jo Sinkyung memiliki sifat yang hampir sama dengan Kim Hanjin, bedanya Sinkyung jauh lebih ramah dan sopan tapi bukan berarti Luhan bisa memperoloknya.
"Seandainya kau gay, aku akan melamarmu sesaat kau mengatakan ingin menciumku tanpa ijin, bibirmu begitu memikat untuk dikecup selalu," gumam Luhan yang nyaris terdengar sebagai bisikan. "Tapi jika dipikir-pikir, kau sama buruknya dengan Hanjin."
"Hey, Xi! Aku masih dapat mendengarmu!" celetuk Hanjin di sela tawa dan seluruh ruangan dipenuh dengan tawa.
Pelajaran hidup yang ia terima malam itu adalah jangan menilai orang dari penampilan luarnya karena karakter orang tak dapat diduga oleh imajinasi semumu.
.
"Ayah, sudah jadi?" Suara kecil bertanya dari belakang Luhan.
Luhan menoleh ke belakang dan melihat Jongin sedang menatap dengan mata bulatnya, balita itu masih duduk dengan tenang di booster chair-nya. "Tunggu sebentar, Jongin. Ayah sedang menata macaroon," sahut Luhan sebelum kembali menata kue macaroon buatannya sesuai dengan urutan warna.
Sesuai dengan janjinya dengan Hanjin dan Sinkyung, hari ini Luhan akan berkunjung untuk makan malam bersama di kediaman Sinkyung. Kedua calon pasutri itu ingin menjalin hubungan kekeluargaan lebih akrab lagi, terutama pada pihak Luhan dan keluarga Jo Sinkyung. Luhan menyetujui tawaran itu dengan imbalan ia akan membuatkan kue macaroon, kue andalannya.
Luhan gugup. Ia tidak akan pungkiri ia merasakan hal itu. Ini pertama kalinya ia akan bertemu dengan kedua putra Jo Sinkyung. Walaupun sejak awal Hanjin sudah memberitahukan kedua pemuda itu mengena orientasi seksual dirinya, namun tetap saja rasa paranoid itu muncul. Bagaimanapun mereka akan menjadi keluarga.
"Ayaaah."
Luhan tersenyum mendengar panggilan dari Jongin. Jika anaknya sudah memanggilnya dengan tempo lambat dan diperpanjang maka Luhan sudah menghiraukannya cukup lama. Balita itu masih ingin perhatian ayahnya dan siapa Luhan untuk menolak permintaan seperti itu? Ia adalah budak—bukan dalam artian negatif—untuk anaknya.
Luhan memberhentikan aktivitasnya dan berjalan menuju Jongin yang tak memalingkan pandangan darinya. Luhan tersenyum lebar ketika Jongin membuat kissy face, ia membungkuk dan menempelkan bibirnya ke bibir mungil Jongin, tak lupa membuat suara 'muah' yang selalu membuat Jongin tertawa senang.
"Jongin tunggu sebentar, kuemu akan ayah siapkan," kata Luhan memberitahu. Ia mengetuk hidung Jongin dengan jari telunjuknya yang dengan cepat Jongin ambil dan menghisapnya. Oh, bayi mungilnya sudah haus ternyata. "Jongin, haus?" jawaban yang ia terima adalah sebuah gelengan pelan. "Benar?" tanya Luhan memastikan dan Jongin menggeleng lagi.
"Maca'," jawab Jongin singkat dengan telunjuk Luhan yang masih ia emut, balita itu membuat suara puas mencari rasa manis dari macaroon di telunjuk Luhan. Luhan segera memasukkan pacifier ke dalam mulut Jongin begitu telunjukkan dilepas.
"Bagaimana kalau Jongin makan macaroon dan susu?"
Jongin menggeleng tidak.
Luhan menghela nafas, ia tidak akan memaksa anaknya untuk menelan sesuatu sekarang. Luhan melepas pengaman booster chair dan menggendong Jongin ke dalam dekapannya, anaknya langsung membuat suara efoni sambil memainkan rambut Luhan. Ia memutuskan untuk menghentikan aktivitasnya di dapur, lagi pula persiapan hampir selesai.
.
Saat tiba di kediaman Jo Sinkyung, Luhan begitu kaget saat bertemu dengan anggota keluarga Sinkyung. Kim Hanjin—wanita picik itu—sama sekali tidak memberi tahunya tentang usia kedua putra Sinkyung. Ekspektasi Luhan terhadap mereka adalah anak-anak usia sekolah dasar, namun sosok yang di hadapannya adalah dua orang pemuda yang berdiri tegak lebih tinggi darinya.
Jo Jiwoon adalah putra sulung Jo Sinkyung yang kini sedang mengenyam pendidikan strata di universitas tempat ayahnya bekerja, namun berbeda departemen. Putra bungsunya, Jo Donghwan, masih duduk di kelas sebelas menengah atas.
Luhan mungkin tidak dapat menutupi rasa herannya karena mendapat tatapan sangsi dari empat pasang mata keluarga baru itu. "Maaf, aku tidak sempat mengatakan bahwa kedua putraku sudah besar," kata Sinkyung sambil menepuk pundak kedua putranya yang berdiri di kedua sisinya. Senyuman bangga terlihat jelas di bibir keringnya.
Luhan tertawa pelan sebelum menyahut, "Bukan, bukan. Aku memang heran tapi bukan itu masalahnya." Luhan mengangkat sebuah kantung kertas di genggamannya. "Aku membelikan permainan anak-anak sebagai hadiah untuk mereka. Tentu saja tidak sesuai dengan usia mereka."
"Kami akan bermain dengan Jongin, jika Paman tidak keberatan."
Jo Donghwan, Luhan mengingat secara jelas dari lesung pipi pemuda itu, berkata sambil menatap Jongin yang masih di gendongan Luhan. Balita itu mengangkatkan kepalanya begitu mendengar namanya disebut, namun dengan sekejap menyembunyikan mukanya begitu sadar bukan Luhan yang memanggilnya.
"Jongin, Donghwan hyung ingin bermain denganmu. Apa kamu mau?" tanya Luhan.
Jongin diam sesaat sebelum menganggukan kepalanya. Muka mungil balita itu masih bersembunyi malu di pundak Luhan.
.
Luhan sempat sedikit kaget ketika Jo Sinkyung menyodorkan beberapa botol jus buah murni ke hadapannya dan berkata Kim Hanjin yang memberi tahunya tentang peraturan di meja makan. Jika ingin makan bersama Jongin tidak ada satupun makanan atau minuman yang mengandung alcohol. Xi Luhan—sebagai sesama ayah tunggal bagi anak mereka—memberi nilai tambahan untuk pria yang akan menjadi suami Hanjin.
"Hei, Jin. Apa aku pernah mengatakan bahwa Jo Sinkyung adalah pria yang sangat pantas untukmu?" tanya Luhan sambil terus memerhatikan Sinkyung, kedua putranya, dan Jongin merangkai lego di lantai. Entah apa yang mereka akan buat.
"Belum, tapi aku tahu dari tatapanmu melihat interaksi Sinkyung dan Jongin. Kau memercayainya dan seperti melihat dirimu pada diri Sinkyung. Oleh karena itu aku jatuh hati pada pria itu," sahut Hanjing sambil tertawa pelan.
Luhan melirik pada sabahatnya yang masih menatap dua orang itu. "Hanjin, kau—" kata-katanya terpotong begitu Kim Hanjin menggeleng kepalanya cepat dan tertawa geli.
"Tidak, Xiao Lu. Aku mencintaimu namun tidak mencintaimu seperti itu, aku hanya—" wanita itu terdiam sejenak memilih kata-kata yang tepat untuk diucapkan. "—selama berteman dengamu, aku melihat Xi Luhan, seorang pria gay dan lajang, begitu semangat ketika ia menjadi seorang ayah. Menjadi orang tua tunggal yang memberikan semua perhatiannya kepada anaknya, seorang ayah yang begitu mencintai dan sayang pada Jongin. Saat bertemu dengan Sinkyung, melihat dirinya melakukan hal yang sama denganmu; menyayangi anak-anaknya. Aku langsung tahu bahwa pria itu memang pantas menjadi pendamping hidupku," kata Hanjing panjang lebar dengan senyuman bangga dan tulus.
Tanpa pikir panjang Luhan mengecup kening Hanjin dengan penuh semangat. Kedua matanya mulai basah, ia terlalu lemah dengan kata-kata melankolis seperti ini terlebih lagi jika itu keluar dari orang sesarkastik Kim Hanjin. "Ini adalah kata terbijak yang pernah kau ucapkan selama persahabatan kita, Jin," lugas Luhan sambil menahan tawa geli begitu air mata mulai membasahi pipinya.
"Aku sedang senang karena itu aku memujimu." Baik, kalimat sarkasme akan tetap terlorkan dari bibir Jin. Jemari lentik wanita itu mengusap kering air mata Luhan.
Luhan memutar bola matanya malas, "Tapi aku tetap mencintaimu."
"Love you, too, Xiao Lu. I love you, too."
"Haruskah aku merasa cemburu?" nada candaan terimplisit pada suara maskulin yang kini memenuhi ruangan.
Luhan dan Jin secara bersamaan menoleh ke sumber suara mendapati Sinkyung sedang memangku Jongin. Kedua sahabat itu bersamaan saling menoleh, kedua mata mereka memancarkan keusilan.
Jin sambil mendekap Luhan berkata, "Yang semestinya cemburu adalah aku karena pria sepertimu adalah tipe Luhan."
Luhan mengangguk dan menyemangati pernyataan Hanjin. "Itu benar. Aku tertarik pada pria maskulin, suara bas, mudah tertawa, dan penyayang anak. If you're gay, I would totally jump you right here right now," balas Luhan dengan tawaan yang dibalas dengan tawaan lepas dari pria itu.
Jo Sinkyung beranjang ke arah mereka duduk. Pria itu mendudukkan Jongin ke pangkuan Luhan yang langusng didekap oleh sang anak. "Jika aku gay aku mungkin akan mengencanimu, Luhan," kata Sinkyung setelah duduk di samping Hanjin.
"Sudah aku katakan: yang akan cemburu adalah diriku!" omel Hanjin bercanda.
"Aku hanya mencintaimu, Hanjin," ucap Jo Sinkyung.
"Aku juga," balas Hanjin yang langsung memeluk calon suaminya.
Luhan yang menyaksikan itu hanya bisa bersyukur mereka tidak melakukan hal yang lebih jauh karena Jongin masih ada di dalam ruangan yang sama.
.
(Melihat kebersamaan antara Hanjin Sinkyung tentu saja membuat Luhan merasa iri. Jika ia tidak terlalu meyangkal isi hatinya ia ingin mencintai dan dicintai seseorang tapi ego seorang Xi Luhan terlalu besar, ia masih ingin menikmati yang tersedia di hadapannya dahulu sebelum memulai hubungan serius. Hati dan tubuhnya masih ingin ia kuasai sendiri.)
Menjadi orang tua tunggal tentunya mendapat hal yang tak menguntungkan pula seperti di saat ingin menikmati waktu untuk diri sendiri tanpa memikirkan sang buah hati setiap waktu, demikian pula yang dialami Xi Luhan sekarang. Sudah beberapa hari ia ingin menghabiskan akhir pekan untuk minum-minum di pub atau klub malam, ia ingin menari hingga sekujur tubuhnya basah akan keringat dan memabukkan dirinya pada minuman alkohol. Jika berbicara lebih jujur, Xi Luhan just wants to get laid.
Luhan tahu tindakan itu; clubbing dan minum-minum, sangat tidak bermoral sebagai orang tua namun hanya tempat seperti itu yang menyediakan pria-pria untuk diajak pulang olehnya. Jika Korea Selatan menerima kehadiran homoseksual mungkin Luhan dengan gamblang akan mencium kepala manager perusahaan yang ia taksir sejak lama.
Dari semua kegundahan yang ia alami, tentu saja malaikat penyelamat hadir di sampingnyanya. Kim Minseok, sahabat baiknya, mau menjaga Jongin selama akhir pekan. Luhan sering menitipkan Jongin jika ia sibuk dengan urusan kantoran namun jarang dengan alasan ia ingin minum-minum. Tapi Minseok mengerti bahwa Luhan sedang putus asa ingin didekap seorang pria, sebagai sahabat yang baik ia akan memberi bantuan.
Setelah menjemput Jongin dari tempat penitipan anak, ia segera menuju kediaman Minseok. Luhan bersyukur Jongin bukan anak yang rewel jika Luhan harus menitipkannya namun Jongin harus ditelpon sang ayah hanya untuk mendengar suaranya. Oh… Luhan harus menahan diri untuk menghancurkan sesuatu jika mereka saling berhubungan di telpon karena suara Jongin di ujung sana terlalu menggemaskan untuk didengar.
Luhan masih bingung dengan apa yang terjadi barusan. Semua terjadi begitu cepat tanpa ia ketahui untuk mengingat. Tidak lama setelah tiba di klub malam Luhan memesan secangkir scotch, tubuh seseorang menempel pada dirinya dari belakang dan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Tubuh Luhan membeku pada suhu hangat dari orang di belakangnya, pikirannya tak fokus karena hembusan nafas pelan yang menggoda telinganya geli. Jemari-jemari orang itu semakin naik ke dada Luhan yang membuatnya tidak berani berkutat, hanya matanya yang kini dapat ia gerakan secara bebas. Luhan mendesah pelan begitu jemari itu menggoda areolanya.
"Hey, wanna take this somewhere?" suara itu begitu berat dan menggoda, seperti dark chocolate kesukaannya. Luhan mengigit bibir bawahnya menahan erangan sakit begitu daun telinganya digigit perlahan. Ia hanya bisa menganggukkan kepalanya karena tidak percaya mulutnya masih bisa bekerja dengan normal.
Saat membalikkan badan Luhan menahan nafasnya terlalu tercengang pada orang yang menggodanya ini. Pria ini benar-benar tipenya, kecuali jenggot yang menghiasi wajah tampannya. Luhan akui pria ini bukan yang tertampan (baginya yang nomor satu adalah pria heteroseksual yang pernah ia ajak tidur bersama) tapi secara keseluruhan pria itu adalah kesempurnaan.
"Oh, God," celetuk Luhan tanpa sadar.
Entah karena Luhan terlalu terpikat atau karena music yang kini tidak terlalu kencang membuatnya bisa mendengar jelas suara tawa pria itu. Oh, bahkan suara tawanya begitu berat, bagaimana saat ia mencapai orgasme?
"Tempatmu atau tempatku?" Tanya pria itu di telinga Luhan, sengaja memberi hembusan nafas perlahan untuk menggoda Luhan, dan itu berhasil karena Luhan merasakan bulu kudungnya berdiri dan aliran elektrik berjalan di punggungnya. Ia sangat menikmati sensasi yang seperti ini.
Luhan sama sekali tidak dapat berkonsentrasi untuk menjawab pertanyaan pria itu karena bibir mereka saling memberi sentuhan erat dan sensual.
Luhan meraih pundak pria itu, membantu menjauhkan tubuhnya dari pria yang masih sibuk mencumbu bibirnya, sibuk mencari rasa sensasi baru pada bibir Luhan. Luhan mengatur nafasnya yang masih terengah, di lihatnya pria itu penampilannya kini mulai kacau; bibir memerah dan sedikit bengkak, nafas masih terpenggal yang membuat dada kekarnya semakin tampak dari kemeja hitam yang ia kenakan, pupil matanya melebar akibat adrenalin dan gairah kini mulai bekerja. Tatapan intens memfokuskan Luhan pada pria yang belum ia ketahui namanya ini. Mereka tidak perlu membicarakan apapun, hanya satu hal yang mereka inginkan saat ini: merasakan setiap sudut tubuh masing-masing dengan seluruh indra mereka.
"Tempatmu," bisik Luhan perlahan karena ibu jari pria itu masih mengelus bibir bawahnya. Luhan memberi jilatan kecil dan menggigit pelan ketika jari itu masuk ke dalam mulutnya. "I don't do fellatio," lanjutnya tegas.
Pria itu hanya tersenyum, Luhan tidak dapat mengartikan senyum itu. "Tidak masalah untukku. Asal aku dapat memainkan bagian ini," balas pria itu dengan suara lebih rendah dari sebelumnya. Ia meremas bokong Luhan, menggoda bagian tubuh itu dengan sentuhan yang membuat Luhan ingin cepat-cepat pria itu untuk menjamahinya.
"Jika kau terus melakukan itu mungkin kita akan menyelesaikan semua di sini," protes Luhan saat menyadari pria itu mulai terpikat untuk menikmati leher Luhan. Bukannya Luhan tidak menikmati namun seks di publik bukan gayanya, terima kasih.
Pria itu menyerah, menatap Luhan sekejap dengan senyuman yang tetap Luhan tak bisa artikan. Pria itu meraih tangan Luhan, menuntunnya ke luar pub untuk menuju ke parkiran.
.
Selama perjalanan menuju tempat pria itu mereka duduk dengan tenang di posisi masing-masing, tidak ada sentuhan erat dan cumbuan panas. Seolah-olah mereka berdua menahan nafsu birahi mereka untuk di keluarkan secara liar di kamar nanti. Namun satu gestur yang membuat Luhan kagum adalah pria itu tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Luhan. Walaupun mungkin ini akan menjadi cinta semalam namun gestur seperti ini terasa romantis bagi Luhan. Mereka tidak ingin terpisah.
Mereka bercinta dengan perlahan namun penuh daya sensual di setiap sentuhan dan gerak tubuh mereka di atas tempat tidur. Tubuh mereka menyatu dalam satu ritme, menciptakan sensasi kepuasan. Membuat Luhan mendesah keras penuh gairah menikmati buaian mesra namun panas dari setiap gerakan pria di atasnya. Luhan sangat dimanjakan oleh perlakuan kencan semalannya itu, ia benar-benar merasa puas saat mencapai orgasme, orgasme yang sama sekali tanpa sentuhan di daerah intimnya.
Luhan mengencangkan otot rektumnya begitu menyadari kencan semalamnya akan mencapai orgasme. Desahan pria itu mengeras dan memberat, hentakan dan gerakan pelviknya semakin cepat dan tidak teratur. Pria itu mencumbu bibir Luhan tanpa aba-aba darinya namun Luhan tidak protes karena di setiap cumbuan itu kencan semalamnya terus mendesah nikmat. Luhan senang jika ia mampu membuat pria merasakan sensasi itu sebelum orgasme. Itu kepuasan tersendiri.
Desahan berat memenuhi ruangan saat hentakan terakhir mengantarkan pria itu menuju puncak sesi bercinta mereka. Luhan pun mendesah menyaksikan pria di atasnya yang terlihat begitu seksi dan liar dengan keringat yang membasahi tubuhnya, rambut yang lembab dan berantakan, wajahnya yang memerah dengan ekspresi kepuasan. Luhan membiarkan desahan keluar dari bibirnya saat pria itu memberi hentakan pelan dan malas di dalam tubuhnya. Mengeluarkan sisa ejakulasi hingga tak bersisa, walaupun Luhan tidak merasakan sperma itu secara langsung namun melihat tubuh pria itu bergetar nikmat ketika ejakulasi membuat Luhan semakin bergairah.
"Oh, god. You are just so amazing. That little yet firm bottom of yours," ucap pria itu dengan senyuman malas, namun secara jelas dapat terlihat kepuasan yang dia rasakan.
Luhan meraih pria untuk memberi kecupan. Ucapan terima kasih darinya. Ia kembali mendesah di sela ciuman saat pria itu keluar dari Luhan. Cumbuan mereka singkat karena pria itu harus membuang sisa pengaman yang kini berisi sisa ejakulasi.
Luhan menyaksikan tubuh altelis itu dari belakang, walaupun dengan penyinaran kamar yang begitu samar, ia dapat memerhatikan dengan jelas betapa indahnya punggung pria itu, tubuhnya tidak begitu berotot namun kencang. Tubuh jangkung layaknya model. Wajar jika tangan terasa gatal untuk mencoba menyentuh, mengelitik dengan sentuhan, menghafal setiap lekukan.
"Menikmati apa yang kau saksikan." Suara bas mengacaukan lamuannya. Luhan mengerjapkan mata menyadari pria itu kini duduk di sampingnya. Luhan mengangkat kepalanya memberikan akses kencannya untuk menciumnya. "Lebih baik kita istirahat sekarang."
Luhan hanya mengangkuk setuju, ia yakin suaranya kini serak akibat mendesah terkadang meneriakkan kenikmatannya. Ia membiarkan saat tubuhnya didekap dan dibalut selimut. Luhan menghela nafas, ia bukan tipe yang suka tidur setelah bercinta; ia harus mandi dan membersihkan tempat tidur, menyakinkan semua hal sudah bersih dan nyaman. Namun sekarang ia terlalu lelah untuk menolak, lagipula tempat tidur ini terasa nyaman.
Luhan menatap intens sebuah bingkai foto yang berdiri di meja samping tempat tidur. Dua pria dewasa tersenyum lebar, mereka berada di dekapan masing-masing; duduk santai di atas sofa merah. Hanya seorang yang ia kenali, pria yang berambut hitam di foto adalah pria yang masih tertidur pulas di sampingnya sekarang. Walaupun berbeda; pria dalam foto tidak berjenggot, Luhan dengan jelas mengenali senyuman pria itu, namun kali ini ia dengan jelas dapat mengartikan senyuman itu; pria itu terlihat bahagia.
Mungkin mereka sepasang kekasih, kata Luhan dalam hati. Apa lagi namanya jika seseorang meletakkan sebuah foto orang lain kalau bukan orang lain itu adalah orang terdekat; ikatan darah maupun asmara. Luhan mendengus, kencan semalamnya memang memiliki selera yang tinggi. Pria yang ia ajak berfotoan itu adalah orang asing; mata hazel dan rambut pirang gelap, dan terpenting: tampan dan elegan. Ia menyadari ciri kesamaan dirinya dengan pria asing itu: mereka berdua berambut pirang. Luhan mengerti sekarang, kencan pertamanya memilih dirinya karena ia mirip dengan kekasihnya. Apa pria itu selingkuh? Atau mereka sudah berpisah? Mungkin ini long distance relationship? Pertanyaan itu muncul namun secepat kilat Luhan gubris karena itu bukan urusannya.
Luhan melirik jam weker digital di samping bingkai foto itu. Pukul 06:49. Ini cukup telat untuk standarnya setelah cinta semalam.
Luhan merenggangkan tubuhnya dengan perlahan, berusaha tidak membuat suara atau bergerak terlalu banyak agar pria di sampingnya tidak terbangun. Menguap lebar, mata Luhan menyapu sekeliling sudut kamar mencari barang miliknya. Ia mengerjapkan matanya heran melihat busananya terlipat rapi dibatas kursi. Semua aksesoris miliknya juga ada di sana. Kapan pria itu merapikan barangnya? Tapi Luhan berterima kasih atas perlakuan yang ia terima; tidak banyak kencan semalamnya mau melakukan hal ini.
Dengan langkah perlahan Luhan menujuk kursi itu dan mengambil semua barangnya. Mungkin ia sedang beruntung atau apa dengan cepat ia temukan kamar mandi karena rumah pria itu sangat besar. Tak banyak yang dapat ia lakukan selain membasuh mukanya, setidaknya ia terlihat segar.
.
Luhan melihat rumah pria itu untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam taxi yang ia panggil. Ia menutup mata dan menghela nafas secara perlahan, mengintruksikan otaknya untuk tidak menghafal alamat rumah pria itu. Ia tidak ingin mengingat walaupun percintaan semalam mereka sangat memuaskan dirinya. Luhan hanya tidak ingin kecewa.
Sepertinya musim panas ini menjadi musim keberuntungannya. Setelah sekian lama tidak berhubungan intim dengan seseorang akhirnya ia dapat melakukannya, terlebih lagi dengan Sex God (disebut begitu karena Luhan sama sekali tidak tahu nama pria itu), bawahannya di perusahaan tidak banyak merepotkannya dan atasan puas dengan usulan pemasarannya untuk bulan ini, terlebih lagi hari libur selama dua hari yang diberikan perusahaan. Tentunya kesempatan itu ia gunakan untuk bersama Jongin.
Luhan merasa sangat bersalah karena pada kencan terakhirnya ia tidak sempat menghubungi Jongin, ia benar-benar lupa. Putra semata wayangnya menangis tersedu ketika ia datang menjemput, 'ayah jahat, ayah bo'ong' selalu ia ucapkan di sela isakan pilunya.
Tidak banyak yang ia rencanakan, hanya bermain bola kasti bersama Byun Baekhyun. Juniornya itu sudah menanti-nanti ingin mengalahkannya dalam pertandingan (itu hanya bualan karena sejujurnya Baekhyun ingin melihat Jongin mengayunkan tongkat yang hampir setinggi tubuhnya. Itu selalu membuat Baekhyun tertawa gemas).
.
Bertanding melawan klub bola kasti tingkat sekolah menengah atas cukup menghabiskan tenaganya namun itu membuatnya tubuhnya nyaman. Sudah lama ia tidak melakukan kegiatan di luar sampai berkeringat seperti ini. Baekhyun dan Jongin duduk santai di kursi penonton bersama beberapa pemain klub. Mereka mencoba menarik perhatian balita itu namun fokus anak itu tetap di tengah lapangan; melihat sang ayah sedang bertanding.
Luhan memutuskan untuk istirahat saat pergantian pemain. Tubuhnya terasa sangat panas karena kalori yang keluar dan suhu di musim ini. Ia menerima sebotol minuman energi dari pelatih yang memberinya pujian-ia layak masuk klub mereka dengan kemampuannya, Luhan hanya tertawa ringan.
"Hei, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Suara bas hampir membuat Luhan tersedak, ia segera membalikkan badannya. Matanya bertemu dengan seorang pria yang pernah ia jumpai. Senyuman yang memperlihatkan deretan gigi sempurna; Park Chanyeol.
"Aku mengira kau orang lain tapi melihatmu sedekat ini aku dapat memastikan aku tidak salah orang," lanjut pemuda itu ringan.
Park Chanyeol mengeringkan peluhnya namun senyuman lebar terus terlukis di bibirnya. Melihat seragam yang ia kenakan membuat Luhan kaget.
"Kau siswa sekolah ini?" Tanya Luhan tanpa berpikir. Pria di hadapannya hanya tertawa dan menggelengkan kepala.
"Aku sering mengikuti mereka latihan karena itu mereka memberikan seragam, bukan anggota resmi. Lagipula aku sudah lulus SMA," balas Chanyeol.
Luhan mengangguk.
Mereka berdua berjalan menuju kursi penonton di mana Jongin dan Baekhyun sedang duduk. Luhan dengan jelas dapat melihat senyuman bahagia mulai menghiasi bibir Park Chanyeol ketika mereka berdua semakin dekat ke kursi penonton, pemuda itu menyadari kehadiran Jongin di antara pemain. Dari jarak ini ia juga dapat melihat raut kagum dan kaget dari Byun Baekhyun. Jongin, balita itu, sama sekali tidak mengerti akan sekelilingnya.
"Jonginah, apa masih ingat dengan hyung? Chanyeol hyung?" Tanyan Chanyeol dengan lembut, suaranya begitu lembut sampai Luhan dibuat tercengang karena suara bas itu mampu terdengar lembut seperti ini.
Jongin terdiam, ia mengerjapkan mata bulatnya. Memiringkan kepalanya ke samping, ekspresi balita itu begitu menggemaskan saat mencoba mengingat Park Chanyeol. Jongin tertawa sambil menepuk kedua tangannya senang, ia meneriakkan: "Chanyo' 'yung!"
Park Chanyeol pun tertawa senang, ia memberi kecupan di kedua pipi gembul Jongin. Ia membuat suara 'muah' yang membuat balita itu semakin senang.
Byun Baekhyun, jangan tanyakan keadaan orang itu. Bayangkan seorang penggemar bertemu dengan idolanya; diam membeku seribu kata dan berekspresi aneh.
Luhan menerima ajakan makan siang bersama Park Chanyeol di sebuah kedai yang menyajikan makanan tradisional Korea. Memang tidak banyak masakan yang dapat Luhan nikmati tapi dengan perut lapar dan tubuh lelah semua itu ia tak hiraukan.
Menunggu kudapan datang Luhan sempat memberi tahu Park Chanyeol tentang komentar yang ia berikan pada foto pemuda itu bersama Jongin. Reaksi dari Park Chanyeol langsung menanyakan apa nama akun miliknya dan akan mem-follow-nya. Luhan hanya tertawa kecil memberi tahu akunnya masih benar-benar kosong bahkan foto tampilannya tidak ada. Chanyeol tidak mempermasalahkan. Mereka berempat mengambil beberapa gambar bersama namun hanya foto dirinya dan Park Chanyeol yang diunggah ke akun Park Chanyeol dengan caption: akhirnya kami bertemu xxluhan.
(Baekhyun tidak mau kalah, secara pribadi ia meminta untuk foto bersama idolanya dengan ponsel pribadinya. Luhan sebagai fotografer. Juniornya dengan semangat menceritakan bahwa dirinya ada penggemar Park Chanyeol dan sebagainya yang Luhan tidak mengerti. Park Chanyeol sebagai idolanya memberikan Baekhyun topi yang ia kenakan saat bertanding.)
Luhan menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja miliknya. Otot-otot tubuhnya terasa kaku dan berteriak lelah. Sudah sekian jam dia duduk di tempat dan posisi yang sama. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan perlahan di sekeliling ruangan, mencoba menenangkan ototnya.
Setelah liburan selama dua hari tetap saja tugas pekerjaan masih menumpuk dan menanti untuk diselesaikan. Luhan menegak kopi yang disiapkan oleh asistennya, walaupun sudah dingin setidaknya kafein di kopi membantu menghilangkan kepenatan.
Tetap saja ketenangan dirinya pasti ada yang terusik. Byun Baekhyun dengan terburu-buru dan ceroboh masuk tanpa ijin ke dalam ruangannya. Luhan yang kaget menumpahkan sedikit kopinya ke lantai.
"Baekhyun! Jika masuk ke ruangan ini sebaiknya ketuk dulu! Lihat apa yang telah kau perbuat!" Omel Luhan jengkel pada juniornya. Ia mengambil beberapa lembar tisu untuk mengeringkan lantai.
"Itu tidak penting, Hyung!" Sanggah Baekhyun. "Lebih baik Hyung baca ini!" Perintah juniornya sambil menyodorkan posong miliknya.
Luhan menerima posel itu dengan rasa sesikit penasaran. Ia membaca perlahan artikel yang ditampilkan.
'Model Ternama Park Chanyeol Memiliki Seorang Kekasih!'
Luhan terus membaca artikel itu dengan teliti, foto dalam artikel itu adalah foto unggahan dari akun resmi Chanyeol; foto mereka berdua yang diambil beberapa hari lalu, dan beberapa foto samar yang mungkin diambil pengunjung kedai makanan saat itu. Penulis menjelaskan bahwa dirinya adalah kekasih baru Park Chanyeol dengan bukti caption pada foto itu. Foto mereka tidaklah mesra hanya terlihat akrab. Dari semua itu hanya satu hal menarik perhatian Luhan.
"Park Chanyeol gay?"
"Hyung! Kau digosipkan berpacaran dengan Park Chanyeol hanya menanyakan orientasi seksualnya?" Protes Baekhyun kesal.
"Jadi Park Chanyeol gay?" Tanya Luhan kembali, ia menyadari dirinya terdengar bodoh dan konyol.
Baekhyun hanya memutar bola matanya.
"Lagipula itu hanya gosip, pasti akan berlalu seperti angin," ucap Luhan benar-benar tidak peduli.
Baekhyun menghela nafas, "Jangan protes saat netizen dan wartawan mencari kejelasan ke Hyung. Inilah resiko berhubungan dengan seorang artis terkenal. Hanya sentuhan sederhana menimbulkan skandal yang berlebihan." Dengan itu Baekhyun berlalu.
Memang benar bahwa itu semua adalah gosip, tidak ada yang benar dari artikel itu. Xi Luhan, yang dalam artikel itu disebut pria misterius, adalah kekasih Park Chanyeol seorang model kelas dunia. Xi Luhan dan Park Chanyeol memiliki hubungan, oh Tuhan ini terdengar seperti dongeng modern. Xi Luhan dan Park Chanyeol—
"—berpacaran..." Luhan membelalakkan matanya. Seluruh akal sehatnya kembali ke otaknya. "Oh Tuhanku!"
.
I'm sorry for the delay, been writing this piece for two months but it's worth. I hope you enjoy this chapter too.
pertemuan Luhan dan Chanyeol tidak sebanding spesial dengan Luhan/Sex God, I know. I was so in the mood to write smutty sex on Luhan/Sex God. tapi tenang saja, Chanlu akan jauh dari itu ;) I'm happy there're Chanlu shippers too, they're like the total crack pair in EXO.
Untuk Deer Luvian: I'm a European and am learning bahasa Indonesia right now.
and for lovelies reviewers, ones who favourite and follow this story, terima kasih banyak :) maaf tidak dapat membalas komentar kalian.
